Tag Archives: yoga ps

Sleeper Effect: Kenapa propaganda butuh waktu lama

#70

Saat perang dunia II, Amerika berlomba-loma memproduksi film propaganda. Tujuannya agar masyarakat mendukung peperangan yang terjadi. Tapi seberapa efektif pengaruh film itu? Akhirnya diadakan riset untuk mengetahuinya dengan mengambil responden beberapa prajurit.

Hasilnya mengecewakan, film itu tidak meningkatkan antusiasme prajurit terhadap perang. Mereka sepertinya tahu jika film itu sengaja dibuat sebagai bentuk propaganda.

Dua bulan kemudian, dilakukan penelitian ulang dan terjadi sesuatu yang diluar dugaan. Para prajurit yang telah menonton film itu lebih antusias mendukung perang daripada prajurit yang tidak menonton. Ternyata propaganda film itu berhasil!.

Para peneliti heran karena hal ini bertentangan dengan aturan “decay rate”. Dimana dengan seiring berjalannya waktu, kita cenderung melupakan informasi yang kita terima. Kita pasti sudah lupa isi berita yang kita baca sebulan yang lalu.

Sejak itu lahir kepercayaan jika propaganda menyebar seperti zat radioactive. Meskipun tidak tampak, ia akan tetap ada dan membuat penerimanya terkontaminasi dalam pengaruh laten. Psikolog Carl Hovland menyebutnya “sleeper effect”, sebuah kondisi dimana kita menerima informasi secara “tertidur” (bawah sadar) meski sudah melupakan sumber informasinya.

Sleeper effect digunakan pemasar dengan terus memborbardir kita dengan pesan propaganda konsumtif dalam bentuk iklan. Pernahkah Anda melihat iklan, mengacuhkannya, lalu entah kenapa tiba-tiba teringat meski lupa darimana sumbernya?

Hal ini juga yang menjelaskan kenapa kita masih mengingat berita yang sudah kita lupakan sumbernya, dan sangat rawan untuk menjadi Hoax (karena validitasnya tidak bisa di cross check). Para politisi juga menggunakan sleeper effect dengan menciptakan black campaign, mengangkat isu-isu negative, dan menyebarkan berita bohong menyerang pesaingnya.

Lagipula siapa yang peduli dengan Hoax? Dalam jangka panjang sleeper effect akan membuat konspirasi berita bohong terlihat nyata. Seperti pesan ahli propaganda Nazi, Joseph Goebbels:

“A lie told once remains a lie, but a lie told a thousand times becomes the truth”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#66: Affect Heuristic: Kenapa kita meragukan merk abal-abal

Saat berbelanja di mall, ada 2 pilihan baju yang ingin Anda beli: baju lengan pendek warna merah, dan baju lengan panjang warna hitam. Kira-kira mana yang akan Anda pilih?

Jika Anda rasional, Anda akan menganalisa bahan, model, harga, kecocokan dengan stock celana di rumah, dan pendapat istri atau pacar. Anda lalu membuat tabel komparasi dan mulai menuliskan rating untuk variable yang diperbandingkan. Seharusnya Anda akan membeli baju dengan skor paling tinggi.

Untungnya kita memiliki proses mental bernama heuristic, sebuah short cut pengambilan keputusan tanpa menganalisa semua informasi yang ada. Sehingga kita tak perlu menciptakan model ekonometri hanya untuk memilih baju yang cocok menurut selera. Heuristic bisa disebut insting, atau “gut feeling”, intinya pengambilan keputusan tanpa berpikir terlalu panjang.

Salah satunya adalah affect heuristic, proses berpikir berdasarkan pengaruh stimulus. Mendengar kata “Setan” bisa membuat Anda merinding, sedangkan kata “Bayi” membuat kita tersenyum. Affect Heuristic adalah pemrosesan informasi dengan melihat “stimulus” disekitar kita. Ia membantu kita untuk berhati-hati saat melewati rumah yang dijaga anjing, dan juga menjauh dari pagar dengan logo petir. Padahal bisa saja si anjing itu jinak, dan pagar itu tidak dialiri listrik.

Winkielman et al (1997) membuktikan jika kita digerakkan oleh stimulus subliminal. Ia meminta responden melihat slide show huruf mandarin. Ia juga menyisipkan gambar orang senyum, netral, dan marah dalam waktu 1/250 detik. Ternyata responden lebih memilih huruf setelah gambar orang tersenyum ditampilkan (meskipun mereka tidak sadar).

Masalahnya, affect heuristic sering menghasilkan keputusan yang bias. Penelitian dari Alexander Kempf et al (2014) menunjukkan jika banyak investor lebih mempertimbangkan familiarity (terkenal tidaknya suatu perusahaan) daripada aanalisa laporan keuangan. Akibatnya mereka sering men-over estimate return untuk perusahaan yang dikenalnya, dan men-under estimate return untuk perusahaan yang belum pernah mereka dengar.

Karena itulah pemasar menghabiskan uang trilyunan untuk menciptakan stimulus dalam bentuk iklan dan kampanye pemasaran. Itu juga alasan saat ada dua barang sejenis dengan merk yang berbeda, kita cenderung memilih merk yang pernah kita dengar.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#56 Motivation crowding: Kenapa terkadang uang adalah insentif yang buruk

Misalnya Anda sedang menyetir di jalan menuju kantor. Tiba-tiba terlihat teman Anda sedang menunggu angkot di pinggir jalan. Anda berhenti dan menawarkan tumpangan sampai kantor. Begitu sampai, teman Anda tak lupa mengucapkan terima kasih sambil menyodorkan uang 5 ribu, pengganti ongkos angkot.

Apa yang terjadi? Mayoritas dari kita pasti menolak uang itu karena tidak mau disamakan dengan angkot. Kita memberikan tumpangan dengan tulus, dan adanya “uang bensin” justru merusak semuanya. Inilah yang disebut sebagai motivation crowding, dimana insentif moneter justru menurunkan intrinsic motivation.

Bruno Frey dari University of Zurich pernah meneliti tentang penerimaan penduduk di salah satu desa (Wolfenschiessen), terhadap limbah radioaktif. Dalam community meeting, ternyata 50,8% penduduk menerima. Dengan alasan kebanggaan nasional, dan obligasi moral membantu sesama.

Di kesempatan kedua, diadakan survey dengan satu insentif tambahan: setiap penduduk akan mendapatkan $ 5000 yang dibayarkan dari pajak. Hasilnya, tingkat penerimaan justru turun hingga 24,6% saja!.

Dalam buku Freakonomics juga terdapat contoh kasus motivation crowding penitipan anak. Karena banyak orang tua yang terlambat mengambil anaknya di sore hari, diberlakukan denda. Ternyata karena ada denda ini, justru semakin banyak orang tua yang sengaja terlambat. Toh, mereka tinggal membayar denda!.

Intinya, ada banyak motivasi non-moneter yang menggerakkan manusia. Karena hidup tidak cuma mencari materi. Beranggapan jika insentif moneter bisa mengendalikan prilaku manusia hampir sama dengan menaikkan gaji pejabat dan bertaruh mereka tidak akan korupsi.

Karena itu juga banyak orang resign meski punya gaji megah dan fasilitas berlimpah, demi mengejar passion atau panggilan jiwa. Toh untuk apa jadi kaya jika tidak bahagia?

Steve Jobs, pendiri Apple, tahu tentang motivasi intrinsic ini. Ketika ingin membajak John Sculley, CEO Pepsi untuk bergabung dengan Apple, ia hanya mengajukan satu pertanyaan singkat:

“Apakah kamu ingin menjual air gula seumur hidupmu atau ingin mengubah dunia?”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Acara Tivi Koq Kaya Gini?

Sering, Gusti, aku bertanya-tanya sendiri,

kenapa sih mama tenggelam di televisi,

mengunyah iklan menelan mimpi.

Sabar, mama, tunggu aku masuk ke layar tivi.

(Doa 1 – Silampukau)

logo tv dari https://infoindonesia.files.wordpress.com/2014/04/stasiun-tv-swasta.jpeg

Seorang kawan terheran-heran begitu tahu jika dirumah saya tak ada televisi.

“Hah yang bener? Pasti langganan tv kabel kan?”

Kabelnya sih ada, tapi tivi-nya ga ada. Lha gimana mau nonton tv kabel kalau ga punya tivi? Absennya kotak hiburan warna-warni di rumah kami memang sudah menjadi komitmen bersama. Selain tidak terlalu menikmati acara yang ditayangkan di layar kaca, kami sepakat untuk menjalani hidup hemat biaya hahaha.

Tapi ciyus, ada beberapa alasan kami tidak tertarik membeli tivi. Karena pernah bekerja di media agency, saya tahu jika televisi tak lebih dari media pemasaran untuk mendongkrak penjualan. Semua acara yang diproduksi pada akhirnya akan bermuara pada berapa banyak duit iklan yang bisa dihasilkan (rating hanya salah satu metode pengukuran).

Bagi yang belum tahu, biaya ngiklan selama 30 detik untuk prime time (jam 7 – 9 malam) bisa mencapai puluhan juta rupiah (30-80 juta). Dan biasanya semakin tinggi rating maka semakin mahal biaya ngiklannya.

Bagaimana cara mengukur rating? Mayoritas pengiklan akan menggunakan rating point hasil study AC Nielsen. Jadi Nielsen memiliki sebuah alat “people meter”, dimana dia akan memasangkan alat di ribuan rumah yang dijadikan sample. Lewat alat itu akan ketahuan, berapa persen orang yang menonton suatu acara, program apa yang paling diminati, acara yang paling sedikit penontonnya, dan kebiasaan menonton lainnya.

Semakin tinggi suatu rating, berarti semakin banyak penontonnya. Jika semakin banyak yang nonton, akan semakin banyak pengiklan yang membeli spot iklan di acara itu. Nah karena logika yang berlaku adalah hukum pasar, maka stasiun tivi akan terus menayangkan program yang memiliki rating bagus. Sekarang tahu kan kenapa ada Tukang Bubur yang udah bertahun-tahun exist meski buburnya ga ada lagi. Ya itu berarti tim programnya sukses mempertahankan rating acara.

 Bukan Salah Stasiun TV

Saya sering tertawa ketika mendengar ada orang menyalahkan stasiun tivi karena acara-acara yang dianggap “kurang bermutu”. Pertama, saya bingung ketika harus mendefiniskan acara yang “bermutu” dan “tidak bermutu” itu seperti apa. Apakah acara berita pasti lebih bagus dari sinetron? Apa benchmark-nya? Apa metrics yang digunakan untuk mengukurnya?

Kalau ada acara yang dianggap “kurang mendidik”, apa definisi program yang mendidik? Bukankah filter mendidik-tidaknya sebuah tayangan ada di otak para penontonnya sendiri? Contohnya ada acara sinetron yang menampilkan kehidupan keluarga kaya dan hidup mewah. Sebagian orang akan protes:

“Sinetron seperti ini hanya menampilkan kemewahan!”

Loh, bukannya justru bagus ya? bukannya itu mengajarkan kita untuk tidak malu jika ingin kaya, yang penting terus berusaha. Pola pikir sirik-nya diubah donk: Jika mereka yang ada di sinetron aja bisa kaya, kita juga pasti bisa.

Alasan kedua adalah program yang ada di televisi kita hanyalah cerminan selera masyarakat kita. Kan sebelumnya sudah saya bilang, iklan ngikutin rating, dan rating ngikutin selera penonton. Jadi ya jangan ngambek kalo acara kita isinya sinetron dan drama India, berarti ya masyarakat kita sukanya sinetron dan drama India.

Program yang ada di televisi kita hanyalah cerminan selera masyarakat kita

Saya iseng nulis ini sebagai salah satu aksi konkret dan ajakan untuk menjadi penonton kritis. Mumpung sedang ramai membahas revisi UU penyiaran. Mbok ya jangan Cuma mengutuk acara tivi kita yang katanya kurang mencerdaskan. Siaran Tivi ga cerdas ya berarti masyarakat kita juga belum cerdas. Masih suka drama cinta-cintaan, makhluk jadi-jadian, kebut-kebutan, India-Indiaan dan Turki-Turkian.

Sudah ga kuat dan muak dengan acara tivi yang ada? Jauhkan televisi dari rumah Anda :p

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kota Kecil (1)

Libur panjang kali ini saya isi dengan rekreasi yang sedikit berbeda. Berbekal ransel, baju ganti, kartu gesek plastic bekal akomodasi, tumpukan buku, tanpa alat transportasi pribadi, tanpa peta dari dora, dan saya siap berangkat. Sendirian (bersama Tuhan lebih tepatnya). Hanya satu yang kurang: saya tidak tahu mau kemana!

God bless stochastic traveler.

Dalam terminology statistik, saya jatuh cinta pada dua kata: outlier dan stochastic (kata ketiga: long tail). Yang pertama merujuk pada data tidak biasa diluar kewajaran sehingga terkadang harus disingkirkan untuk memperhalus modeling, sedangkan kata yang kedua, merujuk pada keacakan pergerakan sebuah variable. Tidak bisa ditebak. Sukar diprediksi. Spontan. Standar deviasi terlalu tinggi.

Dan sifat stochastic pada traveling berarti mempasrahkan nasib perjalanan pada kaki yang melangkah. Itulah yang saya lakukan. Keluar dari apartemen, menumpang shuttle bus ke halte trans Jakarta terdekat. Logika saya sederhana: pergi kesalah satu terminal bus.

Saya masih belum tahu mau kemana. Ketika setelah menembus kemacetan dan tiba di terminal Kampung Rambutan-pun saya masih melongo. Ga tau mau ngapain. Bukankah kehidupan tidak selamanya harus memiliki kejelasan tujuan? Apa yang terjadi jika ternyata tujuan dari perjalanan adalah perjalanan itu sendiri?

Tapi tidak memiliki tujuan tidak dikenal dalam sains manajemen. Tanpa tujuan yang jelas, seseorang hanya menghasilkan inefisiensi dan pemborosan sumber daya. Tugas seorang leader adalah menetapkan goal, dan mengarahkan segala sumber daya untuk mencapainya.

Saat tiba didepan loket peron terminal, saya tahu, keputusan harus segera ditetapkan.

“Ada bus ke Pandeglang?”

Serang

Dan tibalah saya disalah satu bus. Prima rasa apa prima jasa ya? Atau prima raga? Yang penting bukan prima gama deh. Atas saran pak supir yang budiman, saya disarankan turun di Serang untuk kemudian menyambung ke Pandeglang.

Kenapa Pandeglang? Saya juga tidak tahu. Karena saya tidak tahu inilah makanya saya mau cari tahu ada apaan di Pandeglang. Bego banget ya haha. Apalagi saat saya googling tentang Pandeglang, isinya tentang pantai semua. Carita dan Anyer. Tapi saya sedang tidak ingin mainstream. Mending mainsaham. Hahaha.

Pas long weekends dateng ke tempat rekreasi? Sama aja pas kiamat datang ke padang ma’shar!!! Pasti rameeee buanggetttt. Inilah asyiknya stochastic traveling. Pergi ke kota kecil. Tidak terkenal. Tidak memiliki tujuan. Menjauhi keramaian. Berharap bertemu ketenangan. Menuju kedamaian kehidupan.

Ok cukup bacotan sok bijaknya. Saat di terminal, Pelajaran kehidupan yang saya dapat: lebih baik menunggu di perempatan jalan daripada di dalam terminal. Kenapa? Karena bis-nya pasti ngetem dulu di perempatan! Apa sekalian saya nunggu di Serang? Pernyataan bodoh no 2 di tulisan ini.

Setelah dua jam an berdesak-desakan, ngantri, dan merasakan full sauna yang lumayan membakar lemak (padahal ada AC-nya), tibalah saya di Serang. Turun di terminal bayangan sekitar mall of Serang. Sekarang mau kemana kita tuan muda? Saya juga tidak tahu kakak tua…

Akhirnya saya memutuskan berjalan kaki sekitar 4 kilo ke pusat kota. Aturan city tour no 1 bagi saya: usahakan berdikari! Berjalan dengan kaki sendiri. Karena kalo pake kaki palsu ga bersyukur namanya. Jalan kaki akan memberikan the real experience. Merasakan udara kota. Mendengarkan dialek local bahasa. Mencium bau tanah yang berbeda. Tahun lalu saya menjelajahi Sumatera dan sedikit Asia Tenggara dengan berjalan kaki.

Kata bapak di bis, saya kudu naek angkot ke Pandeglang. Tapi hey, kenapa tidak mengeksplore dulu kota ini? Hey, bukankah saya pingin jadi yoga the explorer? Dan hey, sekarang sudah ada internet explorer!

Dengan muka acak, akhirnya saya memilih salah satu hotel secara acak.

Jaka Sembung perutnya Kembung. Tulisannya bersambung bung!!!

Peta Wisata kab. Serang, Banten
Peta Wisata kab. Serang, Banten

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Pemuda Batu

Sumpah pemuda pasti ngomongin pemuda. Ga mungkin kan ngomongin kakek tua. Kami, pemuda Indonesia berbangsa satu, berbahasa satu, dan beristri satu bla bla bla gitu deh.. pasti bosen kan klo saia nulis begituan? Karena itu saya Cuma mau sharing cerita rakyat Himalaya tentang Para Pangeran Berubah Menjadi Batu. Cerita ini saya cuplik dari Si Gajah dan Sekumpulan Semut karya Eurice de Souza. Buku berisi kumpulan cerita rakyat India. Cekidot bro:

ronosaurusrex.com

Pada suatu masa, hiduplah seorang raja yang memiliki tiga orang putra. Sang raja sering meminta ketiga putranya berkuda mengelilingi kerajaan untuk mengetahui keadaan rakyatnya.

Suatu hari, ketika putra sulung tengah berkuda melewati sebuah hutan, ia melihat empat ekor kuda yang gagah sedang merumput di pinggir sebuah kolam. Seorang pertapa mengawasi kuda-kuda itu selagi mereka merumput.

“Tuan”, kata pangeran seraya berjalan mendekati pertapa itu, “Mereka adalah kuda-kuda tercantik yang pernah saya lihat. Bolehkah aku menunggangi salah satu kuda ini sebentar saja?”

“Tentu saja boleh”, jawab sang pertapa. “Pilih satu kuda yang paling kau sukai dan silakan tunggangi sepanjang hari ini. Tetapi, kau harus kembali sebelum sore, dan ceritakan petualanganmu kepadaku serta apa artinya. Jika tidak, aku akan mengubahmu menjadi pilar batu”.

Sang pangeran merasa sangat senang. Ia menaiki seekor kuda dan pergi menungganginya. Selagi berkuda, pangeran melewati sepetak kecil kebun sayur mayor yang dipagari dengan papan kayu yang panjang dan tajam sehingga tidak bisa dimasuki oleh siapa pun. Ketika ia berhenti untuk melihat-lihat tempat itu, betapa terkejutnya sang pangeran melihat papan kayunya berubah menjadi sabit yang kemudian bergerak memangkas sayur mayor didalam kebun.

Bingung dan ketakutan, pangeran berkuda pulang secepat mungkin untuk kembali ke pinggir kolam, dan ia pun menceritakan kepada pertapa apa yang telah ia lihat.

“Apa arti kejadian itu?” tanya pertapa.

“Aku tidak tahu” jawab pangeran. “Kupikir justru Tuanlah yang akan menjelaskan artinya padaku”

“Tidak tahu!” seru pertapa. “Bagaimana mungkin kau bisa memimpin sebuah kerajaan jika kau tidak bisa memahami bahkan untuk hal-hal yang paling sederhana? Kau akan berubah menjadi batu karena kebodohanmu”.

Segera setelah kutukan itu diucapkan oleh pertapa, pangeran berubah menjadi sebuah pilar batu.

Keesokan harinya, pangeran kedua berkuda menuju untuk mencari kakaknya, dan ia pun bertemu dengan pertapa di pinggir kolam beserta keempat kuda yang sedang merumput. Sama seperti kakaknya, pangeran kedua juga bertanya kepada pertapa apakah ia boleh menunggangi salah satu kuda itu, dan sang pertama pun menyebutkan syarat yang sama.

“Aku sudah beribu-ribu kali berkuda melewati daerah ini” kata pangeran. “Dan, aku tidak pernah melihat sesuatu yang aneh”.

“Kita lihat saja nanti” balas pertapa, dan pangeran kedua pun berkuda ketempat yang jauh.

Beberapa jam kemudian, ia kembali.

“jadi bagaimana?” tanya pertapa. “Apakah kau melihat sesuatu yang aneh?”

“Oh, iya” jawab pangeran. “Aku bertemu dengan seorang Continue reading Tiga Pemuda Batu

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

30++

foleydawn.files.wordpress.com

Bagaimana cara menguasai pemikiran seseorang?

Pertanyaan ini terus menghantui pakar pemasaran, pengamat politik, ahli psikologi, dan pecinta propaganda. Milyaran rupiah dihabiskan untuk melakukan riset pasar, eksperimen lapangan, sampai neuro science research. Semua dilakukan agar mampu melakukan modifikasi prilaku seseorang. Membuat seseorang melakukan, apa yang kita ingin mereka lakukan.

Dalam dunia advertising, ada teori tentang effective frequency. Pemikirannya sederhana: seberapa sering sih seseorang harus melihat sebuah iklan hingga mampu mempengaruhi pemikirannya dan mengubah prilakunya?

Ada banyak teori yang menjelaskan. Salah satunya adalah Krugman 3 hit theory. Jadi, seseorang harus melihat pesan (entah itu iklan produk, politik, anjuran, imbauan) setidaknya tiga kali baru ia mengerti. Pertama kali melihat ia bertanya: “Apa ini?”, kedua kali melihat ia bertanya: “Apa hubungannya dengan saya?”, dan ketiga serta selanjutnya: “Ini mengingatkan saya”.

Sebelumnya ada teori dari Thomas Smith lewat karya klasiknya Successful Advertising yang ia tulis tahun 1885. Smith bahkan lebih ekstrim: setidaknya 20 kali pesan terulang untuk dapat menancap di alam bawah sadar seseorang. Prosesnya seperti ini Continue reading 30++

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ujian

bestmastersineducation.com


Saya membenci ujian ketika sekolah. Apalagi kalau ujiannya deres. Bisa banjir deh. Huehueue. Ada beberapa sebab. Causa prima-nya adalah karena nilai-nilai sekolah saya jelek. Untung tampang saya enggak (fitnah dan boong itu beda tipis loh :p). Sangat jarang masuk 10 besar untuk urusan nilai. Tapi untuk masalah berat badan, jangan ditanya donk hehehe.

Jikapun ranking 10 besar itu pun ranking 9 titik 5. Dalam artian ada lima orang dengan nilai sama yang pantas duduk dirangking 9. Hebat banget kan sampe ada 5 orang dengan nilai sama. Mungkin karena budaya gotong royong dan rasa senasib sepenanggungan. Mungkin juga karena tingginya solidaritas social. Termasuk untuk urusan ujian. Nyontek maksudnya.

Jujur, waktu sekolah saya pinter. Pinter mengeksploitasi orang lain lebih tepatnya. Saya memiliki kemampuan menganalisa kemampuan seseorang, melakukan pendekatan personal, membangun jaringan social, mengoptimalkan belas kasihan kemanusiaan berbalut rasa-tidak-tega-memiliki-teman-gendut-dan-bego seseorang untuk kepentingan pribadi.

Dulu juga saya ga pernah nyatet, karena saya punya “sekretaris pribadi”. Anak cewek yang rapi catetannya dan pasti langganan saya fotokopi. Ada tugas paper atau LKS? Tenang… ada “tim riset” yang menyediakan data jawaban. Besok ujian? Malemnya main game donk! Karena setiap ujian saya udah punya “tim ahli”. Anak2 jago matematika, bahasa inggris, dan IPA yang bisa saya berdayakan.

Kebiasaan nyampah ala parasit ini berhenti ketika kelas 3 SMA. Waktu itu saya sadar jika SPMB tidak memungkinkan membawa “tim ahli” ketika ujian. Saya mulai tobat, insyaf, kembali ke jalan lurus kebaikan. Saya ingat Tuhan. Narkoba, miras, judi, dan prostitusi saya tinggalkan. Merindukan cahaya kebaikan. Sambil teringat kembali dosa-dosa yang telah saya lakukan. Jika saya teruskan, lama-lama tulisan ini jadi majalah Hidayah sodara-sodara.

Dan hasilnya, saya meraih nilai UN tertinggi sekabupaten! Guru-guru tidak percaya. Keluarga tidak percaya. Teman-teman tidak percaya. Saya sendiri juga tidak percaya! Saya takut! Saya takut jika ada jaringan mafia yang menculik anak SMA cerdas dengan nilai UN tertinggi untuk dipaksa menjadi pegawai negeri. Atau Jangan-jangan ini hanyalah taktik propaganda zionisme Israel dan sekutunya untuk menciptakan euphoria dan mencuci otak kaum muda Indonesia. Jika saya teruskan, lama-lama tulisan ini jadi majalah Sabili sodara-sodara.

Kembali ke laptop (karena saya nulisnya di laptop beneran) Setidaknya ada beberapa hal lain yang membuat saya membenci ujian sekolah Continue reading Ujian

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail