Tag Archives: yogaps

Tiga Penyesalan Dalam Kehidupan

Untuk Yoda, yang hari ini berkepala tiga. 

Seperti biasa, doa saya sebagai orang tua: Semoga nanti, kamu mati dengan bahagia. 

Untuk apa hidup makmur dan panjang umur, tapi mati dalam keadaan ngawur? Bukankah orang yang khusnul khotimah, hidupnya pasti akan penuh hikmah?

Sebagai hadiah ulang tahunmu, kali ini kita akan membahas penyesalan. Apa itu? Sesal adalah emosi yang berwujud keinginan untuk mengubah tindakan yang sudah kita lakukan. “Andai saja saya melakukan ini itu…”.

Penyesalan adalah respon yang manusiawi. Karena kita tak pernah tahu kepastian masa depan. Dan manusia juga rawan berbuat kesalahan. Maafkan.

Sesal lahir terkait dengan kedaaan yang tidak sesuai harapan. Karena itulah manusia ingin mengulang keputusan yang telah diputuskan, ucapan yang telah diucapkan, rencana yang sudah menjadi aksi nyata.

Akan ada tiga jenis penyesalan yang paling menyesakkan dada. Setidaknya berdasarkan pengalaman saya. Semoga kamu bisa mengambil hikmah darinya. Apa saja? Continue reading Tiga Penyesalan Dalam Kehidupan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prinsip-prinsip Sukses Dalam Hidup [Principle by Ray Dalio]

Ray Dalio adalah founder dari ‘hedge fund’ Bridgewater. Apaan tuh Bridgewater alias jembatan air?

Anggep aja dia dukun yang bisa menggandakan duit investor lewat investasi di pasar keuangan (saham, obligasi, index dll).

Saat udah tua, si Ray Dalio tiba-tiba kepikiran: “Anjir, koq gw bisa tajir melintir ya?”

Setelah dipikir-pikir, ia merasa karena punya kebiasaan membuat ‘principle’ dalam kehidupan dan pekerjaan.
Ray Dalio percaya jika semesta adalah mesin raksasa. Yang perlu kita lakukan biar sukses ya menerapkan sistem dan algoritma yang tepat.

Nah, berhubung udah ga butuh duit, ia lalu membagikan prinsip hidupnya dalam buku ini: Principle.

Males baca atau ga punya bukunya? Bisa temukan slide-booknya disini ya:

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apakah Sebaiknya Kita Membeli PlayStation 5?

Mungkin ini kabar game-bira bagi gamers sedunia. Hampir sama pentingnya dengan penantian vaksin Corona. Penantian itu terjawab, Playstation kini punya cicit. Seri kelima dari console paling laris itu akan dirilis akhir tahun ini.

Design-nya cool dan futuristik. Pasti sexy kalo dibikin kartun Moe-nya. Dukungan hardware-nya mumpuni. Gawe-game kelas dewa siap beraksi.

Pertanyaannya: apakah gamer seharusnya membeli PS5?

Mungkin pertanyaan yang agak absurd. Karena kembali ke individu masing-masing. Kalau situ gamers dan punya duit ya silahkan beli. Klo missqueen bisa main sambil ngimpi aja lewat streaming youtube. Klo dhuafa quota mungkin waktunya beralih ke gobak sodor.

Pertanyaan ini muncul karena saya pribadi ingin membelinya. Tapi kemudian ada satu masalah muncul: berapa nilai dari memiliki PS5?


Nilai disini bukanlah harga beli. Tapi sejauh mana kepemilikan barang itu memberikan utility value (nilai pakai) dan return on investment (imbal balik investasi) jika barang yang dibeli adalah asset yang diharapkan memberikan keuntungan.

Ribet amat hidup lu cuk?

Oh jelas. Ini karena pengalaman saya membeli laptop gaming pada 2014. Harganya 8 juta. Tapi ternyata sangat jarang dipake nge-game! Dari 2014-2019, saya hanya memakainya untuk bermain game tak lebih dari 48 jam (dari manifes akun Steam).

Karena itu untuk menghitung nilai guna suatu barang, kita bisa mengevaluasi dengan dua rasio: 

  1. Utility value = acquisition cost / usage
  2. Opportunity cost value = berapa nilai yang kita dapatkan jika menggunakan sumber daya yang ada untuk kegiatan yang lain

Continue reading Apakah Sebaiknya Kita Membeli PlayStation 5?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apakah Anda Ingin Hidup Bahagia?

Namanya Hendhi. Driver Gojek yang saya temui siang tadi. Nama tambahan di kontak handphone saya: Hendhi baik hati. 

Karena Ia memang berhati baik. 

Pada pertengahan Mei lalu, Ia diminta mengantar paket sembako. Penerimanya adalah seorang mahasiswa. 

Paket itu diterima dengan air mata. Karena ternyata Ia sedang kesusahan. Kekurangan bahan makanan. Tertahan Covid-19 yang merepotkan.

Tak tega melihat kondisi mahasiswa itu, Hendhi mengratiskan ongkos kirim. Ditambah beberapa hari kemudian datang lagi untuk membantu. Memberikan uang saku.

Hendhi lalu curhat ke media sosial. Dan menjadi cerita yang viral.

Hari ini saya sedih banget nganter gosend bahan pokok Beras + Nasi + Telur buat mahasiswa.Mereka kehabisan bekal untuk makan dan mereka gak bisa pulang ke kampung. Mulai hari ini saya buka FREE ONGKIR area jogja khusus mengantar bahan pokok untuk yg membutuhkan”

Cuitannya menginspirasi banyak orang. Ada yang tergerak melakukan penggalangan dana, untuk membantu mahasiswa yang kesusahan di luar sana. Ia juga tetap membantu aksi berbagi selama pandemi. Tentu dengan kapasitasnya sebagai driver Gojek: mengikhlaskan ongkos kirim yang ia miliki. 

Tapi yang membuat saya penasaran, apa yang Ia dapatkan dengan melakukan kebaikan? Continue reading Apakah Anda Ingin Hidup Bahagia?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Detik yang Menentukan

Jika Anda punya resolusi yang belum dicapai tahun ini, maka santai saja. Anda tidak sendiri.

Tapi kira-kira apa yang membuat orang belum mencapai target mereka? Dugaan saya: banyak dari kita yang belum memulai.

Contohnya jika saya punya mimpi jalan-jalan ke Eropa. Saya sudah menuliskannya ke resolusi. Tapi hanya menulis mimpi “jalan-jalan ke Eropa” punya dua permasalahan fundamental.

Pertama, mimpi itu terlalu abstrak dan tidak jelas. Eropa adalah daratan seluas 10,18 juta kilometer persegi. Saya juga tidak menjelaskan berangkat kapan, sendiri atau ikut grup, dan kapan kembalinya.

Kedua, target itu terlalu ‘besar’ tanpa road map yang jelas. Tak ada strategi dan rencana aksi. Bagaimana bisa pergi ke Eropa jika saya tidak tahu apa yang harus dilakukan?

Tanpa ada road map untuk memulai dari mana, kita hanya berputar-putar dalam wacana pergi ke Eropa tanpa mampu mengubahnya menjadi tindakan yang konkret (ujung-ujungnya cuma ke Gembira Loka).

Untungnya pakar strategi punya solusi. Kita harus menciptakan objective yang jelas, disertai key result yang bisa diukur. Itulah fungsi OKR. Objective and key result.

Setelah itu OKR dituruhkan jadi action plan. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan. Misal tiga langkah awal ‘Liburan ke Eropa’ adalah:

1. Menentukan tujuan negara dan waktu jalan-jalan

  1. Melakukan survey tiket dan perkiraan biaya
  2. Membuka tabungan khusus

Apakah dengan membuat daftar aksi maka mimpi kita akan terjadi? Tidak semudah itu ferguso!

Prefontal cortex otak kita akan melakukan kalkulasi dan sugesti:

“Emang lu mampu? Hidup masih mulung juga. Mending ditabung cuk… “

Apa yang harus kita lakukan saat menghadapi kondisi seperti ini?

5 Detik

Mel Robbins punya jawaban sederhana: gunakan kekuatan meta-kognisi kita. 

Mahluk apa pula itu meta-kognisi? 

Bahasa sederhananya sih insting. Gunakan pikiran kita untuk mengarahkan insting bertindak. 

Gunakan #5SecondRule.

Premisnya sederhana: 

If you have an instinct to act on a goal, you must physically move within 5 seconds or your brain will kill it.

Jika kita ingin melakukan sesuatu dan setelah 5 detik masih kebanyakan mikir, besar kemungkinan tindakan itu ga jadi kita lakukan.

Contohnya waktu mau nanya nomor telpon cewek/cowok cantik di jalan. Kita ingin sekali bertindak tapi pikiran prefontal cortex kita mencegah:

“Nanti klo ga dikasih gimana? Malu ga sih? Emang siapa situ koq sok kenal?”

Kebanyakan mikir malah ga jalan.

Yang perlu kita lakukan sederhana banget. Berhitung 5..4…3…2..1 dan… berhenti mikir! Langsung gerak samperin dia! Pokoknya harus action! Ga usah dipikir konsekuensinya!

Itulah seni #5SecondRule. Seperti launching roket, kita menggunakan 5 detik untuk memusatkan tindakan dan menghiraukan pikiran sadar kita sendiri. Pokoknya pakai insting untuk melakukan sesuatu.

Aturan ini bisa dipakai saat kita takut memulai sesuatu yang baru, atau ragu-ragu dalam bertindak. Termasuk soal pemenuhan resolusi diri sendiri. 

Banyak orang tidak bisa mencapai target yang mereka inginkan karena mereka belum mulai BERGERAK untuk mencapainya.

Padahal kata kuncinya sederhana: Mulai aja dulu. Just do it.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Akan Tiba Suatu Masa

Akan tiba suatu masa, saat kita menjadi tua.

Kulit jadi keriput, mata menjadi rabun, postur menjadi bungkuk. Apapun perawatan yang kita lakukan, ternyata tak akan mampu menahan musuh bernama penuaan.

Saat itu terjadi, konon hal-hal yang kita anggap penting saat ini, tidak lagi terlalu berarti.

Cerita tentang kerja, akan berganti menjadi kenangan masa muda. Kebanggaan pencapaian, sepertinya berubah menjadi sebuah kecapaian. Obrolan-obrolan kesuksesan, akan berganti menjadi tips kesehatan.

Katanya akan tiba suatu masa, ketika kita merindukan masa kecil kita sendiri.

Mengingat hangatnya pelukan Ibu, resahnya kita karena amarah Ayah, atau senangnya kita mendapat uang jajan dari Kakek Nenek yang sekarang sudah pergi dan tiada. Apakah benar harta terbesar itu bernama keluarga?

Kita merindukan fase kehidupan saat semuanya hanya tentang permainan. Belum ada tuntutan. Belum ada cicilan dan tagihan. Belum ada perbandingan dengan teman satu angkatan. Semua begitu menyenangkan.

Konon akan tiba suatu masa, saat kita tahu siapa sebenarnya teman-teman dekat kita.

Bukan mereka yang mendadak akrab saat kita hidup dalam kemudahaan. Tapi mereka yang selalu tersenyum dan membuka pintu meski kita sedang dalam kesusahan.

Teman terbaik memiliki kuping sebesar gajah Afrika, tapi anti bocor seperti kondom Amerika. Mereka akan menampung semua rahasia yang kita berikan saat bercerita, dan takkan menggosipkannya di dunia maya.

Pada akhirnya tiba suatu masa, dimana jiwa akan berkenalan dengan cinta.

Meski awalnya cinta bertamu sebagai nafsu. Namun berkat sang waktu, kekaguman berubah menjadi penerimaan. Karena ternyata dia yang awalnya kita anggap begitu sempurna, ternyata menyebalkan dan punya dosa seluas angkasa.

Kita pada saatnya akan mengerti. Bahwa cinta itu tentang belajar mengerti, dan takkan pernah memiliki. Karena seperti dunia ini, tak ada cinta yang akan abadi.

Akan tiba suatu masa, orang yang kamu cintai sedang berulang tahun.

Seperti saat ini, 29 Oktober. Tanggal ulang tahun istri saya sendiri.

Inilah saatnya.

Sekarang waktunya.

Izinkan saya berdoa:

Semoga kami bisa menghabiskan hari tua, pada suatu masa.

happy family
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ini Yang Saya Lakukan Untuk Bekerja Hanya 4 Hari Dalam Seminggu

freepik.com

Apa trend kerja yang patut kita coba di 2020?

Flexy hours? Udah basi.

Remote working? Biasa bingits.

Boleh pakai baju bebas termasuk celana pendekan? Itu Inovasi zaman vintage kawanku.

The new trend is: less workdays!

Semoga bos saya tidak membaca artikel ini. Tapi saya harus membuat pengakuan dosa: Saya hanya bekerja 4 hari dalam seminggu!

Tentu ada banyak faktor kenapa bisa kejadian.

Karena kebetulan saya belajar di perusahaan yang mementingkan hasil. Kebetulan budaya kerjanya bebas mau remote working, work from home, atau pakai sendal jepitan ke kantor. Kebetulan saya tidak berada di divisi yang membutuhkan kehadiran fisik sepanjang waktu.

Ritual less workdays ini terinspirasi dari buku jadul (tahun 2007) yang ditulis Tim Ferriss: 4 Hours Workweek.

Doi mengusulkan solusi yang pasti dicintai semua umat manusia:

a. Kerja cuma 4 jam seminggu

b. Nganggur-senganggur-nganggurnya

c. Tetap dapat duit buat keliling dunia

Secara logika sangat bisa dilakukan dengan:

  1. Menciptakan bisnis dengan sistem yang mapan
  2. Pastikan pengeluaran lebih kecil dari pendapatan

Tim menawarkan perspektif yang berbeda tentang kekayaan. Menurut dia, orang kaya itu bukan orang yang punya banyak uang. Orang kaya adalah orang yang memiliki komuditas yang tak mungkin diciptakan oleh manusia: waktu.

Orang kaya adalah orang yang punya waktu untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan.

Bagaimana caranya?

Framework yang Ia tawarkan adalah D-E-A-L.

D untuk Definition. Tentang mengubah mindset bahwa kekayaan itu bukan berbentuk harta. Tapi waktu yang terekam dalam bentuk ‘moment’. Buat apa punya 1 juta dollar di bank tapi ga pernah menikmati 1 juta dollar itu? Percuma punya villa tapi ga pernah tinggal di villa itu.

E untuk Elimination. Pentingnya hidup ‘sewajarnya’. Minimalis. Tapi bukan missqueen. Ini tentang meninggalkan ‘ilusi kebahagiaan’ berupa kepemilikan barang, penguasaan informasi, status, dan persepsi orang lain terhadap kita.

A untuk Automation. Bagaimana membangun sistem bisnis sehingga Anda tak perlu mengurus bisnis itu sendiri, kekuatan outsourcing, dan pelajaran MBA – Management by Absence.

L untuk Liberation. Berisi tips-tips praktis agar bisa ‘menghilang’ dari kantor tanpa diketahui bos, cara mendapatkan asisten virtual, sampai saran psikologis jika kita sudah menjadi manusia nomad yang bingung harus ngapain untuk mengisi waktu sehari-hari. Menjadi pengangguran berduit ternyata berbahaya secara psikologis!

Aplikasi Saya

Karena saya masih belajar ikut perusahaan orang, tentu ga bisa ekstrim kerja hanya 4 jam. Kecuali klo saya kawin ama nenek investornya yah…

Yang bisa saya lakukan: mengurangi hari kerja menjadi 4 hari. Dengan metode sederhana:

Design and delegate. Di awal tahun, membuat strategi dan action plan aktivitas yang akan dilakukan selama 6 bulan kedepan. Propose ke bos. Approve? Lanjut ke fase delegation. Kira-kira siapa vendor yang bisa mengeksekusi project ini. Dalam day to day basis, fungsi kita hanya sebagai kontroller dan evaluator.

Eliminate. Membuang pekerjaan yang gak berdampak. Penyakit orang kantoran: menganggap banyak kerjaan itu baik. Padahal aslinya biar kelihatan kerja doank. Output tidak sama dengan outcome. Cari critical output yang menghasilkan outcome paling besar.

Automate. Untuk reporting saya menggunakan automate queries. Inilah manfaat belajar data science. Sehingga setiap minggu sistem akan mengirimkan market performance secara otomatis untuk dianalisa. Report juga harus dibikin sederhana. Hanya satu halaman. Analisa detail bisa ditaruh dalam appendix.

Learning. Tim saya membuat perjanjian: sisihkan satu hari dalam seminggu untuk meninggalkan pekerjaan dan fokus untuk belajar. Apa saja. Ga harus berhubungan dengan urusan kantor. Kelihatannya tidak produktif. Tapi percayalah, karyawan yang terus belajar akan menghasilkan metode-metode baru yang pada ujungnya meningkatkan produktivitas perusahaan.

Dengan menerapkan 4 hari kerja saya merasa:

  1. Terpacu untuk bekerja lebih efektif dan efisien
  2. Mengurangi beban pikiran dengan tidak memikirkan ‘low impact activities’
  3. Merasa menjadi manusia yang lebih baik dengan terus belajar sepanjang waktu

Gimana. Penasaran mau coba? Inget pesen Oom Tim:

Most things make no difference. Being busy is a form of laziness—lazy thinking and indiscriminate action. Being overwhelmed is often as unproductive as doing nothing, and is far more unpleasant. Being selective—doing less—is the path of the productive. Focus on the important few and ignore the rest.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pesawat Oleng, Kapten!

Bayangkan Anda seorang kopilot penerbangan.

Apa yang akan Anda lakukan jika pilot pesawat tiba-tiba terkena serangan jantung?

Bingung? mungkin. Gugup? bisa jadi. Panik? manusiawi. 

Tapi ada 200 juta penumpang yang menggantungkan harapannya kepada Anda. Pesawat harus tetap terbang. Harus bisa mendarat. Dengan selamat.

Untungnya kopilot itu adalah B.J Habibie. Seorang pencipta pesawat yang sangat mencintai penumpangnya, rakyat Indonesia.

Pesawat oleng, Kapten!

Situasi politik memanas. Lawan politiknya mempertanyakan kredibilitasnya dan memaksa ia mundur.

Dalam ‘Detik-detik yang Menentukan’ (2006), putra terbaik bangsa kelahiran Pare-pare itu menulis:

“Adalah wajar jikalau kaum intelektual pada umumnya dan para elit politik khususnya, tidak memberi kepercayaan dan memiliki prasangka negatif terhadap kepemimpinan saya.

Saya mungkin dianggap sebagai kroni dan ‘kaki tangan Soeharto’ yang tidak memeiliki wawasan dan kemampuan sendiri, kecuali mengikuti perintah dan petunjuk Pak Harto”.

Zugzwang

Habibie mengalami keadaan ‘Zugzwang’. Istilah Jerman dalam permainan catur dimana keadaan terjepit memaksa kita harus mengambil keputusan sulit.

Ekonomi sedang krisis (inflasi sampai 60%). Nilai tukar terpuruk (sampai 15 ribu). Ditambah rendahnya kepercayaan dari ‘penumpang pesawatnya’ sendiri. Politik sangat tidak stabil.

Untungnya Tuhan masih memberinya akal sehat. 

“…sangat saya sadari bahwa guru yang paling kuat memengaruhi proses kebijakan saya adalah ‘otak sehat’ saya sendiri”.

Ia mulai mendata permasalahan yang ada, berkonsultasi dengan para ahli, dan berani mengeluarkan keputusan berani. Yang penting baik bagi bangsa ini.

Contohnya? 

Dalam bidang ekonomi, untuk memulihkan rupiah yang tertekan Ia ‘mengeluarkan’ Bank Indonesia (BI) dari jajaran kabinet. BI harus punya power! Harus independen dan membuat kebijakan berdasarkan akal sehat. Selama BI duduk dalam kabinet, maka sangat rawan menjadi sapi perah politikus.

Habibie membebaskan tahanan politik yang berseberangan dan mereformasi dunia pers. Membuat Indonesia menjadi negara yang sangat demokratis, bebas berpendapat, dan semua orang bebas mendirikan media. Sesuatu yang tabu untuk dilakukan selama 32 tahun Mbah Harto berkuasa.

Selain itu ia mempersiapkan ‘infrastruktur politik’ untuk Indonesia pasca reformasi. Mulai dari mendorong desentralisasi dengan konsep otonomi daerah, reformasi dwi-fungsi ABRI, hingga persiapan pemilihan Presiden langsung yang bisa kita nikmati pada pemilu 2014.

Tak Sempurna

Tentu ada beberapa kebijakan beliau yang dikritik sehingga pertanggungjawabannya ditolak saat sidang istimewa MPR.

Dalam hal ini pun beliau mengakui. Jika membaca konsep ‘problem solving’ yang ia pakai selama hidup, kita akan mengerti (saya sarikan menjadi tiga besar):

  1. Dalam kehidupan, tidak ada masalah yang dapat diselesaikan secara sempurna
  2. Semua penyelesaian masalah harus diselesaikan dengan pendekatan aproksimasi dimulai A-1 sampai A-X
  3. Keputusan harus diambil. Dan terkadang justru lebih menguntungkan untuk mencoba pendekatan baru. Misal dari strategi A-1 ke strategi B-1

Termasuk soal Timor-timor. Pendekatannya sangat sederhana. Saat menerima Uskup Belo, beliau bertanya: 

“Apa yang dapat saya laksanakan untuk memenuhi keinginan rakyat Timtim?”

Semuanya tentang akal sehat dan kemanusiaan. Tak ada niatan untuk memikirkan kekuasaan, atau mengambil keputusan berdasarkan tekanan. Yang penting harus menghasilkan kebaikan.

Habibie selalu mengingat almarhum Bapaknya yang meninggal sewaktu memimpin shalat Isya bersama keluarga. Saat Habibie baru berusia 13 tahun. Karena itu Ia selalu mengembalikan semua urusannya kepada Sang Pencipta.

“Saya pasrah terima apa adanya dan dengan tenang menghadapi semuanya tanpa bertanya: Kenapa? Mengapa? Bagaimana? Karena semua saya laksanakan dengan iktikad dan niat membantu memperbaiki nasib dan masa depan bangsa Indonesia yang saya cintai”.

Kita takkan mungkin melupakan jasa beliau yang berhasil membawa pesawat raksasa bernama Indonesia melewati turbulensi reformasi. Saya hanya bisa berdoa agar semakin banyak ‘the next Habibie’ yang membuat keputusan berdasarkan akal sehat dan berlandaskan kebaikan kemanusiaan.

Auf Wiedersehen Kapitän. Selamat jalan Kapten!

https://www.traveller.com.au
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Membaca Buku 300 Halaman Dalam 2 Jam

Jika ada pilihan: mendapat 5 kg emas atau 5 kg buku rahasia mendapatkan emas. Kira-kira mana yang Anda pilih?

Jika memilih emas, maka saya menduga situ belum jadi orang kaya. (Klo udah kaya ga butuh emas lagi donk haha)

Konon orang yang benar-benar kaya biasanya tahu jika knowledge capital lebih penting dari monetary capital

Warren Buffet menghabiskan 80% waktunya untuk membaca. Qorun berkata jika kekayaannya didapat karena ilmu yang dimilikinya. Sayyidina Ali pernah berpesan: pilihlah ilmu dibanding harta. Karena jika kita memilih harta, kita harus menjaganya. Sedangkan jika kita memilih ilmu, ilmu yang akan menjaga kita.

Tentu yang terbaique adalah mendapatkan keduanya. 

Karena itu bekal yang diberikan Arkad, orang terkaya di Babilonia kepada anaknya, Nomasir. Ia menyuruh anaknya berkelana dan memberinya dua modal: 3 kantong emas dan 5 lempengan tablet berisi kebijaksanaan dalam mencari kekayaan..

Singkat cerita, emasnya habis tidak tersisa. Dan berkat rezeki Tuhan ditambah petunjuk dari tablet (tanah liat, bukan ipad)  itulah sang anak bisa kembali ke ayahnya dan membawa lebih banyak keuntungan. Harus ditambahin cap Tuhannya cuy biar ga dibilang kapir hehe.

Saya ga akan cerita rahasia yang ditulis Arkad. Anda bisa baca sendiri dalam The Richest Man in Babylon karya George Clason.

Saya cuma mau cerita: kita tahu membaca itu penting, tapi bagaimana bisa menyelesaikan buku dalam waktu yang terbatas?

Karena itulah saya iseng-iseng mengikuti training membaca cepat. Katanya sih menjamin buku 300 halaman bisa dituntaskan hanya dengan 2 jam, dengan 100% pemahaman, plus bisa bikin mindmap isi bukunya.

Biaya training full-nya 3 jutaan rupiah. Saya cuma ikut yang setelah hari. Bayar ratusan ribu. Dalam tulisan ini saya akan coba sarikan agar Anda ga perlu bayar sepeser pun. Cukup bayar pake doa hehehe.

Ini dia 3 rahasia membaca 300 halaman dalam waktu 2 jam:

Rahasia 1: Rombak Mindset

Kemalasan orang dalam membaca biasanya terletak pada mindset atau pola pikir. Contohnya:

  1. Membaca itu harus dari awal sampai akhir
  2. Membaca = sekolah
  3. Membaca = belajar

Ini adalah hasil didikan bertahun-tahun dimana kita dibiasakan hanya membaca di sekolah. Buku yang dibaca pun hanya buku pelajaran. Dan dirumah ga ada buku hiburan.

Mindset yang perlu ditanamkan:

  1. Membaca itu memuaskan rasa penasaran
  2. Buku yang dibaca ga harus berat
  3. Kita bebas membaca sesuai dengan gaya kita

Saya pernah menolak calon staff di bidang marketing karena bacaan. Waktu interview saya tanya:

“Buku marketing apa yang terakhir kamu baca?”

Setelah loading 30 detik, dia menjawab “Kotler”. 

Rahasia 2: Jangan Dibaca Semua! Baca yang Penting dengan Cepat!

Ini kunci utamanya. Buku bukan kitab suci. Ia hanya alat untuk menyimpan informasi. Kenapa ga perlu semua? Karena buku setebal 300 halaman biasanya berisi 90rb kata. Jika Anda ingin baca semua, dengan kecepatan kata per menit 200, maka butuh waktu sekitar 8 jam.

Itu full konsentrasi 8 jam. Belum memperhitungkan gangguan, distraksi, atau rasa bosan menghampiri. Ini yang membuat orang malas menuntaskan sebuah buku. Kesannya lama dan berat.

Lha terus piye ngerti isi bukune klo ga perlu dibaca semua? Step by stepnya seperti ini:

  1. Berdoa sebelum membaca. Mintalah kemudahan kepada Tuhan
  2. Pastikan posisi baca ergonomis dan kondisi nyaman +  rileks
  3. Start with Why. Kenapa kita ingin baca sebuah buku
  4. Find What. Baca daftar isi. Cari bagian yang ingin kita ketahui
  5. Pake metode skimming / speed reading / photo reading. Klo saya: Hanya baca paragraph awal/akhir, dan perhatikan ide kunci dari sebuah paragraph..
  6. Tingkatkan Kata per menit (KPM). Semakin tinggi KPM Anda, semakin cepat kelar bacanya. Ini masalah jam terbang. Ga usah dipikir. Semakin sering baca, KPM semakin tinggi.
  7. Membaca untuk mengeksplorasi. Coret-coret bagian yang Anda anggap penting. Tulis ide inti yang ingin disampaikan penulis. Tinggalkan bookmark untuk dibuka lagi. Jika menggunakan kindle, gunakan fungsi highlight/notes sebanyak mungkin.
  8. Ga usah dipaksa. Dibawa enjoy aja. Tapi tetapkan target minimal 1 bab. Kenapa? Agar agar progress. Biasanya ga lama koq. Antara 5-10 menit tergantung RPM dan kecanggihan kita dalam skimming 
  9. Setelah selesai 1 buku biarkan mengendap sehari

Rahasia 3: Membaca Untuk Mencari dan Berbagi

Ilmu terkadang seperti adonan. Ia perlu diendapkan agar masuk ke alam bawah sadar. Setelah diistirahatkan, maka ilmu perlu dikembangkan.

Sehari setelah dibaca cepat, maka kita WAJIB ‘mengikat makna’ (meminjam istilah almarhum Hernowo) isi buku yang kita baca.. Karena percuma juga membaca 1000 halaman tapi ga ngerti apa yang kita baca.

Cara paling mudah. Tulis dalam mindmap. Klo naik level bisa dalam bentuk artikel. Ga perlu berat2. Bisa kaya artikel ga penting seperti yang Anda baca ini. Klo punya banyak waktu, bisa sharing dalam bentuk video.

Percayalah, bagian terpenting dari proses belajar adalah mempraktikkan apa yang kita pelajari. 

Pengetahuan baru menjadi kebijaksanakan setelah dilaksanakan. Dan satu paragraf ilmu yang dipraktikan jauh lebih berharga dari 1.000 halaman buku yang hanya dihafalkan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail