Tag Archives: cerita

Perahu ke Surga

Hari ini (9 April) saya diajak kawan kuliah (si Desti) untuk berkunjung ke Bogor. Bertemu murid-murid boarding school dari salah satu lembaga pendidikan. Desti punya ide untuk menghubungkan cita-cita dan realita dunia nyata. Ada muridnya yang ingin jadi Diplomat, dan kebetulan pula ada kawan kami (Dika) yang sekarang jadi diplomat.

Diharapkan Dika bisa sharing tentang suka duka jadi diplomat, sekaligus memberikan tips dan trick jika ingin mengikuti jejaknya. Semacam kelas inspirasi gitu. Saya sengaja ikutan untuk jalan-jalan, dan juga karena males disuruh bersih-bersih kalo hanya main game di rumah. Kami berlima (sama Bocil dan Lila) janjian ketemu di Bogor.

“Bro bear, Nanti disana lu harus menginspirasi anak-anak ya” kata Desti waktu kami bertemu di KFC stasiun Bogor.

Hah? Inspirasi apaan? Soal hubungan signifikan obesitas terhadap ketampanan? Atau pengaruh lari pagi terhadap penurunan berat badan yang tak pernah berarti? Saya tak akan bisa memotivasi orang lain karena saya percaya motivasi terbaik ya motivasi yang dihasilkan diri sendiri.

“Ya udah nanti sharing-sharing aja ya”. Kamipun berangkat dan menempuh perjalanan hampir 1 jam.

Acara dilaksanakan di masjid. Dika sukses menginspirasi anak-anak. Dengan cerita serunya keliling dunia mewakili Indonesia, serta berbagai cerita off the record soal hubungan luar negeri kita. Saat saya diminta sharing, masa saya harus cerita soal marketing strategy ke anak-anak SMA tak berdosa ini?

Saat bingung, saya teringat ‘Perahu Neraka ke Surga’. Salah satu problem solving tools sederhana yang saya pakai untuk memperbaiki proses, menambal loop hole, menciptakan perubahan, dan juga mendapatkan jodoh (hey, saya PDKT ke istri pakai manajemen strategic lho!).

Kalo saya pikir-pikir, tools ini saya tulis dari hasil membaca beberapa buku problem solving yang dikembangkan perusahaan konsultan macam McKinsey dan six sigma ala General Electric. Tentu dengan simplifikasi sederhana yang cocok untuk anak SMA.

Agar lebih mudah kita pakai cerita fiktif.

Surga yang Terbuka

Alkisah, ada orang yang menjadi penghuni neraka. Karena tak tahan menderita, ia lalu berdoa:

“Ya Tuhan, ampunilah dosa hamba. Sudah bertahun-tahun hamba di neraka, tolong hentikan siksa ini dan masukkan hamba ke surga”

Karena kasihan, Tuhan pun membukakan pintu surga untuknya.

“Baiklah, Kubukakan pintu surga untukmu”

Karena girang bukan kepalang, orang tadi langsung jingkrak-jingkrak dan berlari meninggalkan ‘kompleks neraka’. Begitu kagetnya ia ketika ternyata ada sungai yang memisahkan surga dan neraka. Didalam sungai banyak monster dan setan.

“Tuhan, bagaimana cara ke surga?”

Tiba-tiba ada suara:

“Gunakan akalmu, optimalkan sumber dayamu, semua kubebaskan kepadamu”. Kata suara ghaib itu.

Orang itu sadar, ia ada di neraka, dan ingin menuju ke surga. Dan pintu surga sudah terbuka! Ia hanya perlu kesana. Ia tahu ada sungai yang membatasi dan harus melintasinya. Ia butuh alat untuk menyebrang sungai.

Setelah melihat sekeliling, ia akhirnya mengambil pohon-pohon untuk menciptakan rakit. Urusan tenggelam itu belakangan, yang penting ia sudah membuat rakit dan mengarungi sungai. Membelah arus, menuju surga yang ia impikan.

Matrix Neraka-Surga

Cerita diatas hanyalah perumpamaan. Neraka adalah kondisi kita saat ini. Surga adalah hal yang ingin kita tuju. Sungai adalah hambatan yang menghadang. Kita harus tahu apa hambatan yang ada baru kemudian bisa menentukan solusi untuk mengatasi hambatan itu.

Untuk lebih simple-nya bisa mengacu matrix dibawah ini. Contoh kasus, saya ingin menurunkan badan dari 115 ke 95 kg. Yang perlu saya lakukan adalah menyebutkan keadaan sekarang, lalu kondisi yang saya harapkan.

Mengapa keadaan sekarang belum seperti yang saya harapkan? Karena ada “sungai hambatan”. Dengan merinci hambatan yang ada, saya bisa men-list “perahu” yang ingin saya buat. Setelah itu saya bisa menciptakan action plan yang harus saya lakukan.

Matrix neraka-surga
Matrix neraka-surga

Kenapa matrix neraka-surga ini penting?

  1. Karena banyak dari kita tidak tahu perubahan apa yang diinginkan
  2. Karena banyak dari kita tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan

Dengan menuliskan-nya di matrix neraka-surga, kita memiliki road map sederhana. Apa yang ingin kita capai, apa penghambatnya, apa yang kurang, dan apa yang harus kita lakukan.

Ketika salah satu murid bernama Sandy mencoba matrix ini, ia tahu jika cita-citanya adalah menjadi diplomat (surga). Sedangkan sekarang ia masih anak SMA (neraka). Ada sungai yang menghadang (gelar S1 dengan IPK dan Universitas yang bagus, Toefl 550, tes Departemen Luar Negeri, communication skill, negotiation skill, politik luar negeri, dan skill dipomat lainnya).

Sekarang Sandy tahu action plan yang harus dilakukan. Berdoa kepada Tuhan, belajar yang rajin, mempersiapkan kelulusan untuk masuk ke kampus bergengsi dan mengambil jurusan humaniora, membeli kamus, belajar vocabulary, mencoba menulis esai, belajar speaking in English, dan rajin membaca berita luar negeri di koran.

“Mulai hari ini dan seterusnya, saya memantapkan cita-cita saya di kemudian hari, yaitu memiliki pasport berwarna hitam…” tulis Sandy di facebook-nya. Pasport hitam adalah pasport diplomatik.

Sandy bermimpi. Tapi mimpi tak cukup. Kita harus beraksi. Sepenuh hati. Mengeluarkan potensi yang kita miliki. Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubahnya sendiri.

Karena Tuhan telah membuka pintu surga-Nya. Kita hanya perlu perahu untuk mencapainya.

Foto bareng di Bogor
Foto bareng di Bogor
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Pemuda Batu

Sumpah pemuda pasti ngomongin pemuda. Ga mungkin kan ngomongin kakek tua. Kami, pemuda Indonesia berbangsa satu, berbahasa satu, dan beristri satu bla bla bla gitu deh.. pasti bosen kan klo saia nulis begituan? Karena itu saya Cuma mau sharing cerita rakyat Himalaya tentang Para Pangeran Berubah Menjadi Batu. Cerita ini saya cuplik dari Si Gajah dan Sekumpulan Semut karya Eurice de Souza. Buku berisi kumpulan cerita rakyat India. Cekidot bro:

ronosaurusrex.com

Pada suatu masa, hiduplah seorang raja yang memiliki tiga orang putra. Sang raja sering meminta ketiga putranya berkuda mengelilingi kerajaan untuk mengetahui keadaan rakyatnya.

Suatu hari, ketika putra sulung tengah berkuda melewati sebuah hutan, ia melihat empat ekor kuda yang gagah sedang merumput di pinggir sebuah kolam. Seorang pertapa mengawasi kuda-kuda itu selagi mereka merumput.

“Tuan”, kata pangeran seraya berjalan mendekati pertapa itu, “Mereka adalah kuda-kuda tercantik yang pernah saya lihat. Bolehkah aku menunggangi salah satu kuda ini sebentar saja?”

“Tentu saja boleh”, jawab sang pertapa. “Pilih satu kuda yang paling kau sukai dan silakan tunggangi sepanjang hari ini. Tetapi, kau harus kembali sebelum sore, dan ceritakan petualanganmu kepadaku serta apa artinya. Jika tidak, aku akan mengubahmu menjadi pilar batu”.

Sang pangeran merasa sangat senang. Ia menaiki seekor kuda dan pergi menungganginya. Selagi berkuda, pangeran melewati sepetak kecil kebun sayur mayor yang dipagari dengan papan kayu yang panjang dan tajam sehingga tidak bisa dimasuki oleh siapa pun. Ketika ia berhenti untuk melihat-lihat tempat itu, betapa terkejutnya sang pangeran melihat papan kayunya berubah menjadi sabit yang kemudian bergerak memangkas sayur mayor didalam kebun.

Bingung dan ketakutan, pangeran berkuda pulang secepat mungkin untuk kembali ke pinggir kolam, dan ia pun menceritakan kepada pertapa apa yang telah ia lihat.

“Apa arti kejadian itu?” tanya pertapa.

“Aku tidak tahu” jawab pangeran. “Kupikir justru Tuanlah yang akan menjelaskan artinya padaku”

“Tidak tahu!” seru pertapa. “Bagaimana mungkin kau bisa memimpin sebuah kerajaan jika kau tidak bisa memahami bahkan untuk hal-hal yang paling sederhana? Kau akan berubah menjadi batu karena kebodohanmu”.

Segera setelah kutukan itu diucapkan oleh pertapa, pangeran berubah menjadi sebuah pilar batu.

Keesokan harinya, pangeran kedua berkuda menuju untuk mencari kakaknya, dan ia pun bertemu dengan pertapa di pinggir kolam beserta keempat kuda yang sedang merumput. Sama seperti kakaknya, pangeran kedua juga bertanya kepada pertapa apakah ia boleh menunggangi salah satu kuda itu, dan sang pertama pun menyebutkan syarat yang sama.

“Aku sudah beribu-ribu kali berkuda melewati daerah ini” kata pangeran. “Dan, aku tidak pernah melihat sesuatu yang aneh”.

“Kita lihat saja nanti” balas pertapa, dan pangeran kedua pun berkuda ketempat yang jauh.

Beberapa jam kemudian, ia kembali.

“jadi bagaimana?” tanya pertapa. “Apakah kau melihat sesuatu yang aneh?”

“Oh, iya” jawab pangeran. “Aku bertemu dengan seorang Continue reading Tiga Pemuda Batu

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail