Category Archives: Wisdom

Centurion: Apa Rahasia Hidup Selama 100 Tahun?

Pada suatu hari Darren Hardy, pendiri majalah Success, bertemu dengan penumpang di pesawat. Ia bercerita jika punya kakek Centurion (orang yang berumur 100 tahun lebih), yang masih hidup sehat. Manusia zaman sekarang berumur 100 tahun? Wow banget.

Hardy penasaran dan ingin tahu kenapa si kakek mampu hidup selama itu. Apa rahasianya? Apa pelajaran hidupnya? Karena penasaran, Hardy menjadwalkan wawancara one on one dengan sang kakek.

http://2.bp.blogspot.com/-ojTLWPXzcNY/UL6g0G77naI/AAAAAAAAD9E/O7i77tBvGmg/s1600/100Years-300×270.gif

Awalnya si kakek menolak. Ia membenci publisitas. Tapi ia meyakinkan jika pengalaman hidupnya akan membantu orang yang masih muda. Si kakek akhirnya setuju. Mereka juga membuat kesepakatan jika sang kakek akan menuliskan pelajaran hidup yang didapatnya di atas kertas. Dalam bayangan pengarang buku Compound Effect itu, akan ada bertumpuk-tumpuk pelajaran hidup yang bisa dibagi.

Tibalah hari wawancara. Ternyata si kakek sangat kaya. Ia tinggal di rumah seperti mansion lengkap dengan petugas security. Padahal awalnya si kakek hidup miskin. Juga tidak mampu mengenyam pendidikan tinggi. Ini yang membuat Hardy semakin penasaran tentang rahasia si kakek.

Ia diterima di perpustakaan megah yang berisi berbagai macam buku. Mulai dari klasik hingga modern. Ternyata si kakek pembaca yang rajin. Meski tidak sekolah tinggi, ia terus belajar hingga masa tua.

Setelah berbasa-basi, Hardy bertanya ke pokok permasalahan. Mana daftar yang ingin dibagi?

Oh iya, kata si kakek yang kemudian merogoh sakunya. Ia menyerahkan selembar kertas. Ada sebaris kalimat tertulis disitu. Hanya ini? Tanya Hardy terkejut.

“Ya hanya satu lembar ini”.

Semua kebijaksanaan dalam 100 tahun hidupnya, hanya berupa satu kalimat?

“Iya, jika kamu mengikuti saran saya, hanya ini nasihat yang bisa saya berikan”.

Apa yang ditulis Centurion tadi?

“Only a few things matter, stick to it, and master it”.

Hanya ada beberapa hal yang penting, fokuslah, dan kuasai hal-hal penting itu.

Law of Critical Things

Saran si kakek centurion awalnya terdengar aneh. Tapi sesungguhnya sangat fundamental. Karena ternyata hidup mayoritas manusia dipusingkan dengan memikirkan banyak hal yang tak penting, dan melupakan sedikit hal yang sebenarnya benar-benar penting.

Bahasa gampangnya, mayoritas manusia menderita dua penyakit amnesia:

  1. Kita tidak tahu tujuan hidup kita
  2. Kita tidak tahu critical aspects apa saja yang berpengaruh besar dalam mencapai tujuan itu

Contohnya?

Coba lihat kehidupan kita. Apakah kita tahu LIFE GOAL yang penting dalam hidup kita? Apakah kita tahu apa yang ingin kita capai 5 tahun lagi? Apakah kita tahu warisan peradaban apa yang ingin kita tinggalkan untuk anak cucu kita?

Mayoritas dari kita beraktivitas hanya karena rutinitas. Kita tidak tahu kenapa kita melakukan apa yang biasanya kita lakukan. Rata-rata orang bekerja hanya untuk mencari uang dan membayar tagihan. Kita sering lupa jika setiap manusia pasti punya tujuan hidup yang istimewa.

Karena tidak memiliki LIFE GOAL yang jelas, kita jadi tidak bisa membedakan mana hal yang penting dan tidak penting. Kita tidak bisa mengidentifikasi “critical factor”. Apa itu? Pada dasarnya critical factor adalah aspek yang berpengaruh lebih penting dibandingkan hal lain.

Misalnya life goal kita adalah menjadi Chef kelas dunia, maka critical factor yang harus kita kuasai adalah pemilihan bahan makanan, teknik memasak, dan juga skill presentasi makanan. Bagaimana dengan ilmu manajemen keuangan restoran? Itu skill penting tapi tidak critical bagi seorang Chef. Ia bisa mendelegasikan kebutuhan skill itu dengan merekrut seorang akuntan.

Jika tujuan hidup kita adalah menjadi CEO kelas dunia, maka skill komunikasi, leadership, dan problem solving harus lebih diasah daripada kemampuan kalkulus atau matematis. Jika ingin jadi dokter paling canggih ya focus belajar ilmu kedokteran dan bisa mengesampingkan pelajaran tentang kesenian.

Karena itulah jika Anda perhatikan, semakin tinggi jenjang pendidikan maka topic yang dipelajari semakin sedikit. Pelajarannya semakin sempit tetapi pembahasannya semakin dalam. Karena sesuai pesan Centurion: Only a few things matter, stick to it, and master it.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Misteri Tentang Bayi yang Masih Belum Saya Mengerti

Untuk Yoda yang merasakan kehidupan dalam satu bulan,

Whats up broo

#1 Kenapa bayi memiliki ekspresi imut dan lucu?

Jangan-jangan itu adalah sebuah bentuk self defense mechanism untuk bertahan hidup. Ia membuat manusia dewasa merasa iba dan mau merawatnya. Hampir sama dengan binatang yang mengembangkan tanduk, taring, dan organ intimidatif untuk menegaskan kekuatan dan bahaya yang mengancam predator. Keimutan menjelma jadi senjata tak kasat mata.

#2 Jika bayi merasa bahagia hanya dengan air susu ibunya, kenapa manusia dewasa tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka punya?

Merawat bayi mengajarkan kita: betapa sederhananya hidup manusia. Asal cukup susu, popok yang kering, dan suhu yang hangat, bayi sudah merasa bahagia. Anehnya syarat menjadi bahagia semakin meningkat seiring bertambahnya usia.

Banyak manusia dewasa yang cukup sandang, pangan, dan papan tapi tetap merasa menderita. Kenapa kita tidak bisa merasa bahagia dengan syarat yang sederhana?

#3 Saat bayi, manusia tidak bisa menghidupi dirinya, kenapa setelah dewasa ia merasa paling berkuasa?

Bayi sapiens adalah salah satu bayi paling rapuh dibandingkan makhluk lainnya. Dalam hitungan jam bayi kuda bisa berlari, dan dalam hitungan hari anak ayam sudah bisa mencari makan sendiri.

Seorang sapiens kecil harus disuapi makanan bertahun-tahun sebelum bisa bertahan hidup mandiri. Dan anehnya, saat mereka besar para sapiens bertingkah seperti penguasa jagat raya. Apakah mereka tidak ingat ketika mereka masih balita?

#4 Seorang bayi laki-laki menangis paling keras, kenapa setelah dewasa ia malu jika berurai air mata?

Lelaki jangan cengeng. Sebuah ungkapan yang aneh menurut saya. Karena menangis itu tanda kecerdasan emosional yang sehat. Banyak karya sastra terinspirasi dari tangisan. Seperti “Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis”-nya Coelho atau sajak “Maka Pada Suatu Pagi” dari Sapardi:

Maka pada suatu pagi hari dia ingin sekali

menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu

Dia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik

dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja

sambil menangis dan tak ada orang bertanya ‘Kenapa?’

#5 Kenapa kita tidak bisa mengingat masa-masa bayi kita sendiri?

Bayi “menderita” infantile amnesia, dan baru bisa merekam memori umur 3-4 tahun. Mungkin Tuhan menciptakan amnesia itu agar otak kita overload informasi, dan cukup mengingat hal-hal penting saja.

Masalahnya banyak anak yang songong dengan orang tuanya karena efek infantile amnesia. Mereka tidak ingat perjuangan orang tua-nya dalam melahirkan dan membesarkan dirinya.

Jika kita bisa mengingat masa-masa bayi kita, saya yakin semua akan tambah sayang kepada orang tua kita. Karena kita tahu betapa repotnya mengganti popok, lelahnya menyusui, dan capeknya menggendong untuk mengajak tidur. Masih tega ngomong kasar ke orang tua sendiri?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#94 The Power of Niat: Ternyata Motivasi Sangat Berarti

Dalam cerita sufi disebutkan ada sebuah pohon angker yang menjadi tempat menaruh sesajen. Mendengar ini, seorang laki-laki sholeh ingin menebang pohon itu. Menggunakan kapak, ia berangkat dan bertekad untuk memotong-motongnya menjadi kayu bakar.

Ditengah jalan ia bertemu dengan setan yang menyamar menjadi manusia. Setan bertanya:

“Hai Abu Ahmad, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku ingin menebang pohon keramat di desa tetangga”.

“Kenapa kamu ingin menebangnya?”

“Aku takut pohon itu menjadi sumber kesyirikan”.

Setan mencegat jalanan yang ingin dilalui. Karena tidak mau minggir akhirnya mereka berkelahi. Setelah melalui pergulatan, si setan bisa dikalahkan.

Setan yang babak belur meluncurkan tipus muslihat lain:

“Wahai fulan, aku tahu engkau orang yang saleh, tapi hidupmu kekurangan. Jika kau mau menunda niatmu menebang pohon itu, setiap hari engkau akan menemukan 2 keping perak dibawah bantalmu. Pulang dan periksalah jika tidak percaya”.

Mendengar tawaran itu, sang lelaki bergeming. Bayaran 2 keping yang bisa ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari terbersit dikepala. Ia bisa semakin khusuk beribadah dengan uang itu.

Akhirnya ia ingin membuktikan ucapan si setan. Ia lalu pulang dan benar-benar menemukan uang perak. Keesokan harinya, ia tidak menemukan uang perak “jatah harian” yang dijanjikan.

“Dasar setan penipu! Akan kutebang pohon itu”.

Ditengah jalan lagi-lagi ia dihadang oleh setan. Kini ia tersenyum. Lelaki yang masih marah kembali berkelahi dengan setan. Tapi kali ini dengan mudah setan bisa mengalahkan sang pemuda.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa tambah kuat?” tanya si pemuda.

“Sesungguhnya aku tidak bertambah kuat. Tapi niatmu yang melemah. Kemarin engkau ingin menebang pohon itu karena Allah, sekarang kau ingin menebangnya karena tidak mendapatkan uang perak”.

Niat dan Motivasi

Niat, dalam hal ini motivasi ternyata berperan penting pada prestasi. Banyak penelitian dan teori menegaskan hal ini.

Dalam manajemen, pegawai yang bermotivasi cenderung memiliki kinerja yang lebih tinggi (Robescu: 2016). Hal yang sama juga berlaku dalam pendidikan. Murid dengan motivasi dan determinasi tinggi, cenderung mampu menyelesaikan studi (Stevanovic:2014).

Percobaan yang dilakukan Robert Nida (2015) pada anak menunjukkan hal yang serupa. Ada 72 anak berusia 4 tahun diminta bermain untuk mengingat 10 mainan acak. Ada tiga grup dengan perlakukan berbeda: incidental, intensional, motivasional.

Di grup incidental, si anak tidak diberi intruksi apa-apa dan langsung diminta mengingat daftar mainan yang mereka pegang beberapa saat sebelumnya. Grup kedua, intensional, peneliti di awal sesi sudah berkata: “Coba ingat-ingat mainan yang kamu mainkan nanti”.

Sedangkan di grup ketiga, peneliti memberikan motivasi: mainan yang mereka ingat berhak untuk mereka simpan. Grup mana yang anak-anaknya memiliki kemampuan mengingat lebih baik? Sesuai hipotesis, grup motivasional secara rata-rata mampu mengingat lebih banyak dibanding grup lainnya.

Karena sesuai dengan inti cerita sufi: motivasi yang kita cari akan menentukan hasil yang kita temui. Dan anehnya, manusia akan mendapatkan hasil sesuai motivasi mereka. Setidaknya itu prinsip expectation theory dari Victor Vroom yang percaya jika:

“Intensity of work effort depends on the perception that an individual’s effort will result in a desired outcome”

Karena itu jika mengalami stagnansi dalam hidup, coba pertanyakan niatnya.

Jika bisnis sedang lesu, coba tanyakan lagi: apa motivasi kita dalam berbisnis?

Jika karier sedang mentok, coba gali lagi: apa yang ingin kita cari dalam bekerja?

Jika buntu dalam studi, coba perdalam lagi: apa yang ingin kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki?

Jangan-jangan motivasi kita terlalu banal dan dangkal, sehingga tidak mampu menghasilkan karya monumental. Karena sesuai pesan Nabi: amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.

source image https://ishfah7.files.wordpress.com/2017/03/niat.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Honesty Lesson from a Badui

 

For those who are honest to Allah, He will be honest with his creature. It means Allah will help them, simplify their business, grant their wishes, and fulfill their needs. One of an example of honesty to Allah is a story from Imam an Nasa’I. It’s a story about a “Badui” (people who live in rural area), who converted to Islam with pure faith and divine motivation.

Imam an-Nasa’I quoted from Syaddad bin al-Had.

There was a Badui who met the Prophet after joining Islam. The Badui’s said: “I will be hijrah (move from Mecca to Madina) with you”.

During the period of wars with kafir people at that time, the Badui participated in one of it. After war, usually Muslims will gain ghanimah, means assets acquired from wars. The Prophet will distribute the ghanimah for those who joined.

The Badui’s also received ghanimah. Surprisingly, he asked:

“What is this?”

His muslim brother said, “Your ghanimah, The Prophet gave it to you”.

So he came to Muhammad the Prophets and asked: “What is this?”

Muhammad the Prophets said, “Yours”.

The Badui’s replied,

“This is not my motivation. I followed you because Continue reading Honesty Lesson from a Badui

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#84 Ownership Bias: Ka’bah dan Pelajaran Tentang Kehilangan

Umroh kali ini terasa berbeda.

Tahun 2014 lalu saya datang sebagai solo gembel backpacker, sekarang saya membawa si Pipi Kentang dan Ibu Mertua dan ikut serta dalam rombongan 146 peserta.

Dari segi fasilitas? jauh lebih baik. Tiga tahun lalu saya tidur di emperan masjid, mandi di toilet, sengaja puasa untuk menghemat konsumsi, dan menggunakan bahasa arab hasil google translate untuk mendapat tumpangan kendaraan. Sekarang alhamdulilah ada kasur empuk di hotel berbintang yang hanya berjarak ratusan meter dari masjid, makanan prasmanan bebas nambah 3x sehari, dan bis nyaman untuk ditumpangi.

Dan nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

Tapi selalu ada pelajaran berharga didalamnya, dan lagi-lagi soal kehilangan.

Saat umroh pertama, saya diberi pelajaran dengan kehilangan harta. Saya kehilangan semua barang yang saya bawa. Satu backpack besar berisi perlengkapan perjalanan hilang saat saya taruh didepan masjidil Haram, dan seluruh uang sisa saya hilang dicuri oleh komplotan taksi gelap di Jeddah (untung Tuhan mengirimkan Dody, teman kuliah yang kebetulan dinas disana. Thanks so much bro!).

Kali ini saya diajarkan untuk kehilangan tiga hal yang lebih besar.

Yang pertama adalah “kehilangan keluarga”.

Ceritanya saya ingin melakukan tawaf beserta keluarga. Karena Ibu mertua saya ga kuat jalan jauh, saya meminjam kursi roda hotel. Harusnya jamaah kursi roda melakukan tawaf dilantai 2, tapi karena jadi jauh (4 km cuy) saya coba nakal membawa kursi roda ke area ka’bah.

Apes, ada penjaga yang melihat. Kursi roda ga boleh turun. Saya meminta istri dan mertua untuk menunggu sementara saya meletakkan kursi roda ditempat aman. Setelah saya cari kira-kira tempat yang rada sepi dan aman (saya taruh di dekat penitipan sandal yang ga ada jamaahnya), saya pun menyusul.

Eh, mereka sudah ga ada! Dan pipi kentang ga bawa hape pula. Masa mereka sudah tawaf duluan sih? Bagaimana saya bisa menemukan mereka ditengah ribuan orang yang sedang tawaf? Bukankah Ibu mertua saya ga kuat jalan jauh?

Bismillah. Saya pun tawaf sambil berdoa.

“Ya Allah pertemukan saya dengan keluarga saya”.

Satu putaran, belum ketemu.

Saya mulai berpikir plan B, apakah nanti saya langsung tunggu dihotel saja? Bagaimana cara biar Ibu mertua kuat jalan kesana?

Dua putaran, belum juga ketemu.

Saya mulai merasa sepi, seperti ini rasanya ditinggal pergi keluarga yang kita cintai? Tak pernah bertemu lagi.

Tiga putaran, tak juga berjumpa.

Tapi bukankah, semua akan kembali kepada-Nya? Tugas kita hanya melepaskan dan mengikhlaskan. Setelah memberikan sugesti seperti itu, hati saya merasa lega. Dan tahu ga, di putaran ketiga ini saya melihat istri dan ibu mertua saya bersama jamaah yang lain! Alhamdulilah!.

Jadi ceritanya saat mereka menunggu, ada tawaran tawaf bersama jamaah satu rombongan. Mereka sudah menunggu tapi saya ga nongol-nongol juga. Akhirnya mereka tawaf duluan.

Kamipun menyelesaikan tawaf dan kembali keatas, untuk menerima kehilangan kedua.

 “Kehilangan amanat”.

Kursi roda itu sudah raib! Padahal sudah saya letakkan di tempat yang sepi jamaahnya. Saya coba tanya penjaga, “no English”. Saya coba pake bahasa arab seadanya. Dianya ga ngerti. Waduh. Padahal kursi roda itu amanat dari hotel. Jika hilang maka otomatis saya wajib mengganti.

Saya coba tanya pusat informasi, disuruh ke bagian lost & found yang jauh banget. Mana sudah mau adzan maghrib.

Qadarullah. Que sera-sera. Yang terjadi, terjadilah.

Akhirnya saya memutuskan sholat maghrib dan isya di depan Ka’bah sambil browsing harga-harga kursi roda. Waduh bisa ga jadi beli oleh-oleh nih kalau memang disuruh ganti. Tapi itulah harga amanat. Mungkin Allah nyuruh kami untuk sedekah kursi roda agar dipakai orang yang lebih membutuhkan.

Setelah sholat isya saya buat nadzar:

“Ya Allah kalau kursi roda itu ketemu, hamba akan berpuasa 3 hari”.

Sebagai last effort, saya coba cek sekali lagi. Dan ternyata sandal yang saya letakkan di kursi roda tidak diambil. Ada juga sandal jelek warna item. Awalnya saya kira punya Pipi Kentang, tapi karena gak yakin, tidak saya ambil.

“Loh itu sandal jepitnya koq ketemu? Punyaku mana?” kata Pipi Kentang.

Oh ternyata sandal item jelek itu punya dia. Ya udah daripada pulang nyeker, saya coba ambil lagi.

Tapi karena suasana ramai, saya coba masuk dari pintu lain (turunan samping King Abd Aziz gate) dan malah kesasar. Saya justru diusir penjaga dan disuruh keluar ke gerbang yang tidak saya ketahui.

Mungkin Allah punya rencana, karena ternyata kursi roda itu terparkir rapi dipintu keluar! Saya coba yakinkan diri, jangan-jangan punya orang lain? Tapi dari warna polos dan pijakan kakinya yang agak kroak emang bener ini punya hotel. Alhamdulilah… tinggal puasa 3 hari deh hehehe.

Saat saya kembali untuk mengambil sandal buluk item punya Pipi Kentang, ternyata sandal itu sudah menghilang. Kira-kira sapa sih yang mau ngambil sandal item bulukan itu? Saya Cuma tersenyum. Insya Allah semua sudah diatur.

Yang ketiga: “kehilangan teman”

Kehilangan ketiga dan terberat adalah kehilangan kawan sekamar saya, Pak Satrio. Beliau meninggal terkena serangan jantung setelah melakukan tawaf di hari terakhir berada di Mekkah.

Bapak yang satu ini paling semangat beribadah diantara teman-teman sekamar yang lain. Jam 2 selalu sudah bangun, mandi, dan berangkat ke masjid untuk sholat malam. Demikian juga saat melaksanakan tawaf sunnah.

Setelah tawaf, awalnya Pak Satrio merasakan sesak nafas. Ia lalu pulang ke hotel dan dikira hanya masuk angin. Kata istrinya, tidak ada riwayat penyakit aneh kaya jantung atau asma. Untung ada Pak Iwan, yang tahu jika itu bukan sesak biasa. Sesak nafas disertai dada yang sakit adalah indikasi serangan jantung.

Akhirnya Pak Satrio dilarikan kerumah sakit dan langsung masuk ruang ICU. Jantungnya terus melemah dan beberapa hari kemudian menghembuskan nafas terakhir di tanah suci, setelah disholatkan oleh ribuan jamaah masjidil haram. Sungguh akhir hidup yang indah dan insya Allah husnul khotimah.

Pelajarannya?

Kita menderita ownership bias: merasa memiliki apa yang sebenarnya tidak kita miliki.

Kita merasa memiliki harta, keluarga, sahabat, bahkan nyawa kita sendiri. Padahal semua hanyalah titipan yang bersifat sementara. Tak ada yang kita miliki hingga akhir dunia. Kita juga merasa sedih saat titipan itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Padahal Tuhan sudah mengajarkan: Inna lillahi wa inna ilayhi raaji’un.

Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali.

http://pre03.deviantart.net/97c6/th/pre/i/2010/347/1/2/lost_soul_evolurtion_by_nataly1st-d34sqs9.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#83 Via Negativa

Dalam Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelli, diceritakan jika Paus Julius II pernah bertanya kepada Michelangelo:

“Apa rahasia kejeniusanmu? Bagaimana bisa kamu menciptakan patung David, masterpiece dari segala masterpiece?”

Michelangelo menjawab singkat:

“Sederhana. Saya membuang semua bagian yang bukan David”.

Gampangannya, jika Michelangelo melihat sebongkah batu raksasa, ia sudah bisa melihat David didalamnya dan tinggal membuang bagian yang tidak berguna: bongkahan yang bukan bagian tubuh David.

Jawaban Wdiatas memberikan kita petunjuk: terkadang kita tidak tahu rahasia kesuksesan, tapi kita jelas tahu penghalang kesuksesan. Yang perlu kita lakukan hanyalah tidak melakukan sesuatu yang bisa menghalangi kesuksesan itu.

Ini membuktikan jika negative knowledge (mengerti not to do – apa yang sebaiknya tidak dilakukan) sama pentingnya dengan positive knowledge (what to do – apa yang harus dilakukan). Teolog menyebutnya Via negativa dan menggunakannya untuk menjelaskan Tuhan kepada orang atheist. Bukan dengan menjelaskan ‘apa itu Tuhan’, tapi dengan menjelaskan ‘ apa yang bukan Tuhan’.

Manajemen modern membalut via negativa dalam berbagai metode canggih dan keren seperti Lean Six Sigma. Padahal Intinya sama: membuang aktivitas yang tidak perlu dan tanpa nilai tambah. Digabung dengan Kaizen, Anda akan menemukan rahasia kesuksesan produk Jepang: terus melihat kelemahan sendiri dan terus memperbaiki diri.

Kita bisa menerapkan via negativa untuk memperbaiki kehidupan pribadi. Kuncinya sama: tahu apa yang harus dihindari.

Contohnya jika saya ingin jadi petinju juara dunia, maka akan ada beberapa kategori aktivitas yang bisa saya lakukan:

  1. Aktivitas bermanfaat yang saya sukai. Misal: menambah asupan protein dalam makanan
  2. Aktivitas bermanfaat yang tidak saya sukai. Misal: berlatih beban
  3. Aktivitas tidak bermanfaat yang saya sukai. Misal: bermalas-malasan dan bermain game seharian
  4. Aktivitas tidak bermanfaat yang tidak saya sukai. Misal: merokok

Menerapkan via negativa berarti mengurangi kebiasaan negative yang menjauhkan diri dengan pencapaian mimpi kita sendiri.

Karena kita semua pasti punya mimpi-mimpi. Dan terkadang kita tidak pernah tahu cara mewujudkan mimpi itu. Tapi kita semua tahu tindakan atau kebiasaan yang menghalangi diri kita dalam mencapai mimpi.

Yang perlu kita lakukan hanyalah melakukan via positiva: melakukan tindakan yang bermanfaat, dan via negativa: menghindari aktivitas yang penuh mudharat.

activity matrix

Karena itulah agama saya mendefinisikan ketakwaan dengan konsep sederhana: mematuhi perintah-Nya (what to do), dan menjauhi larangan-Nya (not to do).

Hal ini juga yang menjadi rahasia Luqman Ibn ‘Anqa’ Ibn Sadun sehingga ia mendapat gelar Al-Hakim, orang yang bijaksana.

“Aku tahan pandaganku, aku jaga lisanku, aku perhatikan makananku, aku pelihara kemaluanku, aku berkata jujur, aku menunaikan janji, aku hormati tamu, aku pedulikan tetanggaku, dan aku tinggalkan segala yang tak bermanfaat bagiku”.

Lagi-lagi penerapan via negativa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jalan dan Tujuan

Santiago si anak gembala. Suatu hari ia bermimpi melihat piramida. Beberapa hari mengalami mimpi yang sama. Ia lalu menemui peramal yang berkata: itu adalah pertanda harta paling bernilai dalam hidupnya. Ia harus segera mencarinya.

Akhirnya Santiago menjual domba-dombanya. Menyeberang ke Afrika dan menjadi pengembara, untuk mencari harta berharga. Tapi semesta punya rencana. Di pelabuhan ia ditipu orang. Semua harta penjualan dombanya hilang. Untuk bertahan hidup ia bekerja di toko kristal. Membersihkan barang dan belajar menjual.

“Dua hari yang lalu, kamu mengatakan bahwa aku tidak pernah bermimpi mengembara,”Pedagang itu suatu kali bercerita.

“Kewajiban kelima bagi setiap Muslim adalah menunaikan ibadah haji. Kami diwajibkan, paling sedikit satu kali selama hidup, untuk rnengunjungi kota suci Mekkah. Mekkah malah lebih jauh dari Piramida. Saat aku muda, yang kuinginkan hanyalah mengumpulkan uang untuk membuka toko ini. Aku berpikir, suatu hari nanti aku akan kaya dan dapat pergi ke Mekkah. Mulailah uang kudapat, tapi aku tak pernah bisa lega meninggalkan toko pada orang lain; kristal adalah barang yang rentan”.

“Kenapa Bapak tidak pergi ke Mekkah sekarang?” tanya si bocah.

“Justru pikiran tentang Mekkah-lah yang membuatku terus hidup. Itulah yang membuatku kuat menghadapi hari-hari yang sama belaka ini; yang membuatku tahan menghadapi kristal-kristal bisu di rak, dan sanggup makan siang dan makan malarn di warung jelek yang itu-itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup”.

Tersandera Cinta, Lupa, dan Takut

Cerita Santiago di dalam novel Alchemist karya Coelho sengaja saya tulis sebagai pengingat diri: akankah saya menjadi penjual kristal tadi? Pedagang Kristal bermimpi pergi ke Mekah dan menunaikan haji. Ia sudah berusaha mengumpulkan harta. Tapi sayangnya harta dunia itu justu menyandera dirinya. Ia berniat memenuhi panggilan Tuhan. Tapi harta kekayaan menjadikannya seorang tawanan.

Penyandera itu hadir dalam tiga nama: “cinta, “lupa”, dan “takut”. Kita terlalu mencintai apa yang kita miliki. Kita lupa jika di dunia tak ada yang abadi. Dan kita takut kehilangan apa yang ada saat ini.

Ketiga sandera ini yang menyebabkan kita berpikir dua kali sebelum mengorbankan apa yang kita punya. Dan seringkali membuat kita berpikir untung rugi dalam membantu sesama. Tiga sandera itu juga yang membuat kita menderita, saat kehilangan apa yang kita punya.

Santiago tahu hal itu. Dan ia tahu perbedaan “jalan” dan “tujuan”. Ia membantu sang pedagang untuk berjualan teh menggunakan gelas Kristal di atas bukit. Belum pernah ada yang menyajikan teh di gelas Kristal. Kedainya ramai dan tersohor. Membuatnya menjadi juragan kecil dan harta yang mampu membeli 120 domba.

Anehnya Santiago justru meninggalkan kedai yang telah memberinya kekayaan. Ia memilih melanjutkan perjalanan dan menunaikan panggilan hidupnya untuk mencari piramida. Ia tahu jika menjadi kaya adalah “jalan”, dan bukan “tujuan”.

Jalan adalah sarana. Tujuan adalah hasil akhir yang ingin dicapai. Tujuan yang salah akan memberikan jalan yang salah. Mereka yang hanya ingin kaya bisa menghalalkan segala cara. Mereka yang ingin berkuasa bisa menindas siapa saja. Dan mereka yang menginginkan dunia, akan merasakan derita saat harus meninggalkannya.

Masalahnya kita sering lupa perbedaan jalan dan tujuan. Kita beranggapan kekayaan itu tujuan, pengetahuan itu tujuan, kekuasaan itu tujuan, dan segala kenikmatan adalah tujuan. Termasuk soal ajaran agama. Kita lebih memilih menabung untuk haji yang kedua daripada menggunakan uangnya untuk membantu sesama. Padahal Ibadah adalah jalan. Sholat adalah sarana. Zakat adalah sarana. Puasa adalah sarana. Haji juga sarana.

Tujuannya? Menjadi sebaik-baiknya hamba Tuhan dan berbuat kebaikan pada kehidupan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Omne Ignotum Pro Magnifico

Sudah dua bulan ini saya mengikuti kelas bahasa arab. Ini sesuai dengan target dan sempat saya jadikan status pada 2013 lalu.

Nulis target ga ada ruginya loh
Nulis target ga ada ruginya loh

Alhamdulilah semuanya masih on progress. Saya sedang belajar R (salah satu software statistik) untuk bermain dengan big data sambil terus berkutat dengan marketing strategy salah satu LCC. Saya menghabiskan 30 menit setiap hari untuk membaca summary laporan keungan plus analisis teknikal perusahaan yang ingin saya invest, dan juga ga pernah berhenti takjub dengan perkembangan digital marketing serta tumbuhnya perusahaan startup.

Tapi baru tahun ini belajar bahasa arab… Dan salah satu pemicunya adalah abang Gojek.

Jadi ceritanya pada 6 April 2016 lalu, saya ada janji dengan salah satu teman di Central Park. Untuk menghemat waktu, saya naik Gojek. Saat perjalanan seperti biasa saya ajak ngobrol. Saya bertanya:

“Bang kalo abis narik gojek ngapain?”

Saya sih mikirnya jawaban standar kaya “Saya lagi ambil PhD untuk riset kalkulus integral” atau “Paling liburan ke Santorini Mas”. Oh itu ga standar ya? Tapi jawaban dia memang ga standar.

“Saya les Mas. Les bahasa Inggris”. Ia lalu menyebut salah satu lembaga kursus bahasa Inggris.

Mendengar Bapak-bapak Ojek berumur 30-an masih mau belajar bahasa Inggris itu seperti ngeliat kakek ompong masih mau makan kerupuk. Semangat banget cuk!

Saya jadi malu. Dia aja masih semangat tholabul ilmi, mencari ilmu. Saya koq malah semangat tholabul istri, mencari istri. Maaf Pipi Kentang :p! Sejak itu saya memutuskan untuk takkan pernah berhenti mencari ilmu, meski harus berjalan menembus kerak bumi, berenang mengarungi tujuh samudera, dan terbang ke langit ketujuh. Anjis pingin muntah saking lebaynya.

Usia Itu Alasan, Bukan Halangan

Dan dikelas bahasa arab, ada salah satu peserta yang menginspirasi. Namanya Pak Gatot, umur sudah hampir setengah abad. Tapi semangatnya paling hebat. Dia paling rajin datang ke kelas, tak pernah absen. Saat yang lain puas dengan 2x pertemuan seminggu saat malam, Pak Gatot juga datang di kelas akhir pekan.

Program kami memang hanya 2x seminggu selama 3 bulan untuk setiap tingkat, tapi penyelenggara membebaskan jika ingin ikut kelas pagi, malam, atau akhir pekan. Mau ikut semuanya juga boleh. Nah saking rajinnya Pak Gatot, dia bingung ketika ditanya: Antum sebenarnya kelas yang mana? Yang pasti Pak Gatot termasuk kelas mamalia.

Gara-gara Pak Gatot, saya jadi malu kalau hanya datang di kelas malam. Dia begitu semangat meski harus belajar hal dasar seperti makhrojul huruf, perkenalan dengan huruf syamsiyah qomariyah, menulis ism’, imla’, dan percakapan dasar.

Pak Gatot lagi praktik conversation (pake baju putih)
Pak Gatot lagi praktik conversation (pake baju putih)

Kita sekarang hidup di zaman materealistis, dimana semuanya diukur dengan materi. Dan harta dianggap lebih penting daripada ilmu. Kita lebih semangat ikutan seminar properti, MLM, atau rahasia investasi daripada mengkaji ilmu yang berguna di akhirat nanti.

Padahal Ali ibn Abi Thalib sudah memberikan pesan: pilihlah ilmu dibanding harta. Ilmu menjaga pemiliknya, sedang harta harus dijaga oleh pemiliknya. Harta berkurang saat dibelanjakan, sedangkan ilmu semakin bertambah saat dibagikan. Dan saya percaya: jika ilmu sudah kita dapat, harta akan mendekat.

Omne ignotum pro magnifico. Segala sesuatu yang tidak kita ketahui terlihat luar biasa. Tapi percayalah, Man saaro ‘alaa darbi washola. Barang siapa berjalan pada jalannya, maka dia akan sampai pada tujuannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Binatangisme

source image: http://www.eoisabi.org

Pada suatu hari, si Mayor Babi pemimpin peternakan mengadakan rapat akbar. Ia ingin bercerita tentang mimpi yang ia alami. Ia lalu mengumpulkan seluruh hewan di peternakan. Tapi sebelum bercerita, si babi putih yang sudah tua itu mempertanyakan hakikat hidup seekor hewan:

“Sekarang, Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita? Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, kita diberi begitu banyak makanan, sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan di antara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita; dan segera setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji”.

Dan semuanya gara-gara binatang bernama manusia. Ia menambahkan:

“Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap tikus tanah. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tetapi tak satu pun dari kami memiliki tanah seluas kulit kami”.

Setelah berhasil mengobarkan semangat penghuni peternakan, ia lalu bercerita jika semalam bermimpi mendengar lagu “binatang Inggris”. Lagu terlarang dari zaman yang terlupakan. Nyanyian yang berisi mimpi kemerdekaan binatang dari perbudakan manusia. Semacam ramalan: akan ada suatu masa dimana semua binatang tak lagi harus tersiksa.

Binatangisme

Tiga hari setelah rapat akbar, Mayor tua meninggal dunia. Tapi ide-nya terus tumbuh dan lagu “binatang Inggris” terus dinyanyikan setiap malam. Para babi penerus ide sang mayor mulai berkumpul dan merumuskan ajaran “binatangisme”. Sebuah weltanschauung, pandangan hidup. Ajaran kesetaraan antar binatang, larangan bermusuhan, dan ajakan memusuhi manusia. Bahkan binatangisme juga tidak memperbolehkan para binatang untuk meminum alkohol.

Ajaran binatangisme disambut baik karena disaat yang sama, Pak Jones, si pemilik peternakan mulai tidak memperhatikan kesejahteraan hewan ternaknya. Terlalu banyak mabuk-mabukan membuatnya sering terlambat memberi pakan, kandang tak terawat, dan para ternak yang awalnya mendukung hidup dibawah perlindungan manusia, mulai tidak puas.

Sampai pada suatu hari, pemberontakan itu terjadi. Pak Jones yang teler berat tiba-tiba diserang oleh kuda kesayangannya, Boxer. Ia menendang-nendang. Tak lupa para biri-biri, babi, ayam, itik, dan sapi turut menyerang kabin-nya. Pak Jones yang malang kemudian melarikan diri, dan mulai hari itu peternakan binatangisme telah berdiri. Dari hewan, oleh hewan, dan untuk hewan. Masa kejayaan para binatang akhirnya datang.

Tapi ternyata permasalahan tidak selesai sampai disitu. Dua babi pemimpin binatangisme, Snowball dan Napoleon terlibat persaingan politik. Mereka berusaha saling mempengaruhi. Snowball memiliki gagasan untuk membuat kincir angin sebagai penggerak mesin sehingga mereka bisa bekerja lebih ringan, sedangkan Napoleon menganggap ide itu adalah pembuangan tenaga dan terlalu mirip dengan teknologi manusia.

Sampai pada suatu rapat, para binatang terbagi dalam dua kubu yang sama-sama kuat. Saat voting akan dilakukan, tiba-tiba muncul anjing herder peliharaan Napoleon. Anjing lalu menyerang Snowball dan membuat babi cerdas itu lari tunggang langgang meninggalkan peternakan. Sejak itu tirani baru lahir.

Napoleon membuat keputusan mengangkat dirinya sebagai pemimpin peternakan. Ia juga menetapkan kaum babi tidak perlu bekerja karena mereka adalah pemikir dan pembuat sistem. Yang lebih anehnya lagi, Napoleon memerintahkan pembangunan kincir angin dan menuduh Snowball telah mencuri ide itu darinya.

Menjadi Manusia

Cerita diatas adalah cuplikan Animal Farm karya George Orwell. Orwell seperti sedang menertawakan prilaku “kebinatangan” yang sering dilakukan manusia. Tapi apakah selamanya binatang lebih buruk dari manusia?

Belum tentu. Karena terkadang manusia bisa lebih binatang dari binatang itu sendiri. Saya belum pernah melihat ular yang tetap makan meski perutnya kenyang. Sedangkan manusia? Berapa dari kita yang terus memasukkan makanan meski perut sudah terisi?

Saya tak pernah mendengar berita ada macan yang menggauli macan lain yang masih kecil. Manusia? Sudah berapa banyak berita pedophilia menghiasi layar gadget Anda? Untuk hewan yang hidup berkelompok, saya juga belum pernah melihat ada pemimpin binatang yang korupsi dan menyembunyikan makanan untuk dirinya sendiri. Manusia? Saya tak perlu bercerita.

Karena itulah, kita perlu berpuasa. Puasa adalah pelajaran menjadi manusia. Dengan menahan nafsu, ternyata dapat menjadi penyentuh kalbu. Saat membantu sesama lewat zakat, kita sesungguhnya sedang membersihkan jiwa dengan berkat.

Dalam akhir cerita Orwell, Napoleon menerima tamu Pak Pilkington dari peternakan tetangga. Pertemuan yang awalnya ramah, tiba-tiba menjadi pertengkaran seru gara-gara permainan kartu. Clover, kuda tua kesayangan Pak Jones, datang untuk melihat sumber keributan itu. Begitu kagetnya ia saat melihat kedalam. Ia tak bisa membedakan mana binatang, dan mana manusia.

Karena manusia baru bisa menjadi manusia saat ia mampu menguasai nafsu yang ada di dalam dirinya.

Selamat berpuasa. Selamat belajar menjadi manusia.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Dua Burung

Netizen dihebohkan dengan Kakek Winnie The Pooh didaerah Sidoarjo (dekat rumah ortu saya!). Si Kakek dengan tampang memelas dan mengaku terkena stroke, ditemukan berkeliaran di jalan dan kemudian dilaporkan ke radio setempat. Simpati berdatangan. Aparat bergerak cepat. Kakek langsung “diselamatkan” dan dibawa ke shelter penampungan.

sumber: Merdeka.com

Simpati berubah menjadi caci maki setelah kemudian terpapar fakta mencengangkan. Si kakek ternyata punya rumah layak, sepeda motor belasan juta, dan pernah menikah 7 kali! (saya aja kalah T_T). Bahkan saat diamankan, ia kedapatan memegang uang ratusan ribu rupiah. Nilai yang takkan terduga jika melihat penampilannya.

Si Kakek berusaha mengoptimalkan bentuk fisiknya untuk menghasilkan pundi-pundi materi. Dan yang lebih parah: sepertinya pihak keluarga tahu. Bahkan seolah-olah menjadi “peminta professional” yang takkan pulang sebelum membawa pulang ratusan ribu rupiah.

Mental “peminta” bukanlah hal yang salah. Karena kita bukanlah makhluk serba bisa. Asal kita tahu, meminta kepada siapa. Kepada manusia? Kepada jin penguasa laut selatan? Meminta berkah kepada leluhur dan lelembut? Atau pemilik dari segala alam?

“Berdoalah (mintalah) kepadaKu, niscaya Aku kabulkan untukmu” janji Tuhan dalam Al-Mukmin ayat 60.

Sedangkan untuk urusan dengan manusia, kita dihadapkan pada dua pilihan: menjadi peminta atau pemberi. Seperti cerita yang saya cuplik dari ON karya Jamil Azzaini.

Pilihan

Seorang sufi pernah bercerita bahwa sahabatnya yang bernama Al-Balkhi pada suatu hari berpamitan hendak berdagang ke suatu negeri untuk mencari rezeki dari Allah. Sebelum berangkat, ia berpamitan dengan sahabat karibnya, Ibrahim ibn Adham. Ia menyampaikan kepada Ibrahim bahwa ia ingin pergi dalam jangka waktu yang lama. Ternyata beberapa hari kemudian ia sudah kembali. Ketika Ibrahim berjumpa Al-Balkhi, ia bertanya:

“Apa gerangan yang membuat engkau cepat pulang?”

Mendengar pernyataan itu, Al-Balkhi menceritakan, “Dalam perjalanan aku singgah di suatu tempat yang teduh untuk beristirahat. Tiba- tiba terlihat di hadapanku seekor burung yang pincang dan buta. Aku merasa heran sambil berkata di dalam hati ‘Bagaimana burung ini bisa hidup ditempat semacam ini, padahal ia tidak bisa melihat dan tidak bisa berjalan?’

Sejenak kemudian, seekor burung lain datang membawa makanan menghampiri burung yang cacat itu. Lalu makanan itu diberikan. Ternyata burung yang membawa makanan itu berulang- ulang datang sehingga burung yang pincang dan buta itu merasa puas dan kenyang. Timbullah angan-angan dalam pikiranku:

‘Sesungguhnya Sang Pemberi rezeki terhadap burung yang pincang dan buta ini tentu berkuasa memberi rezeki ini padaku.’ Akhirnya, pada saat itu juga aku memutuskan tidak perlu berdagang, lalu kembali pulang lagi ke kampungku.”

Setelah mendengar kisah sahabatnya itu, Ibrahim ibn Adham berkata padanya,

“Mengapa kamu lebih senang memilih menjadi burung yang pincang dan buta, yang hidupnya ditanggung oleh burung lain? Dan mengapa kamu tidak memilih untuk menjadi burung yang sanggup hidup sendiri, sehingga bisa menolong kawannya yang pincang dan buta itu? Apakah kamu tidak tahu bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah?”

Lalu Al-Balkhi bangkit mendekati Ibrahim sambil berkata padanya:

“Sungguh Anda telah menjadi mahaguru saya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail