Belajar Berpikir Strategis

image: https://www.brandingstrategyinsider.com/

Kenapa arsitek dibayar lebih mahal daripada tukang? Padahal tukang bekerja lebih garang.

Kenapa Jendral dianggap lebih tinggi dari infanteri? Padahal jika perang, prajurit Infanteri yang punya risiko mati.

Kenapa direktur gajinya berkali-kali lipat dari staff? Padahal kerjanya hanya memberikan arahan. Nanti Staff-lah yang benar-benar ‘bekerja’ di lapangan.

Bukan karena pesugihan, ketampanan, atau derajat keturunan. 

Arsitek, Jendral, dan Direktur dibayar lebih mahal karena satu skill berpikir yang sayangnya tidak diajarkan di semua sekolah. Skill itu bernama: seni berpikir strategis.

Bersama dengan critical thinking, problem solving, leadership, dan persuasive communication, kemampuan berpikir strategis adalah salah satu kunci survive di abad informasi seperti saat ini.

Nah pertanyaannya: apa itu seni berpikir strategis? Bagaimana cara memperolehnya?

Strategi Harvard

Ada buku menarik dari Harvard Business Review yang berjudul: HBR Guide to Thinking Strategically (2019). Berisi kumpulan artikel tentang cara berpikir strategis. Dari 291 halaman yang saya baca, kalau saya boleh simpulkan, berpikir strategis itu gampangannya gini:

Misalnya kita diminta Emak untuk nguras bak mandi. Ada air ¾ bak yang tersisa. Terserah diapain airnya, yang penting bak dikuras. Di kamar mandi ada gayung. Kira-kira apa yang Anda lakukan?

Orang pekerja keras tapi males mikir: ya udah kita buangin saja airnya pakai gayung. Biar capek yang penting sabar. Orang sabar pantatnya lebar sob!.

Orang males kerja males mikir: Kita cari lubang saluran air dibawah bak. Tinggal buka buat dibuang airnya.

Orang belajar mikir strategis: Hmmm sayang nih airnya klo dibuang. Habis dipakai mandi, kita tampung di ember buat nyirem taneman aja deh. Kita siapin banyak ember buat semua airnya.

Orang strategis utopis: Menghubungi ahli di IPB dan berkolaborasi membuat saluran penyulingan air minum mini berbasis kamar mandi. Agar kedepannya jika Emak meminta nguras bak mandi, airnya bisa disuling dengan metode osmosis disertai 2x penyaringan. Tak lupa mempersiapkan botol daur ulang agar air suling itu bisa dikirim ke Glasgow dan dihidangkan saat KTT perubahan iklim 2021.

Semua Orang Harusnya Bisa Berpikir Strategis

Nangkep gak contoh diatas?

Klo belum nangkep coba lapor polisi deh. Selama bukan politikus teman penguasa, pasti cepet koq ketangkepnya (apalagi cuma youtuber #eaaaaa).

Intinya, kemampuan berpikir strategis itu (menurut saya):

Kemampuan untuk melihat gambaran besar suatu keadaan, dan merumuskan keputusan fundamental yang memiliki manfaat besar di masa depan.

Seperti contoh diatas, orang yang tidak berpikir strategis hanya melihat sebuah permasalahan dalam konteks apa adanya: Emak meminta menguras kamar mandi. Karena harus dikuras dan masih ada airnya, ya tinggal dibuang.

Tapi orang dengan pemikiran strategis mampu melihat gambaran yang lebih besar. Menguras kamar mandi adalah ritual mingguan. Jika tidak di manage dengan baik, akan ada banyak sumber daya (dalam hal ini air dan tenaga) yang terbuang. 

Seorang strategist  memikirkan solusi jangka panjang yang bisa berdampak positif. Bisa berupa penambahan nilai, atau dalam penghematan sumber daya (untuk kasus kamar mandi misalnya: menggunakan ember kecil dalam bak, memasang shower agar tidak perlu dikuras, dll).

Nah, kabar baiknya: semua orang bisa belajar berpikir strategis! Karena ini bukan rocket science yang mengharuskan kita menggondol gelar PhD. Juga bukan ilmu mistis dimana kita harus bertapa atau jadi budak nafsu Nyi Roro Kidul.

Coba bayangkan:

Staff yang berpikir strategis bisa mengusulkan sistem baru untuk meningkatkan produktivitas timnya. Pelayan yang berpikir strategis bisa menciptakan alur pelayanan yang lebih efektif untuk melayani pelanggan. Cleaning servis yang berpikir strategis bisa menciptakan metodologi pembersihan yang lebih sederhana tapi mengena.

Belajar mikir strategis itu gimana sih? 

Kira-kira bagaimana caranya?

InsyaAllah saya ceritakan di tulisan selanjutnya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Saya Memanggil Semua Orang ‘Bos’?

https://images.assetsdelivery.com

“Makasih bos”. 

“SIap bosque”.

“Minta tolong ya bos”.

Saya sering mengucapkan kata ‘bos’ di belakang kalimat. Baik di email, media sosial, atau perbincangan fisik harian. Selalu ada kata ‘bos’ di akhirnya. Sebagai panggilan kehormatan kepada partner percakapan. 

Kenapa sih? Apa alasannya? Apakah saya menderita inferiority complex?

Saya mulai membiasakan panggilan ‘bos-bos’ sekitar beberapa tahun lalu. Tidak ingat kapan tahunnya. Jujur saja, saya melakukannya dengan sengaja. Karena ternyata memanggil bos kepada orang lain itu banyak manfaatnya.

Apa saja? Saya mencatat setidaknya ada tiga berkah memanggil orang lain ‘bos’:

#1 Belajar Membahagiakan Orang Lain

Kata Mbah Dale Carnegie (salah satu penulis buku personal development terlaris), rahasia kebahagiaan sosial manusia ada pada penghormatan. Manusia ingin sekali dianggap ‘penting’ dan ditinggikan kedudukannya. 

Masalahnya, tidak semua orang punya sumber daya untuk meninggikan derajatnya. Apalagi kita hidup di dunia materalistis kapitalis yang menilai derajat seseorang dari jabatan dan jumlah angka di rekening perbankan.

Padahal pada dasarnya hanya Tuhan yang bisa meninggikan atau merendahkan derajat seseorang. Hanya saja, ada segolongan saudara kita yang belum dititipi kekuasaan atau kekayaan itu.

Untuk saudara-saudara kita yang kebetulan berprofesi sebagai ‘orang kecil’, dipanggil dengan sebutan ‘Bos’ adalah sebuah sanjungan yang jarang mereka dapatkan.

Bagaimana dengan pekerja informal? Atau mereka yang setiap hari hanya menjalankan perintah, disuruh-suruh, dimarahi jika kerjanya tidak becus. Mereka juga rindu dan berhak untuk mendapat penghormatan.

Pengalaman saya mengajarkan, saat dipanggil ‘bos’, mereka akan tersenyum. Dada mereka terbuka. Sepertinya dunia terlihat lebih indah dari biasanya. Bahkan ada yang terang-terangan merasa malu: ‘Saya jangan dipanggil bos, situ yang bos’.

Efek jangka pendeknya, mereka akan memberikan support lebih kepada kita. Pelayanan yang lebih ramah. Lebih terbuka dalam berbagi informasi. Dan bersedia membantu jika saya kesulitan.

Tapi tujuan pertama saya sebenarnya sederhana: bagaimana membuat seseorang berbahagia. Karena manusia yang bahagia hidupnya, adalah manusia yang membahagiakan sesamanya.

#2 Belajar Mengurangi Kesombongan

steemitimages.com

Manfaat kedua yang saya rasakan: Insyaa Allah berkurangnya rasa sombong. 

Karena kata “Bos” identik dengan kedudukan superior. Mereka yang memanggil orang lain bos biasanya adalah bawahan. 

Insight saya sederhana. Penyakit manusia modern itu: suka membanding-bandingkan berdasarkan ukuran keduniawian. Ditambah ketidaksadaran dalam menggunakan kata ‘hanya’.

“Oh dia hanya petugas kebersihan”. 

“Siapa sih dia? Hanya anak magang juga”.

“Bisa apa dengan gaji hanya segini?”

Membiasakan memanggil orang lain “bos” adalah sebuah upaya pengingat diri: semua makhluk itu sama mulianya di hadapan Tuhan. Tak usah membanding-bandingkan dan merasa lebih membanggakan. 

Bisa saja orang yang kita anggap bukan siapa-siapa, sebenarnya idola para malaikat penghuni surga. Atau orang yang kita anggap punya derajat hebat, sebenarnya hidup dengan tipu muslihat.

Dengan memanggil bos saya belajar untuk tidak merendahkan ‘orang kecil’. Tapi juga tak perlu memuja ‘orang besar’. Karena ketinggian, kebesaran, kehebatan hanya berhak dimiliki oleh Tuhan.

#3 Belajar Menjadi ‘Pelayan’

Ini tujuan yang menurut saya paling sulit dari memanggil orang lain bos: membuang ego pribadi dan belajar ‘melayani’ orang lain.

giphy.com

Kata ‘bos’ identik dengan atasan/pelanggan. Sedangkan atasan/pelanggan harus dilayani dengan baik. Memanggil orang lain bos secara bawah sadar memaksa saya untuk belajar siap membantu orang lain, tanpa memandang status mereka.

Tuhan sudah menggariskan aturan: Sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi sesama. Manusia yang ringan tangannya, akan ringan beban hidupnya, damai hatinya, dan dimudahkan segala urusannya.

Karena itu dalam teori manajemen ada konsep ‘servant leadership’ yang dimotori oleh Robert K.Greenleaf. Hipotesanya indah sekali: pemimpin yang baik itu pemimpin yang menjadi ‘pelayan’ orang yang dipimpinnya.

Pelayan dalam artian bukan mengerjakan semua pekerjaan, tapi selalu siap membantu dalam kapasitasnya sebagai seorang leader. Dan itu berarti mendengarkan aspirasi, memimpin dengan hati dan empati, memperjuangkan kebutuhan dan perkembangan tim yang diasuhi, memiliki visi, dan berusaha mewariskan ‘legacy’.

Idealnya, hanya Tuhan yang harus kita ‘layani’. Tapi Ia tidak membutuhkan ‘layanan’ kita. Ia akan tetap besar, agung, dan penuh rahmat meski tanpa doa-doa dan ibadah yang kita panjatkan. 

Tuhan ‘ingin’ kita melayani sesama manusia. 

Karena itulah ada ‘perintah’: beri makan fakir miskin, cintai anak yatim, hormati orang tuamu, rangkul saudaramu, bantulah tetanggamu, tersenyumlah kepada orang yang berpapasan denganmu. 

Jadilah rahmat bagi semesta. 

Layani orang-orang ‘kecil’ seperti kamu melayani bos besarmu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa yang Bisa Saya Lakukan Jika Terkena PHK (karena Corona)

Covid-19 memang memporak-porandakan perekonomian kita. World Bank sampai meramalkan terjadinya resesi atau pertumbuhan ekonomi yang negatif di seluruh dunia. 

Untuk Indonesia sendiri, diperkirakan ada 1,5 juta pekerja yang terkena imbas dan lebih dari 150 ribu terkena PHK. Terutama di sektor pariwisata dan hospitality.

Jika kita termasuk salah satu ‘korban’ Covid-19, apa yang bisa kita lakukan?

Pertama-tama saya ingin mengucapkan simpati dan dukungan sebesar-besarnya kepada rekan kita yang terimbas PHK. Karena itulah tulisan ini lahir. Saya belum bisa membantu memberikan pekerjaan. Siapa tahu tulisan ini memberikan ide dan inspirasi.

Kedua, tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Karena saya bukan guru. Juga belum jadi motivator bisnis yang punya cerita sukses pribadi. Alhamdulilah kantor tempat saya belajar belum mem-PHK anggotanya (semoga nggak kejadian ya Allah). Jadi pasti ada biasnya. Karena saya tidak mengalami langsung beratnya cobaan kehilangan pekerjaan.

Saya menulis ini karena biasanya orang yang terkena musibah PHK masih shock. Juga bingung harus ngapain. Dan butuh solusi konkret dari sekedar hiburan di kolom komentar:

“Tetap sabar ya… semua akan Indah pada waktunya”.

Bukannya komentar atau kalimat menghibur itu tidak baik. Tapi klo bisa kita pikirkan solusi konkretnya ya kenapa Nggak. 

Sekoci dan Kapal

Jika kehidupan ibarat mengarungi lautan, maka terkena PHK berarti harus berganti kapal untuk tetap berlayar menuju tujuan. Anggap saja kapal adalah organisasi/perusahaan/bisnis yang kita naiki untuk bertahan hidup.

Kapal yang kita gunakan terkena ombak sangat besar bernama Covid-19 hingga hancur berkeping-keping. Untungnya kita masih hidup. Meski sekarang mengambang di tengah lautan. Bertahan hidup menggunakan sekoci, mencoba menemukan harapan.

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Secara garis besar ada dua strategic objective yang perlu disiapkan:

A. Menyiapkan sekoci untuk bertahan hidup

B. Mencari kapal baru untuk melanjutkan perjalanan hidup

#1 Analisa Sekoci

Langkah pertama adalah melihat perbekalan di sekoci yang kita punya. 

Ibarat mengarungi lautan, kita harus tahu berapa stok persediaan air dan makanan. Tujuannya? Untuk mengetahui perbekalan yang ada. Kira-kira cukup berapa lama? Sampai seberapa jauh kita bisa berjalan dengan sekoci ini?

Aksi konkret yang wajib kita lakukan adalah membuat estimasi pengeluaran minimum selama 3 bulan kedepan. Ini pengeluaran minimum untuk bertahan hidup ya. Jadi ya hanya pangan dan papan. Biaya nongkrong, jajan, atau hiburan bisa dicoret dulu. 

Jumlahnya pasti berbeda-beda. Biaya hidup mereka yang single dan berkeluarga pasti tidak sama. Demikian lokasi, pasti berpengaruh sekali.

Jika kita sudah punya perkiraan biayanya, maka langkah selanjutnya adalah menemukan sumber pembiayaan itu. Pilihannya ada dua: 

#1. Internal: menggunakan asset yang kita miliki

Jika kita punya dana cadangan, maka saat inilah dana cadangan itu bisa digunakan. Jika tidak ada maka kita bisa melihat asset yang bisa dilikuidasi. Karena tujuannya adalah bertahan hidup. (Tapi ya ga perlu jual ginjal juga sih).

#2 Eksternal: Meminta bantuan pihak lain

Ga perlu malu dan gengsi jika sumber daya internal kita kurang. Karena kesulitan ekonomi bukan dosa seperti korupsi. Kita bisa meminta bantuan jaringan sosial kita seperti keluarga atau teman dekat. Atau bisa meminta bantuan lembaga sosial seperti lembaga keagamaan atau organisasi kemanusiaan.

Pemerintah meskipun tidak bisa kita jadikan sandaran 100%, bisa juga dijadikan alternatif. Kita bisa menghubungi RT/RW untuk didata dan tercatat di database kementrian sosial. Tapi ya semoga ini jadi pilihan terakhir!

#2 Siapkan kapal selanjutnya

Setelah kita berusaha menyiapkan sekoci untuk bertahan hidup selama terombang ambing, maka langkah selanjutnya adalah mencari kapal untuk melanjutkan perjalanan. Karena life must go on. Meski berat dan sempoyongan terkena ombak.

Pilihan kapal ini juga ada dua:

#A Bisa menyetop kapal yang ‘sudah ada’. Dalam artian kembali berusaha mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang sudah mapan

Aksi konkret yang bisa kita lakukan untuk bisa segera mendapat ‘kapal baru’ antara lain: 

#1 terus belajar dan melakukan upgrading skill (sekarang sudah banyak kelas online termasuk program prakerja pemerintah)

#2 Pergunakan jaringan kita baik offline atau online. Iklankan ‘pencarian kerja’ Anda dan minta bantuan rekomendasi mereka

#3 Memperlebar kriteria pencarian kerja. Tak perlu keukeuh dengan pekerjaan ideal. Sikat dulu peluang yang ada.

#B Jika belum ada kapal yang mau mengangkut atau bosan ‘ikut orang’. Bisa juga Mengumpulkan puing2 yang ada di lautan dan menciptakan kapal kita sendiri.

Mungkin teman-teman bisa menggunakan business idea canvas dari Sergio Seloti seperti dibawah ini untuk menemukan peluang. Biar ide usaha yang dibikin punya latar belakang pasar yang kuat dan ga hanya ikut-ikutan trend sesaat.

Kuncinya ada di aksi konkret dan jangan hanya berwacana. Segera tes ide kita dalam skala kecil (dengan biaya sekecil mungkin) untuk validasi, dan baru melakukan ekspansi modal jika sudah terbukti.

Modalnya dari mana? Sekali lagi ada 2 jenis pembiayaan: internal dan eksternal. Jika kita tidak punya modal sendiri, bisa mencari pembiayaan dari teman/keluarga, atau platform crowdfunding yang sekarang banyak bertebaran. Pinjam ke lembaga keuangan tidak saya sarankan karena cost of capital yang tinggi dan juga dibutuhkan adanya agunan.

Contoh: masyarakat menjadi sangat peduli dengan isu kesehatan. Dilain sisi, ramadan akan segera tiba. Jika Anda punya background di industri makanan, kita bisa mencoba menciptakan ‘cookies rempah’ yang sehat dan nikmat. Ciptakan MVP (minimum viable product).

Tes dulu produksi dalam skala kecil, pasarkan ke teman dan keluarga. Jika respon positif, baru pasarkan secara online. Tak perlu memikirkan investasi peralatan, outlet, dan karyawan. 

Mereka yang bilang ‘tak ada Modal’ sebagai halangan utama memulai usaha biasanya terlalu memikirkan overhead cost yang akan terjadi di masa depan. Padahal belum tentu ide yang kita miliki akan diterima pasar.

#PastiAdaJalan

Mana yang harus diambil? Ikut kapal orang atau bikin kapal sendiri? Semua tergantung situasi dan kondisi. Menyarankan orang untuk membuka usaha belum tentu menjadi solusi. Demikian juga dengan anjuran mencari pekerjaan lagi.

Saran saya pribadi: berdoalah dan lakukan yang mana yang bisa dilakukan.

Jika Anda masih muda dan punya skill yang menjual, mari bersaing dengan sehat dengan ribuan pencari kerja lainnya. Jika Anda melihat peluang usaha yang ada didepan mata, maka silahkan dieksekusi sekarang juga.

Yang agak repot itu: kita tidak punya skill yang menjual di dunia kerja, dan juga bingung mau usaha apa. Tambah tak punya modal pula! Jika ini yang terjadi maka ada satu hal yang bisa kita lakukan: belajar berenang!.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

“Manfaat” Corona bagi Indonesia

“Saya ini penderita Corona: Cowok Romantis dan Mempesona”

Joke garing diucapkan oleh seorang pejabat salah satu BUMN di Yogyakarta, saat saya meeting tanggal 19 Maret lalu. Inilah hebatnya warga negara +62, wabah penyakit pun bisa dijadikan guyonan. 

Padahal pandemi ini sudah menyerang 336 ribu orang dan menewaskan lebih dari 14 ribu penderitanya. Vaksinnya masih dalam pengembangan. Obatnya juga belum jelas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pecaya jika obatnya mirip obat malaria: Chloroquine dan Hydroxychloroquine. Sedangkan Presiden Jokowi merasa obatnya adalah Avigan, yang diplesetkan jadi Afgan. Indonesia sudah memesan 5 juta butir.

Menurut bocoran Dahlan Iskan, pasien Covid-19 di Jakarta diberi obat:  Oseltamivir 2x 75 mg, tambah vitamin C. Plus Azithromycin 2×500 mg atau Levofloxacin 1×750 mg. Jika berat maka diberi Chloroquine sulphate 2x 500 mg. Saya tak tahu yang mana yang benar. Saya bukan dokter. Meski punya tulisan tangan seperti dokter. 

Yang jelas Covid-19 sudah memporakporandakan perekonomian kita. Banyak proyek tertunda. IHSG terjun bebas. Pemerintah bingung untuk memberi stimulus fiskal. Menurut Asian Development Bank, dampak global akibat virus corona berkisar US$77 miliar hingga US$347 milar. Setara dengan 0,1% hingga 0,4% PDB global.

Kita boleh bersedih dan harus bersabar sambil mengelus dada (asal jangan dada tetangga). Tapi saya melihat, masih ada ‘hikmah’ dari cobaan ini. Saya mencatat setidaknya ada 5 manfaat yang bisa kita syukuri, untuk sementara.

  1. Lebih dekat dengan keluarga

Sejak Presiden Jokowi menghimbau warganya untuk bekerja #dirumahaja, banyak kantor yang memberlakukan Bekerja Dari Rumah (BDR). Dampaknya? Pekerja sekarang jadi lebih dekat dengan keluarganya.

Bagi yang belum tahu, banyak pekerja di Jabodetabek yang harus berangkat sesudah shubuh, dan pulang jam 10 malam (terima kasih traffic Ibukota!). Setiap hari, 5 hari seminggu. Tak heran jika anaknya lebih suka memanggil ‘Om’ dari pada ‘Papa’. Dengan BDR, ada waktu mobilitas yang bisa dihemat, ditambah libur sekolah, kini banyak keluarga yang bisa menghabiskan quality time bersama-sama #dirumahaja.

Tapi perlu dicatat: Ga semua pekerja bisa menikmati ini. Mayoritas yang bisa ya pekerja intelektual anggota kelas menengah dan bekerja di perusahaan besar. Bagi pekerja informal, sektor produksi, atau jenis pekerjaan yang high labor intense, maka konsep BDR hanyalah mimpi. Ga masuk kerja, ya ga makan.

Jadi bersyukurlah teman-teman yang bisa bekerja dimana saja ya!

  1. Orang Indo jadi lebih peduli dengan kesehatan

Sejak kapan orang Indo jadi rajin cuci tangan? Ya sejak wabah Covid melanda. Itu memang cuma pendapat subjektif saya. Tapi sejak Corona, cuci tangan menjadi budaya wajib yang dilakukan semua orang. Bahkan hand sanitizer sekarang begitu mudah ditemukan di kantor/masjid/tempat keramaian.

Padahal budaya cuci tangan yang diperkenalkan oleh dokter Hungaria, Ignaz Semmelweiz sejak 1870. Berangkat dari keprihatinan karena tingginya kematian Ibu ketika melahirkan. Ternyata salah satu penyebabnya, dokter yang menangani para Ibu tadi baru saja menangani pasien lain dan tidak melakukan pembersihan yang cukup. 

Budaya cuci tangan dengan sabun atau cairan antiseptik sendiri mulai diterapkan luas sejak 1980-an dan sejak saya kecil (90an) sudah digalakkan di sekolah-sekolah. Tapi saya belum pernah melihat aplikasi yang begitu masif seperti saat Covid ini. Tentunya kita berharap agar budaya ini tetap dijaga meski suatu saat Corona telah mereda (Aamiin).

  1. Akhirnya Kita Bisa Memanfaatkan Internet Untuk Sesuatu yang Produktif

“Internet cepat buat apa?” Dulu ada menteri yang kutipannya dipotong dan jadi pertanyaan seperti itu.

Ga kebayang kan bisa kuliah online? PNS kerja dirumah? Sidang skripsi lewat video call? Berkat kejadian luar biasa Covid-19 ini, masyarakat dituntut untuk mengadopsi teknologi guna mendukung produktifitas.

Yang semula belum paham cara pakai Zoom, Skype, atau Google Hangout, akhirnya pada coba. Aplikasi belajar online (Ruang *uru, Z*nius, dll) saya yakin mengalami peningkatan traffic. Internet bagi generasi muda +62 hanya identik dengan sosial media, youtube, game online, dan tempat cari video ena-ena, kini kembali kepada ‘khittah’-nya sebagai teknologi untuk berkreasi dan berbagi.

  1. Banyak aksi solidaritas sosial, karena Orang Indonesia itu Peduli dengan Sesama!

Ga semua orang bisa ‘survive’ dengan BDR (ditolong pendapatan gede, tabungan yang cukup, dan bisa remote working), banyak profesi yang terdampak kelangsungan hidupnya. Misalnya mitra ojek online. Mereka tak ada pilihan lain, klo ga narik ya ga makan. Mau BDR juga ga mungkin. 

Untungnya masyarakat masih memiliki empati. Muncul gerakan di twitter untuk berbagi. Membeli Gofood untuk sang driver itu sendiri. Belum lagi penggalangan dana crowd sourcing untuk pembelian alat kesehatan. Semua orang bahu-membahu membantu sesama.

  1. Kita Belajar tentang False Negative

Saya masih ingat saat banyak pejabat yang meng-klaim: “Orang Indonesia kebal Corona”. 

Ga perlu menyebut ‘merk’ pejabatnya. Silahkan Googling sendiri. Yang jelas, pernyataan-pernyataan diatas adalah bukti empiris tentang false negative, istilah dalam dunia medis saat diagnosa menganggap tidak adanya penyakit, padahal sebenarnya ada. Hal ini wajar terjadi karena keterbatasan informasi, dan mindset yang menganggap Covid-19 sama dengan flu biasa yang bisa sembuh dengan mudahnya.

Karena itu juga, jangan merasa yakin dengan jumlah penderita yang tedeteksi. Per 22 Maret, sudah tercatat 514 orang. Pertanyaannya, berapa orang yang sudah di tes? Belum ada mass rapid test yang dilakukan sehingga penderita sebenarnya bisa lebih banyak lagi.  Ancaman false negative masih ada didepan mata.

———————

Lima hal yang saya tulis diatas bukanlah sebuah ‘kegembiraan’ diatas penderitaan. Saya hanya ingin melihat hikmah yang bisa kita ambil, dari kejadian luar biasa ini. Sambil terus berdoa, dan berusaha dengan menjaga kesehatan, agar Virus Covid-19 bisa segera mereda.

Saya teringat cerita yang katanya bersumber dari kitab Kifayatul Awwam. Diceritakan Nabi Musa pernah sakit gigi. Karena belum ada dokter gigi, akhirnya ia berdoa kepada Allah. Allah memberikan resep: ambil rumput untuk diletakkan di gigi yang sakit. Puji Tuhan, sakit itu sembuh.

Di lain hari, sakit giginya kambuh. Karena emang belum ditambal. Nabi Musa berinisiatif menempelkan rumput yang sama ke giginya yang sakit. Lha koq ga ngefek? 

Allah menjawab:

“Wahai Musa, Aku adalah yang menyembuhkan dan Akulah yang mengobati. Akulah yang memberi mudharat dan Akulah yang memberi manfaat.”

Pelajarannya? Kita bukan Nabi Musa yang bisa minta ‘resep’ langsung ke Tuhan. Sebagai manusia biasa, kita wajib berdoa dan berusaha mencari obat kesembuhan, sambil tetap menjaga kesehatan.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Cara Mengubah Kebiasaan Kita

 

Mengapa 80% orang yang diet gagal hanya dalam waktu seminggu*?

Mengapa saat resolusi tahun baru, hanya 19% orang yang mampu melaksanakannya selama 2 tahun**?

Mengapa kita seringkali tetap melakukan kebiasaan buruk, meski tahu kita seharusnya berhenti?

Kita tahu merokok tidak baik untuk kesehatan. Mengapa kita sulit untuk berhenti?

Kita tahu olahraga itu penting. Mengapa kita sangat malas menggerakkan badan?

Kita tahu membaca itu investasi. Mengapa kita tetap memilih menonton gosip dan sinetron?

Jawaban pertanyaan diatas menurut Charles Duhigg adalah: karena kita tersandera oleh kebiasaan (habit).

Kebiasaanlah yang membuat kita bergerak dan melakukan semua rutinitas tanpa perlu berpikir lagi. Ini yang membuat kita langsung membuka aplikasi sosmed saat membuka laptop padahal ada pekerjaan yang harus kita lakukan. 

Kebiasaan pula yang mengarahkan kita untuk membeli es krim coklat meski baru saja makan nasi padang. Bagi yang terbiasa membikin kopi, maka aktivitas pertama yang dilakukan adalah menyeduh secangkir kopi dipagi hari.

Pertanyaannya: apakah kebiasaan buruk bisa dihilangkan?

Jawaban jujurnya: TIDAK BISA!. Kebiasaan tidak bisa dihilangkan karena manusia adalah makhluk yang hidup berdasarkan kebiasaan.

Kabar baiknya: kebiasaan buruk dapat diganti dengan kebiasaan baik.

Dalam The Power of Habit, Duhigg menjelaskan rahasia-nya secara ilmiah.

3 Langkah

Sebelum mengganti kebiasaan, kita harus tahu dulu struktur sebuah kebiasaan. Menurut pakar, ada tiga komponen terciptanya habit:

#1 Cue (pemicu): pencetus lahirnya kebiasaan

#2 Routine (rutinitas): Aktivitas rutin yang dilakukan

#3 Reward: Imbalan yang kita dapatkan setelah melakukan aktivitas itu

Kita ambil contoh kebiasaan ngemil di kantor. 

Lahirnya kebiasaan ngemil seringkali terjadi bukan karena kita lapar, tapi adanya ‘pemicu’ berupa kue yang disediakan gratis oleh kantor. Rutinitasnya tentu saja mamam kue-nya. Dan kita mendapat reward berupa perut kenyang dan lidah yang dimanjakan. 

Lantas bagaimana mengubahkan?

Langkah pertama adalah: mengidentifikasi rutinitas yang ingin kita ubah. 

Sadar jika harus berubah menjadi krusial karena otak kita harus mengerti jika ‘ada sesuatu yang salah’ dengan aktivitas yang sedang kita lakukan. Kalo ga merasa sadar ya pasti ga berubah karena merasa ‘fine-fine’ aja.

Langkah kedua: lakukan eksperiment dengan reward. 

Tujuannya untuk mengubah ‘rutinitas’ sebelum mendapatkan reward. Jika sebelumnya kita absen dan langsung mengambil kue gratis, mungkin sebaiknya kita hanya makan kue setelah mengerjakan 1-2 laporan. Atau apa yang terjadi jika reward berupa kue diganti dengan buah?

Langkah ketiga: Temukan cue, motivasi sebuah kebiasaan

Kenapa kita melakukan apa yang kita lakukan? 

Kenapa kita makan kue di pagi hari? Apakah karena lapar? Atau suka rasa manisnya? Atau karena bengong dan ga tau harus ngapain?

Jika karena lapar, ya coba sarapan terlebih dahulu. Jika hanya suka manisnya, mungkin mengganti kue dengan jus segar yang lebih sehat. Jika karena bengong, mungkin bisa membalas email terlebih dahulu.

Terakhir: mulai berubah. Ciptakan rencana dan laksanakan rencana itu.

Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubahnya sendiri.

Image result for charles duhigg"

 

*https://www.health.com/nutrition/5-reasons-most-diets-fail-within-7-days

**https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2980864

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Detik yang Menentukan

Jika Anda punya resolusi yang belum dicapai tahun ini, maka santai saja. Anda tidak sendiri.

Tapi kira-kira apa yang membuat orang belum mencapai target mereka? Dugaan saya: banyak dari kita yang belum memulai.

Contohnya jika saya punya mimpi jalan-jalan ke Eropa. Saya sudah menuliskannya ke resolusi. Tapi hanya menulis mimpi “jalan-jalan ke Eropa” punya dua permasalahan fundamental.

Pertama, mimpi itu terlalu abstrak dan tidak jelas. Eropa adalah daratan seluas 10,18 juta kilometer persegi. Saya juga tidak menjelaskan berangkat kapan, sendiri atau ikut grup, dan kapan kembalinya.

Kedua, target itu terlalu ‘besar’ tanpa road map yang jelas. Tak ada strategi dan rencana aksi. Bagaimana bisa pergi ke Eropa jika saya tidak tahu apa yang harus dilakukan?

Tanpa ada road map untuk memulai dari mana, kita hanya berputar-putar dalam wacana pergi ke Eropa tanpa mampu mengubahnya menjadi tindakan yang konkret (ujung-ujungnya cuma ke Gembira Loka).

Untungnya pakar strategi punya solusi. Kita harus menciptakan objective yang jelas, disertai key result yang bisa diukur. Itulah fungsi OKR. Objective and key result.

Setelah itu OKR dituruhkan jadi action plan. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan. Misal tiga langkah awal ‘Liburan ke Eropa’ adalah:

1. Menentukan tujuan negara dan waktu jalan-jalan

  1. Melakukan survey tiket dan perkiraan biaya
  2. Membuka tabungan khusus

Apakah dengan membuat daftar aksi maka mimpi kita akan terjadi? Tidak semudah itu ferguso!

Prefontal cortex otak kita akan melakukan kalkulasi dan sugesti:

“Emang lu mampu? Hidup masih mulung juga. Mending ditabung cuk… “

Apa yang harus kita lakukan saat menghadapi kondisi seperti ini?

5 Detik

Mel Robbins punya jawaban sederhana: gunakan kekuatan meta-kognisi kita. 

Mahluk apa pula itu meta-kognisi? 

Bahasa sederhananya sih insting. Gunakan pikiran kita untuk mengarahkan insting bertindak. 

Gunakan #5SecondRule.

Premisnya sederhana: 

If you have an instinct to act on a goal, you must physically move within 5 seconds or your brain will kill it.

Jika kita ingin melakukan sesuatu dan setelah 5 detik masih kebanyakan mikir, besar kemungkinan tindakan itu ga jadi kita lakukan.

Contohnya waktu mau nanya nomor telpon cewek/cowok cantik di jalan. Kita ingin sekali bertindak tapi pikiran prefontal cortex kita mencegah:

“Nanti klo ga dikasih gimana? Malu ga sih? Emang siapa situ koq sok kenal?”

Kebanyakan mikir malah ga jalan.

Yang perlu kita lakukan sederhana banget. Berhitung 5..4…3…2..1 dan… berhenti mikir! Langsung gerak samperin dia! Pokoknya harus action! Ga usah dipikir konsekuensinya!

Itulah seni #5SecondRule. Seperti launching roket, kita menggunakan 5 detik untuk memusatkan tindakan dan menghiraukan pikiran sadar kita sendiri. Pokoknya pakai insting untuk melakukan sesuatu.

Aturan ini bisa dipakai saat kita takut memulai sesuatu yang baru, atau ragu-ragu dalam bertindak. Termasuk soal pemenuhan resolusi diri sendiri. 

Banyak orang tidak bisa mencapai target yang mereka inginkan karena mereka belum mulai BERGERAK untuk mencapainya.

Padahal kata kuncinya sederhana: Mulai aja dulu. Just do it.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Akan Tiba Suatu Masa

Akan tiba suatu masa, saat kita menjadi tua.

Kulit jadi keriput, mata menjadi rabun, postur menjadi bungkuk. Apapun perawatan yang kita lakukan, ternyata tak akan mampu menahan musuh bernama penuaan.

Saat itu terjadi, konon hal-hal yang kita anggap penting saat ini, tidak lagi terlalu berarti.

Cerita tentang kerja, akan berganti menjadi kenangan masa muda. Kebanggaan pencapaian, sepertinya berubah menjadi sebuah kecapaian. Obrolan-obrolan kesuksesan, akan berganti menjadi tips kesehatan.

Katanya akan tiba suatu masa, ketika kita merindukan masa kecil kita sendiri.

Mengingat hangatnya pelukan Ibu, resahnya kita karena amarah Ayah, atau senangnya kita mendapat uang jajan dari Kakek Nenek yang sekarang sudah pergi dan tiada. Apakah benar harta terbesar itu bernama keluarga?

Kita merindukan fase kehidupan saat semuanya hanya tentang permainan. Belum ada tuntutan. Belum ada cicilan dan tagihan. Belum ada perbandingan dengan teman satu angkatan. Semua begitu menyenangkan.

Konon akan tiba suatu masa, saat kita tahu siapa sebenarnya teman-teman dekat kita.

Bukan mereka yang mendadak akrab saat kita hidup dalam kemudahaan. Tapi mereka yang selalu tersenyum dan membuka pintu meski kita sedang dalam kesusahan.

Teman terbaik memiliki kuping sebesar gajah Afrika, tapi anti bocor seperti kondom Amerika. Mereka akan menampung semua rahasia yang kita berikan saat bercerita, dan takkan menggosipkannya di dunia maya.

Pada akhirnya tiba suatu masa, dimana jiwa akan berkenalan dengan cinta.

Meski awalnya cinta bertamu sebagai nafsu. Namun berkat sang waktu, kekaguman berubah menjadi penerimaan. Karena ternyata dia yang awalnya kita anggap begitu sempurna, ternyata menyebalkan dan punya dosa seluas angkasa.

Kita pada saatnya akan mengerti. Bahwa cinta itu tentang belajar mengerti, dan takkan pernah memiliki. Karena seperti dunia ini, tak ada cinta yang akan abadi.

Akan tiba suatu masa, orang yang kamu cintai sedang berulang tahun.

Seperti saat ini, 29 Oktober. Tanggal ulang tahun istri saya sendiri.

Inilah saatnya.

Sekarang waktunya.

Izinkan saya berdoa:

Semoga kami bisa menghabiskan hari tua, pada suatu masa.

happy family
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ini Yang Saya Lakukan Untuk Bekerja Hanya 4 Hari Dalam Seminggu

freepik.com

Apa trend kerja yang patut kita coba di 2020?

Flexy hours? Udah basi.

Remote working? Biasa bingits.

Boleh pakai baju bebas termasuk celana pendekan? Itu Inovasi zaman vintage kawanku.

The new trend is: less workdays!

Semoga bos saya tidak membaca artikel ini. Tapi saya harus membuat pengakuan dosa: Saya hanya bekerja 4 hari dalam seminggu!

Tentu ada banyak faktor kenapa bisa kejadian.

Karena kebetulan saya belajar di perusahaan yang mementingkan hasil. Kebetulan budaya kerjanya bebas mau remote working, work from home, atau pakai sendal jepitan ke kantor. Kebetulan saya tidak berada di divisi yang membutuhkan kehadiran fisik sepanjang waktu.

Ritual less workdays ini terinspirasi dari buku jadul (tahun 2007) yang ditulis Tim Ferriss: 4 Hours Workweek.

Doi mengusulkan solusi yang pasti dicintai semua umat manusia:

a. Kerja cuma 4 jam seminggu

b. Nganggur-senganggur-nganggurnya

c. Tetap dapat duit buat keliling dunia

Secara logika sangat bisa dilakukan dengan:

  1. Menciptakan bisnis dengan sistem yang mapan
  2. Pastikan pengeluaran lebih kecil dari pendapatan

Tim menawarkan perspektif yang berbeda tentang kekayaan. Menurut dia, orang kaya itu bukan orang yang punya banyak uang. Orang kaya adalah orang yang memiliki komuditas yang tak mungkin diciptakan oleh manusia: waktu.

Orang kaya adalah orang yang punya waktu untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan.

Bagaimana caranya?

Framework yang Ia tawarkan adalah D-E-A-L.

D untuk Definition. Tentang mengubah mindset bahwa kekayaan itu bukan berbentuk harta. Tapi waktu yang terekam dalam bentuk ‘moment’. Buat apa punya 1 juta dollar di bank tapi ga pernah menikmati 1 juta dollar itu? Percuma punya villa tapi ga pernah tinggal di villa itu.

E untuk Elimination. Pentingnya hidup ‘sewajarnya’. Minimalis. Tapi bukan missqueen. Ini tentang meninggalkan ‘ilusi kebahagiaan’ berupa kepemilikan barang, penguasaan informasi, status, dan persepsi orang lain terhadap kita.

A untuk Automation. Bagaimana membangun sistem bisnis sehingga Anda tak perlu mengurus bisnis itu sendiri, kekuatan outsourcing, dan pelajaran MBA – Management by Absence.

L untuk Liberation. Berisi tips-tips praktis agar bisa ‘menghilang’ dari kantor tanpa diketahui bos, cara mendapatkan asisten virtual, sampai saran psikologis jika kita sudah menjadi manusia nomad yang bingung harus ngapain untuk mengisi waktu sehari-hari. Menjadi pengangguran berduit ternyata berbahaya secara psikologis!

Aplikasi Saya

Karena saya masih belajar ikut perusahaan orang, tentu ga bisa ekstrim kerja hanya 4 jam. Kecuali klo saya kawin ama nenek investornya yah…

Yang bisa saya lakukan: mengurangi hari kerja menjadi 4 hari. Dengan metode sederhana:

Design and delegate. Di awal tahun, membuat strategi dan action plan aktivitas yang akan dilakukan selama 6 bulan kedepan. Propose ke bos. Approve? Lanjut ke fase delegation. Kira-kira siapa vendor yang bisa mengeksekusi project ini. Dalam day to day basis, fungsi kita hanya sebagai kontroller dan evaluator.

Eliminate. Membuang pekerjaan yang gak berdampak. Penyakit orang kantoran: menganggap banyak kerjaan itu baik. Padahal aslinya biar kelihatan kerja doank. Output tidak sama dengan outcome. Cari critical output yang menghasilkan outcome paling besar.

Automate. Untuk reporting saya menggunakan automate queries. Inilah manfaat belajar data science. Sehingga setiap minggu sistem akan mengirimkan market performance secara otomatis untuk dianalisa. Report juga harus dibikin sederhana. Hanya satu halaman. Analisa detail bisa ditaruh dalam appendix.

Learning. Tim saya membuat perjanjian: sisihkan satu hari dalam seminggu untuk meninggalkan pekerjaan dan fokus untuk belajar. Apa saja. Ga harus berhubungan dengan urusan kantor. Kelihatannya tidak produktif. Tapi percayalah, karyawan yang terus belajar akan menghasilkan metode-metode baru yang pada ujungnya meningkatkan produktivitas perusahaan.

Dengan menerapkan 4 hari kerja saya merasa:

  1. Terpacu untuk bekerja lebih efektif dan efisien
  2. Mengurangi beban pikiran dengan tidak memikirkan ‘low impact activities’
  3. Merasa menjadi manusia yang lebih baik dengan terus belajar sepanjang waktu

Gimana. Penasaran mau coba? Inget pesen Oom Tim:

Most things make no difference. Being busy is a form of laziness—lazy thinking and indiscriminate action. Being overwhelmed is often as unproductive as doing nothing, and is far more unpleasant. Being selective—doing less—is the path of the productive. Focus on the important few and ignore the rest.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Resep Menjadi Kaya dari Zaman Babilonia

Ini bukan tentang MLM.
Bukan juga soal ilmu ghoib.
Atau rahasia investasi milyarder.
Ini tentang buku klasik tahun 1926 yang selalu nongol di daftar bacaan orang-orang kaya. Membuat saya penasaran. Dan akhirnya ikutan membaca juga.
The Richest Man in Babylon. Karya George Clason. Buku kecerdasan finansial yang dirangkum dalam cerita sederhana.
Tersebutlah Arkad. Pembuat tablet tanah liat yang bisa menjadi orang terkaya di Babilonia. Koq bisa?
Karena Ia mengamalkan tiga rahasia sederhana.
Tiga Rahasia Sederhana
Arkad ternyata awalnya hanya pembuat tablet tanah liat (sebagai media tulisan/prasasti). Ia bukan founder startup, programmer hacker, atau artis bokep dengan follower jutaan.
Ia hanyalah orang biasa dengan satu pembeda: Keinginan untuk memiliki hidup yang lebih baik.
Suatu hari, Algamish, seorang kaya berkedok rentenir di zamannya, memesan tablet. Ia ingin tablet itu jadi besok pagi. Ditawarkan juga upah yang lumayan.
Tak puas hanya dengan uang, Arkad mengajukan penawaran.
“Aku akan menyelesaikan pesananmu tapi setelah itu tolong ajari aku cara menjadi kaya raya”.
Itu inti terjemahan bebas permintaan Arkad. (Jujur aja, buku ini ditulis tahun 1929 dan saya menemukan banyak kosa kata Inggris jadul yang sekarang hanya dipakai untuk menulis puisi).
Arkad rupanya mencari seorang mentor. Dan ia tahu: pengetahuan akan mendatangkan kekayaan. Satu dollar yang ditanam di kepala, akan melahirkan 100 dollar di kantong.
Algamish tertarik dengan tawaran itu. Tak biasanya ada pembuat lempeng yang ingin belajar dan bertanya tentang cara mendapat kekayaan. Kesepakatan pun dibuat.
Besoknya, setelah lembur ditemani kopi, bear brand, dan Red Bull, jadi juga tuh lempengan. Sekarang giliran Algamish yang harus menepati janjinya. Membocorkan rahasia menjadi kaya.
Resepnya jika dirangkum akan seperti ini:
“You first learned to live upon less than you could earn. Next, you learned to seek advice from those who were competent through their own experience to give it. And, lastly, have learned to make gold work for you”.
Aplikasi Tiga Saran Tadi
Bingung? Kalau saya rangkum aplikasinya, setidaknya ada tiga perkara:
#1 A part of all you earn is yours to keep.  Sisihkan 1/10 dari Pendapatan. Berapapun gaji/pendapatan Anda, wajib hukumnya untuk menyisihkan 10%. Pokoknya gimana caranya pengeluaran harus lebih kecil dari pendapatan.
#2 Terus Belajar dan Bertanya ke Para ahli
Inilah pentingnya ilmu pengetahuan dan lingkaran pergaulan. Anda ingin kaya? Maka wajib belajar dan bertanya ke orang yang tepat. Karena itulah orang-orang tajir selalu meng-hire orang yang lebih pintar dari mereka. Karena bertanya ke orang yang salah, sama saja mendapatkan jawaban yang salah.
#3 Membuat Pendapatan Bekerja
Ini tentang menggerakkan 1/10 harta yang telah kita kumpulkan. Tentang membuat uang kita berkembang dengan berinvestasi ke bisnis/asset yang tepat. Anda tak akan menjadi kaya hanya dengan menabung. Anda akan menjadi kaya lebih cepat dengan memutar tabungan Anda.
Simple kan? Secara teori iya: Sisihkan 1/10 dari penghasilan dan kumpulkan modal. Terus belajar. Dan berinvestasi / membuat usaha dengan uang yang kita kumpulkan tadi.
Namun pada praktiknya kita lebih tertarik untuk mikirin kredit sana-sini, main game sampai lupa belajar, dan menggantungkan pendapatan hanya pada pekerjaan yang memberikan kita gaji saat ini.
Karena itulah Algamish berpesan:
“Wealth, like a tree, grows from a tiny seed. The first copper you save is the seed from which your tree of wealth shall grow. The sooner you plant that seed the sooner shall the tree grow. And the more faithfully you nourish and water that tree with consistent savings, the sooner may you bask in contentment beneath its shade.”’
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Dua Aturan Untuk Hidup Penuh Kebahagiaan

Untuk Yoda, yang Alhamdulilah masih hidup juga.

Puji Tuhan sudah 730 hari kamu mengenyam kehidupan.

Sebagai donatur sel sperma, tentu saya sangat bersyukur. Semoga Allah memberikanmu keberkahan, dalam menjalani sisa kehidupan.

Untuk hadiah ulang tahun, ada dua prinsip kehidupan yang ingin saya bagikan. Mungkin bisa membantumu menemukan kebahagiaan. Di masa depan.

Prinsip ini saya dapatkan dari membaca ratusan buku, bertemu ribuan orang, dan menjalani hidup belasan ribu hari.
Dua prinsip sederhana, untuk ulang tahunmu yang kedua.

Prinsip #1: Kunci Kebahagiaan Ada Pada Mengingat Tuhan

Menurut sains, kebahagiaan hanyalah letupan neuron.

Rasa ‘senang’ adalah hasil proses syaraf di otak manusia. Dihasilkan hormon bernama endorphin, dopamine, oxytocin, dan serotonin.

Resep bahagia?

Berolahraga plus istirahat yang cukup (mengeluarkan endorphin dan dopamine), cintai orang lain (perangsang oxytocin), dan lakukan refleksi atau meditasi (serotonin akan bereaksi).

Sayangnya tidak semudah itu Ferguso!

Ketika dewasa, kamu akan berhadapan dengan kegagalan, penolakan, kehilangan, kesedihan, kerusakan, dan penderitaan.
Sebuah keadaan negatif yang tidak bisa kita ubah dengan berolahraga sampai berkeringat 2 liter.

Saat menemui kesulitan, manusia akan mulai mempertanyakan eksistensinya. Dan ada dua aliran:
A. Humanisme
B. Determinisme

Humanisme percaya jika manusia adalah penentu kehidupan mereka sendiri. Mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi masalah yang mereka punya.

Akibatnya? Lelah sekali. Karena terlalu percaya diri.

Saya lebih cenderung opsi kedua. Karena menurut agama, kehidupan sudah ada yang mengatur. Tugas kita hanya berusaha sekuat tenaga. Sisanya dipasrahkan pada Sang Pencipta.

Teman atheis kita mengkritik: pemeluk agama cenderung fatalis dan tidak saintifik. Agama lahir karena ketidakmampuan manusia mengatasi kesulitan hidup.

Terserah mereka saja. Saya sudah mencoba. Menerapkan problem solving dengan metode kekuatan manusia semata. Atau meminta ‘bantuan’ Sang Pencipta lewat doa.

Kesimpulan saya sungguh terang: hanya dengan mengingat Allah hatimu akan tenang.

Prinsip #2: Semuanya Hanya Sementara. Pada Akhirnya Kita Akan Mati

Manusia modern membenci kematian. Sains digalakkan agar manusia bisa hidup lebih lama.

Banyak manusia yang lupa jika tak ada yang abadi di dunia ini.

Karena itu mereka sombong saat diatas, terpuruk saat dibawah.

Padahal semuanya sederhana.

Kesulitan itu sementara. Tugas kita berdoa dan berusaha. Yakinlah kita akan melaluinya.

Kesuksesan itu sementara. Jangan merasa diatas segalanya. Yakinlah kita akan ditinggalkannya.

Rasa ingat mati akan membuat kita menjadi orang yang optimis-realistis. Tidak patah semangat ketika dibawah. Tidak merasa jumawa ketika diatas.

Terakhir, ada resep sederhana tentang cara menjadi bahagia.

Seseorang mendatangi Buddha Gautama dan berkata:

“Saya ingin bahagia. Tunjukkan caranya wahai Sang Bijaksana”.

Buddha bertanya lagi. “Apakah kamu benar-benar ingin bahagia?”

Orang itu menjawab dengan lebih yakin.

“Saya ingin bahagia”.

Buddha tersenyum dan menjawab:

“Pertama, singkirkan kata ‘Saya’. Itu adalah ego. Kedua, buang kata ‘ingin’. Itu adalah nafsu. Setelah itu kamu hanya akan menemukan kebahagiaan”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail