Category Archives: Tuhan…

Tentang Tuhan dan hal-hal tak terselesaikan…

#7 Tamu-tamu Laknat

Ada orang yang bertanya kepada Qais bin Sa’ad bin Ubadah, “Apakah engkau tahu orang yang lebih dermawan darimu?”

Qais dengan rendah hati menjawab, “Ya tentunya ada”.

Suatu hari Qais dan kawan-kawannya sedang dalam perjalanan dan singgah di sebuah perkampungan. Mereka diterima oleh seorang wanita karena sang suami masih ada urusan diluar. Ketika sang suami pulang, berkatalah sang istri, “Ada beberapa orang tamu yang menginap di rumahmu”.

Sang suami langsung menuntun seekor unta dan menyembelihnya. “Kalian diam saja di tempat” katanya kepada rombongan Qais.

Besoknya ia menyembelih seekor unta lagi dan berkata, “Aku tidak memberi makan tamu-tamuku yang hanya menginap semalam”.

Kami berada di rumahnya dua atau tiga hari. Selama itu hujan turun. Saat kami hendak melanjutkan perjalanan, si tuan rumah sedang keluar. Kami lalu meninggalkan uang 100 dinar kepada si istri.

“Sampaikan pamit kami kepada suamimu”.

Kami pun berangkat. Saat tengah hari kami mendengar teriakan orang dari belakang,

“Berhentilah kalian, wahai para pengembara terlaknat! Apakah kalian ingin membayar jamuanku? Ambil uang kalian ini atau lebiih aku menghujamkan tombak ini kepadamu”.

Kami pun mengambil lagi uang kami dan orang itu kembali pulang.

Madarij As-Salikin (2/239) dari Ibnu Qayyim al Jauziyyah, dikutip Ibnu Abdil Bari, dari Air Minum Dari Langit (2016).

http://waynehedlund.org/wp-content/uploads/2015/09/guest-friendly-follow-up.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#5 Akibat Kejujuran

source: freepik

Syekh Abdul Qadir al-Jilani bercerita, “Aku membangun urusanku di atas kejujuran. Suatu ketika aku pergi dari Mekah ke Baghdad untuk menuntut ilmu. Waktu itu Ibuku memberi uang 40 dinar. Beliau berpesan agar aku berjanji untuk selalu jujur.

Ketika sampai di negeri Hamdan (Yaman), ada gerombolan perampok yang mencegat. Salah seorang datang menghampiriku dan bertanya, “Apa yang kau bawa?”

Aku menjawab, “Aku membawa 40 dinar”. 1 dinar sekitar 4,25 gram emas.

Laki-laki itu menyangka aku mengejeknya dan meninggalkanku. Namun ada perampok lain yang melihat dan bertanya hal yang sama, “Apa yang kau bawa?”.

Aku pun menjawab dengan jawaban yang sama. Setelah itu ia membawaku ke pimpinan mereka. Ketika pemimpin perompak bertanya, aku lagi-lagi menjawab apa adanya. Ia justru penasaran, “Apa yang membuatmu berkata jujur seperti ini?”.

Aku jawab, “Ibuku sudah berpesan kepadaku agar aku berjanji untuk bersikap jujur. Aku takut jika sampai mengkhianati pesannya”.

Pimpinan perampok itu merasa tersentuh. Ia berteriak dan menangis, “Engkau takut jika mengkhianati janji ibumu, sementara aku tidak takut ketika mengkhianati janji Allah!”.

Ia lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengembalikan semua harta rampasan yang mereka ambil. Dan berkata, “Aku bertobat kepada Allah melalui dirimu”.

Anggota yang lain akhirnya juga ikut insyaf setelah melihat pemimpin mereka bertobat.

Sayyid Husain Affani dalam Shalahul Ummah fi Uluwwil Himmah (5/45)

Sumber: Air Minum Dari Langit (2016).

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#4 Kalung Kebaikan

source: freepik

Abdul Muzhaffar cucu Ibnul Jauzi berkata, “Ibnu Uqail pernah bercerita tentang pengalamannya sendiri:

“Suatu ketika aku pergi haji. Lalu aku menemukan kalung permata di sebuah buntalan benang merah. Tiba-tiba ada orang yang mengumumkan jika telah kehilangna kalung dan akan memberikan 100 dinar kepada orang yang menemukannya. Aku pun mengembalikannya”.

Kakek tua itu ingin memberikanku dinar, namun aku menolaknya.

Setelah itu, aku pergi ke Syam dan mengunjungi Al-Quds. Aku ingin pergi ke Baghdad dan singgah di sebuah masjid di Hald. Saat aku kedinginan dan kelaparan tiba-tiba ada orang yang mendatangi aku. Aku lalu shalat bersama, dan menerima jamuan makan dari mereka. Ini terjadi saat awal Ramadan.

Mereka berkata, “Imam kami meninggal dunia. Kami ingin engkau untuk shalat mengimami kami pada bulan ini”. Aku menyanggupi permintaan itu.

Mereka juga berkata, “Imam kami memiliki seorang anak perempuan”. Lalu aku dinikahkan bersamanya dan memiliki seorang anak laki-laki.

Suatu hari, aku memperhatikan istriku. Ternyata di lehernya ada kalung permata dengan benang merah, sama dengan kalung yang dulu aku temukan.

Aku lalu menceritakan pengalamanku dengan kalung itu.

Istriku menangis dan berkata,

“Demi Allah, engkaulah orangnya. Ayahku pernah menangis dan berdoa, ‘Ya Allah nikahkanlah putriku dengan pemuda yang serupa dengan orang yang telah mengembalikan kalung permata ini kepadaku’. Sungguh, Allah telah mengabulkan doa ayahku”.

Adz-Dzahabi dalam As-Siyar (19/449-450)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#3 Dicium Lelaki Lain

Al Mughirah bin Syu’bah bercerita:

“Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkanku kecuali seorang pemuda. Pernah suatu waktu aku ingin menikahi seorang wanita. Lalu aku mengajaknya bermusyawarah tentang wanita itu”.

Pemuda itu berkata, “Wahai Amir (Gubernur), menuruku sebaiknya engkau jangan menikahinya.

Kenapa? Tanya al Mughirah.

Jawaban sang pemuda sangat tak terduga, “Karena aku pernah melihat ada seorang laki-laki yang menciumnya!”.

Al Mughirah mengikuti saran pemuda itu. Tak lama berselang ia mendengar jika sang wanita sudah menikah. Dengan siapa? Dengan si pemuda yang memberinya saran tadi! Sungguh jurus menelikung tingkat tinggi. Hampir seperti Marquez menelikung Rossi.

“Bukankah kamu berkata bahwa ada seorang pria yang pernah menciumnya?” Tanya al Mughirah kepada si pemuda dengan jengkel.

Pemuda itu tersenyum. “Ya, aku pernah melihat lelaki lain menciumnya. Aku pernah melihat ayahnya mencium wanita itu ketika masih kecil”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#2 Pintu Hutang (Cerita Sederhana Teman Puasa)

source: freepik

Qa’is bin Sa’ad terkenal karena kedermawanannya. Suatu hari ia jatuh sakit, sementara sahabat dan saudaranya tidak ada yang datang menjenguk. Ini membuatnya bertanya-tanya, pergi kemana semua orang?

Setelah diselidiki, banyak yang enggan menjenguk karena malu masih memiliki hutang kepada Qa’is. Qais berkata, “Semoga Allah menghinakan harta yang telah menghalangi para saudara untuk menjenguk orang yang sakit”.

Ia lalu menyuruh orang untuk membuat pengumuman, “Siapa yang punya hutang kepada Qais, hutangnya dianggap lunas!”

Pada sore hari daun pintu rumah Qa’is rusak karena banyaknya orang yang datang menjenguk.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#1 Perlombaan Tiga Lelaki Dermawan (Cerita Sederhana Teman Puasa)

source: freepik

Al-Haitsam bin Adi bercerita, Di sekitar Ka’bah ada tiga orang yang berdebat tentang siapa yang paling dermawan.

Orang pertama berkata, “Manusia yang paling dermawan adalah Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib”. Yang kedua tidak sepakat dan punya pendapat lain, “Orang yang paling dermawan di dunia ini adalah Qais bin Sa’ad bin Ubadah”. Sedangkan orang ketiga sangat yakin dengan pendiriannya, “Anak adam yang paling dermawan adalah Arabah al-Ausi”.

Mereka terus berdebat dan tidak berhasil menemukan titik temu. Lalu ada yang mengusulkan, bagaimana jika kita menguji kedermawanan mereka? Mereka akan menyamar sebagai musafir yang kehabisan bekal dan meminta pertolongan. Semacam “tes kedermawanan”.

Orang pertama  datang ke Abdullah. “Wahai putra paman Rasulullah. Aku adalah seorang musafir yang kehabisan perbekalan”.

Abdullah, yang sedang duduk di atas unta langsung turun dan berkata, “Naikilah onta ini dan ambillah apa yang ada di dalam tas ini. Janganlah engkau terpisah dari pedang ini karena ia termasuk salah satu pedang Ali bin Abi Thalib. Sekarang, pergilah.”.

Orang pertama kemudian pergi dengan membawa onta, tas berisi 4.000 dinar dan pedang istimewa.

Orang kedua yang menjagokan Qais bin Sa’ad bin Ubadah datang menemui Qais. Namun sayang, Qais sedang tidur dan ia diterima budak perempuannya yang bertanya, “Apa keperluanmu?”.

Ia menjawab, “Aku adalah musafir yang kehabisan perbekalan”.

Diluar dugaan sang budak berkata, “Kebutuhan itu lebih remeh daripada membangunkan Qais. Ini ada kantong berisi 700 dinar. Hari ini tidak ada uang lagi selain ini. Pergilah ke tempat unta milik tuan kami dan ambillah satu unta beserta perlengkapannya dan pilih salah satu budak. Setelah itu, pergilah”.

Ketika Qais bangun, budaknya menceritakan apa yang terjadi. Qais menyesal, “Kenapa engkau tidak membangunkanku? Aku ingin menambahkan barang-barang yang ada di rumah ini. Bisa jadi apa yang sudah engkau berikan belum sesuai dengan apa yang ia inginkan”.

Setelah itu giliran orang ketiga yang mengunggulkan Arabah al-Ausi. Ia mendatangi Arabah yang sedang keluar dan dipapah kedua budaknya karena ia buta. Arabah bertanya apa keperluan orang itu.

“Aku adalah seorang musafir yang kehabisan bekal”.

Arabah lalu melepaskan diri dari papahan dua budaknya lalu menpukkan tangan kanannya ke tangan kiri lalu berkata, “Ah ah, demi Allah, aku memasuki waktu pagi dan sore hari dalam keadaan meninggalkan hak-hak harta. Namun kamu bisa mengambil dua budakku ini”.

Orang yang ingin menguji tadi berkata, “Aku tidak ingin mengambil kedua sayapmu”. Sayap dalam hal ini pemandu.

Arabah menjawab, “Jika kamu tidak mengambil keduanya maka keduanya merdeka. Jika engkau mau, engkau bisa membaskan keduanya. Ambillah”. Setelah itu Arabah berjalan dengan meraba-raba dinding dengan tangannya.

Menurut Anda, Siapa yang paling dermawan?

Sumber cerita: Ibnu Abdil Bari. 2016. Air Minum Dari Langit.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Honesty Lesson from a Badui

 

For those who are honest to Allah, He will be honest with his creature. It means Allah will help them, simplify their business, grant their wishes, and fulfill their needs. One of an example of honesty to Allah is a story from Imam an Nasa’I. It’s a story about a “Badui” (people who live in rural area), who converted to Islam with pure faith and divine motivation.

Imam an-Nasa’I quoted from Syaddad bin al-Had.

There was a Badui who met the Prophet after joining Islam. The Badui’s said: “I will be hijrah (move from Mecca to Madina) with you”.

During the period of wars with kafir people at that time, the Badui participated in one of it. After war, usually Muslims will gain ghanimah, means assets acquired from wars. The Prophet will distribute the ghanimah for those who joined.

The Badui’s also received ghanimah. Surprisingly, he asked:

“What is this?”

His muslim brother said, “Your ghanimah, The Prophet gave it to you”.

So he came to Muhammad the Prophets and asked: “What is this?”

Muhammad the Prophets said, “Yours”.

The Badui’s replied,

“This is not my motivation. I followed you because Continue reading Honesty Lesson from a Badui

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Manusia Ingin Memiliki Anak?

 

image from freepik.com

Untuk Yoda yang akan lahir ke dunia,

Mungkin suatu saat kamu akan bertanya: “Kenapa sih setiap keluarga ingin memiliki anak?”

Pertanyaan lucu tapi valid. Secara biologis, jawabannya sederhana: untuk mempertahankan species. Dorongan natural kita membuat manusia suka beranak pinak dan berkembang biak. (untuk cara kopulasi bisa kamu baca di buku biologi ya!)

Tapi jawaban itu patut dipertanyakan relevansinya di dunia modern. Karena faktanya manusia sudah berkembang biak hingga sekitar 7,5 miliar jiwa. Manusia juga sudah menempati posisi teratas dalam piramida rantai makanan. Tak ada makhluk lain yang memburu dan memakan manusia.

Manusia purba masih mengalami fase penuh ancaman bahaya dari binatang atau alam sekitar. Nenek moyang kita harus beranak sebanyak mungkin untuk melangsungkan peradaban. Sekarang? Ilmu kedokteran semakin maju dan usia harapan hidup bisa diperpanjang sampai 70 tahun. Manusia modern justru mati karena mayoritas tiga hal: penyakit, bencana alam, atau karena sebab manusia lain (terbunuh, kecelakaan, perang, dll).

Kemungkinan kedua manusia ingin memiliki anak adalah: investasi. Anak menjadi future asset yang berguna di masa depan.

Karena itulah muncul istilah: banyak anak banyak rezeki. Anak yang ketika dewasa menjadi manusia produktif diharapkan bisa berkontribusi pada perekonomian keluarga.

Agama juga menempatkan anak sholeh sebagai harta tak tergantikan. Penolong di akhirat kelak. Doa mereka bisa meringankan perjalanan orang tuanya di alam kubur.

Banyak orang tua yang juga berharap bisa memiliki anak agar punya teman di masa tua. Mereka berharap anak-anaknya mau merawat dan menemani saat memasuki usia senja.

Tapi memandang anak sebagai investasi memiliki probabilitas. Tidak semua orang tua dianugerahi anak yang baik. Saya mengenal orang yang kesepian di hari tua meski anak-anaknya banyak (rata-rata orang tua mengalaminya). Ada yang dikasih ujian dengan anak-anak nakal. Ada juga yang hartanya habis karena anak-anaknya tidak bisa mengelola dengan baik.

Memiliki anak dan berharap anak akan menjadi pelipur lara di masa tua adalah sebuah sikap optimisme berlebihan. Tidak ada jaminan anak yang dibesarkan dengan kasih sayang akan menyayangi kita di masa depan.

Orang tua yang memiliki motif seperti itu adalah orang tua yang berkeluarga dengan sifat bisnis. Saat anak mereka sukses, ego orang tua akan naik dan berharap kontribusi mereka kepada kesuksesan sang anak dapat berpulang dalam bentuk bakti kepada mereka.

Sampai ada ungkapan yang sangat “transaksional”:

“Sayangi orang tuamu karena mereka sudah susah payah membesarkanmu”.

Kami tidak ingin menjadi orang tua seperti itu. Merawatmu adalah sebuah kerja besar kemanusiaan. Bukan sebuah investasi di hari tua agar si anak harus meramat manusia yang melahirkan dan membesarkan mereka.

Karena itu jangan cintai kami karena kami adalah orang tuamu. Jangan berbuat baik kepada kami karena kami yang membesarkanmu. Jangan menolong kami karena kami pernah menolongmu sewaktu kecil.

Berbuat baiklah kepada kami, dan kepada semua orang, karena kita adalah sama-sama ciptaan Tuhan.

Berbuat baiklah atas nama Tuhan dan kemanusiaan, karena itu adalah tujuan kita diciptakan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#85 Crespi Effect: Kenapa kebaikan kita hanya bertahan saat Ramadan?

Bulan Ramadan membawa dampak positif bagi hidup kita. Masjid jadi ramai hingga dini hari, qur’an diperdengarkan disana sini, music di mall berganti lagu religi, orang jadi rajin berbagi, anak Yatim akhirnya dikunjungi, dan kita saling bermaaf-maafan sambil bersilaturahmi.

Saya sempat berpikir, apa yang membuat semua orang jadi sholeh?

Apakah karena pada bulan mulia ini setan dibelenggu dan pahala dilipatgandakan? Apakah karena pada bulan Ramadan ada malam yang lebih baik dari malam 1000 bulan?

Secara teoritis psikologis, ada korelasi antara performa yang dilakukan terhadap insentif yang didapatkan.

Pada tahun 1942, seorang Psikolog bernama Leo Crespi mencoba meneliti dampak insentif terhadap “kinerja” pada tikus. Ia meneliti tiga grup tikus yang rata-rata beranggotakan 20-an ekor tikus albino jantan berumur 3-6 bulan.

Disetiap grup ia meletakkan tikus itu di sebuah “sirkuit buatan” dengan umpan pakan yang ada di ujung “garis finish”. Ia menciptakan semacam “lomba balap tikus” dengan umpan yang berbeda-beda sebagai hadiahnya. Ia lalu mengukur kecepatan tikus dalam berlari mengambil umpan itu.

Hasilnya ternyata sesuai dugaan, semakin banyak reward (umpan) yang diberikan, semakin cepat performa lari si tikus. Demikian juga sebaliknya, semakin sedikit umpan di ujung lintasan, semakin tidak bersemangat si tikus yang membuat larinya melambat.

Mungkin ini yang membuat kita begitu bersemangat menyambut Ramadan. Kita terkena “Crespi effect” saat reward yang alhamdulilah dahsyatnya menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan.

Pertanyaan selanjutnya: Kenapa kesalihan ini tidak bisa bertahan lama? Kenapa setelah Ramadan usai kita kembali melakukan dosa-dosa yang sama untuk ditebus di Ramadan berikutnya (jika masih hidup)?

Dugaan saya: karena kita masih seperti si tikus dan berfokus pada “umpan” bonus pahala saat Ramadan. Kita tidak sadar jika Ramadan adalah bulan latihan. Semacam environmental trial testing sebelum menjalani “ujian sesungguhnya” di bulan berikutnya.

Kita lupa jika puasa dibulan Ramadan dan puasa sunnah dibulan lain itu sama baiknya. Kita sering lupa jika menahan emosi itu seharusnya dilakukan sepanjang tahun. Dan seharusnya kita sadar jika menyantuni anak yatim itu bukan ritual setahun sekali.

Padahal Ramadan adalah sebuah penerapan incentive theory yang dilakukan oleh Tuhan. Ia memberikan positive reinforcement berupa bulan pengampunan dan pelipatgandaan pahala agar kita, pada akhirnya mencintai kebaikan dan menjadi orang baik.

Bukankah itu tujuan Tuhan menciptakan kita sebagai khalifah di dunia?

Tidak hanya mencari pahala ibadah berlipat ganda. Hal itu akan kita dapat jika kita melaksanakan tugas utama kita:

Menjadi rahmat bagi semesta.

https://static.comicvine.com/uploads/original/11119/111198831/4557633-2008240983-mouse.jpg

*sumber gambar

**sumber jurnal Crespi

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#84 Ownership Bias: Ka’bah dan Pelajaran Tentang Kehilangan

Umroh kali ini terasa berbeda.

Tahun 2014 lalu saya datang sebagai solo gembel backpacker, sekarang saya membawa si Pipi Kentang dan Ibu Mertua dan ikut serta dalam rombongan 146 peserta.

Dari segi fasilitas? jauh lebih baik. Tiga tahun lalu saya tidur di emperan masjid, mandi di toilet, sengaja puasa untuk menghemat konsumsi, dan menggunakan bahasa arab hasil google translate untuk mendapat tumpangan kendaraan. Sekarang alhamdulilah ada kasur empuk di hotel berbintang yang hanya berjarak ratusan meter dari masjid, makanan prasmanan bebas nambah 3x sehari, dan bis nyaman untuk ditumpangi.

Dan nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

Tapi selalu ada pelajaran berharga didalamnya, dan lagi-lagi soal kehilangan.

Saat umroh pertama, saya diberi pelajaran dengan kehilangan harta. Saya kehilangan semua barang yang saya bawa. Satu backpack besar berisi perlengkapan perjalanan hilang saat saya taruh didepan masjidil Haram, dan seluruh uang sisa saya hilang dicuri oleh komplotan taksi gelap di Jeddah (untung Tuhan mengirimkan Dody, teman kuliah yang kebetulan dinas disana. Thanks so much bro!).

Kali ini saya diajarkan untuk kehilangan tiga hal yang lebih besar.

Yang pertama adalah “kehilangan keluarga”.

Ceritanya saya ingin melakukan tawaf beserta keluarga. Karena Ibu mertua saya ga kuat jalan jauh, saya meminjam kursi roda hotel. Harusnya jamaah kursi roda melakukan tawaf dilantai 2, tapi karena jadi jauh (4 km cuy) saya coba nakal membawa kursi roda ke area ka’bah.

Apes, ada penjaga yang melihat. Kursi roda ga boleh turun. Saya meminta istri dan mertua untuk menunggu sementara saya meletakkan kursi roda ditempat aman. Setelah saya cari kira-kira tempat yang rada sepi dan aman (saya taruh di dekat penitipan sandal yang ga ada jamaahnya), saya pun menyusul.

Eh, mereka sudah ga ada! Dan pipi kentang ga bawa hape pula. Masa mereka sudah tawaf duluan sih? Bagaimana saya bisa menemukan mereka ditengah ribuan orang yang sedang tawaf? Bukankah Ibu mertua saya ga kuat jalan jauh?

Bismillah. Saya pun tawaf sambil berdoa.

“Ya Allah pertemukan saya dengan keluarga saya”.

Satu putaran, belum ketemu.

Saya mulai berpikir plan B, apakah nanti saya langsung tunggu dihotel saja? Bagaimana cara biar Ibu mertua kuat jalan kesana?

Dua putaran, belum juga ketemu.

Saya mulai merasa sepi, seperti ini rasanya ditinggal pergi keluarga yang kita cintai? Tak pernah bertemu lagi.

Tiga putaran, tak juga berjumpa.

Tapi bukankah, semua akan kembali kepada-Nya? Tugas kita hanya melepaskan dan mengikhlaskan. Setelah memberikan sugesti seperti itu, hati saya merasa lega. Dan tahu ga, di putaran ketiga ini saya melihat istri dan ibu mertua saya bersama jamaah yang lain! Alhamdulilah!.

Jadi ceritanya saat mereka menunggu, ada tawaran tawaf bersama jamaah satu rombongan. Mereka sudah menunggu tapi saya ga nongol-nongol juga. Akhirnya mereka tawaf duluan.

Kamipun menyelesaikan tawaf dan kembali keatas, untuk menerima kehilangan kedua.

 “Kehilangan amanat”.

Kursi roda itu sudah raib! Padahal sudah saya letakkan di tempat yang sepi jamaahnya. Saya coba tanya penjaga, “no English”. Saya coba pake bahasa arab seadanya. Dianya ga ngerti. Waduh. Padahal kursi roda itu amanat dari hotel. Jika hilang maka otomatis saya wajib mengganti.

Saya coba tanya pusat informasi, disuruh ke bagian lost & found yang jauh banget. Mana sudah mau adzan maghrib.

Qadarullah. Que sera-sera. Yang terjadi, terjadilah.

Akhirnya saya memutuskan sholat maghrib dan isya di depan Ka’bah sambil browsing harga-harga kursi roda. Waduh bisa ga jadi beli oleh-oleh nih kalau memang disuruh ganti. Tapi itulah harga amanat. Mungkin Allah nyuruh kami untuk sedekah kursi roda agar dipakai orang yang lebih membutuhkan.

Setelah sholat isya saya buat nadzar:

“Ya Allah kalau kursi roda itu ketemu, hamba akan berpuasa 3 hari”.

Sebagai last effort, saya coba cek sekali lagi. Dan ternyata sandal yang saya letakkan di kursi roda tidak diambil. Ada juga sandal jelek warna item. Awalnya saya kira punya Pipi Kentang, tapi karena gak yakin, tidak saya ambil.

“Loh itu sandal jepitnya koq ketemu? Punyaku mana?” kata Pipi Kentang.

Oh ternyata sandal item jelek itu punya dia. Ya udah daripada pulang nyeker, saya coba ambil lagi.

Tapi karena suasana ramai, saya coba masuk dari pintu lain (turunan samping King Abd Aziz gate) dan malah kesasar. Saya justru diusir penjaga dan disuruh keluar ke gerbang yang tidak saya ketahui.

Mungkin Allah punya rencana, karena ternyata kursi roda itu terparkir rapi dipintu keluar! Saya coba yakinkan diri, jangan-jangan punya orang lain? Tapi dari warna polos dan pijakan kakinya yang agak kroak emang bener ini punya hotel. Alhamdulilah… tinggal puasa 3 hari deh hehehe.

Saat saya kembali untuk mengambil sandal buluk item punya Pipi Kentang, ternyata sandal itu sudah menghilang. Kira-kira sapa sih yang mau ngambil sandal item bulukan itu? Saya Cuma tersenyum. Insya Allah semua sudah diatur.

Yang ketiga: “kehilangan teman”

Kehilangan ketiga dan terberat adalah kehilangan kawan sekamar saya, Pak Satrio. Beliau meninggal terkena serangan jantung setelah melakukan tawaf di hari terakhir berada di Mekkah.

Bapak yang satu ini paling semangat beribadah diantara teman-teman sekamar yang lain. Jam 2 selalu sudah bangun, mandi, dan berangkat ke masjid untuk sholat malam. Demikian juga saat melaksanakan tawaf sunnah.

Setelah tawaf, awalnya Pak Satrio merasakan sesak nafas. Ia lalu pulang ke hotel dan dikira hanya masuk angin. Kata istrinya, tidak ada riwayat penyakit aneh kaya jantung atau asma. Untung ada Pak Iwan, yang tahu jika itu bukan sesak biasa. Sesak nafas disertai dada yang sakit adalah indikasi serangan jantung.

Akhirnya Pak Satrio dilarikan kerumah sakit dan langsung masuk ruang ICU. Jantungnya terus melemah dan beberapa hari kemudian menghembuskan nafas terakhir di tanah suci, setelah disholatkan oleh ribuan jamaah masjidil haram. Sungguh akhir hidup yang indah dan insya Allah husnul khotimah.

Pelajarannya?

Kita menderita ownership bias: merasa memiliki apa yang sebenarnya tidak kita miliki.

Kita merasa memiliki harta, keluarga, sahabat, bahkan nyawa kita sendiri. Padahal semua hanyalah titipan yang bersifat sementara. Tak ada yang kita miliki hingga akhir dunia. Kita juga merasa sedih saat titipan itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Padahal Tuhan sudah mengajarkan: Inna lillahi wa inna ilayhi raaji’un.

Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali.

http://pre03.deviantart.net/97c6/th/pre/i/2010/347/1/2/lost_soul_evolurtion_by_nataly1st-d34sqs9.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail