Category Archives: Wisdom

Resep Menjadi Kaya dari Zaman Babilonia

Ini bukan tentang MLM.
Bukan juga soal ilmu ghoib.
Atau rahasia investasi milyarder.
Ini tentang buku klasik tahun 1926 yang selalu nongol di daftar bacaan orang-orang kaya. Membuat saya penasaran. Dan akhirnya ikutan membaca juga.
The Richest Man in Babylon. Karya George Clason. Buku kecerdasan finansial yang dirangkum dalam cerita sederhana.
Tersebutlah Arkad. Pembuat tablet tanah liat yang bisa menjadi orang terkaya di Babilonia. Koq bisa?
Karena Ia mengamalkan tiga rahasia sederhana.
Tiga Rahasia Sederhana
Arkad ternyata awalnya hanya pembuat tablet tanah liat (sebagai media tulisan/prasasti). Ia bukan founder startup, programmer hacker, atau artis bokep dengan follower jutaan.
Ia hanyalah orang biasa dengan satu pembeda: Keinginan untuk memiliki hidup yang lebih baik.
Suatu hari, Algamish, seorang kaya berkedok rentenir di zamannya, memesan tablet. Ia ingin tablet itu jadi besok pagi. Ditawarkan juga upah yang lumayan.
Tak puas hanya dengan uang, Arkad mengajukan penawaran.
“Aku akan menyelesaikan pesananmu tapi setelah itu tolong ajari aku cara menjadi kaya raya”.
Itu inti terjemahan bebas permintaan Arkad. (Jujur aja, buku ini ditulis tahun 1929 dan saya menemukan banyak kosa kata Inggris jadul yang sekarang hanya dipakai untuk menulis puisi).
Arkad rupanya mencari seorang mentor. Dan ia tahu: pengetahuan akan mendatangkan kekayaan. Satu dollar yang ditanam di kepala, akan melahirkan 100 dollar di kantong.
Algamish tertarik dengan tawaran itu. Tak biasanya ada pembuat lempeng yang ingin belajar dan bertanya tentang cara mendapat kekayaan. Kesepakatan pun dibuat.
Besoknya, setelah lembur ditemani kopi, bear brand, dan Red Bull, jadi juga tuh lempengan. Sekarang giliran Algamish yang harus menepati janjinya. Membocorkan rahasia menjadi kaya.
Resepnya jika dirangkum akan seperti ini:
“You first learned to live upon less than you could earn. Next, you learned to seek advice from those who were competent through their own experience to give it. And, lastly, have learned to make gold work for you”.
Aplikasi Tiga Saran Tadi
Bingung? Kalau saya rangkum aplikasinya, setidaknya ada tiga perkara:
#1 A part of all you earn is yours to keep.  Sisihkan 1/10 dari Pendapatan. Berapapun gaji/pendapatan Anda, wajib hukumnya untuk menyisihkan 10%. Pokoknya gimana caranya pengeluaran harus lebih kecil dari pendapatan.
#2 Terus Belajar dan Bertanya ke Para ahli
Inilah pentingnya ilmu pengetahuan dan lingkaran pergaulan. Anda ingin kaya? Maka wajib belajar dan bertanya ke orang yang tepat. Karena itulah orang-orang tajir selalu meng-hire orang yang lebih pintar dari mereka. Karena bertanya ke orang yang salah, sama saja mendapatkan jawaban yang salah.
#3 Membuat Pendapatan Bekerja
Ini tentang menggerakkan 1/10 harta yang telah kita kumpulkan. Tentang membuat uang kita berkembang dengan berinvestasi ke bisnis/asset yang tepat. Anda tak akan menjadi kaya hanya dengan menabung. Anda akan menjadi kaya lebih cepat dengan memutar tabungan Anda.
Simple kan? Secara teori iya: Sisihkan 1/10 dari penghasilan dan kumpulkan modal. Terus belajar. Dan berinvestasi / membuat usaha dengan uang yang kita kumpulkan tadi.
Namun pada praktiknya kita lebih tertarik untuk mikirin kredit sana-sini, main game sampai lupa belajar, dan menggantungkan pendapatan hanya pada pekerjaan yang memberikan kita gaji saat ini.
Karena itulah Algamish berpesan:
“Wealth, like a tree, grows from a tiny seed. The first copper you save is the seed from which your tree of wealth shall grow. The sooner you plant that seed the sooner shall the tree grow. And the more faithfully you nourish and water that tree with consistent savings, the sooner may you bask in contentment beneath its shade.”’
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ketika Malam Berakhir dan Siang Dimulai

Seorang rabi Yahudi bertanya kepada murid-muridnya:

“Bagaimana caranya agar kita tahu kapan malam berakhir dan siang dimulai?”

Karena ada doa dan ibadah yang hanya bisa dilakukan saat malam dan siang hari, para murid menganggap pertanyaan ini penting.

Murid pertama mencoba menjawab, “Rabi, ketika saya melihat ke ladang dan bisa membedakan ladang saya dan ladang tetangga, itulah saat malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi tampak kecewa mendengar jawaban itu. Ia hanya diam.

Murid kedua berkata, “Rabi, ketika saya keluar rumah dan bisa membedakan mana rumah saya dan rumah tetangga, saat itulah malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi masih terdiam.

“Rabi, ketika saya melihat hewan di kejauhan, dan saya bisa tahu hewan apa itu. Entah sapi, kuda, atau domba. Maka itu adalah saat malam berakhir dan siang dimulai”. Jawab murid ketiga.

Rabi malah menggeleng-gelengkan kepalanya.

Murid keempat tak mau kalah, “Ketika saya melihat bunga dan bisa membedakan warnanya, merah kuning atau biru. Itulah watunya malam berakhir dan siang dimulai”.

Mendengar jawaban terakhir itu malah membuat Rabi marah.

“Kalian semua tak mengerti! Kalian hanya membedakan! Kalian membedakan rumah kalian dari rumah tetangga, ladang kalian dari ladang tetangga, membedakan hewan dan warna bunga. Apa hanya ini yang bisa kita lakukan? Membedakan, memisahkan, memecah dunia jadi bagian-bagian? Apa itu guna Taurat?!? Bukan, murid-muridku tersayang, bukan seperti ini. Bukan seperti ini caranya.”

Murid-murid yang kaget tersadar telah mencerna pertanyaan Rabi dengan terlalu dangkal. Mereka menyerah dan bertanya:

“Wahai Rabi, tolong beritahu kami bagaimana cara mengetahui malam telah berakhir dan siang sudah dimulai?”.

Rabi menatap wajah murid-muridnya satu persatu. Dengan suara lembut dan menyentuh, Ia berkata:

“Ketika kalian memandang wajah orang lain, dan kalian bisa melihat bahwa orang itu adalah saudaramu, maka malam telah berakhir dan siang telah dimulai”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mendengarkan Keheningan

Pada 1952, John Milton Cage, salah satu composer music paling berpengaruh di abad 20, menulis karya yang tidak biasa.

Komposisi yang diberi judul 4’ 33” itu berisi karya music tanpa suara selama 4 menit 33 detik! Ya, John Cage menulis sebuah lagu tanpa sebuah nada apapun yang terdengar!. Kesunyian selama 4 menit, 33 detik.

Saat diwawancari oleh Richard Kostelanetz, Cage menjelaskan maksud dari 4’ 33”.

“You know I’ve a written a piece called 4’ 33” which has no sounds oh my own making in it… 4’ 33” becomes in performance the sound of the environment”.

John Cage rupanya sudah sampai di level Zen soal suara. Dia beranggapan semua suara adalah music, dan setiap benda pasti menghasilkan suara. Termasuk saat keadaan sunyi tanpa suara itu sendiri.

4’ 33” adalah ajakan untuk menikmati keheningan.

Bisingnya Kehidupan Modern

Karya John Cage masih tetap relevan saat ini karena manusia modern hampir tidak pernah menikmati keheningan.

Rutinitas manusia modern penuh dengan suara. Biasanya dimulai dari alarm pagi. Atau bunyi ayam jantan yang mengikuti suara adzan.

Setelah itu suara TV/radio/pemutar music terus menemani kita beraktivitas.

Kita mendegarkan berita saat sarapan. Menyetel music di kendaraan. Menguping pembicaraan di tempat kerja. Menonton youtube menjelang tidur. Sampai memutar lagu slow sebagai teman tidur.

Kapan kita bisa mendegarkan suara kita sendiri? Atau pertanyaan yang lebih penting: Kenapa kita perlu mendengarkan suara kita sendiri?

Pada dasarnya manusia yang tidak mendengarkan dirinya sendiri akan tumbuh sebagai manusia yang gelisah.

Hidupnya butuh pengakuan dari luar tanpa pernah mendengar kedalam.

Ia butuh pembenaran. Entah pembenaran secara social, atau pengakuan dari sisi material.

Mereka memiliki sesuatu karena orang lain menghargai itu. Memilih sesuatu karena manusia lain menginginkan itu. Hidup dengan cara tertentu karena masyarakat umum menganggapnya berharga.

Senyum Bahagia

Jika Anda berlatih meditasi, konon salah satu latihan yang penting untuk dikuasai adalah: mendengarkan nafas sendiri. Kenapa hal ini penting?

Karena ini adalah proses mencapai pratyahara. Kondisi sadar terhadap diri sendiri dan tidak terpengaruh oleh kondisi luar.

Itu berarti mengerti jika kebahagiaan dapat dimiliki hanya dengan bermodal senyuman, dan penerimaan terhadap diri sendiri.

Meditasi Yoga senyuman sungguh ceria:

Duduklah, rileks.

Tarik nafas dan senyumlah

Bahagialah, damailah

Mari kita lakukan yoga senyuman

Senyumlah. Senyum lagi. Senyumlah seakan-akan Anda tercerahi.

Bahagia, penuh rahmat, ceria.

Orang yang sadar diri tidak akan merasa kesepian ditengah keheningan. Karena mereka tetap bisa mendengarkan suara kesunyian.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pikiran yang Terkunci

Semalam saya naik pesawat JOG-CGK. Rutinitas mingguan seorang anggota PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Flight saya mendarat jam 23.30 dan karena ga dapat garbarata, kami diangkut menggunakan bus menuju terminal kedatangan 2F bandara Soetta.

Alhamdulilah dapat duduk di hot seat (kursi 1-5, 12 dan 14 maskapai AirAsia), dan itu berarti saya bisa boarding dan turun duluan. Lumayan membantu untuk yang pingin cepet-cepet keluar bandara (sekalian promosi dikit hehe).

Rombongan pertama pun sudah sampai di arrival gate. Begitu kagetnya kami karena pintu dalam keadaan tertutup dan tidak ada petugas yang berjaga!. Wah apa gara-gara final Piala Dunia nih ga ada petugas satu orang pun yang terlihat.

Kami pun mengantri didepan pintu, menunggu adanya petugas untuk membantu. Tiga menit berlalu, penumpang mulai kzl. Terdengar geraman dan komplain. Semua menyalahkan tidak adanya bantuan petugas terhadap penumpang yang kebingungan.

Lima menit hampir berlalu ketika tiba-tiba ada penumpang yang iseng mendorong pintu. Dan ternyata GA DIKUNCI dong! Jadi kita semua tadi berdiri ngantri di depan pintu yang sebenarnya bisa dibuka!

Cracker

Saya jadi sadar, selama lima menit pikiran kami-lah yang “terkunci”. Tidak berani membuka pintu. Mungkin karena ini lingkungan bandara, pintu tertutup, dan ada electronic key di samping tembok. Pikiran kami otomatis menciptakan hipotesa: jangan masuk kalau tidak berkuasa.

Hey, bukankah hidup juga seperti ini? Betapa sering pikiran kita menciptakan gembok saat ada peluang didepan mata. Kunci itu bisa berupa kata-kata:

“Project ini terlalu sulit…”

“Saya tidak punya sumber daya…”

“Lebih baik menunggu arahan atasan…”
Untuk membuka kunci itu, kita harus belajar menjadi cracker dan menerapkan prinsip tagline iklan: #JustDoIt, #BikinJadiNyata, #MulaiAjaDulu.

Seperti “penumpang cracker” yang iseng-iseng mendorong pintu dan membantu penumpang lain untuk menemukan jalan, para inovator adalah orang-orang yang bisa membuka gembok kebuntuan.

Karena kebuntuan itu ada didalam pikiran. Karena pintu bernama peluang itu selalu terbuka. Karena merupakan tugas kita sebagai manusia untuk berani mencoba.

source: freepik.com
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#5 Akibat Kejujuran

source: freepik

Syekh Abdul Qadir al-Jilani bercerita, “Aku membangun urusanku di atas kejujuran. Suatu ketika aku pergi dari Mekah ke Baghdad untuk menuntut ilmu. Waktu itu Ibuku memberi uang 40 dinar. Beliau berpesan agar aku berjanji untuk selalu jujur.

Ketika sampai di negeri Hamdan (Yaman), ada gerombolan perampok yang mencegat. Salah seorang datang menghampiriku dan bertanya, “Apa yang kau bawa?”

Aku menjawab, “Aku membawa 40 dinar”. 1 dinar sekitar 4,25 gram emas.

Laki-laki itu menyangka aku mengejeknya dan meninggalkanku. Namun ada perampok lain yang melihat dan bertanya hal yang sama, “Apa yang kau bawa?”.

Aku pun menjawab dengan jawaban yang sama. Setelah itu ia membawaku ke pimpinan mereka. Ketika pemimpin perompak bertanya, aku lagi-lagi menjawab apa adanya. Ia justru penasaran, “Apa yang membuatmu berkata jujur seperti ini?”.

Aku jawab, “Ibuku sudah berpesan kepadaku agar aku berjanji untuk bersikap jujur. Aku takut jika sampai mengkhianati pesannya”.

Pimpinan perampok itu merasa tersentuh. Ia berteriak dan menangis, “Engkau takut jika mengkhianati janji ibumu, sementara aku tidak takut ketika mengkhianati janji Allah!”.

Ia lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengembalikan semua harta rampasan yang mereka ambil. Dan berkata, “Aku bertobat kepada Allah melalui dirimu”.

Anggota yang lain akhirnya juga ikut insyaf setelah melihat pemimpin mereka bertobat.

Sayyid Husain Affani dalam Shalahul Ummah fi Uluwwil Himmah (5/45)

Sumber: Air Minum Dari Langit (2016).

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Horizon

Saya bertanya ke teman sekaligus mentor untuk urusan investasi. Bagaimana sih cara membuat investment plan yang baik? Jawabannya ternyata sangat sederhana:

“Analisa makro ekonominya. Kira-kira apa industry yang akan booming tahun depan, lihat valuasinya sekarang. Lu harus invest untuk beberapa tahun kedepan. Kalo masuk di industry yang booming tahun ini, udah telat. Harga udah naik”.

Saya tersadar. Kuncinya ada di time horizon. Sejauh mana kita bisa memandang masa depan.

Kualitas seorang pemimpin, inovator, atau investor diukur dari dari kemampuan melihat masa depan yang belum dilihat semua orang. Karena para innovator dan investor hebat, hidup dengan horizon yang panjang.

Meskipun definisi “masa depan” bisa sangat bervariasi.

Bagi politikus, masa depan berarti 5 tahun lagi. Seorang pengusaha mungkin menganggap masa depan berarti keadaan 10 tahun lagi. Menurut filsuf, masa depan berarti 100 tahun nanti. Sedangkan bagi spekulan, masa depan adalah apa yang terjadi 1 jam kedepan.

Melihat dan Berbuat

Ini berbeda dengan “budaya instant” yang menyerang masyarakat kita. Semuanya ingin serba cepat. Cepat kaya, cepat sehat, cepat pintar. Kita sering lupa orang yang kita lihat sukses sekarang, adalah orang yang bekerja sangat keras 10 tahun lalu.

Tak berhenti hanya melihat, innovator dan investor hebat  melakukan tindakan untuk mempersiapkan masa depan. Karena mampu melihat masa depan tanpa melakukan tindakan sama dengan melihat cewek cantik/cowok ganteng tapi ga berani berkenalan. Hasilnya kita tetap jomblo.

Ini yang membuat organisasi kelas dunia berinvestasi di teknologi yang masih belum jelas masa depannya. Karena mereka mempunyai horizon 20 hingga 50 tahun lagi.

Saat perusahaan migas kita masih meributkan harga BBM, perusahaan migas dunia terus mengembangkan energi terbarukan. Saat kita mewacanakan mobil nasional, Google dan Tesla sedang getol-getolnya riset tentang self driving car. Saat kita berdebat soal reklamasi, SpaceX sudah berambisi menciptakan koloni di luar angkasa nanti.

Jika kita tertinggal jauh dibelakang, apa yang bisa kita lakukan?

Satu-satunya cara mengejar ketertinggalan adalah bukan dengan mengikuti resep sukses yang terjadi saat ini, tapi melakukan quantum leap: memikirkan apa yang terjadi 10 tahun lagi dan mempersiapkannya dari sekarang.

Ini seperti pesan Jack Ma di World Economic Forum.

“If you want to be successful tomorrow, it’s impossible

If you want to be successful next year, it’s impossible

But if you want to be suceessful in the next 10 years, you have a chance.

Let’s compete for 10 years later. (You have to say): This is what I do believe in the next 10 years, and everything I do is for achieving that goal”.

Pelajarannya? Expand our vision, see longer horizon, and the most important thing: do the action.

https://cdn.pixabay.com/photo/2017/07/31/21/45/sea-2561397_960_720.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Centurion: Apa Rahasia Hidup Selama 100 Tahun?

Pada suatu hari Darren Hardy, pendiri majalah Success, bertemu dengan penumpang di pesawat. Ia bercerita jika punya kakek Centurion (orang yang berumur 100 tahun lebih), yang masih hidup sehat. Manusia zaman sekarang berumur 100 tahun? Wow banget.

Hardy penasaran dan ingin tahu kenapa si kakek mampu hidup selama itu. Apa rahasianya? Apa pelajaran hidupnya? Karena penasaran, Hardy menjadwalkan wawancara one on one dengan sang kakek.

http://2.bp.blogspot.com/-ojTLWPXzcNY/UL6g0G77naI/AAAAAAAAD9E/O7i77tBvGmg/s1600/100Years-300×270.gif

Awalnya si kakek menolak. Ia membenci publisitas. Tapi ia meyakinkan jika pengalaman hidupnya akan membantu orang yang masih muda. Si kakek akhirnya setuju. Mereka juga membuat kesepakatan jika sang kakek akan menuliskan pelajaran hidup yang didapatnya di atas kertas. Dalam bayangan pengarang buku Compound Effect itu, akan ada bertumpuk-tumpuk pelajaran hidup yang bisa dibagi.

Tibalah hari wawancara. Ternyata si kakek sangat kaya. Ia tinggal di rumah seperti mansion lengkap dengan petugas security. Padahal awalnya si kakek hidup miskin. Juga tidak mampu mengenyam pendidikan tinggi. Ini yang membuat Hardy semakin penasaran tentang rahasia si kakek.

Ia diterima di perpustakaan megah yang berisi berbagai macam buku. Mulai dari klasik hingga modern. Ternyata si kakek pembaca yang rajin. Meski tidak sekolah tinggi, ia terus belajar hingga masa tua.

Setelah berbasa-basi, Hardy bertanya ke pokok permasalahan. Mana daftar yang ingin dibagi?

Oh iya, kata si kakek yang kemudian merogoh sakunya. Ia menyerahkan selembar kertas. Ada sebaris kalimat tertulis disitu. Hanya ini? Tanya Hardy terkejut.

“Ya hanya satu lembar ini”.

Semua kebijaksanaan dalam 100 tahun hidupnya, hanya berupa satu kalimat?

“Iya, jika kamu mengikuti saran saya, hanya ini nasihat yang bisa saya berikan”.

Apa yang ditulis Centurion tadi?

“Only a few things matter, stick to it, and master it”.

Hanya ada beberapa hal yang penting, fokuslah, dan kuasai hal-hal penting itu.

Law of Critical Things

Saran si kakek centurion awalnya terdengar aneh. Tapi sesungguhnya sangat fundamental. Karena ternyata hidup mayoritas manusia dipusingkan dengan memikirkan banyak hal yang tak penting, dan melupakan sedikit hal yang sebenarnya benar-benar penting.

Bahasa gampangnya, mayoritas manusia menderita dua penyakit amnesia:

  1. Kita tidak tahu tujuan hidup kita
  2. Kita tidak tahu critical aspects apa saja yang berpengaruh besar dalam mencapai tujuan itu

Contohnya?

Coba lihat kehidupan kita. Apakah kita tahu LIFE GOAL yang penting dalam hidup kita? Apakah kita tahu apa yang ingin kita capai 5 tahun lagi? Apakah kita tahu warisan peradaban apa yang ingin kita tinggalkan untuk anak cucu kita?

Mayoritas dari kita beraktivitas hanya karena rutinitas. Kita tidak tahu kenapa kita melakukan apa yang biasanya kita lakukan. Rata-rata orang bekerja hanya untuk mencari uang dan membayar tagihan. Kita sering lupa jika setiap manusia pasti punya tujuan hidup yang istimewa.

Karena tidak memiliki LIFE GOAL yang jelas, kita jadi tidak bisa membedakan mana hal yang penting dan tidak penting. Kita tidak bisa mengidentifikasi “critical factor”. Apa itu? Pada dasarnya critical factor adalah aspek yang berpengaruh lebih penting dibandingkan hal lain.

Misalnya life goal kita adalah menjadi Chef kelas dunia, maka critical factor yang harus kita kuasai adalah pemilihan bahan makanan, teknik memasak, dan juga skill presentasi makanan. Bagaimana dengan ilmu manajemen keuangan restoran? Itu skill penting tapi tidak critical bagi seorang Chef. Ia bisa mendelegasikan kebutuhan skill itu dengan merekrut seorang akuntan.

Jika tujuan hidup kita adalah menjadi CEO kelas dunia, maka skill komunikasi, leadership, dan problem solving harus lebih diasah daripada kemampuan kalkulus atau matematis. Jika ingin jadi dokter paling canggih ya focus belajar ilmu kedokteran dan bisa mengesampingkan pelajaran tentang kesenian.

Karena itulah jika Anda perhatikan, semakin tinggi jenjang pendidikan maka topic yang dipelajari semakin sedikit. Pelajarannya semakin sempit tetapi pembahasannya semakin dalam. Karena sesuai pesan Centurion: Only a few things matter, stick to it, and master it.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Misteri Tentang Bayi yang Masih Belum Saya Mengerti

Untuk Yoda yang merasakan kehidupan dalam satu bulan,

Whats up broo

#1 Kenapa bayi memiliki ekspresi imut dan lucu?

Jangan-jangan itu adalah sebuah bentuk self defense mechanism untuk bertahan hidup. Ia membuat manusia dewasa merasa iba dan mau merawatnya. Hampir sama dengan binatang yang mengembangkan tanduk, taring, dan organ intimidatif untuk menegaskan kekuatan dan bahaya yang mengancam predator. Keimutan menjelma jadi senjata tak kasat mata.

#2 Jika bayi merasa bahagia hanya dengan air susu ibunya, kenapa manusia dewasa tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka punya?

Merawat bayi mengajarkan kita: betapa sederhananya hidup manusia. Asal cukup susu, popok yang kering, dan suhu yang hangat, bayi sudah merasa bahagia. Anehnya syarat menjadi bahagia semakin meningkat seiring bertambahnya usia.

Banyak manusia dewasa yang cukup sandang, pangan, dan papan tapi tetap merasa menderita. Kenapa kita tidak bisa merasa bahagia dengan syarat yang sederhana?

#3 Saat bayi, manusia tidak bisa menghidupi dirinya, kenapa setelah dewasa ia merasa paling berkuasa?

Bayi sapiens adalah salah satu bayi paling rapuh dibandingkan makhluk lainnya. Dalam hitungan jam bayi kuda bisa berlari, dan dalam hitungan hari anak ayam sudah bisa mencari makan sendiri.

Seorang sapiens kecil harus disuapi makanan bertahun-tahun sebelum bisa bertahan hidup mandiri. Dan anehnya, saat mereka besar para sapiens bertingkah seperti penguasa jagat raya. Apakah mereka tidak ingat ketika mereka masih balita?

#4 Seorang bayi laki-laki menangis paling keras, kenapa setelah dewasa ia malu jika berurai air mata?

Lelaki jangan cengeng. Sebuah ungkapan yang aneh menurut saya. Karena menangis itu tanda kecerdasan emosional yang sehat. Banyak karya sastra terinspirasi dari tangisan. Seperti “Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis”-nya Coelho atau sajak “Maka Pada Suatu Pagi” dari Sapardi:

Maka pada suatu pagi hari dia ingin sekali

menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu

Dia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik

dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja

sambil menangis dan tak ada orang bertanya ‘Kenapa?’

#5 Kenapa kita tidak bisa mengingat masa-masa bayi kita sendiri?

Bayi “menderita” infantile amnesia, dan baru bisa merekam memori umur 3-4 tahun. Mungkin Tuhan menciptakan amnesia itu agar otak kita overload informasi, dan cukup mengingat hal-hal penting saja.

Masalahnya banyak anak yang songong dengan orang tuanya karena efek infantile amnesia. Mereka tidak ingat perjuangan orang tua-nya dalam melahirkan dan membesarkan dirinya.

Jika kita bisa mengingat masa-masa bayi kita, saya yakin semua akan tambah sayang kepada orang tua kita. Karena kita tahu betapa repotnya mengganti popok, lelahnya menyusui, dan capeknya menggendong untuk mengajak tidur. Masih tega ngomong kasar ke orang tua sendiri?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#94 The Power of Niat: Ternyata Motivasi Sangat Berarti

Dalam cerita sufi disebutkan ada sebuah pohon angker yang menjadi tempat menaruh sesajen. Mendengar ini, seorang laki-laki sholeh ingin menebang pohon itu. Menggunakan kapak, ia berangkat dan bertekad untuk memotong-motongnya menjadi kayu bakar.

Ditengah jalan ia bertemu dengan setan yang menyamar menjadi manusia. Setan bertanya:

“Hai Abu Ahmad, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku ingin menebang pohon keramat di desa tetangga”.

“Kenapa kamu ingin menebangnya?”

“Aku takut pohon itu menjadi sumber kesyirikan”.

Setan mencegat jalanan yang ingin dilalui. Karena tidak mau minggir akhirnya mereka berkelahi. Setelah melalui pergulatan, si setan bisa dikalahkan.

Setan yang babak belur meluncurkan tipus muslihat lain:

“Wahai fulan, aku tahu engkau orang yang saleh, tapi hidupmu kekurangan. Jika kau mau menunda niatmu menebang pohon itu, setiap hari engkau akan menemukan 2 keping perak dibawah bantalmu. Pulang dan periksalah jika tidak percaya”.

Mendengar tawaran itu, sang lelaki bergeming. Bayaran 2 keping yang bisa ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari terbersit dikepala. Ia bisa semakin khusuk beribadah dengan uang itu.

Akhirnya ia ingin membuktikan ucapan si setan. Ia lalu pulang dan benar-benar menemukan uang perak. Keesokan harinya, ia tidak menemukan uang perak “jatah harian” yang dijanjikan.

“Dasar setan penipu! Akan kutebang pohon itu”.

Ditengah jalan lagi-lagi ia dihadang oleh setan. Kini ia tersenyum. Lelaki yang masih marah kembali berkelahi dengan setan. Tapi kali ini dengan mudah setan bisa mengalahkan sang pemuda.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa tambah kuat?” tanya si pemuda.

“Sesungguhnya aku tidak bertambah kuat. Tapi niatmu yang melemah. Kemarin engkau ingin menebang pohon itu karena Allah, sekarang kau ingin menebangnya karena tidak mendapatkan uang perak”.

Niat dan Motivasi

Niat, dalam hal ini motivasi ternyata berperan penting pada prestasi. Banyak penelitian dan teori menegaskan hal ini.

Dalam manajemen, pegawai yang bermotivasi cenderung memiliki kinerja yang lebih tinggi (Robescu: 2016). Hal yang sama juga berlaku dalam pendidikan. Murid dengan motivasi dan determinasi tinggi, cenderung mampu menyelesaikan studi (Stevanovic:2014).

Percobaan yang dilakukan Robert Nida (2015) pada anak menunjukkan hal yang serupa. Ada 72 anak berusia 4 tahun diminta bermain untuk mengingat 10 mainan acak. Ada tiga grup dengan perlakukan berbeda: incidental, intensional, motivasional.

Di grup incidental, si anak tidak diberi intruksi apa-apa dan langsung diminta mengingat daftar mainan yang mereka pegang beberapa saat sebelumnya. Grup kedua, intensional, peneliti di awal sesi sudah berkata: “Coba ingat-ingat mainan yang kamu mainkan nanti”.

Sedangkan di grup ketiga, peneliti memberikan motivasi: mainan yang mereka ingat berhak untuk mereka simpan. Grup mana yang anak-anaknya memiliki kemampuan mengingat lebih baik? Sesuai hipotesis, grup motivasional secara rata-rata mampu mengingat lebih banyak dibanding grup lainnya.

Karena sesuai dengan inti cerita sufi: motivasi yang kita cari akan menentukan hasil yang kita temui. Dan anehnya, manusia akan mendapatkan hasil sesuai motivasi mereka. Setidaknya itu prinsip expectation theory dari Victor Vroom yang percaya jika:

“Intensity of work effort depends on the perception that an individual’s effort will result in a desired outcome”

Karena itu jika mengalami stagnansi dalam hidup, coba pertanyakan niatnya.

Jika bisnis sedang lesu, coba tanyakan lagi: apa motivasi kita dalam berbisnis?

Jika karier sedang mentok, coba gali lagi: apa yang ingin kita cari dalam bekerja?

Jika buntu dalam studi, coba perdalam lagi: apa yang ingin kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki?

Jangan-jangan motivasi kita terlalu banal dan dangkal, sehingga tidak mampu menghasilkan karya monumental. Karena sesuai pesan Nabi: amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.

source image https://ishfah7.files.wordpress.com/2017/03/niat.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Honesty Lesson from a Badui

 

For those who are honest to Allah, He will be honest with his creature. It means Allah will help them, simplify their business, grant their wishes, and fulfill their needs. One of an example of honesty to Allah is a story from Imam an Nasa’I. It’s a story about a “Badui” (people who live in rural area), who converted to Islam with pure faith and divine motivation.

Imam an-Nasa’I quoted from Syaddad bin al-Had.

There was a Badui who met the Prophet after joining Islam. The Badui’s said: “I will be hijrah (move from Mecca to Madina) with you”.

During the period of wars with kafir people at that time, the Badui participated in one of it. After war, usually Muslims will gain ghanimah, means assets acquired from wars. The Prophet will distribute the ghanimah for those who joined.

The Badui’s also received ghanimah. Surprisingly, he asked:

“What is this?”

His muslim brother said, “Your ghanimah, The Prophet gave it to you”.

So he came to Muhammad the Prophets and asked: “What is this?”

Muhammad the Prophets said, “Yours”.

The Badui’s replied,

“This is not my motivation. I followed you because Continue reading Honesty Lesson from a Badui

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail