Tag Archives: volunteer folly

Volunteer’s folly: Kenapa kita malas kerja bakti dan ronda malam

Misalnya Anda adalah seorang manajer keuangan di perusahaan raksasa. Setiap hari Anda beraktivitas tanpa melihat matahari. Berangkat shubuh dan baru pulang di malam hari. Hidup Anda dipenuhi meeting, deadline, dan bepergian ke dalam dan luar negeri. Saat weekend, Anda hanya ingin beristirahat di rumah.

Tiba-tiba, ada pengumuman dari masjid perumahan. Ternyata ada kerja bakti! Dan semua warga diundang untuk datang dan membantu membersihkan masjid. Apakah Anda akan ikut kerja bakti?

Anda lalu mulai menganalisa: secara logika ekonomis, mengikuti kerja bakti adalah tindakan yang tidak efisien. Setidaknya karena dua alasan.

Pertama, Anda adalah seorang manajer keuangan dan bukan tenaga kebersihan professional (terima kasih kapitalisme atas pembagian spesialis kerja). Kedua, jika Anda menggunakan ukuran gaji perjam untuk membayar pembersih profesional, Anda sudah bisa me-hire cleaning service dengan kualitas yang lebih baik dari Anda.

Anda ingat tentang fenomena volenteer’s folly. Dimana terkadang secara ekonomis akan lebih baik jika kita tidak menjadi sukarelawan, tetap melakukan pekerjaan kita, dan menyuruh orang lain yang lebih professional.

Volunteer’s folly menjelaskan kenapa tidak ada kegiatan ronda (jaga malam) di perumahan mewah. Daripada para warga menjadi volunteer dengan begadang ga jelas, mendingan mereka fokus pada profesi yang ditekuni dan menghire petugas sekuriti professional.

Tapi tidak selamanya kegiatan volunteer itu “folly”. Setidaknya menurut Trevor Knox dalam The “Volunteer’s folly and socio-economic man: some thoughts on altruism, rationality, and community”. Ada 5 alasan kuat kenapa kita masih terus menjadi relawan. Alasan nonconsequentialist, pilihan constitutive, pricelessness, non rational motivation, dan community preference production.

Intinya, menjadi sukarelawan adalah bukti jika kita tidak selamanya homo economicus. Masih ada sisi humanis utilitarian yang kita punya. Keinginan untuk melakukan sesuatu yang bermakna, dan berkontribusi kepada sesama. Toh, membantu manusia lain pada akhirnya akan membuat kita lebih bahagia.

Seperti pesan Rabindranath Tagore (kutipan favorit dan sudah saya tulis berulang-ulang!):

Saya tertidur dan bermimpi jika hidup adalah kegembiraan

Saya terbangun dan melihat jika hidup adalah pelayanan

Saya melakukan, dan percayalah: pelayanan adalah kegembiraan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail