Tag Archives: umroh

#84 Ownership Bias: Ka’bah dan Pelajaran Tentang Kehilangan

Umroh kali ini terasa berbeda.

Tahun 2014 lalu saya datang sebagai solo gembel backpacker, sekarang saya membawa si Pipi Kentang dan Ibu Mertua dan ikut serta dalam rombongan 146 peserta.

Dari segi fasilitas? jauh lebih baik. Tiga tahun lalu saya tidur di emperan masjid, mandi di toilet, sengaja puasa untuk menghemat konsumsi, dan menggunakan bahasa arab hasil google translate untuk mendapat tumpangan kendaraan. Sekarang alhamdulilah ada kasur empuk di hotel berbintang yang hanya berjarak ratusan meter dari masjid, makanan prasmanan bebas nambah 3x sehari, dan bis nyaman untuk ditumpangi.

Dan nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

Tapi selalu ada pelajaran berharga didalamnya, dan lagi-lagi soal kehilangan.

Saat umroh pertama, saya diberi pelajaran dengan kehilangan harta. Saya kehilangan semua barang yang saya bawa. Satu backpack besar berisi perlengkapan perjalanan hilang saat saya taruh didepan masjidil Haram, dan seluruh uang sisa saya hilang dicuri oleh komplotan taksi gelap di Jeddah (untung Tuhan mengirimkan Dody, teman kuliah yang kebetulan dinas disana. Thanks so much bro!).

Kali ini saya diajarkan untuk kehilangan tiga hal yang lebih besar.

Yang pertama adalah “kehilangan keluarga”.

Ceritanya saya ingin melakukan tawaf beserta keluarga. Karena Ibu mertua saya ga kuat jalan jauh, saya meminjam kursi roda hotel. Harusnya jamaah kursi roda melakukan tawaf dilantai 2, tapi karena jadi jauh (4 km cuy) saya coba nakal membawa kursi roda ke area ka’bah.

Apes, ada penjaga yang melihat. Kursi roda ga boleh turun. Saya meminta istri dan mertua untuk menunggu sementara saya meletakkan kursi roda ditempat aman. Setelah saya cari kira-kira tempat yang rada sepi dan aman (saya taruh di dekat penitipan sandal yang ga ada jamaahnya), saya pun menyusul.

Eh, mereka sudah ga ada! Dan pipi kentang ga bawa hape pula. Masa mereka sudah tawaf duluan sih? Bagaimana saya bisa menemukan mereka ditengah ribuan orang yang sedang tawaf? Bukankah Ibu mertua saya ga kuat jalan jauh?

Bismillah. Saya pun tawaf sambil berdoa.

“Ya Allah pertemukan saya dengan keluarga saya”.

Satu putaran, belum ketemu.

Saya mulai berpikir plan B, apakah nanti saya langsung tunggu dihotel saja? Bagaimana cara biar Ibu mertua kuat jalan kesana?

Dua putaran, belum juga ketemu.

Saya mulai merasa sepi, seperti ini rasanya ditinggal pergi keluarga yang kita cintai? Tak pernah bertemu lagi.

Tiga putaran, tak juga berjumpa.

Tapi bukankah, semua akan kembali kepada-Nya? Tugas kita hanya melepaskan dan mengikhlaskan. Setelah memberikan sugesti seperti itu, hati saya merasa lega. Dan tahu ga, di putaran ketiga ini saya melihat istri dan ibu mertua saya bersama jamaah yang lain! Alhamdulilah!.

Jadi ceritanya saat mereka menunggu, ada tawaran tawaf bersama jamaah satu rombongan. Mereka sudah menunggu tapi saya ga nongol-nongol juga. Akhirnya mereka tawaf duluan.

Kamipun menyelesaikan tawaf dan kembali keatas, untuk menerima kehilangan kedua.

 “Kehilangan amanat”.

Kursi roda itu sudah raib! Padahal sudah saya letakkan di tempat yang sepi jamaahnya. Saya coba tanya penjaga, “no English”. Saya coba pake bahasa arab seadanya. Dianya ga ngerti. Waduh. Padahal kursi roda itu amanat dari hotel. Jika hilang maka otomatis saya wajib mengganti.

Saya coba tanya pusat informasi, disuruh ke bagian lost & found yang jauh banget. Mana sudah mau adzan maghrib.

Qadarullah. Que sera-sera. Yang terjadi, terjadilah.

Akhirnya saya memutuskan sholat maghrib dan isya di depan Ka’bah sambil browsing harga-harga kursi roda. Waduh bisa ga jadi beli oleh-oleh nih kalau memang disuruh ganti. Tapi itulah harga amanat. Mungkin Allah nyuruh kami untuk sedekah kursi roda agar dipakai orang yang lebih membutuhkan.

Setelah sholat isya saya buat nadzar:

“Ya Allah kalau kursi roda itu ketemu, hamba akan berpuasa 3 hari”.

Sebagai last effort, saya coba cek sekali lagi. Dan ternyata sandal yang saya letakkan di kursi roda tidak diambil. Ada juga sandal jelek warna item. Awalnya saya kira punya Pipi Kentang, tapi karena gak yakin, tidak saya ambil.

“Loh itu sandal jepitnya koq ketemu? Punyaku mana?” kata Pipi Kentang.

Oh ternyata sandal item jelek itu punya dia. Ya udah daripada pulang nyeker, saya coba ambil lagi.

Tapi karena suasana ramai, saya coba masuk dari pintu lain (turunan samping King Abd Aziz gate) dan malah kesasar. Saya justru diusir penjaga dan disuruh keluar ke gerbang yang tidak saya ketahui.

Mungkin Allah punya rencana, karena ternyata kursi roda itu terparkir rapi dipintu keluar! Saya coba yakinkan diri, jangan-jangan punya orang lain? Tapi dari warna polos dan pijakan kakinya yang agak kroak emang bener ini punya hotel. Alhamdulilah… tinggal puasa 3 hari deh hehehe.

Saat saya kembali untuk mengambil sandal buluk item punya Pipi Kentang, ternyata sandal itu sudah menghilang. Kira-kira sapa sih yang mau ngambil sandal item bulukan itu? Saya Cuma tersenyum. Insya Allah semua sudah diatur.

Yang ketiga: “kehilangan teman”

Kehilangan ketiga dan terberat adalah kehilangan kawan sekamar saya, Pak Satrio. Beliau meninggal terkena serangan jantung setelah melakukan tawaf di hari terakhir berada di Mekkah.

Bapak yang satu ini paling semangat beribadah diantara teman-teman sekamar yang lain. Jam 2 selalu sudah bangun, mandi, dan berangkat ke masjid untuk sholat malam. Demikian juga saat melaksanakan tawaf sunnah.

Setelah tawaf, awalnya Pak Satrio merasakan sesak nafas. Ia lalu pulang ke hotel dan dikira hanya masuk angin. Kata istrinya, tidak ada riwayat penyakit aneh kaya jantung atau asma. Untung ada Pak Iwan, yang tahu jika itu bukan sesak biasa. Sesak nafas disertai dada yang sakit adalah indikasi serangan jantung.

Akhirnya Pak Satrio dilarikan kerumah sakit dan langsung masuk ruang ICU. Jantungnya terus melemah dan beberapa hari kemudian menghembuskan nafas terakhir di tanah suci, setelah disholatkan oleh ribuan jamaah masjidil haram. Sungguh akhir hidup yang indah dan insya Allah husnul khotimah.

Pelajarannya?

Kita menderita ownership bias: merasa memiliki apa yang sebenarnya tidak kita miliki.

Kita merasa memiliki harta, keluarga, sahabat, bahkan nyawa kita sendiri. Padahal semua hanyalah titipan yang bersifat sementara. Tak ada yang kita miliki hingga akhir dunia. Kita juga merasa sedih saat titipan itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Padahal Tuhan sudah mengajarkan: Inna lillahi wa inna ilayhi raaji’un.

Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali.

http://pre03.deviantart.net/97c6/th/pre/i/2010/347/1/2/lost_soul_evolurtion_by_nataly1st-d34sqs9.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ka’bah Dekat Rumah (6): Hello Brother!!!

Saya berhasil meninggalkan imigrasi paling sakti sekitar jam 12 siang. Cuaca kering menyambut. Parah. Panas dan gerah. Pantes onta punya punuk. Buat nampung air biar ga kehausan. Saya juga punya punuk. Sayangnya ditaruh di perut.

Karena keringetan dan belum mandi, saya putuskan untuk numpang mandi disalah satu toilet disekitar bandara. Bermodal tampang cuek meski diliatin petugas kebersihan. Setelah merasa segar dan berganti baju bersih, waktunya sholat dhuhur dulu.

Tujuan selanjutnya adalah Madinah. Loh koq ga langsung ke Mekah? Ngapain jauh-jauh ke Madinah dulu? Koq ga miqat di Jeddah? Karena ilmu agama saya pas-pasan, saya percaya aja kata berbagai buku umroh dan nasihat travel agent saya. Katanya miqat di Jeddah hanya boleh untuk Ahlul-Jeddah. Alias warga jedah asli. Karena KTP saya masih Sidoarjo ya udah, ke Madinah aja dulu.

Nah sodara-sodara, bagaimana cara ke Madinah? Jarak Jeddah Madinah cukup jauh. Sekitar 450 km. Pilihannya bisa naik pesawat, bis, taksi, atau onta biar kaya musafir jaman dulu. Berdasarkan hasil penerawangan saya bersama mbah Google, harusnya ada bus umum yang melayani rute Jeddah-Madinah. Namanya Saptco (Saudi Public Transport Company). Bus ini yang jadi tujuan mode transportasi saya.

No English Please

Karena semua jamaah yang landed sudah dijemput travel masing-masing, saya doank yang bengong bingung mau ngapain. Saya coba tanya2 ke petugas bandara. Tapi jawabannya:

“La English. La English” ternyata hampir semua petugas tidak bisa berbahasa Inggris.

Saya coba datangi supir taksi yang mangkal di sekitar bandara.

“Where is bus station to Madinah?” tanya saya baik-baik.

“Madinah? 200 riyal” kata dia sampai menggunakan bahasa Inggris ala kadarnya ditambah body language bahasa tarzan.

“No, I want to go to city. Bus terminal. Not madinah!” kata saya berusaha menjelaskan.

Tapi tetep aja. Keterbatasan bahasa komunikasi dimana saya ga bisa bahasa arab dan dia ga ngerti bahasa inggris membuat pembicaraan kami seperti orang bisu lagi ngobrol ama orang tuli. Ga nyambung hahaha.

Saya coba berpindah tempat, berganti supir taksi. Tapi hasilnya sama aja. Saya ga bisa menjelaskan kalo saya mau naik taksi mereka ke terminal bus di kota, untuk ke Madinah. Semua minta hal yang sama: Madinah 150-200 riyal.

Setelah capek muter2, akhirnya saya ngaso dulu. Sambi berdoa dan memikirkan plan B, harus membayar 150 riyal (sekitar 600rb) untuk taksi ke Madinah.

Sambil duduk saya berdoa. Ya Allah, sudah jauh-jauh kesini masa ga bisa ke Madinah. Tolong bantuin donk. Kan mahal banget kalau belum-belum ngeluarin duit 150-200 riyal atau sekitar 600-700rb. Saya berdoa sekhusuk2-nya. Kata orang sholeh, doanya orang kesusahan itu lebih didengar Tuhan. Kebetulan saya orang susah. Susah kurus lebih tepatnya.

Ibrahim

Yo wes lah, yang penting sudah berdoa. Waktunya berusaha. Saya coba datangi lagi. Ada taksi yang lagi cari-cari penumpang. Dan saya baru ingat, di hape kan ada Tourist Language! Itu loh, applikasi android yang bisa diunduh gratis berisi percakapan sehari-hari dari berbagai bahasa seluruh dunia.

Lewat aplikasi ini ada bantuan bahasa bagi turis yang ingin bertanya hal-hal sederhana. Mulai dari berapa harga barang, sampai lokasi hotel. Dan disitu juga ada pertanyaan mengenai transportasi. Bus! Yah itu dia.

Nah kebetulan juga ada supir taksi yang jemput bola menawarkan tumpangan.

“Where is the bus station?” kata saya.

“Bus?” kata dia.

Langsung saya sodorkan hape dan saya putarkan audio translation dalam bahasa arab (aplikasi ini ada fasilitas speech dalam bahasa asing). Eh tiba-tiba ni orang langsung semangat.

“Hello brother..”. Tak lupa nyerocos dalam bahasa arab. Rupanya dia kira kalo suara aplikasi adalah suara telpon sodara saya. Dia pikir sedang ngobrol ama orang beneran! Hahahaha langsung saya ngakak ga ketahan.

“Hello brother.. Hello brother…” dia mulai panik dan mengembalikan hape saya karena mengira perbicaraan telpon sudah terputus. Saya masih ketawa-ketawa aja. Ga tahu mau njelasinnya dalam bahasa arab.

Ha-fila. Nah itu dia bahasa arabnya bus. “Where is the ha-fila?” kata saya lagi.

“No.. me taksi” kata dia menjelaskan kalau dia supir taksi. Sebenarnya saya juga tahu kalo dia driver taksi dan bukan penjual bakso atau artis film porno. Tapi alhamdulilah abang taksi ini berinisiatif mencari seorang pekerja orang Indonesia! Alhamdulilah akhirnya ga perlu bicara bahasa tarzan terus!

Bertemulah saya dengan Aa’ Zainal. Orang Tasik yang udah 3 tahun kerja di airport. Setelah saya cerita kalau ada makhluk ganteng yang baru landing dari Indonesia dan butuh tumpangan ke Madinah, dia segera memerika passport saya.

“Coba kasih ke orang disebelah sana. Bilang kalo mau ke Madinah” kata bujang yang hanya pulang setahun sekali ini.

Dia menunjuk sekawanan orang berbadan besar, berkulit gelap, dengan gamis putih yang sedang duduk di mobil listrik mirip caddie car. Busyet, masa baru datang udah ketemu asykar. Tapi karena ga ada pilihan lain dan orang yang berniat melakukan pelecehan seksual kepada saya pasti berpikir dua kali, akhirnya saya berani.

Saya datang, menunjukkan paspor dan meminta tolong untuk tumpangan ke Madinah. Ternyata mereka bukan asykar. Tapi semacam agen bus. Mengatur kedatangan dan jadwal keberangkatan bus penjemput jamaah. Setelah di cek sebentar, laki-laki yang mengenakan kemeja berdiri, lalu berteriak:

“IIBBRAAHIIMMMMM!!!!” woww suaranya uda kaya macan yang mengaum membelah keramaian bandara. Ibarat film Kungfu, dia baru saja mengeluarkan jurus “Auman Singa pemecah gendang telinga”.

Tak berapa lama datanglah seorang Om-om dari Indonesia, mengenakan rompi, dan berbadan subur. Setelah tahu duduk permasalahannya, dan mengecek paspor saya, dia menoleh sebentar:

“Nanti ikut saya”. Alhamdulilah…

Jika Tuhan pernah membantu nabi Musa dengan membelah lautan. Hari itu Tuhan membantu saya dengan memberikan tumpangan.

Peta jeddah ke Madinah
Peta jeddah ke Madinah
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ka’bah Dekat Rumah (4): Doa Meminta Visa

Setelah mendapat tiket, maka permasalahan umroh selanjutnya adalah visa dan akomodasi. Urusan akomodasi cukup mudah. Berbekal koneksi internet, mouse, dan internet banking, kita sudah bisa membook hotel diseluruh dunia lewat website. Pilihannya antara lain agoda dot kom, booking dot kom, hostelworld dot kom, weego dot kom, wisma moro seneng dot kom (loh koq hotel gituan?), dan berbagai situs meta search lainnya.

Untuk urusan visa, cukup berat tantangannya. Bagi yang belum tahu, visa bukanlah lawan mastercard, apalagi cadangan devisa hehe. Visa berasal dari bahasa latin “carta visa”, yang berarti “dokumen sudah diperiksa”. Intinya kita butuh ijin berupa visa untuk bisa masuk kesuatu negara. Kulo nuwun lah kalau kata orang jawa.

Pada suatu hari yang cerah saya mendatangi kedutaan besar Saudi Arabia di daerah MT Haryono. Dan saya ditolak masuk!. Mungkin saya punya modal tampang pendatang haram. Di gerbang sekuriti saya mendapat wawancara singkat soal maksud tujuan kedatangan.

Dengan polos saya jawab “Mau ngurus visa umroh”. Eh ternyata sodara-sodara, kedutaan saudi tidak menerima pengurusan visa umroh. Semua harus melewati travel agent!

Koq lucu ya? Sejak kapan ada kedutaan besar yang menolak mengurus permohonan visa dan malah mengoper ke travel agent? Jangan-jangan saya kena tipu atau ada permainan orang dalam untuk mengejar fulus?

Akhirnya saya googling-googling sebentar. Tak lupa tanya teman yang bapaknya kerja di departemen agama. Jadi ternyata benar, Kedutaan Saudi tidak menerima pengurusan visa! Mampus saia… Jadi menurut bapak teman saya yang pensiunan depag dan pernah bertugas di Saudi, zaman dulu kedutaan menerima pengurusan visa umroh. Tapi ternyata banyak sekali orang yang menggunakan visa umroh untuk mencari pekerjaan disana. Istilahnya, jadi pendatang haram.

Karena capek mengurusin jamaah umroh gadungan yang sebenernya pingin transmigrasi ke Saudi, pemerintah menyerahkan pengurusan visa umroh ini ke pihak “swasta”. Which is travel agent. Jadi kalo ada apa-apa, Saudi tinggal mem-blacklist travel agent yang jamaahnya jadi pendatang haram. Efeknya, visa jadi tambah mahal, tapi benar-benar orang yang niat umroh yang dapat.

Saya mulai mencari-cari travel agent yang bisa ngurusin visa. Ada beberapa travel yang saya hubungi, dan semuanya sama. Sama-sama nolak saya. Hahaha. Semua mengaku tidak menerima solo backpacker. Ada sih satu yang menerima, tapi dengan harga yang lumayan. Sekitar 1,5-2 juta juta rupiah. Tapi saya masih ragu-ragu soal kredibilitasnya. Alamatnya aja ga jelas.

Lucunya lagi, ternyata visa tidak bisa diurus dari jauh-jauh hari. Kalo mau berangkat bulan February 2014, diurusnya harus bulan January 2013. Ga bisa tuh apply visa dari June 2013 misalnya. Dan kita Cuma dapat ijin 30 hari stay. Beda misalnya dengan visa Australia yang berlaku untuk setahun dan juga multiple entries.

Hingga H-2

Ternyata benar silaturahmi membawa rezeki. Alhamdulilah saya punya om yang kerja di salah satu bank syariah dan sering mengadakan umroh dengan nasabahnya. Dari sana saya dikenalkan ke travel agent di salah satu hotel berbintang di daerah Sudirman.

Di sini biaya-nya hanya sekitar 1 juta. Terjamin pula karena nasabahnya kebanyakan orang berduit. Mereka sebenarnya juga tidak menerima solo backpacker. Tapi karena mendapat jaminan Om, dan body saya ga ada bagus2nya untuk dijual ke pasar gelap, mereka setuju. Saya bayar bulan December 2013. Untuk berangkat Februari 2014.

Hari berganti hari. Berganti minggu. Menuju bulan. Koq visa saya belom keluar-keluar juga? Ternyata karena status saya cuma single, saya harus menunggu rombongan travel yan lain. Saya sudah rajin tanya ke penanggung jawabnya, Pak Eko.

“Gimana nasib visa saya Pak?”

“Sabar mas, masih diurus”.

Gitu terus hingga seminggu sebelum keberangkatan, belum keluar tuh visa. Saya sempat mikir, apa saya kebanyakan dosa ya kalau sampai gagal berangkat. Terbayang kerugian tiket. Padahal udah ijin ke temen2 kantor baru.

Apa jangan2 rezeki saya ga halal sehingga ditolak bertamu kerumah Tuhan? Perasaan udah lama ga ngepet. Ups.. Ngebersihin karpet maksudnya hehe. Saya jadi inget cerita sinetron2 hidayah dimana orang jahat tidak bisa melihat ka’bah. Saya langsung cek bagian perut, alhamdulilah belum keluar belatungnya.

Doa Adalah Senjata

Jumat malam, hari terakhir pengurusan karena tiket saya hari Minggu. Malam itu saya berdoa sekhusyuk-khusyuknya. Kayaknya perlu tetes mata biar dikira berkaca-kaca. Saya datengin masjid. Malaikat mungkin heran. Tumben ni bocah main. Saya sedekahkan semua uang di kantong saya. Malaikat mungkin mikir, taruhan bola kan belum ada?.

Disana, saya memanjatkan doa sederhana:

Ya Allah yang Tuhanku,
Disini hamba-Mu mengetuk pintu
Izinkan hamba berkunjung ke rumah-Mu
Mengunjungi kiblat yang selama ini belum pernah hamba lihat

Ya Allah yang Maha Kuasa,
Disini hamba-Mu berdoa
Agar nanti hamba bisa pergi kesana
Tanah suci tempat para nabi berada

Memang benar,
Engkau hanya mengundang orang-orang pilihan
Mereka yang mengerti,
Bahwa iman adalah sebaik-baiknya harta yang sejati

Karena itu, hamba berdoa:

Mudahkanlah
Dekatkanlah
Bukakanlah

Tolong Izinkan hamba berdoa di depan Ka’bah..
Izinkan hamba memenuhi panggilanmu ya Allah..

Selesai berdoa hingga jam 9 malam belum ada kabar. Saya sudah pasrah. Sudahlah, yang penting saya sudah berusaha. Saya kembali ke kantor. Membuat presentasi karena ga jadi cuti. Tiba-tiba sekitar jam 10-an malam ada pesan whatsapp. Dari Pak Eko. Pesan berupa gambar. Ada foto ganteng saya beserta tulisan Omra visa didalamnya.

Langsung saya sujud syukur. Labbaik Allah humma labbaik.

Alhamdulilah dapat visa di hari terakhir!
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ka’bah Dekat Rumah (3): Awalnya Adalah Nepal

Anda pasti tahu jika awalnya Columbus tidak berencana pergi ke Amerika. Pinta, Nina, dan Maria. Tiga kapal yang pada mulanya ditujukan menuju India. Tapi toh Tuhan punya rencana. Akhirnya Columbus malah terdampar di Amerika. Begitu juga dengan saya.

Setelah lulus kuliah pada 2011, saya ngacung di Jakarta. Menjadi buruh disalah satu perusahaan iklan asing. Kerjaan saya boleh dibilang gampang-gampang susah, bagaimana cara ngabisin duit klien dengan alasan yang keren: membangun world class brand. Tugas saya membuat rekomendasi media strategy dan membeli space media dengan uang mereka.

Brand2 yang pernah saya tangani kebetulan perusahaan multiinasional semua. Mulai dari shampoo punya Raisa yang jadi sponsor Indonesian Idol, oli dari perusahaan minyak Inggris yang nyeponsorin World Cup di Brazil, badan pariwisata Hongkong, mie Instant asli Indonesia yang menjadi jawara di Afrika dan Timur Tengah, dan LCC Airlines dari Malaysia yang menang Skytrax awards 5x berturut-turut.

Kalau dipikir-pikir, saya bisa berangkat umroh karena Tuhan memberi jalan lewat klien saya ini. Koq bisa?

Booking ke Nepal

Mumpung masih bujang, saya suka traveling. Ingin sekali melihat dunia. Sebulan sekali pasti jalan. Kalau keluar negeri sekitar 3 sampai 4x setahun. Baik karena urusan kantor atau backpackeran. Nah hobby ini bisa sukses terlaksana karena klien saya adalah AirAsia.

Mereka kan the best LCC yang rajin banget ngadain promo. Beberapa kali dalam setahun, mereka akan mengadakan free seat dan diskon gede-gedean untuk forward booking (booking keberangkatan beberapa bulan kedepan). Keuntungan jadi planner brand adalah saya bisa tahu “secret information” terlebih dahulu. Sebelum iklan naik dan promo dibuka, saya sudah tahu rute-rute promonya. Berapa harganya. Dan berapa jumlah slotnya.

Contoh promo Karnaval dengan harga mulai dari nol rupiah. Bener2 nol kalau Anda tahu cara nyari-nya 🙂

Jadi bisa ditebak: malam-malam sebelum promo saya udah siap mantengin komputer, biar dapat tiket termurah. Bawa dupa dan kemenyan biar sukses, dan ga lupa jagain lilin jangan sampai mati. Oke saya memang lebay untuk paragpraph ini.

Sekitar bulan April 2013, mereka mengadakan promo gede-gedean lagi. Big sale kursi gratis untuk terbang sampai tahun depan. Kenapa mereka bisa mengadakan ini? Simple aja. Target keterisian pesawat kan ga 100%, nah ada sisa kursi yang sebenarnya bisa diberikan Cuma-cuma. Jatah kursi inilah yang dipromosikan sampai nol rupiah. Yang dipromosikan juga bukan weekend atau peak season. Rasanya pingin ngebacok kalo ada teman yang tanya: “Ada promo tiket lebaran ga?”.

Awalnya saya bermimpi pergi ke Nepal. Gara-gara abis baca Titik Nol-nya Agustinus Wibowo. Dengan sukses ia menggambarkan Nepal sebagai surga backpacker. Tanah dewa yang dingin. Disertai keindahan alam, keagungan himalaya, dan kekayaan budaya membuat semua penjelajah dunia ingin menjejakkan kaki kesana. Ngebayangin bisa jalan kaki bareng biksu dan Sherpa menyusuri kaki himalaya pasti 27x lebih keren daripada nge-date bareng Raisa di mall.

Buku wajib baca bagi mereka yang mengaku sebagai “pejalan”

Saya masih ingat malam itu malam Senin. Setelah cek harga dan jadwal, saya dapat 1 juta untuk ke Nepal!. Fly thru via Kuala Lumpur. Tiket sudah dibooking. Tinggal cari tiket balik dari Kathmandu. Mau langsung balik via KL lagi atau mbolang ke Myanmar dulu?

Tidak Tahu

Sambil cari-cari info penerbangan balik, tiba-tiba kepikiran:

“Jauh-jauh melihat Himalaya tapi belum pernah melihat Ka’bah?” Bah.. buat apa lah!.

Iseng-iseng saya mencari flight ke Arab Saudi. Sudah bisa fly thru di KL. Ga perlu booking dua kali. Setelah searching2, wah dapat 6 juta pulang pergi! Tanpa pikir lagi, langsung saya booking, dan segera bayar. Good bye Nepal. Namaste-nya tahun depan aja ya!

Setelah confirmed. Saya senang sekali. Terbayang ka’bah didepan mata. Padahal urusan saya masih panjang. Kala itu saya benar-benar tidak tahu.

Saya tidak tahu kalau memiliki tiket belum berarti menjamin keberangkatan Anda.

Saya tidak tahu kalau visa Saudi tidak bisa di-apply lewat kedutaan.

Saya tidak tahu kalau kita harus mengurus lewat travel agent.

Saya tidak tahu kalau travel agent tidak menerima solo backpacker.

Tapi saya tahu: jika Tuhan mengijinkan, tidak ada yang tak mungkin untuk dilakukan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ka’bah Deket Rumah (2): Lakukan yang Bisa Dilakukan

Awalnya saya tidak menyangka. Bisa berangkat ke tanah suci, melihat ka’bah secara dekat. Siapa yang bisa mengira: Seekor Yoga makhluk hina yang tidak mengerti agama, bukan orang kaya, dan masih banyak dosa, bisa berdoa di depan baitullah. Berdiri di dalam kota suci. Tapi itulah kekuatan Tuhan. Jika ia berketetapan, tidak ada yang bisa melawan.

Cerita kepergian saya juga sebenarnya juga lucu. Dimulai dari doa. Dari keinginan. Harapan. Terus ada kesempatan yang tak sengaja. Tapi banyak orang bilang: itu panggilan. Karena ada orang mau, tapi tidak mampu. Dan ada orang yang mampu, tapi tidak mau. Tapi saya kita percaya: kita semua mampu. Asal kita mau.

Masih teringat saat itu sekitar tahun 2006. Selesai kuliah, saya sholat di musholla FEB (tumben sholat di musholla bro?). Setelah itu iseng-iseng membaca Koran dinding yang ada disana. Republika. Menulis berita tentang haji. Dan sedikit tentang ka’bah. Entah jin apa yang menyambar, tiba-tiba saya menangis. Benar-benar nangis. Ingin pergi kesana.

Terbayang keagungan dan kemegahan ka’bah. Rumah Tuhan. Pasti penuh kedamaian. Pasti menentramkan. Terlepas semua beban keduniawian. Saya juga penasaran, ada apa di dalam kubus batu yang menjadi kiblat sholat manusia sejagat itu? Saya membayangkan bisa memeluknya. Pasti akan sangat senang sekali. Lebih menyenangkan dari membayangkan memeluk Miyabi. Hihihi.

Saya juga sempat protes: kenapa tanah suci koq jauh sekali. Mahal lagi. Kenapa sih ga buka cabang aja? Pasti rame dan menguntungkan. Atau di ekspor untuk pemerataan tempat spiritual di muka bumi gitu, sehingga ga perlu harus ke arab sana. Apa saya bisa pergi kesana? Seorang mahasiswa bego dengan IPK pas-pasan dan duit cuma cukup makan Senin Kamis.

Tapi saya masih ingat qutipan dari film Great Debaters yang sering saya rapalkan berulang:

Kutahu yang Kumau. Eh itu kan slogan jadul minuman soda…

Apapun makanannya, minumnya… kemakan iklan lagi kan T_T.

“Do what you can do, so you can do what you wanna do”.

Lakukan apa yang bisa dilakukan.

Action

Hidup adalah sekumpulan rantaian aksi. Hanya terkadang manusia lupa diri, dan terlarut dalam banyak mimpi. Ingin pintar? Belajar! Ingin kaya? Usaha! Ingin langsing? Olahraga! Ingin lihat orang ganteng? Tatap wajah saya! Duaaarrrrrrrr.

Semua aksi pasti menghasilkan reaksi. Sederhana kan? Tapi memang Sang Pencipta memiliki logika yang berbeda. Jika kita ingin melakukan perjalanan dari point A ke point B, terkadang Tuhan memaksa kita “berputar” ke point C, D, E, F sampai Z, baru kembali ke point B.

Sampai saya lulus dan ngacung di Jakarta. Masih aja belum cukup tuh buku tabungan (buku tabungannya sih cukup, saldonya yang kering kaya padang pasir). Apa iya saya bisa kesana?

Saya memulai rencana umroh saya dengan berdoa, lalu membeli buku panduan haji dan umroh. Tak hanya itu, saya juga membacanya, dan sering mengucapkan lantunan talbiyah. Pikiran saya sederhana saja: kalau belum bisa kesana, setidaknya sudah berlatih untuk kesana.

Lha koq pas nemu patung onta di kantor hehe

Mungkin ini yang disebut Mestakung (meminjam Prof Yohanes Surya) atau law of attraction-nya Rhonda Byrne. Tapi menurut saya, apa yang saya lakukan disebut ikhtiar. Bukan magic. Bukan kekuatan supra natural. Bukan the power of mind.

Karena alam punya hukum yang tak pernah mati: siapa yang menabur, akan menuai. Yang memberi, akan menerima. Dan yang berusaha, akan menemukan jalannya. Dan jalan Tuhan itu ada banyak. Saya harus “kesasar ke Nepal”, sebelum mendapat jalan menuju Ka’bah. Insya Allah akan saya share di tulisan selanjutnya .

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=uaWA2GbcnJU]

Seperti commercial ads inspiratif dari Thailand ini (baru di upload 3 April 2014 lalu sudah 7 juta views!). Yang memberi, pasti menerima.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ka’bah Dekat Rumah (1): Pulang

“Eh gimana umrohnya?”

“Banyak ditolong orang ya?”

“Katanya barang-barang pada hilang?”

“Beneran tidur di WC masjid?”

“Mana foto-fotonya?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini terus ditanyakan teman-teman saya ketika mereka tahu saya sudah kembali. Menempuh perjalanan ribuan kilometer dari tanah suci. Oh ya, bagi yang belum tahu, saya baru saja melaksanakan umroh backpacker pada tanggal 3-11 February 2014 lalu. Tulisan ini dimaksudkan untuk berbagi cerita, banyak cara indah menuju ka’bah.

Awalnya saya tidak ingin bilang siapa-siapa. Cukup keluarga dan temen kantor yang saya tinggalkan saja yang perlu tahu jika saya kesana. Tetapi gara-gara butuh doa karena masalah visa, saya harus meminta bantuan dari teman-teman di dunia maya.

Selebihnya, banyak kawan yang penasaran. Pergi umroh koq backpakeran. Saya tidak menggunakan jasa travel agent. Ga pake hotel. Cuma habis dana ga sampai 10 juta. Lha wong proses umrohnya aja boleh dibilang “nggak sengaja”. Koq bisa? Ya itulah kekuasaan Tuhan. Sabar ya nanti saya ceritakan hehehe (minta doanya yah agar bisa konsisten menulis ditengah ke-sok-sibukan).

Bagi saya perjalanan umroh adalah perjalanan “pulang”. Saya disadarkan tentang titik nol. Saya diingatkan soal makna kehidupan. Apa yang kita cari? Kemana kita akan kembali? Pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat Tuhan dan kemanusiaan yang terus saya tanyakan, sedikit mendapat jawaban.

Perjalanan umroh kemarin begitu kaya akan pelajaran dan peringatan. Melebihi pengalaman saya selama solo traveling melintasi Indonesia ataupun Asia. Mulai dari ditolong orang, tidur di WC masjid Nabawi, kehilangan seluruh barang di Masjidil Haram, berdoa di Multazam, sholat di hijr ismail, hingga ditipu taksi gelap di Jeddah. Benar-benar banyak hikmah yang saya dapatkan. Baik masalah duniawi, maupun urusan ukhrawi.

Disana saya akhirnya sadar:

Ada yang lebih berharga daripada harta.

Ada yang lebih berkuasa daripada tahta.

Ada yang lebih memesona daripada wanita.

Ada yang lebih penting daripada dunia dan isinya.

Apakah itu?

Saudaraku yang tercinta, silahkan datang ke rumah-Nya dan insya Allah Anda akan menemukan jawaban-Nya.

(bersambung)

Perbekalan perjalanan. Foto diambil di bandara Soetta
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail