Tag Archives: yogaps

Educere

Beberapa waktu lalu saya kumpul-kumpul dengan teman-teman. Dan seperti biasa, selain update masalah kehidupan, kita saling bertanya soal anak dan keluarga.

Termasuk soal pendidikan.

Seorang teman mengkhawatirkan soal mahalnya biaya pendidikan anak-anak zaman future (bukan now lagi bosku).

Uang pangkalnya puluhan juta, belum SPP yang nilainya mirip SPP kuliah saya dulu haha.

Yang membuat saya tersadar adalah, stigma yang mengasosiasikan jika pendidikan berarti sekolah.

Apakah tanpa sekolah seorang manusia bisa mendapatkan pendidikan?

Kebetulan saya baru saja menyelesaikan “Educated” dari Tara Westover. Memoar dari seorang ahli sejarah PhD Cambridge yang anehnya, tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga umur 16 tahun!

Sejarah hidup Tara sendiri unik. Dibesarkan oleh keluarga Mormon yang fanatik, Ayahnya menderita schizophrenia dan hidup dalam halusinasi tentang illuminati, konspirasi, dan semakin dekatnya hari kiamat.

Mereka anti pemerintah, tidak percaya dokter, dan bahkan tidak mengurus akte kelahiran anak-anak mereka.

Ayahnya seorang pedagang rongsokan dan kontraktor partikelir. Ibunya bekerja sebagai bidan ilegal. Lalu banting setir menjadi herbalis pengobatan tradisional setelah kecelakaan mobil hebat yang hampir menewaskan keluarga mereka.

Tak ada musik pop. Buku-buku bacaan yang ada hanya alkitab. Pendidikan yang diajarkan hanya baca tulis hitung sederhana. Kata sang Ayah, sekolah adalah alat illuminati untuk mencuci otak kaum muda.

“A man can’t make a living out of books and scraps of paper”.

Untung tak semua kakaknya tahan dengan kultur keluarga anti mainstream ini. Menginjak remaja, dua kakaknya minggat. Lalu menyusul anak ketiga, ingin sekolah.

Anak ketiga ini, Tyler, yang kemudian mengompori Tara untuk belajar. Mandiri. Tanpa diawasi.

Diberikannya buku-buku. Disuruhnya Tara ikut ACT. Test untuk masuk perguruan tinggi. Ijazahnya gimana? Dalam essay application ditulis: Tara mendapat pendidikan home schooling.

Tara sendiri mengisahkan perjuangannya belajar matematika, trigonometri, atau aljabar. Senjatanya cuma satu: kesabaran membaca meski ia tidak mengerti juga.

“The skill I was learning was a crucial one, the patience to read things I could not yet understand”.

Singkat cerita, dia lulus dan diterima di BYU (Bright Young University). Ajaibnya lagi, studinya lancar dan mendapatkan beasiswa ke Cambridge hingga menggenggam gelar PhD!.

Saya jadi tersadar, yang terpenting dari pendidikan bukan tentang INSTITUSI pendidikan. Tapi bagaimana bisa menghasilkan manusia-manusia pembelajar yang mencintai proses pendidikan itu sendiri.

Apalagi di zaman sekarang, pendidikan berbasis kelas terdisrupsi oleh ‘sekolah online’. Ada universitas raksasa bernama Google yang bisa membantu kita menemukan “guru” tentang pelajaran apa saja.

Pingin belajar edit video? Bisa mulai menonton ribuan tutorial di youtube. Ingin tahu soal data science? Banyak kursus di udemy. Pingin tahu matematika? Bisa main-main ke Khan Academy. Bingung klo ada pertanyaan soal coding? Silahkan lempar di Github.

Tentu ‘sekolah online’ takkan bisa 100% mengalahkan pertemuan langsung dengan pengajar ilmu. Ada “adab ilmu” yang harus diajarkan oleh seorang guru. Karena itu pendidikan formal masih memegang peranan penting, meski bukan yang terpenting.

Tantangan pendidikan dimasa depan bukan tentang transfer pengetahuan. Tapi bagaimana menciptakan koneksi antar pengetahuan. Ini tentang mengubah informasi menjadi strategi yang menghasilkan aksi valuasi.

Google menjadi kaya bukan karena menyimpan data search queries penduduk bumi. Google menjadi kaya karena bisa mengubah data keyword pencarian menjadi sesuatu yang berguna bagi pengiklan.

Menurut Craft (1984) kata ‘education’ sendiri punya dua makna. Bisa educare yang berarti membentuk. Atau educere, yang berarti mengeluarkan.

Apa yang dikeluarkan?

Rasa penasaran, kerendahhatian, dan penghormatan kepada anugerah Tuhan bernama pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada perusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missq-ueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat politik). Tidak semudah itu, Ferguso.

Solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan). Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Bahkan penelitian dari Hankins et al (2011) menunjukkan jika orang miskin yang menang lotre akan kembali bangkrut dalam waktu kurang dari 5 tahun!

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

boston.carpe-diem.events.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Dia membagi strategi pengentasan kemiskinan menjadi dua cara: push and pull.

Push lebih bersifat eksternal. Dimana ada negara Al-Tajirun yang menggelontorkan hibah proyek ke negara miskin dalam bentuk “hard assets”.

Sedangkan pull berarti dari dalam. Inilah peran masyarakat (jangan bergantung ama pemerintah!) untuk menciptakan inovasi berbasis nilai yang pada ujungnya mampu melayani kebutuhan pasar.

Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi. Demikian juga dengan Amerika di abad 19. Atau Jepang setelah perang dunia kedua.

Ga ada dari negara negara kaya ini yang mencari pesugihan atau melihara babi ngepet. Semuanya bekerja keras dan berinovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki

#2 Jika kita miskin dan ingin makmur? Ya kita harus berinovasi dan menciptakan value added

Dan itu berarti berhenti menggantungkan nasib kita ke pihak ketiga bernama pemerintah.

Pasrahkan hidupmu hanya kepada Tuhan, dan ciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Penyesalan Membeli Kindle

 

November 2018 lalu Amazon merilis kindle seri terbaru: Paperwhite 4.

Dengan storage lebih besar (8GB), gawai baca digital ini juga sudah anti air. Ga usah khawatir rusak klo kecemplung di kolam renang atau got.

Karena mulai lelah berurusan dengan buku fisik (sering hilang waktu traveling, berat di tas, dan harus menyiapkan rak), saya berpikir untuk pindah haluan membaca buku digital.

Awalnya agak ragu. Karena harganya setara dengan smartphone middle low (2,5 jutaan). Apalagi fungsinya Cuma satu: baca buku doang. Tapi berdasarkan testimoni teman-teman dan netijen yang udah pakai, akhirnya saya coba iseng-iseng beli.

Setelah browsing sana-sini, saya nemu reseller di salah satu market place yang menjual dengan harga paling murah. Bahkan lebih murah dari amazonnya sendiri. Kekurangannya: harus mau nunggu 2 bulan.

Ternyata 40 hari kemudian barang sudah datang. Dan saya pun tercengang. Kindle benar-benar tercipta untuk memanjakan pembaca buku!

Setidaknya ada 5 alasan kenapa Anda harus mulai beralih menggunakan kindle:

#1 E-ink Seperti Kertas yang Canggih

Kindle menggunakan teknologi e-ink yang membuat kita seperti membaca diatas kertas. Dengan resolusi 300 dpi, tulisan terlihat tajam dan enak dibaca. Apalagi teknologi kindle memberi kita kebebasan mengatur besar kecil tulisan, jenis-jenis font, dan sangat mudah men-highlight isi buku untuk kemudian dikirim dalam bentuk email. Ga perlu ribet-ribet ngetik ulang lagi!

#2 Ga perlu Takut Cahaya LED

Kindle paperwhite memiliki front light display (cahaya dari samping), berbeda dengan kebanyakan handphone yang menggunakan backlight display (cahaya dari belakang layar). Ini membuat mata tidak cepat capek klo untuk baca. Ga perlu juga takut dengan “blue radiation” yang katanya membuat mata kering. Mau baca berjam-jam? Amann!

#3 Fokus

Karena kindle hanya punya satu fungsi, ini menjadi kekurangan tapi juga kelebihan. Masa ngeluarin 2,5 juta Cuma buat baca buku doank? Mending tablet donk, bisa buat nonton film, browsing, atau main game.

Tapi justru disitu saktinya kindle. Karena Cuma punya satu fungsi, kita tak akan terganggu dalam membaca. Tak ada pesan notifikasi yang mengganggu, tak ada godaan untuk browsing sana-sini, tak ada alasan untuk nonton video-video ga jelas.

Kindle itu seperti perpustakaan. Tak ada keramaian. Tapi kita seperti menemukan ruang untuk menikmati kesendirian. Hanya bersama buku bacaan.

Selama 3 minggu megang kindle, alhamdulilah saya sudah menyelesaikan 3 buku. Sesuatu yang agak sulit dilakukan jika membaca menggunakan tablet.

#4 Lebih Murah

Dibandingkan beli buku fisik, Amazon memberikan diskon yang lebih murah untuk versi digital. Tapi ya gitu, mayoritas buku-buku yang ada berbahasa Inggris. Seandainya Gramedia mengembangkan hal yang serupa, saya yakin dunia perbukuan bisa semakin maju. Karena dengan versi digital, berarti ada penghematan biaya cetak dan distribusi.

Tapi mungkin Mbah Kompas Gramedia ga pingin toko-toko mereka sepi. Padahal dengan bisnis model digital, pengarang dan pembaca sangat diuntungkan. Harga lebih murah akan menjangkau pembaca lebih banyak.

#5 Banyak Ebook Gratis

Bukannya saya mau ngajarin yang ga bener, tapi banyak website menawarkan jutaan ebook kindle secara gratis. Ini memudahkan kita jika tidak kuat membayar buku dalam bentuk dollar. Prinsip busuk saya sih, selama masih ada yang gratisan, kenapa harus nyari yang mbayar? Hahaha.

Tapi saya tetap beli versi resmi koq untuk buku terbitan terbaru. Karena Namanya juga “bajakan”, ebook gratisan takkan bisa di sync dengan account amazon kita. Susah kalau mau men-highlight kalimat-kalimat penting di buku yang kita anggap menarik.

______________

Lho koq isinya positif review doank? Nyeselnya dimana donk?

Iya saya nyesel koq. Saya nyesel kenapa nggak dari dulu-dulu beli kindle-nya hehehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada sperusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Berarti secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missqueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat pencitraan). Tapi solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan).

Tidak semudah itu, Ferguso. Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Jepang dan Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki.

#2 Jika kita miskin dan ingin kaya, ya kita harus berinovasi dan menciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Tiket Pesawat Keluar Negeri Lebih Murah?

 

Media diramaikan dengan issue tiket pesawat yang naik gila-gilaan.

Apalagi tahun 2019 apa-apa dikaitkan dengan isu politik. Duit cepek dibuat lodeh. Capek deh.

Pendapat jika tiket ke luar negeri lebih murah daripada rute domestic ada benarnya. Tapi juga ada bias-nya.

Bias karena yang murah biasanya hanya KL/Singapura. Sedangkan yang dibandingkan biasanya rute-rute domestic padat wisatawan seperti Bali, Lombok, atau daerah Indonesia Timur.

Btw, kenapa sih tiket Jakarta – Singapura/KL biasanya lebih murah dibandingkan Jakarta- Bali/Lombok?

Sebenarnya nggak selamanya lebih murah. Kebetulan aja banyak airline yang promo (terutama si Merah).

Tapi setidaknya ada beberapa alasan kenapa rute itu sering banget banting harga.

#1 Harga avtur lebih murah

avtur – sindonews

Ini bocoran waktu saya masih belajar di salah satu airline di Malaysia. Harga avtur lebih murah disana. Karena itulah banyak pesawat yang disetting untuk punya rute gabungan domestic dan internasional.

Ada banyak Istilah. Yang sering dipakai adalah Double U.

Misal ada satu pesawat start Jakarta. Dia akan ke KL dulu. Disana ngisi full tank, lalu balik ke Jakarta. Dari Jakarta baru ambil rute domestic ke Jogja. Dari Jogja diarahin lagi ke KL (ngisi avtur lagi). Balik ke Jogja. Terus malem balik ke Jakarta.

Lebih murahnya di harga berapa? Oh tidak semudah itu Ferguso. Itu rahasia perusahaan hehe.

Kenapa avtur di Indo lebih mahal? Mungkin pejabat-pejabat di Pertamina lebih kompeten untuk menjawab.

#2 Persaingan ketat

Rute-rute ke Singapura dan Kuala Lumpur adalah jalur gemuk dengan banyak pemain. Jarak tempuh ga terlalu jauh, dan juga permintaan tinggi.

Ibarat kolam pancing, isinya Cuma sekelas ikan lele tapi buanyaakkk.

Banyak supply otomatis hukum permintaan berlaku. Daripada terbang dengan pesawat kosong, para airlines sering menjual dengan tiket murah.

Karena airlines bukan angkot yang bisa ngetem nunggu penumpang penuh (ya kali pramugari jadi kernet).

Apalagi low cost carrier mencari pendapatan bukan hanya dari tiket. Masih ada bagasi, makanan, dan berbagai service yang bisa dijual.

Prinsipnya: pesawat kosong nyaring bunyinya. Daripada kosong, yang penting harus ada penumpangnya!

Berapa pun harga tiketnya.

#3 Hub-spoke/Feeder strategy

Banyak airlines yang menempatkan KL/Singapore sebagai hub transit. Tempat berkumpulnya penumpang untuk diangkut ke rute yang lebih jauh. Karena itulah penumpang harus transit di bandara itu.

Dan anehnya, mereka terkadang rela mengorbankan harga rute pendek, untuk membuat orang tertarik terbang ke rute yang lebih jauh.

Misal KLM, full service carrier dari Belanda. Harga Jakarta-KL mereka terkadang mirip-mirip dengan harga promo AirAsia. Mereka rela men-dumping harga CGK-KUL karena pendapatan terbesar didapatkan dari rute KL ke Eropa.

#4 Tarif Batas Bawah

Penyakit utama “mahalnya” tiket domestic kita.

Adanya tarif batas bawah yang membuat airlines tidak boleh memberikan harga promo dibawah harga itu.

Mulai berlaku sekitar tahun 2014. Tujuan utamanya mulia: untuk menciptakan iklim persaingan yang sehat dan tidak ada perang harga antar maskapai.

Tapi kebijakan ini “merugikan konsumen” karena mereka takkan pernah menikmati promo super gila seperti “kursi gratis”.

Logikanya sih, klo keluar negeri aja airlines boleh promo edan-edanan, kenapa rute domestic gak boleh?

#5 Infrastructure yang LCC friendly

Salah satu alasan si Merah bisa merajai penerbangan internasional di ASEAN adalah dukungan infastruktur yang ramah kepada LCC (low cost carrier).

Tarif airport tax KLIA2 misalnya, hanya 35 RM atau 100rb-an. Berbeda dengan Soetta yang ada di angka 230rb.

Kenapa koq lebih murah?

Karena otoritas bandara Malaysia tahu jika LCC ga butuh bandara yang mewah. Yang penting mendukung operasional airlines dan tidak memberatkan wisatawan.

Bandara bagi LCC ga perlu punya lounge dari marmer. Yang penting bisa untuk transit dengan murmer. Murah meriah hehehe.

__________________________________

Begitulah bosku beberapa alasan kenapa penerbangan keluar negeri bisa lebih murah daripada kedalam negeri.

Seperti pepetah: hujan emas di negeri orang, hujan deras di negeri sendiri. Banjir bro. Hehehe.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

OKR

OKR

Apa hubungan tahun baru dengan rahasia organisasi-organisasi kelas dunia?

Tahun baru identik dengan resolusi baru. Dan ternyata mayoritas organisasi hebat pasti punya “resolusi” yang jelas.

Berbeda dengan kita yang biasanya punya resolusi tinggi tapi mimpi (saya ingin langsing contohnya!), organisasi hebat macam Google, Intel, atau Microsoft punya tujuan yang jelas dan terperinci.

Mereka memiliki framework yang lebih dari sekedar resolusi tanpa arti.

Mayoritas organisasi kelas dunia memiliki OKR.

Makhluk apakah itu OKR?

OKR adalah singkatan dari Objective and Key Result.

Berarti tujuan yang ingin kita capai, dan indicator pencapaiannya.

Diciptakan oleh bos Intel, Andy Groove pada tahun 70-an dan dipopulerkan oleh John Doerr.

Konsep ini lalu diperkenalkan John Doerr ke Google yang membuat mereka mampu menciptakan strategi hyper growth yang luar biasa. Bahkan semua Googler (pegawai Google) dipaksa untuk menuliskan OKR pribadi untuk di share ke tim-nya.

Kenapa OKR bisa berdampak signifikan?

Karena OKR akan berfungsi sebagai kompas.

Ia akan memandu kita ke tujuan dan memberi tahu jika tujuan itu sudah/belum tercapai. Tanpa OKR kita hanya melakukan rutinitas biasa tanpa kejelasan kemana kita bergerak.

Menurut Doerr, OKR yang baik harus signifikan, konkret, action oriented, dan inspirasional. Dalam artian OKR itu harus menarik untuk dituju dan punya ukuran/metrix yang jelas.

Kita ambil contoh visi/misi capres 2019.

“Terwujudnya Indonesia Maju/Adil, Makmur, Bermartabat” bukanlah contoh OKR yang baik.

Tujuan itu mungkin terdengar gagah dan keren. Tapi terlalu mengawang-awang dan kurang jelas ukuran pencapaiannya.

“Menjadi negara sejahtera dengan pendapatan per kapita $4.000” jauh lebih gampang diukur. Jika pada akhir masa jabatan pendapatan per kapita masih $3.999 maka presiden itu belum mencapai tujuan.

Karena menurut Andy Groove, indikator OKR harus bisa diukur dengan “Ya atau Tidak”.

Untuk itulah ada “color grading checklist”. Untuk mengevaluasi kinerja kita selama periode tertentu. Hijau jika kita sudah 80-100% dari target, kuning jika 50-79%, dan merah jika dibawah 49%.

Tapi tentu yang lebih penting dari sekedar penetapan tujuan dan penciptaan strategi adalah: eksekusi.

Strategi terbaik adalah strategi yang benar-benar kita jalani.

Just do it.

Selamat mencapai OKR 2019!

source: HotPMO
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Hari Bersejarah Dalam Hidup Saya

Tanggal 14 November 2018 adalah hari yang sangat bersejarah dalam hidup saya.

Hari yang ditakdirkan menjadi hari luar biasa.

Mungkin ini hari yang dijanjikan Tuhan kepada saya sebagai hambanya.

Hari perubahan.

Hari tipping point yang mengubah hidup saya selamanya.

Hari yang…

(udah intronya bangke!!)

Okay, tanggal hari 14 November 2018 adalah hari… Rabu.

Dimana saya menciptakan breakthrough, sebuah terobosan yang akan saya catat dalam “My Life Guinness Book of Record”.

Pemirsa, pada 14 November 2018 Pukul 18.14 WIB (GMT +7) akhirnya saya… makan bakso.

What?!? Menyesalkah kamu telah membaca content yang ga ada unsur gossip mesum atau perselingkuhan artis dan hanya menjadi polusi wall social media?

Tentang mamalia dengan badan obesitas yang telah memakan bakso pada 14 November 2018 Pukul 18.14 WIB (GMT +7)?

source: cookpad

Bagi sebagian orang termasuk mantan presiden AS, Barack Obama, bakso adalah makanan biasa. Sudah mandarah daging dan menjadi gastronomi tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi tidak bagi saya.

I hate bakso!

I can’t eat bakso!

Kenapa? Saya juga ga ngerti.

Hipotesisnya, karena dulu Ibu saya pernah berjualan bakso.

Karena memasaknya di dapur rumah, saya sering melihat daging giling dan adonan bakso. Entah kenapa, bentuk bakso sangat tidak menggugah selera. Ditambah bau yang ga jelas antara gabungan daging, tepung, dan bahan2 lainnya.

Intinye saya jadi eneg dan ga selera makan.

Dan itu berlanjut selama ratusan tahun hidup saya! (biar dikira tua sekalian)

Tapi pada 14 November lalu saya memesan mie ayam di salah satu bandara di Jakarta. Ndilalah koq ada baksonya.

Karena sudah memesan mie ayam seharga 58rb sayang donk kalo ga dimaem.

Sempet mikir:

Apa dibiarin aja? Tapi bakal jadi sunk cost dan opportunity loss.

Setelah membaca Misbehaving dari Richard Taller, salah satu pioneer behavioural economics, Akhirnya saya sadar jika kebencian saya terhadap bakso adalah dogma yang penuh bias.

Bakso tidak mengancam hidup saya. Saya tidak menderita karena bakso.

Bakso juga tidak pernah menciptakan kolonialisme atau imperialisme yang membuat orang lain menderita.

Bakso tidak mengenal apartheid. Ia tidak peduli SARA dari manusia yang ingin memakannya.

Kebencian saya kepada bakso mungkin adalah kebencian terhadap aroma dan suasana dapur yang berantakan karena proses memasaknya. Bakso tidak bersalah.

Dan juga setelah saya makan ya… rasanya gitu2 aja. Ga terlalu enak tapi ya ga bikin saya muntah.

Pada 14 November 2018 saya belajar jika manusia sering hidup dengan dogma dan ketakutan yang sebenarnya tidak berdasar.

Ketakutan yang terkadang berkembang jadi kebencian dan sebenarnya lahir dari bias pemikiran.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cerita Rahasia Selama di AirAsia

Tak terasa sudah 4 tahun saya “belajar” di AirAsia (ga pake spasi “Air Asia” ya!), banyak cerita yang saya alami. Sekarang, di last day saya nongkrong disini, ada 4 cerita yang harus saya bocorkan, sekalian iklan lowongan haha.

Tentang ID90: Rahasia jalan-jalan hemat

Di AirAsia setiap allstars (sebutan untuk staff) pasti mendapat benefit ID90. Apa itu? ID90 berarti diskon 90% dengan menunjukkan ID karyawan dan keluarga intinya. Ga salah lihat? Iya beneran 90%! Kesemua rute! Ini yang membuat saya males check-in di socmed kalau sedang di bandara. Lha wong hampir setiap minggu!.

Dengan ID90 ini kamu bisa ke Bali/Jogja/Surabaya pp Cuma 300rban. Atau ke Singapura/KL/Bangkok pp sekitar 700-900rb an. Selain itu kita juga dapat jatah coupon 16 point. Untuk penerbangan dibawah 4 jam, biayanya 1 point, sedangkan diatas 4 jam, ongkosnya 2 point. 16 point berarti saya bisa pulang pergi Jakarta-Tokyo 8x setahun secara gratis!

Dan nikmat tiket mana yang engkau dustakan?

Tentang Duty Travel: Kerja Sambil Jalan-jalan

Duty travel artinya perjalanan dinas. Tapi berbeda dengan perjalanan dinas PNS yang biasanya nyaman dan penuh rombongan, duty travel di AirAsia sangat efisien. Klo bisa pulang tektok, ga usah nginep hotel (saya sering ke SIN atau KL dateng pagi pulang malam). Klo cukup sendiri, ga perlu ngajak orang lain.

Total saya sudah duty travel sekitar 300 kali, menginap di hotel 90 hari, dan bisa halan-halan gratis ke 8 negara. Duty travel pertama: 3 hari setelah masuk kerja. Saat itu ada konferensi pariwisata di Singapura.

Duty travel “paling sengsara”: Kunming, Tiongkok. Saya pergi sama Bayu. Anak sales yang baru pertama kali keluar negeri. Sengsaranya gimana?

Waktu kita landing ke Kunming, karena ga bisa bahasa China and Ibu-ibu driver taksinya ga bisa bahasa Inggris, kita Cuma nunjukin brosur tempat event-nya. Ibu-nya langsung tancap gas dan membawa kita ke pinggir kota.

Karena su’udzon, saya iseng-iseng cek google maps (pake roaming karena google di blokir). Wah koq kita diarahin ke tanah kosong antah berantah? Langsung saya minta driver untuk putar balik dan menunjukkan lokasi Gmaps. Setelah ngobrol pake bahasa tarzan, akhirnya kami diantar ke tujuan sesuai Gmaps.

And ternyata dong, kita salah alamat! Kami menunjukkan exhibition center yang lama, sedangkan acara kami harusnya di exhibition center tempat baru. Jadi karena Google ga update di China, “area kosong” di peta sekarang sudah berubah jadi exhibition center kelas dunia. Dan berarti awalnya Ibu taksi udah bener!.

Penderitaan belum berakhir sodara-sodara! Setelah nyegat taksi lagi dan berhasil sampai di tempat pameran untuk registrasi, waktunya check in ke hotel. Tapi naik apa? Rata-rata orang bawa mobil, taksi yang lewat semuanya penuh, mau install uber/Didi ga bisa verifikasi.

Akhirnya kami jalan kaki 2 km sampai nemu halte bis. Karena ga tau rute dan semua pake bahasa Sun Go Kong, kami asal naik. Eh malah kesasar and ga nyampe-nyampe! Karena lelah, kita putuskan turun dan alhamdulilah ada taksi lewat.

Besoknya, karena trauma ribet pulang, kami sepakat menggunakan layanan bike-sharing. Cuma modal aplikasi dengan biaya 1 yuan. Akhirnya kami ngontel 10 km untuk pulang setiap hari. Lumayan olahraga.

Urusan makan juga gitu. Karena takut ga halal, saya putuskan Cuma makan telur rebus. Jadinya setiap sarapan saya makan 8 butir telur sekalian untuk makan siang dan makan malam. Waktu di kamar, tiba-tiba tercium bau telur.

“Sorry gw kentut ya Bay..”

Tentang Tulisan viral ke Tony Fernandez

Waktu itu facebook baru meluncurkan aplikasi untuk korporat bernama workplace. Ini semacam jaringan komunikasi internal. Dengan workplace, AirAsia ingin membuat komunikasi antar departemen lebih cair, dan interaksi antar allstars lebih hidup.

Nah, waktu sosialisasi, ada utusan dari KL yang buka booth. Kita dapat merchandise kalau install, register, dan upload foto profil pake foto yang keliatan mukanya. Ga boleh pake foto artis bokep atau hewan lagi selfie. Terus saya penasaran, “Kenapa harus pake profil picture?”

“Because Tony said so…”

What a stu**d reason. Karena prinsip saya: kita harus melakukan sesuatu karena hal itu baik bagi organisasi, bukan karena disuruh atasan.

Udah deh, saya bikin tulisan yang mengkritisi budaya “boss said” ini. Judulnya “Tony said” dan saya posting di Workplace. Langsung meledak. Bos saya yang lagi regional meeting di Bangkok harus menjelaskan “emang Yoga anaknya kaya gitu” ke team regional. Saya juga jadi berdebat ama Tony di workplace soal budaya ini.

Tapi banyak juga yang memuji. Commercial director China langsung merepost-nya dan memposting ke group manajemen. Director commercial regional langsung men-japri dan memberika assurance “you can talk to me directly”.

Saya jadi terkenal. Ada bule  regional yang tiba-tiba ngajak selfie waktu dia meeting di Jakarta.

“So this is famous Yoga!”. Yo wes, intinya saya ga jadi dipecat haha.

Tentang Baju ihram Untuk ke party

Terakhir cerita soal baju. Di AirAsia tak ada seragam (untuk back office), karena itu saya lebih memilih kaos dan celana jeans. Sebenarnya ada “dress code”. Senin warna putih, selasa batik, jumat merah, dll tapi saya ga pernah ngikutin hehe.

Bahkan saya pernah pakai baju gamis yang bikin kaget orang sekantor. Tapi yang bikin heboh saat annual party 2017 lalu. Seperti biasa, ada kontes berhadiah jutaan rupiah. Sempat terpikir untuk sewa kostum. Setelah menghitung probabilitas dan return on investment (membandingkan kemungkinan menang, sewa, dan hadiah), ternyata cukup masuk akal juga.

Masalahnya, kostum yang saya inginkan sudah out of stock semua (karena last minute). Terus kira-kira kostum apa ya yang unik?

Karena temanya Wonderland dan waktu itu saya sedang baca buku tentang Holy Land (Yerussalem), pagi-pagi kepikir: kenapa ga pake baju ihram aja ya? Toh ongkosnya nol karena sudah ada.

Jadilah ada penampakan manasik haji di salah tempat nongkrong di daerah SCBD. Siapa tau ada yang mau mabok jadi insyaf, yg mau zinah jadi tobat, dan yang mau makan jadi kenyang (ya kali). Alhamdulilahnya, saya terpilih jadi top 10 best costumer dan dapat duit beberapa juta! Yey, alhamdulilah.

(Ga usah pake gambar biar ga dikira melecehkan ya!)

*********

Yang paling bakal saya kangenin ya orang-orang keren didalamnya. Disini lingkungannya fun, terbuka, dan banyak orang pinter buat tempat belajar. Saya ga mungkin lupa saat abis kemalingan. Teman-teman langsung patungan untuk memberikan HP dan uang santunan. Makasih banyak ya guys!.

Mau gabung kesini? Yuk apply mumpung ada lowongan. Kalo kamu marketer gaul yang ngerti marketing strategy, digital, data analytic, punya leadership dan suka mbolang keliling dunia, coba aja daftar. Dijamin ga bakal nyesel hehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Merasa Bisa vs Bisa Merasa

 

Suatu hari saya bertemu abang gojek jagoan. Dia bercerita jika baru saja resign dari pekerjaan menjadi sales handphone salah satu pabrikan merek China.

“Ah udah 2 tahun gitu-gitu aja. Saya udah nguasai ilmunya. Sales ya gitu-gitu aja. Yang penting pinter ngomong”.

Wuih hebat banget nih abang. Cuma 2 tahun udah nguasain ilmu sales. Mungkinkah dia penerus Joe Girard si jagoan selles?

Kalo jago harusnya dia betah donk. Saat saya tanya, “Kenapa koq resign bang?”

“Bos saya bego. Bisanya nyuruh-nyuruh doank. Lebih jagoan saya klo urusan sepik-sepik ke customer”.

Setelah resign dia merasa Pe-De dengan kemampuan salesnya. Dia yakin mampu mendapat pekerjaan dengan mudah. Tapi setelah beberapa bulan, belum ada pekerjaan baru yang nyantol. Akhirnya sambil nunggu panggilan, dia milih nggojek.

Penyakit Milenial

Mungkin ini penyakit generasi milenial kebanyakan termasuk saya. Merasa bisa, dan tidak bisa merasa.

Baru jadi Management Trainee, udah merasa punya ilmu level direksi. Baru bikin marketing campaign selama 2-3 tahun, ngerasa udah menguasai marketing strategy. Baru belajar setup digital campaign 3 tahun, ngerasa mampu jadi digital strategist.

Padahal kunci keahlian ada pada pembelajaran. Dan pembelajaran ada pada kesabaran. Kesabaran mempelajari skill yang tersebar pada hal-hal kecil.

Kita ambil contoh koki atau chef. Bagi sebagian orang, chef adalah pekerjaan yang bisa dipelajari lewat kursus kilat atau otodidak dalam waktu beberapa bulan. Semua orang bisa memasak kan?

Tapi tidak bagi chef Sushi terkenal dunia, Ono Jiro. Chef yang menerima bintang 3 Michelin ini tidak menerima tamu walk in. Anda harus memesan tempat satu bulan sebelumnya dengan harga paket omakase mulai 30.000 yen (3,8 juta) per kepala!

Jika Anda ingin jadi chef apprentice disana, tugas pertama yang perlu dilakukan sangat sederhana: memeras handuk panas. Handuk itu yang akan disediakan kepada pengunjung sebagai lap sebelum makan.

Setelah mahir, Anda baru Anda diperbolehkan menyentuh ikan. Anda harus bersabar dan focus pada pekerjaan mencuci peralatan masak, mengasah pisau, dan memotong ikan.

Memasak nasi? Jangan harap bisa Anda lakukan setelah satu tahun. Setelah 10 tahun, Anda baru diperbolehkan memasak telur untuk disajikan. Tetapi setelah “lulus” dari sana, Anda akan punya kualitas seorang master chef dan akan mudah membuka restoran sendiri.

Beauty of Small Things

Jika ingin menjadi master ya harus bersabar mengerjakan pekerjaan remeh yang membosankan. Ini yang membbuat Jennifer Roberts, profesor sejarah seni dan arsitektur di Harvard meminta mahasiswanya untuk menatap karya seni selama 3 jam.

Awalnya mahasiswanya protes, apa gunanya melihat satu lukisan selama berjam-jam? Bukankah lukisan itu sudah sangat jelas? Tapi ternyata devils is on the detail. Banyak rahasia yang terungkap dari hal-hal kecil.

Jennifer mencontohkan apa yang ia lihat dari lukisan portrait John Copley, A Boy with a Flying Squirrel.

http://1.bp.blogspot.com/

“It took me nine minutes to notice that the shape of the boy’s ear precisely echoes that of the ruff along the squirrel’s belly. It was 21 minutes before I registered the fact that the fingers holding the chain exactly span the diameter of the water glass beneath them. It took a good 45 minutes before I realized that the seemingly random folds and wrinkles in the background curtain are actually perfect copies of the shapes of the boy’s ear and eye..”

Berhentilah merasa bisa. Belajarlah untuk bisa merasa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Takdir

Baru beberapa minggu lalu saya memikirkan tentang takdir. Saya ingin menulis surat untuk Yoda mengenai topik misteri ini.

Sempat bertanya-tanya: Buku apa yang bisa dijadikan referensi ya? Terutama dari perspektif agama saya.

Sudah terlalu banyak bacaan saya yang mengupas takdir dari segi humanis positivis. Aliran ini percaya jika manusia bisa mengubah takdir mereka sendiri, tanpa perlu campur tangan ilahi.

Dan dua minggu lalu kebetulan saya ada market visit ke Brastagi. Biar hemat ongkos, saya coba naik angkutan umum. Sekalian merasakan jadi warga lokal.

Saat pulang, alhamdulillah semua bis selalu penuh. Sudah 30 menit saya melambaikan tangan. Mulai lambaian standard sampai lambaian mesra. Ga ada yang mau berhenti.

Cuma ada satu minibus rombongan sekolah dengan kernet kapitalis yang masih mau menciduk saya dengan satu syarat:

“Bang naik bang”

Naik kemana udah penuh gini?

“Naik ke atas lah” kata dia nunjuk atap minibus.

Karena penuh penumpang, yang kosong hanya “rooftop”. Itupun saya harus berbagi space pantat dengan penumpang lain.

Jangan harap ada kolam renang dengan mini bar untuk chill in. Ini bener-bener roof top open air stage tanpa asuransi atau perlindungan diri. Ya kali ada beruang bisa manjat ke atas genteng.

Akhirnya setelah nego, posisi dibalik. Kernet naik pangkat duduk di atap, dan saya ngelesot di pintu gantiin posisi kernet.

Setelah 2 jam numpang, saya diturunkan di persimpangan yang ga saya tahu namanya. Dari sini ke Medan kota naik apa bang?

Naik angkot bisa bang. Kata kernet yang berbakat jadi orang kaya ini.

Karena ga tau angkot yang mana, saya asal naik. Warna merah kalo ga salah. Pas saya tanya, katanya lewat lapangan Merdeka, daerah saya menginap. Wuih pas banget.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, angkot melewati toko buku. Entah angin apa, tiba-tiba saya minta turun. Padahal tidak ada tanda-tanda nafsu pelecehan seksual atau rencana kejahatan yang akan dilakukan abang supir terhadap diriku.

Dan di toko buku itu, saya menemukan buku ini. Buku tentang Qadha dan Qadar karangan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.

Secara probabilitas statistik, peluang saya menemukan buku yang sedang saya cari di tengah kota Medan harusnya sangat kecil sekali.

Apakah ini yang namanya takdir?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail