Category Archives: yoda

Remote Parenting: Parenting Zaman Now?

 

Sudah 2 bulan ini saya jadi anggota PJKA. Sebutan untuk orang yang kerja di kota A, tapi punya keluarga yang menanti di kota B. Disebut PJKA karena punya traveling habit yang khas: Pulang Jumat Kembali Ahad.

Sebenarnya banyak teman-teman yang melakukan hal yang serupa. Di kantor saya banyak yang berasal dari Negara tetangga dan mereka pasti pulang kampung ketika weekend tiba. Tapi rata-rata tidak memiliki anak bayi yang harus diawasi.

Dua bulan ini saya jadi weekend frequent flyer rute Jakarta – Yogyakarta. Setahun lagi BIG membership saya sepertinya bukan lagi platinum, tapi akan mencapai level uranium hehehe. Karena kebetulan Pipi Kentang pingin tinggal di Jogja, sedang saya masih jadi primata Ibukota.

Kenapa milih Jogja? Karena kalo Amerika susah dapat green card, dan kalo Jerman belum dapat visa pengungsi hihi. Sebenarnya Yogyakarta dipilih karena lebih manusiawi, dan yang pasti living cost yang lebih terjangkau di hati. Memang benar jika Jogja berhati mantan.

Ini membuat pertemuan saya dengan Yoda hanya kurang lebih 45 jam seminggu. Waktu yang terbilang singkat untuk membangun bonding dengan si bocah. Apalagi perkembangan bayi sangat cepat. Saya khawatir jika minggu ini dia baru bisa ngomong “uu.. uuhhh” dan tau-tau minggu depan dia sudah bisa ngucapin ayat kursi. Kan saya yang kebakar.

Remote Parenting

Jujur saja saya kurang paham dengan efek remote parenting seperti ini. Hampir semua buku-buku parenting yang saya baca (baru juga baca 1-2 buku hehe) kurang membahas masalah remote parenting: menjadi orang tua jarak jauh.

Apakah saya masih bisa menjalankan role model sebagai Bapak dan tidak Cuma menitipkan sperma untuk membuahi sel telur? Apakah saya bisa mengajarkan “pelajaran hidup” (aduh bahasanya..) kepada Yoda meski jarang bertemu? Apakah Yoda nanti tidak akan memanggil saya Oom?

Saya pernah membaca buku klasik Ken Blanchard yang terbit tahun 1980: The One Minute Manager. Ide yang ditawarkan sungguh menarik: Anda tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu mensupervisi anak buah. Pertemuan-pertemuan singkat yang efektif jauh lebih bermanfaat daripada meeting berjam-jam yang ga jelas.

Dalam bisnis, Anda bisa melakukan remote management: bebas mbolang kemana saja dan tinggal meminta report dari jauh sambil sekali-sekali ditengok. Apalagi zaman sudah canggih. Misalnya Anda lagi ngupil di Brazil dan pingin tau sales di Singapura, cukup akses dashboard lewat handphone dan sudah ketahuan hasilnya.

Masalahnya, anak bukan perusahaan. Tidak ada dashboard untuk memonitor perkembangan psikologis mereka. Mengandalkan metrics fisik untuk mengukur kebahagiaan juga bisa bias, tambah tinggi badannya belum tentu tambah bahagia hidupnya. Apalagi perkembangan spiritual. Gimana cara remote tracking-nya coba?

Yang bisa saya lakukan sekarang adalah memaksimalkan semua pertemuan yang ada. Setiap ketemu pasti saya puas-puasin cium pipinya sampe tembem hehehe. Tak ketinggalan juga menulis beberapa pertanyaan hidup yang mungkin akan ditanyakan Yoda suatu hari nanti. Sambil berpikir plan B untuk berganti karier yang lebih memberikan kebebasan finansial dan juga family time berkualitas. Doain ya! Hahaha.

Oh ya, ada cerita atau saran dari Papa-papa PJKA lainnya?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Misteri Tentang Bayi yang Masih Belum Saya Mengerti

Untuk Yoda yang merasakan kehidupan dalam satu bulan,

Whats up broo

#1 Kenapa bayi memiliki ekspresi imut dan lucu?

Jangan-jangan itu adalah sebuah bentuk self defense mechanism untuk bertahan hidup. Ia membuat manusia dewasa merasa iba dan mau merawatnya. Hampir sama dengan binatang yang mengembangkan tanduk, taring, dan organ intimidatif untuk menegaskan kekuatan dan bahaya yang mengancam predator. Keimutan menjelma jadi senjata tak kasat mata.

#2 Jika bayi merasa bahagia hanya dengan air susu ibunya, kenapa manusia dewasa tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka punya?

Merawat bayi mengajarkan kita: betapa sederhananya hidup manusia. Asal cukup susu, popok yang kering, dan suhu yang hangat, bayi sudah merasa bahagia. Anehnya syarat menjadi bahagia semakin meningkat seiring bertambahnya usia.

Banyak manusia dewasa yang cukup sandang, pangan, dan papan tapi tetap merasa menderita. Kenapa kita tidak bisa merasa bahagia dengan syarat yang sederhana?

#3 Saat bayi, manusia tidak bisa menghidupi dirinya, kenapa setelah dewasa ia merasa paling berkuasa?

Bayi sapiens adalah salah satu bayi paling rapuh dibandingkan makhluk lainnya. Dalam hitungan jam bayi kuda bisa berlari, dan dalam hitungan hari anak ayam sudah bisa mencari makan sendiri.

Seorang sapiens kecil harus disuapi makanan bertahun-tahun sebelum bisa bertahan hidup mandiri. Dan anehnya, saat mereka besar para sapiens bertingkah seperti penguasa jagat raya. Apakah mereka tidak ingat ketika mereka masih balita?

#4 Seorang bayi laki-laki menangis paling keras, kenapa setelah dewasa ia malu jika berurai air mata?

Lelaki jangan cengeng. Sebuah ungkapan yang aneh menurut saya. Karena menangis itu tanda kecerdasan emosional yang sehat. Banyak karya sastra terinspirasi dari tangisan. Seperti “Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis”-nya Coelho atau sajak “Maka Pada Suatu Pagi” dari Sapardi:

Maka pada suatu pagi hari dia ingin sekali

menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu

Dia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik

dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja

sambil menangis dan tak ada orang bertanya ‘Kenapa?’

#5 Kenapa kita tidak bisa mengingat masa-masa bayi kita sendiri?

Bayi “menderita” infantile amnesia, dan baru bisa merekam memori umur 3-4 tahun. Mungkin Tuhan menciptakan amnesia itu agar otak kita overload informasi, dan cukup mengingat hal-hal penting saja.

Masalahnya banyak anak yang songong dengan orang tuanya karena efek infantile amnesia. Mereka tidak ingat perjuangan orang tua-nya dalam melahirkan dan membesarkan dirinya.

Jika kita bisa mengingat masa-masa bayi kita, saya yakin semua akan tambah sayang kepada orang tua kita. Karena kita tahu betapa repotnya mengganti popok, lelahnya menyusui, dan capeknya menggendong untuk mengajak tidur. Masih tega ngomong kasar ke orang tua sendiri?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Weekend with Yoda: Mama Paranoia

Kelahiran Yoda ternyata sedikit banyak berpengaruh pada Pipi Kentang. Dia menjadi agak paranoid.

Contohnya saat saya baru selesai membawa Yoda berjemur. Pipi Kentang berpesan agar jangan pergi jauh. Tapi karena berjemur hanya di depan rumah kurang greget, saya mengajak Yoda jalan-jalan keliling kampong. Ga jauh, hanya 1-2 km saja.

Saat kembali, rumah kosong. Rupanya Pipi Kentang yang panic anaknya ngilang berusaha melacak saya. Pake menginterogasi orang-orang dijalan.

Saat balik kerumah, tiba-tiba dia nangis.

“Dia masih kecil, jangan dibawa pergi-pergi. Nanti kalo sakit aku ngerawatnya sendirian..”

Eh lha koq jadi film drakor (drama korea) gini. Ga pake adegan berpandangan dengan mata berkaca-kaca disertai salju berguguran dan music romantic sih.

Padahal saya ga ngajak Yoda jalan-jalan ke Suriah atau Korea Utara. Ini Cuma 1 km disekitar rumah. Tapi mungkin hal ini normal. Insting keibuan yang ingin memproteksi anaknya sendiri. Karena kebetulan si Yoda sendiri ketika lahir kurang fit.

Biru dan Diam

Ketika Yoda lahir, dia ga nangis dan berwarna agak biru. Air ketubannya juga berwarna hijau seperti alpukat.

Image and video hosting by TinyPic

Awalnya saya bangga punya anak berdarah biru. Wah calon bangsawan nih. Tapi ternyata kata dokter itu tanda kurang bagus. Bayi harusnya berwarna merah. Warna pucat pertanda ada yang salah. Dokter anak langsung memberi oksigen dan ia masuk ruang observasi.

Demikian juga jika tak ada tangisan. Normalnya bayi langsung menangis saat lahir. Semakin keras semakin bagus. Pertanda ia sehat dan kuat.

Diamnya Yoda sempat membuat saya mengira ia akan seperti bayi Yesus yang tidak menangis saat lahir. Tapi setelah dirangsang, akhirnya nangis juga tuh bocah. Berarti dia anak biasa-biasa aja hehehe.

Dan seperti bayi Yesus, Yoda dikunjungi tiga orang. Tapi bukan orang bijak dari timur, tapi perawat-perawat yang membantu persalinan yang kebetulan ada tiga orang. Hehehe lagi.

Menurut diagnosa dokter, Yoga mengalami distress pernafasan. Mungkin karena terlalu lama di Rahim (41 minggu lebih) dan ketuban Ibu-nya sudah ijo. Dugaan saya sih, dia shock karena punya Bapak kaya saya. Hehehe terus.

Soal ketuban berwarna ijo juga membuat saya berpikir, jangan-jangan ni bocah punya bakat jadi hulk. Klo setiap ngambek terus berubah kan report juga. Bisa bayangkan duit yang harus kita keluarkan untuk beli baju baru. Hehehe garing ah.

Terbaik Untuk Anak

Mungkin ada perubahan hormone yang dialami Pipi Kentang. Anggap aja sifat keibuannya keluar sehingga ingin memproteksi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Contohnya soal pemilihan baju dan popok. Pipi Kentang selalu milih popok yang paling mahal, impor dari Jepang. Katanya sih paling berkualitas. Tapi kalau saya pribadi sih, selama si anak ga complain ya kasih aja yang murah dulu (bayi gimana komplainnya ya).

Saya pernah dimarahin karena membelikan baju dengan bahan yang kurang halus dan katanya tidak berkualitas. Padahal harga baju Yoda hampir sama dengan kaos yang saya pakai ngantor dengan ukuran Cuma sepersepuluh baju saya!,

Wah untung gede nih produsen baju bayi. Si anak juga ga mungkin tetep kecil dan harus ganti baju baru yang lebih besar. Market value baby product sendiri diperkirakan sekitar 10,8 milyar dollar worldwide. Di Indonesia sendiri di estimasi sekitar 90 trilyun, karena ada sekitar 5 juta bayi baru yang lahir setiap tahun.

Ya sutra lah ya. Namanya juga belajar jadi orang tua, belajar membesarkan titipan Tuhan. Semoga rezeki kami dimudahkan Amiin hehehe.

 

Data market:

https://www.statista.com/statistics/258435/revenue-of-the-baby-care-products-market-worldwide/

http://ekonomi.kompas.com/read/2015/06/08/202714226/Data.Angka.Kelahiran.Menjadi.Peluang.Pasar

 

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa yang diajarkan seorang anggota DPR kepada Anaknya dan Tidak Diajarkan oleh Orang Lain?

Beberapa bulan lalu ada anak magang di kantor saya. Sebut saja Bunga, bukan nama sebenarnya. Manis parasnya, baru 18 tahun usianya, dan itu berarti saya ketahuan tua-nya. Haha.

Si Bunga lagi summer break kuliah dan memutuskan iseng-iseng ikutan internship. Dimana kampusnya? Cukup jauh kalo ingin didatangin, aid (dia) kuliah business di Inggris. Apakah dia punya kunci Inggris? It’s not my business sodara-sodara.

Karena si Bunga pingin belajar marketing, saya ditugaskan untuk menjadi buddy. Semacam partner kerja yang bertugas untuk melayani dan membahagiakan hidup si Bunga. Halah. Kebetulan dia juga duduk disamping saya.

“Ntar lu kalo ngomong ama dia siap-siap bawa kamus. Ngomongnya Inggeris terus” kata teman yang udah bertemu dengan Bunga. Wah-wah jangan-jangan kaya Cinta Laura nih. Yang penting jangan Lauren si waria jadi-jadian deh.

Sebagai homo Javanicus (orang Jawa) dengan nilai IELTS yang berada di garis kebodohan, saya tentu keder. Apalagi referensi belajar bahasa Inggris saya hanya berdasarkan pilem-pilem gituan yang Cuma punya dialog “oh yess”, “oh no..”, dan “Oh my God..”.

Tapi setelah bertemu, ternyata anaknya baik. Memang ngomongnya sering nge-blend antara Indo dan Inggris. Saat menulis sesuatu (kami memintanya membuat artikel untuk website), dia menulis dalam bahasa Inggris dulu baru kemudian di-translate ke bahasa Indonesia. Maklum, sekolahnya selalu di sekolah internasional yang kalau misuh pun harus dalam bahasa Inggris.

Hidup Makmur

Yang bikin istimewa: ternyata dia anak seorang pejabat tinggi di negeri ini. Salah satu anggota dewan yang terhormat. Bapaknya cukup ngetop dengan komentar-komentar kontroversial sehingga sering dijadikan bahan bully netizen. Pokoknya kalo saya sebut namanya, situ pasti pernah dengar deh.

Awalnya dia ga mau ngaku. Mungkin dia ingin down to earth dan lepas dari bayangan sang ayah.

Sebagai anak seorang pejabat, hidup Bunga serba berkecukupan. Bisa mbolang kesana-kemari. Dia cerita kalau habis liburan dari Miami. Es krim Miami? Ketahuan deh selera proletar. Ini Miami beneran yang di Amerika sana cuy.

Selain negeri paman Sam, Bunga sangat suka dengan Eropa. Mayoritas Negara-negara terkenal yang mainstream sudah ia kunjungi. Beberapa bulan lagi ia akan mengunjungi Jerman. Nyari suaka? Amit-amit, dia kesana dalam rangka kunjungan tim sepakbola putri kampusnya.

Alhamdulilah dalam hidup Bunga, agak susah menemukan kata susah. Ibarat kalau search engine, kata “hidup susah” udah ke blokir. Error forbidden 404. Jika ia bermain monopoli, maka ia mendapatkan “Kesempatan” dan “Dana Umum” terus-menerus.

Karena Bunga suka nyanyi, dapur rekaman sudah menanti. Karena Bunga suka melukis, sudah ada kolektor yang antri mengoleksi. Saat ingin magang, komisaris kantor saya langsung membukakan pintu untuk dimasuki.

Bunga sendiri sadar, kemudahan dan fasilitas yang ia terima dari orang lain tidaklah gratis. Pasti ada motif membangun relasi dengan sang Ayah. Yang bisa ia lakukan adalah memanfaatkan setiap kesempatan yang datang.

Dua Pelajaran

Dalam pengamatan awam saya, setidaknya Ayah Bunga melakukan dua hal investasi besar untuk sang anak:

Pertama, investasi untuk pendidikan. Bunga belajar di sekolah yang baik, kuliah keluar negeri, membaca banyak buku berkualitas, berkenalan dengan banyak orang hebat, dan membangun jaringan.

Ngobrol dengan Bunga tidak seperti stereotype perbincangan dengan ABG 18 tahun yang dipenuhi pembahasan alay dan kurang penting. Bunga cukup update dengan isu-isu global. Anda bisa berdiskusi tentang politik, ekonomi, real estate, atau perkembangan seni dan sejarah music klasik.

Kedua, investasi dalam pengalaman berpolitik.

Meskipun Ayahnya tidak ingin Bunga terjun dalam politik, tapi tetap saja Bunga dilibatkan. Ia duduk sebagai observer saat penyusunan strategi pilkada Jakarta. Ia ikut dalam rapat-rapat tim sukses. ia juga belajar mengendalikan dan mempengaruhi orang lain, esensi utama dalam berpolitik.

“Kamu tahu FORD principle?” Kata Bunga di dalam mobil yang saya tebengin dalam perjalanan pulang.

Saya menggeleng.

“FORD principle dipakai untuk akrab dengan orang yang baru kita kenal. F for Family, gunakan topik tentang keluarga lawan bicara kita. O untuk Occupation, kita juga bisa ngobrol tentang pekerjaan mereka. R untuk recreation. Coba tanya liburan mereka. Dan terakhir D untuk desire. Apa mimpi yang ingin dicapai?” Rupanya Bunga sudah belajar komunikasi politik dengan terlebih dahulu belajar kemampuan intrapersonal.

Apakah Bunga ingin ikutan terjun dalam politik? Anehnya, ayah Bunga justru menyarankan dia untuk menjauhi politik.

“Kalau Cuma jadi anggota DPR, supir angkot juga bisa”.

Quotes dari sang Ayah yang ia sampaikan dan membuat saya berpikir keras: jangan-jangan ini penyebab rendahnya kualitas anggota dewan kita.

Bunga membocorkan rahasia: semua statement ngawur ayahnya sengaja digunakan untuk meningkatkan popularitas. Karena ternyata, pemilih Indonesia belum rasional. Mereka tidak memilih calon dengan program kerja paling masuk akal. Mayoritas pemilih akan mencoblos orang yang dikenalnya.

Bagaimana cara agar cepat terkenal? Ciptakan skandal, keluarkan statement kontroversial, jadilah media darling, siapkan diri untuk di bully.

Bunga sudah belajar jika politik adalah sebuah panggung sandiwara raksasa. Yang perlu kita lakukan hanyalah memainkan peran sebaik mungkin. Entah jadi protagonist, atau justru antagonis. Yang pasti artis yang menjiwai perannya akan mendapat spotlight, giliran untuk tampil dalam panggung kekuasaan.

She’s smart girl. Saya berdoa Ia akan lebih baik dari Bapaknya.

sumber gambar: http://portalsatu.com/upload2/files/2017/ILUSTRASI/pol.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tentang Nama dan Nafsu Orang Tua

Siapa nama anak saya?

Awalnya sempat terpikir untuk memberi nama yang menggema: Muhammad Yesus Gautama. Gabungan tiga manusia pilihan yang membawa pencerahan bagi kemanusiaan.

Tapi nama diatas terlalu kontroversial. Jangan-jangan nanti dicekal waktu mau jadi gubernur. Dianggap pelecehan terhadap agama tertentu. Bisa-bisa ada aksi demo besar-besaran 234 atau 222 untuk menggulingkannya.

Oke kita coret.

Karena nama itu “brand” yang melekat seumur hidup, ia harus unik. Dan celakanya hampir semua nama orang Indonesia berasal dari kata benda. Bagaimana kalau kita cari nama yang berasal dari kata kerja? Nama yang merupakan salah satu misi hidup manusia:

Mencari Kedamaian Bahagia.

Tapi koq kurang cool dan gak sekeren nama-nama anak zaman sekarang? Disaat teman-temannya dipanggil Alexis, Dafa, atau Layla, masa dia akan dipanggil Men? Trus kalo dia dicari orang, masa orang yang nyari harus bilang: “Saya mencari Mencari”. RIP geramer >.<

Nama dan Harapan

Kenapa nama bisa sangat penting?

Karena nama adalah panggilan yang melekat sepanjang hidup anak kita. Karena itu dalam islam, nama harus berarti baik. Karena nama adalah doa, maka banyak orang tua memberi nama orang yang menjadi panutan.

Di Inggris, nama laki-laki paling popular menurut Guardian bukanlah Charles, James, atau John. Tapi justru Muhammad. Setidaknya itu menurut laporan tahun 2014 lalu. Karena hampir semua muslim menamai anak mereka dengan Muhammad, Mohammed, atau Mohammad. Diseluruh dunia, diperkirakan ada 150 juta orang yang memiliki nama sesuai rasul kita.

Di kampus saya, pernah ada mahasiswa dengan nama “Thomas Edison”. Mungkin ortunya pingin punya anak secerdas penemu lampu pijar. Alhamdulilah terbukti si bocah bisa kuliah kedokteran sambil menang berbagai lomba olimpiade sains.

Ada juga yang nekat memberi nama anaknya barang-barang yang disukai. Netizen pernah dihebohkan dengan orang tua yang memberi nama anaknya “Pajero Sport”. Karena si ayah sangat nge-fans dan merasa tidak sanggup membeli mobil SUV keluaran Mitsubishi itu.

Masalahnya, nama anak bersifat top down dari orang tua, berisi harapan yang diinginkan Ibu Bapaknya.  Tapi jujur saja, belum tentu si anak setuju dengan harapan ortunya. Ada kasus dimana seorang aktivis memberi nama anaknya “Gempur Soeharto”. Nah setelah zaman Soeharto lengser, si anak yang protes akhirnya mengajukan perubahan nama ke pengadilan.

Idealnya si anak harus bisa menentukan sendiri namanya. Ia akan memberi nama sesuai 4P:

Purpose : Untuk apa ia diciptakan

Potential value : Kelebihan apa yang dimiliki

Positioning : Apa yang orang lain ingat

Philosophy: Cerita tentang makna sebuah nama

Hampir seperti artis yang menciptakan nama panggung mereka sendiri, mereka bisa menentukan identitas sesuai panggilan hati dan kompetensi inti.

Sayangnya kita tidak bisa menunggu sang anak untuk berusia 17 tahun sebelum memutuskan nama untuk mereka sendiri. Menggunakan panggilan “hei”, atau “wahai anakku” juga kurang praktis untuk kegiatan sehari-hari.

Nama Gabungan

Kembali ke anak saya. Setelah bertapa, melakukan riset, berpikir, memlilah, memilih, bermeditasi, melakukan analisa, belajar semiotika, hermeunetika, dan berdiskusi, akhirnya kami memilih sebuah nama.

Yoda. Gabungan nama saya dan Pipi Kentang. Juga berarti nama master Jedi favorit saya dalam Star Wars. Salah satu Jedi yang paling bijak dan kuat, guru dari Anakin dan Luke Skywalker.

Askha. Gabungan nama simbah Pipi Kentang. Tapi setelah saya googling, nama Askha adalah merk kripik pisang di Lampung (jeng jeng jeng jeng). Ya semoga nanti bisa ketularan jadi pengusaha sukses.

Samsu. Karena relasi hubungan kami sama-sama suka, jadinya Samsu deh. Bercanda. Itu titipan nama keluarga dari Ibu saya hehe.

Namanya:

Yoda Askha Samsu. Disingkat YAS. Karena Yes sudah terlalu mainstream.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Preparation on Becoming Dad

Next month will be one of the biggest day in my life: I will be a Dad!

Yeay!!! Pipi Kentang (my wife nickname) is estimated to give birth in mid of September. Since it’s only a forecast, the date can be faster or be delayed. Safe margin is in 2 weeks, if till the end of September there is no symptoms of giving birth (contraction and other symptoms), she needs to have medical operation.

Becoming Dad is not easy. After I researched and interviewed a lot of Dad, at least there are 5 preparations to become successful father.

Designed by Freepik

#1 Knowledge preparations

One of the basic but most important thing is, most of us don’t know how to become a Dad! They don’t know about birth process and how to help their struggling wife. Knowledge plays significant role to guide us on which action we must take at a certain situations. Do we need operation? How to calm down your wife? What if your baby’s position is in occiput posterior?

How to get the knowledge? Just like RPG game, we can gain it in 3 simple ways:

  • Reading (book, internet, blog, etc.)
  • Talking to others (ask doctor, family, friend)
  • Practicing (walk the talk, try every knowledge that we know)

#2 Emotional preparations

Believe me, birth process is a little bit stressful. There are so many things to be managed and some negative anxiety sometimes comes up in our mind. The key is: keep cool, calm, and confident! Birth process is a natural phenomenon. It exists since mankind can reproduce. Just let it flow and enjoy the process. We must assure that our wife is relaxing and always supporting her during this tough time.

#3 Financial preparations

How much does it cost? Believe me, it’s not cheap. In Jakarta, the minimum cost is 1000 dollars and can increase up to 5000 dollars if medical operation is needed. So, stop hanging out in café and prepare your piggy bank account from now on.

#4 Physical preparations

Physical aspect is not just needed for our wife who gives birth. Each upcoming Dad also needs a fit physical condition since they he must stand by in hospital, assist, and wait for the entire period. Exhausted body can be a bad influence in our decision making. So, start exercise and have a good rest.

#5 Spiritual preparations

Last and one of the most important aspects is: spiritual assets. In my religion, life and death is “God’s business”. All we can do is trying our best and He will do the rest. Praying, giving charity, or doing any religious activity will help us to strive welcoming this new baby boy.

So, have you prepared those 5 aspects? If you are still single, better to prepare from now. If you were an “upcoming Dad” in the next couple of months, congratulations dude! You have so much homework to do! Good luck.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Manusia Ingin Memiliki Anak?

 

image from freepik.com

Untuk Yoda yang akan lahir ke dunia,

Mungkin suatu saat kamu akan bertanya: “Kenapa sih setiap keluarga ingin memiliki anak?”

Pertanyaan lucu tapi valid. Secara biologis, jawabannya sederhana: untuk mempertahankan species. Dorongan natural kita membuat manusia suka beranak pinak dan berkembang biak. (untuk cara kopulasi bisa kamu baca di buku biologi ya!)

Tapi jawaban itu patut dipertanyakan relevansinya di dunia modern. Karena faktanya manusia sudah berkembang biak hingga sekitar 7,5 miliar jiwa. Manusia juga sudah menempati posisi teratas dalam piramida rantai makanan. Tak ada makhluk lain yang memburu dan memakan manusia.

Manusia purba masih mengalami fase penuh ancaman bahaya dari binatang atau alam sekitar. Nenek moyang kita harus beranak sebanyak mungkin untuk melangsungkan peradaban. Sekarang? Ilmu kedokteran semakin maju dan usia harapan hidup bisa diperpanjang sampai 70 tahun. Manusia modern justru mati karena mayoritas tiga hal: penyakit, bencana alam, atau karena sebab manusia lain (terbunuh, kecelakaan, perang, dll).

Kemungkinan kedua manusia ingin memiliki anak adalah: investasi. Anak menjadi future asset yang berguna di masa depan.

Karena itulah muncul istilah: banyak anak banyak rezeki. Anak yang ketika dewasa menjadi manusia produktif diharapkan bisa berkontribusi pada perekonomian keluarga.

Agama juga menempatkan anak sholeh sebagai harta tak tergantikan. Penolong di akhirat kelak. Doa mereka bisa meringankan perjalanan orang tuanya di alam kubur.

Banyak orang tua yang juga berharap bisa memiliki anak agar punya teman di masa tua. Mereka berharap anak-anaknya mau merawat dan menemani saat memasuki usia senja.

Tapi memandang anak sebagai investasi memiliki probabilitas. Tidak semua orang tua dianugerahi anak yang baik. Saya mengenal orang yang kesepian di hari tua meski anak-anaknya banyak (rata-rata orang tua mengalaminya). Ada yang dikasih ujian dengan anak-anak nakal. Ada juga yang hartanya habis karena anak-anaknya tidak bisa mengelola dengan baik.

Memiliki anak dan berharap anak akan menjadi pelipur lara di masa tua adalah sebuah sikap optimisme berlebihan. Tidak ada jaminan anak yang dibesarkan dengan kasih sayang akan menyayangi kita di masa depan.

Orang tua yang memiliki motif seperti itu adalah orang tua yang berkeluarga dengan sifat bisnis. Saat anak mereka sukses, ego orang tua akan naik dan berharap kontribusi mereka kepada kesuksesan sang anak dapat berpulang dalam bentuk bakti kepada mereka.

Sampai ada ungkapan yang sangat “transaksional”:

“Sayangi orang tuamu karena mereka sudah susah payah membesarkanmu”.

Kami tidak ingin menjadi orang tua seperti itu. Merawatmu adalah sebuah kerja besar kemanusiaan. Bukan sebuah investasi di hari tua agar si anak harus meramat manusia yang melahirkan dan membesarkan mereka.

Karena itu jangan cintai kami karena kami adalah orang tuamu. Jangan berbuat baik kepada kami karena kami yang membesarkanmu. Jangan menolong kami karena kami pernah menolongmu sewaktu kecil.

Berbuat baiklah kepada kami, dan kepada semua orang, karena kita adalah sama-sama ciptaan Tuhan.

Berbuat baiklah atas nama Tuhan dan kemanusiaan, karena itu adalah tujuan kita diciptakan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Kita Harus Bertanya Kenapa?

Yoda sayang,

Saat kamu sedang belajar berbicara nanti, ada satu kata yang harus kamu pelajari sebelum “Tuhan”, “Kapitalisme”, “Return of investment”, “Mama”, atau “cucu”. Kata ini begitu penting, dan telah menjadi kunci sukses perkembangan umat manusia. Banyak penemuan lahir dari kata ini. Meski ada pemikir hebat yang dibunuh karena mengucapkan kata ini.

Kata itu adalah: “Kenapa?”

Memangnya, kenapa kita harus bertanya kenapa? Setidaknya karena tiga sebab sederhana.

Pertama, kenapa adalah kata pembuka. Ia adalah kunci pengetahuan. Tak ada pengetahuan yang ditemukan tanpa pertanyaan “kenapa?”. Newton memformulasikan hukum gravitasi karena bertanya kenapa apel bisa jatuh. Adam Smith disebut pencetus ilmu ekonomi karena bertanya apa rahasia kekayaan sebuah bangsa. Darwin bisa menghasilkan teori evolusi yang kontroversial karena bertanya kenapa makhluk hidup bisa sangat beraneka ragam.

Pada dasarnya, pengetahuan selalu diawali dari keingintahuan. Dan percayalah Yoda, pengetahuan adalah kekuatan dan kekayaan. Jika ingin mendapatkannya, mulailah dengan bertanya: “Kenapa?”.

“Kenapa kita lahir kedua? Kenapa ada orang kaya? Kenapa harus ada Negara? Kenapa kita beragama? Kenapa alam semesta tercipta?”

Alasan kedua: semakin kamu dewasa, semakin sedikit orang yang bertanya. Orang dewasa akan menganggap pertanyaan kenapa adalah pertanyaan milik anak kecil yang tak perlu dijawab. Mereka hidup dalam kedamaian karena merasa telah menemukan jawaban. Padahal, sesungguhnya mereka tak pernah berani bertanya.

Mereka bekerja, tanpa tahu kenapa mereka harus bekerja. Mereka menjalani rutinitas, tanpa berani bertanya kenapa mereka melakukannya. Mereka menerima struktur organisasi dalam bentuk Negara, agama, dan tata social yang ada tanpa pernah mempertanyakannya. Orang dewasa sudah lupa bagaimana serunya bertanya.

Terakhir, bertanya Kenapa akan memberimu pola pikir yang radikal. Radikal bukan berarti anarkis atau merusak. Radikal dalam hal ini berarti “mengakar”. Kamu akan belajar berpikir dalam level epistemologis, titik dasar sebuah ide. Pertanyaan kenapa akan membantumu memisahkan permasalahan subtantif dan tentative. Mana yang penting, dan mana yang tidak. Mana isi, mana kulit. Mana yang aksi, dan mana yang motivasi.

Karena itu, Yoda sayang, teruslah bertanya. Teruslah ragu. Teruslah mempertanyakan semuanya. Yakinlah jika kecerdasan seseorang dinilai dari pertanyaannya, sedangkan kebijaksanaan seseorang akan dinilai dari jawabannya.

Tanya Kenapa?
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Untuk Anakku yang Bukan Anakku

Yoda sayang,

Delapan bulan lagi, Insya Allah kau akan lahir ke dunia. Bagaimana kabarmu di alam sana? Semoga kasih sayang Ibumu bisa menghangatkanmu di dalam rahim. Dalam bahasa Arab, Rahim berarti pengasih. Karena kasih dan sayang adalah dua kekuatan terbesar yang dimiliki umat manusia. Karena itu juga kita diajarkan menyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih.

Kabar kehidupanmu sempat mengagetkanku. Antara senang dan khawatir. Senang karena berarti saya ternyata tidak mandul. Hahaha. Khawatir, karena takut jika tidak bisa menjadi Bapak yang baik. Eh jangan salah, jadi orang tua itu susah! Harus bisa menjadi role model dan juga fasilitator tumbuh kembang sang anak.

Hubungan darah orang tua-anak adalah sebuah hubungan yang bersifat stokastik. Sebuah kejadian acak yang menjadi rahasia pencipta. Kamu tidak bisa memilih orang tua. Saya tidak bisa memilih anak. Kita terima dan jalani saja scenario yang ada. Pasti ada rahasia dari jalan kehidupan yang telah digariskan.

Karena itulah, saat kamu lahir nanti, saya akan berusaha menjadi fasilitator yang baik. Membesarkanmu, melindungimu, dan mengajarimu. Untuk point terakhirlah saya akan mulai memulai menulis surat-surat ini untukmu.

Karena saya merasa, sangat jarang seorang Bapak yang menuliskan pelajaran hidup kepada anaknya. Dulu waktu SMA saya pernah membaca “Surat seorang usahawan kepada anaknya”. Isinya berisi pengetahuan bisnis yang disarikan dari pengalaman sang Bapak agar sang anak bisa menjadi manusia yang lebih baik.

Ketika kamu dewasa nanti, zaman pasti berubah. Mungkin sudah booming nano technology, atau manusia sudah bisa membangun koloni di Mars. Tapi ada yang tak pernah berubah: nilai-nilai kebaikan. Kejujuran akan tetap dicari, kerja keras akan tetap dihargai, cinta kasih akan terus dijunjung tinggi, dan iman akan terus diperjuangkan hingga mati.

Yoda calon anakku,

Saya percaya, anak itu amanah, titipan dari Tuhan untuk kelangsungan kemanusiaan. Karena itu juga, kamu itu sebenarnya bukan anakku. Kamu adalah anak zamanmu. Ada tujuan besar yang sedang diamanahkan Tuhan kepadamu.

Pesanku: temukan jalanmu. Dengarkan hati kecilmu. Jangan hidup dalam sudut pandang orang lain yang mendiktemu. Tuhan akan mengirimkan tanda untuk membimbingmu dan menyelesaikan tugas muliamu.

Alhamdulilah positif
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail