Tag Archives: bisnis

Tentang Tahu Bulat yang Semakin Jarang Terlihat

Ada fenomena penting yang saya rasa luput dari pemberitaan media mainstream: tahu bulat kini sulit ditemukan!. Kita lebih suka meributkan mbak Afi dari Banyuwangi, Kaesang anak Jokowi, Sevel yang mati, atau kasus politik berbaju agama yang sudah mulai basi. Tapi tidak ada yang mengangkat isu sepenting tahu bulat!

Setidaknya itu berdasarkan pengamatan pribadi saya. Di dekat stasiun Tanjung Barat dulu ada 2 penjual tahu bulat. Menggunakan pick up yang dimodifikasi ala food truck, mereka mempromosikan tahu bulat dengan tagline yang sengak di kuping:

“Tahuuuu bulat… Digoreng dadakan, 500 an, hangat-hangat”.

Kini jingle itu tinggal sejarah dalam hipotalamus otak saya. Kedua penjual tadi lenyap. Demikian juga dengan mobile rounded tofu (tahu bulat keliling) yang sering datang ke kampung tempat saya tinggal. Tak pernah nongol lagi.

Jajanan Rakyat

Sebagai kaum sudra pecinta jajanan murah kaya lemak, bagi saya tahu bulat bukan hanya sebuah jajan yang digoreng dadakan. Tahu bulat adalah symbol inovasi sederhana tapi mengena. Tahu bulat lahir dan melengkapi keluarga besar tahu yang menjadi salah satu makanan wajib orang Asia.

Berbeda dengan tahu isi yang biasanya lebih kompleks (berisi sayur, sosis/daging, dan digoreng dalam balutan tepung), tahu bulat menawarkan kesederhanaan. Hanya tahu berbentuk bulat, digoreng dalam minyak panas, lalu dibumbui sesuai selera. Murah dan sederhana.

Kuliner yang konon berasal dari Jawa Barat ini sempat booming setahun lalu. Setidaknya itu berdasarkan keyword search yang diketikkan orang di mbah Google. Bahkan hal ini mendorong lahirnya game Tahu Bulat yang sempat menjadi salah satu top free games di 2016.

google trends

Tapi kini trend itu mulai berlalu. Interest orang terhadap tahu bulat mulai menurun. Mungkin hal itu yang mendorong penjual tahu bulat sudah tidak semasif tahun lalu. Ia sudah melewati peak period. Nggak hits dan nge-trend lagi.

Apa yang terjadi dengan tahu bulat?

Stagnansi

Menurut saya karena setidaknya karena tiga alasan.

  1. Tidak adanya inovasi – menjual komoditi

Terakhir saya makan tahu bulat beberapa bulan lalu (Pipi Kentang menganggap tahu bulat adalah makanan minyak ga bergisi), rasanya masih sama dengan tahu bulat yang saya makan saat baru launching. Tahu hambar agak asin (karena saya ga pernah mau pake bubuk absurd dari abang penjualnya).

Tidak ada inovasi yang dilakukan misalnya dengan menciptakan tahu bulat mozzarella, toping kaviar, atau tahu bulat dengan siraman red wine (kalo ga ada bisa diganti topi miring). Akhirnya penjual tahu bulat jatuh pada commodity trap ala pasar persaingan sempurna. Tak ada yang membedakan penjual A dan B.

  1. Business model yang stagnan

Saat tahu bulat baru masuk ke pasar, business modelnya inovatif. Menggunakan pick up, ia menawarkan mobile store yang mampu menjangkau wilayah distribusi yang luas. Disaat tukang gorengan lain duduk manis di store, penjual tahu bulat datang menjemput bola.

Tapi setelah itu tak ada lagi. Saya belum mengenal penjual tahu bulat yang membangun brandnya, menciptakan bisnis model baru (misalnya franchise), atau melakukan product development (missal dengan frozen rounded tofu).

  1. Perang harga

Tahu bulat sempat menjadi disruptive market gorengan. Disaat bakwan atau pisang goreng berharga 1000 rupiah, tahu bulat datang dengan cost leadership: jual cukup 500 perak. Strategy ini cukup berhasil untuk menggaet kaum marjinal berpendapatan rendah seperti saya.

Tapi bagaimana selanjutnya? Disinilah penjual tahu bulat mengalami dilemma. Disatu sisi harus mempertahankan cost leadership (kenaikan harga akan membuat konsumen lari ke gorengan lain), disisi lain ia harus menerima margin yang sangat tipis.

Ditengah inflasi yang semakin meninggi, ketatnya kompetisi, dan banyaknya produk subsitusi, kemungkinan banyak penjual yang merasa bisnis tahu bulat sudah tidak feasible dan sustainable untuk dilakukan. Mereka beralih bisnis dan membuat jumlah penjual tahu bulat semakin sedikit.

Equilibrium Baru

Saya percaya apa yang terjadi pada pasar tahu bulat adalah sebuah market synchronization, seleksi alam untuk melihat penjual mana yang bisa memberikan nilai tambah.

Pada akhirnya proses ini akan menciptakan equilibrium baru yang menyeimbangkan supply terharap demand. Yang jelas sebagai pecinta gorengan, saya berharap tahu bulat jangan sampai punah atau sampai di-klaim negara tetangga hehehe.

Besok-besok jika ada bos atau pelanggan yang meminta pekerjaan dadakan diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya, cukup ajukan pertanyaan: “Emang saya jualan tahu bulat bos?”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Membantu

vanderbilt.edu

“Ada yang bisa saya bantu?”

Pertanyaan ini sering kita dengar ketika berbelanja di toko atau menelpon call center. Biasanya diucapkan oleh penjaga toko atau resepsionis diujung telpon. Pertanyaan sederhana yang sesungguhnya sangat bermakna. Mengapa? Karena pertanyaan diatas adalah dasar semua bisnis. Pondasi seluruh kegiatan ekonomi. Kekayaan milyaran dolar, dimulai dari sana.

Bisnis atau kegiatan ekonomi, sering kita anggap hanya sebuah hubungan transaksional semata. Si A memberikan barang/jasa kepada si B, dan sebagai balas jasa, si B memberikan uang. Tapi sesungguhnya lebih dari itu. Bisnis menciptakan hubungan kemanusiaan yang saling menguntungkan. Transaksi tercipta karena relasi aksi-reaksi.

Karena manusia adalah makhluk social dan takkan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Ia butuh bantuan orang lain untuk melangsungkan kehidupan. Kita butuh pangan, sandang, papan, serta berjuta keinginan. Sedangkan para pengusaha, entrepreneur, kapitalis, (atau apapun Anda menyebutnya), adalah manusia terpilih yang mampu melihat kebutuhan manusia, dan “membantu” dengan menciptakan barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan itu.

Pasar Adalah Orang yang Perlu Dibantu

Pada 1976 ketika berjalan-jalan di daerah sekitar kampusnya, Chittagong University, Muhammad Yunus menemukan kenyataan menyakitkan tentang pengrajin bambu. Mereka harus membayar bunga yang sangat tinggi kepada rentenir untuk bisa mendapatkan dana pinjaman. Yunus terkagum-kagum dengan semangat para pengrajin yang didominasi wanita. Mereka bekerja dengan rajin, dan terus berusaha membayar pinjaman meskipun dibebani bunga yang mencekik.

Ia sempat menemui bankir local dan bercerita tentang hal ini. Hasilnya adalah lelucon, bagaimana mungkin bank bisa memberikan kredit untuk mereka yang tidak pantas mendapat kredit? Pendidikan mereka rendah, tidak mengerti business plan atau system akuntansi. Yunus tak tinggal diam. Ia lalu menyuruh mahasiswanya mendata pengrajin, dan dengan uang pribadinya sebesar $27, memberikan kredit lunak. Selebihnya adalah sejarah. Grameen bank lahir, dan Yunus dianugerahi hadiah nobel.

Lain Bangladesh lain Indonesia. Jika pada 1970-an Anda ingin menyewa mobil di Jakarta Continue reading Membantu

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kerja! Kerja! Kerja!

Akhirnya selesai juga. Audisi “SBY Idol” yang menyita perhatian public, telah berakhir. Ada menteri yang lengser, ada yang masuk. Kocok ulang komposisi cabinet yang membuat jumlah wakil menteri makin membengkak. Saya tidak ingin berbicara politik reshuffle, biarlah menjadi urusan Presiden dengan Tuhan. Saya hanya ingin mengucapkan selamat kepada CEO favorit saya yang akhirnya masuk ke jajaran birokrasi: Dahlan Iskan.

Ya, Dahlan Iskan adalah CEO favorit saya! Ada banyak alasan yang membuat saya kagum. Selain dari kemampuannya membesarkan Jawa Pos group. Dari sebuah Koran kecil yang hampir bangkrut di daerah Kembang Jepun menjadi holding company dengan 200 anak perusahaan yang menyaingi Kompas Gramedia.

Juga spirit “intrapreneurship” yang telah ia praktikkan dengan terus memberikan inovasi dan breakthrough dalam setiap perusahaan yang dipimpinnya. Terbukti PLN yang selama bertahun-tahun menjadi Perusahaan Lilin Negara mampu membalikkan keadaan dan menjadi power house energy negara.

Tapi yang membuat saya terkagum-kagum adalah “modal utamanya” selama ini. Kemampuan dasar yang didapat dari profesi awalnya sebagai seorang wartawan. Skill yang menurut saya sangat basic dan fundamental, tapi terbukti mampu menjadi dasar kesuksesan seorang Dahlan Iskan. Apa itu? Continue reading Kerja! Kerja! Kerja!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail