Monthly Archives: October 2020

Neraka Kebahagiaan

Henry Francis Valentine adalah anak badung. Suka memukul anjing di umur 6. Mulai mencuri di umur 7. Menjadi kepala geng di usia 8. Hidupnya dihabiskan dengan berbuat kejahatan. Hasil didikan kerasnya kehidupan.

Tak puas dengan kondisi keuangan yang membuatnya terus hidup dalam kemiskinan, ia bertekad untuk merampok lembaga keuangan.

Malam itu ia berhasil melumpuhkan penjaga. Saat asyik memasukkan barang rampokan, sayangnya polisi segera datang. Terjadi baku tembak. Ia terkena beberapa selongsong peluru. Mati seketika.

Saat ‘terbangun’, sudah ada ‘malaikat’ yang menjemputnya. Diluar dugaan, malaikat itu tidak menyeramkan. Justru terlihat seperti Santa Claus. Bertubuh subur, dengan pakaian serba putih dan pembawaan yang ramah.

“Saya pemandumu, Tuan Valentine’ kata si malaikat disertai senyuman yang menawan.

Henry Valentine bingung. Bukankah Ia menghabiskan hidupnya sebagai orang jahat? Kenapa tak ada siksaan kubur? Continue reading Neraka Kebahagiaan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Every Decision is Correct at the Time

Dalam dokumen engineering bootcamp di kantor saya, ada satu moto / prinsip yang menarik:

Every Decision is Correct at the time they made. Semua keputusan adalah benar, saat dibuat. 

Prinsip ini ditulis agar saat ada software engineer baru masuk dan menemukan ‘loop hole’ atau kerumitan coding dari engineer sebelumnya, tidak ada proses menyalahkan masa lalu.

Tak akan ada yang komentar: “Ini bego banget sih yang bikin flow backend-nya dulu”.

Tak ada blaming. Semua keputusan adalah benar, pada masanya.

Karena pada dasarnya, tak ada keputusan yang benar-benar sempurna. Kita harus membuat keputusan ditengah keterbatasan informasi, waktu yang mepet, dan ketidakmampuan untuk memprediksi masa depan. Intinya, Continue reading Every Decision is Correct at the Time

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Pendemo Tidak Menguasai Materi Demo

Hari Kamis kemarin, perjlanan pulang saya terhenti. Massa berlarian menghindari kejaran polisi. Mayoritas anak muda. Sepertinya masih perjaka. Angkatan SMA atau mahasiswa. Tak ada tampang buruh atau pekerja. 

Saya yang habis ngontel dari kantor, harus menunggu sekitar 10 menit sebelum bisa melintasi area Tugu Yogyakarta. Untung mereka hanya memblokade jalan. Begitu mudah dibubarkan. Saat siang massa yang sama sudah memporak-porandakan DPRD dan merusak restoran di Malioboro.

Bener-bener demo Cipta Kerja, karena abis demo banyak yang kebagian kerja untuk membersihkan dan merenovasi bangunan yang rusak.

Sampai rumah, ternyata adik ipar saya juga ikutan demo. Wah tumben. Emang dia ngerti apa yang didemokan? Udah baca draft Undang-Undangnya? Ternyata belum. 

Terus ngapain ikut? Motivasinya sederhana: demi bisa foto di instagram dan biar dianggap keren.

2 Penyebab Continue reading Kenapa Pendemo Tidak Menguasai Materi Demo

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail