#10 La A’rifuhu

Ibnu Adi berkata, “Aku mendengar beberapa syekh bercerita jika Muhammad bin Ismail al Bukhari akan datang ke Baghdad. Kedatangannya didengar oleh para ulama ahli hadits sehingga mereka bersaksi membuat perkumpulan akbar untuk menyodorkan 100 hadits dengan sanad dan matan yang diacak sedemikian rupa.

Seratus hadits ini dipercayakan kepada 10 orang sehingga satu orang memegang 10 hadist. Mereka diminta untuk menyampaikan hadits-hadits ini kepada Imam Bukhari.

Setelah semua tersusun rapi, mereka mengambil kesepakatan untuk pelaksanaan pertemuan itu. Tak lupa diundang juga ulama dari Khurasan dan daerah sekitar Baghdad.

Ketika hadirin sudah berkumpul, salah satu dari 10 orang itu menanyakan hadits yang telah mereka siapkan kepada Imam Bukhari. Menanggapi hal itu, Imam Bukhari hanya menjawab, “La a’rifuhu, aku tidak tahu”.

Hadirin mulai meragukan keilmuan Imam Bukhari. Karena diluar dugaan, ia justru berkata jika tidak tahu soal hadist yang baru saja ditanyakan.

Giliran orang kedua yang bertanya sampai 10 hadits ditanyakan, ia tetap menjawab “Aku tidak tahu”. Jawaban aku tidak tahu terus terdengar hingga orang kesepuluh.

Setelah 10 orang menyampaikan hadist yang diacak itu, akhirnya Imam Bukhari mulai bicara. Ia kembali ke penanya pertama dan mengoreksi hadist yang ia katakan. Imam Bukhari juga membetulkan matan dan sanad dari hadist yang sengaja diajak tadi. Demikian juga dengan 9 penanya yang lain.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#9 Berkah Orang Shalih

Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (13/203-205)

Abdul Abbas al-Muaddib berkata, “Tetanggaku keturunan Hasyim yang tinggal di Pasar Yahya bercerita kepadaku. Waktu itu kondisiku sangat memprihatinkan. Anakku baru lahir, dan istriku menyuruhku untuk mencari sesuatu untuk dimakan.

Setelah shalat Isya’ aku pergi keluar rumah dan mendatangi pedagang bahan makanan langgananku. Aku menceritakan kondisiku dan meminta sesuatu yang bisa ia berikan kepadaku. Namun karena aku berhutang kepadanya, ia tidak memberiku apa-apa.

Setelah itu aku perge menemui orang lain yang aku harap bisa membantuku, tapi dia juga tidak memberiku apa-apa. Aku kemudian bingung, tidak tahu harus kemana lagi. Akhirnya aku pergi ke sungai Dajlah dan melihat pelaut di Samariyah yang berteriak, “Pelabuhan Utsman, Istana Isa, wahai penduduk kota Saj!”.

Aku pun memanggilnya dan duduk bersamanya. Pelaut itu bertanya, “Kamu mau kemana?”

“Aku tidak tahu mau ke mana lagi”, jawabku.

“Aku tidak pernah melihat sesuatu  yang lebih aneh daripada dirimu. Kamu duduk bersamaku pada waktu seperti ini. Aku menghampirimu sementara kamu mengatakan jika kamu tidak tahu mau pergi ke mana.” Jawab si pelaut.

Aku lalu menceritakan kondisiku, lalu pelaut itu berkata, “Jangan bersedih! Aku adalah orang Saj, aku akan membantu istrimu, Insya Allah”.

Lalu ia membawaku ke masjid Ma’ruf al-Karkhi yang ada di daerah Saj dan memperkenalkan, “Ini adalah Ma’ruf al-Karkhi, ia biasa bermalam dan shalat di masjid. Sekarang berwudhulah untuk shalat, kemudian pergilah ke masjid, dan ceritakan kondisimu. Setelah itu, mintalah agar ia berdoa untukmu!”.

Aku pun melakukan sarannya, aku memasuki masjid. Ketika masuk masjid, ternyata Ma’ruf sedang shalat di mihrab. Aku kemudian mengucapkan salam, shalat dua rakaat, lalu duduk. Adapun Ma’ruf ketika selesai shalat ia menjawab salamku dan bertanya, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, siapa kamu?”.

Aku pun menceritakan kondisiku, sementara Ma’ruf mendengarkan dengan seksama. Ia lalu berdiri untuk melaksanakan shalat. Waktu itu hujan turun dengan lebat. Aku semakin bersedih, bagaimana bisa pulang ke rumah?

Ketika memikirkan hal itu tiba-tiba ada orang yang datang dan mengucapkan salam kepada Ma’ruf.

Ma’ruf bertanya, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, siapa kamu?”

Lelaki itu menjawab, “Aku adalah utusan si fulan. Ia menitipkan salam kepada dan berpesan, ‘Aku sedang tidur di atas hamparan dengan berselimut. Tiba2 aku diingatkan dengan nikmat Allah yang dilimpahkan kepadaku sehingga aku pun bersyukur kepada-Nya. Sebagai bentuk syukurku, aku membawa kantong ini kepadamu untuk kamu berikan kepada orang yang berhak”.

Serahkan kantong itu kepapda laki-laki keturunan Hasyim ini, pinta Ma’ruf.

“Kantong ini berisi 500 dinar”, kata si utusan.

Serahkan kepada laki-laki keturunan Hasyim ini! Kata Ma’ruf lagi.

Utusan itu menyerahkan kantong itu kepadaku. Aku pun pulang ke rumah dan tak lupa mampir ke pedagang makanan untuk melunasi hutang-hutangku. Aku juga membeli tanah untuk kami tanami dengan harapan agar hasil tanamannya bisa menghidupi kami.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#8 Periuk Ajaib

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Jabir berkata, “Ketika parit digali, aku melihat Nabi dalam keadaan sangat lapar. Kemudian, aku pulang menemui istriku, lalu berkata,”Apakah engkau mempunya sesuatu? Sungguh aku melihat keadaan Rasulullah yang sangat lapar.

Istriku lalu mengeluarkan sebuah wadah yang didalamnya ada segantang gandum. Sementara itu kami juga mempunyai anak kambing yang jinak. Aku kemudian menyembelih anak kambing itu sementara istriku menumbuk gandum.

Istriku telah selesai dengan pekerjaannya, begitu pula dengan aku. Lalu, aku potong-potong dagingnya dan kuletakkan di dalam periuk.

Aku pun kembali menuju tempat Rasullah, tetapi istriku berpesan, “Janganlah kamu mempermalukan aku dengan kedatangan Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya.

Selanjutnya aku mendatangi Nabi dan membisiki beliau, “Ya Rasulullah, kami menyembelih kambing kecil dan kami juga telah menumbuk segantang gandum yang kami miliki. Jadi, silakan datang ke rumah bersama beberapa orang saja yang akan menyertaimu.

Tiba-tiab Nabi berteriak, “Ya Ahlal khandaq! Sesungguhnya Jabir telah membuat suatu hidangan yang akan disuguhkan kepada kita. Mari kita pergi ke rumahnya bersama-sama.

Kemudian Nabi bersabda kepadaku, “Jangan sekali-kali Engkau turunkan periukmu dan jangan pula aduk gandummu untuk dijadikan roti sampai aku datang! Aku lalu kembali ke rumah dan Nabi juga datang sembari menyuruh orang2 mengikuti beliau ke sana. Begitulah sampai akhirnya aku menemui istriku.

Istriku berkata, “Ini semua gara-gara kamu, gara-gara kamu.

Aku berkata, “Aku hanya menerjakan apa yang engkau katakan kepadaku”.

Istriku lalu mengeluarkan adukan gandum kami, lalu Nabi meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahannya. Kemudian beliau mendekati tempat periuk kami dan meludah di situ juga serta mendoakan keberkahannya. Setelah itu beliau bersabda kepada istriku

“Panggillah seorang tukang pembuat roti agar ia datang membantu membuat roti bersamamu”. Lalu beliau bersabda lagi,

“Ciduklah dari periukmu, jangan diturunkan”.

Jabir melanjutkan,

“Orang-orang yang datang pada saat itu berjumlah seribu rang. Aku bersumpah dengan nama Allah. Sungguh, mereka dapat makan sampai mereka meninggalkannya dan pergi dari rumahku, padahal periuk kami masih tetap berbunyi karena isinya yang mendidih sebagaimana sebelumnya dan juga adukan roti kami tetap sebagaimana asalnya- tidak berkurang sedikit pun”. HR Bukhari: 4/1505 dan Muslim 6/117)

freepik
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#7 Tamu-tamu Laknat

Ada orang yang bertanya kepada Qais bin Sa’ad bin Ubadah, “Apakah engkau tahu orang yang lebih dermawan darimu?”

Qais dengan rendah hati menjawab, “Ya tentunya ada”.

Suatu hari Qais dan kawan-kawannya sedang dalam perjalanan dan singgah di sebuah perkampungan. Mereka diterima oleh seorang wanita karena sang suami masih ada urusan diluar. Ketika sang suami pulang, berkatalah sang istri, “Ada beberapa orang tamu yang menginap di rumahmu”.

Sang suami langsung menuntun seekor unta dan menyembelihnya. “Kalian diam saja di tempat” katanya kepada rombongan Qais.

Besoknya ia menyembelih seekor unta lagi dan berkata, “Aku tidak memberi makan tamu-tamuku yang hanya menginap semalam”.

Kami berada di rumahnya dua atau tiga hari. Selama itu hujan turun. Saat kami hendak melanjutkan perjalanan, si tuan rumah sedang keluar. Kami lalu meninggalkan uang 100 dinar kepada si istri.

“Sampaikan pamit kami kepada suamimu”.

Kami pun berangkat. Saat tengah hari kami mendengar teriakan orang dari belakang,

“Berhentilah kalian, wahai para pengembara terlaknat! Apakah kalian ingin membayar jamuanku? Ambil uang kalian ini atau lebiih aku menghujamkan tombak ini kepadamu”.

Kami pun mengambil lagi uang kami dan orang itu kembali pulang.

Madarij As-Salikin (2/239) dari Ibnu Qayyim al Jauziyyah, dikutip Ibnu Abdil Bari, dari Air Minum Dari Langit (2016).

http://waynehedlund.org/wp-content/uploads/2015/09/guest-friendly-follow-up.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#6 Insya Allah

Abu Manshur at-Takriri berkata

Abu Juwaliq pergi membeli keledai. Lalu ada orang yang bertanya,  “Mau kemana?”

“Membeli Keledai”, jawab Abu Juwaliq

“Katakan insya Allah”, ingat temannya.

Abu Juwaliq membantah, “Ini bukan waktu yg tepat untuk mengatakan insya Allah. Karena dirham ada di tanganku dan keledai ada di pasar”.

Di perjalanan, dirhamnya dicuri orang. Temannya melihat dalam kondisi sedih dan bertanya,

“Apa yg telah kamu lakukan? Kamu sudah membeli keledai bukan?”

“Dirhamku telah dicuri, insya Allah”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#5 Akibat Kejujuran

source: freepik

Syekh Abdul Qadir al-Jilani bercerita, “Aku membangun urusanku di atas kejujuran. Suatu ketika aku pergi dari Mekah ke Baghdad untuk menuntut ilmu. Waktu itu Ibuku memberi uang 40 dinar. Beliau berpesan agar aku berjanji untuk selalu jujur.

Ketika sampai di negeri Hamdan (Yaman), ada gerombolan perampok yang mencegat. Salah seorang datang menghampiriku dan bertanya, “Apa yang kau bawa?”

Aku menjawab, “Aku membawa 40 dinar”. 1 dinar sekitar 4,25 gram emas.

Laki-laki itu menyangka aku mengejeknya dan meninggalkanku. Namun ada perampok lain yang melihat dan bertanya hal yang sama, “Apa yang kau bawa?”.

Aku pun menjawab dengan jawaban yang sama. Setelah itu ia membawaku ke pimpinan mereka. Ketika pemimpin perompak bertanya, aku lagi-lagi menjawab apa adanya. Ia justru penasaran, “Apa yang membuatmu berkata jujur seperti ini?”.

Aku jawab, “Ibuku sudah berpesan kepadaku agar aku berjanji untuk bersikap jujur. Aku takut jika sampai mengkhianati pesannya”.

Pimpinan perampok itu merasa tersentuh. Ia berteriak dan menangis, “Engkau takut jika mengkhianati janji ibumu, sementara aku tidak takut ketika mengkhianati janji Allah!”.

Ia lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengembalikan semua harta rampasan yang mereka ambil. Dan berkata, “Aku bertobat kepada Allah melalui dirimu”.

Anggota yang lain akhirnya juga ikut insyaf setelah melihat pemimpin mereka bertobat.

Sayyid Husain Affani dalam Shalahul Ummah fi Uluwwil Himmah (5/45)

Sumber: Air Minum Dari Langit (2016).

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#4 Kalung Kebaikan

source: freepik

Abdul Muzhaffar cucu Ibnul Jauzi berkata, “Ibnu Uqail pernah bercerita tentang pengalamannya sendiri:

“Suatu ketika aku pergi haji. Lalu aku menemukan kalung permata di sebuah buntalan benang merah. Tiba-tiba ada orang yang mengumumkan jika telah kehilangna kalung dan akan memberikan 100 dinar kepada orang yang menemukannya. Aku pun mengembalikannya”.

Kakek tua itu ingin memberikanku dinar, namun aku menolaknya.

Setelah itu, aku pergi ke Syam dan mengunjungi Al-Quds. Aku ingin pergi ke Baghdad dan singgah di sebuah masjid di Hald. Saat aku kedinginan dan kelaparan tiba-tiba ada orang yang mendatangi aku. Aku lalu shalat bersama, dan menerima jamuan makan dari mereka. Ini terjadi saat awal Ramadan.

Mereka berkata, “Imam kami meninggal dunia. Kami ingin engkau untuk shalat mengimami kami pada bulan ini”. Aku menyanggupi permintaan itu.

Mereka juga berkata, “Imam kami memiliki seorang anak perempuan”. Lalu aku dinikahkan bersamanya dan memiliki seorang anak laki-laki.

Suatu hari, aku memperhatikan istriku. Ternyata di lehernya ada kalung permata dengan benang merah, sama dengan kalung yang dulu aku temukan.

Aku lalu menceritakan pengalamanku dengan kalung itu.

Istriku menangis dan berkata,

“Demi Allah, engkaulah orangnya. Ayahku pernah menangis dan berdoa, ‘Ya Allah nikahkanlah putriku dengan pemuda yang serupa dengan orang yang telah mengembalikan kalung permata ini kepadaku’. Sungguh, Allah telah mengabulkan doa ayahku”.

Adz-Dzahabi dalam As-Siyar (19/449-450)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#3 Dicium Lelaki Lain

Al Mughirah bin Syu’bah bercerita:

“Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkanku kecuali seorang pemuda. Pernah suatu waktu aku ingin menikahi seorang wanita. Lalu aku mengajaknya bermusyawarah tentang wanita itu”.

Pemuda itu berkata, “Wahai Amir (Gubernur), menuruku sebaiknya engkau jangan menikahinya.

Kenapa? Tanya al Mughirah.

Jawaban sang pemuda sangat tak terduga, “Karena aku pernah melihat ada seorang laki-laki yang menciumnya!”.

Al Mughirah mengikuti saran pemuda itu. Tak lama berselang ia mendengar jika sang wanita sudah menikah. Dengan siapa? Dengan si pemuda yang memberinya saran tadi! Sungguh jurus menelikung tingkat tinggi. Hampir seperti Marquez menelikung Rossi.

“Bukankah kamu berkata bahwa ada seorang pria yang pernah menciumnya?” Tanya al Mughirah kepada si pemuda dengan jengkel.

Pemuda itu tersenyum. “Ya, aku pernah melihat lelaki lain menciumnya. Aku pernah melihat ayahnya mencium wanita itu ketika masih kecil”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#2 Pintu Hutang (Cerita Sederhana Teman Puasa)

source: freepik

Qa’is bin Sa’ad terkenal karena kedermawanannya. Suatu hari ia jatuh sakit, sementara sahabat dan saudaranya tidak ada yang datang menjenguk. Ini membuatnya bertanya-tanya, pergi kemana semua orang?

Setelah diselidiki, banyak yang enggan menjenguk karena malu masih memiliki hutang kepada Qa’is. Qais berkata, “Semoga Allah menghinakan harta yang telah menghalangi para saudara untuk menjenguk orang yang sakit”.

Ia lalu menyuruh orang untuk membuat pengumuman, “Siapa yang punya hutang kepada Qais, hutangnya dianggap lunas!”

Pada sore hari daun pintu rumah Qa’is rusak karena banyaknya orang yang datang menjenguk.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#1 Perlombaan Tiga Lelaki Dermawan (Cerita Sederhana Teman Puasa)

source: freepik

Al-Haitsam bin Adi bercerita, Di sekitar Ka’bah ada tiga orang yang berdebat tentang siapa yang paling dermawan.

Orang pertama berkata, “Manusia yang paling dermawan adalah Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib”. Yang kedua tidak sepakat dan punya pendapat lain, “Orang yang paling dermawan di dunia ini adalah Qais bin Sa’ad bin Ubadah”. Sedangkan orang ketiga sangat yakin dengan pendiriannya, “Anak adam yang paling dermawan adalah Arabah al-Ausi”.

Mereka terus berdebat dan tidak berhasil menemukan titik temu. Lalu ada yang mengusulkan, bagaimana jika kita menguji kedermawanan mereka? Mereka akan menyamar sebagai musafir yang kehabisan bekal dan meminta pertolongan. Semacam “tes kedermawanan”.

Orang pertama  datang ke Abdullah. “Wahai putra paman Rasulullah. Aku adalah seorang musafir yang kehabisan perbekalan”.

Abdullah, yang sedang duduk di atas unta langsung turun dan berkata, “Naikilah onta ini dan ambillah apa yang ada di dalam tas ini. Janganlah engkau terpisah dari pedang ini karena ia termasuk salah satu pedang Ali bin Abi Thalib. Sekarang, pergilah.”.

Orang pertama kemudian pergi dengan membawa onta, tas berisi 4.000 dinar dan pedang istimewa.

Orang kedua yang menjagokan Qais bin Sa’ad bin Ubadah datang menemui Qais. Namun sayang, Qais sedang tidur dan ia diterima budak perempuannya yang bertanya, “Apa keperluanmu?”.

Ia menjawab, “Aku adalah musafir yang kehabisan perbekalan”.

Diluar dugaan sang budak berkata, “Kebutuhan itu lebih remeh daripada membangunkan Qais. Ini ada kantong berisi 700 dinar. Hari ini tidak ada uang lagi selain ini. Pergilah ke tempat unta milik tuan kami dan ambillah satu unta beserta perlengkapannya dan pilih salah satu budak. Setelah itu, pergilah”.

Ketika Qais bangun, budaknya menceritakan apa yang terjadi. Qais menyesal, “Kenapa engkau tidak membangunkanku? Aku ingin menambahkan barang-barang yang ada di rumah ini. Bisa jadi apa yang sudah engkau berikan belum sesuai dengan apa yang ia inginkan”.

Setelah itu giliran orang ketiga yang mengunggulkan Arabah al-Ausi. Ia mendatangi Arabah yang sedang keluar dan dipapah kedua budaknya karena ia buta. Arabah bertanya apa keperluan orang itu.

“Aku adalah seorang musafir yang kehabisan bekal”.

Arabah lalu melepaskan diri dari papahan dua budaknya lalu menpukkan tangan kanannya ke tangan kiri lalu berkata, “Ah ah, demi Allah, aku memasuki waktu pagi dan sore hari dalam keadaan meninggalkan hak-hak harta. Namun kamu bisa mengambil dua budakku ini”.

Orang yang ingin menguji tadi berkata, “Aku tidak ingin mengambil kedua sayapmu”. Sayap dalam hal ini pemandu.

Arabah menjawab, “Jika kamu tidak mengambil keduanya maka keduanya merdeka. Jika engkau mau, engkau bisa membaskan keduanya. Ambillah”. Setelah itu Arabah berjalan dengan meraba-raba dinding dengan tangannya.

Menurut Anda, Siapa yang paling dermawan?

Sumber cerita: Ibnu Abdil Bari. 2016. Air Minum Dari Langit.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail