Category Archives: Wisdom

Apakah Anda Ingin Hidup Bahagia?

Namanya Hendhi. Driver Gojek yang saya temui siang tadi. Nama tambahan di kontak handphone saya: Hendhi baik hati. 

Karena Ia memang berhati baik. 

Pada pertengahan Mei lalu, Ia diminta mengantar paket sembako. Penerimanya adalah seorang mahasiswa. 

Paket itu diterima dengan air mata. Karena ternyata Ia sedang kesusahan. Kekurangan bahan makanan. Tertahan Covid-19 yang merepotkan.

Tak tega melihat kondisi mahasiswa itu, Hendhi mengratiskan ongkos kirim. Ditambah beberapa hari kemudian datang lagi untuk membantu. Memberikan uang saku.

Hendhi lalu curhat ke media sosial. Dan menjadi cerita yang viral.

Hari ini saya sedih banget nganter gosend bahan pokok Beras + Nasi + Telur buat mahasiswa.Mereka kehabisan bekal untuk makan dan mereka gak bisa pulang ke kampung. Mulai hari ini saya buka FREE ONGKIR area jogja khusus mengantar bahan pokok untuk yg membutuhkan”

Cuitannya menginspirasi banyak orang. Ada yang tergerak melakukan penggalangan dana, untuk membantu mahasiswa yang kesusahan di luar sana. Ia juga tetap membantu aksi berbagi selama pandemi. Tentu dengan kapasitasnya sebagai driver Gojek: mengikhlaskan ongkos kirim yang ia miliki. 

Tapi yang membuat saya penasaran, apa yang Ia dapatkan dengan melakukan kebaikan? Continue reading Apakah Anda Ingin Hidup Bahagia?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belajar Strategic Goal Setting (3)

“If you want to be happy, set a goal that commands your thoughts, liberates your energy and inspires your hopes.” —Andrew Carnegie

https://www.indoindians.com/

Jika kita sudah membuat strategic alignment, maka kita mulai masuk ke inti dari strategic thinking: membuat strategy beneran hehe.

Saat strategic alignment kita membaca peta untuk mengetahui kondisi kapal dan lautan, maka strategic formulation adalah membuat itinerary (rencana perjalanan) dimasa depan. 

Karena ini mirip dengan rencana perjalanan, maka seperti pepatah: banyak jalan menuju Roma. Tak ada yang benar tak ada yang salah. Semua tergantung SIKONDOM (Situasi, Kondisi, Dominasi nasib).

Dari berbagai model kerangka berpikir dari bermacam buku-buku bisnis diluar sana, klo disarikan sebenarnya ada tiga fase formulasi strategi sederhana:

  1. Strategic goal setup: Kita mau kemana?
  2. Problem-solving-solution hypothesis: Bagaimana cara termudah dan termurah untuk kesana?
  3. Resources and impact matrix: Perbekalan apa saja yang kita butuhkan?

Yuk kita bahas satu persatu dengan sederhana.

Salah Tujuan = Salah Asuhan

Yang pertama tentu menentukan tujuan: Mau dibawa kemana hubungan kita? Lah koq malah nyanyi yang nulis.

Ini fase krusial karena salah menentukan tujuan berarti kesasar. Apakah itu keliru? Ya nggak juga. Colombus awalnya bertujuan ke India, eh malah nemu Amerika. Penemu minuman Coke, John Pemberton, awalnya bereksperimen untuk menemukan obat sakit kepala. Malah nemu cikal bakal Coca Cola.

Kasus diatas adalah serendipity. Kebetulan aja hasilnya bener. Tapi kedua contoh tadi sama-sama punya tujuan awal!. Gak ada ceritanya peneliti tanpa tujuan eksperimen, tau-tau menemukan senyawa atau penemuan baru.

Yang pasti salah itu jika kita tidak menentukan tujuan. Karena itu berarti terombang-ambing tanpa arah dan pegangan yang jelas. Bisa sampai sih. Sampai jumpa lagi hehe.

Bagaimana cara menentukan strategic goal yang baik? Ada banyak teori.

Mulai kudu SMART (Specific, Measurable, Actionable, Realistic, Time based). Ada juga yang bilang jika strategic goal itu harus ‘besar’, ‘panjang’, dan ‘tahan lama’ (bahasa Jim Collins disebut BHAG : Big Hairy Audatious Goal). 

Jangan ngeres dulu. Ini bukan iklan obat kuat. Maksudnya strategic goal kita seharusnya bisa menginspirasi kita dalam mengarungi perjalanan yang panjang. 

Biar kebayang kita balik ke studi kasus jika kita Koki resto hotel yang terdampak Corona.

Kemana Kita?

Misalnya kita sudah melakukan strategic alignment dan tahu jika kondisi kapal kita goyang, dan ada badai karena Covid-19. Peran yang bisa kita lakukan adalah memasak makanan lezat, yang bisa menjadi sumber pemasukan hotel disaat sulit seperti ini.

Strategic objective yang bisa kita tulis adalah:

“Menjadi resto hotel terbaik di Indonesia”.

Kelihatannya keren ya. Resto hotel terbaik.Tapi kebayang ga menjadi resto terbaik itu kaya gimana? Trus apakah sudah kriteria Smart? Gimana klo kita reworks dikit dan jadi:

“Pada Desember 2020 menjadi resto hotel bintang 4 terkemuka yang menjual 1000 porsi makanan per hari”.

Kita menset kriteria terkemuka dengan benchmark goal yang jelas: penjualan 1000 porsi per hari. Sangat sederhana dan jelas. Jika nanti penjualan kita hanya 999, berarti kita belum jadi restoran terkemuka. Sesederhana itu.

Ada tips tambahan yang bisa kita lakukan setelah menulis strategic objective. Kita bisa bertanya lagi:

  1. Apakah tujuan kita sudah ‘benar’?
  2. Adakah alternatif tujuan yang lebih ‘benar’?

Sangat disarankan untuk melontarkan pertanyaan ‘nakal’ dan provokatif:

Apakah tetap menjadi bagian resto hotel sudah benar? Kenapa kita tidak mengusulkan ke manajemen untuk membuat mobile resto chain yang independent? Kenapa kita tidak coba beralih ke industri yang masih related dengan makanan seperti food content media?

Karena salah tujuan = salah asuhan. Terus pertanyakan tujuan strategis Anda. 

Karena tujuan dari hidup, adalah hidup dengan tujuan.

 

____________________________________________

 

 

PS: Bagian selanjutnya adalah bagian tersulit tapi terseru: formulasi solusi strategis! Doakan saya bisa menulisnya dengan cukup jelas dan komprehensif

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Saya Memanggil Semua Orang ‘Bos’?

https://images.assetsdelivery.com

“Makasih bos”. 

“SIap bosque”.

“Minta tolong ya bos”.

Saya sering mengucapkan kata ‘bos’ di belakang kalimat. Baik di email, media sosial, atau perbincangan fisik harian. Selalu ada kata ‘bos’ di akhirnya. Sebagai panggilan kehormatan kepada partner percakapan. 

Kenapa sih? Apa alasannya? Apakah saya menderita inferiority complex?

Saya mulai membiasakan panggilan ‘bos-bos’ sekitar beberapa tahun lalu. Tidak ingat kapan tahunnya. Jujur saja, saya melakukannya dengan sengaja. Karena ternyata memanggil bos kepada orang lain itu banyak manfaatnya.

Apa saja? Saya mencatat setidaknya ada tiga berkah memanggil orang lain ‘bos’:

#1 Belajar Membahagiakan Orang Lain

Kata Mbah Dale Carnegie (salah satu penulis buku personal development terlaris), rahasia kebahagiaan sosial manusia ada pada penghormatan. Manusia ingin sekali dianggap ‘penting’ dan ditinggikan kedudukannya. 

Masalahnya, tidak semua orang punya sumber daya untuk meninggikan derajatnya. Apalagi kita hidup di dunia materalistis kapitalis yang menilai derajat seseorang dari jabatan dan jumlah angka di rekening perbankan.

Padahal pada dasarnya hanya Tuhan yang bisa meninggikan atau merendahkan derajat seseorang. Hanya saja, ada segolongan saudara kita yang belum dititipi kekuasaan atau kekayaan itu.

Untuk saudara-saudara kita yang kebetulan berprofesi sebagai ‘orang kecil’, dipanggil dengan sebutan ‘Bos’ adalah sebuah sanjungan yang jarang mereka dapatkan.

Bagaimana dengan pekerja informal? Atau mereka yang setiap hari hanya menjalankan perintah, disuruh-suruh, dimarahi jika kerjanya tidak becus. Mereka juga rindu dan berhak untuk mendapat penghormatan.

Pengalaman saya mengajarkan, saat dipanggil ‘bos’, mereka akan tersenyum. Dada mereka terbuka. Sepertinya dunia terlihat lebih indah dari biasanya. Bahkan ada yang terang-terangan merasa malu: ‘Saya jangan dipanggil bos, situ yang bos’.

Efek jangka pendeknya, mereka akan memberikan support lebih kepada kita. Pelayanan yang lebih ramah. Lebih terbuka dalam berbagi informasi. Dan bersedia membantu jika saya kesulitan.

Tapi tujuan pertama saya sebenarnya sederhana: bagaimana membuat seseorang berbahagia. Karena manusia yang bahagia hidupnya, adalah manusia yang membahagiakan sesamanya.

#2 Belajar Mengurangi Kesombongan

steemitimages.com

Manfaat kedua yang saya rasakan: Insyaa Allah berkurangnya rasa sombong. 

Karena kata “Bos” identik dengan kedudukan superior. Mereka yang memanggil orang lain bos biasanya adalah bawahan. 

Insight saya sederhana. Penyakit manusia modern itu: suka membanding-bandingkan berdasarkan ukuran keduniawian. Ditambah ketidaksadaran dalam menggunakan kata ‘hanya’.

“Oh dia hanya petugas kebersihan”. 

“Siapa sih dia? Hanya anak magang juga”.

“Bisa apa dengan gaji hanya segini?”

Membiasakan memanggil orang lain “bos” adalah sebuah upaya pengingat diri: semua makhluk itu sama mulianya di hadapan Tuhan. Tak usah membanding-bandingkan dan merasa lebih membanggakan. 

Bisa saja orang yang kita anggap bukan siapa-siapa, sebenarnya idola para malaikat penghuni surga. Atau orang yang kita anggap punya derajat hebat, sebenarnya hidup dengan tipu muslihat.

Dengan memanggil bos saya belajar untuk tidak merendahkan ‘orang kecil’. Tapi juga tak perlu memuja ‘orang besar’. Karena ketinggian, kebesaran, kehebatan hanya berhak dimiliki oleh Tuhan.

#3 Belajar Menjadi ‘Pelayan’

Ini tujuan yang menurut saya paling sulit dari memanggil orang lain bos: membuang ego pribadi dan belajar ‘melayani’ orang lain.

giphy.com

Kata ‘bos’ identik dengan atasan/pelanggan. Sedangkan atasan/pelanggan harus dilayani dengan baik. Memanggil orang lain bos secara bawah sadar memaksa saya untuk belajar siap membantu orang lain, tanpa memandang status mereka.

Tuhan sudah menggariskan aturan: Sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi sesama. Manusia yang ringan tangannya, akan ringan beban hidupnya, damai hatinya, dan dimudahkan segala urusannya.

Karena itu dalam teori manajemen ada konsep ‘servant leadership’ yang dimotori oleh Robert K.Greenleaf. Hipotesanya indah sekali: pemimpin yang baik itu pemimpin yang menjadi ‘pelayan’ orang yang dipimpinnya.

Pelayan dalam artian bukan mengerjakan semua pekerjaan, tapi selalu siap membantu dalam kapasitasnya sebagai seorang leader. Dan itu berarti mendengarkan aspirasi, memimpin dengan hati dan empati, memperjuangkan kebutuhan dan perkembangan tim yang diasuhi, memiliki visi, dan berusaha mewariskan ‘legacy’.

Idealnya, hanya Tuhan yang harus kita ‘layani’. Tapi Ia tidak membutuhkan ‘layanan’ kita. Ia akan tetap besar, agung, dan penuh rahmat meski tanpa doa-doa dan ibadah yang kita panjatkan. 

Tuhan ‘ingin’ kita melayani sesama manusia. 

Karena itulah ada ‘perintah’: beri makan fakir miskin, cintai anak yatim, hormati orang tuamu, rangkul saudaramu, bantulah tetanggamu, tersenyumlah kepada orang yang berpapasan denganmu. 

Jadilah rahmat bagi semesta. 

Layani orang-orang ‘kecil’ seperti kamu melayani bos besarmu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Resep Menjadi Kaya dari Zaman Babilonia

Ini bukan tentang MLM.
Bukan juga soal ilmu ghoib.
Atau rahasia investasi milyarder.
Ini tentang buku klasik tahun 1926 yang selalu nongol di daftar bacaan orang-orang kaya. Membuat saya penasaran. Dan akhirnya ikutan membaca juga.
The Richest Man in Babylon. Karya George Clason. Buku kecerdasan finansial yang dirangkum dalam cerita sederhana.
Tersebutlah Arkad. Pembuat tablet tanah liat yang bisa menjadi orang terkaya di Babilonia. Koq bisa?
Karena Ia mengamalkan tiga rahasia sederhana.
Tiga Rahasia Sederhana
Arkad ternyata awalnya hanya pembuat tablet tanah liat (sebagai media tulisan/prasasti). Ia bukan founder startup, programmer hacker, atau artis bokep dengan follower jutaan.
Ia hanyalah orang biasa dengan satu pembeda: Keinginan untuk memiliki hidup yang lebih baik.
Suatu hari, Algamish, seorang kaya berkedok rentenir di zamannya, memesan tablet. Ia ingin tablet itu jadi besok pagi. Ditawarkan juga upah yang lumayan.
Tak puas hanya dengan uang, Arkad mengajukan penawaran.
“Aku akan menyelesaikan pesananmu tapi setelah itu tolong ajari aku cara menjadi kaya raya”.
Itu inti terjemahan bebas permintaan Arkad. (Jujur aja, buku ini ditulis tahun 1929 dan saya menemukan banyak kosa kata Inggris jadul yang sekarang hanya dipakai untuk menulis puisi).
Arkad rupanya mencari seorang mentor. Dan ia tahu: pengetahuan akan mendatangkan kekayaan. Satu dollar yang ditanam di kepala, akan melahirkan 100 dollar di kantong.
Algamish tertarik dengan tawaran itu. Tak biasanya ada pembuat lempeng yang ingin belajar dan bertanya tentang cara mendapat kekayaan. Kesepakatan pun dibuat.
Besoknya, setelah lembur ditemani kopi, bear brand, dan Red Bull, jadi juga tuh lempengan. Sekarang giliran Algamish yang harus menepati janjinya. Membocorkan rahasia menjadi kaya.
Resepnya jika dirangkum akan seperti ini:
“You first learned to live upon less than you could earn. Next, you learned to seek advice from those who were competent through their own experience to give it. And, lastly, have learned to make gold work for you”.
Aplikasi Tiga Saran Tadi
Bingung? Kalau saya rangkum aplikasinya, setidaknya ada tiga perkara:
#1 A part of all you earn is yours to keep.  Sisihkan 1/10 dari Pendapatan. Berapapun gaji/pendapatan Anda, wajib hukumnya untuk menyisihkan 10%. Pokoknya gimana caranya pengeluaran harus lebih kecil dari pendapatan.
#2 Terus Belajar dan Bertanya ke Para ahli
Inilah pentingnya ilmu pengetahuan dan lingkaran pergaulan. Anda ingin kaya? Maka wajib belajar dan bertanya ke orang yang tepat. Karena itulah orang-orang tajir selalu meng-hire orang yang lebih pintar dari mereka. Karena bertanya ke orang yang salah, sama saja mendapatkan jawaban yang salah.
#3 Membuat Pendapatan Bekerja
Ini tentang menggerakkan 1/10 harta yang telah kita kumpulkan. Tentang membuat uang kita berkembang dengan berinvestasi ke bisnis/asset yang tepat. Anda tak akan menjadi kaya hanya dengan menabung. Anda akan menjadi kaya lebih cepat dengan memutar tabungan Anda.
Simple kan? Secara teori iya: Sisihkan 1/10 dari penghasilan dan kumpulkan modal. Terus belajar. Dan berinvestasi / membuat usaha dengan uang yang kita kumpulkan tadi.
Namun pada praktiknya kita lebih tertarik untuk mikirin kredit sana-sini, main game sampai lupa belajar, dan menggantungkan pendapatan hanya pada pekerjaan yang memberikan kita gaji saat ini.
Karena itulah Algamish berpesan:
“Wealth, like a tree, grows from a tiny seed. The first copper you save is the seed from which your tree of wealth shall grow. The sooner you plant that seed the sooner shall the tree grow. And the more faithfully you nourish and water that tree with consistent savings, the sooner may you bask in contentment beneath its shade.”’
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ketika Malam Berakhir dan Siang Dimulai

Seorang rabi Yahudi bertanya kepada murid-muridnya:

“Bagaimana caranya agar kita tahu kapan malam berakhir dan siang dimulai?”

Karena ada doa dan ibadah yang hanya bisa dilakukan saat malam dan siang hari, para murid menganggap pertanyaan ini penting.

Murid pertama mencoba menjawab, “Rabi, ketika saya melihat ke ladang dan bisa membedakan ladang saya dan ladang tetangga, itulah saat malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi tampak kecewa mendengar jawaban itu. Ia hanya diam.

Murid kedua berkata, “Rabi, ketika saya keluar rumah dan bisa membedakan mana rumah saya dan rumah tetangga, saat itulah malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi masih terdiam.

“Rabi, ketika saya melihat hewan di kejauhan, dan saya bisa tahu hewan apa itu. Entah sapi, kuda, atau domba. Maka itu adalah saat malam berakhir dan siang dimulai”. Jawab murid ketiga.

Rabi malah menggeleng-gelengkan kepalanya.

Murid keempat tak mau kalah, “Ketika saya melihat bunga dan bisa membedakan warnanya, merah kuning atau biru. Itulah watunya malam berakhir dan siang dimulai”.

Mendengar jawaban terakhir itu malah membuat Rabi marah.

“Kalian semua tak mengerti! Kalian hanya membedakan! Kalian membedakan rumah kalian dari rumah tetangga, ladang kalian dari ladang tetangga, membedakan hewan dan warna bunga. Apa hanya ini yang bisa kita lakukan? Membedakan, memisahkan, memecah dunia jadi bagian-bagian? Apa itu guna Taurat?!? Bukan, murid-muridku tersayang, bukan seperti ini. Bukan seperti ini caranya.”

Murid-murid yang kaget tersadar telah mencerna pertanyaan Rabi dengan terlalu dangkal. Mereka menyerah dan bertanya:

“Wahai Rabi, tolong beritahu kami bagaimana cara mengetahui malam telah berakhir dan siang sudah dimulai?”.

Rabi menatap wajah murid-muridnya satu persatu. Dengan suara lembut dan menyentuh, Ia berkata:

“Ketika kalian memandang wajah orang lain, dan kalian bisa melihat bahwa orang itu adalah saudaramu, maka malam telah berakhir dan siang telah dimulai”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mendengarkan Keheningan

Pada 1952, John Milton Cage, salah satu composer music paling berpengaruh di abad 20, menulis karya yang tidak biasa.

Komposisi yang diberi judul 4’ 33” itu berisi karya music tanpa suara selama 4 menit 33 detik! Ya, John Cage menulis sebuah lagu tanpa sebuah nada apapun yang terdengar!. Kesunyian selama 4 menit, 33 detik.

Saat diwawancari oleh Richard Kostelanetz, Cage menjelaskan maksud dari 4’ 33”.

“You know I’ve a written a piece called 4’ 33” which has no sounds oh my own making in it… 4’ 33” becomes in performance the sound of the environment”.

John Cage rupanya sudah sampai di level Zen soal suara. Dia beranggapan semua suara adalah music, dan setiap benda pasti menghasilkan suara. Termasuk saat keadaan sunyi tanpa suara itu sendiri.

4’ 33” adalah ajakan untuk menikmati keheningan.

Bisingnya Kehidupan Modern

Karya John Cage masih tetap relevan saat ini karena manusia modern hampir tidak pernah menikmati keheningan.

Rutinitas manusia modern penuh dengan suara. Biasanya dimulai dari alarm pagi. Atau bunyi ayam jantan yang mengikuti suara adzan.

Setelah itu suara TV/radio/pemutar music terus menemani kita beraktivitas.

Kita mendegarkan berita saat sarapan. Menyetel music di kendaraan. Menguping pembicaraan di tempat kerja. Menonton youtube menjelang tidur. Sampai memutar lagu slow sebagai teman tidur.

Kapan kita bisa mendegarkan suara kita sendiri? Atau pertanyaan yang lebih penting: Kenapa kita perlu mendengarkan suara kita sendiri?

Pada dasarnya manusia yang tidak mendengarkan dirinya sendiri akan tumbuh sebagai manusia yang gelisah.

Hidupnya butuh pengakuan dari luar tanpa pernah mendengar kedalam.

Ia butuh pembenaran. Entah pembenaran secara social, atau pengakuan dari sisi material.

Mereka memiliki sesuatu karena orang lain menghargai itu. Memilih sesuatu karena manusia lain menginginkan itu. Hidup dengan cara tertentu karena masyarakat umum menganggapnya berharga.

Senyum Bahagia

Jika Anda berlatih meditasi, konon salah satu latihan yang penting untuk dikuasai adalah: mendengarkan nafas sendiri. Kenapa hal ini penting?

Karena ini adalah proses mencapai pratyahara. Kondisi sadar terhadap diri sendiri dan tidak terpengaruh oleh kondisi luar.

Itu berarti mengerti jika kebahagiaan dapat dimiliki hanya dengan bermodal senyuman, dan penerimaan terhadap diri sendiri.

Meditasi Yoga senyuman sungguh ceria:

Duduklah, rileks.

Tarik nafas dan senyumlah

Bahagialah, damailah

Mari kita lakukan yoga senyuman

Senyumlah. Senyum lagi. Senyumlah seakan-akan Anda tercerahi.

Bahagia, penuh rahmat, ceria.

Orang yang sadar diri tidak akan merasa kesepian ditengah keheningan. Karena mereka tetap bisa mendengarkan suara kesunyian.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pikiran yang Terkunci

Semalam saya naik pesawat JOG-CGK. Rutinitas mingguan seorang anggota PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Flight saya mendarat jam 23.30 dan karena ga dapat garbarata, kami diangkut menggunakan bus menuju terminal kedatangan 2F bandara Soetta.

Alhamdulilah dapat duduk di hot seat (kursi 1-5, 12 dan 14 maskapai AirAsia), dan itu berarti saya bisa boarding dan turun duluan. Lumayan membantu untuk yang pingin cepet-cepet keluar bandara (sekalian promosi dikit hehe).

Rombongan pertama pun sudah sampai di arrival gate. Begitu kagetnya kami karena pintu dalam keadaan tertutup dan tidak ada petugas yang berjaga!. Wah apa gara-gara final Piala Dunia nih ga ada petugas satu orang pun yang terlihat.

Kami pun mengantri didepan pintu, menunggu adanya petugas untuk membantu. Tiga menit berlalu, penumpang mulai kzl. Terdengar geraman dan komplain. Semua menyalahkan tidak adanya bantuan petugas terhadap penumpang yang kebingungan.

Lima menit hampir berlalu ketika tiba-tiba ada penumpang yang iseng mendorong pintu. Dan ternyata GA DIKUNCI dong! Jadi kita semua tadi berdiri ngantri di depan pintu yang sebenarnya bisa dibuka!

Cracker

Saya jadi sadar, selama lima menit pikiran kami-lah yang “terkunci”. Tidak berani membuka pintu. Mungkin karena ini lingkungan bandara, pintu tertutup, dan ada electronic key di samping tembok. Pikiran kami otomatis menciptakan hipotesa: jangan masuk kalau tidak berkuasa.

Hey, bukankah hidup juga seperti ini? Betapa sering pikiran kita menciptakan gembok saat ada peluang didepan mata. Kunci itu bisa berupa kata-kata:

“Project ini terlalu sulit…”

“Saya tidak punya sumber daya…”

“Lebih baik menunggu arahan atasan…”
Untuk membuka kunci itu, kita harus belajar menjadi cracker dan menerapkan prinsip tagline iklan: #JustDoIt, #BikinJadiNyata, #MulaiAjaDulu.

Seperti “penumpang cracker” yang iseng-iseng mendorong pintu dan membantu penumpang lain untuk menemukan jalan, para inovator adalah orang-orang yang bisa membuka gembok kebuntuan.

Karena kebuntuan itu ada didalam pikiran. Karena pintu bernama peluang itu selalu terbuka. Karena merupakan tugas kita sebagai manusia untuk berani mencoba.

source: freepik.com
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#5 Akibat Kejujuran

source: freepik

Syekh Abdul Qadir al-Jilani bercerita, “Aku membangun urusanku di atas kejujuran. Suatu ketika aku pergi dari Mekah ke Baghdad untuk menuntut ilmu. Waktu itu Ibuku memberi uang 40 dinar. Beliau berpesan agar aku berjanji untuk selalu jujur.

Ketika sampai di negeri Hamdan (Yaman), ada gerombolan perampok yang mencegat. Salah seorang datang menghampiriku dan bertanya, “Apa yang kau bawa?”

Aku menjawab, “Aku membawa 40 dinar”. 1 dinar sekitar 4,25 gram emas.

Laki-laki itu menyangka aku mengejeknya dan meninggalkanku. Namun ada perampok lain yang melihat dan bertanya hal yang sama, “Apa yang kau bawa?”.

Aku pun menjawab dengan jawaban yang sama. Setelah itu ia membawaku ke pimpinan mereka. Ketika pemimpin perompak bertanya, aku lagi-lagi menjawab apa adanya. Ia justru penasaran, “Apa yang membuatmu berkata jujur seperti ini?”.

Aku jawab, “Ibuku sudah berpesan kepadaku agar aku berjanji untuk bersikap jujur. Aku takut jika sampai mengkhianati pesannya”.

Pimpinan perampok itu merasa tersentuh. Ia berteriak dan menangis, “Engkau takut jika mengkhianati janji ibumu, sementara aku tidak takut ketika mengkhianati janji Allah!”.

Ia lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengembalikan semua harta rampasan yang mereka ambil. Dan berkata, “Aku bertobat kepada Allah melalui dirimu”.

Anggota yang lain akhirnya juga ikut insyaf setelah melihat pemimpin mereka bertobat.

Sayyid Husain Affani dalam Shalahul Ummah fi Uluwwil Himmah (5/45)

Sumber: Air Minum Dari Langit (2016).

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Horizon

Saya bertanya ke teman sekaligus mentor untuk urusan investasi. Bagaimana sih cara membuat investment plan yang baik? Jawabannya ternyata sangat sederhana:

“Analisa makro ekonominya. Kira-kira apa industry yang akan booming tahun depan, lihat valuasinya sekarang. Lu harus invest untuk beberapa tahun kedepan. Kalo masuk di industry yang booming tahun ini, udah telat. Harga udah naik”.

Saya tersadar. Kuncinya ada di time horizon. Sejauh mana kita bisa memandang masa depan.

Kualitas seorang pemimpin, inovator, atau investor diukur dari dari kemampuan melihat masa depan yang belum dilihat semua orang. Karena para innovator dan investor hebat, hidup dengan horizon yang panjang.

Meskipun definisi “masa depan” bisa sangat bervariasi.

Bagi politikus, masa depan berarti 5 tahun lagi. Seorang pengusaha mungkin menganggap masa depan berarti keadaan 10 tahun lagi. Menurut filsuf, masa depan berarti 100 tahun nanti. Sedangkan bagi spekulan, masa depan adalah apa yang terjadi 1 jam kedepan.

Melihat dan Berbuat

Ini berbeda dengan “budaya instant” yang menyerang masyarakat kita. Semuanya ingin serba cepat. Cepat kaya, cepat sehat, cepat pintar. Kita sering lupa orang yang kita lihat sukses sekarang, adalah orang yang bekerja sangat keras 10 tahun lalu.

Tak berhenti hanya melihat, innovator dan investor hebat  melakukan tindakan untuk mempersiapkan masa depan. Karena mampu melihat masa depan tanpa melakukan tindakan sama dengan melihat cewek cantik/cowok ganteng tapi ga berani berkenalan. Hasilnya kita tetap jomblo.

Ini yang membuat organisasi kelas dunia berinvestasi di teknologi yang masih belum jelas masa depannya. Karena mereka mempunyai horizon 20 hingga 50 tahun lagi.

Saat perusahaan migas kita masih meributkan harga BBM, perusahaan migas dunia terus mengembangkan energi terbarukan. Saat kita mewacanakan mobil nasional, Google dan Tesla sedang getol-getolnya riset tentang self driving car. Saat kita berdebat soal reklamasi, SpaceX sudah berambisi menciptakan koloni di luar angkasa nanti.

Jika kita tertinggal jauh dibelakang, apa yang bisa kita lakukan?

Satu-satunya cara mengejar ketertinggalan adalah bukan dengan mengikuti resep sukses yang terjadi saat ini, tapi melakukan quantum leap: memikirkan apa yang terjadi 10 tahun lagi dan mempersiapkannya dari sekarang.

Ini seperti pesan Jack Ma di World Economic Forum.

“If you want to be successful tomorrow, it’s impossible

If you want to be successful next year, it’s impossible

But if you want to be suceessful in the next 10 years, you have a chance.

Let’s compete for 10 years later. (You have to say): This is what I do believe in the next 10 years, and everything I do is for achieving that goal”.

Pelajarannya? Expand our vision, see longer horizon, and the most important thing: do the action.

https://cdn.pixabay.com/photo/2017/07/31/21/45/sea-2561397_960_720.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Centurion: Apa Rahasia Hidup Selama 100 Tahun?

Pada suatu hari Darren Hardy, pendiri majalah Success, bertemu dengan penumpang di pesawat. Ia bercerita jika punya kakek Centurion (orang yang berumur 100 tahun lebih), yang masih hidup sehat. Manusia zaman sekarang berumur 100 tahun? Wow banget.

Hardy penasaran dan ingin tahu kenapa si kakek mampu hidup selama itu. Apa rahasianya? Apa pelajaran hidupnya? Karena penasaran, Hardy menjadwalkan wawancara one on one dengan sang kakek.

http://2.bp.blogspot.com/-ojTLWPXzcNY/UL6g0G77naI/AAAAAAAAD9E/O7i77tBvGmg/s1600/100Years-300×270.gif

Awalnya si kakek menolak. Ia membenci publisitas. Tapi ia meyakinkan jika pengalaman hidupnya akan membantu orang yang masih muda. Si kakek akhirnya setuju. Mereka juga membuat kesepakatan jika sang kakek akan menuliskan pelajaran hidup yang didapatnya di atas kertas. Dalam bayangan pengarang buku Compound Effect itu, akan ada bertumpuk-tumpuk pelajaran hidup yang bisa dibagi.

Tibalah hari wawancara. Ternyata si kakek sangat kaya. Ia tinggal di rumah seperti mansion lengkap dengan petugas security. Padahal awalnya si kakek hidup miskin. Juga tidak mampu mengenyam pendidikan tinggi. Ini yang membuat Hardy semakin penasaran tentang rahasia si kakek.

Ia diterima di perpustakaan megah yang berisi berbagai macam buku. Mulai dari klasik hingga modern. Ternyata si kakek pembaca yang rajin. Meski tidak sekolah tinggi, ia terus belajar hingga masa tua.

Setelah berbasa-basi, Hardy bertanya ke pokok permasalahan. Mana daftar yang ingin dibagi?

Oh iya, kata si kakek yang kemudian merogoh sakunya. Ia menyerahkan selembar kertas. Ada sebaris kalimat tertulis disitu. Hanya ini? Tanya Hardy terkejut.

“Ya hanya satu lembar ini”.

Semua kebijaksanaan dalam 100 tahun hidupnya, hanya berupa satu kalimat?

“Iya, jika kamu mengikuti saran saya, hanya ini nasihat yang bisa saya berikan”.

Apa yang ditulis Centurion tadi?

“Only a few things matter, stick to it, and master it”.

Hanya ada beberapa hal yang penting, fokuslah, dan kuasai hal-hal penting itu.

Law of Critical Things

Saran si kakek centurion awalnya terdengar aneh. Tapi sesungguhnya sangat fundamental. Karena ternyata hidup mayoritas manusia dipusingkan dengan memikirkan banyak hal yang tak penting, dan melupakan sedikit hal yang sebenarnya benar-benar penting.

Bahasa gampangnya, mayoritas manusia menderita dua penyakit amnesia:

  1. Kita tidak tahu tujuan hidup kita
  2. Kita tidak tahu critical aspects apa saja yang berpengaruh besar dalam mencapai tujuan itu

Contohnya?

Coba lihat kehidupan kita. Apakah kita tahu LIFE GOAL yang penting dalam hidup kita? Apakah kita tahu apa yang ingin kita capai 5 tahun lagi? Apakah kita tahu warisan peradaban apa yang ingin kita tinggalkan untuk anak cucu kita?

Mayoritas dari kita beraktivitas hanya karena rutinitas. Kita tidak tahu kenapa kita melakukan apa yang biasanya kita lakukan. Rata-rata orang bekerja hanya untuk mencari uang dan membayar tagihan. Kita sering lupa jika setiap manusia pasti punya tujuan hidup yang istimewa.

Karena tidak memiliki LIFE GOAL yang jelas, kita jadi tidak bisa membedakan mana hal yang penting dan tidak penting. Kita tidak bisa mengidentifikasi “critical factor”. Apa itu? Pada dasarnya critical factor adalah aspek yang berpengaruh lebih penting dibandingkan hal lain.

Misalnya life goal kita adalah menjadi Chef kelas dunia, maka critical factor yang harus kita kuasai adalah pemilihan bahan makanan, teknik memasak, dan juga skill presentasi makanan. Bagaimana dengan ilmu manajemen keuangan restoran? Itu skill penting tapi tidak critical bagi seorang Chef. Ia bisa mendelegasikan kebutuhan skill itu dengan merekrut seorang akuntan.

Jika tujuan hidup kita adalah menjadi CEO kelas dunia, maka skill komunikasi, leadership, dan problem solving harus lebih diasah daripada kemampuan kalkulus atau matematis. Jika ingin jadi dokter paling canggih ya focus belajar ilmu kedokteran dan bisa mengesampingkan pelajaran tentang kesenian.

Karena itulah jika Anda perhatikan, semakin tinggi jenjang pendidikan maka topic yang dipelajari semakin sedikit. Pelajarannya semakin sempit tetapi pembahasannya semakin dalam. Karena sesuai pesan Centurion: Only a few things matter, stick to it, and master it.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail