Tag Archives: propaganda

Sleeper Effect: Kenapa propaganda butuh waktu lama

#70

Saat perang dunia II, Amerika berlomba-loma memproduksi film propaganda. Tujuannya agar masyarakat mendukung peperangan yang terjadi. Tapi seberapa efektif pengaruh film itu? Akhirnya diadakan riset untuk mengetahuinya dengan mengambil responden beberapa prajurit.

Hasilnya mengecewakan, film itu tidak meningkatkan antusiasme prajurit terhadap perang. Mereka sepertinya tahu jika film itu sengaja dibuat sebagai bentuk propaganda.

Dua bulan kemudian, dilakukan penelitian ulang dan terjadi sesuatu yang diluar dugaan. Para prajurit yang telah menonton film itu lebih antusias mendukung perang daripada prajurit yang tidak menonton. Ternyata propaganda film itu berhasil!.

Para peneliti heran karena hal ini bertentangan dengan aturan “decay rate”. Dimana dengan seiring berjalannya waktu, kita cenderung melupakan informasi yang kita terima. Kita pasti sudah lupa isi berita yang kita baca sebulan yang lalu.

Sejak itu lahir kepercayaan jika propaganda menyebar seperti zat radioactive. Meskipun tidak tampak, ia akan tetap ada dan membuat penerimanya terkontaminasi dalam pengaruh laten. Psikolog Carl Hovland menyebutnya “sleeper effect”, sebuah kondisi dimana kita menerima informasi secara “tertidur” (bawah sadar) meski sudah melupakan sumber informasinya.

Sleeper effect digunakan pemasar dengan terus memborbardir kita dengan pesan propaganda konsumtif dalam bentuk iklan. Pernahkah Anda melihat iklan, mengacuhkannya, lalu entah kenapa tiba-tiba teringat meski lupa darimana sumbernya?

Hal ini juga yang menjelaskan kenapa kita masih mengingat berita yang sudah kita lupakan sumbernya, dan sangat rawan untuk menjadi Hoax (karena validitasnya tidak bisa di cross check). Para politisi juga menggunakan sleeper effect dengan menciptakan black campaign, mengangkat isu-isu negative, dan menyebarkan berita bohong menyerang pesaingnya.

Lagipula siapa yang peduli dengan Hoax? Dalam jangka panjang sleeper effect akan membuat konspirasi berita bohong terlihat nyata. Seperti pesan ahli propaganda Nazi, Joseph Goebbels:

“A lie told once remains a lie, but a lie told a thousand times becomes the truth”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Berkenalan dengan Scientology

Scientology? Agama apaan tuh? Aliran kepercayaan penganut science?

Awalnya saya hanya tahu jika Tom Cruise adalah penganut Scientology. Dan bukan cuma mas Tom, ada juga John Travolta dan beberapa artis macam Chick Corea atau Dave Brubeck (kalo suka Jazz pasti tahu siapa mereka).

Rasa kepo saya baru sedikit terjawab setelah menonton film dokumenter “Going Clear Scientology and The Prison of Belief”. Film tahun 2015 ini menceritakan seluk beluk Scientology yang diceritakan dengan detail dan berdasarkan pengakuan para mantan pengurusnya.

source: http://300mbfilms.org

Hubbard

Lafayette Ronald Hubbard, adalah pendiri Scientology. Cukup menarik ketika membaca riwayat hidupnya, karena awalnya dia adalah penulis cerita science fiction di majalah. Setelah perang dunia, dimana dia ikut menjadi anggota Angkatan Laut Amerika Serikat, dia kembali dan menulis “bible” dari Scientology: Dianetics.

Dianetics adalah fondasi Scientology. Berasal dari kata Dia (menembus) dan Noos (jiwa). Dianetics secara sederhana berarti “menembus jiwa”. Hubbard menjelaskan jika setiap kejadian dalam hidup akan terekam dalam otak. Dan otak manusia terdiri dari dua bagian: analytic dan reactive.

Analytic berurusan dengan logika, perhitungan, pemikiran. Sedangkan reactive bertugas untuk menyimpan hal-hal yang bersifat emosional. Manusia menggunakan dua jenis otak ini untuk membuat keputusan dan bertahan hidup. Penderitaan manusia terjadi karena kejadian-kejadian traumatis tersimpan dalam otak reactive,  seringkali tertidur dan belum tersembuhkan.

Hubbart percaya, pengalaman traumatis manusia dapat disembuhkan dengan memintanya menceritakan pengalaman itu, untuk kemudian move on dan melanjutkan hidupnya lagi. Untuk itulah Scientology memperkenalkan konsep “audit”. Dimana peserta diminta untuk memegang alat bernama “e-meter” yang diklaim bisa membaca pergerakan emosi dalam otak.

Auditor (orang yang memandu sesi auditing) akan bertanya:

“Kenapa Anda galau?”

“Kenapa Anda selalu gagal move on?”

“Apa yang paling Anda kenang dari masa lalu bersama mantan?”

Pokoknya pertanyaan-nya itu mengaduk emosi dan mem-blender perasaan. Jika ada sesuatu yang tidak beres, e-meter akan bereaksi. Titittitititittt. Auditor akan meminta Anda untuk bercerita lagi. Dan setelah itu, pufffffff. Emosi terlepaskan dan tidak ada sinyal dari e-meter.

orang sedang memegang e-meter, sumber: tonyortega.org

Setelah melakukan audit, maka Anda akan “clear”, Bersih. Terbebas dari pengalaman traumatis masa lalu, terlepas dari emosi negatif, dan Anda akan memiliki pikiran yang jernih untuk menyongsong masa depan yang cerah. Sungguh sebuah praktik yang mirip dengan konsultasi psikologis.

Menjadi Agama

Bagaimana mungkin sebuah buku self help dan metode konseling dapat menjadi agama? Inilah yang membuat saya penasaran dan sekaligus membuat saya kagum. Saya harus mengacungkan jempol kepada Hubbard yang mampu menciptakan “kepercayaan”, “ritual”, “simbol”, “institusi” dan tak kalah penting: “sistem bisnis”.

Jadi ceritanya, setelah sukses dengan Dianetics dan pelatihan auditing (dimana peserta harus membayar $500 pada tahun 1950an untuk di-audit), Hubbard mulai percaya jika dia adalah penyelamat umat manusia karena merasa bisa menyembuhkan semua penyakit psikologis yang ada. Dan kemudian, dia juga bermasalah dengan pajak. Satu-satunya jalan adalah mendirikan organisasi sosial berbasis keagamaan.

Kemudian lahirlah Scientology. Menggunakan Dianetics sebagai value (kepercayaan), Hubbard menciptakan skema audit berjenjang (ritual), mempercanggih e-meter (simbol), dan tak kalah gila: mendirikan gereja Scientology (institusi). Skema audit berjenjang berarti Anda harus membayar lebih untuk berada di level yang lebih tinggi. Dan itu juga berarti kerajaan bisnis yang tak tersentuh oleh pajak.

Seperti penjelasan Hubbard sendiri dalam Dianetics 55:

SCIENTOLOGY: is an applied religious philosophy and technology resolving problems of the spirit, Life and thought; discovered, developed and organized by L. Ron Hubbard as a result of his earlier Dianetic discoveries. Coming from the Latin, scio (knowing) and the Greek logos (study), Scientology means „knowing how to know“ or “the study of wisdom.“

Hubbard tahu jika manusia adalah makhluk yang gelisah. Ia tahu jika manusia membutuhkan solusi praktis, dan bukan hanya ceramah dogmatis. Ia mengerti jika agama takkan berarti apa-apa tanpa sebuah tindakan nyata.

Jika Anda datang ke “gereja Scientolog” maka Anda akan menemukan bangunan modern yang lebih mirip kampus. Berisi orang-orang muda, berteknologi canggih, dan materi “khotbah” disampaikan dalam bentuk audio visual. Dan coba lihat topiknya: bukan hanya berbicara sesuatu yang mengawang-awang seperti Tuhan dan hal ghaib, tapi topik-topik praktis yang bisa diterapkan sehari-hari. Seperti “bagaimana berkomunikasi lebih efektif”, “bagaimana cara menjadi bahagia”, atau “hal-hal yang harus Anda lakukan untuk kesuksesan karir”.

Hubbard me-rebranding agama sebagai sesuatu yang praktis, solutif, interaktif, dan aplikatif. Sebuah pembelajaran bagi agama-agama Ibrahim.

gereja scientology source: we.com

Note:

Link download move bisa diklik disini

Untuk mendapatkan perspektif dari sumber primer, Anda bisa membuka website resmi Scientology.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail