Category Archives: Wisdom

Eudaimonia

Eudaimonia from elenchusacademy.wordpress.com

Suatu hari, Paulo Coelho, pengarang novel best seller Alchemist, sedang berlibur di Spanyol. Pada saat sedang berjalan di stasiun kereta, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Coelho ingin membantu pengemis itu, tapi sebelum memberi, ia berpikir: Hey, aku adalah seorang turis, pengemis seperti ini umum ditemui dimana pun.

Akhirnya ia pun bergegas pergi. Meninggalkan pengemis tadi.

Malam hari, entah mengapa, Coelho kembali terkenang wajah sang pengemis. Ia sudah bertemu ribuan peminta-minta, tetapi ekspresi sang pengemis menimbulkan iba yang mendalam. Ia sampai tidak bisa tidur. Terus menyesal. Mengapa ia tidak membantu orang yang kesusahan ketika ada kesempatan?

Besoknya, ia kembali ketempat sang pengemis berada. Nihil. Tak ada disana. Ia lalu memutuskan berjalan-jalan mengelilingi kota, berharap berpapasan dengan orang miskin yang terus menghantui hidupnya. Tapi tetap saja, hingga liburannya usai, tak ada lagi pertemuan yang diharapkan.

Coelho lalu kembali ke Brazil. Berharap melupakan kejadian dengan pengemis itu. Tapi percuma. Sang pengemis terus hadir di kehidupan Coelho. Menciptakan penyesalan, ketersiksaan, dan penderitaan. Sadar jika Tuhan memiliki rencana besar, tidak butuh waktu lama bagi Coelho untuk kembali ke Spanyol. Kali ini bukan demi liburan penuh kesenangan, tapi menjawab teka-teki yang terus menghantui. Tujuannya Cuma satu: menunaikan kebaikan yang sempat tertunda!.

Satu-dua hari berlalu. Menjadi seminggu. Coelho sudah mengelilingi kota, hingga sudut-sudut tersempit. Hasilnya nihil. Pengemis itu bagaikan menghilang tanpa jejak Continue reading Eudaimonia

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Pemuda Batu

Sumpah pemuda pasti ngomongin pemuda. Ga mungkin kan ngomongin kakek tua. Kami, pemuda Indonesia berbangsa satu, berbahasa satu, dan beristri satu bla bla bla gitu deh.. pasti bosen kan klo saia nulis begituan? Karena itu saya Cuma mau sharing cerita rakyat Himalaya tentang Para Pangeran Berubah Menjadi Batu. Cerita ini saya cuplik dari Si Gajah dan Sekumpulan Semut karya Eurice de Souza. Buku berisi kumpulan cerita rakyat India. Cekidot bro:

ronosaurusrex.com

Pada suatu masa, hiduplah seorang raja yang memiliki tiga orang putra. Sang raja sering meminta ketiga putranya berkuda mengelilingi kerajaan untuk mengetahui keadaan rakyatnya.

Suatu hari, ketika putra sulung tengah berkuda melewati sebuah hutan, ia melihat empat ekor kuda yang gagah sedang merumput di pinggir sebuah kolam. Seorang pertapa mengawasi kuda-kuda itu selagi mereka merumput.

“Tuan”, kata pangeran seraya berjalan mendekati pertapa itu, “Mereka adalah kuda-kuda tercantik yang pernah saya lihat. Bolehkah aku menunggangi salah satu kuda ini sebentar saja?”

“Tentu saja boleh”, jawab sang pertapa. “Pilih satu kuda yang paling kau sukai dan silakan tunggangi sepanjang hari ini. Tetapi, kau harus kembali sebelum sore, dan ceritakan petualanganmu kepadaku serta apa artinya. Jika tidak, aku akan mengubahmu menjadi pilar batu”.

Sang pangeran merasa sangat senang. Ia menaiki seekor kuda dan pergi menungganginya. Selagi berkuda, pangeran melewati sepetak kecil kebun sayur mayor yang dipagari dengan papan kayu yang panjang dan tajam sehingga tidak bisa dimasuki oleh siapa pun. Ketika ia berhenti untuk melihat-lihat tempat itu, betapa terkejutnya sang pangeran melihat papan kayunya berubah menjadi sabit yang kemudian bergerak memangkas sayur mayor didalam kebun.

Bingung dan ketakutan, pangeran berkuda pulang secepat mungkin untuk kembali ke pinggir kolam, dan ia pun menceritakan kepada pertapa apa yang telah ia lihat.

“Apa arti kejadian itu?” tanya pertapa.

“Aku tidak tahu” jawab pangeran. “Kupikir justru Tuanlah yang akan menjelaskan artinya padaku”

“Tidak tahu!” seru pertapa. “Bagaimana mungkin kau bisa memimpin sebuah kerajaan jika kau tidak bisa memahami bahkan untuk hal-hal yang paling sederhana? Kau akan berubah menjadi batu karena kebodohanmu”.

Segera setelah kutukan itu diucapkan oleh pertapa, pangeran berubah menjadi sebuah pilar batu.

Keesokan harinya, pangeran kedua berkuda menuju untuk mencari kakaknya, dan ia pun bertemu dengan pertapa di pinggir kolam beserta keempat kuda yang sedang merumput. Sama seperti kakaknya, pangeran kedua juga bertanya kepada pertapa apakah ia boleh menunggangi salah satu kuda itu, dan sang pertama pun menyebutkan syarat yang sama.

“Aku sudah beribu-ribu kali berkuda melewati daerah ini” kata pangeran. “Dan, aku tidak pernah melihat sesuatu yang aneh”.

“Kita lihat saja nanti” balas pertapa, dan pangeran kedua pun berkuda ketempat yang jauh.

Beberapa jam kemudian, ia kembali.

“jadi bagaimana?” tanya pertapa. “Apakah kau melihat sesuatu yang aneh?”

“Oh, iya” jawab pangeran. “Aku bertemu dengan seorang Continue reading Tiga Pemuda Batu

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Togog

Togog

Dalam cerita pewayangan, selalu ada dikotomi. Hitam melawan putih. Kanan melawan kiri. Baik dan buruk. Termasuk urusan tokoh. Ada Pandawa, ada Kurawa. Pandawa memiliki penasihat bernama Semar, sedangkan Kurawa mempunyai Togog.

Togog pada dasarnya seorang dewa. Ia lahir lebih dulu dari semar. Ia lahir dari telur Sang Hyang Tunggal. Kulitnya menjadi Togog, putih telurnya adalah Semar, dan kuningnya berupa Batara Guru. Suatu ketika, mereka berdebat tentang siapa yang pantas menggantikan Sang Hyang Wenang, penguasa para dewa.

Akhirnya diadakan kontes, mereka yang dapat memakan gunung dan memuntahkannya kembali akan menjadi pemenang. Togog yang mendapat giliran pertama langsung mencoba. Ia langsung mencaplok gunung itu. Malangnya, ia gagal. Ilmunya masih kurang. Hasilnya bibir Togog robek. Sejak itu Togog digambarkan sebagai sosok bermulut dower, bermata juling, hidung pesek, tak bergigi dan berkepala botak.

Togog hanyalah symbol, tentang nafsu angkara murka. Pelajaran bagi manusia yang ingin menguasai semuanya, pada akhirnya tak akan mendapatkan apa-apa. Dan manusia modern lebih sakti daripada Togog. Zaman sekarang, bukan hanya gunung yang dimakan. Hutan, laut, sampai isi perut bumi terus disikat.

Togog abad 21 lahir dalam model hyper konsumsi. Mengkonsumsi semuanya. Menikmati segalanya. Menguasai semua yang ada. Lihatlah problem masyarakat modern: terus merasa kekurangan. Mobil kurang mewah, rumah kurang luas, gadget kurang canggih, fashion kurang modis, tabungan kurang banyak.

Tanah

Memang takkan penuh mulut manusia sebelum ia ditutupi tanah. Dalam cerita pendek Leo Tolstoy, Seberapa Luas Tanah yang Diperlukan Seseorang? Tersebutlah seorang petani bernama Pakhom. Awalnya ia hidup miskin, dan berkat usahanya, ia bisa mendapatkan tanah yang lebih luas.

Tapi bisikan nafsu terus mengganggu. Ia tergoda untuk memiliki tanah yang lebih luas lagi. Akhirnya ia datang ke sebuah daerah dan dia mendatangi orang-orang Bashkir untuk membeli tanah yang ia anggap masih tergolong murah. Pakhom diterima oleh Starshina (kepala suku), dan melakukan pembelian dengan transaksi yang berbeda dari jual beli tanah pada lazimnya.

Continue reading Togog

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Atman

Atmanconnection
atmanconnection.com

Seorang teman bertanya, apa perbedaan senang dan bahagia?

Teman tadi mengajukan preposisi sederhana, seringkali kita merasakan kesenangan, tapi apakah kita merasakan kebahagiaan? Contohnya ketika kita memenangkan hadiah undian berupa mobil. Kita merasa senang. Tapi mengapa kesenangan itu berubah menjadi kesedihan ketika ternyata kita mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil tadi.

Mobil yang semula menjadi sumber kebahagiaan, tiba-tiba menjadi sumber penderitaan. Betapa relatifnya hidup.

Pertanyaan mengenai kebahagiaan sesungguhnya adalah pertanyaan tentang eksistensi kemanusiaan. Pemikiran tentang ini membayangi para filsuf dan bijak bestari sejak dahulu kala. Epicurus, penggagas hedonism, beranggapan bahwa manusia hidup untuk mencari kebahagiaan. Tapi sayangnya pengikutnya mempelintir definisi kebahagiaan hanya sebagai pemenuhan kesenangan.

Padahal Epicurus mengejar sebuah keadaan tanpa rasa takut (ataraxia) dan tidak adanya rasa sakit (aponia). Kebahagiaan jenis ini hanya bisa dikejar dengan pengetahuan, hubungan pertemanan dengan kasih sayang, dan hidup dengan kebaikan. Kebahagiaan tidak dicapai dengan makan sekenyang-kenyangnya, tidur sepuas-puasnya, bercinta sekuat-kuatnya, atau minum sebanyak-banyaknya.

4 F

Karen Armstrong dalam Compassion menyebutkan bahwa manusia memiliki “otak tua” guna mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan bertumpu pada 4 F: feeding, fighting, fleeing, dan f**king. Manusia butuh makan, mempertahankan hidup, dan memproduksi keturunan. Dan seiring perkembangan peradaban, manusia menciptakan “otak baru”, neokorteks. Pusat penalaran yang membuat kita mampu merenungkan diri sendiri, dunia, dan membentengi diri dari hasrat naluriah primitif itu.

Paul Broca, seorang ahli anatomi Prancis pada 1878 menemukan wilayah yang disebut le grand lobe limbique. Penelitian yang diperkuat oleh Paul Maclean yang menyebutkan bahwa emosi positif belas kasih, sukacita, ketenangan, dan kasih sayang tidak dihasilkan oleh hipotalamus, tapi system limbic yang diduga terletak dibawah korteks. Evolusi otak manusia yang semula hanya memikirkan hasrat fisik mempertahankan kehidupan, ternyata memiliki tempat untuk berkembangnya kelembutan dan kemanusiaan.

Bangsa Arya di India mampu menjadi contoh “penciptaan kebahagiaan” yang lebih tinggi. Kebiasaan berperang yang tak memberikan apa-apa mampu mereka redam. Lahirlah Upanishad, sebuah serangan terhadap pencarian kenikmatan indrawi. Menuju pencarian surgawi. Material berkembang ke spiritual.

Para guru bijak berusaha menemukan atman, “diri sejati” yang menjadi inti. Sesuatu yang absurd. Karena seperti pesan Yajnavalkya Continue reading Atman

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pulang

pointer.co.idIbrahim bin Adham adalah seorang pangeran dari kerajaan Balkh yang terletak di Khurasan. Pada suatu siang, ia memimpin pertemuan dengan menteri-menterinya di balairung istana yang megah. Tiba-tiba masuk seorang lelaki berwajah buruk rupa kedalam ruang pertemuan tersebut. Wajahnya sangat menakutkan sehingga menteri maupun pengawalnya tidak berani memandang.

Dengan tenang, lelaki itu melangkah ke depan singgasana raja.

“Apakah yang kau inginkan?” tanya Ibrahim.

“Aku baru saja sampai di tempat persinggahan ini” jawab lelaki itu.

“Ini bukan sebuah persinggahan para kafilah. Ini adalah istanaku. Engkau sudah gila!” sanggah Ibrahim.

“Siapa pemilik istana ini sebelum engkau?” tanya sang lelaki.

“Ayahku!” jawab Ibrahim.

“Dan sebelum ayahmu?”

“Kakekku!”

“Sebelum kakekmu?”

“Ayah dari kakekku!”

“Dan sebelum dia?”

“Kakek dari kakekku”

“Kemanakah mereka sekarang?’ tanya si lelaki.

“Mereka telah tiada, mereka telah meninggal dunia!” jawab Ibrahim dengan nada geram.

“Jika demikian, bukankah ini sebuah persinggahan yang dimasuki oleh seseorang dan ditinggalkan oleh yang lainnya?”

Setelah berkata demikian, laki-laki itu menghilang. Meninggalkan Ibrahim yang bergetar ketakutan. Ada yang bilang jika lelaki itu Khidir, sosok misterius yang pernah menjadi guru Musa. Yang jelas, seperti dongeng sufistik lainnya, selalu lahir keajaiban. Ada Continue reading Pulang

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Keheningan, Kedamaian, Keramaian

poekitty.comPara pencari sesuatu yang sejati selalu mencintai sepi. Mereka mendambakan kedamaian dalam keheningan. Menolak segala bentuk kegaduhan, keramaian, dan kemegahan hiruk-pikuk kehidupan. Dunia dipandang sebagai permainan yang penuh kepalsuan. Kefanaan yang penuh nafsu dan harus dihinakan.

Maka sejarah mencatat para pencerah yang memulai dari keheningan. Seperti Musa yang pergi ke gunung Sinai, atau Muhammad yang mendapat wahyu di gua hira. Juga kaum sufi dan pertapa shramana yang terus berkelana. Mencari Ia yang utama.

Tapi, apakah pencerahan hanya bisa diperoleh dalam keheningan? Dalam magnum opus Kuntowijoyo Dilarang Mencintai Bunga-Bunga diceritakan pertentangan batin seorang anak. Ia berkawan dengan seorang kakek tua yang mencintai kedamaian. Lewat bunga.

…Hidup harus penuh dengan bunga-bunga. Bunga tumbuh, tidak peduli hiruk-pikuk dunia. Ia mekar. Memberikan kesegaran, keremajaan, keindahan. Hidup adalah bunga-bunga. Aku dan kau salah satu bunga…

Continue reading Keheningan, Kedamaian, Keramaian

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenyang

Alkisah, ada seorang raja yang memiliki hobby makan makanan enak. Dia mengetahui segala hal yang berhubungan dengan gastronomi dan ilmu kuliner. Hampir semua makanan enak sudah ia makan, sehingga sang raja mulai merasa bosan. Ia ingin mencicipi makanan paling nikmat di dunia yang belum pernah ia lihat.

Akhirnya, ia mengadakan sayembara. Kontes memasak sejagad raya. Diundanglah berbagai juru masak ternama dunia. Berlomba-lomba menciptakan masakan baru yang paling maknyus dan belum pernah diciptakan sebelumnya.

Namun hasilnya ternyata mengecewakan. Sang raja tidak menemukan makanan baru yang belum pernah ia makan. Menurut ia juga, semua masakan koki cukup mengecewakan. Rasanya standar. Bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tidak unik dan nendang. Raja lalu membatalkan kontes dan tidak mengumumkan pemenang.

Tiba-tiba ada kakek tua yang mengajukan diri. Ia mengaku bisa menciptakan masakan paling nikmat di dunia. Tapi dengan satu syarat:

“Paduka harus ikut dengan saya besok pagi. Karena masakan yang saya buat sangat special, ia harus dimasak dipuncak gunung dan tidak boleh dibawa turun. Paduka juga tidak boleh dibantu oleh pengawal untuk mendaki gunung itu”.

Mendengar itu, sang Raja semakin penasaran. Ia pun menyanggupi syarat sang kakek. Esoknya, pagi-pagi buta mereka sudah berangkat. Mendaki gunung adalah hal baru bagi sang Raja, ia harus bersusah payah karena tak boleh dibantu pengawalnya. Beberapa kali ia berhenti kehabisan nafas, tapi rasa penasarannya mendorong sang raja untuk terus mendaki.

Menjelang siang, akhirnya mereka sampai di puncak gunung. Raja sudah tak sabar dan sangat lapar. Kakek tua menyuruh sang raja beristirahat, sementara ia menyiapkan masakan. 30 menit kemudian, tersaji sebuah sup berwarna keruh.

“Silahkan paduka nikmati” tawar sang kakek.

Dengan lahap raja menghabiskan sup itu. Sungguh, baru kali ini ia menikmati sup senikmat ini. Sup kakek adalah sup terlezat yang ia makan. Setelah habis, akhirnya ia bertanya:

“Sup apa ini kakek?” tanya si raja.

“Hanya sup ayam bawang biasa”.

“TIDAK MUNGKIN! Bagaimana mungkin sup ayam bawang bisa senikmat ini Continue reading Kenyang

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Bagaimana Cara Menjinakkan Gajah Liar???

Anda ingin tahu caranya? gampang. Cukup tembakkan obat bius ke gajah, lalu selagi tertidur ikat kakinya dengan rantai besi. Cantolkan rantai itu ke pohon besar seperti lambang partai golkar atau semacamnya. Atau bawa masuk ke kandang.

Setelah bangun? Dimulailah proses rekayasa social. Kita mengubah kebiasaan sang gajah. Sementara ia mulai panic dan mencoba melepaskan diri, kita memberinya makan. Proses ini dilakukan terus menerus sampai gajah terkondisikan bahwa akan selalu ada makanan yang ia bisa santap, dan ia akan merasa aman.

Terus? Cobalah ganti rantai besi dengan tali biasa. Pasti si gajah takkan lari. Karena ia tetap merasa terikat. Juga sudah merasa aman, nyaman, dan terjamin kesejahteraannya (Anda bisa menawarkan asuransi dan program pensiun jika mau :p). Jika ia benar-benar jinak, bahkan tali sudah bisa dilepas, maka si gajah akan menuruti perintah Anda.

Cara ini juga bisa kita terapkan untuk menjinakkan istri paling liar sekalipun.

10.000 jam Habitus

Menurut sebagian ahli psikologi, kita adalah makhluk yang dibentuk oleh kebiasaan (habitus). Aliran ilmiahnya disebut behavioralist. Dengan tokoh bangkotannya Pavlov.

Percobaan Pavlov yang terkenal adalah air liur anjing. Setiap memberi makan anjing (dan membuat anjing itu meneteskan air liur), Pavlov selalu membunyikan bel. Dan ternyata setelah menjadi kebiasaan, air liur anjing tetap keluar meski Pavlov hanya membunyikan bel dan tidak memberikannya makanan. Artinya?

Manusia membentuk kebiasaan, dan kebiasaan membentuk manusia.  Continue reading Bagaimana Cara Menjinakkan Gajah Liar???

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Semakin Cepat

Mari kita pergi ke Yogyakarta untuk melihat taraweh tercepat di jagat raya…

Y, seorang pemuda. Baru dua tiga. Masih mahasiswa. Belum lulus-lulus juga. Bercita-cita jadi pengusaha. Sempat memiliki beberapa perusahaan dibidang agrobisnis dan otomotif. Dan alhamdulilah. Bankrut semua.

Jarum pendek jam diangka 7. Jarum panjang diangka 5. 7 lewat 5.

Y sedang menjalankan peran sosialnya. Menjadi pemuda harapan bangsa untuk mengharumkan nama Indonesia dimata dunia. Y seperti biasa, sedang melakukan ritual lintas spiritual yang dilakukan 7 dari 10 mahasiswa dengan orientasi seksual normal. Y sedang bermain sepakbola didunia maya.

Alhamdulilah. Terpujilah konami. Terima kasih tuhan bernama teknologi. Y masih bisa menuntaskan hasrat bawah sadarnya untuk memainkan sikulit bundar. Dengan berat badan 105 kg, Y lebih cocok menjadi bola daripada pemain bola. Bola daging. Meatball.

Persija melawan Besiktas. 0-2. Penyisihan grub D liga Chiampion Eropa. Hey,  sejak kapan Persija ada di Eropa??? Continue reading Semakin Cepat

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Empat Tanda Bijaksana

Seorang yang bijaksana memiliki empat hal. Apakah keempat hal itu? Tentang hal ini, seorang bijaksana tidak akan membicarakan keburukan orang lain, sekalipun jika ditanya, apalagi jika tidak ditanya. Namun, jika ditanya tentang hal itu dan ia perlu untuk berbicara, sepatutnya ia mengemukakan keburukan orang lain dengan hati2, dengan keraguan dan sangat singkat. Inilah arti dari perkataan, “Orang tersebut bijaksana”.

Selanjutnya seorang bijaksana, sekalipun tidak ditanya, berbicara tentang kebaikan orang lain, apalagi jika ditanya. Namun, jika ditanya tentang hal itu dan ia perlu untuk berbicara, sepatutnya ia memuji kebaikan orang lain dengan terus terang, tanpa keraguan dan jelas. Inilah arti dari perkataan, “Orang tersebut bijaksana”.

Sekali lagi, seorang bijaksana, sekalipun tidak ditanya, berbicara tentang kelemahannya sendiri, apalagi jika ditanya. Namun, jika ditanya tentang kelemahannya sendiri dan ia perlu untuk berbicara, sepatitnya ia berbicara tentang kelemahannya sendiri dengan terang, tanpa keraguan, dan jelas. Inilah arti dari perkataan, “Orang tersebut bijaksana”.

Akhirnya, seorang bijaksana, sekalipun ditanya, tidak akan membicarakan kehebatannya sendiri, apalagi jika tidak ditanya. Namun, jika ditanya tentang kehebatannya sendiri dan ia perlu bicara, sepatutnya ia berbicara tentang kehebatannya dengan hati-hati, penuh keraguan, dan secara singkat, inilah arti dari perkataan, “Orang tersebut bijaksana”.

Aguttara Nikaya II 78

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail