Kenapa Kita Harus Berguru ke Mama Loren – Outward Looking Strategic (4)

Ibarat melakukan perjalanan, di tulisan sebelumnya kita sudah belajar membaca peta dan menentukan destinasi perjalanan kita.

Langkah selanjutnya adalah membuat rencana strategis guna menjawab pertanyaan teknis: Bagaimana cara mencapai tujuan kita? Fase inilah yang membedakan pemimpi dan pemimpin. Pemimpi hanya bermimpi, sedangkan pemimpin melakukan aksi Nyata untuk mencapainya.

Jika mahasiswa sekolah bisnis mendengar kata strategi, biasanya langsung terbayang cost leadership vs differentiation vs focus-nya Mbah Michael Porter. Untuk bisa kesana, ada banyak teknis praktis penciptaan strategi yang bisa diterapkan. 

Kalau saya boleh sarikan ada 2 jenis pendekatan:

A. Outward looking: Melihat kebutuhan eksternal baru memikirkan apa yang harusnya dilakukan

B. Inward looking : Melihat kemampuan internal lalu memikirkan apa yang harus kita lakukan

Tentu yang terbaik adalah menggabungkan keduanya. Melihat kemampuan internal kita, tapi juga memikirkan keadaan eksternal. 

Biar ga bingung, kita coba kenali satu persatu. Masih dengan studi kasus jika kita adalah koki resto hotel yang terancam di-PHK jika tidak melakukan sesuatu.

Outward-Looking Approach

Ibarat perjalanan kapal, outward looking approach berarti melihat lautan yang akan kita arungi dimasa depan, baru mempersiapkan kapal yang cocok untuk melintasinya.

Gampangannya: jika kita melihat di masa depan lautan akan dipenuhi es, berarti kita harus menyiapkan kapal dengan pemecah es agar bisa tetap berlayar. 

Kelebihan strategi ini ada pada sifat ‘market fit’. Dalam artian kita sudah mempersiapkan kebutuhan pasar atau industri kita dimasa depan. Kelemahannya ada pada resources fullfilment. Kemampuan menyediakan sumber daya. Untuk organisasi kecil yang ga punya banyak sumber daya, pilihan aksi menjadi sangat terbatas.

Ada banyak sekali tools yang bisa dipakai. Tapi kita coba kenali tiga tools yang umum terdengar:

#1 Benchmarking

Benchmarking bahasa gampangannya adalah studi banding. Atau belajar ke orang yang sudah sukses. Prosesnya kita melihat organisasi lain yang sudah sukses, mempelajari strategi yang mereka lakukan, lalu mencoba ‘meniru’ mereka. Tentu setelah dilakukan penyesuaian disana-sini.

Contoh: kita mencari resto hotel lain yang masih bisa ‘survive’ dan melihat apa yang mereka lakukan. Misalnya kita belajar jika resto hotel lain menjual lewat gofood, berpromosi online lewat FB/IG ads, dan menciptakan frozen food siap santap dengan citarasa hotel berbintang. Tulis dulu pelajarannya. 

#2 Future Market Forecasting

Untuk cara kedua kita harus berguru ke almarhum Mama Loren. Karena kita akan mencoba ‘meramal’ trend yang ada di masa depan, lalu mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Apakah kita harus mengumpulkan ketujuh bola naga atau belajar ‘Edo Tensei’ untuk menghidupkan Mama Loren lagi? Kalau bisa sih silahkan. Jika tidak bisa untungnya ada Mbah Google yang ga kalah sakti. Caranya gimana?

Tentu yang pertama tolong hapus website tujuan browsing Anda dari po**hub.com, br***er.com dan situs internet positif lainnya. Bisa diganti ke situs berita macam Bloomberg, The economist, atau McKinsey. Karena di internet sudah banyak ‘para pakar’ mengabarkan trend yang sedang dan akan terjadi.

Kedua, gunakan common sense berdasarkan pengamatan sehari-hari. Karena para ahli ramalannya masih fifty:fifty. Mereka ga akan tahu local insight yang sedang terjadi.

Contoh: para ahli meramal Covid-19 takkan ada obatnya sampe 2021. Berarti kita harus berdamai dengan Corona. Apa implikasinya? Mungkin gaya makan dine in akan berubah. Space antar bangku semakin lebar. Ditambah sekat penutup antar pengunjung. Berarti kita harus men-design ulang layout resto kita agar ‘Corona safety’.

#3 Brainstorm Scenario Analysis

Kita tahu masa depan sangatlah tidak pasti. Bahkan kita tidak tahu apakah kita masih hidup atau tidak esok hari. 

Karena masa depan penuh ketidakpastian inilah, lahir scenario analysis. Untuk mempersiapkan kemungkinan terbaik hingga terburuk.

Biar tulisan ini keliatan se-tra-te-jik dan ilmiah (plus saya dianggep pinter), saya coba ceplokan model gambar dari Strategic Planning: How to Deliver Maximum Value Through Effective Business Strategy karya Wittmaan dan Reuter (2004).

Mamam tuh modeling! Udah kaya belajar planet-planet ya boss. Padahal praktiknya bisa kita buat simple koq . 

Coba bikin satu tabel berisi tiga kolom. Isinya: perkiraan kemungkinan yang terjadi, dampaknya kepada kita, lalu aksi apa yang kita lakukan. Contoh:

(kalau kasusnya korporat besar bisa puluhan halaman riset dengan data modeling yang canggih)

Nah itu baru outward-looking strategy bosku. Perlu dilengkapi dengan inward-looking agar kita tahu kondisi dan kemampuan organisasi kita. Akan kita bahas di tulisan selanjutnya agar artikel ini tidak terlalu panjang dan tahan lama.

Yang pikirannya kebayang macem-macem: saya tahu history browser Anda. Hehehe.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belajar Strategic Goal Setting (3)

“If you want to be happy, set a goal that commands your thoughts, liberates your energy and inspires your hopes.” —Andrew Carnegie

https://www.indoindians.com/

Jika kita sudah membuat strategic alignment, maka kita mulai masuk ke inti dari strategic thinking: membuat strategy beneran hehe.

Saat strategic alignment kita membaca peta untuk mengetahui kondisi kapal dan lautan, maka strategic formulation adalah membuat itinerary (rencana perjalanan) dimasa depan. 

Karena ini mirip dengan rencana perjalanan, maka seperti pepatah: banyak jalan menuju Roma. Tak ada yang benar tak ada yang salah. Semua tergantung SIKONDOM (Situasi, Kondisi, Dominasi nasib).

Dari berbagai model kerangka berpikir dari bermacam buku-buku bisnis diluar sana, klo disarikan sebenarnya ada tiga fase formulasi strategi sederhana:

  1. Strategic goal setup: Kita mau kemana?
  2. Problem-solving-solution hypothesis: Bagaimana cara termudah dan termurah untuk kesana?
  3. Resources and impact matrix: Perbekalan apa saja yang kita butuhkan?

Yuk kita bahas satu persatu dengan sederhana.

Salah Tujuan = Salah Asuhan

Yang pertama tentu menentukan tujuan: Mau dibawa kemana hubungan kita? Lah koq malah nyanyi yang nulis.

Ini fase krusial karena salah menentukan tujuan berarti kesasar. Apakah itu keliru? Ya nggak juga. Colombus awalnya bertujuan ke India, eh malah nemu Amerika. Penemu minuman Coke, John Pemberton, awalnya bereksperimen untuk menemukan obat sakit kepala. Malah nemu cikal bakal Coca Cola.

Kasus diatas adalah serendipity. Kebetulan aja hasilnya bener. Tapi kedua contoh tadi sama-sama punya tujuan awal!. Gak ada ceritanya peneliti tanpa tujuan eksperimen, tau-tau menemukan senyawa atau penemuan baru.

Yang pasti salah itu jika kita tidak menentukan tujuan. Karena itu berarti terombang-ambing tanpa arah dan pegangan yang jelas. Bisa sampai sih. Sampai jumpa lagi hehe.

Bagaimana cara menentukan strategic goal yang baik? Ada banyak teori.

Mulai kudu SMART (Specific, Measurable, Actionable, Realistic, Time based). Ada juga yang bilang jika strategic goal itu harus ‘besar’, ‘panjang’, dan ‘tahan lama’ (bahasa Jim Collins disebut BHAG : Big Hairy Audatious Goal). 

Jangan ngeres dulu. Ini bukan iklan obat kuat. Maksudnya strategic goal kita seharusnya bisa menginspirasi kita dalam mengarungi perjalanan yang panjang. 

Biar kebayang kita balik ke studi kasus jika kita Koki resto hotel yang terdampak Corona.

Kemana Kita?

Misalnya kita sudah melakukan strategic alignment dan tahu jika kondisi kapal kita goyang, dan ada badai karena Covid-19. Peran yang bisa kita lakukan adalah memasak makanan lezat, yang bisa menjadi sumber pemasukan hotel disaat sulit seperti ini.

Strategic objective yang bisa kita tulis adalah:

“Menjadi resto hotel terbaik di Indonesia”.

Kelihatannya keren ya. Resto hotel terbaik.Tapi kebayang ga menjadi resto terbaik itu kaya gimana? Trus apakah sudah kriteria Smart? Gimana klo kita reworks dikit dan jadi:

“Pada Desember 2020 menjadi resto hotel bintang 4 terkemuka yang menjual 1000 porsi makanan per hari”.

Kita menset kriteria terkemuka dengan benchmark goal yang jelas: penjualan 1000 porsi per hari. Sangat sederhana dan jelas. Jika nanti penjualan kita hanya 999, berarti kita belum jadi restoran terkemuka. Sesederhana itu.

Ada tips tambahan yang bisa kita lakukan setelah menulis strategic objective. Kita bisa bertanya lagi:

  1. Apakah tujuan kita sudah ‘benar’?
  2. Adakah alternatif tujuan yang lebih ‘benar’?

Sangat disarankan untuk melontarkan pertanyaan ‘nakal’ dan provokatif:

Apakah tetap menjadi bagian resto hotel sudah benar? Kenapa kita tidak mengusulkan ke manajemen untuk membuat mobile resto chain yang independent? Kenapa kita tidak coba beralih ke industri yang masih related dengan makanan seperti food content media?

Karena salah tujuan = salah asuhan. Terus pertanyakan tujuan strategis Anda. 

Karena tujuan dari hidup, adalah hidup dengan tujuan.

 

____________________________________________

 

 

PS: Bagian selanjutnya adalah bagian tersulit tapi terseru: formulasi solusi strategis! Doakan saya bisa menulisnya dengan cukup jelas dan komprehensif

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belajar Strategic Alignment

Tulisan ‘Belajar Berpikir Strategis’ sebelumnya sudah membahas What dan Why dari seni berpikir strategis secara umum. Sekarang kita masuk ke fase teknis: How.

Bagaimana memperbaiki kemampuan berpikir strategis kita?

Secara sederhana, proses berpikir strategis kalau saya boleh intisarikan, terdiri dari tiga tahap:

1. Strategic alignment: Menyelaraskan tujuan besar organisasi dengan tim kita

2. Strategic formulation: Membuat strategi tim untuk mencapai tujuan organisasi

3. Strategic execution and evaluation: Mempersiapkan ekskusi dan evaluasi atas strategi yang telah kita bangun

Tak usah bingung dengan istilah-istilah asing diatas. Sengaja saya tulis dalam bahasa Inggris biar saya dianggap orang pinter doank :p. 

Oke biar simple kita pakai contoh saja.

Misalnya kita adalah seorang koki di restoran salah satu hotel berbintang. Sejak negara api berkedok Covid-19 menyerang, tingkat hunian terjun bebas. Kamar-kamar kosong. Kita terancam di PHK. Apa yang bisa kita lakukan?

Jika tidak belajar strategic thinking, kita dipersilahkan berkeluh kesah, pasrah, dan mengutuk keadaan yang ada.

Tapi kan kita lagi belajar berpikir strategis. Sayang donk kalo cuma ngedumel aja. Terus kita kudu piye?

Mengusulkan perubahan business model, ide promosi, dan aksi-aksi konkret lain yang bisa dilakukan memang bagus. Tapi sabar dulu bosku. Sebelum masuk ke rekomendasi aksi, ada baiknya kita mundur kebelakang dan melakukan strategic alignment.

Apa pula strategic alignment itu?

Strategic Alignment = Membaca Peta

Iya bener. Strategic alignment itu seperti Dora yang menyuruh kita membaca peta.

Bayangkan resto hotel tempat bekerja kita adalah kapal. Kita adalah penumpang didalamnya. Nah strategic alignment itu bagaikan membaca peta untuk menjawab beberapa pertanyaan:

– Kemana arah kapal ini? (Apa tujuan organisasi saya?)

– Jika menangkap ikan, jenis ikan apa yang ditangkap? (Siapa customer kita?)

– Apakah kapal ini baik-baik saja atau ada kebocoran? (Bagaimana kondisi organisasi saya?)

– Bagaimana ombak dan angin yang berembus? (Apa trend eksternal yang sedang terjadi?)

– Apakah cuaca cerah? Atau ada badai? (Apa dampak trend ke organisasi saya? Apakah organisasi akan menghadapi masa sulit?)

– Ada berapa banyak kapal lain yang berlayar? Siapa yang terbesar? Bagaimana kondisi mereka? (Analisis kompetisi. Siapa pemain inti. Apa competitor movement yang dilakukan?)

– Apa peran saya dalam kapal ini? (Apa tugas kita dalam membantu tujuan organisasi?)

– Adakah peran lain yang sedang dibutuhkan? (Haruskan saya belajar skill baru dan membantu departemen lain yang kekurangan orang?)

Dan berbagai pertanyaan ‘strategic’ lainnya.

Teman-teman kita yang berprofesi sebagai konsultan punya banyak kerangka berpikir (framework) canggih untuk proses membaca peta ini.

Contohnya: 5C analysis (Customer, Company, Competitor, Country, Change), PESTEL analysis (Political, Economic, Social, Technology, Environment, Law), SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threats), dan banyak tools-tools keren lainnya.

Ga usah bingung dengan model diatas. Konsultan memang dibayar mahal untuk membuat kita terkesima dengan metode-metode canggih yang mereka miliki.

Padahal prinsip intinya harus menjawab: Kita ada dimana? Kita mau kemana? Bagaimana keadaan sekitar kita? (belum ngomongin kita harus ngapain ya)

Nah daripada membahas bacotan saya yang membingungkan, mari kita coba praktik saja.

Tulis Dulu

Kembali ke cerita jika kita koki resto hotel yang terdampak Covid. Kita bisa membuat strategic alignment sederhana dengan modal sebuah kertas dan pensil. Bagi tiga bagian lalu tulis:

  1. Kondisi kapal saya dan kemana arah kapal ini
  2. Kondisi lautan dan kapal kompetitor
  3. Peran saya di kapal saat ini

Untuk mengetahui kondisi kapal kita, bisa mulai bertanya ke teman-teman bagian lain: Kira-kira terjadi penurunan hunian berapa persen? Apa lini bisnis yang masih memberikan pemasukan? Seberapa besar penurunan customer yang dine in? Apakah ada arahan strategy dari manajemen?

Lalu kita cek ombak dan lautan  dengan browsing internet dan bertanya ke hotel-hotel lainnya. Apakah semua resto di hotel mengalami hal yang sama? Untuk resto selain hotel, adakah inovasi yang mereka lakukan? Apa insight dari pelanggan kita? Adakah perubahan prilaku konsumsi?

Terakhir, kita coba pasangkan puzzle tim kita ke dalam peta organisasi dan arah industri. Apakah peran divisi resto masih relevan dimasa depan? Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu tujuan? Tujuannya agar kita mengerti kontribusi konkret yang bisa kita berikan demi kemajuan organisasi.

Karena kasusnya imbas Covid terhadap hotel, mungkin latihan ini agak terasa kurang berguna. Kita tahu Covid adalah force majeur yang menghantam seluruh industri pariwisata.

Tapi sekali lagi ini hanyalah contoh. Tujuan kita menulis strategic alignment adalah agar kita berlatih:

a. Melihat gambaran besar dari situasi yang terjadi

b. Membuat koneksi antara kejadian di luar terhadap organisasi kita

c. Tidak terburu-buru langsung melontarkan solusi yang retjeh dan parsial

Seseorang yang tidak melakukan strategic alignment akan merasa pekerjaan mereka hanyalah rutinitas membosankan tanpa dampak yang lebih besar terhadap organisasi. Mereka cenderung melakukan job desk yang diminta tanpa pernah bertanya apa kontribusi besar yang mereka bangun.

Padahal tak ada pekerjaan kecil yang tak penting. Seperti mesin mobil, baut sekecil apapun yang terlepas, akan menimbulkan kerusakan besar dimasa depan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belajar Berpikir Strategis

image: https://www.brandingstrategyinsider.com/

Kenapa arsitek dibayar lebih mahal daripada tukang? Padahal tukang bekerja lebih garang.

Kenapa Jendral dianggap lebih tinggi dari infanteri? Padahal jika perang, prajurit Infanteri yang punya risiko mati.

Kenapa direktur gajinya berkali-kali lipat dari staff? Padahal kerjanya hanya memberikan arahan. Nanti Staff-lah yang benar-benar ‘bekerja’ di lapangan.

Bukan karena pesugihan, ketampanan, atau derajat keturunan. 

Arsitek, Jendral, dan Direktur dibayar lebih mahal karena satu skill berpikir yang sayangnya tidak diajarkan di semua sekolah. Skill itu bernama: seni berpikir strategis.

Bersama dengan critical thinking, problem solving, leadership, dan persuasive communication, kemampuan berpikir strategis adalah salah satu kunci survive di abad informasi seperti saat ini.

Nah pertanyaannya: apa itu seni berpikir strategis? Bagaimana cara memperolehnya?

Strategi Harvard

Ada buku menarik dari Harvard Business Review yang berjudul: HBR Guide to Thinking Strategically (2019). Berisi kumpulan artikel tentang cara berpikir strategis. Dari 291 halaman yang saya baca, kalau saya boleh simpulkan, berpikir strategis itu gampangannya gini:

Misalnya kita diminta Emak untuk nguras bak mandi. Ada air ¾ bak yang tersisa. Terserah diapain airnya, yang penting bak dikuras. Di kamar mandi ada gayung. Kira-kira apa yang Anda lakukan?

Orang pekerja keras tapi males mikir: ya udah kita buangin saja airnya pakai gayung. Biar capek yang penting sabar. Orang sabar pantatnya lebar sob!.

Orang males kerja males mikir: Kita cari lubang saluran air dibawah bak. Tinggal buka buat dibuang airnya.

Orang belajar mikir strategis: Hmmm sayang nih airnya klo dibuang. Habis dipakai mandi, kita tampung di ember buat nyirem taneman aja deh. Kita siapin banyak ember buat semua airnya.

Orang strategis utopis: Menghubungi ahli di IPB dan berkolaborasi membuat saluran penyulingan air minum mini berbasis kamar mandi. Agar kedepannya jika Emak meminta nguras bak mandi, airnya bisa disuling dengan metode osmosis disertai 2x penyaringan. Tak lupa mempersiapkan botol daur ulang agar air suling itu bisa dikirim ke Glasgow dan dihidangkan saat KTT perubahan iklim 2021.

Semua Orang Harusnya Bisa Berpikir Strategis

Nangkep gak contoh diatas?

Klo belum nangkep coba lapor polisi deh. Selama bukan politikus teman penguasa, pasti cepet koq ketangkepnya (apalagi cuma youtuber #eaaaaa).

Intinya, kemampuan berpikir strategis itu (menurut saya):

Kemampuan untuk melihat gambaran besar suatu keadaan, dan merumuskan keputusan fundamental yang memiliki manfaat besar di masa depan.

Seperti contoh diatas, orang yang tidak berpikir strategis hanya melihat sebuah permasalahan dalam konteks apa adanya: Emak meminta menguras kamar mandi. Karena harus dikuras dan masih ada airnya, ya tinggal dibuang.

Tapi orang dengan pemikiran strategis mampu melihat gambaran yang lebih besar. Menguras kamar mandi adalah ritual mingguan. Jika tidak di manage dengan baik, akan ada banyak sumber daya (dalam hal ini air dan tenaga) yang terbuang. 

Seorang strategist  memikirkan solusi jangka panjang yang bisa berdampak positif. Bisa berupa penambahan nilai, atau dalam penghematan sumber daya (untuk kasus kamar mandi misalnya: menggunakan ember kecil dalam bak, memasang shower agar tidak perlu dikuras, dll).

Nah, kabar baiknya: semua orang bisa belajar berpikir strategis! Karena ini bukan rocket science yang mengharuskan kita menggondol gelar PhD. Juga bukan ilmu mistis dimana kita harus bertapa atau jadi budak nafsu Nyi Roro Kidul.

Coba bayangkan:

Staff yang berpikir strategis bisa mengusulkan sistem baru untuk meningkatkan produktivitas timnya. Pelayan yang berpikir strategis bisa menciptakan alur pelayanan yang lebih efektif untuk melayani pelanggan. Cleaning servis yang berpikir strategis bisa menciptakan metodologi pembersihan yang lebih sederhana tapi mengena.

Belajar mikir strategis itu gimana sih? 

Kira-kira bagaimana caranya?

InsyaAllah saya ceritakan di tulisan selanjutnya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Saya Memanggil Semua Orang ‘Bos’?

https://images.assetsdelivery.com

“Makasih bos”. 

“SIap bosque”.

“Minta tolong ya bos”.

Saya sering mengucapkan kata ‘bos’ di belakang kalimat. Baik di email, media sosial, atau perbincangan fisik harian. Selalu ada kata ‘bos’ di akhirnya. Sebagai panggilan kehormatan kepada partner percakapan. 

Kenapa sih? Apa alasannya? Apakah saya menderita inferiority complex?

Saya mulai membiasakan panggilan ‘bos-bos’ sekitar beberapa tahun lalu. Tidak ingat kapan tahunnya. Jujur saja, saya melakukannya dengan sengaja. Karena ternyata memanggil bos kepada orang lain itu banyak manfaatnya.

Apa saja? Saya mencatat setidaknya ada tiga berkah memanggil orang lain ‘bos’:

#1 Belajar Membahagiakan Orang Lain

Kata Mbah Dale Carnegie (salah satu penulis buku personal development terlaris), rahasia kebahagiaan sosial manusia ada pada penghormatan. Manusia ingin sekali dianggap ‘penting’ dan ditinggikan kedudukannya. 

Masalahnya, tidak semua orang punya sumber daya untuk meninggikan derajatnya. Apalagi kita hidup di dunia materalistis kapitalis yang menilai derajat seseorang dari jabatan dan jumlah angka di rekening perbankan.

Padahal pada dasarnya hanya Tuhan yang bisa meninggikan atau merendahkan derajat seseorang. Hanya saja, ada segolongan saudara kita yang belum dititipi kekuasaan atau kekayaan itu.

Untuk saudara-saudara kita yang kebetulan berprofesi sebagai ‘orang kecil’, dipanggil dengan sebutan ‘Bos’ adalah sebuah sanjungan yang jarang mereka dapatkan.

Bagaimana dengan pekerja informal? Atau mereka yang setiap hari hanya menjalankan perintah, disuruh-suruh, dimarahi jika kerjanya tidak becus. Mereka juga rindu dan berhak untuk mendapat penghormatan.

Pengalaman saya mengajarkan, saat dipanggil ‘bos’, mereka akan tersenyum. Dada mereka terbuka. Sepertinya dunia terlihat lebih indah dari biasanya. Bahkan ada yang terang-terangan merasa malu: ‘Saya jangan dipanggil bos, situ yang bos’.

Efek jangka pendeknya, mereka akan memberikan support lebih kepada kita. Pelayanan yang lebih ramah. Lebih terbuka dalam berbagi informasi. Dan bersedia membantu jika saya kesulitan.

Tapi tujuan pertama saya sebenarnya sederhana: bagaimana membuat seseorang berbahagia. Karena manusia yang bahagia hidupnya, adalah manusia yang membahagiakan sesamanya.

#2 Belajar Mengurangi Kesombongan

steemitimages.com

Manfaat kedua yang saya rasakan: Insyaa Allah berkurangnya rasa sombong. 

Karena kata “Bos” identik dengan kedudukan superior. Mereka yang memanggil orang lain bos biasanya adalah bawahan. 

Insight saya sederhana. Penyakit manusia modern itu: suka membanding-bandingkan berdasarkan ukuran keduniawian. Ditambah ketidaksadaran dalam menggunakan kata ‘hanya’.

“Oh dia hanya petugas kebersihan”. 

“Siapa sih dia? Hanya anak magang juga”.

“Bisa apa dengan gaji hanya segini?”

Membiasakan memanggil orang lain “bos” adalah sebuah upaya pengingat diri: semua makhluk itu sama mulianya di hadapan Tuhan. Tak usah membanding-bandingkan dan merasa lebih membanggakan. 

Bisa saja orang yang kita anggap bukan siapa-siapa, sebenarnya idola para malaikat penghuni surga. Atau orang yang kita anggap punya derajat hebat, sebenarnya hidup dengan tipu muslihat.

Dengan memanggil bos saya belajar untuk tidak merendahkan ‘orang kecil’. Tapi juga tak perlu memuja ‘orang besar’. Karena ketinggian, kebesaran, kehebatan hanya berhak dimiliki oleh Tuhan.

#3 Belajar Menjadi ‘Pelayan’

Ini tujuan yang menurut saya paling sulit dari memanggil orang lain bos: membuang ego pribadi dan belajar ‘melayani’ orang lain.

giphy.com

Kata ‘bos’ identik dengan atasan/pelanggan. Sedangkan atasan/pelanggan harus dilayani dengan baik. Memanggil orang lain bos secara bawah sadar memaksa saya untuk belajar siap membantu orang lain, tanpa memandang status mereka.

Tuhan sudah menggariskan aturan: Sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi sesama. Manusia yang ringan tangannya, akan ringan beban hidupnya, damai hatinya, dan dimudahkan segala urusannya.

Karena itu dalam teori manajemen ada konsep ‘servant leadership’ yang dimotori oleh Robert K.Greenleaf. Hipotesanya indah sekali: pemimpin yang baik itu pemimpin yang menjadi ‘pelayan’ orang yang dipimpinnya.

Pelayan dalam artian bukan mengerjakan semua pekerjaan, tapi selalu siap membantu dalam kapasitasnya sebagai seorang leader. Dan itu berarti mendengarkan aspirasi, memimpin dengan hati dan empati, memperjuangkan kebutuhan dan perkembangan tim yang diasuhi, memiliki visi, dan berusaha mewariskan ‘legacy’.

Idealnya, hanya Tuhan yang harus kita ‘layani’. Tapi Ia tidak membutuhkan ‘layanan’ kita. Ia akan tetap besar, agung, dan penuh rahmat meski tanpa doa-doa dan ibadah yang kita panjatkan. 

Tuhan ‘ingin’ kita melayani sesama manusia. 

Karena itulah ada ‘perintah’: beri makan fakir miskin, cintai anak yatim, hormati orang tuamu, rangkul saudaramu, bantulah tetanggamu, tersenyumlah kepada orang yang berpapasan denganmu. 

Jadilah rahmat bagi semesta. 

Layani orang-orang ‘kecil’ seperti kamu melayani bos besarmu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa yang Bisa Saya Lakukan Jika Terkena PHK (karena Corona)

Covid-19 memang memporak-porandakan perekonomian kita. World Bank sampai meramalkan terjadinya resesi atau pertumbuhan ekonomi yang negatif di seluruh dunia. 

Untuk Indonesia sendiri, diperkirakan ada 1,5 juta pekerja yang terkena imbas dan lebih dari 150 ribu terkena PHK. Terutama di sektor pariwisata dan hospitality.

Jika kita termasuk salah satu ‘korban’ Covid-19, apa yang bisa kita lakukan?

Pertama-tama saya ingin mengucapkan simpati dan dukungan sebesar-besarnya kepada rekan kita yang terimbas PHK. Karena itulah tulisan ini lahir. Saya belum bisa membantu memberikan pekerjaan. Siapa tahu tulisan ini memberikan ide dan inspirasi.

Kedua, tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Karena saya bukan guru. Juga belum jadi motivator bisnis yang punya cerita sukses pribadi. Alhamdulilah kantor tempat saya belajar belum mem-PHK anggotanya (semoga nggak kejadian ya Allah). Jadi pasti ada biasnya. Karena saya tidak mengalami langsung beratnya cobaan kehilangan pekerjaan.

Saya menulis ini karena biasanya orang yang terkena musibah PHK masih shock. Juga bingung harus ngapain. Dan butuh solusi konkret dari sekedar hiburan di kolom komentar:

“Tetap sabar ya… semua akan Indah pada waktunya”.

Bukannya komentar atau kalimat menghibur itu tidak baik. Tapi klo bisa kita pikirkan solusi konkretnya ya kenapa Nggak. 

Sekoci dan Kapal

Jika kehidupan ibarat mengarungi lautan, maka terkena PHK berarti harus berganti kapal untuk tetap berlayar menuju tujuan. Anggap saja kapal adalah organisasi/perusahaan/bisnis yang kita naiki untuk bertahan hidup.

Kapal yang kita gunakan terkena ombak sangat besar bernama Covid-19 hingga hancur berkeping-keping. Untungnya kita masih hidup. Meski sekarang mengambang di tengah lautan. Bertahan hidup menggunakan sekoci, mencoba menemukan harapan.

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Secara garis besar ada dua strategic objective yang perlu disiapkan:

A. Menyiapkan sekoci untuk bertahan hidup

B. Mencari kapal baru untuk melanjutkan perjalanan hidup

#1 Analisa Sekoci

Langkah pertama adalah melihat perbekalan di sekoci yang kita punya. 

Ibarat mengarungi lautan, kita harus tahu berapa stok persediaan air dan makanan. Tujuannya? Untuk mengetahui perbekalan yang ada. Kira-kira cukup berapa lama? Sampai seberapa jauh kita bisa berjalan dengan sekoci ini?

Aksi konkret yang wajib kita lakukan adalah membuat estimasi pengeluaran minimum selama 3 bulan kedepan. Ini pengeluaran minimum untuk bertahan hidup ya. Jadi ya hanya pangan dan papan. Biaya nongkrong, jajan, atau hiburan bisa dicoret dulu. 

Jumlahnya pasti berbeda-beda. Biaya hidup mereka yang single dan berkeluarga pasti tidak sama. Demikian lokasi, pasti berpengaruh sekali.

Jika kita sudah punya perkiraan biayanya, maka langkah selanjutnya adalah menemukan sumber pembiayaan itu. Pilihannya ada dua: 

#1. Internal: menggunakan asset yang kita miliki

Jika kita punya dana cadangan, maka saat inilah dana cadangan itu bisa digunakan. Jika tidak ada maka kita bisa melihat asset yang bisa dilikuidasi. Karena tujuannya adalah bertahan hidup. (Tapi ya ga perlu jual ginjal juga sih).

#2 Eksternal: Meminta bantuan pihak lain

Ga perlu malu dan gengsi jika sumber daya internal kita kurang. Karena kesulitan ekonomi bukan dosa seperti korupsi. Kita bisa meminta bantuan jaringan sosial kita seperti keluarga atau teman dekat. Atau bisa meminta bantuan lembaga sosial seperti lembaga keagamaan atau organisasi kemanusiaan.

Pemerintah meskipun tidak bisa kita jadikan sandaran 100%, bisa juga dijadikan alternatif. Kita bisa menghubungi RT/RW untuk didata dan tercatat di database kementrian sosial. Tapi ya semoga ini jadi pilihan terakhir!

#2 Siapkan kapal selanjutnya

Setelah kita berusaha menyiapkan sekoci untuk bertahan hidup selama terombang ambing, maka langkah selanjutnya adalah mencari kapal untuk melanjutkan perjalanan. Karena life must go on. Meski berat dan sempoyongan terkena ombak.

Pilihan kapal ini juga ada dua:

#A Bisa menyetop kapal yang ‘sudah ada’. Dalam artian kembali berusaha mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang sudah mapan

Aksi konkret yang bisa kita lakukan untuk bisa segera mendapat ‘kapal baru’ antara lain: 

#1 terus belajar dan melakukan upgrading skill (sekarang sudah banyak kelas online termasuk program prakerja pemerintah)

#2 Pergunakan jaringan kita baik offline atau online. Iklankan ‘pencarian kerja’ Anda dan minta bantuan rekomendasi mereka

#3 Memperlebar kriteria pencarian kerja. Tak perlu keukeuh dengan pekerjaan ideal. Sikat dulu peluang yang ada.

#B Jika belum ada kapal yang mau mengangkut atau bosan ‘ikut orang’. Bisa juga Mengumpulkan puing2 yang ada di lautan dan menciptakan kapal kita sendiri.

Mungkin teman-teman bisa menggunakan business idea canvas dari Sergio Seloti seperti dibawah ini untuk menemukan peluang. Biar ide usaha yang dibikin punya latar belakang pasar yang kuat dan ga hanya ikut-ikutan trend sesaat.

Kuncinya ada di aksi konkret dan jangan hanya berwacana. Segera tes ide kita dalam skala kecil (dengan biaya sekecil mungkin) untuk validasi, dan baru melakukan ekspansi modal jika sudah terbukti.

Modalnya dari mana? Sekali lagi ada 2 jenis pembiayaan: internal dan eksternal. Jika kita tidak punya modal sendiri, bisa mencari pembiayaan dari teman/keluarga, atau platform crowdfunding yang sekarang banyak bertebaran. Pinjam ke lembaga keuangan tidak saya sarankan karena cost of capital yang tinggi dan juga dibutuhkan adanya agunan.

Contoh: masyarakat menjadi sangat peduli dengan isu kesehatan. Dilain sisi, ramadan akan segera tiba. Jika Anda punya background di industri makanan, kita bisa mencoba menciptakan ‘cookies rempah’ yang sehat dan nikmat. Ciptakan MVP (minimum viable product).

Tes dulu produksi dalam skala kecil, pasarkan ke teman dan keluarga. Jika respon positif, baru pasarkan secara online. Tak perlu memikirkan investasi peralatan, outlet, dan karyawan. 

Mereka yang bilang ‘tak ada Modal’ sebagai halangan utama memulai usaha biasanya terlalu memikirkan overhead cost yang akan terjadi di masa depan. Padahal belum tentu ide yang kita miliki akan diterima pasar.

#PastiAdaJalan

Mana yang harus diambil? Ikut kapal orang atau bikin kapal sendiri? Semua tergantung situasi dan kondisi. Menyarankan orang untuk membuka usaha belum tentu menjadi solusi. Demikian juga dengan anjuran mencari pekerjaan lagi.

Saran saya pribadi: berdoalah dan lakukan yang mana yang bisa dilakukan.

Jika Anda masih muda dan punya skill yang menjual, mari bersaing dengan sehat dengan ribuan pencari kerja lainnya. Jika Anda melihat peluang usaha yang ada didepan mata, maka silahkan dieksekusi sekarang juga.

Yang agak repot itu: kita tidak punya skill yang menjual di dunia kerja, dan juga bingung mau usaha apa. Tambah tak punya modal pula! Jika ini yang terjadi maka ada satu hal yang bisa kita lakukan: belajar berenang!.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

“Manfaat” Corona bagi Indonesia

“Saya ini penderita Corona: Cowok Romantis dan Mempesona”

Joke garing diucapkan oleh seorang pejabat salah satu BUMN di Yogyakarta, saat saya meeting tanggal 19 Maret lalu. Inilah hebatnya warga negara +62, wabah penyakit pun bisa dijadikan guyonan. 

Padahal pandemi ini sudah menyerang 336 ribu orang dan menewaskan lebih dari 14 ribu penderitanya. Vaksinnya masih dalam pengembangan. Obatnya juga belum jelas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pecaya jika obatnya mirip obat malaria: Chloroquine dan Hydroxychloroquine. Sedangkan Presiden Jokowi merasa obatnya adalah Avigan, yang diplesetkan jadi Afgan. Indonesia sudah memesan 5 juta butir.

Menurut bocoran Dahlan Iskan, pasien Covid-19 di Jakarta diberi obat:  Oseltamivir 2x 75 mg, tambah vitamin C. Plus Azithromycin 2×500 mg atau Levofloxacin 1×750 mg. Jika berat maka diberi Chloroquine sulphate 2x 500 mg. Saya tak tahu yang mana yang benar. Saya bukan dokter. Meski punya tulisan tangan seperti dokter. 

Yang jelas Covid-19 sudah memporakporandakan perekonomian kita. Banyak proyek tertunda. IHSG terjun bebas. Pemerintah bingung untuk memberi stimulus fiskal. Menurut Asian Development Bank, dampak global akibat virus corona berkisar US$77 miliar hingga US$347 milar. Setara dengan 0,1% hingga 0,4% PDB global.

Kita boleh bersedih dan harus bersabar sambil mengelus dada (asal jangan dada tetangga). Tapi saya melihat, masih ada ‘hikmah’ dari cobaan ini. Saya mencatat setidaknya ada 5 manfaat yang bisa kita syukuri, untuk sementara.

  1. Lebih dekat dengan keluarga

Sejak Presiden Jokowi menghimbau warganya untuk bekerja #dirumahaja, banyak kantor yang memberlakukan Bekerja Dari Rumah (BDR). Dampaknya? Pekerja sekarang jadi lebih dekat dengan keluarganya.

Bagi yang belum tahu, banyak pekerja di Jabodetabek yang harus berangkat sesudah shubuh, dan pulang jam 10 malam (terima kasih traffic Ibukota!). Setiap hari, 5 hari seminggu. Tak heran jika anaknya lebih suka memanggil ‘Om’ dari pada ‘Papa’. Dengan BDR, ada waktu mobilitas yang bisa dihemat, ditambah libur sekolah, kini banyak keluarga yang bisa menghabiskan quality time bersama-sama #dirumahaja.

Tapi perlu dicatat: Ga semua pekerja bisa menikmati ini. Mayoritas yang bisa ya pekerja intelektual anggota kelas menengah dan bekerja di perusahaan besar. Bagi pekerja informal, sektor produksi, atau jenis pekerjaan yang high labor intense, maka konsep BDR hanyalah mimpi. Ga masuk kerja, ya ga makan.

Jadi bersyukurlah teman-teman yang bisa bekerja dimana saja ya!

  1. Orang Indo jadi lebih peduli dengan kesehatan

Sejak kapan orang Indo jadi rajin cuci tangan? Ya sejak wabah Covid melanda. Itu memang cuma pendapat subjektif saya. Tapi sejak Corona, cuci tangan menjadi budaya wajib yang dilakukan semua orang. Bahkan hand sanitizer sekarang begitu mudah ditemukan di kantor/masjid/tempat keramaian.

Padahal budaya cuci tangan yang diperkenalkan oleh dokter Hungaria, Ignaz Semmelweiz sejak 1870. Berangkat dari keprihatinan karena tingginya kematian Ibu ketika melahirkan. Ternyata salah satu penyebabnya, dokter yang menangani para Ibu tadi baru saja menangani pasien lain dan tidak melakukan pembersihan yang cukup. 

Budaya cuci tangan dengan sabun atau cairan antiseptik sendiri mulai diterapkan luas sejak 1980-an dan sejak saya kecil (90an) sudah digalakkan di sekolah-sekolah. Tapi saya belum pernah melihat aplikasi yang begitu masif seperti saat Covid ini. Tentunya kita berharap agar budaya ini tetap dijaga meski suatu saat Corona telah mereda (Aamiin).

  1. Akhirnya Kita Bisa Memanfaatkan Internet Untuk Sesuatu yang Produktif

“Internet cepat buat apa?” Dulu ada menteri yang kutipannya dipotong dan jadi pertanyaan seperti itu.

Ga kebayang kan bisa kuliah online? PNS kerja dirumah? Sidang skripsi lewat video call? Berkat kejadian luar biasa Covid-19 ini, masyarakat dituntut untuk mengadopsi teknologi guna mendukung produktifitas.

Yang semula belum paham cara pakai Zoom, Skype, atau Google Hangout, akhirnya pada coba. Aplikasi belajar online (Ruang *uru, Z*nius, dll) saya yakin mengalami peningkatan traffic. Internet bagi generasi muda +62 hanya identik dengan sosial media, youtube, game online, dan tempat cari video ena-ena, kini kembali kepada ‘khittah’-nya sebagai teknologi untuk berkreasi dan berbagi.

  1. Banyak aksi solidaritas sosial, karena Orang Indonesia itu Peduli dengan Sesama!

Ga semua orang bisa ‘survive’ dengan BDR (ditolong pendapatan gede, tabungan yang cukup, dan bisa remote working), banyak profesi yang terdampak kelangsungan hidupnya. Misalnya mitra ojek online. Mereka tak ada pilihan lain, klo ga narik ya ga makan. Mau BDR juga ga mungkin. 

Untungnya masyarakat masih memiliki empati. Muncul gerakan di twitter untuk berbagi. Membeli Gofood untuk sang driver itu sendiri. Belum lagi penggalangan dana crowd sourcing untuk pembelian alat kesehatan. Semua orang bahu-membahu membantu sesama.

  1. Kita Belajar tentang False Negative

Saya masih ingat saat banyak pejabat yang meng-klaim: “Orang Indonesia kebal Corona”. 

Ga perlu menyebut ‘merk’ pejabatnya. Silahkan Googling sendiri. Yang jelas, pernyataan-pernyataan diatas adalah bukti empiris tentang false negative, istilah dalam dunia medis saat diagnosa menganggap tidak adanya penyakit, padahal sebenarnya ada. Hal ini wajar terjadi karena keterbatasan informasi, dan mindset yang menganggap Covid-19 sama dengan flu biasa yang bisa sembuh dengan mudahnya.

Karena itu juga, jangan merasa yakin dengan jumlah penderita yang tedeteksi. Per 22 Maret, sudah tercatat 514 orang. Pertanyaannya, berapa orang yang sudah di tes? Belum ada mass rapid test yang dilakukan sehingga penderita sebenarnya bisa lebih banyak lagi.  Ancaman false negative masih ada didepan mata.

———————

Lima hal yang saya tulis diatas bukanlah sebuah ‘kegembiraan’ diatas penderitaan. Saya hanya ingin melihat hikmah yang bisa kita ambil, dari kejadian luar biasa ini. Sambil terus berdoa, dan berusaha dengan menjaga kesehatan, agar Virus Covid-19 bisa segera mereda.

Saya teringat cerita yang katanya bersumber dari kitab Kifayatul Awwam. Diceritakan Nabi Musa pernah sakit gigi. Karena belum ada dokter gigi, akhirnya ia berdoa kepada Allah. Allah memberikan resep: ambil rumput untuk diletakkan di gigi yang sakit. Puji Tuhan, sakit itu sembuh.

Di lain hari, sakit giginya kambuh. Karena emang belum ditambal. Nabi Musa berinisiatif menempelkan rumput yang sama ke giginya yang sakit. Lha koq ga ngefek? 

Allah menjawab:

“Wahai Musa, Aku adalah yang menyembuhkan dan Akulah yang mengobati. Akulah yang memberi mudharat dan Akulah yang memberi manfaat.”

Pelajarannya? Kita bukan Nabi Musa yang bisa minta ‘resep’ langsung ke Tuhan. Sebagai manusia biasa, kita wajib berdoa dan berusaha mencari obat kesembuhan, sambil tetap menjaga kesehatan.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Cara Mengubah Kebiasaan Kita

 

Mengapa 80% orang yang diet gagal hanya dalam waktu seminggu*?

Mengapa saat resolusi tahun baru, hanya 19% orang yang mampu melaksanakannya selama 2 tahun**?

Mengapa kita seringkali tetap melakukan kebiasaan buruk, meski tahu kita seharusnya berhenti?

Kita tahu merokok tidak baik untuk kesehatan. Mengapa kita sulit untuk berhenti?

Kita tahu olahraga itu penting. Mengapa kita sangat malas menggerakkan badan?

Kita tahu membaca itu investasi. Mengapa kita tetap memilih menonton gosip dan sinetron?

Jawaban pertanyaan diatas menurut Charles Duhigg adalah: karena kita tersandera oleh kebiasaan (habit).

Kebiasaanlah yang membuat kita bergerak dan melakukan semua rutinitas tanpa perlu berpikir lagi. Ini yang membuat kita langsung membuka aplikasi sosmed saat membuka laptop padahal ada pekerjaan yang harus kita lakukan. 

Kebiasaan pula yang mengarahkan kita untuk membeli es krim coklat meski baru saja makan nasi padang. Bagi yang terbiasa membikin kopi, maka aktivitas pertama yang dilakukan adalah menyeduh secangkir kopi dipagi hari.

Pertanyaannya: apakah kebiasaan buruk bisa dihilangkan?

Jawaban jujurnya: TIDAK BISA!. Kebiasaan tidak bisa dihilangkan karena manusia adalah makhluk yang hidup berdasarkan kebiasaan.

Kabar baiknya: kebiasaan buruk dapat diganti dengan kebiasaan baik.

Dalam The Power of Habit, Duhigg menjelaskan rahasia-nya secara ilmiah.

3 Langkah

Sebelum mengganti kebiasaan, kita harus tahu dulu struktur sebuah kebiasaan. Menurut pakar, ada tiga komponen terciptanya habit:

#1 Cue (pemicu): pencetus lahirnya kebiasaan

#2 Routine (rutinitas): Aktivitas rutin yang dilakukan

#3 Reward: Imbalan yang kita dapatkan setelah melakukan aktivitas itu

Kita ambil contoh kebiasaan ngemil di kantor. 

Lahirnya kebiasaan ngemil seringkali terjadi bukan karena kita lapar, tapi adanya ‘pemicu’ berupa kue yang disediakan gratis oleh kantor. Rutinitasnya tentu saja mamam kue-nya. Dan kita mendapat reward berupa perut kenyang dan lidah yang dimanjakan. 

Lantas bagaimana mengubahkan?

Langkah pertama adalah: mengidentifikasi rutinitas yang ingin kita ubah. 

Sadar jika harus berubah menjadi krusial karena otak kita harus mengerti jika ‘ada sesuatu yang salah’ dengan aktivitas yang sedang kita lakukan. Kalo ga merasa sadar ya pasti ga berubah karena merasa ‘fine-fine’ aja.

Langkah kedua: lakukan eksperiment dengan reward. 

Tujuannya untuk mengubah ‘rutinitas’ sebelum mendapatkan reward. Jika sebelumnya kita absen dan langsung mengambil kue gratis, mungkin sebaiknya kita hanya makan kue setelah mengerjakan 1-2 laporan. Atau apa yang terjadi jika reward berupa kue diganti dengan buah?

Langkah ketiga: Temukan cue, motivasi sebuah kebiasaan

Kenapa kita melakukan apa yang kita lakukan? 

Kenapa kita makan kue di pagi hari? Apakah karena lapar? Atau suka rasa manisnya? Atau karena bengong dan ga tau harus ngapain?

Jika karena lapar, ya coba sarapan terlebih dahulu. Jika hanya suka manisnya, mungkin mengganti kue dengan jus segar yang lebih sehat. Jika karena bengong, mungkin bisa membalas email terlebih dahulu.

Terakhir: mulai berubah. Ciptakan rencana dan laksanakan rencana itu.

Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubahnya sendiri.

Image result for charles duhigg"

 

*https://www.health.com/nutrition/5-reasons-most-diets-fail-within-7-days

**https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2980864

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Detik yang Menentukan

Jika Anda punya resolusi yang belum dicapai tahun ini, maka santai saja. Anda tidak sendiri.

Tapi kira-kira apa yang membuat orang belum mencapai target mereka? Dugaan saya: banyak dari kita yang belum memulai.

Contohnya jika saya punya mimpi jalan-jalan ke Eropa. Saya sudah menuliskannya ke resolusi. Tapi hanya menulis mimpi “jalan-jalan ke Eropa” punya dua permasalahan fundamental.

Pertama, mimpi itu terlalu abstrak dan tidak jelas. Eropa adalah daratan seluas 10,18 juta kilometer persegi. Saya juga tidak menjelaskan berangkat kapan, sendiri atau ikut grup, dan kapan kembalinya.

Kedua, target itu terlalu ‘besar’ tanpa road map yang jelas. Tak ada strategi dan rencana aksi. Bagaimana bisa pergi ke Eropa jika saya tidak tahu apa yang harus dilakukan?

Tanpa ada road map untuk memulai dari mana, kita hanya berputar-putar dalam wacana pergi ke Eropa tanpa mampu mengubahnya menjadi tindakan yang konkret (ujung-ujungnya cuma ke Gembira Loka).

Untungnya pakar strategi punya solusi. Kita harus menciptakan objective yang jelas, disertai key result yang bisa diukur. Itulah fungsi OKR. Objective and key result.

Setelah itu OKR dituruhkan jadi action plan. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan. Misal tiga langkah awal ‘Liburan ke Eropa’ adalah:

1. Menentukan tujuan negara dan waktu jalan-jalan

  1. Melakukan survey tiket dan perkiraan biaya
  2. Membuka tabungan khusus

Apakah dengan membuat daftar aksi maka mimpi kita akan terjadi? Tidak semudah itu ferguso!

Prefontal cortex otak kita akan melakukan kalkulasi dan sugesti:

“Emang lu mampu? Hidup masih mulung juga. Mending ditabung cuk… “

Apa yang harus kita lakukan saat menghadapi kondisi seperti ini?

5 Detik

Mel Robbins punya jawaban sederhana: gunakan kekuatan meta-kognisi kita. 

Mahluk apa pula itu meta-kognisi? 

Bahasa sederhananya sih insting. Gunakan pikiran kita untuk mengarahkan insting bertindak. 

Gunakan #5SecondRule.

Premisnya sederhana: 

If you have an instinct to act on a goal, you must physically move within 5 seconds or your brain will kill it.

Jika kita ingin melakukan sesuatu dan setelah 5 detik masih kebanyakan mikir, besar kemungkinan tindakan itu ga jadi kita lakukan.

Contohnya waktu mau nanya nomor telpon cewek/cowok cantik di jalan. Kita ingin sekali bertindak tapi pikiran prefontal cortex kita mencegah:

“Nanti klo ga dikasih gimana? Malu ga sih? Emang siapa situ koq sok kenal?”

Kebanyakan mikir malah ga jalan.

Yang perlu kita lakukan sederhana banget. Berhitung 5..4…3…2..1 dan… berhenti mikir! Langsung gerak samperin dia! Pokoknya harus action! Ga usah dipikir konsekuensinya!

Itulah seni #5SecondRule. Seperti launching roket, kita menggunakan 5 detik untuk memusatkan tindakan dan menghiraukan pikiran sadar kita sendiri. Pokoknya pakai insting untuk melakukan sesuatu.

Aturan ini bisa dipakai saat kita takut memulai sesuatu yang baru, atau ragu-ragu dalam bertindak. Termasuk soal pemenuhan resolusi diri sendiri. 

Banyak orang tidak bisa mencapai target yang mereka inginkan karena mereka belum mulai BERGERAK untuk mencapainya.

Padahal kata kuncinya sederhana: Mulai aja dulu. Just do it.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Akan Tiba Suatu Masa

Akan tiba suatu masa, saat kita menjadi tua.

Kulit jadi keriput, mata menjadi rabun, postur menjadi bungkuk. Apapun perawatan yang kita lakukan, ternyata tak akan mampu menahan musuh bernama penuaan.

Saat itu terjadi, konon hal-hal yang kita anggap penting saat ini, tidak lagi terlalu berarti.

Cerita tentang kerja, akan berganti menjadi kenangan masa muda. Kebanggaan pencapaian, sepertinya berubah menjadi sebuah kecapaian. Obrolan-obrolan kesuksesan, akan berganti menjadi tips kesehatan.

Katanya akan tiba suatu masa, ketika kita merindukan masa kecil kita sendiri.

Mengingat hangatnya pelukan Ibu, resahnya kita karena amarah Ayah, atau senangnya kita mendapat uang jajan dari Kakek Nenek yang sekarang sudah pergi dan tiada. Apakah benar harta terbesar itu bernama keluarga?

Kita merindukan fase kehidupan saat semuanya hanya tentang permainan. Belum ada tuntutan. Belum ada cicilan dan tagihan. Belum ada perbandingan dengan teman satu angkatan. Semua begitu menyenangkan.

Konon akan tiba suatu masa, saat kita tahu siapa sebenarnya teman-teman dekat kita.

Bukan mereka yang mendadak akrab saat kita hidup dalam kemudahaan. Tapi mereka yang selalu tersenyum dan membuka pintu meski kita sedang dalam kesusahan.

Teman terbaik memiliki kuping sebesar gajah Afrika, tapi anti bocor seperti kondom Amerika. Mereka akan menampung semua rahasia yang kita berikan saat bercerita, dan takkan menggosipkannya di dunia maya.

Pada akhirnya tiba suatu masa, dimana jiwa akan berkenalan dengan cinta.

Meski awalnya cinta bertamu sebagai nafsu. Namun berkat sang waktu, kekaguman berubah menjadi penerimaan. Karena ternyata dia yang awalnya kita anggap begitu sempurna, ternyata menyebalkan dan punya dosa seluas angkasa.

Kita pada saatnya akan mengerti. Bahwa cinta itu tentang belajar mengerti, dan takkan pernah memiliki. Karena seperti dunia ini, tak ada cinta yang akan abadi.

Akan tiba suatu masa, orang yang kamu cintai sedang berulang tahun.

Seperti saat ini, 29 Oktober. Tanggal ulang tahun istri saya sendiri.

Inilah saatnya.

Sekarang waktunya.

Izinkan saya berdoa:

Semoga kami bisa menghabiskan hari tua, pada suatu masa.

happy family
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail