Tag Archives: problem solving

Memelihara Masalah

Ada sebuah cerita dari Secret of Power Negotiating karya Roger Dawson yang mungkin berguna bagi netijen zaman sekarang.
 
Tersebut seorang pasangan tua yang hidup di kepulauan Pasifik. Suatu hari terjadi bencana puting beliung yang memporak-porandakan rumah mereka.
 
Karena tidak punya tempat berteduh, dan juga tidak mampu membangun rumahnya kembali, mereka pindah ke rumah anaknya.
 
Masalahnya, rumah sang anak cukup kecil. Dia juga punya empat anak kecil dan dua saudara ipar yang juga tinggal serumah. Kini ada 10 orang yang hidup dalam satu atap. Kondisi ini membuatnya tidak nyaman dan stress.
 
Sempat terlintas ide untuk membeli rumah yang lebih besar atau menyewakan tempat untuk kedua orang tuanya. Tapi uangnya hanya cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
 
Akhirnya ia pergi ke tetua desa yang terkenal karena kebijaksanaannya. “Apa yang harus saya lakukan agar bisa hidup damai dengan kondisi seperti ini?”
 
Orang bijak itu merenung sebentar. Bukannya bertanya soal luas rumah, alternatif kontrakan, atau jumlah tabungan yang dimiliki sang anak, ia malah bertanya:
 
“Kamu punya ayam?”
 
“Ya, saya punya 10 ekor ayam”.
 
“Kalau begitu masukkan ke dalam pondokmu”.
 
Busyet! Problem solving macam apa ini? Bukankah hal ini tidak akan memecahkan masalah kekurangan ruang? Tapi karena percaya dengan kebijaksaan tetua desa, ia menurut saja.
 
Ide ini mendapat tentangan dari istri dan iparnya. Tapi sang anak bersikeras agar mencoba dulu. Dan benar saja, rumah itu menjadi kapal pecah karena ayam yang berkeliaran tidak karuan.
 
Setelah tiga hari Sang anak kembali mengharap orang bijak tadi. Siapa tahu ada solusi yang lebih masuk akal. Jawaban tetua desa semakin absurd.
 
“Kamu punya kambing kan?”
 
“Ya. Ada sekitar tiga ekor”.
 
“Masukkan juga kambing itu ke pondokmu”.
 
Dengan hati yang menggerutu ia melaksanakan perintah aneh itu. Baru semalam kambing itu dimasukkan, pondok itu sudah lebih pantas disebut kandang. Karena sekarang bukan hewan yang hidup di pondok manusia, tapi manusia yang hidup di kandang hewan.
 
Keesokan paginya ia menghadap lagi.
 
“Tolong berikan saya saran terbaik. Saya sudah mengikuti saranmu tapi keadaan semakin memburuk. Apa yang harus saya lakukan?”
 
Orang bijak tadi tersenyum.
 
“Sekarang keluarkan ayam dan kambing tadi. Rapikan pondokmu. Kamu akan menemukan kedamaian”.
 
Dengan cepat si anak pulang untuk mengeluarkan ayam dan kambing dan merapikan pondok yang lebih parah dari jalur Gaza. Anehnya, sekarang ia merasa lebih lega meskipun ada orang tua yang tinggal bersamanya. Ia juga tidak merasa stress atau mengeluh lagi. Ia menemukan kedamaian.
 
Hikmahnya?
 
Setiap masalah hidup hanya akan membuat kita semakin kuat.
 
Daripada meminta hidup tanpa masalah, mintalah kekuatan untuk bisa mengatasi semua masalah.
 
Pelajaran kedua: kedamaian tak kunjung datang karena kita menjejali pikiran dengan ‘binatang’ yang tak perlu kita ‘pelihara’.
 
Ada binatang bernama ‘merasa benar’. Sehingga selalu ingin terlihat menang saat debat di media sosial.
 
Ada hewan bernama ‘viral’. Hingga memaksa manusia menciptakan sensasi-sensasi yang sebenarnya tak perlu terjadi.
 
Ada peliharaan berwujud ‘up to date’. Membuat kita selalu mengikuti trend tanpa pernah sadar jika trend sengaja diciptakan untuk keuntungan pembuatnya.
 
Binatang ini menghabiskan space otak kita dan menyisakan sedikit ruang untuk hal-hal yang justru paling penting.
 
Orang tua yang jika dirawat akan melahirkan kedamaian. 
 
Bapaknya bernama kerendahhatian. Ibunya bernama rasa syukur akan kasih sayang Tuhan.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail