Tag Archives: Buddha

Tentang Kesedihan dan Mengapa Kita Terus Merasa Sedih

source: deviantart

Seorang Ibu yang sangat sedih karena kehilangan anaknya yang meninggal dunia, mendatangi Siddharta Gautama. Setelah berkeluh kesah dan menumpahkan kesedihannya, ia meminta kepada sang Buddha agar anaknya bisa hidup kembali kedunia. Sebuah permintaan yang sedikit mustahil. Anehnya, Buddha menyetujui permintaan sang Ibu. Dengan satu syarat:

Sang Ibu harus membawa benih dari keluarga yang tak pernah kehilangan anggota keluarga. Mendengar syarat itu dengan senang hati sang Ibu segera bergegas pergi. Mengetuk pintu demi pintu.

“Adakah benih yang bisa engkau bagikan?” tanya Ibu disebuah rumah.

“Ya kami memilikinya”

“Apakah keluargamu tidak pernah kehilangan salah satu anggotanya?”

“Maaf sekali, keluarga kami baru saja ada yang meninggal bulan lalu”

“Sayang sekali. Sang Buddha menyuruh saya untuk mencari benih di rumah yang tidak pernah kehilangan anggota keluarganya”

Demikian sang Ibu terus mencari. Mengetuk pintu demi pintu. Rumah demi rumah. Ia berpindah ke desa tetangga. Tapi tetap saja. Semua orang pernah kehilangan. Semua keluarga harus menerima tamu kematian. Akhirnya ia kembali mengharap Buddha.

“Bhante… ternyata tidak ada keluarga yang tidak pernah kehilangan anggotanya. Tidak ada yang tidak pernah merasakan kesedihan. Karena tidak ada manusia hidup, yang tak mati.” Sang Ibu lalu mendapat pencerahan dan menjadi bhikkuni.

Penyebab Kesedihan

Sang Ibu mampu “move on” dari kesedihan yang menimpanya. Tapi mengapa sebagian dari kita tidak?

Martin Seligman dari University of Pennsylvania punya jawabannya. Ternyata, makhluk hidup mampu mempelajari keputusasaan dan menjadikannya sarana bertahan hidup. Coba bayangkan seekor macan sirkus. Pada awalnya ia adalah hewan buas. Tapi berbagai hukuman ketika ia mulai bertindak ganas, dan setoran makanan ketika ia jinak, mampu mengontrol prilakunya.

Demikian juga dengan manusia. Menurut Seligman, keputusasaan yang dialami sebagian manusia adalah sebuah “explanatory style” (gaya penjelasan): kebiasaan dalam menjelaskan kejadian buruk dalam hidup mereka. Contohnya ketika kita kecopetan. Percakapan didalam diri kita mengenai penyebab kecopetan akan mempengaruhi output yang terjadi.

Manusia pesimis, mudah menyerah, dan kalah, menurut Seligman, menjelaskan kejadian buruk sebagai:

1.       Permanent: kejadian buruk akan terus terjadi. Saya kecopetan karena takdir saya memang sial. Nanti saya pasti akan kecopetan lagi.

2.       Pervasive: generalisasi sempit universal. Karena dompet saya hilang di terminal, berarti semua terminal tidak aman.

3.       Personal: semua hanya berpusat pada personal individu. Ini semua karena saya. Semua orang pasti menyalahkan diriku? Mengapa nasibku begitu menyedihkan?

Yang harus kita lakukan, menurut Seligman, adalah menjelaskan pada diri kita sendiri bahwa apapun yang terjadi bahwa hal ini adalah sementara (tidak permanen), spesifik pada kasus tertentu, dan bukan hanya masalah kita sebagai seorang pribadi. Penjelasan itu harus temporary, specific, dan external.

Kembali kecerita Buddha diatas. Sang Ibu akhirnya menemukan pencerahan ketika ia menemukan kesadaran. Sadar jika dunia itu sementara, kehilangan adalah kewajaran, dan kehidupan-kematian adalah sesuatu yang diluar kekuasaan kita.

Sang Ibu sadar jika semua permasalahan kehidupan itu: temporer, spesifik, dan eksternal.

—–

Mau nulis tentang Buddha tapi karena lagi baca tentang Seligman. Jadinya tulisan campur aduk kaya gini. hahaha

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Empat Tanda Bijaksana

Seorang yang bijaksana memiliki empat hal. Apakah keempat hal itu? Tentang hal ini, seorang bijaksana tidak akan membicarakan keburukan orang lain, sekalipun jika ditanya, apalagi jika tidak ditanya. Namun, jika ditanya tentang hal itu dan ia perlu untuk berbicara, sepatutnya ia mengemukakan keburukan orang lain dengan hati2, dengan keraguan dan sangat singkat. Inilah arti dari perkataan, “Orang tersebut bijaksana”.

Selanjutnya seorang bijaksana, sekalipun tidak ditanya, berbicara tentang kebaikan orang lain, apalagi jika ditanya. Namun, jika ditanya tentang hal itu dan ia perlu untuk berbicara, sepatutnya ia memuji kebaikan orang lain dengan terus terang, tanpa keraguan dan jelas. Inilah arti dari perkataan, “Orang tersebut bijaksana”.

Sekali lagi, seorang bijaksana, sekalipun tidak ditanya, berbicara tentang kelemahannya sendiri, apalagi jika ditanya. Namun, jika ditanya tentang kelemahannya sendiri dan ia perlu untuk berbicara, sepatitnya ia berbicara tentang kelemahannya sendiri dengan terang, tanpa keraguan, dan jelas. Inilah arti dari perkataan, “Orang tersebut bijaksana”.

Akhirnya, seorang bijaksana, sekalipun ditanya, tidak akan membicarakan kehebatannya sendiri, apalagi jika tidak ditanya. Namun, jika ditanya tentang kehebatannya sendiri dan ia perlu bicara, sepatutnya ia berbicara tentang kehebatannya dengan hati-hati, penuh keraguan, dan secara singkat, inilah arti dari perkataan, “Orang tersebut bijaksana”.

Aguttara Nikaya II 78

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail