Tag Archives: tujuan

Jalan dan Tujuan

Santiago si anak gembala. Suatu hari ia bermimpi melihat piramida. Beberapa hari mengalami mimpi yang sama. Ia lalu menemui peramal yang berkata: itu adalah pertanda harta paling bernilai dalam hidupnya. Ia harus segera mencarinya.

Akhirnya Santiago menjual domba-dombanya. Menyeberang ke Afrika dan menjadi pengembara, untuk mencari harta berharga. Tapi semesta punya rencana. Di pelabuhan ia ditipu orang. Semua harta penjualan dombanya hilang. Untuk bertahan hidup ia bekerja di toko kristal. Membersihkan barang dan belajar menjual.

“Dua hari yang lalu, kamu mengatakan bahwa aku tidak pernah bermimpi mengembara,”Pedagang itu suatu kali bercerita.

“Kewajiban kelima bagi setiap Muslim adalah menunaikan ibadah haji. Kami diwajibkan, paling sedikit satu kali selama hidup, untuk rnengunjungi kota suci Mekkah. Mekkah malah lebih jauh dari Piramida. Saat aku muda, yang kuinginkan hanyalah mengumpulkan uang untuk membuka toko ini. Aku berpikir, suatu hari nanti aku akan kaya dan dapat pergi ke Mekkah. Mulailah uang kudapat, tapi aku tak pernah bisa lega meninggalkan toko pada orang lain; kristal adalah barang yang rentan”.

“Kenapa Bapak tidak pergi ke Mekkah sekarang?” tanya si bocah.

“Justru pikiran tentang Mekkah-lah yang membuatku terus hidup. Itulah yang membuatku kuat menghadapi hari-hari yang sama belaka ini; yang membuatku tahan menghadapi kristal-kristal bisu di rak, dan sanggup makan siang dan makan malarn di warung jelek yang itu-itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup”.

Tersandera Cinta, Lupa, dan Takut

Cerita Santiago di dalam novel Alchemist karya Coelho sengaja saya tulis sebagai pengingat diri: akankah saya menjadi penjual kristal tadi? Pedagang Kristal bermimpi pergi ke Mekah dan menunaikan haji. Ia sudah berusaha mengumpulkan harta. Tapi sayangnya harta dunia itu justu menyandera dirinya. Ia berniat memenuhi panggilan Tuhan. Tapi harta kekayaan menjadikannya seorang tawanan.

Penyandera itu hadir dalam tiga nama: “cinta, “lupa”, dan “takut”. Kita terlalu mencintai apa yang kita miliki. Kita lupa jika di dunia tak ada yang abadi. Dan kita takut kehilangan apa yang ada saat ini.

Ketiga sandera ini yang menyebabkan kita berpikir dua kali sebelum mengorbankan apa yang kita punya. Dan seringkali membuat kita berpikir untung rugi dalam membantu sesama. Tiga sandera itu juga yang membuat kita menderita, saat kehilangan apa yang kita punya.

Santiago tahu hal itu. Dan ia tahu perbedaan “jalan” dan “tujuan”. Ia membantu sang pedagang untuk berjualan teh menggunakan gelas Kristal di atas bukit. Belum pernah ada yang menyajikan teh di gelas Kristal. Kedainya ramai dan tersohor. Membuatnya menjadi juragan kecil dan harta yang mampu membeli 120 domba.

Anehnya Santiago justru meninggalkan kedai yang telah memberinya kekayaan. Ia memilih melanjutkan perjalanan dan menunaikan panggilan hidupnya untuk mencari piramida. Ia tahu jika menjadi kaya adalah “jalan”, dan bukan “tujuan”.

Jalan adalah sarana. Tujuan adalah hasil akhir yang ingin dicapai. Tujuan yang salah akan memberikan jalan yang salah. Mereka yang hanya ingin kaya bisa menghalalkan segala cara. Mereka yang ingin berkuasa bisa menindas siapa saja. Dan mereka yang menginginkan dunia, akan merasakan derita saat harus meninggalkannya.

Masalahnya kita sering lupa perbedaan jalan dan tujuan. Kita beranggapan kekayaan itu tujuan, pengetahuan itu tujuan, kekuasaan itu tujuan, dan segala kenikmatan adalah tujuan. Termasuk soal ajaran agama. Kita lebih memilih menabung untuk haji yang kedua daripada menggunakan uangnya untuk membantu sesama. Padahal Ibadah adalah jalan. Sholat adalah sarana. Zakat adalah sarana. Puasa adalah sarana. Haji juga sarana.

Tujuannya? Menjadi sebaik-baiknya hamba Tuhan dan berbuat kebaikan pada kehidupan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail