Tag Archives: ulang tahun

Dua Aturan Untuk Hidup Penuh Kebahagiaan

Untuk Yoda, yang Alhamdulilah masih hidup juga.

Puji Tuhan sudah 730 hari kamu mengenyam kehidupan.

Sebagai donatur sel sperma, tentu saya sangat bersyukur. Semoga Allah memberikanmu keberkahan, dalam menjalani sisa kehidupan.

Untuk hadiah ulang tahun, ada dua prinsip kehidupan yang ingin saya bagikan. Mungkin bisa membantumu menemukan kebahagiaan. Di masa depan.

Prinsip ini saya dapatkan dari membaca ratusan buku, bertemu ribuan orang, dan menjalani hidup belasan ribu hari.
Dua prinsip sederhana, untuk ulang tahunmu yang kedua.

Prinsip #1: Kunci Kebahagiaan Ada Pada Mengingat Tuhan

Menurut sains, kebahagiaan hanyalah letupan neuron.

Rasa ‘senang’ adalah hasil proses syaraf di otak manusia. Dihasilkan hormon bernama endorphin, dopamine, oxytocin, dan serotonin.

Resep bahagia?

Berolahraga plus istirahat yang cukup (mengeluarkan endorphin dan dopamine), cintai orang lain (perangsang oxytocin), dan lakukan refleksi atau meditasi (serotonin akan bereaksi).

Sayangnya tidak semudah itu Ferguso!

Ketika dewasa, kamu akan berhadapan dengan kegagalan, penolakan, kehilangan, kesedihan, kerusakan, dan penderitaan.
Sebuah keadaan negatif yang tidak bisa kita ubah dengan berolahraga sampai berkeringat 2 liter.

Saat menemui kesulitan, manusia akan mulai mempertanyakan eksistensinya. Dan ada dua aliran:
A. Humanisme
B. Determinisme

Humanisme percaya jika manusia adalah penentu kehidupan mereka sendiri. Mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi masalah yang mereka punya.

Akibatnya? Lelah sekali. Karena terlalu percaya diri.

Saya lebih cenderung opsi kedua. Karena menurut agama, kehidupan sudah ada yang mengatur. Tugas kita hanya berusaha sekuat tenaga. Sisanya dipasrahkan pada Sang Pencipta.

Teman atheis kita mengkritik: pemeluk agama cenderung fatalis dan tidak saintifik. Agama lahir karena ketidakmampuan manusia mengatasi kesulitan hidup.

Terserah mereka saja. Saya sudah mencoba. Menerapkan problem solving dengan metode kekuatan manusia semata. Atau meminta ‘bantuan’ Sang Pencipta lewat doa.

Kesimpulan saya sungguh terang: hanya dengan mengingat Allah hatimu akan tenang.

Prinsip #2: Semuanya Hanya Sementara. Pada Akhirnya Kita Akan Mati

Manusia modern membenci kematian. Sains digalakkan agar manusia bisa hidup lebih lama.

Banyak manusia yang lupa jika tak ada yang abadi di dunia ini.

Karena itu mereka sombong saat diatas, terpuruk saat dibawah.

Padahal semuanya sederhana.

Kesulitan itu sementara. Tugas kita berdoa dan berusaha. Yakinlah kita akan melaluinya.

Kesuksesan itu sementara. Jangan merasa diatas segalanya. Yakinlah kita akan ditinggalkannya.

Rasa ingat mati akan membuat kita menjadi orang yang optimis-realistis. Tidak patah semangat ketika dibawah. Tidak merasa jumawa ketika diatas.

Terakhir, ada resep sederhana tentang cara menjadi bahagia.

Seseorang mendatangi Buddha Gautama dan berkata:

“Saya ingin bahagia. Tunjukkan caranya wahai Sang Bijaksana”.

Buddha bertanya lagi. “Apakah kamu benar-benar ingin bahagia?”

Orang itu menjawab dengan lebih yakin.

“Saya ingin bahagia”.

Buddha tersenyum dan menjawab:

“Pertama, singkirkan kata ‘Saya’. Itu adalah ego. Kedua, buang kata ‘ingin’. Itu adalah nafsu. Setelah itu kamu hanya akan menemukan kebahagiaan”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail