Tag Archives: puasa

Binatangisme

source image: http://www.eoisabi.org

Pada suatu hari, si Mayor Babi pemimpin peternakan mengadakan rapat akbar. Ia ingin bercerita tentang mimpi yang ia alami. Ia lalu mengumpulkan seluruh hewan di peternakan. Tapi sebelum bercerita, si babi putih yang sudah tua itu mempertanyakan hakikat hidup seekor hewan:

“Sekarang, Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita? Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, kita diberi begitu banyak makanan, sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan di antara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita; dan segera setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji”.

Dan semuanya gara-gara binatang bernama manusia. Ia menambahkan:

“Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap tikus tanah. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tetapi tak satu pun dari kami memiliki tanah seluas kulit kami”.

Setelah berhasil mengobarkan semangat penghuni peternakan, ia lalu bercerita jika semalam bermimpi mendengar lagu “binatang Inggris”. Lagu terlarang dari zaman yang terlupakan. Nyanyian yang berisi mimpi kemerdekaan binatang dari perbudakan manusia. Semacam ramalan: akan ada suatu masa dimana semua binatang tak lagi harus tersiksa.

Binatangisme

Tiga hari setelah rapat akbar, Mayor tua meninggal dunia. Tapi ide-nya terus tumbuh dan lagu “binatang Inggris” terus dinyanyikan setiap malam. Para babi penerus ide sang mayor mulai berkumpul dan merumuskan ajaran “binatangisme”. Sebuah weltanschauung, pandangan hidup. Ajaran kesetaraan antar binatang, larangan bermusuhan, dan ajakan memusuhi manusia. Bahkan binatangisme juga tidak memperbolehkan para binatang untuk meminum alkohol.

Ajaran binatangisme disambut baik karena disaat yang sama, Pak Jones, si pemilik peternakan mulai tidak memperhatikan kesejahteraan hewan ternaknya. Terlalu banyak mabuk-mabukan membuatnya sering terlambat memberi pakan, kandang tak terawat, dan para ternak yang awalnya mendukung hidup dibawah perlindungan manusia, mulai tidak puas.

Sampai pada suatu hari, pemberontakan itu terjadi. Pak Jones yang teler berat tiba-tiba diserang oleh kuda kesayangannya, Boxer. Ia menendang-nendang. Tak lupa para biri-biri, babi, ayam, itik, dan sapi turut menyerang kabin-nya. Pak Jones yang malang kemudian melarikan diri, dan mulai hari itu peternakan binatangisme telah berdiri. Dari hewan, oleh hewan, dan untuk hewan. Masa kejayaan para binatang akhirnya datang.

Tapi ternyata permasalahan tidak selesai sampai disitu. Dua babi pemimpin binatangisme, Snowball dan Napoleon terlibat persaingan politik. Mereka berusaha saling mempengaruhi. Snowball memiliki gagasan untuk membuat kincir angin sebagai penggerak mesin sehingga mereka bisa bekerja lebih ringan, sedangkan Napoleon menganggap ide itu adalah pembuangan tenaga dan terlalu mirip dengan teknologi manusia.

Sampai pada suatu rapat, para binatang terbagi dalam dua kubu yang sama-sama kuat. Saat voting akan dilakukan, tiba-tiba muncul anjing herder peliharaan Napoleon. Anjing lalu menyerang Snowball dan membuat babi cerdas itu lari tunggang langgang meninggalkan peternakan. Sejak itu tirani baru lahir.

Napoleon membuat keputusan mengangkat dirinya sebagai pemimpin peternakan. Ia juga menetapkan kaum babi tidak perlu bekerja karena mereka adalah pemikir dan pembuat sistem. Yang lebih anehnya lagi, Napoleon memerintahkan pembangunan kincir angin dan menuduh Snowball telah mencuri ide itu darinya.

Menjadi Manusia

Cerita diatas adalah cuplikan Animal Farm karya George Orwell. Orwell seperti sedang menertawakan prilaku “kebinatangan” yang sering dilakukan manusia. Tapi apakah selamanya binatang lebih buruk dari manusia?

Belum tentu. Karena terkadang manusia bisa lebih binatang dari binatang itu sendiri. Saya belum pernah melihat ular yang tetap makan meski perutnya kenyang. Sedangkan manusia? Berapa dari kita yang terus memasukkan makanan meski perut sudah terisi?

Saya tak pernah mendengar berita ada macan yang menggauli macan lain yang masih kecil. Manusia? Sudah berapa banyak berita pedophilia menghiasi layar gadget Anda? Untuk hewan yang hidup berkelompok, saya juga belum pernah melihat ada pemimpin binatang yang korupsi dan menyembunyikan makanan untuk dirinya sendiri. Manusia? Saya tak perlu bercerita.

Karena itulah, kita perlu berpuasa. Puasa adalah pelajaran menjadi manusia. Dengan menahan nafsu, ternyata dapat menjadi penyentuh kalbu. Saat membantu sesama lewat zakat, kita sesungguhnya sedang membersihkan jiwa dengan berkat.

Dalam akhir cerita Orwell, Napoleon menerima tamu Pak Pilkington dari peternakan tetangga. Pertemuan yang awalnya ramah, tiba-tiba menjadi pertengkaran seru gara-gara permainan kartu. Clover, kuda tua kesayangan Pak Jones, datang untuk melihat sumber keributan itu. Begitu kagetnya ia saat melihat kedalam. Ia tak bisa membedakan mana binatang, dan mana manusia.

Karena manusia baru bisa menjadi manusia saat ia mampu menguasai nafsu yang ada di dalam dirinya.

Selamat berpuasa. Selamat belajar menjadi manusia.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Erysichthon

Suatu hari Erysichthon sang tukang kayu berjalan ke sebuah pekuburan. Dilihatnya kayu oak yang bagus. Batangnya besar, kuat, dan kokoh. Kayu yang mahal, pikir Erysichthon. Muncul hasrat untuk memiliki. Ia tidak peduli meski disekitar kayu terdapat symbol doa kepada Demeter, dewa panen dan pertanian.

Akhirnya Erysichthon menebang kayu itu. Ia mengacuhkan peringatan orang. Di kepalanya hanya ada keuntungan berlipat dari kayu oak ini. Demeter yang tahu kayu pemujaannya ditebang menjadi murka. Dia lalu mengutuk Erysichthon. Dikirimkannya Limos, dewa kelaparan. Kini Erysichthon akan mengalami kutukan rasa lapar. Semakin ia makan, semakin ia kelaparan.

Setelah menebang pohon oak dewa itu, Erysichthon pun pulang. Energinya terkuras. Ia lelah, dan terutama: lapar. Ia pun makan malam. Anehnya, setelah makan, justru rasa lapar yang dirasa. Ia pun menghabiskan semua makanan yang ada, termasuk semua persediaan. Tapi itu semua belum cukup! Ia masih merasa lapar!.

Erysichthon terus makan. Tidak berhenti. Hari demi hari hartanya mulai dijual untuk membeli makananan. Tanah, hasil kayu, perabot perumahan, apapun itu yang penting bisa ditukar dengan roti atau daging. Tapi tetap saja, lapar itu terus mendera. Sampai akhirnya, Erysichthon menjual anak gadis kesayangannya, Mestra, ke sekawanan pelaut.

Meskipun diceritakan Mestra yang diperbudak bisa diselamatkan oleh Poseidon. Sang dewa laut memberikan Mestra kemampuan berubah wujud. Dari gadis jelita ia bisa berubah menjadi pelaut tua, atau benda-benda berharga lainnya. Mestra kembali ke ayahnya, dan Erysichthon yang tahu anaknya bisa berubah wujud memanfaatkan hal ini dengan menjual kembali anaknya.

Pada akhirnya, disaat Erysichthon tak mampu lagi mendapatkan makanan, ia harus memakan tubuhnya sendiri hingga meninggal dunia.

Puasa dan Merdeka

Cerita Erysichthon adalah cerita “penjajahan” nafsu manusia. Keinginan yang berlebihan karena diliputi nafsu kekuasaan. Ingin memiliki, lebih banyak, lebih besar, tidak berhenti, lagi, dan lagi. Semakin dituruti, semakin menjadi.

Peperangan melawan penjajahan nafsu adalah kisah klasik perjuangan kemanusiaan. Ini adalah sebesar-besarnya peperangan. Para pertapa berusaha memerdekakan diri dengan meninggalkan keduniawian, menyepi dalam keterasingan, mencari secercah pencerahan. Sedangkan sebagian dari kita berusaha melawan penindasan hawa nafsu dengan berpuasa.

Puasa. Tidak makan. Tidak minum. Tidak berhubungan sex. Melawan limos. Puasa. Berpikiran yang baik. Berkata yang baik. Berbuat yang baik. Sebuah pendekatan macro cosmos. Setelah bulan puasa usai, ujian yang sesungguhnya baru dimulai. Masihkan kita mampu mengendalikan diri, mengekang nafsu pribadi, dan berbuat kebaikan setulus hati?

Karena itu, bagi saya Idul fitri bukanlah sebuah perayaan. Bukan momen kemerdekaan. Karena perjuangan kita masih panjang. Manusia baru bisa dibilang merdeka saat nyawanya sudah diangkat, amalnya sudah ditimbang, dosanya sudah diampuni, bukunya sudah ditutup, ceritanya sudah diakhiri.

Kita baru merdeka saat meninggalkan dunia fana yang penuh tipu muslihat dan kesementaraan ini dengan senyuman dan kitab ditangan kanan. Sebelumnya? Maka hidup adalah perjuangan menuju kebaikan. Tak berhenti. Sampai akhir nanti.

Merdeka saat mati.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail