Kenapa Saya Belum Tertarik Menggunakan Jasa Bank Syariah?

Kebetulan saya sedang mencari tempat penitipan safe deposit box. Buat naruh kertas-kertas aja sih. Karena dirasa jika hanya ditaruh di lemari, risiko tetap tinggi. Kenapa ga ‘disekolahkan’ ke lembaga keuangan? Alhamdulilah belum butuh pinjaman dengan agunan. Hipotesa saya sementara terbukti: hidup bakal damai jika tidak perlu mikir cicilan setiap hari hihihi.

Awalnya saya ingin coba ke salah satu bank syariah terbesar. Yang baru merger itu. Yang jika temen-temen beli sahamnya pada Maret 2020, maka sekarang bisa menghasilkan profit ten bagger kalo kata Peter Lynch. 

Saya coba iseng-iseng tanya via DM twitter. Apakah bank sholeh ini punya jasa safe deposit box? Jawabannya bikin istighfar. 

“…kami informasikan perihal safe deposit box dapat kakak lakukan konfirmasi melalui kantor cabang ******* terdekat ya kak.”.

Lah bijimane, kan situ official socmed bank-nya. Masa saya harus cek fisik juga. Kan udah jaman now.  Padahal saya cuma mau tahu bank ini punya layanan itu nggak? Jika iya, syaratnya apa biayanya berapa? Emang ga ada training product education? 

Ini mirip misalnya saya mau beli chicken nugget, terus tanya ke socmed resto cepat saji yang jual ayam goreng. “Halo… Situ kan jual ayam goreng dada, jualan nugget juga ga?“

“Bisa di cek dengan datang ke resto terdekat ya”.

Oh baique. Mungkin ini teknik NLP terbaru untuk mempercepat closing. Dengan memberikan sugesti bagi calon konsumen melakukan direct action. Dan terbukti saya terdorong untuk datang beneran dong! Hanya untuk mendapatkan product information. 

Sampailah saya di kantor bank itu. Wah koq ada polisi? Eh ternyata sekarang teman-teman security bajunya sama-sama coklat hehe. Semoga pelayanannya sama-sama ramah ya ^_* ting.

“Saya mau buka safe deposit box”.

“Oh baik, silahkan tunggu di ruangan deposit box”. Kata Pak security dengan ramah. Sambil mengantarkan saya ke ruangan pojok di lantai 1.

Wah mantap juga nih servisnya. Orang mau tanya-tanya aja udah disuruh duduk di lounge. Terus ada jus buah kotakan dan minuman. Padahal saya hanya pakai kaos dan celana pendek murahan. Feels like a boss nih.

Saya menunggu sekitar 5 menit. Lalu datang Abang-abang membawa kunci. Membuka pintu kayu, lalu membuka pintu kedua berlapis logam dengan teralis jeruji besi sebagai pengaman.

“Silahkan dibuka safe depositnya Pak’. katanya ramah.

Waduh.

“Lho, saya mau tanya cara buka layanan safe deposit box Mas, bukan buka safe deposit box-nya. Saya belum jadi nasabah”. Jawab saya jujur.

Mas-nya sepertinya agak tengsin. Mungkin ngebatin: ngerepotin 15 menit dari hidup gw aja lu cuk!. Mas-nya dengan sabar lalu menjelaskan jika safe deposit bank sholeh ini hanya terbuka bagi kaum ‘The Have’. Nasabah prioritas. Kaum terpilih dengan nilai saldo mengendap sekian xxx selama setahun. Bukan untuk kaum peasant seperti saya.

Atau pilihan keduanya: mengendapkan dana sekian puluh juta selama setahun dan membeli cicilan emas sekian gram. Total jika saya hitung, butuh biaya 35 juta hanya agar bisa diperbolehkan menyewa safe deposit box dengan biaya 500 ribu.

Tentu saya langsung mengambil jurus pikir-pikir dulu. Tancap gas dan coba membandingkan dengan bank ribawi yang hanya berjarak 1,5 km dari bank sholeh tadi.

Ndilalah di bank ribawi, layanan-nya lebih terjangkau. Hanya 500 ribu / tahun, dengan uang jaminan kunci 750 ribu. Penyewa juga tidak diperlukan menjadi nasabah prioritas. Karena jatuhnya hanya mirip sewa tempat. Tak peduli siapa Anda, selama bisa bayar dan masih ada tempat ya silahkan dipakai.

Untuk bisa masuk ke ruangan penyimpanan di bank ribawi juga lebih ketat. Hanya pemilik rekening atau ahli waris yang ditunjuk yang bisa masuk, meskipun ada orang lain yang mengaku membawa kunci asli. Gak bisa asal nongkrong seperti yang di bank sholeh tadi.

Jadi ketahuan kan kenapa saya terpaksa memilih bank ribawi dibandingkan bank syar’i. Bukan karena layanan bank ribawi lebih terjangkau, lebih ribet protokol masuknya, atau saya sudah punya baju fire resistant yang anti api neraka.

Tapi ya karena duit saya belum banyak banget, mau gimana lagi?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

6 Pelajaran dari 6 Tahun Pernikahan

Pada hari ini Pipi Kentang dilahirkan beberapa abad yang lalu (biar ga disclosure umur). Tak terasa sudah 6 tahun saya menggaulinya (ampun bahasa lu cuk!). Setelah insiden ‘pernikahan digoreng dadakan’ yang tak disengaja. Tanpa lamaran, tanpa foto pre-wed, tanpa cincin kawin, dan menggunakan penghulu non KUA. Cuman modal mahar 300 ribu pula.

Menjalani pernikahan selama 6 tahun tentu memberi banyak pelajaran. Saya akan membagikan 6 point diantaranya:

#1 Skill terpenting bukanlah komunikasi

Kata konselor pernikahan, kunci kelanggengan adalah komunikasi. Bah ngaco tuh! Skill terpenting yang perlu dikuasai semua pria adalah: skill meminta maaf!

Saat berdebat atau terjadi konflik dengan istri, lupakan negosiasi. Lupakan problem solving. Lupakan presentasi. Lupakan root cause analysis. Lupakan retorika. Pokoknya istri wajib benar, selalu benar, dan pasti akan benar!

Karena itu jurus terampuh adalah mengucapkan kalimat: “Oh iya, maaf ya.”

Case closed.

#2 Siapkan Budget Skin Care yang Semakin Besar

Ini POS PENGELUARAN YANG PASTI MEMBESAR SETIAP TAHUN. NYAINGIN DANA PENDIDIKAN. Dulu waktu awal merried, Pipi Kentang cuman punya skin care di pouch kecil. Tapi pouch beranak jadi tas, lalu berkembang biak jadi rak, terus berevolusi jadi lemari. Nah loh!

Waspadalah para suami! Anti aging itu mahal Jendral!

#3 Bersabarlah Dengan Hobi Emak-emak

Sejak pindah ke Jogja, Pipi Kentang jadi hobi beli tanaman. Macam-macam. Ada episcia, lavender, anthurium, monstera deliciosa, dan masih banyak tanaman yang tak saya tahu namanya. Pernah saya sensus, di awal ada sekitar 130-an. Lha masih sering beli lagi!

Padahal rumah kami luas tanahnya hanya 250 meter persegi. Dan tanaman-taman ini ada dimana-mana. Mulai dari ruang makan, tempat nonton, working station, sampai kamar mandi! Kata kakak yang main ke rumah: “Wah, berasa di kebun raya ya”.

#4 NKRI Harga Mati

Saat membeli barang, kira-kira siapa decision maker-nya? Tergantung barangnya sih, tapi mayoritas Pipi Kentang akan punya hak veto jika tidak sesuai keinginannya. Pokoknya NKRI harga mati! Ngikut Keinginan Rencana Istri. Berani nolak? Oh siap-siap aja ada yang ngambek dan ngedumel. Kecuali klo siap tidur sendiri ya. 

#5 Pernikahan Adalah Kapitalisme Terselubung!

Siapa bilang wanita dijajah pria? Di pernikahan modern justru ada pertentangan kelas antara kelas pekerja (suami) dengan kelas borjuis (istri). Dengan pajak penghasilan yang lebih besar dari PPH pasal 21. Bahkan potongan pajaknya melebihi negara social welfare Skandinavia yang hanya sekitar 40%. 

Uang suami uang istri. Uang istri ya uang istri. Adil dari Hong Kong?!?

#6 Awalnya Cinta, Akhirnya Nerima

Pernikahan pada awalnya dibangun dari percintaan. Pada akhirnya dipertahankan dengan penerimaan. Kita terima saja jika pasangan kita pasti bertambah tua, tambah cerewet, tambah jumlah… Eh…. maaf typo (ingat aturan no 1)

Mohon maaf juga karena belum bisa ngajak jalan-jalan ke Praha. Sudah ikhtiar email Kedubes disana, tapi ternyata belum dibuka buat kunjungan wisatawan mancanegara. Tahu aja kalo duitnya belum kekumpul juga haha.

Untuk hadiah tahun ini cukup tulisan sederhana ditambah tablet merk apel digigit yang baru launching beberapa bulan lalu. Tapi pagi ini koq masih ditagih duit transfer bulanan ya?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Masalah Dandelion

Seorang petani melihat adanya bunga dandelion di lahan pertaniannya. Ia menganggapnya sebagai hama dan ingin menghilangkan bunga itu. Berbagai cara dicoba. Mulai dari memotong, mencabut akar, sampai menggunakan obat khusus. Tapi tetap saja akan ada dandelion baru yang tumbuh.

Ia lalu berkirim surat ke Dinas Pertanian terkait. Dan menceritakan semua upaya yang telah ia coba. Suratnya diakhiri dengan satu pertanyaan: “Apa yang bisa saya lakukan?”

Diluar dugaan surat balasan datang dan hanya menyebutkan satu paragraf: “Jika semua upaya sudah Anda coba dan masih belum berhasil menyingkirkan dandelion itu, kami sarankan agar Anda belajar mencintainya”.

—-

Terkadang kita terlalu memikirkan solusi sebuah masalah tanpa pernah memperhatikan ‘keindahan’ dari sebuah masalah.

Seperti dandelion, ia mengganggu, tapi sesungguhnya indah dan pasti mengajarkan sesuatu. Kita sering hanya menggerutu, tapi terkadang lupa: ada hikmah di balik itu.

Yang bahaya justru ketika kita ingin lari dari masalah, dan menganggap jika hidup pasti lebih baik jika tanpa masalah. Apa serunya kehidupan tanpa permasalahan yang harus dipecahkan?

Karena itu setiap memiliki masalah, anggap itu sebagai dandelion kiriman Tuhan yang ditanamkan di pekarangan kehidupan kita. Untuk memaksa kita menjadi pribadi yang lebih baik. Lebih kreatif. Lebih tahan banting dan kebal akan cobaan kehidupan.

Tak perlu bingung dan stress saat masalah itu belum terpecahkan. Terus mencoba sambil menikmati keindahan masalah seperti guguran bunga dandelion.

Dan coba ganti doa kita.

Dari sebelumnya:  “Dear God, I have a big problem.”

Menjadi: “Dear problem, I have a big God”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Dune

Eh koq jarang yang mbahas film ini. Dune. Diangkat dari Novel Hexalogy populer dari Frank Herbert. Ada 6 seri novel – yang ke 7 belum kelar karena pengarangnya keburu mati.

Ditulis tahun 1965. Disaat kita masih ribut PKI, orang Amerika sudah mikirin konflik politik antar galaksi.
Karena novelnya berputar pada perebutan kekuasaan antar planet. Dengan bumbu pengkhianatan, gerakan spiritual bawah tanah, dan pencarian messias : Kwisatz Haderach, yang disebut ‘Suara Al Ghaib’.
Cerita simplenya:
Ada lakon utama Paul, anak raja. Terus ama kaisar galaksi, bokapnya disuruh memerintah planet Arrakis. Daerah gurun yang kaya dengan sumber daya mineral (mirip Irak dengan minyaknya lah).
Eh ternyata itu cuma jebakan betmen. Akal bulus dari keluarga kerajaan lain (drama-drama ala Game of Throne), buat membinasakan seluruh keluarganya.
Disisi lain, si Paul ini mendapat penglihatan magis dan menerima panggilan ghaib untuk membebaskan suku lokal dari Arrakis: Freeman. Karena ternyata Paul ini punya semacam Jinchuriki alias kekuatan supranatural ala-ala The Force-nya Star Wars. Disebut: The Voice (untung bukan Idol ya hehe).
Bagi yang suka konflik politik antar keluarga penguasa macam Game of Throne, ditambah pertempuran antar galaxy kaya Star Wars, plus pencarian spiritual ala Avatar Aang, seharusnya Dune cocok buat Anda.
Apalagi asuhan musikal dari Hans Zimmer yang kental unsur etnik yang monumental, berpadu dengan sinematografi padang pasir bernuansa jingga keemasan, membuat Duna terkesan asing, kering, tapi romantis. Ini membuat banyak netizen menduga Dune seharusnya bisa memenangkan Oscar.
Yang jelas, film ini membuat saya langsung membaca novelnya. Dan emang benar sih: seru banget. Great story, great movie. Semoga bisa sampai di film-kan semua.
Adegan yang cukup berkesan bagi saya ketika Ibu Paul mengajarkan mantra dari Bene Gesserit (kelompok penasihat spiritual kaisar) tentang cara mengatasi rasa takut.
Saat itu Paul harus menemui ‘Reverend Mother’ untuk menjalani tes hidup mati dengan memasukkan tangan ke kotak kosong yang berisi rasa sakit:
“I must not fear. Fear is the mind-killer. Fear is the little-death that brings total obliteration. I will face my fear. I will permit it to pass over me and through me. And when it has gone past I will turn the inner eye to see its path. Where the fear has gone there will be nothing. Only I will remain”.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Empat Jenis Kegiatan Untuk Kebahagiaan

Untuk Yoda. 

Selamat, hari ini kamu sudah berkepala empat. Dan itu berarti, kematian sudah semakin dekat 🙂

Ulang tahun bukanlah sesuatu yang perlu dirayakan secara besar-besaran. Tapi justru sebagai momen yang menimbulkan pertanyaan: apa makna sebuah kehidupan?

Sebagai hadiah ulang tahun, saya akan membagikan activity matrix yang InsyaAllah bisa membuat hidupmu lebih bahagia. Di dunia dan di luar angkasa. Karena kalau soal akhirat, akan panjang perdebatan kita haha.

Activity matrix ini lahir dengan sebuah premis sederhana: Manusia harus tahu kategori kegiatan yang sedang Ia lakukan.

Konon, ketika Tuhan menciptakan Nabi Adam, Ia lalu mengajarkan nama-nama benda. Setelah tahu nama, maka kita harus belajar guna benda. Dari guna, kita bisa melakukan klasifikasi atau clustering berdasarkan kategori.

Kita bisa tahu jika harus berhati-hati saat berpapasan dengan buaya dan singa. Karena mereka adalah kategori binatang buas. Tapi saat bertemu dengan kelinci atau kucing Persia, maka seharusnya tidak ada ancaman yang berbahaya.

Demikian juga dengan aktivitas kegiatan manusia. Jika kita tidak tahu jenis kegiatan yang kita lakukan, maka kita hanya melakukannya sesuai kebiasaan. Rutinitas. Dan dengan mengetahui kategori kegiatan yang kita lakukan, dapat dilakukan beberapa pilihan: apakah dilanjutkan atau dihentikan.

Activity matrix terdiri dari dua sumbu:

  1. Sumbu X adalah tingkat kebermanfaatan – apakah kegiatan yang kita lakukan bermanfaat atau tidak
  2. Sumbu Y adalah tingkat kesenangan – apakah kegiatan yang kita lakukan menyenangkan atau tidak

Jika dibikin matrix, hasilnya akan seperti ini:

4 Jenis Kegiatan

Pada dasarnya ada 4 jenis kegiatan dalam kehidupan:

#1 Kegiatan yang menguntungkan dan juga menyenangkan (high value added – high enjoyment). Contoh: membaca. Kegiatan yang harus kita perbanyak dan kita teruskan.

#2 Kegiatan yang menguntungkan tapi tidak terlalu menyenangkan (high value added – low enjoyment). Contoh: harus diet jika obesitas. Ga enak sih. Kuncinya adalah menyadari manfaat dari kegiatan yang kita lakukan.

#3 Kegiatan yang menyenangkan tapi tidak menguntungkan (low value added – high enjoyment). Contoh: ngemil sambil nonton TV series / ngegame. Nah disini kita bisa belajar prinsip ‘Via Negativa’. Artinya, membuang kegiatan yang tidak sesuai tujuan kita.

#4 Kegiatan yang tidak menyenangkan dan juga tidak menguntungkan (low value added – low enjoyment). Contoh: saat kita dipaksa mengerjakan PR sekolah, yang menurut kita tidak akan berguna dan tidak kita suka. Klo ini jelas lah ya, hindari aja.

Golden rule-nya: perbanyak kegiatan yang high value – high enjoyment, tetap lakukan yang high value – low enjoyment, kurang low value – high enjoyment, dan hindari low value – low enjoyment.

Kuncinya adalah kemauan untuk mengevaluasi dengan jujur setiap kegiatan yang kita lakukan, dan mengambil tindakan: kita teruskan atau kita hentikan.

Karena satu tindakan bisa berguna bagi orang lain, tapi kurang berguna untuk yang lainnya. Misal nonton film. Bagi seorang sutradara, nonton 100 film drama adalah sebuah kewajiban untuk menambah referensi. Tapi bagi seorang dokter, menonton 100 film drama tak akan mengurangi drama yang terjadi di ruang operasi.

Contoh aplikasi lainnya:

Saat bangun tidur dan hanya browsing handphone > ini kategori mana ya? > teruskan atau hentikan?

Saat kita mencoba hal-hal baru > ini berguna kah? > teruskan atau hentikan?

Saat ingin membeli barang > menyenangkan? berguna? > teruskan atau hentikan?

Kenapa activity matrix ini penting? Agar kita mencapai level ‘sadar’. Dan kesadaran, adalah pintu awal menuju pencerahan. Pencerahan adalah dasar kebahagiaan. Tanpa kesadaran, kita hanya melakukan sesuatu, tanpa pernah berpikir dan menempatkan jiwa kita. Akan terasa hampa dan sia-sia.

Dengan menerapkan activity matrix sederhana ini, kita bisa mendapatkan kesadaran dan mengarahkan pilihan hidup. Menuju kehidupan yang lebih berguna, dan lebih bahagia. Akhir kata:

Selamat ulang tahun yang keempat Yoda. Semoga hidupmu menjadi lebih berguna, dan semoga tidak meninggalkan dunia dengan sia-sia.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Bagaimana Cara Menjadi Bos yang Baik?

Menjadi bos adalah mimpi kebanyakan orang. Siapa yang ga mau tinggal nyuruh ini-itu terus dapat bayaran lebih tinggi?

Tapi ternyata menjadi bos yang baik itu tidak mudah. Banyak riset menunjukkan jika toxic boss menjadi penyebab turunnya moral dan produktivitas team, tingginya turnover, dan rendahnya motivasi dalam bekerja.

Kim Scott (mantan team leader di Google dan Apple) dalam ‘Radical Candor’ membocorkan cara menjadi bos yang baik dan benar. Ternyata bos bukanlah orang yang paling pintar. Juga bukan yang paling berkuasa. Bos yang baik justru harus bisa menentukan siapa ‘decider’ terbaik dalam sebuah proses pengambilan keputusan. 

Tapi sebelum ngomongin cara, emang tugas bos itu apa sih? Menurut Kim, tugas bos yang baik itu ada 3:

  1. Memberikan panduan kepada anggotanya. Baik dalam aspek profesional maupun personal. 
  2. Membangun team yang efektif. Ini termasuk mendengarkan aspirasi mereka, menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat, dan mengembangkan potensi anggota tim-nya
  3. Mencapai hasil. Memberikan dampak nyata sesuai tujuan organisasi.

Jadi bos bukan hanya tukang suruh yang meminta anak buahnya bekerja keras, tapi tidak menguasai dasar teknis suatu pekerjaan. Juga bukan micromanager yang sibuk mengurusi printilan tugas timnya. 

Ia tahu apa yang harus dilakukan timnya, konsisten memberi masukan dan arahan, menempatkan orang yang tepat, membangun budaya kerja yang sehat, dan bersama-sama mencapai hasil yang bermanfaat.

Nah, bagaimana cara menjadi bos yang baik?

Kuncinya ada di ‘Radical Candor’.  Spirit untuk menggabungkan ‘kepedulian personal’ (care personally’) dan kebiasaan memberikan masukan (‘challenge directly’) secara berimbang.

Maksudnya? Misalnya ada anggota tim kita yang kurang perform. Ada 4 pilihan situasi yang bisa diambil seorang bos.

Pertama, hanya peduli secara pribadi tapi tidak memberikan feedback yang membangun. Ini berarti menggunakan empati dan tidak membuka kenyataan jika pekerjaannya kurang memuaskan. Hubungan personal keduanya mungkin baik-baik saja, tapi performa team akan dikorbankan. Kuadran ini disebut ‘ruinous empathy’.

Kedua, tidak peduli secara pribadi dan tidak memberikan feedback yang berguna. Kuadran terparah dan paling bahaya. Disebut ‘manipulative insincerity’. Pokoknya anggota tim tadi dibiarin aja kerjaannya ga bener, dan ga dikasih tahu harus ngapain.

Ketiga, memberikan feedback yang bermanfaat tapi tidak peduli secara pribadi. Bos tipe ini biasanya sangat frontal, bermulut ‘pedas’, dan tak jarang menimbulkan konflik. Disebut ‘obnoxious aggression’. 

Tentu yang paling ideal: peduli terhadap pribadi tapi juga memberi feedback yang membangun. Ini berarti mendengarkan alasan tidak perform-nya seorang team, dan memberikan solusi untuk kebaikan bersama. Dan solusi ini bisa saja berupa pemecatan. Karena membiarkan orang lain berkinerja buruk tanpa ada peringatan dan usaha perbaikan adalah sebuah tindakan kejahatan. 

Kim memberikan contoh ‘golden standard’ yang ditunjukkan oleh Sheryl Sanberg, kepala div Periklanan Google dan sekarang menjadi COO Facebook:

In four years of working for Sheryl, I can honestly say she never wasted a single moment of my time, and in fact she saved enormous time for everyone who worked for her. She expected us to come to our 1:1s with a list of problems she could help us resolve. 

She’d listen, make sure she understood, and then she was like a sapper, an explosives expert. She defused some political situations that could have blown up in my face and she dispensed with seemingly insurmountable obstacles. 

No unnecessary meetings, no unnecessary analysis. She was never late to a meeting with me, and she wouldn’t tolerate anyone being late to one of her meetings. She’d make us have debates as a team, but just before they started to feel tedious, she’d identify a “decider,” and ask that person to come back to the rest of us with a decision by a particular date. 

She was one of the most persuasive people I’ve ever met, and she taught those of us on her team to be more persuasive as well. When some ridiculous time-wasting mandate would come down from on high at Google, Sheryl would figure out a way to shield us from it. All of that protection gave everyone who worked for her a lot more time to execute. 

And when the results came in, they didn’t escape Sheryl’s sharp analytical mind—we had to learn from what we’d done, whether we succeeded or failed. 

Nah, siap untuk jadi boss, bosque?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa Rahasia Bangsa Jenius?

Bulan Juni saya hanya menyelesaikan 2 buku. Retro flashback ke karya klasik Kang Jalal: islam Aktual, dan yang menarik menurut saya: Geography of Genius dari Eric Weiner.

source: Gramedia

Mungkin teman-teman mengenal Eric Weiner dari ‘Socrates Express’. Dimana Ia membawa kita lewat perjalanan kereta untuk berkenalan dengan filsuf-filsuf dunia.

Geography of Genius ditulis jauh sebelum Socrates Express. Tapi tetap ringan dan sangat enak dibaca. Pertanyaan utamanya sederhana: Apa yang membuat kota / peradaban tertentu bisa menghasilkan orang-orang jenius?

Kita akan dibawa berjalan-jalan ke periode filsuf Athena, dinasti Song Hangzhou, renaissance Florence, lahirnya empirisme di Edinburgh, ledakan sastra Bengali di Kolkata, revolusi musik di Wina, dan terakhir penyebab maraknya startup di Silicon Valley Amerika. 

Karena penulisnya memang melakukan perjalanan ke kota-kota tadi. Kita tidak akan disuguhi kajian literatur yang membosankan. Tapi lebih cerita perjalanan. Ditambah wawancara dengan ahli lokal yang bisa memberikan gambaran berdasarkan kenyataan. (Saat berada di China, Ia bahkan bertanya kepada Jack Ma tentang cerita kesuksesan Tiongkok)

Saya tak mungkin menceritakan semuanya. Silahkan dibaca sendiri. Renyah banget koq.  Tapi in a nutshell, kelahiran orang-orang jenius di waktu-waktu tertentu terkait dengan kondisi 3K dan modal 3T. Apa itu?

3T dan 3K

3K adalah Kekacauan, Keragaman, Kebijaksanaan. Yang didukung oleh 3T: Toleransi, Teknologi, dan Talenta.

Kota-kota jenius di masa lalu mayoritas kota perdagangan. Kita ambil contoh Athena, Hangzhou, Florence, dan Kolkata. Dan ternyata rata-rata sangat semrawut, tidak beraturan, tapi sangat terbuka. Mereka sangat toleran dan menerima perubahan.

Secara teori: semakin kacau suatu masyarakat, semakin beragam pola pikirnya, dan semakin terbuka terhadap ide-ide baru.

Tapi kekacauan tidak cukup. Harus ada dialog antar masyarakat di dalamnya. Athena misalnya. Mereka akan membahas masalah bersama di Agora. Semacam pengadilan warga. Warga Yunani kuno punya istilah khusus bagi warga yang tidak mau memikirkan urusan publik: Idiotes. Hanya orang idiot yang selfish dan memikirkan dirinya sendiri.

Kolkata punya ritual ‘adda’. Sebuah konsep ngobrol ngalor ngidul dimana warganya bisa bicara apa saja. Wina punya ritual cafe. Dimana para pemikir akan bertemu dan berdebat untuk saling bertukar pikiran. Bukan hanya selfie seperti yang kita lakukan saat ini.

Edinburg punya budaya ‘flyting’. Kebiasaan saling bertukar kata-kata kasar kepada teman bicara. Apa mungkin penghinaan terhadap lawan diskusi ternyata bisa menghasilkan filsafat Empirisme dan penemuan brilian dalam bidang kedokteran? Berarti Cebong vs Kampret harus dilestarikan donk?

Jika kita hanya membutuhkan kekacauan, keragaman, dan kebijaksanaan: Apakah Indonesia bisa menghasilkan jenius-jenius baru?

Kurang kacau apa negara kita? Kurang beragam gimana dari sabang sampai merauke. Kebijaksaanan apa lagi yang kita perlukan?

Sayangnya kita masih butuh 3T. Toleransi terhadap perbedaan. Teknologi. Dan Talenta. Saya jadi maklum jika kita kita belum akan menghasilkan ‘generasi jenius’ dalam waktu dekat.

Toleransi kita masih rendah. Perbedaan minor dalam ritual ibadah saja sudah membuat kita saling bermusuhan. Apalagi perbedaan calon Presiden atau Gubernur?

Technology adoption kita juga sama. Punya smartphone canggih, tapi hanya untuk selfie. Punya komputer kelas dewa, tapi hanya untuk gaming. Apakah kita sudah memiliki spirit inovasi untuk belajar memproduksi dan memperbaiki diri? Lha wong masyarakat kita lebih suka jadi konsumen daripada produsen.

Bagaimana dengan Talenta? Memang kita punya bonus demography. Juga kreatif-kreatif koq. Dan banyak yang pinter-pinter. Tapi overall sepertinya masih perlu belajar memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan yang ada. Baru memikirkan ide-ide yang mengguncang dunia.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Untuk Apa Kita Sekolah?

Hari Rabu 16 Juni lalu saya ada interview. Tapi bukan interview kerjaan. Melainkan interview pendaftaran sekolah si Yoda. Yes, mulai tahun ini si Yoda insyaAllah akan berkenalan dengan institusi pendidikan.

Ada satu pertanyaannya yang menurut saya sangat relevan:

“Apa harapan Bapak/Ibu dengan menyekolahkan Yoda disini?”

Pertanyaan menarik. Ketika semua informasi ada di jejaring cloud computing, apakah sekolah masih penting? Bukannya sekarang sudah jamannya self learning?

Padahal zaman dulu mencari ilmu itu kewajiban yang berat. Imam Bukhari pernah melakukan perjalanan lebih dari 2.500 km hanya untuk mengumpulkan hadist. Pada abad 15, harga buku semahal mobil, dan hanya orang berduit saja yang bisa belajar. Waktu zaman belanda, hanya kaum priyayi saja yang boleh bersekolah.

Sekarang? Saat bingung cara melakukan sesuatu kita tinggal mengetik pertanyaan di Youtube dan ribuan video tutorial siap membantu. Ditambah forum seperti Stack overflow /Discord /Reddit /Quora yang penuh dengan orang pintar dan siap memberikan jawaban.

Apalagi selama pandemi, kita sadar bahwa belajar tak mesti dilakukan secara tatap muka. Karena kita sudah punya jaringan pengetahuan bernama internet. Semua keingintahuan bisa dijawab oleh Mbah Google. 

Jika tujuan sekolah adalah ijazah/sertifikat, apakah di masa depan ijazah masih penting? Ijazah saya sendiri udah lupa ditaruh dimana. Selama beberapa kali pindah kerja di korporasi multinasional, mereka ga pernah menanyakan ijazah saya tuh. 

Kenapa ga homeschooling aja? Panggil guru biar private dan bisa custom sesuai kebutuhan anak. Atau diajarin sendiri sama orang tuanya? Toh buku pendidikan usia dini dan parenting sudah banyak. Teori pedagogi berserakan. Tinggal di praktikkan.

Setelah loading sok mikir, dan mencoba mengingat-ingat petuah-petuah ahli pendidikan mulai Ki Hajar Dewantoro, Paulo Freire, Montessori, sampai Al Ghazali, jawaban saya sederhana:

“Kita ingin Yoda tumbuh jadi seorang pembelajar. Kita ingin Ia belajar, cara belajar”.

Itu rangkuman pengalaman setelah sekolah selama 20 tahun dari TK hingga kuliah. Saya menyimpulkan fungsi utama belajar dalam institusi pendidikan itu terutama: membuat manusia tahu jika Ia tidak tahu. Dan memberi tahu, bagaimana mencari tahu apa yang harus mereka cari tahu.

Kenapa kita diajari baca tulis hitung? Agar kita belajar mengekstraksi pengetahuan yang berserakan dalam bentuk tulisan dan perhitungan. 

Kenapa kita diajari cara berkomunikasi, berorganisasi, dan berinteraksi? Karena kita makhluk sosial. Dan cara terbaik belajar bukan hanya lewat membaca dan browsing video, tapi bersosialisasi dan mengekstraksi pengetahuan / pengalaman orang lain lewat hubungan dengan sesama.

Kenapa kita dipaksa menulis skripsi waktu kuliah? Agar kita memiliki dasar pola pikir pendekatan ilmiah. Kita belajar melihat masalah, mengajukan pertanyaan, melihat penelitian yang sudah dilakukan, mengembangkan dugaan (hipotesa), dan menciptakan serangkaian tindakan untuk membuktikan dugaan tadi.

Belajar cara belajar. Learning on how to learn. Skill yang jika kita kuasai, akan membuka pikiran kita ke dalam keindahan ilmu pengetahuan. Karena itu Josh Kauffman menulis ‘The First 20 Hours’. Panduan praktis terstruktur yang membuatnya bisa belajar accounting, programming, tarian salsa, hingga biola. Pokoknya, semua manusia bisa belajar apa saja asal tahu caranya!

Belajar WHAT to learn akan menghasilkan pelajar.

Belajar HOW to learn akan menghasilkan pembelajar.

Padahal tujuan pendidikan adalah menghasilkan pembelajar, bukan pelajar. 

Pelajar puas dengan jawaban, pembelajar akan terus mengajukan pertanyaan. 

Pelajar mengejar nilai tinggi, pembelajar akan selalu mempraktikkan apa yang mereka ketahui. 

Pelajar tahu jika Ia tahu. Pembelajar tahu jika terkadang Ia tidak tahu jika Ia tidak tahu. 

Karena seperti pesan Om Socrates:

“Satu-satunya kebijakan sejati adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Disconnected

Apa jurus rahasia pemikir, penulis, dan pendeta sehingga bisa menghasilkan karya masterpiece dan menemukan kedamaian? 

Ternyata jawabannya sederhana: kurangi distraksi, perbanyak refleksi untuk menciptakan koneksi.

Itu simpulan yang saya baca dari membaca tiga buku bulan lalu: Deep Work dari Carl Newport, Jalan Panjang Untuk Pulang dari Agustinus Wibowo, dan My Life as A Writer dari Haqi Achmad.

Cal Newport menjelaskan pentingnya ‘Deep Work’, usaha berfokus dan berkonsentrasi untuk berpikir guna menghasilkan sesuatu yang ‘dalam’. Sesuatu yang berharga di tengah dangkalnya informasi yang ada disekitar kita.

source: Tokopedia
Cover buku Deep Work

Dan salah satu cara untuk mencapainya adalah menciptakan ‘disconnected’ (ini bahasa saya aja): kondisi dimana kita menolak segala distraksi yang tidak memberikan nilai tambah dalam karya kita.

Saya baru tahu jika Carl Jung (peletak dasar teori psikoanalisa) sampai membangun ‘Bollingen Tower’. Sebuah bangunan bergaya kastil yang terisolir di pinggir danau Zurich, hanya untuk berpikir dan tak membiarkan dirinya diganggu oleh orang lain.

Bollingen Tower. Source: Wikipedia

Adam Grant, (profesor Wharton termuda dan penulis buku best seller seperti Give and Take, Original dll ) punya cara untuk ‘disconnected’. Setiap musim panas Ia akan ‘menghilang’ dan fokus untuk menulis buku. Tanpa jadwal mengajar. Tanpa konsultasi mahasiswa. Tanpa jadwal meeting kampus. Hanya fokus riset dan menulis.

Hal yang sama dilakukan Dewi Lestari. Sebelum menulis novel baru, Dewi Lestari akan memasuki fase ‘bat cave’. Dimana dia akan menyendiri, melakukan riset, dan fokus menulis. 

Fase disconnected saat belajar meditasi juga membantu Agustinus Wibowo untuk menyelamatkan diri dari tekanan stress dan depresi. Selama 10 hari Ia dipaksa meninggalkan dunia luar dan belajar satu hal dasar: memperhatikan nafas. Ia menemukan keramaian hati, justru lewat kesunyian meditasi.

Disconnected memang terdengar paradoks. Apalagi kita hidup di dunia yang sepertinya sepi jika tidak mendapat sinyal wifi.

Tapi konektivitas menciptakan eksternalitas. 

Kita hidup di dunia yang penuh notifikasi. Dan semua menciptakan distraksi. Seolah-olah pikiran kita tak boleh kosong dan harus diisi. 

Akibatnya, pikiran manusia modern menjadi dangkal sekali. Kita jarang melakukan refleksi. Tak pernah memperhatikan keindahan kecil yang terjadi. Pada ujungnya, kita merasa asing dengan diri kita sendiri.

Percobaan

Saya lalu melakukan percobaan: mematikan handphone dan laptop setelah jam 9 malam sampai jam 7 pagi. Tak memikirkan kerjaan. Tak peduli dengan trending topics yang berseliweran. Tak mempedulikan telpon atasan. Benar-benar ‘disconnected-time’. Waktu untuk berpikir tanpa sinyal internet.

Ternyata susah banget! Teman kantor masih mengajak meeting sampai malam. Tangan gatel sekali untuk cek email saat bangun pagi. Notifikasi terus berbunyi minta di sentuh. Situs berita minta dibelai untuk dikunjungi.

Tapi setelah beberapa hari, kehidupan ternyata baik-baik saja saat kita offline. Ternyata benar, kita hanyalah irisan partikel kosmis kehidupan. Tidak terlalu berpengaruh. Pasar saham masih naik turun. Netizen tetap mencari bahan untuk dinyinyirin. Dunia masih tetap saja ramai.

Segi positif disconnected time ini: saya jadi punya waktu untuk berbicara dengan diri sendiri. Dan anehnya, beberapa ide segar bermunculan. Suara hati kecil yang selama ini tertekan informasi eksternal, mulai bersuara. Konsep-konsep yang berserakan, justru menemukan gambaran.

Mungkin karena kita punya waktu untuk berpikir, merefleksi, mencoba menarik koneksi, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar hakiki.

“Apa yang penting dalam hidup? Kenapa manusia begitu merisaukan dunia yang singkat ini? Mengapa kita ada dan akan kemana kita mengembara?”

Dan entah kenapa, dalam perenungan kesendirian ujung-ujungnya kita akan menemukan causa prima yang utama: Tuhan.

Mungkin karena itu ada ungkapan dalam dunia tasawuf: “Barang siapa mengenal dirinya, sungguh Ia telah mengenal Tuhannya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Saya Dipaksa Sedekah 11 Juta Oleh JD.ID

Emang Tuhan itu selalu punya cara unik untuk memaksa saya berbagi. Saya dipaksa sedekah 11 juta melalui situs ecommerce JD.id.

Saya menghindari kata tertipu, penipuan, atau scam. Biar ga malu cuk. Koq kesannya bego banget bisa ketipu di zaman dimana berita penipuan terjadi sehari-hari. Hihi. Tapi ini kronologinya:

Jadi ceritanya saya terpaksa ingin membeli TV agar Yoda bisa menonton kartun saat malam. Biar ga pakai laptop bapaknya terus gitu. Browsing sana-sini, nemu offer menarik banget di JD.id.

Sony Bravia X8000H yang biasanya 8 jutaan dijual dengan harga 3.2 juta. Karena udah biasa beli di JD.id dan masih beranggapan semua penjual terseleksi dengan baik, langsung saya beli dan bayar.

Lalu ada telpon mengatasnamakan JD.id memberikan link meminta saya mengisi login agar bisa memilih kurir. Waduh modus phishing zaman dulu cuy! Lha koq qadarullah saya ga banyak mikir (karena percaya #PastiOri) mengklik dan mengisi data akun saya.

Terus tiba-tiba pesanan di cancel. Nah anehnya status refund berhasil tapi saya tidak merasa ada notifikasi JD cash atau masuk ke rekening saya. Penipu tadi menelpon lagi dan mengaku ada gangguan. Meminta saya membeli lagi dengan barang yang sama.

Saya beli dan statusnya cancel lagi. Saya yang masih belum sadar jadi korban phising (karena merasa sebagai pegawai startup yang kebal penipuan) tetap melakukan pembelian lagi. Hingga 3x dengan total 11 jutaan.

Saya merasa “aman” karena tidak ada notifikasi OTP, dan ada keterangan jika dana akan ditransfer ke rekening bank (ga ada keterangan user harus isi form apapun) dan bukan JD balance. Ditambah ada keterangan dana akan masuk setelah 1-3 hari.

Oh mungkin baru 3 hari lagi. Nah saya ga ngecek rekening lagi dan baru iseng2 cek setelah hari ke-5. Koq belum masuk? Saya lalu menelpon call center dan ternyata qadarullah tuh duit ternyata uda ditransfer ke JD balance, ditarik ke rekening dia, tanpa adanya notifikasi atau history di akun saya!

Bahkan Mbak Dwi dari CS ga bisa menyebutkan duit saya ditransfer ke rekening mana. Wow luar biasa sekali UI/UX security system market place ini ya. Intinya duit saya raib 11 juta. 

Nah action yang bisa saya lakukan kan ada tiga: 

  1. Bikin laporan ke polisi (yang saya yakin hanya nambah-nambahin laporan, kecuali saya anak Presiden)
  2. Bikin komplain tertulis ke JD.id dan meminta mereka men share tracing transfer Bank (untuk dilaporkan sebagai ikhtiar)
  3. Menyebarkan berita ini ke seluruh dunia agar teman-teman tidak perlu dipaksa sedekah ke orang-orang yang tidak bertanggung jawab

Untungnya saya pernah mengalami kerugian usaha, lost asset portfolio, atau kemalingan barang dengan jumlah yang lebih besar. Jadi waktu kehilangan segini ya nangis-nya cuma di dalam hati gitu. Ga perlu menjelek-jelekkan situs ecommerce-nya. Ga perlu menyumpahi penipu itu. 

Bahkan sebagai bonus karena berhasil memberikan saya pelajaran berharga untuk lebih berhati-hati dalam menginput data, saya memberikan infak tambahan pulsa 50rb. Semoga di masa depan asset saya bisa trilyunan (Amiin), jadi harus lebih hati-hati donk!

Alhamdulilah saya juga pernah kehilangan semua barang saya sewaktu umroh backpacker di Mekkah. Waktu itu semua barang yang saya taruh di tas, hilang saat saya tinggal di depan pintu Masjidil Haram.

Status backpacker saya langsung turun kasta jadi gembeler. Hehehe. Waktu itu sempet mikir: ya Allah, koq “Lu” tega banget sih ambil semua barang gw??? Kan gw tamu disini 🙁 

Eh ternyata masih bisa hidup tuh. Bahkan bisa nginep di hotel waktu di Jeddah (makasih ya bro Doddy!)

Saya jadi belajar. Tak ada kata kehilangan, selama kita masih punya Tuhan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail