Category Archives: Tuhan…

Tentang Tuhan dan hal-hal tak terselesaikan…

Hey Yoda, Apakah Tuhan benar-benar Ada?

Untuk Yoda, di tahun 2024.

Karena sekarang umurmu 7 tahun (semoga masih hidup ya, karena umur siapa yang tahu), maka sudah waktunya kamu berkenalan dengan istilah Tuhan. Mari memulai diskusi kita dengan mengajukan tiga pertanyaan sederhana:

Apa itu Tuhan? Apa bukti jika Tuhan benar-benar ada? Apa manfaat mempercayai/tidak mempercayai adanya Tuhan?

Saya ingin kamu belajar bertanya secara kritis. Kenapa? Agar kamu sadar akan pilihanmu. Jangan sampai kamu percaya Tuhan dan menjadi pengikut agama tertentu, tanpa punya alasan yang kuat dibaliknya.

Pada dasarnya di dunia ini, ada dua golongan besar. Mereka yang mempercayai Tuhan vs manusia yang tidak percaya dengan zat bernama Tuhan. Sebenarnya ada orang ketiga: orang yang percaya Tuhan tapi tidak menjalankan perintahNya. Haha.

Masing-masing punya argumen dan alasan unik. Alangkah baiknya jika kita mendengarkan masing-masing pendapat dari kedua kubu.

Pertanyaan orang Atheist

Sepengetahuan saya, kenapa banyak orang menjadi atheist (tidak percaya Tuhan) adalah karena Tuhan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Tuhan tidak memiliki wujud yang konkret. Tuhan hanyalah konsep abstrak di pikiran orang yang percaya. Semua hanya karangan pemuka agama untuk menancapkan pengaruhnya.

Bagi kaum atheist, dunia terbentuk dengan sebuah mekanisme besar berupa alam raya beserta hukum-hukum yang bernama sains. Ilmu pengetahuan. Tuhan itu tidak logis karena tidak terlihat dan wujudnya tidak jelas.

Menurut mereka, konsep “tuhan” lahir karena ketidakmampuan manusia menjelaskan fenomena alam raya. Nenek moyang kita begitu takut melihat petir, lalu lahirlah mitologi tentang zeus. Saat panen buruk, muncullah cerita soal dewi Sri.

Secara umum, kritik dasar yang dilancarkan tentang “ketiadaan Tuhan” ada tiga:

Pertama, Tuhan tidak bisa dibuktikan langsung secara empiris. Belum pernah ada manusia yang bertemu Tuhan. Orang mati juga tidak pernah kembali untuk menceritakan jika surga dan neraka benar-benar ada. Tuhan juga seperti “hilang”. Ia tidak tampak, kasat mata, dan seperti hilang dari peredaran.

Kedua, berbicara Tuhan pasti berbicara agama. Banyak kaum atheist yang mengkritik institusi sosial bernama agama. Agama dipandang sebagai insititusi penuh eksploitasi. Hanya menguntungkan pemuka agama.

Karl Marx bahkan mengingatkan jika agama adalah candu. Candu yang membuat manusia meringkuk ke dalam penjelasan tentang sebuah zat yang tak kasat mata dan membunuh sains.

Mayoritas agama abad modern juga bersumber dari ajaran yang diturunkan ratusan tahun yang lalu. Terus sekarang Tuhan ngapain donk? Abis ninggalin agama terus ngilang begitu aja?

Ketiga. Jika Tuhan benar-benar sesuatu yang universal, mengapa pengalaman spiritual yang dirasakan manusia sangat bersifat individual? Mengapa hanya nabi tertentu yang mendapat wahyu? Kenapa tidak semua orang? Kenapa Tuhan pilih-pilih terhadap wakilnya? Kenapa Tuhan tidak membuat pengumuman yang ditempel di langit untuk membuat semua manusia sadar jika Ia benar-benar ada?

Pembelaan Orang Beragama

Di sisi yang lain, orang beragama juga punya pembelaan. Saya coba rinci yang sederhana ya:

Pertama, Tuhan adalah pencipta yang berbeda dari makhluknya. Karena berbeda, kita tidak bisa menerapkan logika manusia kepadaNya. Ia tidak bisa dibuktikan secara indrawi, karena merupakan zat surgawi.

Pernyaan: sekarang Tuhan lagi ngapain ya? Adalah sebuah bentuk antromorphisme. Sebuah usaha “memanusiakan” Tuhan. Padahal menurut agamawan, Tuhan tidak tidur, makan, serta tak terikat ruang dan waktu. Kita tidak bisa menggunakan standar manusia.

Para biarawan memiliki pendekatan keren untuk menjelaskan ini: via negativa. Definisi Tuhan dijelaskan dengan semua hal yang bukan Tuhan. Karena Tuhan dipercaya berbeda dengan makhluknya, berarti Tuhan bukanlah semua hal yang kita ketahui.

Pembelaan kedua umat beragama, pengetahuan manusia sangat terbatas. Sains hanya baru pada level penjelasan yang penuh dengan dugaan. Kita membangun hipotesis berdasarkan data dan fakta yang ada, dan membuat dugaan bernama ilmu pengetahuan.

Manusia baru sampai level “penjelasan”, belum sampai “penciptaan”. Sepintar-pintarnya manusia membuat pesawat antariksa, manusia belum mampu menciptakan seekor nyamuk. Alam dan isinya adalah “bentuk empiris” adanya Tuhan.

Ketiga, ada konsep unik bernama iman. Iman berarti rasa percaya. Inilah pembeda orang atheist dan beragama. Iman, seperti kritik sebelumnya, bersifat sangat personal. Ia tidak bisa diproduksi secara massal, dan setiap manusia punya kadar yang berbeda-beda.

Ada orang yang awalnya beragama tapi kemudian murtad (misal Stalin), dan ada juga orang murtad yang pada akhirnya beragama (misal Malcolm X). Memang ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh (misal lingkungan, pengalaman, insentif sosial dll), tapi tetap saja tidak menjamin jika seorang yang dibesarkan di lingkungan beragama akan mati sebagai ahli agama.

Berdasarkan pengalaman saya, konsep iman inilah yang menjadi kunci perdebatan kedua kubu. Semua pertanyaan orang atheist akan di counter oleh ahli agama, dan akan di jawab lagi oleh orang atheist. Pokoknya ga abis-abis dan akan jadi seperti Tiktok: seru tapi ngeselin.

Dengan konsep iman, semua kelar. Sebego-begonya argumen tapi kalo udah beriman ya diterima aja. Atau sebaliknya, secanggih-canggihnya penjelasan tapi kalo belum beriman ya gak mempan juga. Simple.

Okay, tulisan ini udah terlalu panjang. Akan kita lanjutkan dengan manfaat beragama atau tidak beragama.

Tapi sebelumnya, kira-kira kamu mau pilih kubu yang mana?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#19 Marshmallow Puasa

Ingin jadi manusia sukses? Belajarlah berpuasa.

Setidaknya itu hasil penelitian klasik “Marshmallow test” yang dilakukan Walter Mischel dari Universitas Stanford pada tahun 60-an.

Tes ini melibatkan anak-anak dengan instruksi sederhana: mereka akan diberi satu marshmallow/kue/permen. Boleh dimakan jika mereka suka. Tapi jika mau bersabar dan menunggu, mereka akan diberi dua marshmallow setelah beberapa waktu.

Dua puluh delapan tahun kemudian, diadakan tes kedua untuk memantau perkembangan anak yang mengikuti tes. Hasilnya? Anak-anak yang mampu menunda dan mau bersabar dilaporkan memiliki kehidupan yang lebih sukses.

Mereka tumbuh sebagai orang dewasa yang kompeten, punya nilai akademik yang bagus, dan lebih makmur secara pendapatan.

Kok bisa? Penelitian Mischel mengajarkan dua hal yang sangat penting untuk pengembangan karakter manusia:

#1 Willpower

Kemampuan mengontrol diri sendiri. Ini berarti mampu untuk TIDAK melakukan sesuatu disaat kita sebenarnya sangat ingin melakukan tindakan itu.

#2 Delayed gratification

Kemampuan menunda kesenangan. Ini berarti mampu berkata NANTI untuk sesuatu yang sangat kita inginkan saat ini.

Seorang anak yang memiliki willpower dan kemampuan menunda kesenangan akan tumbuh sebagai manusia yang hidup untuk mempersiapkan masa depan. Mereka tahu jika masa muda adalah masa pembangunan fondasi. Dan itu berarti mereka harus mau melakukan sesuatu yang PENTING, meski hal itu tidak selamanya MENYENANGKAN.

Puasa

Lantas apa hubungannya dengan puasa?

Puasa sebenarnya adalah sebuah “Marshmallow test” yang lebih luar biasa. Durasinya lebih panjang sampai 12 jam, dan “hadiah marshmallow” yang ditawarkan lebih dahsyat: dihapusnya dosa-dosa.

Yang diajarkan serupa:

Sejauh mana kita mampu mengontrol diri sendiri dan mau menunda kesenangan. Ini berarti tidak makan dan minum meski kita lapar dan haus, serta tidak melakukan sesuatu yang mengurangi amalan puasa meski kita ingin sekali melakukannya.

Seorang muslim yang mampu menahan lapar seharian harusnya mampu menolak sogokan yang menggiurkan. Harusnya bisa mengelola waktu untuk menunda kegiatan yang tak perlu. Pastinya bisa menunda konsumsi dan memperbanyak investasi.

 

Seorang yang sudah berpuasa seharusnya bisa menjadi manusia paripurna.

Karena puasa mengajarkan jika hidup bukan cuma pencarian kesenangan, dan kebaikan terkadang membutuhkan pengorbanan yang tidak menyenangkan.

freepik

Note:

Sebenarnya riset Mischel mendapat tantangan. Watts et al dari New York University (2018) mencoba mereplikasi apa yang dilakukan Mischel. Hasilnya? Tidak sejalan dengan temuan Mischell, Watts melihat peran keluarga dan lingkungan lebih penting untuk mendukung kesuksesan anak dibandingkan self control dari sang anak itu sendiri.

http://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0956797618761661

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#15 Dimana Nikmat dari Tidur?

Tsamamah ibn al Asyras ditanya oleh orang gila biara di Hizqal

“Apakah tidur itu nikmat?”

Tentu saja benar, jawab Tsamamah.

Orang gila itu lalu bertanya kembali:

“Kapan orang tidur merasakan kenikmatan itu? Jika nikmat itu sebelum tidur, engkau terlalu memaksakan jawaban. Jika nikmat itu saat tidur, engkau keliru karena saat itu orang tidur tak berakal. Jika nikmat itu setelah tidur, engkau juga salah karena saat itu orang tidur sudah bangun”.

Tsamamah terdiam. Ia lalu balik bertanya, “Jadi bagaimana pendapatmu?”

Sesungguhnya kantuk adalah penyakit yang menimpa badan dan obatnya adalah tidur.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#14 Samnun dan 4 Hal

Samnub ash Shufi adalah orang gila dari kota Bashrah. Suatu hari ia dipanggil oleh khalifah yang bertanya: “Samnub. Dalam kedekatan, perlukah pengkhidmatan?”

Samnun menjawab,

“Amirulmukminin! Sesungguhnya hati orang2 yg terhubung dengan Allah senantiasa berkhidmat kepada-Nya”.

Bagaimana caramu terhubung dengan Nya? Tanya sang amir.

“Saya tidak bisa terhubung dengan Allah kecuali setelah mengamalkan 4 hal:

Saya mematikan yang hidup yaitu nafsu dan menghidupan sesuatu yang mati yaitu hati.

Saya menyaksikan yang gaib yaitu akhirat dan menganggap gaib sesuatu yang nyata yaitu dunia.

Saya mengabadikan sesuatu yang fana yaitu kehendak dan menfanakan sesuatu yang abadi yaitu hasrat.

Saya mengasingkab sesuatu yang akrab dengan kalian dan akrab dengan sesuatu yang asing dengan kalian”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#13 Doa Orang Gila

Di Mahrajan ada orang gila yang dipanggil Sabiq. Dia menggelandang dan tinggal di reruntuhan, kebun, dan kuburan.

Meski begitu, ia terkenal karena perkatanyannya terkadang lebih masuk akal dibandingkan orang biasa.

Suautu hari Abu Hammam Israil Ibn Muhammad al-Qadhi menemui Sabiq dan bertanya,

Sabiq, mohon ajari saya kata2 yang bisa saya jadikan sebagai doa:

“Sesungguhnya kata-kata yg paling mengena di hati adalah kata-kata yang datang dari hati.

Sesungguhnya tindakan yang paling utama adalah tindakan yang dibenci oleh hawa nafsu”.

Setelah itu Sabiq berdoa:

“Ya Allah, jadikanlah pandanganku sebagai pelajaran, diamku sebagai pemikiran dan perkataanku sebagai zikir”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#12 Bertanya kepada Orang Gila

Muhammad ibn Ismail ibn Abi Fudaik berkata,

“Di antara kami ada seorang lelaki yang disebut Abu Nashr berasal dari Juhainah. Akalnya tidak waras. Kurang lebih satu bulan sebelum meninggal dunia, dia senantiasa duduk bersama Ahlu Suffah di belakang Masjid Nabawi, Madinah. Apabila ditanya sesuatu, dia akan memberi jawaban yang baik.

Pada suatu hari, saya menemuinya di belakang masjid. Dia bertanya, “Ada keperluan apa dengan kami?” saat itu ia sedang berkumpul dengan Ahlu Suffah.

“Abu Nashr! Apa itu kemuliaan?”

Dia memberi jawaban, “kemuliaan adalah menanggung sesuatu yang ditimpa kerabat, baik yang ringan atau yang berat; menerima yang baik dari kerabat dan melupakan yang buruk dari mereka”.

Saya bertanya lagi,” Apa ity harga diri(al-muruah)?

“Harga diri adalah memberi makanan, menyebarkan salam perdamaian dan menjafa diri dari keji dan dosa”.

Apa pula kedermawanan?

“Kedermawanan adalah bersungguh sungguh dalam hal yang sedikit dan sekecil apapun”.

Lantas apa itu pelit?

“Kurang ajar!” Katanya sambil memalingkan muka.

Mengapa engkau tidak menjawab pertanyaan terakhirku?

“Aku telah menjawabnya”. Ia lalu berpesan:

“Sesungguhnya manusia apabila meninggal dunia akan ditemani oleh keluarganya, hartanya, dan amal perbuatannya. Ketika tubuhnya diletakkan dalam kuburan, keluarga dan hartanya pulang. Yang tersisa tinggal amal perbuatannya. Karena itu, pilihlah bagi diri kalian sesuatu yang akan menemani kalian di alam kubur”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#11  Dikalahkan Budak

Ibrahim bin Adham bercerita,

“Suatu ketika aku memasuki salah satu benteng di tepi pantai di desa di Syam. Waktu itu aku sedang mengalami kesulitan sementara hujan begitu deras dan hari makin gelap. Aku kemudian masuk ke dapur dan berkata, “Aku akan duduk sebentar hingga hujan reda”.

Ternyada ada lelaki berkulit hitam yang menyalakan api. Ibrahim mengucapkan salam dan bertanya,

“Apakah engkau mengizinkanku untuk mendekat hingga hujan reda?” Ia lalu memberi isyarat untuk masuk.

Ia lalu duduk di hadapannya. Lelaki itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia sibuk menyalakan api sementara sambil menggerakkan bibir dan menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa henti.

Keesokan hari, ia berkata,

“Kamu jangan mencelaku jika tidak bisa menjamu dan melayanimu degan baik. Aku hanya seorang budak. Aku ditugaskan untuk melakukan apa yang kamu lihat tadi malam. Jadi aku tidak ingin lengah dari apa yang sudah ditugaskan kepadaku”.

Ibrahim penasaran, “Mengapa kamu menoleh ke kanan ke kiri tanpa henti?”

“Aku khawatir dengan datangnya kematian yang pasti datang. Hanya saja aku tidak tahu dari mana dan kapan ia menghampiriku”.

Ibrahim bertanya lagi, “Apa yang membuatmu menggerakkan bibir?”

“Aku sedang mengucapkan tahmid, tahlil, dan tasbih. Sebab telah sampai kepadaku bahwa Nabi bersabda kepada sebagian sahabatnya, ‘Janganlah kematian mendatangimu, kecuali lisanmu senantiasa basah karena mengingat Allah”.

Ibrahim lalu menangis dan berteriak, “Budak hitam ini telah mengalahkanmu, wahai Ibrahim!”.

Sumber: Ad_dinawari dalam Al-Mujalasah (hal 88). Dikutip dari  Air minum dari langit (2016)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#10 La A’rifuhu

Ibnu Adi berkata, “Aku mendengar beberapa syekh bercerita jika Muhammad bin Ismail al Bukhari akan datang ke Baghdad. Kedatangannya didengar oleh para ulama ahli hadits sehingga mereka bersaksi membuat perkumpulan akbar untuk menyodorkan 100 hadits dengan sanad dan matan yang diacak sedemikian rupa.

Seratus hadits ini dipercayakan kepada 10 orang sehingga satu orang memegang 10 hadist. Mereka diminta untuk menyampaikan hadits-hadits ini kepada Imam Bukhari.

Setelah semua tersusun rapi, mereka mengambil kesepakatan untuk pelaksanaan pertemuan itu. Tak lupa diundang juga ulama dari Khurasan dan daerah sekitar Baghdad.

Ketika hadirin sudah berkumpul, salah satu dari 10 orang itu menanyakan hadits yang telah mereka siapkan kepada Imam Bukhari. Menanggapi hal itu, Imam Bukhari hanya menjawab, “La a’rifuhu, aku tidak tahu”.

Hadirin mulai meragukan keilmuan Imam Bukhari. Karena diluar dugaan, ia justru berkata jika tidak tahu soal hadist yang baru saja ditanyakan.

Giliran orang kedua yang bertanya sampai 10 hadits ditanyakan, ia tetap menjawab “Aku tidak tahu”. Jawaban aku tidak tahu terus terdengar hingga orang kesepuluh.

Setelah 10 orang menyampaikan hadist yang diacak itu, akhirnya Imam Bukhari mulai bicara. Ia kembali ke penanya pertama dan mengoreksi hadist yang ia katakan. Imam Bukhari juga membetulkan matan dan sanad dari hadist yang sengaja diajak tadi. Demikian juga dengan 9 penanya yang lain.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#9 Berkah Orang Shalih

Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (13/203-205)

Abdul Abbas al-Muaddib berkata, “Tetanggaku keturunan Hasyim yang tinggal di Pasar Yahya bercerita kepadaku. Waktu itu kondisiku sangat memprihatinkan. Anakku baru lahir, dan istriku menyuruhku untuk mencari sesuatu untuk dimakan.

Setelah shalat Isya’ aku pergi keluar rumah dan mendatangi pedagang bahan makanan langgananku. Aku menceritakan kondisiku dan meminta sesuatu yang bisa ia berikan kepadaku. Namun karena aku berhutang kepadanya, ia tidak memberiku apa-apa.

Setelah itu aku perge menemui orang lain yang aku harap bisa membantuku, tapi dia juga tidak memberiku apa-apa. Aku kemudian bingung, tidak tahu harus kemana lagi. Akhirnya aku pergi ke sungai Dajlah dan melihat pelaut di Samariyah yang berteriak, “Pelabuhan Utsman, Istana Isa, wahai penduduk kota Saj!”.

Aku pun memanggilnya dan duduk bersamanya. Pelaut itu bertanya, “Kamu mau kemana?”

“Aku tidak tahu mau ke mana lagi”, jawabku.

“Aku tidak pernah melihat sesuatu  yang lebih aneh daripada dirimu. Kamu duduk bersamaku pada waktu seperti ini. Aku menghampirimu sementara kamu mengatakan jika kamu tidak tahu mau pergi ke mana.” Jawab si pelaut.

Aku lalu menceritakan kondisiku, lalu pelaut itu berkata, “Jangan bersedih! Aku adalah orang Saj, aku akan membantu istrimu, Insya Allah”.

Lalu ia membawaku ke masjid Ma’ruf al-Karkhi yang ada di daerah Saj dan memperkenalkan, “Ini adalah Ma’ruf al-Karkhi, ia biasa bermalam dan shalat di masjid. Sekarang berwudhulah untuk shalat, kemudian pergilah ke masjid, dan ceritakan kondisimu. Setelah itu, mintalah agar ia berdoa untukmu!”.

Aku pun melakukan sarannya, aku memasuki masjid. Ketika masuk masjid, ternyata Ma’ruf sedang shalat di mihrab. Aku kemudian mengucapkan salam, shalat dua rakaat, lalu duduk. Adapun Ma’ruf ketika selesai shalat ia menjawab salamku dan bertanya, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, siapa kamu?”.

Aku pun menceritakan kondisiku, sementara Ma’ruf mendengarkan dengan seksama. Ia lalu berdiri untuk melaksanakan shalat. Waktu itu hujan turun dengan lebat. Aku semakin bersedih, bagaimana bisa pulang ke rumah?

Ketika memikirkan hal itu tiba-tiba ada orang yang datang dan mengucapkan salam kepada Ma’ruf.

Ma’ruf bertanya, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, siapa kamu?”

Lelaki itu menjawab, “Aku adalah utusan si fulan. Ia menitipkan salam kepada dan berpesan, ‘Aku sedang tidur di atas hamparan dengan berselimut. Tiba2 aku diingatkan dengan nikmat Allah yang dilimpahkan kepadaku sehingga aku pun bersyukur kepada-Nya. Sebagai bentuk syukurku, aku membawa kantong ini kepadamu untuk kamu berikan kepada orang yang berhak”.

Serahkan kantong itu kepapda laki-laki keturunan Hasyim ini, pinta Ma’ruf.

“Kantong ini berisi 500 dinar”, kata si utusan.

Serahkan kepada laki-laki keturunan Hasyim ini! Kata Ma’ruf lagi.

Utusan itu menyerahkan kantong itu kepadaku. Aku pun pulang ke rumah dan tak lupa mampir ke pedagang makanan untuk melunasi hutang-hutangku. Aku juga membeli tanah untuk kami tanami dengan harapan agar hasil tanamannya bisa menghidupi kami.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#8 Periuk Ajaib

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Jabir berkata, “Ketika parit digali, aku melihat Nabi dalam keadaan sangat lapar. Kemudian, aku pulang menemui istriku, lalu berkata,”Apakah engkau mempunya sesuatu? Sungguh aku melihat keadaan Rasulullah yang sangat lapar.

Istriku lalu mengeluarkan sebuah wadah yang didalamnya ada segantang gandum. Sementara itu kami juga mempunyai anak kambing yang jinak. Aku kemudian menyembelih anak kambing itu sementara istriku menumbuk gandum.

Istriku telah selesai dengan pekerjaannya, begitu pula dengan aku. Lalu, aku potong-potong dagingnya dan kuletakkan di dalam periuk.

Aku pun kembali menuju tempat Rasullah, tetapi istriku berpesan, “Janganlah kamu mempermalukan aku dengan kedatangan Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya.

Selanjutnya aku mendatangi Nabi dan membisiki beliau, “Ya Rasulullah, kami menyembelih kambing kecil dan kami juga telah menumbuk segantang gandum yang kami miliki. Jadi, silakan datang ke rumah bersama beberapa orang saja yang akan menyertaimu.

Tiba-tiab Nabi berteriak, “Ya Ahlal khandaq! Sesungguhnya Jabir telah membuat suatu hidangan yang akan disuguhkan kepada kita. Mari kita pergi ke rumahnya bersama-sama.

Kemudian Nabi bersabda kepadaku, “Jangan sekali-kali Engkau turunkan periukmu dan jangan pula aduk gandummu untuk dijadikan roti sampai aku datang! Aku lalu kembali ke rumah dan Nabi juga datang sembari menyuruh orang2 mengikuti beliau ke sana. Begitulah sampai akhirnya aku menemui istriku.

Istriku berkata, “Ini semua gara-gara kamu, gara-gara kamu.

Aku berkata, “Aku hanya menerjakan apa yang engkau katakan kepadaku”.

Istriku lalu mengeluarkan adukan gandum kami, lalu Nabi meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahannya. Kemudian beliau mendekati tempat periuk kami dan meludah di situ juga serta mendoakan keberkahannya. Setelah itu beliau bersabda kepada istriku

“Panggillah seorang tukang pembuat roti agar ia datang membantu membuat roti bersamamu”. Lalu beliau bersabda lagi,

“Ciduklah dari periukmu, jangan diturunkan”.

Jabir melanjutkan,

“Orang-orang yang datang pada saat itu berjumlah seribu rang. Aku bersumpah dengan nama Allah. Sungguh, mereka dapat makan sampai mereka meninggalkannya dan pergi dari rumahku, padahal periuk kami masih tetap berbunyi karena isinya yang mendidih sebagaimana sebelumnya dan juga adukan roti kami tetap sebagaimana asalnya- tidak berkurang sedikit pun”. HR Bukhari: 4/1505 dan Muslim 6/117)

freepik
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail