Every Decision is Correct at the Time

Dalam dokumen engineering bootcamp di kantor saya, ada satu moto / prinsip yang menarik:

Every Decision is Correct at the time they made. Semua keputusan adalah benar, saat dibuat. 

Prinsip ini ditulis agar saat ada software engineer baru masuk dan menemukan ‘loop hole’ atau kerumitan coding dari engineer sebelumnya, tidak ada proses menyalahkan masa lalu.

Tak akan ada yang komentar: “Ini bego banget sih yang bikin flow backend-nya dulu”.

Tak ada blaming. Semua keputusan adalah benar, pada masanya.

Karena pada dasarnya, tak ada keputusan yang benar-benar sempurna. Kita harus membuat keputusan ditengah keterbatasan informasi, waktu yang mepet, dan ketidakmampuan untuk memprediksi masa depan. Intinya,

sangat mungkin salah.

Dan juga, pengetahuan manusia terus berkembang untuk menemukan ilmu serta pendekatan baru. Yang lebih simple, yang lebih canggih, yang lebih mudah dilakukan. Metode yang wajar dan lebih efektif di masa kini, mungkin belum terpikirkan di masa lalu.

Dengan prinsip ini saya bisa menerima ‘keputusan pendahulu’ kita dengan lapang dada. Padahal sebelumnya saya sering menertawakan keputusan-keputusan sejarah.

Apakah Anda tahu jika undang-undang pertama yang dikeluarkan oleh Orde Baru adalah UU nomor 1 tahun 1967 soal penanaman modal asing? Berkat UU ini, investor seperti berjalan di karpet merah. Semangatnya mirip dengan UU Cipta Kerja belakangan ini.

Waktu zaman kuliah, salah satu dosen saya yang Pro Kerakyatan sering mencaci maki undang-undang ini.

“Negara sudah menjual sumber daya alamnya kepada kapitalis asing!”. Begitu kira-kira adagium yang disampaikan ke para mahasiswa.

Sekarang saya tersenyum. Undang-undang itu benar pada masanya. Karena menurut pengambil keputusan waktu itu, Indonesia butuh investasi asing dan butuh duit untuk membangun negara. Ditambah latar belakang pendidikan pengambil kebijakannya, mereka belum mengenal teori alternatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Demikian juga soal program ‘revolusi hijau’ di bidang pangan. Almarhum Bapak saya, seorang Insinyur Pertanian, sering menyayangkan program yang telah membuat Indonesia menjadi negara swa-sembada beras ini. Waktu itu pemerintah memberikan bantuan pupuk kimia, bibit unggul, dan memberi pendampingan kepada petani.

Panen kita meningkat. Tapi tanah kita jadi rusak terkena pupuk kimia berlebihan. Banyak varietas padi lokal yang hilang karena dianggap kurang produktif. ‘Beras-isasi’ membuat orang melupakan bahan makanan lokal dan menjadi kecanduan terhadap nasi.

Sekali lagi, keputusan ‘swa sembada beras’ itu benar, di masa itu. Karena ada puluhan juta rakyat yang butuh pangan. Belum ada riset mengenai dampak pupuk kimia dalam jangka panjang, dan Indonesia membutuhkan ketahanan pangan untuk bisa keluar dari garis kemiskinan.

‘Every Decision is Correct at the time’ juga membuat saya berdamai dengan diri sendiri. Merelakan keputusan salah yang telah terjadi. Que sera sera. Yang terjadi, terjadilah.

Logikanya cuma satu: semua kebodohan masa lalu adalah tindakan tepat, di masa itu. Jika kita tidak membuat kesalahan, mungkin saat ini kita tidak mendapatkan pelajaran kehidupan.

Tinta sudah kering. Pena sudah diangkat. Tak ada guna menyesal kejadian yang telah menjadi sejarah kehidupan. Yang penting apa yang bisa kita lakukan, untuk masa depan.

Tak usah menyalahkan diri atau orang lain dan ingin mengubah masa lalu. 

Karena keputusan yang telah terjadi adalah keputusan terbaik, di masa itu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *