Tag Archives: travel

#94 Traveling Effect: Kenapa Traveling Terbukti Membuat Kita Bertambah Kaya

Boleh percaya boleh tidak, manusia bisa memiliki peradaban maju seperti sekarang karena nenek moyang kita doyan jalan-jalan.

Setidaknya itu salah satu hipotesa Yuval Noah Harari dalam karya monumentalnya: Sapiens. Menurut Pi-Ej-Di (pengucapan Ph.D zaman Now) asal Israel itu, ada suatu masa ketika nenek moyang kita menjadi seperti si bolang: gemar berpetualang.

Zaman old itu sekitar 45.000 tahun lalu dimana sapiens generasi awal belum mengenal agrikultur atau revolusi industry. Mereka harus hidup dengan berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain hanya untuk bertahan hidup.

Tapi ternyata kebiasaan menjelajah ini menjadi metodologi paling ampuh untuk mendapatkan ilmu baru. Karena mereka harus mampu mengembangkan kemampuan analisa dengan cepat untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut hidup dan mati.

Makanan apa yang aman dimakan? Apakah ada bahaya mengancam? Apa yang harus kita lakukan saat udara dingin? Kemana saya harus pindah setelah ini?

Rumusnya ternyata sederhana:

Tempat baru = pengalaman baru = pengetahuan baru.

Traveling membantu nenek moyang kita untuk mengembangkan pohon pengetahuan yang pada akhirnya mendorong perkembangan kemampuan berpikir manusia.

Seiring kemajuan peradaban, semangat traveling berkembang menjadi semangat penaklukan. Manusia menjelajah untuk menemukan dan mendapatkan wilayah baru. Dan ternyata para imperium besar menginvestasikan sumber daya mereka untuk dua kata sederhana: terra incognita, Tanah tak dikenal.

Pada tahun 1519 Spanyol mengutus pelaut 39 tahun yang ingin mengelilingi bumi dan memutus rantai perdagangan rempah: Ferdinand Magellan. Meskipun ia terbunuh di Philipina, kapal itu, Armada de Molucca, mampu kembali ke Spanyol pada 1522.

Perjalanan Magellan berdampak besar dan mematahkan berbagai mitos: bumi datar dengan ujung dunia, legenda monster laut, peta navigasi jadul yang masih banyak “blank”-nya, dan banyak pengetahuan yang membuat Spanyol mampu menjadi penguasa dunia hingga ratusan tahun kedepan.

Jika kita tarik ke zaman now maka Traveling = pengetahuan baru = kekayaan baru.

Ada banyak bukti orang kaya yang dapat inspirasi dari jalan-jalan. Johny Andrean membuka bread talk gara-gara main ke Singapura. Hendy Setiono dapat ide usaha kebab saat mbolang ke Qatar, sejak itu lahir kebab Baba Rafi. Bahkan Jack Ma pernah menyebut jika trip singkat-nya ke Australia saat muda adalah “perjalanan pembuka mata”.

Sesakti itu kah #efektraveling? Sampai Prof Rhenald Kasali mewajibkan mahasiswanya untuk “get lost” diluar negeri?

Penelitian dari Godart et al (2014) dalam Journal Academy of Management menunjukkan jika professional yang pernah bekerja diluar negeri cenderung lebih kreatif daripada yang tidak. Riset lain dari Zimmermann dan Neyer (2012) menemukan jika traveling membuat mahasiswa subjek penelitiannya lebih extrovert dan terbuka terhadap hal-hal baru.

Kenapa? Karena traveling memberikan kita sudut pandang berbeda dan memaksa kita keluar dari zona nyaman yang ada. Saat traveling kita belajar menjadi minoritas, dan itu berarti harus menerima nilai-nilai yang tak sama.

Jika masih muda, siapkan paspormu, kemasi kopermu, tentukan tujuan petualanganmu. Ingatlah petuah Mark Twain:

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”

Waktunya ngerasain #fektraveling mumpung ada #KursiGratis
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Secret of getting India Visa in Just One Day

My friend asked me how to get India visa in one day only. Yes, believe it or not: One day visa application process.

Normally, you need 4 days to a week for this process. The application is made using two options available: online or offline.

If you have a credit card and too lazy to move your ass (or living outside of Jakarta), it’s better to apply it online. Just access this link, fill the form, and you will receive E-visa in a week. No need to come to embassy for interview session (finger print scanning actually..).

If you need faster processing time, offline process is the answer. Just visit Indian Embassy in Kuningan area in Jakarta, near of Singapore and Nederland embassy.

In front of Taj Mahal gate

The application time open from 9 – 12 AM, Monday to Friday. After clearing security check in the front line, we must queue to submit our application file. What kind of file? It depends on your visa type. The list is here. After you fill it, just print and bring the other supporting documents.

Getting India visa is not difficult. They are not like US who screen foreigner strictly.

So, what is the secret to get one day visa process?

Based on my personal experience, it’s a little bit dramatic. I applied India visa around May 2017. Continue reading Secret of getting India Visa in Just One Day

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belitung (2) : Betul-betul Kebetulan

“Sendirian ya Mas?” Seorang laki-laki berumur 20an menyapa saya.

Sebenernya saya ingin menjawab dengan jawaban standar: “Berdua, ama Tuhan”. Tapi karena takut percakapan akan terlalu berbau filosofis untuk pertemuan awal, saya hanya menjawab mainstream: “Iya”.

“Baru pertama kali ke Belitung?” Tanya-nya lagi. Ini mau liburan apa konferensi pers ya? Koq ditanya-tanyain melulu.

Karena merasa tidak membawa uang banyak untuk dirampok, dan tidak punya badan seksi untuk dicabuli, saya menjawab dengan ramah dan terbuka. Sambil memasuki arrival gate bandara, kami terus mengobrol. Akhirnya saya tahu kalau namanya Syifa (suka dipanggil Sheva, tapi akhirnya saya suka manggil Shepa).

Dia seorang dokter dari Jogja! Anak UMY lebih tepatnya. Baru lulus tahun lalu, dan bekerja disalah satu medical company yang menyuplai dokter-dokter perusahaan tambang. Karena merasa memiliki “Jogja connection” (saya kuliah S-1 disana :D), kami menjadi cepat akrab.

Eh, bukan pertama kalinya lho saya bisa cepat akrab dengan traveler. Perasaan senasib seperjalanan, sama-sama terdampar di negeri orang, menimbulkan rasa persaudaraan sesama pejalan. Sebuah sikap yang wajar untuk menciptakan koalisi. Toh sama-sama menguntungkan. Bisa jalan bareng, cost sharing, dan tolong menolong jika ada yang ditimpa musibah.

Saya pernah check-in satu kamar dengan traveler wanita yang baru saya kenal 2 jam sebelumnya saat di Sabang Aceh, nemu guide saat tersesat di pasar Hat Yai, dan bertemu partner in crime sampai ditawari hotel gratis saat di Johor Bahru. Intinya: dunia masih dipenuhi orang baik!.

Nah, untungnya saya dan Shepa punya banyak kebetulan. Kebetulan dia ada kenalan Couchsurfing yang mau menerimanya menjadi host, kebetulan temannya bisa menjadi guide, kebetulan dia sudah ada rentalan motor, dan kebetulan dia butuh teman. Lha koq kebetulan saya belum punya kenalan di Tanjung Pandan, kebetulan saya belum ada kendaraan, dan Kebetulan juga saya lagi nyari teman berpetualang.

Akhirnya setelah mengetahui tanggal kepulangan masing-masing, saya dan Shepa sepakat mengadakan koalisi strategic berdasarkan kebetulan-kebetulan yang betul-betul terjadi.

 

Guide book dan CD promosi Departemen Pariwisata yang bisa diambil gratis di Bandara

Next week: kita akan mengunjungi pulau terkecil di dunia!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belitung (1): You Never Walk Alone!

 Delapan tahun yang lalu, Belitung hanyalah pulau kecil tak dikenal. Jikapun terkenal, hanya pada kalangan anak TK.

“Ayo anak-anak.. mari belajar Belitung sama-sama..”.

Pasca reformasi dan otonomi daerah, Belitung menjadi bagian provinsi Bangka-Belitung. Namun meski sudah menjadi bagian provinsi yang otonom, namanya kalah oleh Pulau Bangka, New York, atau London (ya jelas lah!!!). Belitung hanya dikenal sebagai pulau penghasil timah yang ketika di googling, tak akan menampilkan review pantai yang ciamik, penduduk yang ramah, budaya Melayu yang khas, dan tembok besar China (ini apa lagi).

Pokoknya, orang ga tau tuh dimana Pulau Belitung. Tapi semua berubah sejak Negara api menyerang… oh ini bukan tentang Legend of Aang pemirsa.

Belitung mulai dikenal dunia sejak diterbitkannya Laskar Pelangi, Novel best seller yang sudah diterbitkan di 65 Negara dan terjual lebih dari 5 juta copy (bayangkan jika Andrea dapet 1$ per buku, berapa total royaltinya?).

Ketika membaca novel ini sekitar tahun 2006, saya terpukau oleh sihir kata Andrea Hirata. Tapi dia belum bisa membuat saya garuk-garuk tembok dan ngesot-ngesot tanah ingin pergi kesana. Momentum terjadi setelah film Laskar Pelangi booming sekitar tahun 2008-2009. Riri Riza mampu mengangkat keindahan Belitung, dan membuat saya ingin kesana sebelum meninggalkan dunia yang fana ini. Hahaha.

Laskar Pelangi bahasa China.

(Sekedar info, pemerintah Aceh rela membayar ratusan juta ke Andrea Hirata asal dia mau memindahkan lokasi shooting dari Belitung. Tapi Andrea menolak, dan hasilnya, Belitung mendapat milyaran dari pertumbuhan ekonomi setelah film ini diluncurkan. Dan akan dibuat Laskar Pelangi versi Hollywood!!!)

Doa saya terjawab 4 tahun kemudian. Setelah menempuh 144 SKS harapan, kesabaran, dan keberuntungan (emangnya S-1), akhir December 2013 kemarin alhamdulilah saya berkesempatan berkunjung kesana. Menjejakkan kaki di bumi laskar pelangi.

Tiga Persiapan yang Tidak Saya Siapkan

Biasanya orang traveling selalu mempersiapkan tiga hal: akomodasi, transportasi, dan itinerary (rencana perjalanan). Tapi untungnya saya beda. Saya lebih suka spontanitas. Jikapun ada rencana, hanya gambaran besar destinasi yang ingin saya kunjungi dan tidak memikirkan urusan teknis.

Pengalaman terakhir ikutan tour kantor ke Hongkong membuat saya kapok. Traveling sudah seperti inspeksi pabrik. Datang ke tempat wisata A, checked. Makan di restoran B, checked. Pergi ke pasar C, checked. Balik ke hotel, checked. Besok harus berangkat pagi lagi  agar check list bisa selesai.

Untuk Belitung ini saya ingin setengah bertualang. Datang ke pulau orang tanpa ga tau tau nginep dimana, Cuma punya satu temennya temen (saya punya teman A, si A punya temen B. Saya Cuma sms-an ama si B ngaku kalo temen-nya si A), dan ga tau kesana mau kemana serta harus naik apa.

Saya baru tahu destinasi wisata yang menarik setelah googling pas malam H-1. Booking hotel termurah untuk semalam saja. Dan baru sadar kalau di Belitung itu ga ada angkutan umum untuk jalan-jalan ke tempat wisata. Lha terus piye? Panic? Galau? Bingung? Selooowwwww mas broohhhh.

You never walk alone.

Itu prinsip saya kalau traveling. Biarpun berangkat sendiri, saya percaya jika saya tidak pernah sendiri. Masih ada Tuhan J. Masih ada traveler-traveler lain seperjalanan. Masih ada penduduk asli yang ramah-ramah. Masih ada petualangan yang pasti menyenangkan.

Bismillah… berdoa saja. Manusia itu bersaudara. Kita saja yang sering lupa.

Berbekal ransel gede berisi baju 5 hari, kaos oblong, sandal jepit, buku karya Coelho dan Gladwell sebagai teman bacaan, saya menjejakkan kaki di tanah bandara H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Runway-nya pendek. Saya kaget saat Airbus 320 Citilink bisa mendarat di bandara sependek ini.

Baru berjalan beberapa langkah setelah turun dari pesawat, tiba-tiba ada yang menyapa:

“Sendirian ya Mas?”

You never walk alone! Saya tersenyum dalam hati. Saya tahu jika petualangan ini baru saja dimulai.

Pantai Tanjung Tinggi alias Pantai Laskar Pelangi
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail