Tag Archives: habibie

Pesawat Oleng, Kapten!

Bayangkan Anda seorang kopilot penerbangan.

Apa yang akan Anda lakukan jika pilot pesawat tiba-tiba terkena serangan jantung?

Bingung? mungkin. Gugup? bisa jadi. Panik? manusiawi. 

Tapi ada 200 juta penumpang yang menggantungkan harapannya kepada Anda. Pesawat harus tetap terbang. Harus bisa mendarat. Dengan selamat.

Untungnya kopilot itu adalah B.J Habibie. Seorang pencipta pesawat yang sangat mencintai penumpangnya, rakyat Indonesia.

Pesawat oleng, Kapten!

Situasi politik memanas. Lawan politiknya mempertanyakan kredibilitasnya dan memaksa ia mundur.

Dalam ‘Detik-detik yang Menentukan’ (2006), putra terbaik bangsa kelahiran Pare-pare itu menulis:

“Adalah wajar jikalau kaum intelektual pada umumnya dan para elit politik khususnya, tidak memberi kepercayaan dan memiliki prasangka negatif terhadap kepemimpinan saya.

Saya mungkin dianggap sebagai kroni dan ‘kaki tangan Soeharto’ yang tidak memeiliki wawasan dan kemampuan sendiri, kecuali mengikuti perintah dan petunjuk Pak Harto”.

Zugzwang

Habibie mengalami keadaan ‘Zugzwang’. Istilah Jerman dalam permainan catur dimana keadaan terjepit memaksa kita harus mengambil keputusan sulit.

Ekonomi sedang krisis (inflasi sampai 60%). Nilai tukar terpuruk (sampai 15 ribu). Ditambah rendahnya kepercayaan dari ‘penumpang pesawatnya’ sendiri. Politik sangat tidak stabil.

Untungnya Tuhan masih memberinya akal sehat. 

“…sangat saya sadari bahwa guru yang paling kuat memengaruhi proses kebijakan saya adalah ‘otak sehat’ saya sendiri”.

Ia mulai mendata permasalahan yang ada, berkonsultasi dengan para ahli, dan berani mengeluarkan keputusan berani. Yang penting baik bagi bangsa ini.

Contohnya? 

Dalam bidang ekonomi, untuk memulihkan rupiah yang tertekan Ia ‘mengeluarkan’ Bank Indonesia (BI) dari jajaran kabinet. BI harus punya power! Harus independen dan membuat kebijakan berdasarkan akal sehat. Selama BI duduk dalam kabinet, maka sangat rawan menjadi sapi perah politikus.

Habibie membebaskan tahanan politik yang berseberangan dan mereformasi dunia pers. Membuat Indonesia menjadi negara yang sangat demokratis, bebas berpendapat, dan semua orang bebas mendirikan media. Sesuatu yang tabu untuk dilakukan selama 32 tahun Mbah Harto berkuasa.

Selain itu ia mempersiapkan ‘infrastruktur politik’ untuk Indonesia pasca reformasi. Mulai dari mendorong desentralisasi dengan konsep otonomi daerah, reformasi dwi-fungsi ABRI, hingga persiapan pemilihan Presiden langsung yang bisa kita nikmati pada pemilu 2014.

Tak Sempurna

Tentu ada beberapa kebijakan beliau yang dikritik sehingga pertanggungjawabannya ditolak saat sidang istimewa MPR.

Dalam hal ini pun beliau mengakui. Jika membaca konsep ‘problem solving’ yang ia pakai selama hidup, kita akan mengerti (saya sarikan menjadi tiga besar):

  1. Dalam kehidupan, tidak ada masalah yang dapat diselesaikan secara sempurna
  2. Semua penyelesaian masalah harus diselesaikan dengan pendekatan aproksimasi dimulai A-1 sampai A-X
  3. Keputusan harus diambil. Dan terkadang justru lebih menguntungkan untuk mencoba pendekatan baru. Misal dari strategi A-1 ke strategi B-1

Termasuk soal Timor-timor. Pendekatannya sangat sederhana. Saat menerima Uskup Belo, beliau bertanya: 

“Apa yang dapat saya laksanakan untuk memenuhi keinginan rakyat Timtim?”

Semuanya tentang akal sehat dan kemanusiaan. Tak ada niatan untuk memikirkan kekuasaan, atau mengambil keputusan berdasarkan tekanan. Yang penting harus menghasilkan kebaikan.

Habibie selalu mengingat almarhum Bapaknya yang meninggal sewaktu memimpin shalat Isya bersama keluarga. Saat Habibie baru berusia 13 tahun. Karena itu Ia selalu mengembalikan semua urusannya kepada Sang Pencipta.

“Saya pasrah terima apa adanya dan dengan tenang menghadapi semuanya tanpa bertanya: Kenapa? Mengapa? Bagaimana? Karena semua saya laksanakan dengan iktikad dan niat membantu memperbaiki nasib dan masa depan bangsa Indonesia yang saya cintai”.

Kita takkan mungkin melupakan jasa beliau yang berhasil membawa pesawat raksasa bernama Indonesia melewati turbulensi reformasi. Saya hanya bisa berdoa agar semakin banyak ‘the next Habibie’ yang membuat keputusan berdasarkan akal sehat dan berlandaskan kebaikan kemanusiaan.

Auf Wiedersehen Kapitän. Selamat jalan Kapten!

https://www.traveller.com.au
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail