Tag Archives: reasoning

#96 Fallacy of single cause: Kenapa kita harus berpikir multi dimensi

Kenapa banyak perusahaan ritel yang tutup?

Pertanyaan diatas sempat menjadi perbincangan hangat netizen beberapa waktu lalu. Banyak pihak yang berkomentar dan memberikan analisisnya.

Sebagian pengamat menyoroti shifting perilaku belanja masyarakat yang berpindah ke online. Ada pengamat yang menyalahkan lesunya daya beli masyarakat. Ada juga yang menyoroti inefisiensi peritel dalam melakukan ekspansi.

Mana yang benar? Semuanya bisa benar. Yang jelas, hanya “menyalahkan satu factor” dapat menyebabkan kita terperangkap dalam fallacy of single cause. Kecenderungan untuk menyederhanakan permasalahan.

Karena pada kenyataannya, masalah yang terjadi cenderung kompleks dan multi dimensi. Penutupan gerai pada perusahaan A bisa memiliki motif yang berbeda dengan penutupan gerai perusahaan B.

Hampir sama dengan pertanyaan: “Kenapa Jakarta sering banjir?”. Hanya menyebut “buruknya drainase” takkan menyelesaikan masalah karena masih ada aspek tata kota, perilaku warga, dan infrastruktur social yang sudah sangat padat ditengah lahan yang sempit.

Otak kita menyukai “single cause reasoning” karena lebih sederhana dan mudah dimengerti.

Kenapa ada krisis 1998? Jawaban single reasoning-nya: Karena ulah spekulan valas yang menghajar nilai tukar rupiah. Padahal masih ada permasalahan politik dan social yang membuat krisis tahun 98 mampu melahirkan reformasi.

Kenapa banyak koruptor di Indonesia? Jawaban gampangnya: karena banyak pejabat korup. Padahal ada aspek lemahnya pengawasan hukum, berbelitnya sistem birokrasi, dan juga sistem meritokrasi yang masih berjalan setengah hati.

Point-nya: biasakan untuk berpikir multi dimensi dan jangan hanya melihat dari satu sisi.

Contohnya jika Anda adalah seorang CEO yang baru saja meluncurkan produk baru. Setelah satu bulan, produk itu tidak laku. Apakah Anda akan menyalahkan tim marketing karena gagal mencapai target penjualan?

Sadarlah tentang jebakan fallacy of single cause. Duduk dengan tim Anda dan rincikan semua factor yang menyebabkan produk itu tidak terserap oleh pasar. Bisa promosi yang kurang, feature yang kurang greget, user interface yang membingungkan, dan lain-lain.

Rinci semua factor, dan bagi kedalam dua jenis: yang bisa kita ubah (harga, design, promosi, dll) dan yang tidak bisa kita ubah (kondisi ekonomi, nilai tukar, dll). Setelah itu lakukan test dengan merubah factor-faktor yang bisa mempengaruhi pembelian. Misal: mengubah harga, mengubah metode marketing, mengubah design produk, dll.

Jangan terjebak dengan mindset yang meminjam istilah filsuf Herbert Marcuse: one dimensional man. Kebiasaan hanya melihat satu sisi akan membuat Anda jadi kaum sumbu pendek yang ngamuk jika orang lain bilang bumi itu bulat.

Percayalah jika tidak pernah ada penyebab tunggal dalam setiap fenomena yang terjadi.

http://www.chronicle.com//img/photos/biz/photo_2914_landscape_650x433.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail