Tag Archives: yogaps

#94 Traveling Effect: Kenapa Traveling Terbukti Membuat Kita Bertambah Kaya

Boleh percaya boleh tidak, manusia bisa memiliki peradaban maju seperti sekarang karena nenek moyang kita doyan jalan-jalan.

Setidaknya itu salah satu hipotesa Yuval Noah Harari dalam karya monumentalnya: Sapiens. Menurut Pi-Ej-Di (pengucapan Ph.D zaman Now) asal Israel itu, ada suatu masa ketika nenek moyang kita menjadi seperti si bolang: gemar berpetualang.

Zaman old itu sekitar 45.000 tahun lalu dimana sapiens generasi awal belum mengenal agrikultur atau revolusi industry. Mereka harus hidup dengan berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain hanya untuk bertahan hidup.

Tapi ternyata kebiasaan menjelajah ini menjadi metodologi paling ampuh untuk mendapatkan ilmu baru. Karena mereka harus mampu mengembangkan kemampuan analisa dengan cepat untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut hidup dan mati.

Makanan apa yang aman dimakan? Apakah ada bahaya mengancam? Apa yang harus kita lakukan saat udara dingin? Kemana saya harus pindah setelah ini?

Rumusnya ternyata sederhana:

Tempat baru = pengalaman baru = pengetahuan baru.

Traveling membantu nenek moyang kita untuk mengembangkan pohon pengetahuan yang pada akhirnya mendorong perkembangan kemampuan berpikir manusia.

Seiring kemajuan peradaban, semangat traveling berkembang menjadi semangat penaklukan. Manusia menjelajah untuk menemukan dan mendapatkan wilayah baru. Dan ternyata para imperium besar menginvestasikan sumber daya mereka untuk dua kata sederhana: terra incognita, Tanah tak dikenal.

Pada tahun 1519 Spanyol mengutus pelaut 39 tahun yang ingin mengelilingi bumi dan memutus rantai perdagangan rempah: Ferdinand Magellan. Meskipun ia terbunuh di Philipina, kapal itu, Armada de Molucca, mampu kembali ke Spanyol pada 1522.

Perjalanan Magellan berdampak besar dan mematahkan berbagai mitos: bumi datar dengan ujung dunia, legenda monster laut, peta navigasi jadul yang masih banyak “blank”-nya, dan banyak pengetahuan yang membuat Spanyol mampu menjadi penguasa dunia hingga ratusan tahun kedepan.

Jika kita tarik ke zaman now maka Traveling = pengetahuan baru = kekayaan baru.

Ada banyak bukti orang kaya yang dapat inspirasi dari jalan-jalan. Johny Andrean membuka bread talk gara-gara main ke Singapura. Hendy Setiono dapat ide usaha kebab saat mbolang ke Qatar, sejak itu lahir kebab Baba Rafi. Bahkan Jack Ma pernah menyebut jika trip singkat-nya ke Australia saat muda adalah “perjalanan pembuka mata”.

Sesakti itu kah #efektraveling? Sampai Prof Rhenald Kasali mewajibkan mahasiswanya untuk “get lost” diluar negeri?

Penelitian dari Godart et al (2014) dalam Journal Academy of Management menunjukkan jika professional yang pernah bekerja diluar negeri cenderung lebih kreatif daripada yang tidak. Riset lain dari Zimmermann dan Neyer (2012) menemukan jika traveling membuat mahasiswa subjek penelitiannya lebih extrovert dan terbuka terhadap hal-hal baru.

Kenapa? Karena traveling memberikan kita sudut pandang berbeda dan memaksa kita keluar dari zona nyaman yang ada. Saat traveling kita belajar menjadi minoritas, dan itu berarti harus menerima nilai-nilai yang tak sama.

Jika masih muda, siapkan paspormu, kemasi kopermu, tentukan tujuan petualanganmu. Ingatlah petuah Mark Twain:

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”

Waktunya ngerasain #fektraveling mumpung ada #KursiGratis
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#92 Zeigarnik Effect: Kenapa Terkadang Menunda Itu Baik

Pada tahun 1927, sekelompok mahasiswa dan professor makan di restoran. Mereka memesan banyak makanan, dan anehnya: si pelayan tidak mencatat apapun!

Mereka menduga pasti ada pesanan yang keliru atau kurang. Tapi diluar dugaan, mereka mendapat apa yang mereka pesan tanpa ada kekurangan satu menu pun.

Setelah selesai, rombongna itu keluar. Salah satu mahasiswa psikologi, Bluma Zeigarnik, baru sadar jika selendangnya tertinggal. Buru-buru ia kembali ke restoran dan bertemu pelayan super tadi.

Anehnya, sang pelayan tidak mengenalinya. Ia juga lupa dimana Zeigarnik duduk. Kenapa pelayan tadi bisa lupa? Padahal ia bisa mengingat semua pesanan, bukankah itu berarti memori yang bagus? Zeigarnik penasaran dan bertanya kenapa pelayan bisa mengingat semua pesanan tapi sekarang seperti menderita amnesia:

“Saya mengingat semua pesanan di kepala, hingga pesanan itu dihidangkan”. Si pelayan membocorkan rahasianya.

Zeigarnik tersadar, otak manusia bekerja seperti itu. Kita akan mengingat tugas yang masih harus dikerjakan, dan melupakannya begitu selesai. Seperti computer, semua “unfinished task” akan terekam di sistem dan akan terhapus begitu statusnya “done”.

Serangkaian percobaan akhirnya melahirkan hipotesa tentang Zeigarnik effect: manusia akan lebih mudah mengingat pekerjaan yang tidak selesai (diinterupsi) daripada pekerjaan yang selesai. Ini menjelaskan kenapa ada perasaan yang mengganjal jika kita belum menyelesaikan sesuatu, dan merasa plong setelah melakukannya.

Beberapa riset bahkan menunjukkan jika pelajar yang menginterupsi proses belajarnya dengan kegiatan lain, akan mampu mengingat lebih baik daripada pelajar yang belajar tanpa adanya gangguan.

Jika kita tahu terkadang menunda menuntaskan sebuah tugas bisa berdampak baik, apakah itu berarti lebih baik kita tidak segera menyelesaikan tugas yang ada di hadapan kita? Untuk tugas-tugas kecil, sebaiknya kita jangan menunda. Tapi untuk tugas yang membutuhkan kreativitas, lebih baik kita tidak segera menyelesaikannya.

Riset yang dilakukan Adam Grant, pengarang buku laris Original, menunjukkan jika para “original thinker” punya kebiasaan menunda. Dalam artian jika deadline-nya 7 hari, mereka akan mulai mengerjakan di hari ke-2, membiarkannya tak selesai hingga hari ke 5, dan menyelesaikannya hingga hari ke-7.

Kenapa? Karena Zeigarnik effect membuat tugas yang tak selesai akan selalu kita ingat. Dan sambil menunda menyelesaikannya, para original thinker berpikir keras untuk menciptakan hal yang unik.

Secara bawah sadar otak mereka berusaha menciptakan koneksi antar disiplin ilmu untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Ditambah adrenalin kreativitas yang mengucur deras saat menjelang deadline, otak manusia dipaksa untuk menghasilkan solusi yang tak terduga.

Mulai sekarang jika Anda sedang mengerjakan proyek yang membutuhkan kreativitas, jangan buru-buru menyelesaikannya. Hasilnya bisa medioker. Coba kerjakan, lalu tinggalkan beberapa saat. Ketika Anda kembali untuk menyelesaikan-nya, Zeigarnik effect akan memberikan persepsi yang berbeda.

https://media.licdn.com/mpr/mpr/AAEAAQAAAAAAAA2eAAAAJGUzOWMxYWEzLTZiMGUtNDE2Yi04OTc4LTM5ZWJmMTg2YzAxYw.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#96 Fallacy of single cause: Kenapa kita harus berpikir multi dimensi

Kenapa banyak perusahaan ritel yang tutup?

Pertanyaan diatas sempat menjadi perbincangan hangat netizen beberapa waktu lalu. Banyak pihak yang berkomentar dan memberikan analisisnya.

Sebagian pengamat menyoroti shifting perilaku belanja masyarakat yang berpindah ke online. Ada pengamat yang menyalahkan lesunya daya beli masyarakat. Ada juga yang menyoroti inefisiensi peritel dalam melakukan ekspansi.

Mana yang benar? Semuanya bisa benar. Yang jelas, hanya “menyalahkan satu factor” dapat menyebabkan kita terperangkap dalam fallacy of single cause. Kecenderungan untuk menyederhanakan permasalahan.

Karena pada kenyataannya, masalah yang terjadi cenderung kompleks dan multi dimensi. Penutupan gerai pada perusahaan A bisa memiliki motif yang berbeda dengan penutupan gerai perusahaan B.

Hampir sama dengan pertanyaan: “Kenapa Jakarta sering banjir?”. Hanya menyebut “buruknya drainase” takkan menyelesaikan masalah karena masih ada aspek tata kota, perilaku warga, dan infrastruktur social yang sudah sangat padat ditengah lahan yang sempit.

Otak kita menyukai “single cause reasoning” karena lebih sederhana dan mudah dimengerti.

Kenapa ada krisis 1998? Jawaban single reasoning-nya: Karena ulah spekulan valas yang menghajar nilai tukar rupiah. Padahal masih ada permasalahan politik dan social yang membuat krisis tahun 98 mampu melahirkan reformasi.

Kenapa banyak koruptor di Indonesia? Jawaban gampangnya: karena banyak pejabat korup. Padahal ada aspek lemahnya pengawasan hukum, berbelitnya sistem birokrasi, dan juga sistem meritokrasi yang masih berjalan setengah hati.

Point-nya: biasakan untuk berpikir multi dimensi dan jangan hanya melihat dari satu sisi.

Contohnya jika Anda adalah seorang CEO yang baru saja meluncurkan produk baru. Setelah satu bulan, produk itu tidak laku. Apakah Anda akan menyalahkan tim marketing karena gagal mencapai target penjualan?

Sadarlah tentang jebakan fallacy of single cause. Duduk dengan tim Anda dan rincikan semua factor yang menyebabkan produk itu tidak terserap oleh pasar. Bisa promosi yang kurang, feature yang kurang greget, user interface yang membingungkan, dan lain-lain.

Rinci semua factor, dan bagi kedalam dua jenis: yang bisa kita ubah (harga, design, promosi, dll) dan yang tidak bisa kita ubah (kondisi ekonomi, nilai tukar, dll). Setelah itu lakukan test dengan merubah factor-faktor yang bisa mempengaruhi pembelian. Misal: mengubah harga, mengubah metode marketing, mengubah design produk, dll.

Jangan terjebak dengan mindset yang meminjam istilah filsuf Herbert Marcuse: one dimensional man. Kebiasaan hanya melihat satu sisi akan membuat Anda jadi kaum sumbu pendek yang ngamuk jika orang lain bilang bumi itu bulat.

Percayalah jika tidak pernah ada penyebab tunggal dalam setiap fenomena yang terjadi.

http://www.chronicle.com//img/photos/biz/photo_2914_landscape_650x433.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#94 The Power of Niat: Ternyata Motivasi Sangat Berarti

Dalam cerita sufi disebutkan ada sebuah pohon angker yang menjadi tempat menaruh sesajen. Mendengar ini, seorang laki-laki sholeh ingin menebang pohon itu. Menggunakan kapak, ia berangkat dan bertekad untuk memotong-motongnya menjadi kayu bakar.

Ditengah jalan ia bertemu dengan setan yang menyamar menjadi manusia. Setan bertanya:

“Hai Abu Ahmad, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku ingin menebang pohon keramat di desa tetangga”.

“Kenapa kamu ingin menebangnya?”

“Aku takut pohon itu menjadi sumber kesyirikan”.

Setan mencegat jalanan yang ingin dilalui. Karena tidak mau minggir akhirnya mereka berkelahi. Setelah melalui pergulatan, si setan bisa dikalahkan.

Setan yang babak belur meluncurkan tipus muslihat lain:

“Wahai fulan, aku tahu engkau orang yang saleh, tapi hidupmu kekurangan. Jika kau mau menunda niatmu menebang pohon itu, setiap hari engkau akan menemukan 2 keping perak dibawah bantalmu. Pulang dan periksalah jika tidak percaya”.

Mendengar tawaran itu, sang lelaki bergeming. Bayaran 2 keping yang bisa ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari terbersit dikepala. Ia bisa semakin khusuk beribadah dengan uang itu.

Akhirnya ia ingin membuktikan ucapan si setan. Ia lalu pulang dan benar-benar menemukan uang perak. Keesokan harinya, ia tidak menemukan uang perak “jatah harian” yang dijanjikan.

“Dasar setan penipu! Akan kutebang pohon itu”.

Ditengah jalan lagi-lagi ia dihadang oleh setan. Kini ia tersenyum. Lelaki yang masih marah kembali berkelahi dengan setan. Tapi kali ini dengan mudah setan bisa mengalahkan sang pemuda.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa tambah kuat?” tanya si pemuda.

“Sesungguhnya aku tidak bertambah kuat. Tapi niatmu yang melemah. Kemarin engkau ingin menebang pohon itu karena Allah, sekarang kau ingin menebangnya karena tidak mendapatkan uang perak”.

Niat dan Motivasi

Niat, dalam hal ini motivasi ternyata berperan penting pada prestasi. Banyak penelitian dan teori menegaskan hal ini.

Dalam manajemen, pegawai yang bermotivasi cenderung memiliki kinerja yang lebih tinggi (Robescu: 2016). Hal yang sama juga berlaku dalam pendidikan. Murid dengan motivasi dan determinasi tinggi, cenderung mampu menyelesaikan studi (Stevanovic:2014).

Percobaan yang dilakukan Robert Nida (2015) pada anak menunjukkan hal yang serupa. Ada 72 anak berusia 4 tahun diminta bermain untuk mengingat 10 mainan acak. Ada tiga grup dengan perlakukan berbeda: incidental, intensional, motivasional.

Di grup incidental, si anak tidak diberi intruksi apa-apa dan langsung diminta mengingat daftar mainan yang mereka pegang beberapa saat sebelumnya. Grup kedua, intensional, peneliti di awal sesi sudah berkata: “Coba ingat-ingat mainan yang kamu mainkan nanti”.

Sedangkan di grup ketiga, peneliti memberikan motivasi: mainan yang mereka ingat berhak untuk mereka simpan. Grup mana yang anak-anaknya memiliki kemampuan mengingat lebih baik? Sesuai hipotesis, grup motivasional secara rata-rata mampu mengingat lebih banyak dibanding grup lainnya.

Karena sesuai dengan inti cerita sufi: motivasi yang kita cari akan menentukan hasil yang kita temui. Dan anehnya, manusia akan mendapatkan hasil sesuai motivasi mereka. Setidaknya itu prinsip expectation theory dari Victor Vroom yang percaya jika:

“Intensity of work effort depends on the perception that an individual’s effort will result in a desired outcome”

Karena itu jika mengalami stagnansi dalam hidup, coba pertanyakan niatnya.

Jika bisnis sedang lesu, coba tanyakan lagi: apa motivasi kita dalam berbisnis?

Jika karier sedang mentok, coba gali lagi: apa yang ingin kita cari dalam bekerja?

Jika buntu dalam studi, coba perdalam lagi: apa yang ingin kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki?

Jangan-jangan motivasi kita terlalu banal dan dangkal, sehingga tidak mampu menghasilkan karya monumental. Karena sesuai pesan Nabi: amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.

source image https://ishfah7.files.wordpress.com/2017/03/niat.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa yang diajarkan seorang anggota DPR kepada Anaknya dan Tidak Diajarkan oleh Orang Lain?

Beberapa bulan lalu ada anak magang di kantor saya. Sebut saja Bunga, bukan nama sebenarnya. Manis parasnya, baru 18 tahun usianya, dan itu berarti saya ketahuan tua-nya. Haha.

Si Bunga lagi summer break kuliah dan memutuskan iseng-iseng ikutan internship. Dimana kampusnya? Cukup jauh kalo ingin didatangin, aid (dia) kuliah business di Inggris. Apakah dia punya kunci Inggris? It’s not my business sodara-sodara.

Karena si Bunga pingin belajar marketing, saya ditugaskan untuk menjadi buddy. Semacam partner kerja yang bertugas untuk melayani dan membahagiakan hidup si Bunga. Halah. Kebetulan dia juga duduk disamping saya.

“Ntar lu kalo ngomong ama dia siap-siap bawa kamus. Ngomongnya Inggeris terus” kata teman yang udah bertemu dengan Bunga. Wah-wah jangan-jangan kaya Cinta Laura nih. Yang penting jangan Lauren si waria jadi-jadian deh.

Sebagai homo Javanicus (orang Jawa) dengan nilai IELTS yang berada di garis kebodohan, saya tentu keder. Apalagi referensi belajar bahasa Inggris saya hanya berdasarkan pilem-pilem gituan yang Cuma punya dialog “oh yess”, “oh no..”, dan “Oh my God..”.

Tapi setelah bertemu, ternyata anaknya baik. Memang ngomongnya sering nge-blend antara Indo dan Inggris. Saat menulis sesuatu (kami memintanya membuat artikel untuk website), dia menulis dalam bahasa Inggris dulu baru kemudian di-translate ke bahasa Indonesia. Maklum, sekolahnya selalu di sekolah internasional yang kalau misuh pun harus dalam bahasa Inggris.

Hidup Makmur

Yang bikin istimewa: ternyata dia anak seorang pejabat tinggi di negeri ini. Salah satu anggota dewan yang terhormat. Bapaknya cukup ngetop dengan komentar-komentar kontroversial sehingga sering dijadikan bahan bully netizen. Pokoknya kalo saya sebut namanya, situ pasti pernah dengar deh.

Awalnya dia ga mau ngaku. Mungkin dia ingin down to earth dan lepas dari bayangan sang ayah.

Sebagai anak seorang pejabat, hidup Bunga serba berkecukupan. Bisa mbolang kesana-kemari. Dia cerita kalau habis liburan dari Miami. Es krim Miami? Ketahuan deh selera proletar. Ini Miami beneran yang di Amerika sana cuy.

Selain negeri paman Sam, Bunga sangat suka dengan Eropa. Mayoritas Negara-negara terkenal yang mainstream sudah ia kunjungi. Beberapa bulan lagi ia akan mengunjungi Jerman. Nyari suaka? Amit-amit, dia kesana dalam rangka kunjungan tim sepakbola putri kampusnya.

Alhamdulilah dalam hidup Bunga, agak susah menemukan kata susah. Ibarat kalau search engine, kata “hidup susah” udah ke blokir. Error forbidden 404. Jika ia bermain monopoli, maka ia mendapatkan “Kesempatan” dan “Dana Umum” terus-menerus.

Karena Bunga suka nyanyi, dapur rekaman sudah menanti. Karena Bunga suka melukis, sudah ada kolektor yang antri mengoleksi. Saat ingin magang, komisaris kantor saya langsung membukakan pintu untuk dimasuki.

Bunga sendiri sadar, kemudahan dan fasilitas yang ia terima dari orang lain tidaklah gratis. Pasti ada motif membangun relasi dengan sang Ayah. Yang bisa ia lakukan adalah memanfaatkan setiap kesempatan yang datang.

Dua Pelajaran

Dalam pengamatan awam saya, setidaknya Ayah Bunga melakukan dua hal investasi besar untuk sang anak:

Pertama, investasi untuk pendidikan. Bunga belajar di sekolah yang baik, kuliah keluar negeri, membaca banyak buku berkualitas, berkenalan dengan banyak orang hebat, dan membangun jaringan.

Ngobrol dengan Bunga tidak seperti stereotype perbincangan dengan ABG 18 tahun yang dipenuhi pembahasan alay dan kurang penting. Bunga cukup update dengan isu-isu global. Anda bisa berdiskusi tentang politik, ekonomi, real estate, atau perkembangan seni dan sejarah music klasik.

Kedua, investasi dalam pengalaman berpolitik.

Meskipun Ayahnya tidak ingin Bunga terjun dalam politik, tapi tetap saja Bunga dilibatkan. Ia duduk sebagai observer saat penyusunan strategi pilkada Jakarta. Ia ikut dalam rapat-rapat tim sukses. ia juga belajar mengendalikan dan mempengaruhi orang lain, esensi utama dalam berpolitik.

“Kamu tahu FORD principle?” Kata Bunga di dalam mobil yang saya tebengin dalam perjalanan pulang.

Saya menggeleng.

“FORD principle dipakai untuk akrab dengan orang yang baru kita kenal. F for Family, gunakan topik tentang keluarga lawan bicara kita. O untuk Occupation, kita juga bisa ngobrol tentang pekerjaan mereka. R untuk recreation. Coba tanya liburan mereka. Dan terakhir D untuk desire. Apa mimpi yang ingin dicapai?” Rupanya Bunga sudah belajar komunikasi politik dengan terlebih dahulu belajar kemampuan intrapersonal.

Apakah Bunga ingin ikutan terjun dalam politik? Anehnya, ayah Bunga justru menyarankan dia untuk menjauhi politik.

“Kalau Cuma jadi anggota DPR, supir angkot juga bisa”.

Quotes dari sang Ayah yang ia sampaikan dan membuat saya berpikir keras: jangan-jangan ini penyebab rendahnya kualitas anggota dewan kita.

Bunga membocorkan rahasia: semua statement ngawur ayahnya sengaja digunakan untuk meningkatkan popularitas. Karena ternyata, pemilih Indonesia belum rasional. Mereka tidak memilih calon dengan program kerja paling masuk akal. Mayoritas pemilih akan mencoblos orang yang dikenalnya.

Bagaimana cara agar cepat terkenal? Ciptakan skandal, keluarkan statement kontroversial, jadilah media darling, siapkan diri untuk di bully.

Bunga sudah belajar jika politik adalah sebuah panggung sandiwara raksasa. Yang perlu kita lakukan hanyalah memainkan peran sebaik mungkin. Entah jadi protagonist, atau justru antagonis. Yang pasti artis yang menjiwai perannya akan mendapat spotlight, giliran untuk tampil dalam panggung kekuasaan.

She’s smart girl. Saya berdoa Ia akan lebih baik dari Bapaknya.

sumber gambar: http://portalsatu.com/upload2/files/2017/ILUSTRASI/pol.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#87 BHAG: Kenapa Kita Harus Punya Tujuan Besar

Sebagai kacung yang bekerja di travel industry, saya sering bekerja sama dengan departemen pariwisata negara ASEAN. Tapi ada hal yang menarik dari teman-teman di Kementrian Pariwisata kita. Setiap meeting, saya sering sekali mendengar kata “20 juta”.

“Kita punya target 20 juta wisataawan asing tahun 2019”.

“Sesuai arahan Pak Presiden, target kita 20 juta wisatawan.”

“…Ini untuk mencapai target 20 juta wisatawan”.

Yang bikin saya kagum: angka 20 juta ini diucapkan oleh menteri, pejabat eselon, hingga staff biasa. Ternyata hampir semua orang di kementrian pariwisata tahu apa yang mereka ingin capai: Pada 2019 membawa 20 juta wisatawan asing ke Indonesia.

Kenapa saya bisa bilang luar biasa? Karena tidak semua anggota organisasi tahu apa tujuan mereka. Apalagi ini sebuah organisasi gemuk bernama birokrasi.

Jika Anda bertanya ke teman atau saudara yang bekerja di organisasi raksasa seperti BUMN, perusahaan multinasional, atau departemen pemerintahan, belum tentu mereka tahu apa tujuan lembaganya.

Apa yang ingin dicapai? Jika profit, berapa banyak untungnya? Kapan mendapatkannya? Bagaimana caranya? Banyak dari kita hanya melakukan sesuatu sesuai job description tanpa pernah tahu strategic direction.

BHAG

Angka 20 juta yang didengung-dengungkan sebagai mantra adalah sebuah BHAG: Big Hairy Audacious Goal (dibaca Bee-Hag). Mimpi besar yang menginspirasi.

Dicetuskan oleh guru manajemen, Jim Collins dan Jerry Porras dalam Built to Last (1994). Collins mencatat, perusahaan-perusahaan besar yang sukses dalam jangka panjang selalu punya BHAG. Sebuah tanda jika mereka organisasi yang berani bermimpi.

Saat Kennedy mengajukan proposal ke Kongres untuk program “moon landing” pada tahun 60-an, ia mengajukan BHAG yang menyentuh ego umat manusia:

“..this Nation should commit itself to achieving the goal… landing a man on the moon and returning him safely to earth..”

Semua rakyat Amerika terpesona dan mendukung proyek 549 juta dollar itu karena mereka akan menjadi homo sapiens pertama yang mendarat di bulan.

Contoh klasik lain: Ketika Jack Welch merombak General Electric, GE terkenal dengan organisasi gemuk yang punya banyak sekali anak perusahaan. BHAG yang ia cetuskan sungguh sederhana:

“Become #1 or #2 in every market we serve and revolutionize this company to have speed and agility of small enterprise”.

Jadi yang terbaik dan bergerak segesit perusahaan kecil, atau tidak sama sekali. Hasilnya Welch merampingkan bisnis GE, menjual divisi yang tak punya prospek lagi, dan mengembangkan budaya inovasi.

Mimpi Pariwisata

“20 Juta wisatawan asing” adalah BHAG yang ambisius tapi sebenarnya mampu kita capai. Thailand dalam setahun menerima sekitar 35 juta wisatawan asing. Malaysia ada di angka 15 juta. Sedangkan kita masih megap-megap mencapai level 13 juta. Padahal jika dilihat potensi wisata dan luas wilayah, harusnya wisatawan kita melebihi kedua Negara itu.

Tentu masih banyak Pe-eR terutama dibidang infrastruktur, inovasi produk, sarana transportasi (kapasitas penerbangan rute internasional), dan pengembangan SDM yang ada di depan mata. Tapi saya merasa we are on the right track.

Sekarang Kementrian Pariwisata sangat aktif berpromosi keseluruh dunia. Sektor swasta diajak bekerja sama. Kita juga punya menteri pintar yang digital minded dan tahu bagaimana cara mengubah gaya birokrasi menjadi semi korporasi.

“Datanya mana? Kita harus bicara dengan data. Nanti habis kita dihadapan Pak Menteri”

“Kira-kira top 3 action yang bisa kita lakukan apa? Tolong dimasukkan ke weekly report”

“Seperti kata Pak Menteri, if you can’t measure it, you can’t manage it”

Pola pikir yang data driven dan action oriented adalah hal yang wajar di dalam dunia korporasi. Tapi bisa menerapkannya dalam sektor birokrasi adalah hal yang patut diapresiasi.

Saya menulis ini sebagai catatan kecil: tidak semua birokrasi menjadi penghambat inovasi. Insya Allah pariwisata Indonesia punya masa depan yang cerah.

View post on imgur.com

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Honesty Lesson from a Badui

 

For those who are honest to Allah, He will be honest with his creature. It means Allah will help them, simplify their business, grant their wishes, and fulfill their needs. One of an example of honesty to Allah is a story from Imam an Nasa’I. It’s a story about a “Badui” (people who live in rural area), who converted to Islam with pure faith and divine motivation.

Imam an-Nasa’I quoted from Syaddad bin al-Had.

There was a Badui who met the Prophet after joining Islam. The Badui’s said: “I will be hijrah (move from Mecca to Madina) with you”.

During the period of wars with kafir people at that time, the Badui participated in one of it. After war, usually Muslims will gain ghanimah, means assets acquired from wars. The Prophet will distribute the ghanimah for those who joined.

The Badui’s also received ghanimah. Surprisingly, he asked:

“What is this?”

His muslim brother said, “Your ghanimah, The Prophet gave it to you”.

So he came to Muhammad the Prophets and asked: “What is this?”

Muhammad the Prophets said, “Yours”.

The Badui’s replied,

“This is not my motivation. I followed you because Continue reading Honesty Lesson from a Badui

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#86 Celebrity Effect: Kenapa Artis Bisa jadi Komisaris?

Dunia bisnis dan showbiz dikejutkan dengan pengangkatan Raline Shah sebagai komisaris independen AirAsia. Betapa tidak, Raline yang tidak memiliki background korporat tiba-tiba menduduki jabatan bergensi di airlines berbiaya hemat terbaik dunia menurut Skytrax itu.

Halo Mbakkkk

Ngomong-ngomong koq bisa sih artis jadi komisaris? Kira-kira apa motifnya? Yang pasti, motifnya bukan kotak-kotak atau kembang-kembang. Alasan utamanya adalah kepentingan bisnis.

Tugas Komisaris

Bagi yang belum tahu, komisaris punya peran berbeda dengan direktur. Ia bertugas mengawasi kebijakan direksi dan menjadi lembaga penasihat. Hal ini diatur dalam UU no 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.

Peran komisaris independen dipertegas dalam penerapan GCG (Good Corporate Governance), dimana sebuah perusahaan yang sehat harus punya direksi, komisaris independen, dan juga komite audit.  Komisaris independen adalah dewan yang tidak berafiliasi dengan direksi, pemegang saham, atau komisaris lainnya.

Kenapa pejabat perusahan ga cukup hanya dewan direksi aja? Karena dalam dunia korporasi ada agency conflict theory. Jadi ceritanya, para direktur punya satu tujuan mulia: membuat pemegang saham semakin kaya (ini jujur lho..). Tapi sayangnya nggak semua direksi kerjaannya bener.

Bisa saja dia sengaja bikin aksi korporasi dengan tujuan mendapatkan bonus pribadi. Misal: menjual asset perusahaan dan mengakuinya sebagai laba tahun berjalan. Performa keuangan yang kinclong menjamin bonus yang keren dong. Urusan perusahaan rugi dimasa depan, itu dipikir belakangan.

Nah, tugas komisaris independen ini berperan penting untuk melakukan pengawasan agar jangan sampai ada kejadian seperti itu. Mereka dipilih oleh pemegang saham untuk mengawasi dan memberi saran pengembangan perusahaan.

Jika punya waktu silahkan baca jurnal klasik dari Firstenberg dan Malkiel (1980) yang berjudul: “Why Corporate Boards Need Independent Directors”.

Terus, kenapa harus artis?

Celebrity effect

Komisaris independen bisa berasal dari mana saja. Tokoh masyarakat sampai pengangguran diperbolehkan. Lagipula dipilihnya seorang artis kedalam tim manajemen bukanlah hal yang baru.

Tahun 2013, Alicia Keys pernah menjabat direktur creative RIM. Vokalis U2, Bono, menjadi direksi perusahaan gitar Fender setahun kemudian. Dan ga Cuma artis, banyak public figure lainnya yang kecipratan rezeki dari dunia korporasi.

http://www.connectnigeria.com/articles/wp-content/uploads/2013/02/alicia-keys-at-blackberry.jpg

Coca Cola pernah meng-hire Evander Holyfield, petinju yang digigit kupingnya oleh Mike Tyson. Michael Jordan pernah jadi direksi Oakley. Apple tidak mau ketinggalan karena pernah merekrut Al Gore.

Boleh percaya boleh tidak, beberapa studi menunjukkan hadirnya public figure dapat mengangkat harga saham. Saham Disney meroket 4.2% saat merekrut Sidney Poitier pada 1994. Perusahaan selai J.M Smucker menikmati kenaikan saham 2.1% saat pegolf professional Nancy Lopez bergabung kesana.

The Economist menyebutnya “celebrity effect”. Hipotesanya: exposure yang diberikan seorang artis menciptakan ketertarikan public dan secara tidak langsung membuat investor memiliki kepercayaan untuk berinvestasi disana.

Intinya kita tidak usah heran apalagi sirik melihat pengangkatan Raline. Semua pasti ada hitung-hitungan bisnisnya. Terbukti pengangkatannya langsung menjadi trending topic dan membuat netizen membicarakan AirAsia.

At least masih mending AirAsia menggandeng Raline dan bukan Mbak Awkarin.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cerita Sederhana Tentang Laki-laki Tua yang Meninggalkan Ibu Saya

Kemarin Bapak pulang. 1 Agustus 2017, jam 6.30 malam.

Bapak pulang setelah menuntaskan tugasnya selama 71 tahun: menjadi makhluk Tuhan yang baik.

Saya percaya Bapak pulang tidak dengan tangan hampa. Ada sayap-sayap kebaikan yang menemaninya.

“Bapak seneng banget ngelihat petani binaan Bapak sudah sukses”. Saat itu ia bercerita ketika pulang nostalgia dari Sulawesi Selatan.

Keluarga kami memang pernah menetap belasan tahun disana. Saat Bapak jadi kepala dinas perkebunan. Usaha Bapak keluar masuk hutan membuahkan hasil.

Sekarang mantan staff-nya ada yang jadi Bupati, petani binaannya yang dulu miskin kini punya mobil bagus, daerah yang dulunya terbelakang, kini maju agri business-nya.

Saya masih ingat saat solo traveling ke daerah itu waktu masih mahasiswa. Orang2 sangat menghormati nama Bapak. Saat saya pulang, mereka berebut memberikan sangu dan oleh-oleh.

Pelajaran yang saya terima: kita akan bahagia saat membuat orang lain bahagia.

Warisan Kenangan

Bagian tersedih dari kehilangan orang yang kita cintai adalah saat kenangan indah bersamanya masih melekat di hati.

Otak kita seperti memutar film klasik, dimana kita hanya bisa menonton tanpa pernah bisa menginterupsi.

Saya masih bisa Continue reading Cerita Sederhana Tentang Laki-laki Tua yang Meninggalkan Ibu Saya

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Be Aware of “Event Bait” from Lazada!

 

In digital world, there is word called “click bait”. It’s a term where someone uses interesting fake image or hyperbolic title just to allure people to click. For example: using sexy girl image in video containing grave punishment (siksa kubur). Kaskus give it cool nickname: jebakan betman, Batman trap.

My own experience is more than click bait. It’s even worse: event bait. It was started when I saw an event in Eventbrite platform: Lazada Marketing Solution launch. Since I’m looking for alternative advertising platform beside of Google and Facebook, I keen to join the event.

So I signed up and received confirmation from Eventbrite. I also received reminder one day before event. Everything is normal and I can’t smell something fishy.

Event Bait

On the event day, since the invitation is 12:00 AM I arrived around 12:05 AM. I was fasting (it was Thursday) and didn’t think to get some “free lunch”. I just want to register, sholat, and join the party to fulfill my curiosity.

I was shocked when I was rejected in the registration booth! Continue reading Be Aware of “Event Bait” from Lazada!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail