Tag Archives: yogaps

5 Detik yang Menentukan

Jika Anda punya resolusi yang belum dicapai tahun ini, maka santai saja. Anda tidak sendiri.

Tapi kira-kira apa yang membuat orang belum mencapai target mereka? Dugaan saya: banyak dari kita yang belum memulai.

Contohnya jika saya punya mimpi jalan-jalan ke Eropa. Saya sudah menuliskannya ke resolusi. Tapi hanya menulis mimpi “jalan-jalan ke Eropa” punya dua permasalahan fundamental.

Pertama, mimpi itu terlalu abstrak dan tidak jelas. Eropa adalah daratan seluas 10,18 juta kilometer persegi. Saya juga tidak menjelaskan berangkat kapan, sendiri atau ikut grup, dan kapan kembalinya.

Kedua, target itu terlalu ‘besar’ tanpa road map yang jelas. Tak ada strategi dan rencana aksi. Bagaimana bisa pergi ke Eropa jika saya tidak tahu apa yang harus dilakukan?

Tanpa ada road map untuk memulai dari mana, kita hanya berputar-putar dalam wacana pergi ke Eropa tanpa mampu mengubahnya menjadi tindakan yang konkret (ujung-ujungnya cuma ke Gembira Loka).

Untungnya pakar strategi punya solusi. Kita harus menciptakan objective yang jelas, disertai key result yang bisa diukur. Itulah fungsi OKR. Objective and key result.

Setelah itu OKR dituruhkan jadi action plan. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan. Misal tiga langkah awal ‘Liburan ke Eropa’ adalah:

1. Menentukan tujuan negara dan waktu jalan-jalan

  1. Melakukan survey tiket dan perkiraan biaya
  2. Membuka tabungan khusus

Apakah dengan membuat daftar aksi maka mimpi kita akan terjadi? Tidak semudah itu ferguso!

Prefontal cortex otak kita akan melakukan kalkulasi dan sugesti:

“Emang lu mampu? Hidup masih mulung juga. Mending ditabung cuk… “

Apa yang harus kita lakukan saat menghadapi kondisi seperti ini?

5 Detik

Mel Robbins punya jawaban sederhana: gunakan kekuatan meta-kognisi kita. 

Mahluk apa pula itu meta-kognisi? 

Bahasa sederhananya sih insting. Gunakan pikiran kita untuk mengarahkan insting bertindak. 

Gunakan #5SecondRule.

Premisnya sederhana: 

If you have an instinct to act on a goal, you must physically move within 5 seconds or your brain will kill it.

Jika kita ingin melakukan sesuatu dan setelah 5 detik masih kebanyakan mikir, besar kemungkinan tindakan itu ga jadi kita lakukan.

Contohnya waktu mau nanya nomor telpon cewek/cowok cantik di jalan. Kita ingin sekali bertindak tapi pikiran prefontal cortex kita mencegah:

“Nanti klo ga dikasih gimana? Malu ga sih? Emang siapa situ koq sok kenal?”

Kebanyakan mikir malah ga jalan.

Yang perlu kita lakukan sederhana banget. Berhitung 5..4…3…2..1 dan… berhenti mikir! Langsung gerak samperin dia! Pokoknya harus action! Ga usah dipikir konsekuensinya!

Itulah seni #5SecondRule. Seperti launching roket, kita menggunakan 5 detik untuk memusatkan tindakan dan menghiraukan pikiran sadar kita sendiri. Pokoknya pakai insting untuk melakukan sesuatu.

Aturan ini bisa dipakai saat kita takut memulai sesuatu yang baru, atau ragu-ragu dalam bertindak. Termasuk soal pemenuhan resolusi diri sendiri. 

Banyak orang tidak bisa mencapai target yang mereka inginkan karena mereka belum mulai BERGERAK untuk mencapainya.

Padahal kata kuncinya sederhana: Mulai aja dulu. Just do it.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Akan Tiba Suatu Masa

Akan tiba suatu masa, saat kita menjadi tua.

Kulit jadi keriput, mata menjadi rabun, postur menjadi bungkuk. Apapun perawatan yang kita lakukan, ternyata tak akan mampu menahan musuh bernama penuaan.

Saat itu terjadi, konon hal-hal yang kita anggap penting saat ini, tidak lagi terlalu berarti.

Cerita tentang kerja, akan berganti menjadi kenangan masa muda. Kebanggaan pencapaian, sepertinya berubah menjadi sebuah kecapaian. Obrolan-obrolan kesuksesan, akan berganti menjadi tips kesehatan.

Katanya akan tiba suatu masa, ketika kita merindukan masa kecil kita sendiri.

Mengingat hangatnya pelukan Ibu, resahnya kita karena amarah Ayah, atau senangnya kita mendapat uang jajan dari Kakek Nenek yang sekarang sudah pergi dan tiada. Apakah benar harta terbesar itu bernama keluarga?

Kita merindukan fase kehidupan saat semuanya hanya tentang permainan. Belum ada tuntutan. Belum ada cicilan dan tagihan. Belum ada perbandingan dengan teman satu angkatan. Semua begitu menyenangkan.

Konon akan tiba suatu masa, saat kita tahu siapa sebenarnya teman-teman dekat kita.

Bukan mereka yang mendadak akrab saat kita hidup dalam kemudahaan. Tapi mereka yang selalu tersenyum dan membuka pintu meski kita sedang dalam kesusahan.

Teman terbaik memiliki kuping sebesar gajah Afrika, tapi anti bocor seperti kondom Amerika. Mereka akan menampung semua rahasia yang kita berikan saat bercerita, dan takkan menggosipkannya di dunia maya.

Pada akhirnya tiba suatu masa, dimana jiwa akan berkenalan dengan cinta.

Meski awalnya cinta bertamu sebagai nafsu. Namun berkat sang waktu, kekaguman berubah menjadi penerimaan. Karena ternyata dia yang awalnya kita anggap begitu sempurna, ternyata menyebalkan dan punya dosa seluas angkasa.

Kita pada saatnya akan mengerti. Bahwa cinta itu tentang belajar mengerti, dan takkan pernah memiliki. Karena seperti dunia ini, tak ada cinta yang akan abadi.

Akan tiba suatu masa, orang yang kamu cintai sedang berulang tahun.

Seperti saat ini, 29 Oktober. Tanggal ulang tahun istri saya sendiri.

Inilah saatnya.

Sekarang waktunya.

Izinkan saya berdoa:

Semoga kami bisa menghabiskan hari tua, pada suatu masa.

happy family
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ini Yang Saya Lakukan Untuk Bekerja Hanya 4 Hari Dalam Seminggu

freepik.com

Apa trend kerja yang patut kita coba di 2020?

Flexy hours? Udah basi.

Remote working? Biasa bingits.

Boleh pakai baju bebas termasuk celana pendekan? Itu Inovasi zaman vintage kawanku.

The new trend is: less workdays!

Semoga bos saya tidak membaca artikel ini. Tapi saya harus membuat pengakuan dosa: Saya hanya bekerja 4 hari dalam seminggu!

Tentu ada banyak faktor kenapa bisa kejadian.

Karena kebetulan saya belajar di perusahaan yang mementingkan hasil. Kebetulan budaya kerjanya bebas mau remote working, work from home, atau pakai sendal jepitan ke kantor. Kebetulan saya tidak berada di divisi yang membutuhkan kehadiran fisik sepanjang waktu.

Ritual less workdays ini terinspirasi dari buku jadul (tahun 2007) yang ditulis Tim Ferriss: 4 Hours Workweek.

Doi mengusulkan solusi yang pasti dicintai semua umat manusia:

a. Kerja cuma 4 jam seminggu

b. Nganggur-senganggur-nganggurnya

c. Tetap dapat duit buat keliling dunia

Secara logika sangat bisa dilakukan dengan:

  1. Menciptakan bisnis dengan sistem yang mapan
  2. Pastikan pengeluaran lebih kecil dari pendapatan

Tim menawarkan perspektif yang berbeda tentang kekayaan. Menurut dia, orang kaya itu bukan orang yang punya banyak uang. Orang kaya adalah orang yang memiliki komuditas yang tak mungkin diciptakan oleh manusia: waktu.

Orang kaya adalah orang yang punya waktu untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan.

Bagaimana caranya?

Framework yang Ia tawarkan adalah D-E-A-L.

D untuk Definition. Tentang mengubah mindset bahwa kekayaan itu bukan berbentuk harta. Tapi waktu yang terekam dalam bentuk ‘moment’. Buat apa punya 1 juta dollar di bank tapi ga pernah menikmati 1 juta dollar itu? Percuma punya villa tapi ga pernah tinggal di villa itu.

E untuk Elimination. Pentingnya hidup ‘sewajarnya’. Minimalis. Tapi bukan missqueen. Ini tentang meninggalkan ‘ilusi kebahagiaan’ berupa kepemilikan barang, penguasaan informasi, status, dan persepsi orang lain terhadap kita.

A untuk Automation. Bagaimana membangun sistem bisnis sehingga Anda tak perlu mengurus bisnis itu sendiri, kekuatan outsourcing, dan pelajaran MBA – Management by Absence.

L untuk Liberation. Berisi tips-tips praktis agar bisa ‘menghilang’ dari kantor tanpa diketahui bos, cara mendapatkan asisten virtual, sampai saran psikologis jika kita sudah menjadi manusia nomad yang bingung harus ngapain untuk mengisi waktu sehari-hari. Menjadi pengangguran berduit ternyata berbahaya secara psikologis!

Aplikasi Saya

Karena saya masih belajar ikut perusahaan orang, tentu ga bisa ekstrim kerja hanya 4 jam. Kecuali klo saya kawin ama nenek investornya yah…

Yang bisa saya lakukan: mengurangi hari kerja menjadi 4 hari. Dengan metode sederhana:

Design and delegate. Di awal tahun, membuat strategi dan action plan aktivitas yang akan dilakukan selama 6 bulan kedepan. Propose ke bos. Approve? Lanjut ke fase delegation. Kira-kira siapa vendor yang bisa mengeksekusi project ini. Dalam day to day basis, fungsi kita hanya sebagai kontroller dan evaluator.

Eliminate. Membuang pekerjaan yang gak berdampak. Penyakit orang kantoran: menganggap banyak kerjaan itu baik. Padahal aslinya biar kelihatan kerja doank. Output tidak sama dengan outcome. Cari critical output yang menghasilkan outcome paling besar.

Automate. Untuk reporting saya menggunakan automate queries. Inilah manfaat belajar data science. Sehingga setiap minggu sistem akan mengirimkan market performance secara otomatis untuk dianalisa. Report juga harus dibikin sederhana. Hanya satu halaman. Analisa detail bisa ditaruh dalam appendix.

Learning. Tim saya membuat perjanjian: sisihkan satu hari dalam seminggu untuk meninggalkan pekerjaan dan fokus untuk belajar. Apa saja. Ga harus berhubungan dengan urusan kantor. Kelihatannya tidak produktif. Tapi percayalah, karyawan yang terus belajar akan menghasilkan metode-metode baru yang pada ujungnya meningkatkan produktivitas perusahaan.

Dengan menerapkan 4 hari kerja saya merasa:

  1. Terpacu untuk bekerja lebih efektif dan efisien
  2. Mengurangi beban pikiran dengan tidak memikirkan ‘low impact activities’
  3. Merasa menjadi manusia yang lebih baik dengan terus belajar sepanjang waktu

Gimana. Penasaran mau coba? Inget pesen Oom Tim:

Most things make no difference. Being busy is a form of laziness—lazy thinking and indiscriminate action. Being overwhelmed is often as unproductive as doing nothing, and is far more unpleasant. Being selective—doing less—is the path of the productive. Focus on the important few and ignore the rest.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pesawat Oleng, Kapten!

Bayangkan Anda seorang kopilot penerbangan.

Apa yang akan Anda lakukan jika pilot pesawat tiba-tiba terkena serangan jantung?

Bingung? mungkin. Gugup? bisa jadi. Panik? manusiawi. 

Tapi ada 200 juta penumpang yang menggantungkan harapannya kepada Anda. Pesawat harus tetap terbang. Harus bisa mendarat. Dengan selamat.

Untungnya kopilot itu adalah B.J Habibie. Seorang pencipta pesawat yang sangat mencintai penumpangnya, rakyat Indonesia.

Pesawat oleng, Kapten!

Situasi politik memanas. Lawan politiknya mempertanyakan kredibilitasnya dan memaksa ia mundur.

Dalam ‘Detik-detik yang Menentukan’ (2006), putra terbaik bangsa kelahiran Pare-pare itu menulis:

“Adalah wajar jikalau kaum intelektual pada umumnya dan para elit politik khususnya, tidak memberi kepercayaan dan memiliki prasangka negatif terhadap kepemimpinan saya.

Saya mungkin dianggap sebagai kroni dan ‘kaki tangan Soeharto’ yang tidak memeiliki wawasan dan kemampuan sendiri, kecuali mengikuti perintah dan petunjuk Pak Harto”.

Zugzwang

Habibie mengalami keadaan ‘Zugzwang’. Istilah Jerman dalam permainan catur dimana keadaan terjepit memaksa kita harus mengambil keputusan sulit.

Ekonomi sedang krisis (inflasi sampai 60%). Nilai tukar terpuruk (sampai 15 ribu). Ditambah rendahnya kepercayaan dari ‘penumpang pesawatnya’ sendiri. Politik sangat tidak stabil.

Untungnya Tuhan masih memberinya akal sehat. 

“…sangat saya sadari bahwa guru yang paling kuat memengaruhi proses kebijakan saya adalah ‘otak sehat’ saya sendiri”.

Ia mulai mendata permasalahan yang ada, berkonsultasi dengan para ahli, dan berani mengeluarkan keputusan berani. Yang penting baik bagi bangsa ini.

Contohnya? 

Dalam bidang ekonomi, untuk memulihkan rupiah yang tertekan Ia ‘mengeluarkan’ Bank Indonesia (BI) dari jajaran kabinet. BI harus punya power! Harus independen dan membuat kebijakan berdasarkan akal sehat. Selama BI duduk dalam kabinet, maka sangat rawan menjadi sapi perah politikus.

Habibie membebaskan tahanan politik yang berseberangan dan mereformasi dunia pers. Membuat Indonesia menjadi negara yang sangat demokratis, bebas berpendapat, dan semua orang bebas mendirikan media. Sesuatu yang tabu untuk dilakukan selama 32 tahun Mbah Harto berkuasa.

Selain itu ia mempersiapkan ‘infrastruktur politik’ untuk Indonesia pasca reformasi. Mulai dari mendorong desentralisasi dengan konsep otonomi daerah, reformasi dwi-fungsi ABRI, hingga persiapan pemilihan Presiden langsung yang bisa kita nikmati pada pemilu 2014.

Tak Sempurna

Tentu ada beberapa kebijakan beliau yang dikritik sehingga pertanggungjawabannya ditolak saat sidang istimewa MPR.

Dalam hal ini pun beliau mengakui. Jika membaca konsep ‘problem solving’ yang ia pakai selama hidup, kita akan mengerti (saya sarikan menjadi tiga besar):

  1. Dalam kehidupan, tidak ada masalah yang dapat diselesaikan secara sempurna
  2. Semua penyelesaian masalah harus diselesaikan dengan pendekatan aproksimasi dimulai A-1 sampai A-X
  3. Keputusan harus diambil. Dan terkadang justru lebih menguntungkan untuk mencoba pendekatan baru. Misal dari strategi A-1 ke strategi B-1

Termasuk soal Timor-timor. Pendekatannya sangat sederhana. Saat menerima Uskup Belo, beliau bertanya: 

“Apa yang dapat saya laksanakan untuk memenuhi keinginan rakyat Timtim?”

Semuanya tentang akal sehat dan kemanusiaan. Tak ada niatan untuk memikirkan kekuasaan, atau mengambil keputusan berdasarkan tekanan. Yang penting harus menghasilkan kebaikan.

Habibie selalu mengingat almarhum Bapaknya yang meninggal sewaktu memimpin shalat Isya bersama keluarga. Saat Habibie baru berusia 13 tahun. Karena itu Ia selalu mengembalikan semua urusannya kepada Sang Pencipta.

“Saya pasrah terima apa adanya dan dengan tenang menghadapi semuanya tanpa bertanya: Kenapa? Mengapa? Bagaimana? Karena semua saya laksanakan dengan iktikad dan niat membantu memperbaiki nasib dan masa depan bangsa Indonesia yang saya cintai”.

Kita takkan mungkin melupakan jasa beliau yang berhasil membawa pesawat raksasa bernama Indonesia melewati turbulensi reformasi. Saya hanya bisa berdoa agar semakin banyak ‘the next Habibie’ yang membuat keputusan berdasarkan akal sehat dan berlandaskan kebaikan kemanusiaan.

Auf Wiedersehen Kapitän. Selamat jalan Kapten!

https://www.traveller.com.au
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Membaca Buku 300 Halaman Dalam 2 Jam

Jika ada pilihan: mendapat 5 kg emas atau 5 kg buku rahasia mendapatkan emas. Kira-kira mana yang Anda pilih?

Jika memilih emas, maka saya menduga situ belum jadi orang kaya. (Klo udah kaya ga butuh emas lagi donk haha)

Konon orang yang benar-benar kaya biasanya tahu jika knowledge capital lebih penting dari monetary capital

Warren Buffet menghabiskan 80% waktunya untuk membaca. Qorun berkata jika kekayaannya didapat karena ilmu yang dimilikinya. Sayyidina Ali pernah berpesan: pilihlah ilmu dibanding harta. Karena jika kita memilih harta, kita harus menjaganya. Sedangkan jika kita memilih ilmu, ilmu yang akan menjaga kita.

Tentu yang terbaique adalah mendapatkan keduanya. 

Karena itu bekal yang diberikan Arkad, orang terkaya di Babilonia kepada anaknya, Nomasir. Ia menyuruh anaknya berkelana dan memberinya dua modal: 3 kantong emas dan 5 lempengan tablet berisi kebijaksanaan dalam mencari kekayaan..

Singkat cerita, emasnya habis tidak tersisa. Dan berkat rezeki Tuhan ditambah petunjuk dari tablet (tanah liat, bukan ipad)  itulah sang anak bisa kembali ke ayahnya dan membawa lebih banyak keuntungan. Harus ditambahin cap Tuhannya cuy biar ga dibilang kapir hehe.

Saya ga akan cerita rahasia yang ditulis Arkad. Anda bisa baca sendiri dalam The Richest Man in Babylon karya George Clason.

Saya cuma mau cerita: kita tahu membaca itu penting, tapi bagaimana bisa menyelesaikan buku dalam waktu yang terbatas?

Karena itulah saya iseng-iseng mengikuti training membaca cepat. Katanya sih menjamin buku 300 halaman bisa dituntaskan hanya dengan 2 jam, dengan 100% pemahaman, plus bisa bikin mindmap isi bukunya.

Biaya training full-nya 3 jutaan rupiah. Saya cuma ikut yang setelah hari. Bayar ratusan ribu. Dalam tulisan ini saya akan coba sarikan agar Anda ga perlu bayar sepeser pun. Cukup bayar pake doa hehehe.

Ini dia 3 rahasia membaca 300 halaman dalam waktu 2 jam:

Rahasia 1: Rombak Mindset

Kemalasan orang dalam membaca biasanya terletak pada mindset atau pola pikir. Contohnya:

  1. Membaca itu harus dari awal sampai akhir
  2. Membaca = sekolah
  3. Membaca = belajar

Ini adalah hasil didikan bertahun-tahun dimana kita dibiasakan hanya membaca di sekolah. Buku yang dibaca pun hanya buku pelajaran. Dan dirumah ga ada buku hiburan.

Mindset yang perlu ditanamkan:

  1. Membaca itu memuaskan rasa penasaran
  2. Buku yang dibaca ga harus berat
  3. Kita bebas membaca sesuai dengan gaya kita

Saya pernah menolak calon staff di bidang marketing karena bacaan. Waktu interview saya tanya:

“Buku marketing apa yang terakhir kamu baca?”

Setelah loading 30 detik, dia menjawab “Kotler”. 

Rahasia 2: Jangan Dibaca Semua! Baca yang Penting dengan Cepat!

Ini kunci utamanya. Buku bukan kitab suci. Ia hanya alat untuk menyimpan informasi. Kenapa ga perlu semua? Karena buku setebal 300 halaman biasanya berisi 90rb kata. Jika Anda ingin baca semua, dengan kecepatan kata per menit 200, maka butuh waktu sekitar 8 jam.

Itu full konsentrasi 8 jam. Belum memperhitungkan gangguan, distraksi, atau rasa bosan menghampiri. Ini yang membuat orang malas menuntaskan sebuah buku. Kesannya lama dan berat.

Lha terus piye ngerti isi bukune klo ga perlu dibaca semua? Step by stepnya seperti ini:

  1. Berdoa sebelum membaca. Mintalah kemudahan kepada Tuhan
  2. Pastikan posisi baca ergonomis dan kondisi nyaman +  rileks
  3. Start with Why. Kenapa kita ingin baca sebuah buku
  4. Find What. Baca daftar isi. Cari bagian yang ingin kita ketahui
  5. Pake metode skimming / speed reading / photo reading. Klo saya: Hanya baca paragraph awal/akhir, dan perhatikan ide kunci dari sebuah paragraph..
  6. Tingkatkan Kata per menit (KPM). Semakin tinggi KPM Anda, semakin cepat kelar bacanya. Ini masalah jam terbang. Ga usah dipikir. Semakin sering baca, KPM semakin tinggi.
  7. Membaca untuk mengeksplorasi. Coret-coret bagian yang Anda anggap penting. Tulis ide inti yang ingin disampaikan penulis. Tinggalkan bookmark untuk dibuka lagi. Jika menggunakan kindle, gunakan fungsi highlight/notes sebanyak mungkin.
  8. Ga usah dipaksa. Dibawa enjoy aja. Tapi tetapkan target minimal 1 bab. Kenapa? Agar agar progress. Biasanya ga lama koq. Antara 5-10 menit tergantung RPM dan kecanggihan kita dalam skimming 
  9. Setelah selesai 1 buku biarkan mengendap sehari

Rahasia 3: Membaca Untuk Mencari dan Berbagi

Ilmu terkadang seperti adonan. Ia perlu diendapkan agar masuk ke alam bawah sadar. Setelah diistirahatkan, maka ilmu perlu dikembangkan.

Sehari setelah dibaca cepat, maka kita WAJIB ‘mengikat makna’ (meminjam istilah almarhum Hernowo) isi buku yang kita baca.. Karena percuma juga membaca 1000 halaman tapi ga ngerti apa yang kita baca.

Cara paling mudah. Tulis dalam mindmap. Klo naik level bisa dalam bentuk artikel. Ga perlu berat2. Bisa kaya artikel ga penting seperti yang Anda baca ini. Klo punya banyak waktu, bisa sharing dalam bentuk video.

Percayalah, bagian terpenting dari proses belajar adalah mempraktikkan apa yang kita pelajari. 

Pengetahuan baru menjadi kebijaksanakan setelah dilaksanakan. Dan satu paragraf ilmu yang dipraktikan jauh lebih berharga dari 1.000 halaman buku yang hanya dihafalkan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Four Blocker

Ada pelajaran menarik dari meeting PLN dan Jokowi pada 5 Agustus 2019 kemarin.

Bukan tentang ‘ngambeknya’ Jokowi. Masih ga ada apa-apanya dibandingkan amukan netijen kelas menengah Ibukota.

Bukan juga soal manajemen PLN. Yang belum punya direktur. BUMN yang diganti namanya jadi ‘Perusahaan Lilin Negara’ oleh netijen Maha Mulia.

Yang menarik adalah proses berlangsungnya rapat. Berlangsung singkat. Karena perbedaan minat.

Jokowi meminta: “…tolong yang disampaikan yang simple-simple saja..”.

Wajar. Karena Presiden tidak punya kemampuan mekanik soal listrik.

Sementara pihak PLN lalu memberikan penjelasan teknis tentang penyebab pemadaman. Mulai dari sistem kelistrikan sampai permasalahan yang timbul.

Wajar. Karena mereka adalah ‘orang lapangan’ yang menguasai keadaan.

Jokowi sepertinya tidak mengerti. Lalu berkomentar: “Penjelasannya panjang sekali”.

Setelah meminta permasalahan ini segera diatasi, Ia pun langsung pergi.

Media politik mengeksploitasi: Presiden murka hari ini.

Generalis vs Spesialis

Adanya masalah komunikasi seperti ini sering terjadi di berbagai organisasi. Biasanya antara tim teknis dan direksi. Orang spesialis dan orang generalis.

Direksi biasanya hanya ingin melihat secara makro. Sedangkan tim teknis biasanya terlalu mengurusi hal-hal mikro.

Tim direksi butuh penjelasan sederhana. Sedangkan tim teknis ingin menjelaskan semuanya.

Direksi ingin solusi permasalahan instant. Sedangkan tim teknis tahu ada batasan yang bisa dilakukan.

Apa jurus yang bisa kita pakai untuk mengatasi permasalahan komunikasi ini?

Ada beberapa cara yang bisa dicoba. Yang paling sederhana: gunakan 4 Blocker. Apa itu?

Metode ini saya ambil dari buku #Sharing karya Handry Satriago, CEO General Electric.

Budaya komunikasi di GE dibuat sangat cair karena four blocker ini.

Semua orang bisa mengeluarkan idenya. Secara sederhana. Rapat dilakukan dalam tempo singkat. Keputusan diambil dengan cepat.

Rumus four blocker sederhana: Ide disampaikan dalam sebuah 1 (SATU) lembar presentasi.

Dibagi 4 blok.

Blok pertama. WHAT: Apa yang terjadi. Sebutkan data dan fakta yang ada.

Blok kedua. WHY: Kenapa koq bisa terjadi? Temukan root cause penyebabnya.

Blok ketiga. HOW: Apa sih solusi yang kita lakukan? Tulis action plan-nya. Klo banyak, cukup tulis 3 critical action.

yang terakhir: HELP: Apa sih yang kita butuhkan untuk mengeksekusi ide itu? Apakah butuh budget, man power, tambahan wewenang, atau apapun.

Dengan 4 blocker, ide dapat disampaikan secara sederhana dan pengambilan keputusan dapat dilakukan saat itu juga.

Ini berbeda dengan budaya pemerintahan atau BUMN kita. Saya sering melihat laporan yang sengaja diperpanjang, dibumbui kata-kata canggih, dan juga dibuat berlembar-lembar dengan tembusan yang sebenarnya bisa dijadikan lampiran.

Mungkin ini karena waktu sekolah dulu kita diajarkan: jawaban yang paling panjang adalah yang paling benar.

Padahal terkadang: jawaban paling sederhana adalah jawaban yang paling mengena.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Memelihara Masalah

Ada sebuah cerita dari Secret of Power Negotiating karya Roger Dawson yang mungkin berguna bagi netijen zaman sekarang.
 
Tersebut seorang pasangan tua yang hidup di kepulauan Pasifik. Suatu hari terjadi bencana puting beliung yang memporak-porandakan rumah mereka.
 
Karena tidak punya tempat berteduh, dan juga tidak mampu membangun rumahnya kembali, mereka pindah ke rumah anaknya.
 
Masalahnya, rumah sang anak cukup kecil. Dia juga punya empat anak kecil dan dua saudara ipar yang juga tinggal serumah. Kini ada 10 orang yang hidup dalam satu atap. Kondisi ini membuatnya tidak nyaman dan stress.
 
Sempat terlintas ide untuk membeli rumah yang lebih besar atau menyewakan tempat untuk kedua orang tuanya. Tapi uangnya hanya cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
 
Akhirnya ia pergi ke tetua desa yang terkenal karena kebijaksanaannya. “Apa yang harus saya lakukan agar bisa hidup damai dengan kondisi seperti ini?”
 
Orang bijak itu merenung sebentar. Bukannya bertanya soal luas rumah, alternatif kontrakan, atau jumlah tabungan yang dimiliki sang anak, ia malah bertanya:
 
“Kamu punya ayam?”
 
“Ya, saya punya 10 ekor ayam”.
 
“Kalau begitu masukkan ke dalam pondokmu”.
 
Busyet! Problem solving macam apa ini? Bukankah hal ini tidak akan memecahkan masalah kekurangan ruang? Tapi karena percaya dengan kebijaksaan tetua desa, ia menurut saja.
 
Ide ini mendapat tentangan dari istri dan iparnya. Tapi sang anak bersikeras agar mencoba dulu. Dan benar saja, rumah itu menjadi kapal pecah karena ayam yang berkeliaran tidak karuan.
 
Setelah tiga hari Sang anak kembali mengharap orang bijak tadi. Siapa tahu ada solusi yang lebih masuk akal. Jawaban tetua desa semakin absurd.
 
“Kamu punya kambing kan?”
 
“Ya. Ada sekitar tiga ekor”.
 
“Masukkan juga kambing itu ke pondokmu”.
 
Dengan hati yang menggerutu ia melaksanakan perintah aneh itu. Baru semalam kambing itu dimasukkan, pondok itu sudah lebih pantas disebut kandang. Karena sekarang bukan hewan yang hidup di pondok manusia, tapi manusia yang hidup di kandang hewan.
 
Keesokan paginya ia menghadap lagi.
 
“Tolong berikan saya saran terbaik. Saya sudah mengikuti saranmu tapi keadaan semakin memburuk. Apa yang harus saya lakukan?”
 
Orang bijak tadi tersenyum.
 
“Sekarang keluarkan ayam dan kambing tadi. Rapikan pondokmu. Kamu akan menemukan kedamaian”.
 
Dengan cepat si anak pulang untuk mengeluarkan ayam dan kambing dan merapikan pondok yang lebih parah dari jalur Gaza. Anehnya, sekarang ia merasa lebih lega meskipun ada orang tua yang tinggal bersamanya. Ia juga tidak merasa stress atau mengeluh lagi. Ia menemukan kedamaian.
 
Hikmahnya?
 
Setiap masalah hidup hanya akan membuat kita semakin kuat.
 
Daripada meminta hidup tanpa masalah, mintalah kekuatan untuk bisa mengatasi semua masalah.
 
Pelajaran kedua: kedamaian tak kunjung datang karena kita menjejali pikiran dengan ‘binatang’ yang tak perlu kita ‘pelihara’.
 
Ada binatang bernama ‘merasa benar’. Sehingga selalu ingin terlihat menang saat debat di media sosial.
 
Ada hewan bernama ‘viral’. Hingga memaksa manusia menciptakan sensasi-sensasi yang sebenarnya tak perlu terjadi.
 
Ada peliharaan berwujud ‘up to date’. Membuat kita selalu mengikuti trend tanpa pernah sadar jika trend sengaja diciptakan untuk keuntungan pembuatnya.
 
Binatang ini menghabiskan space otak kita dan menyisakan sedikit ruang untuk hal-hal yang justru paling penting.
 
Orang tua yang jika dirawat akan melahirkan kedamaian. 
 
Bapaknya bernama kerendahhatian. Ibunya bernama rasa syukur akan kasih sayang Tuhan.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

O-I-L-S

Misalnya Anda adalah seorang pejabat tinggi. Suatu hari Anda melakukan sidak dadakan dan menemukan jika kerjaan bawahan Anda ga beres. Udah jam 1 tapi belum ada orang yang stand by di kantor melakukan pelayanan.
Apa yang Anda lakukan?
Jika Anda beranggapan marah-marah di depan umum adalah hal yang wajar untuk dilakukan, maka Anda harus berpikir ulang.
Kim Scott, penulis Radical Condor memberikan golden rule: Jika Anda ingin memotivasi team Anda, maka pujilah di depan umum dan kritiklah secara pribadi. Sebaiknya jangan mengkritik di depan umum!
Kenapa? Karena menunjukkan kesalahan manusia didepan banyak orang dapat menghancurkan motivasi mereka. Bukannya menjadi lebih baik, ujung-ujungnya terjadi demotivasi dan harus dilakukan mutasi.
Lantas apa yang harus kita lakukan?
Sebaiknya berikan feedback yang positif.
Bagaimana cara memberikan feedback yang positif? Kita bisa menggunakan metode OILS. Saya mendengar metode ini dari teman mantan konsultan yang mendapatkan pelatihan di Austria. Shahih lah ilmunya.
Sebelumnya perlu diingat, sebaiknya feedback dilakukan secara personal/internal tim. Agar kritik yang kita sampaikan tepat sasaran dan menjaga wibawa orang yang dikritik.
Metodenya disebut O-I-L-S.
O – Observation and Objective
Feedback sebaiknya dimulai dari observasi dan objective (tujuan). Ini dilakukan agar saran yang kita berikan sesuai dengan kenyataan.
“Koq saya melihat ruangan ini kosong pas jam kantor ya? Bukannya jam pelayanan harusnya udah buka dari jam 1?”
I – Impact
Sebutkan dampak yang terjadi dengan kejadian ini.
“Klo kantor kosong gini, gimana klo ada warga yang butuh pelayanan? Jika banyak yang ngantri dan belum selesai karena kita bukanya telat, apa mereka mau kita suruh datang lagi besok?”
L – Listen
“Kalau boleh tahu, Bapak/Ibu pergi kemana ya?”
Disinilah kita mulai mendengarkan ‘alasan versi pelaku’. Karena bisa saja alasan yang mereka sampaikan valid dan masuk akal. Dan bisa juga ngeles/ngibul.
Mungkin mereka akan menjawab,
“Maaf Pak, sedang ada meeting dengan departemen lain”
S – Solution
Solusi harus dicari, berdasarkan permasalahan yang timbul ketika mendengarkan jawaban. Usahakan harus win-win dan berguna bagi semua.
“Oke, saya akan ngomong dengan kepala departemen X dan minta jangan ada rapat di jam 1 Siang. Saya harap Bapak/Ibu kembali kerja ontime ya!”.
OILS juga bisa kita gunakan untuk parenting, atau memberikan feedback kepada siapa saja. Misal adik kita ga mau makan sayur.
“Adek koq ga mau makan sayur?”
Anak baik: “Ga suka”.
Anak julid: “Gw maunya makan ati!”
“Kan sayur bisa bikin badan kita sehat. Sayang juga lho udah dimasakin klo ga ada yang makan”.
Anak baik: “iya ya…”
Anak julid : “Bodo amat! Hilang satu tumbuh seribu!”
“Emang kenapa koq ga mau?”
Anak baik: “Ga enak”.
Anak julid: “Suka-suka gw donk. Emang situ Indomie seleraku?”
“Oh ga enak ya? Biar enak gimana donk? Klo dibikin jus mau coba?”
Anak baik: “Mauuuu”
Anak julid: “Boleh. Sekalian masukin lewat infus idung ya!.
Pendekatan OILS akan jauh lebih positif dan konstruktif daripada marah sana-sini tanpa aksi yang produktif.
Kecuali klo situ mau dibilang ‘kerja’ dan jadi ‘pahlawan’ di media hehe.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pemantik

Ahmad Wajib pernah menulis:

Terlalu banyak persentase waktu untuk membaca itu tidak baik. Kita hanya sekedar akan menjadi reservoir ilmu. Pemikiran otentik yang kita adakan maksimal hanya dalam kerangka kemungkinan-kemungkinan yang diberikan dalam suatu buku dan perbandingannya dengan buku sarjana-sarjana lain.

Banyak membaca harus diimbangi dengan banyak merenung dan banyak observasi langsung. Harus ada keseimbangan antara membaca, merenung dan mengamati.

Dengan demikianlah kita akan mampu membentuk pendapat sendiri dan tidak sekedar mengikut pendapat orang atau memilih salah satu di antara
pendapat yang berbeda-beda.
24 April 1969

Apakah benar?

Antara ya dan tidak. Bagi saya sebagai seorang penulis yang masih belajar, membaca adalah pemantik.

Sebenarnya ada pemantik terbaik: pengalaman. Tulisan orang-orang hebat biasanya lahir dari pengalaman pribadi yang kuat.

Contohnya Dahlan Iskan. Dia bisa menulis DIsway setiap hari dengan sangat menarik karena keseharian beliau juga sangat menarik. Berpindah negara, bertemu orang-orang hebat, menciptakan proyek-proyek yang tidak membosankan.

Sayangnya tidak selamanya pengalaman saya pantas untuk ditulis. Saya belum punya rutinitas orang hebat, yang bangun dengan semangat dan gagasan-gagasan besar untuk diwujudkan. Saya sementara masih terperangkap dalam rutinitas salary man dan harus menyelesaikan urusan pekerjaan.

Untuk itulah buku menjadi salah satu pemantik pemikiran yang menghadirkan pengalaman orang lain untuk saya resapi.

Semoga nanti saya punya hari-hari yang menarik untuk ditulis setiap hari!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Educere

Beberapa waktu lalu saya kumpul-kumpul dengan teman-teman. Dan seperti biasa, selain update masalah kehidupan, kita saling bertanya soal anak dan keluarga.

Termasuk soal pendidikan.

Seorang teman mengkhawatirkan soal mahalnya biaya pendidikan anak-anak zaman future (bukan now lagi bosku).

Uang pangkalnya puluhan juta, belum SPP yang nilainya mirip SPP kuliah saya dulu haha.

Yang membuat saya tersadar adalah, stigma yang mengasosiasikan jika pendidikan berarti sekolah.

Apakah tanpa sekolah seorang manusia bisa mendapatkan pendidikan?

Kebetulan saya baru saja menyelesaikan “Educated” dari Tara Westover. Memoar dari seorang ahli sejarah PhD Cambridge yang anehnya, tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga umur 16 tahun!

Sejarah hidup Tara sendiri unik. Dibesarkan oleh keluarga Mormon yang fanatik, Ayahnya menderita schizophrenia dan hidup dalam halusinasi tentang illuminati, konspirasi, dan semakin dekatnya hari kiamat.

Mereka anti pemerintah, tidak percaya dokter, dan bahkan tidak mengurus akte kelahiran anak-anak mereka.

Ayahnya seorang pedagang rongsokan dan kontraktor partikelir. Ibunya bekerja sebagai bidan ilegal. Lalu banting setir menjadi herbalis pengobatan tradisional setelah kecelakaan mobil hebat yang hampir menewaskan keluarga mereka.

Tak ada musik pop. Buku-buku bacaan yang ada hanya alkitab. Pendidikan yang diajarkan hanya baca tulis hitung sederhana. Kata sang Ayah, sekolah adalah alat illuminati untuk mencuci otak kaum muda.

“A man can’t make a living out of books and scraps of paper”.

Untung tak semua kakaknya tahan dengan kultur keluarga anti mainstream ini. Menginjak remaja, dua kakaknya minggat. Lalu menyusul anak ketiga, ingin sekolah.

Anak ketiga ini, Tyler, yang kemudian mengompori Tara untuk belajar. Mandiri. Tanpa diawasi.

Diberikannya buku-buku. Disuruhnya Tara ikut ACT. Test untuk masuk perguruan tinggi. Ijazahnya gimana? Dalam essay application ditulis: Tara mendapat pendidikan home schooling.

Tara sendiri mengisahkan perjuangannya belajar matematika, trigonometri, atau aljabar. Senjatanya cuma satu: kesabaran membaca meski ia tidak mengerti juga.

“The skill I was learning was a crucial one, the patience to read things I could not yet understand”.

Singkat cerita, dia lulus dan diterima di BYU (Bright Young University). Ajaibnya lagi, studinya lancar dan mendapatkan beasiswa ke Cambridge hingga menggenggam gelar PhD!.

Saya jadi tersadar, yang terpenting dari pendidikan bukan tentang INSTITUSI pendidikan. Tapi bagaimana bisa menghasilkan manusia-manusia pembelajar yang mencintai proses pendidikan itu sendiri.

Apalagi di zaman sekarang, pendidikan berbasis kelas terdisrupsi oleh ‘sekolah online’. Ada universitas raksasa bernama Google yang bisa membantu kita menemukan “guru” tentang pelajaran apa saja.

Pingin belajar edit video? Bisa mulai menonton ribuan tutorial di youtube. Ingin tahu soal data science? Banyak kursus di udemy. Pingin tahu matematika? Bisa main-main ke Khan Academy. Bingung klo ada pertanyaan soal coding? Silahkan lempar di Github.

Tentu ‘sekolah online’ takkan bisa 100% mengalahkan pertemuan langsung dengan pengajar ilmu. Ada “adab ilmu” yang harus diajarkan oleh seorang guru. Karena itu pendidikan formal masih memegang peranan penting, meski bukan yang terpenting.

Tantangan pendidikan dimasa depan bukan tentang transfer pengetahuan. Tapi bagaimana menciptakan koneksi antar pengetahuan. Ini tentang mengubah informasi menjadi strategi yang menghasilkan aksi valuasi.

Google menjadi kaya bukan karena menyimpan data search queries penduduk bumi. Google menjadi kaya karena bisa mengubah data keyword pencarian menjadi sesuatu yang berguna bagi pengiklan.

Menurut Craft (1984) kata ‘education’ sendiri punya dua makna. Bisa educare yang berarti membentuk. Atau educere, yang berarti mengeluarkan.

Apa yang dikeluarkan?

Rasa penasaran, kerendahhatian, dan penghormatan kepada anugerah Tuhan bernama pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail