Neraka Kebahagiaan

Henry Francis Valentine adalah anak badung. Suka memukul anjing di umur 6. Mulai mencuri di umur 7. Menjadi kepala geng di usia 8. Hidupnya dihabiskan dengan berbuat kejahatan. Hasil didikan kerasnya kehidupan.

Tak puas dengan kondisi keuangan yang membuatnya terus hidup dalam kemiskinan, ia bertekad untuk merampok lembaga keuangan.

Malam itu ia berhasil melumpuhkan penjaga. Saat asyik memasukkan barang rampokan, sayangnya polisi segera datang. Terjadi baku tembak. Ia terkena beberapa selongsong peluru. Mati seketika.

Saat ‘terbangun’, sudah ada ‘malaikat’ yang menjemputnya. Diluar dugaan, malaikat itu tidak menyeramkan. Justru terlihat seperti Santa Claus. Bertubuh subur, dengan pakaian serba putih dan pembawaan yang ramah.

“Saya pemandumu, Tuan Valentine’ kata si malaikat disertai senyuman yang menawan.

Henry Valentine bingung. Bukankah Ia menghabiskan hidupnya sebagai orang jahat? Kenapa tak ada siksaan kubur? Continue reading Neraka Kebahagiaan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Every Decision is Correct at the Time

Dalam dokumen engineering bootcamp di kantor saya, ada satu moto / prinsip yang menarik:

Every Decision is Correct at the time they made. Semua keputusan adalah benar, saat dibuat. 

Prinsip ini ditulis agar saat ada software engineer baru masuk dan menemukan ‘loop hole’ atau kerumitan coding dari engineer sebelumnya, tidak ada proses menyalahkan masa lalu.

Tak akan ada yang komentar: “Ini bego banget sih yang bikin flow backend-nya dulu”.

Tak ada blaming. Semua keputusan adalah benar, pada masanya.

Karena pada dasarnya, tak ada keputusan yang benar-benar sempurna. Kita harus membuat keputusan ditengah keterbatasan informasi, waktu yang mepet, dan ketidakmampuan untuk memprediksi masa depan. Intinya, Continue reading Every Decision is Correct at the Time

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Pendemo Tidak Menguasai Materi Demo

Hari Kamis kemarin, perjlanan pulang saya terhenti. Massa berlarian menghindari kejaran polisi. Mayoritas anak muda. Sepertinya masih perjaka. Angkatan SMA atau mahasiswa. Tak ada tampang buruh atau pekerja. 

Saya yang habis ngontel dari kantor, harus menunggu sekitar 10 menit sebelum bisa melintasi area Tugu Yogyakarta. Untung mereka hanya memblokade jalan. Begitu mudah dibubarkan. Saat siang massa yang sama sudah memporak-porandakan DPRD dan merusak restoran di Malioboro.

Bener-bener demo Cipta Kerja, karena abis demo banyak yang kebagian kerja untuk membersihkan dan merenovasi bangunan yang rusak.

Sampai rumah, ternyata adik ipar saya juga ikutan demo. Wah tumben. Emang dia ngerti apa yang didemokan? Udah baca draft Undang-Undangnya? Ternyata belum. 

Terus ngapain ikut? Motivasinya sederhana: demi bisa foto di instagram dan biar dianggap keren.

2 Penyebab Continue reading Kenapa Pendemo Tidak Menguasai Materi Demo

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Penyesalan Dalam Kehidupan

Untuk Yoda, yang hari ini berkepala tiga. 

Seperti biasa, doa saya sebagai orang tua: Semoga nanti, kamu mati dengan bahagia. 

Untuk apa hidup makmur dan panjang umur, tapi mati dalam keadaan ngawur? Bukankah orang yang khusnul khotimah, hidupnya pasti akan penuh hikmah?

Sebagai hadiah ulang tahunmu, kali ini kita akan membahas penyesalan. Apa itu? Sesal adalah emosi yang berwujud keinginan untuk mengubah tindakan yang sudah kita lakukan. “Andai saja saya melakukan ini itu…”.

Penyesalan adalah respon yang manusiawi. Karena kita tak pernah tahu kepastian masa depan. Dan manusia juga rawan berbuat kesalahan. Maafkan.

Sesal lahir terkait dengan kedaaan yang tidak sesuai harapan. Karena itulah manusia ingin mengulang keputusan yang telah diputuskan, ucapan yang telah diucapkan, rencana yang sudah menjadi aksi nyata.

Akan ada tiga jenis penyesalan yang paling menyesakkan dada. Setidaknya berdasarkan pengalaman saya. Semoga kamu bisa mengambil hikmah darinya. Apa saja? Continue reading Tiga Penyesalan Dalam Kehidupan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Kelemahan Kursus Online

Seorang teman bercerita: setiap malam ga boleh langsung tidur. Alasannya? “Ada kuliah jam 11 malam”. Kuliah ama Genderuwo?

Rupanya dia sedang ikutan short course jarak jauh. Program digital dari salah satu kampus Ivy League di Amerika sono. Wuih keren donk!

Yang bikin saya kagum adalah sumber biayanya. Teman saya rela mengocek kantong pribadi untuk ikutan kursus tadi. Ongkosnya kata dia ga mahal-mahal amat: 50 juta aja. Jauh lebih murah dari executive short course Harvard yang bisa mencapai 52 ribu dollar (700 juta-an). 

Secara logika sederhana, pelatihan online memberikan banyak sekali manfaat. Biayanya jauh lebih murah, simple plus praktis, fleksibel, dan terutama tidak terikat ruang dan waktu. Apalagi ditengah pandemi Covid. Virus yang sudah menyerang 19 juta umat manusia ini memaksa kita menerapkan pembelajaran jarak jauh. 

Sekolah diliburkan, diganti interaksi lewat laptop berbasis daring. Webinar menjamur. Mulai dari yang gratisan sampai yang berbayar. Termasuk berkembangnya kursus online. Pemerintah sendiri lewat program Prakerja (yang kita ga tahu bagiamana nasib kedepannya), memberikan subsidi bagi pencari kerja untuk mengikuti pelatihan online ini.

Sejak WFH sendiri, alhamdulilah saya sudah mengoleksi 10 sertifikat kursus karena kebetulan dikasih full akses di salah satu platform. Saya merasa sangat terbantu. Bayangkan: kita bisa belajar apa saja, kapan saja, dimana saja, dari guru-guru terbaik dunia pula! 

Apakah mungkin di masa depan, institusi pendidikan kita akan full online? Karena pernah merasakan belajar secara tatap muka, saya merasa online learning (terutama Massive Open Online Course) punya beberapa kendala.  Apa saja? Continue reading Tiga Kelemahan Kursus Online

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prinsip-prinsip Sukses Dalam Hidup [Principle by Ray Dalio]

Ray Dalio adalah founder dari ‘hedge fund’ Bridgewater. Apaan tuh Bridgewater alias jembatan air?

Anggep aja dia dukun yang bisa menggandakan duit investor lewat investasi di pasar keuangan (saham, obligasi, index dll).

Saat udah tua, si Ray Dalio tiba-tiba kepikiran: “Anjir, koq gw bisa tajir melintir ya?”

Setelah dipikir-pikir, ia merasa karena punya kebiasaan membuat ‘principle’ dalam kehidupan dan pekerjaan.
Ray Dalio percaya jika semesta adalah mesin raksasa. Yang perlu kita lakukan biar sukses ya menerapkan sistem dan algoritma yang tepat.

Nah, berhubung udah ga butuh duit, ia lalu membagikan prinsip hidupnya dalam buku ini: Principle.

Males baca atau ga punya bukunya? Bisa temukan slide-booknya disini ya:

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apakah Sebaiknya Kita Membeli PlayStation 5?

Mungkin ini kabar game-bira bagi gamers sedunia. Hampir sama pentingnya dengan penantian vaksin Corona. Penantian itu terjawab, Playstation kini punya cicit. Seri kelima dari console paling laris itu akan dirilis akhir tahun ini.

Design-nya cool dan futuristik. Pasti sexy kalo dibikin kartun Moe-nya. Dukungan hardware-nya mumpuni. Gawe-game kelas dewa siap beraksi.

Pertanyaannya: apakah gamer seharusnya membeli PS5?

Mungkin pertanyaan yang agak absurd. Karena kembali ke individu masing-masing. Kalau situ gamers dan punya duit ya silahkan beli. Klo missqueen bisa main sambil ngimpi aja lewat streaming youtube. Klo dhuafa quota mungkin waktunya beralih ke gobak sodor.

Pertanyaan ini muncul karena saya pribadi ingin membelinya. Tapi kemudian ada satu masalah muncul: berapa nilai dari memiliki PS5?


Nilai disini bukanlah harga beli. Tapi sejauh mana kepemilikan barang itu memberikan utility value (nilai pakai) dan return on investment (imbal balik investasi) jika barang yang dibeli adalah asset yang diharapkan memberikan keuntungan.

Ribet amat hidup lu cuk?

Oh jelas. Ini karena pengalaman saya membeli laptop gaming pada 2014. Harganya 8 juta. Tapi ternyata sangat jarang dipake nge-game! Dari 2014-2019, saya hanya memakainya untuk bermain game tak lebih dari 48 jam (dari manifes akun Steam).

Karena itu untuk menghitung nilai guna suatu barang, kita bisa mengevaluasi dengan dua rasio: 

  1. Utility value = acquisition cost / usage
  2. Opportunity cost value = berapa nilai yang kita dapatkan jika menggunakan sumber daya yang ada untuk kegiatan yang lain

Continue reading Apakah Sebaiknya Kita Membeli PlayStation 5?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail