Tag Archives: kuntowijoyo

Sepotong Kayu Untuk Tuhan

cover cerpenIni adalah cerpen favorit saya. Karya Kuntowijoyo dalam Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (Anda juga harus membaca cerpen ini jika doyan cerpen sufistik, menurut saya lebih keren dari Adam Makrifat-nya Danarto. Karena Cerpen tema selangkangan zaman dulu belum rame).

 

Cerpen ini bercerita tentang perjuangan seorang kakek yang ingin menyumbangkan sepotong kayu nangka, untuk Tuhan tercinta.

 

Setiap membaca cerpen ini entah mengapa, saya selalu bersemangat melakukan kebaikan. Oleh karena itu suatu hari nanti saya ingin sekali menjadikan cerpen ini sebagai wallpaper penghias tembok rumah.

 

Agak panjang, alokasikan waktu 15-20 menit untuk membacanya. Bisa anda save dan baca jika ada waktu luang. Karena belum ada yang posting di internet, saya mengetik ulang cerpen ini. Jadi maaf klo ada salah2 ketik ya ^_^

 

Sepotong Kayu Untuk Tuhan

Oleh: Kuntowijoyo

 

Matahari sudah tinggi di pedusunan kecil itu, ketika lelaki tua terbaring di kursi panjang, di muka rumahnya. Ia berbuat demikian sejak pagi. Tak seorang pun akan menahannya berbuat itu! Isterinya tidak di rumah. Syukurlah aku bisa bikin anak! Dan anak itu bisa bikin cucu! Perempuan tua, isterinya, beberapa hari yang lalu mengatakan padanya, bahwa ia kangen setengah mati pada cucunya. Maka pergilah perempuan cerewet itu. Ia pergi dengan kereta terpagi kemarin.

Lelaki tua itu sendiri saja. Kalau tidak, tentu isterinya telah mencarinya, bila pagi-pagi dia berbaring saja macam sekarang. “Pergi pemalas!”, kata isterinya andaikata ia di rumah. Tetapi ia tak dirumah. Lelaki tua itu menjulurkan kaki sepuasnya, menyedot pipa sampai nafasnya terasa sesak. Sekaranglah ia benar-benar bebas. Seaptutnya ia pergunakan kebebasan itu untuk bermalas-malas: berbaring di kursi panjang menikmati langit, pohonan, dan kebunnya.

Rumah itu terletak dipinggir dusun, jauh dari tetangga. Tak seorang pun akan melihatnya berbaring sampai kapan pun. Dibelakang rumah adalah sungai kecil. Kebunnya melandai sampai menyentuh tepi sungai itu. Pohon-pohon meramaikan pekarangan. Alangkah berat kerjanya! kalau istri dirumah, dia akan disuruhnya membungkuk-bungkuk sepanjang kebun. Ada-ada saja. Kayu! Kayu habis! Alangkah kotor kebun kita! Ia harus bangkit cepat-cepat, kalau tidak ingin basah kuyup tubuhnya oleh siraman air istrinya. Kerja itu memang perlu, ia tahu. Hanya isterinya terlalu cerewet. Ia yang sudah seputih itu rambutnya masih saja dinilai sebagai pemalas. Persetan! Toh, istrinya tidak ada sekarang!.

Aku bukan pemalas, pikir lelaki tua itu. Aku anak cucu mereka yang suka kerja keras. Aku rajin, dari ujung kaki sampai ujung rambut! Ia menyedot rokok pipa dalam-dalam. Tapi buktikanlah, Kakek, tiba-tiba ia berpikir-pikir. Ya, berkata itu mudah. Bukti itu sulit. Namun ia tak tahu kerja apa yang dapat dikerjakan pada saat seperti ini. Katakanlah, misalnya kayu bakar. Kayu bakar telah bertumpuk di dapur. Ia sendiri menumpuknya. Atau menyapu halaman. Sia-sia saja, tak seorang pun akan melihat rumahnya. Rumahnya cukup terlindung dari mata orang.

Tiba-tiba ia bangkit. “Demi Tuhan!”, Continue reading Sepotong Kayu Untuk Tuhan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail