Category Archives: Tuhan…

Tentang Tuhan dan hal-hal tak terselesaikan…

Honesty Lesson from a Badui

 

For those who are honest to Allah, He will be honest with his creature. It means Allah will help them, simplify their business, grant their wishes, and fulfill their needs. One of an example of honesty to Allah is a story from Imam an Nasa’I. It’s a story about a “Badui” (people who live in rural area), who converted to Islam with pure faith and divine motivation.

Imam an-Nasa’I quoted from Syaddad bin al-Had.

There was a Badui who met the Prophet after joining Islam. The Badui’s said: “I will be hijrah (move from Mecca to Madina) with you”.

During the period of wars with kafir people at that time, the Badui participated in one of it. After war, usually Muslims will gain ghanimah, means assets acquired from wars. The Prophet will distribute the ghanimah for those who joined.

The Badui’s also received ghanimah. Surprisingly, he asked:

“What is this?”

His muslim brother said, “Your ghanimah, The Prophet gave it to you”.

So he came to Muhammad the Prophets and asked: “What is this?”

Muhammad the Prophets said, “Yours”.

The Badui’s replied,

“This is not my motivation. I followed you because Continue reading Honesty Lesson from a Badui

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Manusia Ingin Memiliki Anak?

 

image from freepik.com

Untuk Yoda yang akan lahir ke dunia,

Mungkin suatu saat kamu akan bertanya: “Kenapa sih setiap keluarga ingin memiliki anak?”

Pertanyaan lucu tapi valid. Secara biologis, jawabannya sederhana: untuk mempertahankan species. Dorongan natural kita membuat manusia suka beranak pinak dan berkembang biak. (untuk cara kopulasi bisa kamu baca di buku biologi ya!)

Tapi jawaban itu patut dipertanyakan relevansinya di dunia modern. Karena faktanya manusia sudah berkembang biak hingga sekitar 7,5 miliar jiwa. Manusia juga sudah menempati posisi teratas dalam piramida rantai makanan. Tak ada makhluk lain yang memburu dan memakan manusia.

Manusia purba masih mengalami fase penuh ancaman bahaya dari binatang atau alam sekitar. Nenek moyang kita harus beranak sebanyak mungkin untuk melangsungkan peradaban. Sekarang? Ilmu kedokteran semakin maju dan usia harapan hidup bisa diperpanjang sampai 70 tahun. Manusia modern justru mati karena mayoritas tiga hal: penyakit, bencana alam, atau karena sebab manusia lain (terbunuh, kecelakaan, perang, dll).

Kemungkinan kedua manusia ingin memiliki anak adalah: investasi. Anak menjadi future asset yang berguna di masa depan.

Karena itulah muncul istilah: banyak anak banyak rezeki. Anak yang ketika dewasa menjadi manusia produktif diharapkan bisa berkontribusi pada perekonomian keluarga.

Agama juga menempatkan anak sholeh sebagai harta tak tergantikan. Penolong di akhirat kelak. Doa mereka bisa meringankan perjalanan orang tuanya di alam kubur.

Banyak orang tua yang juga berharap bisa memiliki anak agar punya teman di masa tua. Mereka berharap anak-anaknya mau merawat dan menemani saat memasuki usia senja.

Tapi memandang anak sebagai investasi memiliki probabilitas. Tidak semua orang tua dianugerahi anak yang baik. Saya mengenal orang yang kesepian di hari tua meski anak-anaknya banyak (rata-rata orang tua mengalaminya). Ada yang dikasih ujian dengan anak-anak nakal. Ada juga yang hartanya habis karena anak-anaknya tidak bisa mengelola dengan baik.

Memiliki anak dan berharap anak akan menjadi pelipur lara di masa tua adalah sebuah sikap optimisme berlebihan. Tidak ada jaminan anak yang dibesarkan dengan kasih sayang akan menyayangi kita di masa depan.

Orang tua yang memiliki motif seperti itu adalah orang tua yang berkeluarga dengan sifat bisnis. Saat anak mereka sukses, ego orang tua akan naik dan berharap kontribusi mereka kepada kesuksesan sang anak dapat berpulang dalam bentuk bakti kepada mereka.

Sampai ada ungkapan yang sangat “transaksional”:

“Sayangi orang tuamu karena mereka sudah susah payah membesarkanmu”.

Kami tidak ingin menjadi orang tua seperti itu. Merawatmu adalah sebuah kerja besar kemanusiaan. Bukan sebuah investasi di hari tua agar si anak harus meramat manusia yang melahirkan dan membesarkan mereka.

Karena itu jangan cintai kami karena kami adalah orang tuamu. Jangan berbuat baik kepada kami karena kami yang membesarkanmu. Jangan menolong kami karena kami pernah menolongmu sewaktu kecil.

Berbuat baiklah kepada kami, dan kepada semua orang, karena kita adalah sama-sama ciptaan Tuhan.

Berbuat baiklah atas nama Tuhan dan kemanusiaan, karena itu adalah tujuan kita diciptakan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#85 Crespi Effect: Kenapa kebaikan kita hanya bertahan saat Ramadan?

Bulan Ramadan membawa dampak positif bagi hidup kita. Masjid jadi ramai hingga dini hari, qur’an diperdengarkan disana sini, music di mall berganti lagu religi, orang jadi rajin berbagi, anak Yatim akhirnya dikunjungi, dan kita saling bermaaf-maafan sambil bersilaturahmi.

Saya sempat berpikir, apa yang membuat semua orang jadi sholeh?

Apakah karena pada bulan mulia ini setan dibelenggu dan pahala dilipatgandakan? Apakah karena pada bulan Ramadan ada malam yang lebih baik dari malam 1000 bulan?

Secara teoritis psikologis, ada korelasi antara performa yang dilakukan terhadap insentif yang didapatkan.

Pada tahun 1942, seorang Psikolog bernama Leo Crespi mencoba meneliti dampak insentif terhadap “kinerja” pada tikus. Ia meneliti tiga grup tikus yang rata-rata beranggotakan 20-an ekor tikus albino jantan berumur 3-6 bulan.

Disetiap grup ia meletakkan tikus itu di sebuah “sirkuit buatan” dengan umpan pakan yang ada di ujung “garis finish”. Ia menciptakan semacam “lomba balap tikus” dengan umpan yang berbeda-beda sebagai hadiahnya. Ia lalu mengukur kecepatan tikus dalam berlari mengambil umpan itu.

Hasilnya ternyata sesuai dugaan, semakin banyak reward (umpan) yang diberikan, semakin cepat performa lari si tikus. Demikian juga sebaliknya, semakin sedikit umpan di ujung lintasan, semakin tidak bersemangat si tikus yang membuat larinya melambat.

Mungkin ini yang membuat kita begitu bersemangat menyambut Ramadan. Kita terkena “Crespi effect” saat reward yang alhamdulilah dahsyatnya menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan.

Pertanyaan selanjutnya: Kenapa kesalihan ini tidak bisa bertahan lama? Kenapa setelah Ramadan usai kita kembali melakukan dosa-dosa yang sama untuk ditebus di Ramadan berikutnya (jika masih hidup)?

Dugaan saya: karena kita masih seperti si tikus dan berfokus pada “umpan” bonus pahala saat Ramadan. Kita tidak sadar jika Ramadan adalah bulan latihan. Semacam environmental trial testing sebelum menjalani “ujian sesungguhnya” di bulan berikutnya.

Kita lupa jika puasa dibulan Ramadan dan puasa sunnah dibulan lain itu sama baiknya. Kita sering lupa jika menahan emosi itu seharusnya dilakukan sepanjang tahun. Dan seharusnya kita sadar jika menyantuni anak yatim itu bukan ritual setahun sekali.

Padahal Ramadan adalah sebuah penerapan incentive theory yang dilakukan oleh Tuhan. Ia memberikan positive reinforcement berupa bulan pengampunan dan pelipatgandaan pahala agar kita, pada akhirnya mencintai kebaikan dan menjadi orang baik.

Bukankah itu tujuan Tuhan menciptakan kita sebagai khalifah di dunia?

Tidak hanya mencari pahala ibadah berlipat ganda. Hal itu akan kita dapat jika kita melaksanakan tugas utama kita:

Menjadi rahmat bagi semesta.

https://static.comicvine.com/uploads/original/11119/111198831/4557633-2008240983-mouse.jpg

*sumber gambar

**sumber jurnal Crespi

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#84 Ownership Bias: Ka’bah dan Pelajaran Tentang Kehilangan

Umroh kali ini terasa berbeda.

Tahun 2014 lalu saya datang sebagai solo gembel backpacker, sekarang saya membawa si Pipi Kentang dan Ibu Mertua dan ikut serta dalam rombongan 146 peserta.

Dari segi fasilitas? jauh lebih baik. Tiga tahun lalu saya tidur di emperan masjid, mandi di toilet, sengaja puasa untuk menghemat konsumsi, dan menggunakan bahasa arab hasil google translate untuk mendapat tumpangan kendaraan. Sekarang alhamdulilah ada kasur empuk di hotel berbintang yang hanya berjarak ratusan meter dari masjid, makanan prasmanan bebas nambah 3x sehari, dan bis nyaman untuk ditumpangi.

Dan nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

Tapi selalu ada pelajaran berharga didalamnya, dan lagi-lagi soal kehilangan.

Saat umroh pertama, saya diberi pelajaran dengan kehilangan harta. Saya kehilangan semua barang yang saya bawa. Satu backpack besar berisi perlengkapan perjalanan hilang saat saya taruh didepan masjidil Haram, dan seluruh uang sisa saya hilang dicuri oleh komplotan taksi gelap di Jeddah (untung Tuhan mengirimkan Dody, teman kuliah yang kebetulan dinas disana. Thanks so much bro!).

Kali ini saya diajarkan untuk kehilangan tiga hal yang lebih besar.

Yang pertama adalah “kehilangan keluarga”.

Ceritanya saya ingin melakukan tawaf beserta keluarga. Karena Ibu mertua saya ga kuat jalan jauh, saya meminjam kursi roda hotel. Harusnya jamaah kursi roda melakukan tawaf dilantai 2, tapi karena jadi jauh (4 km cuy) saya coba nakal membawa kursi roda ke area ka’bah.

Apes, ada penjaga yang melihat. Kursi roda ga boleh turun. Saya meminta istri dan mertua untuk menunggu sementara saya meletakkan kursi roda ditempat aman. Setelah saya cari kira-kira tempat yang rada sepi dan aman (saya taruh di dekat penitipan sandal yang ga ada jamaahnya), saya pun menyusul.

Eh, mereka sudah ga ada! Dan pipi kentang ga bawa hape pula. Masa mereka sudah tawaf duluan sih? Bagaimana saya bisa menemukan mereka ditengah ribuan orang yang sedang tawaf? Bukankah Ibu mertua saya ga kuat jalan jauh?

Bismillah. Saya pun tawaf sambil berdoa.

“Ya Allah pertemukan saya dengan keluarga saya”.

Satu putaran, belum ketemu.

Saya mulai berpikir plan B, apakah nanti saya langsung tunggu dihotel saja? Bagaimana cara biar Ibu mertua kuat jalan kesana?

Dua putaran, belum juga ketemu.

Saya mulai merasa sepi, seperti ini rasanya ditinggal pergi keluarga yang kita cintai? Tak pernah bertemu lagi.

Tiga putaran, tak juga berjumpa.

Tapi bukankah, semua akan kembali kepada-Nya? Tugas kita hanya melepaskan dan mengikhlaskan. Setelah memberikan sugesti seperti itu, hati saya merasa lega. Dan tahu ga, di putaran ketiga ini saya melihat istri dan ibu mertua saya bersama jamaah yang lain! Alhamdulilah!.

Jadi ceritanya saat mereka menunggu, ada tawaran tawaf bersama jamaah satu rombongan. Mereka sudah menunggu tapi saya ga nongol-nongol juga. Akhirnya mereka tawaf duluan.

Kamipun menyelesaikan tawaf dan kembali keatas, untuk menerima kehilangan kedua.

 “Kehilangan amanat”.

Kursi roda itu sudah raib! Padahal sudah saya letakkan di tempat yang sepi jamaahnya. Saya coba tanya penjaga, “no English”. Saya coba pake bahasa arab seadanya. Dianya ga ngerti. Waduh. Padahal kursi roda itu amanat dari hotel. Jika hilang maka otomatis saya wajib mengganti.

Saya coba tanya pusat informasi, disuruh ke bagian lost & found yang jauh banget. Mana sudah mau adzan maghrib.

Qadarullah. Que sera-sera. Yang terjadi, terjadilah.

Akhirnya saya memutuskan sholat maghrib dan isya di depan Ka’bah sambil browsing harga-harga kursi roda. Waduh bisa ga jadi beli oleh-oleh nih kalau memang disuruh ganti. Tapi itulah harga amanat. Mungkin Allah nyuruh kami untuk sedekah kursi roda agar dipakai orang yang lebih membutuhkan.

Setelah sholat isya saya buat nadzar:

“Ya Allah kalau kursi roda itu ketemu, hamba akan berpuasa 3 hari”.

Sebagai last effort, saya coba cek sekali lagi. Dan ternyata sandal yang saya letakkan di kursi roda tidak diambil. Ada juga sandal jelek warna item. Awalnya saya kira punya Pipi Kentang, tapi karena gak yakin, tidak saya ambil.

“Loh itu sandal jepitnya koq ketemu? Punyaku mana?” kata Pipi Kentang.

Oh ternyata sandal item jelek itu punya dia. Ya udah daripada pulang nyeker, saya coba ambil lagi.

Tapi karena suasana ramai, saya coba masuk dari pintu lain (turunan samping King Abd Aziz gate) dan malah kesasar. Saya justru diusir penjaga dan disuruh keluar ke gerbang yang tidak saya ketahui.

Mungkin Allah punya rencana, karena ternyata kursi roda itu terparkir rapi dipintu keluar! Saya coba yakinkan diri, jangan-jangan punya orang lain? Tapi dari warna polos dan pijakan kakinya yang agak kroak emang bener ini punya hotel. Alhamdulilah… tinggal puasa 3 hari deh hehehe.

Saat saya kembali untuk mengambil sandal buluk item punya Pipi Kentang, ternyata sandal itu sudah menghilang. Kira-kira sapa sih yang mau ngambil sandal item bulukan itu? Saya Cuma tersenyum. Insya Allah semua sudah diatur.

Yang ketiga: “kehilangan teman”

Kehilangan ketiga dan terberat adalah kehilangan kawan sekamar saya, Pak Satrio. Beliau meninggal terkena serangan jantung setelah melakukan tawaf di hari terakhir berada di Mekkah.

Bapak yang satu ini paling semangat beribadah diantara teman-teman sekamar yang lain. Jam 2 selalu sudah bangun, mandi, dan berangkat ke masjid untuk sholat malam. Demikian juga saat melaksanakan tawaf sunnah.

Setelah tawaf, awalnya Pak Satrio merasakan sesak nafas. Ia lalu pulang ke hotel dan dikira hanya masuk angin. Kata istrinya, tidak ada riwayat penyakit aneh kaya jantung atau asma. Untung ada Pak Iwan, yang tahu jika itu bukan sesak biasa. Sesak nafas disertai dada yang sakit adalah indikasi serangan jantung.

Akhirnya Pak Satrio dilarikan kerumah sakit dan langsung masuk ruang ICU. Jantungnya terus melemah dan beberapa hari kemudian menghembuskan nafas terakhir di tanah suci, setelah disholatkan oleh ribuan jamaah masjidil haram. Sungguh akhir hidup yang indah dan insya Allah husnul khotimah.

Pelajarannya?

Kita menderita ownership bias: merasa memiliki apa yang sebenarnya tidak kita miliki.

Kita merasa memiliki harta, keluarga, sahabat, bahkan nyawa kita sendiri. Padahal semua hanyalah titipan yang bersifat sementara. Tak ada yang kita miliki hingga akhir dunia. Kita juga merasa sedih saat titipan itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Padahal Tuhan sudah mengajarkan: Inna lillahi wa inna ilayhi raaji’un.

Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali.

http://pre03.deviantart.net/97c6/th/pre/i/2010/347/1/2/lost_soul_evolurtion_by_nataly1st-d34sqs9.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jalan dan Tujuan

Santiago si anak gembala. Suatu hari ia bermimpi melihat piramida. Beberapa hari mengalami mimpi yang sama. Ia lalu menemui peramal yang berkata: itu adalah pertanda harta paling bernilai dalam hidupnya. Ia harus segera mencarinya.

Akhirnya Santiago menjual domba-dombanya. Menyeberang ke Afrika dan menjadi pengembara, untuk mencari harta berharga. Tapi semesta punya rencana. Di pelabuhan ia ditipu orang. Semua harta penjualan dombanya hilang. Untuk bertahan hidup ia bekerja di toko kristal. Membersihkan barang dan belajar menjual.

“Dua hari yang lalu, kamu mengatakan bahwa aku tidak pernah bermimpi mengembara,”Pedagang itu suatu kali bercerita.

“Kewajiban kelima bagi setiap Muslim adalah menunaikan ibadah haji. Kami diwajibkan, paling sedikit satu kali selama hidup, untuk rnengunjungi kota suci Mekkah. Mekkah malah lebih jauh dari Piramida. Saat aku muda, yang kuinginkan hanyalah mengumpulkan uang untuk membuka toko ini. Aku berpikir, suatu hari nanti aku akan kaya dan dapat pergi ke Mekkah. Mulailah uang kudapat, tapi aku tak pernah bisa lega meninggalkan toko pada orang lain; kristal adalah barang yang rentan”.

“Kenapa Bapak tidak pergi ke Mekkah sekarang?” tanya si bocah.

“Justru pikiran tentang Mekkah-lah yang membuatku terus hidup. Itulah yang membuatku kuat menghadapi hari-hari yang sama belaka ini; yang membuatku tahan menghadapi kristal-kristal bisu di rak, dan sanggup makan siang dan makan malarn di warung jelek yang itu-itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup”.

Tersandera Cinta, Lupa, dan Takut

Cerita Santiago di dalam novel Alchemist karya Coelho sengaja saya tulis sebagai pengingat diri: akankah saya menjadi penjual kristal tadi? Pedagang Kristal bermimpi pergi ke Mekah dan menunaikan haji. Ia sudah berusaha mengumpulkan harta. Tapi sayangnya harta dunia itu justu menyandera dirinya. Ia berniat memenuhi panggilan Tuhan. Tapi harta kekayaan menjadikannya seorang tawanan.

Penyandera itu hadir dalam tiga nama: “cinta, “lupa”, dan “takut”. Kita terlalu mencintai apa yang kita miliki. Kita lupa jika di dunia tak ada yang abadi. Dan kita takut kehilangan apa yang ada saat ini.

Ketiga sandera ini yang menyebabkan kita berpikir dua kali sebelum mengorbankan apa yang kita punya. Dan seringkali membuat kita berpikir untung rugi dalam membantu sesama. Tiga sandera itu juga yang membuat kita menderita, saat kehilangan apa yang kita punya.

Santiago tahu hal itu. Dan ia tahu perbedaan “jalan” dan “tujuan”. Ia membantu sang pedagang untuk berjualan teh menggunakan gelas Kristal di atas bukit. Belum pernah ada yang menyajikan teh di gelas Kristal. Kedainya ramai dan tersohor. Membuatnya menjadi juragan kecil dan harta yang mampu membeli 120 domba.

Anehnya Santiago justru meninggalkan kedai yang telah memberinya kekayaan. Ia memilih melanjutkan perjalanan dan menunaikan panggilan hidupnya untuk mencari piramida. Ia tahu jika menjadi kaya adalah “jalan”, dan bukan “tujuan”.

Jalan adalah sarana. Tujuan adalah hasil akhir yang ingin dicapai. Tujuan yang salah akan memberikan jalan yang salah. Mereka yang hanya ingin kaya bisa menghalalkan segala cara. Mereka yang ingin berkuasa bisa menindas siapa saja. Dan mereka yang menginginkan dunia, akan merasakan derita saat harus meninggalkannya.

Masalahnya kita sering lupa perbedaan jalan dan tujuan. Kita beranggapan kekayaan itu tujuan, pengetahuan itu tujuan, kekuasaan itu tujuan, dan segala kenikmatan adalah tujuan. Termasuk soal ajaran agama. Kita lebih memilih menabung untuk haji yang kedua daripada menggunakan uangnya untuk membantu sesama. Padahal Ibadah adalah jalan. Sholat adalah sarana. Zakat adalah sarana. Puasa adalah sarana. Haji juga sarana.

Tujuannya? Menjadi sebaik-baiknya hamba Tuhan dan berbuat kebaikan pada kehidupan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Omne Ignotum Pro Magnifico

Sudah dua bulan ini saya mengikuti kelas bahasa arab. Ini sesuai dengan target dan sempat saya jadikan status pada 2013 lalu.

Nulis target ga ada ruginya loh
Nulis target ga ada ruginya loh

Alhamdulilah semuanya masih on progress. Saya sedang belajar R (salah satu software statistik) untuk bermain dengan big data sambil terus berkutat dengan marketing strategy salah satu LCC. Saya menghabiskan 30 menit setiap hari untuk membaca summary laporan keungan plus analisis teknikal perusahaan yang ingin saya invest, dan juga ga pernah berhenti takjub dengan perkembangan digital marketing serta tumbuhnya perusahaan startup.

Tapi baru tahun ini belajar bahasa arab… Dan salah satu pemicunya adalah abang Gojek.

Jadi ceritanya pada 6 April 2016 lalu, saya ada janji dengan salah satu teman di Central Park. Untuk menghemat waktu, saya naik Gojek. Saat perjalanan seperti biasa saya ajak ngobrol. Saya bertanya:

“Bang kalo abis narik gojek ngapain?”

Saya sih mikirnya jawaban standar kaya “Saya lagi ambil PhD untuk riset kalkulus integral” atau “Paling liburan ke Santorini Mas”. Oh itu ga standar ya? Tapi jawaban dia memang ga standar.

“Saya les Mas. Les bahasa Inggris”. Ia lalu menyebut salah satu lembaga kursus bahasa Inggris.

Mendengar Bapak-bapak Ojek berumur 30-an masih mau belajar bahasa Inggris itu seperti ngeliat kakek ompong masih mau makan kerupuk. Semangat banget cuk!

Saya jadi malu. Dia aja masih semangat tholabul ilmi, mencari ilmu. Saya koq malah semangat tholabul istri, mencari istri. Maaf Pipi Kentang :p! Sejak itu saya memutuskan untuk takkan pernah berhenti mencari ilmu, meski harus berjalan menembus kerak bumi, berenang mengarungi tujuh samudera, dan terbang ke langit ketujuh. Anjis pingin muntah saking lebaynya.

Usia Itu Alasan, Bukan Halangan

Dan dikelas bahasa arab, ada salah satu peserta yang menginspirasi. Namanya Pak Gatot, umur sudah hampir setengah abad. Tapi semangatnya paling hebat. Dia paling rajin datang ke kelas, tak pernah absen. Saat yang lain puas dengan 2x pertemuan seminggu saat malam, Pak Gatot juga datang di kelas akhir pekan.

Program kami memang hanya 2x seminggu selama 3 bulan untuk setiap tingkat, tapi penyelenggara membebaskan jika ingin ikut kelas pagi, malam, atau akhir pekan. Mau ikut semuanya juga boleh. Nah saking rajinnya Pak Gatot, dia bingung ketika ditanya: Antum sebenarnya kelas yang mana? Yang pasti Pak Gatot termasuk kelas mamalia.

Gara-gara Pak Gatot, saya jadi malu kalau hanya datang di kelas malam. Dia begitu semangat meski harus belajar hal dasar seperti makhrojul huruf, perkenalan dengan huruf syamsiyah qomariyah, menulis ism’, imla’, dan percakapan dasar.

Pak Gatot lagi praktik conversation (pake baju putih)
Pak Gatot lagi praktik conversation (pake baju putih)

Kita sekarang hidup di zaman materealistis, dimana semuanya diukur dengan materi. Dan harta dianggap lebih penting daripada ilmu. Kita lebih semangat ikutan seminar properti, MLM, atau rahasia investasi daripada mengkaji ilmu yang berguna di akhirat nanti.

Padahal Ali ibn Abi Thalib sudah memberikan pesan: pilihlah ilmu dibanding harta. Ilmu menjaga pemiliknya, sedang harta harus dijaga oleh pemiliknya. Harta berkurang saat dibelanjakan, sedangkan ilmu semakin bertambah saat dibagikan. Dan saya percaya: jika ilmu sudah kita dapat, harta akan mendekat.

Omne ignotum pro magnifico. Segala sesuatu yang tidak kita ketahui terlihat luar biasa. Tapi percayalah, Man saaro ‘alaa darbi washola. Barang siapa berjalan pada jalannya, maka dia akan sampai pada tujuannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Binatangisme

source image: http://www.eoisabi.org

Pada suatu hari, si Mayor Babi pemimpin peternakan mengadakan rapat akbar. Ia ingin bercerita tentang mimpi yang ia alami. Ia lalu mengumpulkan seluruh hewan di peternakan. Tapi sebelum bercerita, si babi putih yang sudah tua itu mempertanyakan hakikat hidup seekor hewan:

“Sekarang, Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita? Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, kita diberi begitu banyak makanan, sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan di antara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita; dan segera setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji”.

Dan semuanya gara-gara binatang bernama manusia. Ia menambahkan:

“Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap tikus tanah. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tetapi tak satu pun dari kami memiliki tanah seluas kulit kami”.

Setelah berhasil mengobarkan semangat penghuni peternakan, ia lalu bercerita jika semalam bermimpi mendengar lagu “binatang Inggris”. Lagu terlarang dari zaman yang terlupakan. Nyanyian yang berisi mimpi kemerdekaan binatang dari perbudakan manusia. Semacam ramalan: akan ada suatu masa dimana semua binatang tak lagi harus tersiksa.

Binatangisme

Tiga hari setelah rapat akbar, Mayor tua meninggal dunia. Tapi ide-nya terus tumbuh dan lagu “binatang Inggris” terus dinyanyikan setiap malam. Para babi penerus ide sang mayor mulai berkumpul dan merumuskan ajaran “binatangisme”. Sebuah weltanschauung, pandangan hidup. Ajaran kesetaraan antar binatang, larangan bermusuhan, dan ajakan memusuhi manusia. Bahkan binatangisme juga tidak memperbolehkan para binatang untuk meminum alkohol.

Ajaran binatangisme disambut baik karena disaat yang sama, Pak Jones, si pemilik peternakan mulai tidak memperhatikan kesejahteraan hewan ternaknya. Terlalu banyak mabuk-mabukan membuatnya sering terlambat memberi pakan, kandang tak terawat, dan para ternak yang awalnya mendukung hidup dibawah perlindungan manusia, mulai tidak puas.

Sampai pada suatu hari, pemberontakan itu terjadi. Pak Jones yang teler berat tiba-tiba diserang oleh kuda kesayangannya, Boxer. Ia menendang-nendang. Tak lupa para biri-biri, babi, ayam, itik, dan sapi turut menyerang kabin-nya. Pak Jones yang malang kemudian melarikan diri, dan mulai hari itu peternakan binatangisme telah berdiri. Dari hewan, oleh hewan, dan untuk hewan. Masa kejayaan para binatang akhirnya datang.

Tapi ternyata permasalahan tidak selesai sampai disitu. Dua babi pemimpin binatangisme, Snowball dan Napoleon terlibat persaingan politik. Mereka berusaha saling mempengaruhi. Snowball memiliki gagasan untuk membuat kincir angin sebagai penggerak mesin sehingga mereka bisa bekerja lebih ringan, sedangkan Napoleon menganggap ide itu adalah pembuangan tenaga dan terlalu mirip dengan teknologi manusia.

Sampai pada suatu rapat, para binatang terbagi dalam dua kubu yang sama-sama kuat. Saat voting akan dilakukan, tiba-tiba muncul anjing herder peliharaan Napoleon. Anjing lalu menyerang Snowball dan membuat babi cerdas itu lari tunggang langgang meninggalkan peternakan. Sejak itu tirani baru lahir.

Napoleon membuat keputusan mengangkat dirinya sebagai pemimpin peternakan. Ia juga menetapkan kaum babi tidak perlu bekerja karena mereka adalah pemikir dan pembuat sistem. Yang lebih anehnya lagi, Napoleon memerintahkan pembangunan kincir angin dan menuduh Snowball telah mencuri ide itu darinya.

Menjadi Manusia

Cerita diatas adalah cuplikan Animal Farm karya George Orwell. Orwell seperti sedang menertawakan prilaku “kebinatangan” yang sering dilakukan manusia. Tapi apakah selamanya binatang lebih buruk dari manusia?

Belum tentu. Karena terkadang manusia bisa lebih binatang dari binatang itu sendiri. Saya belum pernah melihat ular yang tetap makan meski perutnya kenyang. Sedangkan manusia? Berapa dari kita yang terus memasukkan makanan meski perut sudah terisi?

Saya tak pernah mendengar berita ada macan yang menggauli macan lain yang masih kecil. Manusia? Sudah berapa banyak berita pedophilia menghiasi layar gadget Anda? Untuk hewan yang hidup berkelompok, saya juga belum pernah melihat ada pemimpin binatang yang korupsi dan menyembunyikan makanan untuk dirinya sendiri. Manusia? Saya tak perlu bercerita.

Karena itulah, kita perlu berpuasa. Puasa adalah pelajaran menjadi manusia. Dengan menahan nafsu, ternyata dapat menjadi penyentuh kalbu. Saat membantu sesama lewat zakat, kita sesungguhnya sedang membersihkan jiwa dengan berkat.

Dalam akhir cerita Orwell, Napoleon menerima tamu Pak Pilkington dari peternakan tetangga. Pertemuan yang awalnya ramah, tiba-tiba menjadi pertengkaran seru gara-gara permainan kartu. Clover, kuda tua kesayangan Pak Jones, datang untuk melihat sumber keributan itu. Begitu kagetnya ia saat melihat kedalam. Ia tak bisa membedakan mana binatang, dan mana manusia.

Karena manusia baru bisa menjadi manusia saat ia mampu menguasai nafsu yang ada di dalam dirinya.

Selamat berpuasa. Selamat belajar menjadi manusia.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Perahu ke Surga

Hari ini (9 April) saya diajak kawan kuliah (si Desti) untuk berkunjung ke Bogor. Bertemu murid-murid boarding school dari salah satu lembaga pendidikan. Desti punya ide untuk menghubungkan cita-cita dan realita dunia nyata. Ada muridnya yang ingin jadi Diplomat, dan kebetulan pula ada kawan kami (Dika) yang sekarang jadi diplomat.

Diharapkan Dika bisa sharing tentang suka duka jadi diplomat, sekaligus memberikan tips dan trick jika ingin mengikuti jejaknya. Semacam kelas inspirasi gitu. Saya sengaja ikutan untuk jalan-jalan, dan juga karena males disuruh bersih-bersih kalo hanya main game di rumah. Kami berlima (sama Bocil dan Lila) janjian ketemu di Bogor.

“Bro bear, Nanti disana lu harus menginspirasi anak-anak ya” kata Desti waktu kami bertemu di KFC stasiun Bogor.

Hah? Inspirasi apaan? Soal hubungan signifikan obesitas terhadap ketampanan? Atau pengaruh lari pagi terhadap penurunan berat badan yang tak pernah berarti? Saya tak akan bisa memotivasi orang lain karena saya percaya motivasi terbaik ya motivasi yang dihasilkan diri sendiri.

“Ya udah nanti sharing-sharing aja ya”. Kamipun berangkat dan menempuh perjalanan hampir 1 jam.

Acara dilaksanakan di masjid. Dika sukses menginspirasi anak-anak. Dengan cerita serunya keliling dunia mewakili Indonesia, serta berbagai cerita off the record soal hubungan luar negeri kita. Saat saya diminta sharing, masa saya harus cerita soal marketing strategy ke anak-anak SMA tak berdosa ini?

Saat bingung, saya teringat ‘Perahu Neraka ke Surga’. Salah satu problem solving tools sederhana yang saya pakai untuk memperbaiki proses, menambal loop hole, menciptakan perubahan, dan juga mendapatkan jodoh (hey, saya PDKT ke istri pakai manajemen strategic lho!).

Kalo saya pikir-pikir, tools ini saya tulis dari hasil membaca beberapa buku problem solving yang dikembangkan perusahaan konsultan macam McKinsey dan six sigma ala General Electric. Tentu dengan simplifikasi sederhana yang cocok untuk anak SMA.

Agar lebih mudah kita pakai cerita fiktif.

Surga yang Terbuka

Alkisah, ada orang yang menjadi penghuni neraka. Karena tak tahan menderita, ia lalu berdoa:

“Ya Tuhan, ampunilah dosa hamba. Sudah bertahun-tahun hamba di neraka, tolong hentikan siksa ini dan masukkan hamba ke surga”

Karena kasihan, Tuhan pun membukakan pintu surga untuknya.

“Baiklah, Kubukakan pintu surga untukmu”

Karena girang bukan kepalang, orang tadi langsung jingkrak-jingkrak dan berlari meninggalkan ‘kompleks neraka’. Begitu kagetnya ia ketika ternyata ada sungai yang memisahkan surga dan neraka. Didalam sungai banyak monster dan setan.

“Tuhan, bagaimana cara ke surga?”

Tiba-tiba ada suara:

“Gunakan akalmu, optimalkan sumber dayamu, semua kubebaskan kepadamu”. Kata suara ghaib itu.

Orang itu sadar, ia ada di neraka, dan ingin menuju ke surga. Dan pintu surga sudah terbuka! Ia hanya perlu kesana. Ia tahu ada sungai yang membatasi dan harus melintasinya. Ia butuh alat untuk menyebrang sungai.

Setelah melihat sekeliling, ia akhirnya mengambil pohon-pohon untuk menciptakan rakit. Urusan tenggelam itu belakangan, yang penting ia sudah membuat rakit dan mengarungi sungai. Membelah arus, menuju surga yang ia impikan.

Matrix Neraka-Surga

Cerita diatas hanyalah perumpamaan. Neraka adalah kondisi kita saat ini. Surga adalah hal yang ingin kita tuju. Sungai adalah hambatan yang menghadang. Kita harus tahu apa hambatan yang ada baru kemudian bisa menentukan solusi untuk mengatasi hambatan itu.

Untuk lebih simple-nya bisa mengacu matrix dibawah ini. Contoh kasus, saya ingin menurunkan badan dari 115 ke 95 kg. Yang perlu saya lakukan adalah menyebutkan keadaan sekarang, lalu kondisi yang saya harapkan.

Mengapa keadaan sekarang belum seperti yang saya harapkan? Karena ada “sungai hambatan”. Dengan merinci hambatan yang ada, saya bisa men-list “perahu” yang ingin saya buat. Setelah itu saya bisa menciptakan action plan yang harus saya lakukan.

Matrix neraka-surga
Matrix neraka-surga

Kenapa matrix neraka-surga ini penting?

  1. Karena banyak dari kita tidak tahu perubahan apa yang diinginkan
  2. Karena banyak dari kita tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan

Dengan menuliskan-nya di matrix neraka-surga, kita memiliki road map sederhana. Apa yang ingin kita capai, apa penghambatnya, apa yang kurang, dan apa yang harus kita lakukan.

Ketika salah satu murid bernama Sandy mencoba matrix ini, ia tahu jika cita-citanya adalah menjadi diplomat (surga). Sedangkan sekarang ia masih anak SMA (neraka). Ada sungai yang menghadang (gelar S1 dengan IPK dan Universitas yang bagus, Toefl 550, tes Departemen Luar Negeri, communication skill, negotiation skill, politik luar negeri, dan skill dipomat lainnya).

Sekarang Sandy tahu action plan yang harus dilakukan. Berdoa kepada Tuhan, belajar yang rajin, mempersiapkan kelulusan untuk masuk ke kampus bergengsi dan mengambil jurusan humaniora, membeli kamus, belajar vocabulary, mencoba menulis esai, belajar speaking in English, dan rajin membaca berita luar negeri di koran.

“Mulai hari ini dan seterusnya, saya memantapkan cita-cita saya di kemudian hari, yaitu memiliki pasport berwarna hitam…” tulis Sandy di facebook-nya. Pasport hitam adalah pasport diplomatik.

Sandy bermimpi. Tapi mimpi tak cukup. Kita harus beraksi. Sepenuh hati. Mengeluarkan potensi yang kita miliki. Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubahnya sendiri.

Karena Tuhan telah membuka pintu surga-Nya. Kita hanya perlu perahu untuk mencapainya.

Foto bareng di Bogor
Foto bareng di Bogor
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Berkenalan dengan Scientology

Scientology? Agama apaan tuh? Aliran kepercayaan penganut science?

Awalnya saya hanya tahu jika Tom Cruise adalah penganut Scientology. Dan bukan cuma mas Tom, ada juga John Travolta dan beberapa artis macam Chick Corea atau Dave Brubeck (kalo suka Jazz pasti tahu siapa mereka).

Rasa kepo saya baru sedikit terjawab setelah menonton film dokumenter “Going Clear Scientology and The Prison of Belief”. Film tahun 2015 ini menceritakan seluk beluk Scientology yang diceritakan dengan detail dan berdasarkan pengakuan para mantan pengurusnya.

source: http://300mbfilms.org

Hubbard

Lafayette Ronald Hubbard, adalah pendiri Scientology. Cukup menarik ketika membaca riwayat hidupnya, karena awalnya dia adalah penulis cerita science fiction di majalah. Setelah perang dunia, dimana dia ikut menjadi anggota Angkatan Laut Amerika Serikat, dia kembali dan menulis “bible” dari Scientology: Dianetics.

Dianetics adalah fondasi Scientology. Berasal dari kata Dia (menembus) dan Noos (jiwa). Dianetics secara sederhana berarti “menembus jiwa”. Hubbard menjelaskan jika setiap kejadian dalam hidup akan terekam dalam otak. Dan otak manusia terdiri dari dua bagian: analytic dan reactive.

Analytic berurusan dengan logika, perhitungan, pemikiran. Sedangkan reactive bertugas untuk menyimpan hal-hal yang bersifat emosional. Manusia menggunakan dua jenis otak ini untuk membuat keputusan dan bertahan hidup. Penderitaan manusia terjadi karena kejadian-kejadian traumatis tersimpan dalam otak reactive,  seringkali tertidur dan belum tersembuhkan.

Hubbart percaya, pengalaman traumatis manusia dapat disembuhkan dengan memintanya menceritakan pengalaman itu, untuk kemudian move on dan melanjutkan hidupnya lagi. Untuk itulah Scientology memperkenalkan konsep “audit”. Dimana peserta diminta untuk memegang alat bernama “e-meter” yang diklaim bisa membaca pergerakan emosi dalam otak.

Auditor (orang yang memandu sesi auditing) akan bertanya:

“Kenapa Anda galau?”

“Kenapa Anda selalu gagal move on?”

“Apa yang paling Anda kenang dari masa lalu bersama mantan?”

Pokoknya pertanyaan-nya itu mengaduk emosi dan mem-blender perasaan. Jika ada sesuatu yang tidak beres, e-meter akan bereaksi. Titittitititittt. Auditor akan meminta Anda untuk bercerita lagi. Dan setelah itu, pufffffff. Emosi terlepaskan dan tidak ada sinyal dari e-meter.

orang sedang memegang e-meter, sumber: tonyortega.org

Setelah melakukan audit, maka Anda akan “clear”, Bersih. Terbebas dari pengalaman traumatis masa lalu, terlepas dari emosi negatif, dan Anda akan memiliki pikiran yang jernih untuk menyongsong masa depan yang cerah. Sungguh sebuah praktik yang mirip dengan konsultasi psikologis.

Menjadi Agama

Bagaimana mungkin sebuah buku self help dan metode konseling dapat menjadi agama? Inilah yang membuat saya penasaran dan sekaligus membuat saya kagum. Saya harus mengacungkan jempol kepada Hubbard yang mampu menciptakan “kepercayaan”, “ritual”, “simbol”, “institusi” dan tak kalah penting: “sistem bisnis”.

Jadi ceritanya, setelah sukses dengan Dianetics dan pelatihan auditing (dimana peserta harus membayar $500 pada tahun 1950an untuk di-audit), Hubbard mulai percaya jika dia adalah penyelamat umat manusia karena merasa bisa menyembuhkan semua penyakit psikologis yang ada. Dan kemudian, dia juga bermasalah dengan pajak. Satu-satunya jalan adalah mendirikan organisasi sosial berbasis keagamaan.

Kemudian lahirlah Scientology. Menggunakan Dianetics sebagai value (kepercayaan), Hubbard menciptakan skema audit berjenjang (ritual), mempercanggih e-meter (simbol), dan tak kalah gila: mendirikan gereja Scientology (institusi). Skema audit berjenjang berarti Anda harus membayar lebih untuk berada di level yang lebih tinggi. Dan itu juga berarti kerajaan bisnis yang tak tersentuh oleh pajak.

Seperti penjelasan Hubbard sendiri dalam Dianetics 55:

SCIENTOLOGY: is an applied religious philosophy and technology resolving problems of the spirit, Life and thought; discovered, developed and organized by L. Ron Hubbard as a result of his earlier Dianetic discoveries. Coming from the Latin, scio (knowing) and the Greek logos (study), Scientology means „knowing how to know“ or “the study of wisdom.“

Hubbard tahu jika manusia adalah makhluk yang gelisah. Ia tahu jika manusia membutuhkan solusi praktis, dan bukan hanya ceramah dogmatis. Ia mengerti jika agama takkan berarti apa-apa tanpa sebuah tindakan nyata.

Jika Anda datang ke “gereja Scientolog” maka Anda akan menemukan bangunan modern yang lebih mirip kampus. Berisi orang-orang muda, berteknologi canggih, dan materi “khotbah” disampaikan dalam bentuk audio visual. Dan coba lihat topiknya: bukan hanya berbicara sesuatu yang mengawang-awang seperti Tuhan dan hal ghaib, tapi topik-topik praktis yang bisa diterapkan sehari-hari. Seperti “bagaimana berkomunikasi lebih efektif”, “bagaimana cara menjadi bahagia”, atau “hal-hal yang harus Anda lakukan untuk kesuksesan karir”.

Hubbard me-rebranding agama sebagai sesuatu yang praktis, solutif, interaktif, dan aplikatif. Sebuah pembelajaran bagi agama-agama Ibrahim.

gereja scientology source: we.com

Note:

Link download move bisa diklik disini

Untuk mendapatkan perspektif dari sumber primer, Anda bisa membuka website resmi Scientology.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Chichikov

“Tuan menginginkan orang-orang yang sudah mati?” tanya Sobakevich heran.

“Ya… yang sudah tidak ada” jawab tamu dihadapannya menegaskan.

Bagaimana mungkin, seseorang ingin membeli petani-petaninya, yang sudah mati? Sobakevich si tuan tanah kembali bertanya. Tapi sang pembeli, sangat serius dengan tawarannya. Akhirnya mereka sepakat di harga dua setengah rubel. Untuk membeli petani yang sudah tak ada lagi. Transaksi jual beli atas jiwa-jiwa mati.

Pembeli itu, Chichikov, adalah pejabat licik yang bersembunyi dalam topeng kesopanan aristokrat. Pakaiannya selalu rapi, tubuhnya terbungkus jas dari satin atau beludru. Memiliki kereta dengan kuda yang sehat. Berkeliling Rusia untuk mencari tuan tanah, dan menawarkan transaksi konyol: Chichikov akan membeli petani mereka yang sudah tiada.

Korupsi

Chichikov adalah tokoh dalam Dead Souls karya Nikolai Gogol. Sastrawan besar Rusia yang mengkritik bobroknya birokrasi dalam karya sastra indah yang penuh nuansa satir. Chichikov digambarkan sebagai birokrat tulen: pandai menjilat atasan, bermuka manis, tapi sebenarnya akan melakukan apapun untuk keuntungan pribadinya.

Ilustrasi from Russia-antique.com
Ilustrasi from Russia-antique.com

Ia pernah menjadi petugas bea cukai. Menolak segala macam suap kecil hanya agar bisa dipromosikan ke kantor pusat sehingga ia bisa melakukan korupsi yang lebih besar: penyelundupan terselubung. Ketika kejahatannya mulai terendus, ia melarikan diri dan berpikir untuk melakukan bisnis “jiwa-jiwa mati”.

Diceritakan Rusia pada saat itu akan mengadakan sensus penduduk setiap beberapa tahun. Sayangnya data penduduk seringkali tidak update. Banyak penduduk yang tercatat meskipun pada kenyataannya mereka sudah mati. Pada umumnya petani penggarap ladang. Chichikov melihat peluang.

Rencana Chichikov sederhana: ia akan membeli petani mati (disensus tercatat masih hidup), mengurus akte pembelian sehingga ia secara resmi “tercatat memiliki petani”, untuk kemudian menjadikan akte kepemilikan petani itu sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman.

Chichikov sudah dibutakan oleh harta. Yang ia tahu, bagaimana mendapatkan rubel dengan cara mudah. Meskipun harta itu didapat dari hasil korupsi, menjilat, atau menipu, bukanlah soal. Ia mungkin tidak tahu firman Tuhan:

“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik..” Al-Baqarah 168.

Kostanjoglo

Ketika aparat hukum mulai mencurigai transaksi aneh ini, Chichikov melarikan diri. Ia sempat singgah di sebuah desa dan bertemu tuan tanah kaya yang rajin bekerja.

“Kalau Tuan ingin cepat kaya.. Tuan tak akan pernah kaya. Tapi, kalau Tuan ingin menjadi kaya tanpa memikirkan berapa lama Tuan membutuhkan waktu, Tuan akan menjadi kaya dengan cepat. Orang harus mencintai pekerjannya. Tanpa itu Tuan tak dapat melakukan sesatu.” Konstanjoglo menjawab pertanyaan Chichikov tentang cara cepat menjadi kaya.

Chichikov tercengang mendengar petuahnya. Dan beralasan jika ia tidak terlahir dari golongan kaya. Tapi Konstanjoglo menentang pendapat itu.

“Orang yang dilahirkan dengan beberapa ribu dan dibesarkan dengan beberapa ribu tak akan pernah mencetak uang, karena ia telah mengembangkan segala macam kebiasaan mahal dan segala macam hal yang lain.

Orang harus mulai dari permulaan dan bukan dari tengah, dari satu kopek, dan bukan dari satu rubel. Dari bawah dan bukan dari atas. Barulah orang akan mendapat pengetahuan yang menyeluruh mengenai hidup dan juga orang-orang, yang kemudian hari akan berurusan dengannya.

Kalau Tuan telah mengalami semua itu dan telah mengerti bahwa setiap uang tembaga harus dijaga baik-baik sebelum Tuan dapat melipatkannya menjadi tiga, dan apabila Tuan telah melewati segala macam cobaan dan bencana Tuan akan menjadi demikian terlatih dalam berbagai cara dunia, hingga Tuan tak akan pernah membuat kesalahan dan tak akan pernah bersedih dalam usaha apa pun.”

Di akhir novel, Chichikov harus merasakan akibat perbuatannya. Ia dijebloskan kepenjara. Tapi Chichikov beruntung. Pangeran bersedia mengampuninya setelah dibujuk oleh Murazov, pembela hukumnya. Chichikov pun hanya dihukum ringan: hartanya disita dan ia diminta pergi meninggalkan kota.

Saat diperjalanan, Chichikov terus mengingat pesan dari Murazov.

“Tuan tak punya kecintaan akan kebaikan, paksalah diri Tuan melakukan kebaikan tanpa suatu kecintaan kepadanya… Paksalah diri Tuan beberapa kali… nanti Tuan akan belajar mencintainya”.

Ia pun memulai hidup baru. Dari awal, tanpa memiliki apa-apa. Chichikov yang dulunya pejabat kalangan atas, sekarang harus menjadi rakyat kelas bawah.

Tapi bukankah itulah hukumnya? Orang harus mulai dari bawah, dan bukan dari atas.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail