Tag Archives: cul-de-sag

Cul-de-sac: Kenapa terkadang jalan buntu adalah jalan yang terbaik

#68

Pada abad ketiga sebelum masehi, terjadi peperangan di daerah Julu, China yang melibatkan dinasti Qin dengan tentara Negara Chu. Secara jumlah, tentara dinasti Qin lebih unggul. Jumlah mereka 300.000, berkali-kali lipat dari pasukan Chu yang hanya memiliki 20.000 personil.

Komandan Negara Chu yang terdesak, Xiang Yu, punya strategy gila. Setelah berhasil menyebrangi sungai, ia memerintahkan anak buahnya untuk membakar seluruh kapal dan hanya menyediakan persediaan bekal selama 3 hari. Aturannya sederhana: memenangkan perang atau mati. Hal yang sama konon dilakukan Cortes, Alexander Agung, dan juga Tariq Ibnu Ziyad saat hendak menaklukkan daerah baru.

Mereka menciptakan cul-de-sac dengan harapan pasukannya akan mengoptimalkan seluruh kemampuannya. Karena terbukti manusia memiliki “power of kepepet” (meminjam judul buku Jaya Setiabudi). Disaat terdesak, kita akan mengeluarkan 200% kemampuan kita.

Biasanya ga kuat lari. Begitu dikejar anjing, ternyata kita bisa nyaingin Usain Bolt. Ngakunya ga ngerti bela diri, tapi begitu berantem ama perampok kita akan mengeluarkan segala jurus maut seperti Bruce Lee. Power of kepepet-lah yang menyebabkan banyak tim papan atas kesulitan melawan tim juru kunci yang sedang berjuang lolos dari degradasi.

Mungkin karena itu Sun Tzu memberikan saran yang sangat mulia: “Jangan habisi musuh yang terdesak. Berikan mereka jalan melarikan diri”. Berperang melawan 100 orang yang kepepet antara hidup dan mati hampir sama dengan melawan 200 orang prajurit militant.

Pelajarannya: kesulitan adalah berkah, dan jalan buntu adalah anugerah. Jika sekarang hidup Anda sedang dilanda permasalahan berat dan menemukan jalan buntu, yakinlah masih ada jalan keatas. Tuhan sedang menantang kreativitas dan militansi kita dalam menjalani cobaan.

Karena disetiap kesulitan, ada kemudahan. Dan disetiap permasalahan, ada kekuatan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail