Tag Archives: buku

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada sperusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Berarti secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missqueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat pencitraan). Tapi solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan).

Tidak semudah itu, Ferguso. Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Jepang dan Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki.

#2 Jika kita miskin dan ingin kaya, ya kita harus berinovasi dan menciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Takdir

Baru beberapa minggu lalu saya memikirkan tentang takdir. Saya ingin menulis surat untuk Yoda mengenai topik misteri ini.

Sempat bertanya-tanya: Buku apa yang bisa dijadikan referensi ya? Terutama dari perspektif agama saya.

Sudah terlalu banyak bacaan saya yang mengupas takdir dari segi humanis positivis. Aliran ini percaya jika manusia bisa mengubah takdir mereka sendiri, tanpa perlu campur tangan ilahi.

Dan dua minggu lalu kebetulan saya ada market visit ke Brastagi. Biar hemat ongkos, saya coba naik angkutan umum. Sekalian merasakan jadi warga lokal.

Saat pulang, alhamdulillah semua bis selalu penuh. Sudah 30 menit saya melambaikan tangan. Mulai lambaian standard sampai lambaian mesra. Ga ada yang mau berhenti.

Cuma ada satu minibus rombongan sekolah dengan kernet kapitalis yang masih mau menciduk saya dengan satu syarat:

“Bang naik bang”

Naik kemana udah penuh gini?

“Naik ke atas lah” kata dia nunjuk atap minibus.

Karena penuh penumpang, yang kosong hanya “rooftop”. Itupun saya harus berbagi space pantat dengan penumpang lain.

Jangan harap ada kolam renang dengan mini bar untuk chill in. Ini bener-bener roof top open air stage tanpa asuransi atau perlindungan diri. Ya kali ada beruang bisa manjat ke atas genteng.

Akhirnya setelah nego, posisi dibalik. Kernet naik pangkat duduk di atap, dan saya ngelesot di pintu gantiin posisi kernet.

Setelah 2 jam numpang, saya diturunkan di persimpangan yang ga saya tahu namanya. Dari sini ke Medan kota naik apa bang?

Naik angkot bisa bang. Kata kernet yang berbakat jadi orang kaya ini.

Karena ga tau angkot yang mana, saya asal naik. Warna merah kalo ga salah. Pas saya tanya, katanya lewat lapangan Merdeka, daerah saya menginap. Wuih pas banget.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, angkot melewati toko buku. Entah angin apa, tiba-tiba saya minta turun. Padahal tidak ada tanda-tanda nafsu pelecehan seksual atau rencana kejahatan yang akan dilakukan abang supir terhadap diriku.

Dan di toko buku itu, saya menemukan buku ini. Buku tentang Qadha dan Qadar karangan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.

Secara probabilitas statistik, peluang saya menemukan buku yang sedang saya cari di tengah kota Medan harusnya sangat kecil sekali.

Apakah ini yang namanya takdir?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail