Kenapa Pendemo Tidak Menguasai Materi Demo

Hari Kamis kemarin, perjlanan pulang saya terhenti. Massa berlarian menghindari kejaran polisi. Mayoritas anak muda. Sepertinya masih perjaka. Angkatan SMA atau mahasiswa. Tak ada tampang buruh atau pekerja. 

Saya yang habis ngontel dari kantor, harus menunggu sekitar 10 menit sebelum bisa melintasi area Tugu Yogyakarta. Untung mereka hanya memblokade jalan. Begitu mudah dibubarkan. Saat siang massa yang sama sudah memporak-porandakan DPRD dan merusak restoran di Malioboro.

Bener-bener demo Cipta Kerja, karena abis demo banyak yang kebagian kerja untuk membersihkan dan merenovasi bangunan yang rusak.

Sampai rumah, ternyata adik ipar saya juga ikutan demo. Wah tumben. Emang dia ngerti apa yang didemokan? Udah baca draft Undang-Undangnya? Ternyata belum. 

Terus ngapain ikut? Motivasinya sederhana: demi bisa foto di instagram dan biar dianggap keren.

2 Penyebab

Saya tak akan membahas UU Cipta Kerja. Bukan keahlian saya. Biar teman-teman ahli hukum yang bisa menjelaskannya. Meskipun saya juga buruh, dan katanya kaum pekerja akan semakin tertindas, maka jalan keluar di otak saya cuma satu: jangan mau selamanya jadi pekerja.

Tapi saya tertarik dengan satu fenomena: kenapa ada sekumpulan manusia, bisa digerakkan hanya dengan modal cuplikan informasi yang parsial, pesan berantai whatsapp, dan poster yang berseliweran di social media?

Kenapa ada manusia yang bisa memperjuangkan sesuatu yang belum tentu mereka pahami. Maksud saya, koq bisa teman-teman kita mendemo Undang-Undang yang saya yakin belum mereka baca dengan mata kepala sendiri?

UU Cipta Kerja ini tebalnya minta ampun. Versi draft yang saya baca punya 1028 halaman. Dengan asumsi satu halaman 30 detik, maka dibutuhkan 8,5 jam untuk meng-khatamkan draft UU ini. 

Menemukan anak muda zaman sekarang yang rela membaca 8 jam sebelum turun demo koq sepertinya seperti berusaha menemukan Ibu hamil yang masih perawan. Ada sih, tapi penuh keajaiban.

Saya menduga setidaknya ada dua hal yang membuat adik ipar saya, pemuda galau yang biasanya cuma ngurusi push rank mobile legend dan nonton youtuber, bisa turun ke jalanan.

Pertama, narasi yang sederhana.

Persepsi yang dibangun sederhana tapi mengena. UU baru akan membuat pekerja lebih sengsara. Lalu ada point mengenai penyesuaian upah, pengurangan pesangon, penggajian satuan waktu, hingga penghapusan cuti sana sini.

Seperti gerakan sosial lainnya, penggagas demo ini mengkampanyekan ‘pain point’ yang akan dihadapi pekerja dimasa depan. Komunikasinya juga dibikin sederhana lewat infografis yang mudah dicerna dan orang ga perlu mikir untuk menangkap maksudnya.

Karena pada dasarnya manusia memiliki mekanisme ‘heuristic’. Kecenderungan untuk tidak berpikir terlalu rumit. Pokoknya UU Cipta Kerja bikin sengasara, ayo dilawan bersama. Urusan analisa bisa kita omongin dibelakang saja.

Kedua, kolektivitas sosial

Untuk kasus Adik Ipar saya, tekanan sosial dari teman-temannya juga berperan. Karena ajakan temanlah yang membuat dia bergerak. Dan jika saya amati, sangat jarang demonstran yang seroang single fighter. Demo sendirian aja. Rata-rata mengajak temannya.

Fenomena ini wajar. Karena manusia makhluk sosial. Kita akan meniru prilaku lingkungan kita. Karena itulah dalam marketing, family/friend recommendation memiliki efek yang jauh lebih dahsyat daripada iklan sekeren apapun.

Seseorang yang ‘melawan’ dan tidak ikut-ikutan biasanya akan mendapatkan sanksi sosial. Entah dikucilkan, di bully, atau sekedar kepercayaan antar teman yang berkurang. Intinya kurang bagus lah buat masa depan pertemanan.

Tentang Provokator

Apakah mungkin kerusuhan kemarin ditunggangi pihak tertentu? Saya tidak tahu. Tapi menurut pengakuan adik saya, kerusuhan bermula dari segerombolan pemuda yang menurut dia anak STM, mulai membakar-bakar.

Saya tidak ingin terlarut dalam teori konspirasi. Biarlah jadi urusan polisi. Yang jelas, adalah hak kita sebagai warga negara untuk menyampaikan aspirasi. Asal tak membuat orang lain merasakan rugi. Desktruksi. Tak lupa melawan secara legislasi. Membawanya ke Mahkamah Konstitusi.

Pengrusakan ruang publik takkan membawa perubahan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *