Tag Archives: airasia

#86 Celebrity Effect: Kenapa Artis Bisa jadi Komisaris?

Dunia bisnis dan showbiz dikejutkan dengan pengangkatan Raline Shah sebagai komisaris independen AirAsia. Betapa tidak, Raline yang tidak memiliki background korporat tiba-tiba menduduki jabatan bergensi di airlines berbiaya hemat terbaik dunia menurut Skytrax itu.

Halo Mbakkkk

Ngomong-ngomong koq bisa sih artis jadi komisaris? Kira-kira apa motifnya? Yang pasti, motifnya bukan kotak-kotak atau kembang-kembang. Alasan utamanya adalah kepentingan bisnis.

Tugas Komisaris

Bagi yang belum tahu, komisaris punya peran berbeda dengan direktur. Ia bertugas mengawasi kebijakan direksi dan menjadi lembaga penasihat. Hal ini diatur dalam UU no 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.

Peran komisaris independen dipertegas dalam penerapan GCG (Good Corporate Governance), dimana sebuah perusahaan yang sehat harus punya direksi, komisaris independen, dan juga komite audit.  Komisaris independen adalah dewan yang tidak berafiliasi dengan direksi, pemegang saham, atau komisaris lainnya.

Kenapa pejabat perusahan ga cukup hanya dewan direksi aja? Karena dalam dunia korporasi ada agency conflict theory. Jadi ceritanya, para direktur punya satu tujuan mulia: membuat pemegang saham semakin kaya (ini jujur lho..). Tapi sayangnya nggak semua direksi kerjaannya bener.

Bisa saja dia sengaja bikin aksi korporasi dengan tujuan mendapatkan bonus pribadi. Misal: menjual asset perusahaan dan mengakuinya sebagai laba tahun berjalan. Performa keuangan yang kinclong menjamin bonus yang keren dong. Urusan perusahaan rugi dimasa depan, itu dipikir belakangan.

Nah, tugas komisaris independen ini berperan penting untuk melakukan pengawasan agar jangan sampai ada kejadian seperti itu. Mereka dipilih oleh pemegang saham untuk mengawasi dan memberi saran pengembangan perusahaan.

Jika punya waktu silahkan baca jurnal klasik dari Firstenberg dan Malkiel (1980) yang berjudul: “Why Corporate Boards Need Independent Directors”.

Terus, kenapa harus artis?

Celebrity effect

Komisaris independen bisa berasal dari mana saja. Tokoh masyarakat sampai pengangguran diperbolehkan. Lagipula dipilihnya seorang artis kedalam tim manajemen bukanlah hal yang baru.

Tahun 2013, Alicia Keys pernah menjabat direktur creative RIM. Vokalis U2, Bono, menjadi direksi perusahaan gitar Fender setahun kemudian. Dan ga Cuma artis, banyak public figure lainnya yang kecipratan rezeki dari dunia korporasi.

http://www.connectnigeria.com/articles/wp-content/uploads/2013/02/alicia-keys-at-blackberry.jpg

Coca Cola pernah meng-hire Evander Holyfield, petinju yang digigit kupingnya oleh Mike Tyson. Michael Jordan pernah jadi direksi Oakley. Apple tidak mau ketinggalan karena pernah merekrut Al Gore.

Boleh percaya boleh tidak, beberapa studi menunjukkan hadirnya public figure dapat mengangkat harga saham. Saham Disney meroket 4.2% saat merekrut Sidney Poitier pada 1994. Perusahaan selai J.M Smucker menikmati kenaikan saham 2.1% saat pegolf professional Nancy Lopez bergabung kesana.

The Economist menyebutnya “celebrity effect”. Hipotesanya: exposure yang diberikan seorang artis menciptakan ketertarikan public dan secara tidak langsung membuat investor memiliki kepercayaan untuk berinvestasi disana.

Intinya kita tidak usah heran apalagi sirik melihat pengangkatan Raline. Semua pasti ada hitung-hitungan bisnisnya. Terbukti pengangkatannya langsung menjadi trending topic dan membuat netizen membicarakan AirAsia.

At least masih mending AirAsia menggandeng Raline dan bukan Mbak Awkarin.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ka’bah Dekat Rumah (3): Awalnya Adalah Nepal

Anda pasti tahu jika awalnya Columbus tidak berencana pergi ke Amerika. Pinta, Nina, dan Maria. Tiga kapal yang pada mulanya ditujukan menuju India. Tapi toh Tuhan punya rencana. Akhirnya Columbus malah terdampar di Amerika. Begitu juga dengan saya.

Setelah lulus kuliah pada 2011, saya ngacung di Jakarta. Menjadi buruh disalah satu perusahaan iklan asing. Kerjaan saya boleh dibilang gampang-gampang susah, bagaimana cara ngabisin duit klien dengan alasan yang keren: membangun world class brand. Tugas saya membuat rekomendasi media strategy dan membeli space media dengan uang mereka.

Brand2 yang pernah saya tangani kebetulan perusahaan multiinasional semua. Mulai dari shampoo punya Raisa yang jadi sponsor Indonesian Idol, oli dari perusahaan minyak Inggris yang nyeponsorin World Cup di Brazil, badan pariwisata Hongkong, mie Instant asli Indonesia yang menjadi jawara di Afrika dan Timur Tengah, dan LCC Airlines dari Malaysia yang menang Skytrax awards 5x berturut-turut.

Kalau dipikir-pikir, saya bisa berangkat umroh karena Tuhan memberi jalan lewat klien saya ini. Koq bisa?

Booking ke Nepal

Mumpung masih bujang, saya suka traveling. Ingin sekali melihat dunia. Sebulan sekali pasti jalan. Kalau keluar negeri sekitar 3 sampai 4x setahun. Baik karena urusan kantor atau backpackeran. Nah hobby ini bisa sukses terlaksana karena klien saya adalah AirAsia.

Mereka kan the best LCC yang rajin banget ngadain promo. Beberapa kali dalam setahun, mereka akan mengadakan free seat dan diskon gede-gedean untuk forward booking (booking keberangkatan beberapa bulan kedepan). Keuntungan jadi planner brand adalah saya bisa tahu “secret information” terlebih dahulu. Sebelum iklan naik dan promo dibuka, saya sudah tahu rute-rute promonya. Berapa harganya. Dan berapa jumlah slotnya.

Contoh promo Karnaval dengan harga mulai dari nol rupiah. Bener2 nol kalau Anda tahu cara nyari-nya 🙂

Jadi bisa ditebak: malam-malam sebelum promo saya udah siap mantengin komputer, biar dapat tiket termurah. Bawa dupa dan kemenyan biar sukses, dan ga lupa jagain lilin jangan sampai mati. Oke saya memang lebay untuk paragpraph ini.

Sekitar bulan April 2013, mereka mengadakan promo gede-gedean lagi. Big sale kursi gratis untuk terbang sampai tahun depan. Kenapa mereka bisa mengadakan ini? Simple aja. Target keterisian pesawat kan ga 100%, nah ada sisa kursi yang sebenarnya bisa diberikan Cuma-cuma. Jatah kursi inilah yang dipromosikan sampai nol rupiah. Yang dipromosikan juga bukan weekend atau peak season. Rasanya pingin ngebacok kalo ada teman yang tanya: “Ada promo tiket lebaran ga?”.

Awalnya saya bermimpi pergi ke Nepal. Gara-gara abis baca Titik Nol-nya Agustinus Wibowo. Dengan sukses ia menggambarkan Nepal sebagai surga backpacker. Tanah dewa yang dingin. Disertai keindahan alam, keagungan himalaya, dan kekayaan budaya membuat semua penjelajah dunia ingin menjejakkan kaki kesana. Ngebayangin bisa jalan kaki bareng biksu dan Sherpa menyusuri kaki himalaya pasti 27x lebih keren daripada nge-date bareng Raisa di mall.

Buku wajib baca bagi mereka yang mengaku sebagai “pejalan”

Saya masih ingat malam itu malam Senin. Setelah cek harga dan jadwal, saya dapat 1 juta untuk ke Nepal!. Fly thru via Kuala Lumpur. Tiket sudah dibooking. Tinggal cari tiket balik dari Kathmandu. Mau langsung balik via KL lagi atau mbolang ke Myanmar dulu?

Tidak Tahu

Sambil cari-cari info penerbangan balik, tiba-tiba kepikiran:

“Jauh-jauh melihat Himalaya tapi belum pernah melihat Ka’bah?” Bah.. buat apa lah!.

Iseng-iseng saya mencari flight ke Arab Saudi. Sudah bisa fly thru di KL. Ga perlu booking dua kali. Setelah searching2, wah dapat 6 juta pulang pergi! Tanpa pikir lagi, langsung saya booking, dan segera bayar. Good bye Nepal. Namaste-nya tahun depan aja ya!

Setelah confirmed. Saya senang sekali. Terbayang ka’bah didepan mata. Padahal urusan saya masih panjang. Kala itu saya benar-benar tidak tahu.

Saya tidak tahu kalau memiliki tiket belum berarti menjamin keberangkatan Anda.

Saya tidak tahu kalau visa Saudi tidak bisa di-apply lewat kedutaan.

Saya tidak tahu kalau kita harus mengurus lewat travel agent.

Saya tidak tahu kalau travel agent tidak menerima solo backpacker.

Tapi saya tahu: jika Tuhan mengijinkan, tidak ada yang tak mungkin untuk dilakukan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail