Tag Archives: parenting

Remote Parenting: Parenting Zaman Now?

 

Sudah 2 bulan ini saya jadi anggota PJKA. Sebutan untuk orang yang kerja di kota A, tapi punya keluarga yang menanti di kota B. Disebut PJKA karena punya traveling habit yang khas: Pulang Jumat Kembali Ahad.

Sebenarnya banyak teman-teman yang melakukan hal yang serupa. Di kantor saya banyak yang berasal dari Negara tetangga dan mereka pasti pulang kampung ketika weekend tiba. Tapi rata-rata tidak memiliki anak bayi yang harus diawasi.

Dua bulan ini saya jadi weekend frequent flyer rute Jakarta – Yogyakarta. Setahun lagi BIG membership saya sepertinya bukan lagi platinum, tapi akan mencapai level uranium hehehe. Karena kebetulan Pipi Kentang pingin tinggal di Jogja, sedang saya masih jadi primata Ibukota.

Kenapa milih Jogja? Karena kalo Amerika susah dapat green card, dan kalo Jerman belum dapat visa pengungsi hihi. Sebenarnya Yogyakarta dipilih karena lebih manusiawi, dan yang pasti living cost yang lebih terjangkau di hati. Memang benar jika Jogja berhati mantan.

Ini membuat pertemuan saya dengan Yoda hanya kurang lebih 45 jam seminggu. Waktu yang terbilang singkat untuk membangun bonding dengan si bocah. Apalagi perkembangan bayi sangat cepat. Saya khawatir jika minggu ini dia baru bisa ngomong “uu.. uuhhh” dan tau-tau minggu depan dia sudah bisa ngucapin ayat kursi. Kan saya yang kebakar.

Remote Parenting

Jujur saja saya kurang paham dengan efek remote parenting seperti ini. Hampir semua buku-buku parenting yang saya baca (baru juga baca 1-2 buku hehe) kurang membahas masalah remote parenting: menjadi orang tua jarak jauh.

Apakah saya masih bisa menjalankan role model sebagai Bapak dan tidak Cuma menitipkan sperma untuk membuahi sel telur? Apakah saya bisa mengajarkan “pelajaran hidup” (aduh bahasanya..) kepada Yoda meski jarang bertemu? Apakah Yoda nanti tidak akan memanggil saya Oom?

Saya pernah membaca buku klasik Ken Blanchard yang terbit tahun 1980: The One Minute Manager. Ide yang ditawarkan sungguh menarik: Anda tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu mensupervisi anak buah. Pertemuan-pertemuan singkat yang efektif jauh lebih bermanfaat daripada meeting berjam-jam yang ga jelas.

Dalam bisnis, Anda bisa melakukan remote management: bebas mbolang kemana saja dan tinggal meminta report dari jauh sambil sekali-sekali ditengok. Apalagi zaman sudah canggih. Misalnya Anda lagi ngupil di Brazil dan pingin tau sales di Singapura, cukup akses dashboard lewat handphone dan sudah ketahuan hasilnya.

Masalahnya, anak bukan perusahaan. Tidak ada dashboard untuk memonitor perkembangan psikologis mereka. Mengandalkan metrics fisik untuk mengukur kebahagiaan juga bisa bias, tambah tinggi badannya belum tentu tambah bahagia hidupnya. Apalagi perkembangan spiritual. Gimana cara remote tracking-nya coba?

Yang bisa saya lakukan sekarang adalah memaksimalkan semua pertemuan yang ada. Setiap ketemu pasti saya puas-puasin cium pipinya sampe tembem hehehe. Tak ketinggalan juga menulis beberapa pertanyaan hidup yang mungkin akan ditanyakan Yoda suatu hari nanti. Sambil berpikir plan B untuk berganti karier yang lebih memberikan kebebasan finansial dan juga family time berkualitas. Doain ya! Hahaha.

Oh ya, ada cerita atau saran dari Papa-papa PJKA lainnya?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Weekend with Yoda: Mama Paranoia

Kelahiran Yoda ternyata sedikit banyak berpengaruh pada Pipi Kentang. Dia menjadi agak paranoid.

Contohnya saat saya baru selesai membawa Yoda berjemur. Pipi Kentang berpesan agar jangan pergi jauh. Tapi karena berjemur hanya di depan rumah kurang greget, saya mengajak Yoda jalan-jalan keliling kampong. Ga jauh, hanya 1-2 km saja.

Saat kembali, rumah kosong. Rupanya Pipi Kentang yang panic anaknya ngilang berusaha melacak saya. Pake menginterogasi orang-orang dijalan.

Saat balik kerumah, tiba-tiba dia nangis.

“Dia masih kecil, jangan dibawa pergi-pergi. Nanti kalo sakit aku ngerawatnya sendirian..”

Eh lha koq jadi film drakor (drama korea) gini. Ga pake adegan berpandangan dengan mata berkaca-kaca disertai salju berguguran dan music romantic sih.

Padahal saya ga ngajak Yoda jalan-jalan ke Suriah atau Korea Utara. Ini Cuma 1 km disekitar rumah. Tapi mungkin hal ini normal. Insting keibuan yang ingin memproteksi anaknya sendiri. Karena kebetulan si Yoda sendiri ketika lahir kurang fit.

Biru dan Diam

Ketika Yoda lahir, dia ga nangis dan berwarna agak biru. Air ketubannya juga berwarna hijau seperti alpukat.

Image and video hosting by TinyPic

Awalnya saya bangga punya anak berdarah biru. Wah calon bangsawan nih. Tapi ternyata kata dokter itu tanda kurang bagus. Bayi harusnya berwarna merah. Warna pucat pertanda ada yang salah. Dokter anak langsung memberi oksigen dan ia masuk ruang observasi.

Demikian juga jika tak ada tangisan. Normalnya bayi langsung menangis saat lahir. Semakin keras semakin bagus. Pertanda ia sehat dan kuat.

Diamnya Yoda sempat membuat saya mengira ia akan seperti bayi Yesus yang tidak menangis saat lahir. Tapi setelah dirangsang, akhirnya nangis juga tuh bocah. Berarti dia anak biasa-biasa aja hehehe.

Dan seperti bayi Yesus, Yoda dikunjungi tiga orang. Tapi bukan orang bijak dari timur, tapi perawat-perawat yang membantu persalinan yang kebetulan ada tiga orang. Hehehe lagi.

Menurut diagnosa dokter, Yoga mengalami distress pernafasan. Mungkin karena terlalu lama di Rahim (41 minggu lebih) dan ketuban Ibu-nya sudah ijo. Dugaan saya sih, dia shock karena punya Bapak kaya saya. Hehehe terus.

Soal ketuban berwarna ijo juga membuat saya berpikir, jangan-jangan ni bocah punya bakat jadi hulk. Klo setiap ngambek terus berubah kan report juga. Bisa bayangkan duit yang harus kita keluarkan untuk beli baju baru. Hehehe garing ah.

Terbaik Untuk Anak

Mungkin ada perubahan hormone yang dialami Pipi Kentang. Anggap aja sifat keibuannya keluar sehingga ingin memproteksi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Contohnya soal pemilihan baju dan popok. Pipi Kentang selalu milih popok yang paling mahal, impor dari Jepang. Katanya sih paling berkualitas. Tapi kalau saya pribadi sih, selama si anak ga complain ya kasih aja yang murah dulu (bayi gimana komplainnya ya).

Saya pernah dimarahin karena membelikan baju dengan bahan yang kurang halus dan katanya tidak berkualitas. Padahal harga baju Yoda hampir sama dengan kaos yang saya pakai ngantor dengan ukuran Cuma sepersepuluh baju saya!,

Wah untung gede nih produsen baju bayi. Si anak juga ga mungkin tetep kecil dan harus ganti baju baru yang lebih besar. Market value baby product sendiri diperkirakan sekitar 10,8 milyar dollar worldwide. Di Indonesia sendiri di estimasi sekitar 90 trilyun, karena ada sekitar 5 juta bayi baru yang lahir setiap tahun.

Ya sutra lah ya. Namanya juga belajar jadi orang tua, belajar membesarkan titipan Tuhan. Semoga rezeki kami dimudahkan Amiin hehehe.

 

Data market:

https://www.statista.com/statistics/258435/revenue-of-the-baby-care-products-market-worldwide/

http://ekonomi.kompas.com/read/2015/06/08/202714226/Data.Angka.Kelahiran.Menjadi.Peluang.Pasar

 

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Preparation on Becoming Dad

Next month will be one of the biggest day in my life: I will be a Dad!

Yeay!!! Pipi Kentang (my wife nickname) is estimated to give birth in mid of September. Since it’s only a forecast, the date can be faster or be delayed. Safe margin is in 2 weeks, if till the end of September there is no symptoms of giving birth (contraction and other symptoms), she needs to have medical operation.

Becoming Dad is not easy. After I researched and interviewed a lot of Dad, at least there are 5 preparations to become successful father.

Designed by Freepik

#1 Knowledge preparations

One of the basic but most important thing is, most of us don’t know how to become a Dad! They don’t know about birth process and how to help their struggling wife. Knowledge plays significant role to guide us on which action we must take at a certain situations. Do we need operation? How to calm down your wife? What if your baby’s position is in occiput posterior?

How to get the knowledge? Just like RPG game, we can gain it in 3 simple ways:

  • Reading (book, internet, blog, etc.)
  • Talking to others (ask doctor, family, friend)
  • Practicing (walk the talk, try every knowledge that we know)

#2 Emotional preparations

Believe me, birth process is a little bit stressful. There are so many things to be managed and some negative anxiety sometimes comes up in our mind. The key is: keep cool, calm, and confident! Birth process is a natural phenomenon. It exists since mankind can reproduce. Just let it flow and enjoy the process. We must assure that our wife is relaxing and always supporting her during this tough time.

#3 Financial preparations

How much does it cost? Believe me, it’s not cheap. In Jakarta, the minimum cost is 1000 dollars and can increase up to 5000 dollars if medical operation is needed. So, stop hanging out in café and prepare your piggy bank account from now on.

#4 Physical preparations

Physical aspect is not just needed for our wife who gives birth. Each upcoming Dad also needs a fit physical condition since they he must stand by in hospital, assist, and wait for the entire period. Exhausted body can be a bad influence in our decision making. So, start exercise and have a good rest.

#5 Spiritual preparations

Last and one of the most important aspects is: spiritual assets. In my religion, life and death is “God’s business”. All we can do is trying our best and He will do the rest. Praying, giving charity, or doing any religious activity will help us to strive welcoming this new baby boy.

So, have you prepared those 5 aspects? If you are still single, better to prepare from now. If you were an “upcoming Dad” in the next couple of months, congratulations dude! You have so much homework to do! Good luck.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail