Neraka Kebahagiaan

Henry Francis Valentine adalah anak badung. Suka memukul anjing di umur 6. Mulai mencuri di umur 7. Menjadi kepala geng di usia 8. Hidupnya dihabiskan dengan berbuat kejahatan. Hasil didikan kerasnya kehidupan.

Tak puas dengan kondisi keuangan yang membuatnya terus hidup dalam kemiskinan, ia bertekad untuk merampok lembaga keuangan.

Malam itu ia berhasil melumpuhkan penjaga. Saat asyik memasukkan barang rampokan, sayangnya polisi segera datang. Terjadi baku tembak. Ia terkena beberapa selongsong peluru. Mati seketika.

Saat ‘terbangun’, sudah ada ‘malaikat’ yang menjemputnya. Diluar dugaan, malaikat itu tidak menyeramkan. Justru terlihat seperti Santa Claus. Bertubuh subur, dengan pakaian serba putih dan pembawaan yang ramah.

“Saya pemandumu, Tuan Valentine’ kata si malaikat disertai senyuman yang menawan.

Henry Valentine bingung. Bukankah Ia menghabiskan hidupnya sebagai orang jahat? Kenapa tak ada siksaan kubur?

Lebih kaget lagi ketika ia dibawa ke dunia lain yang penuh dengan kesenangan. Ia diberi rumah mewah. Bebas berjudi, berpesta setiap hari, minum minuman keras, dan bercinta dengan wanita-wanita cantik. 

Valentine menjani hari-hari dalam kesenangan maksimal. Ia berjudi dan membuat bandar bangkrut. Ia meminta minuman keras termahal dan minuman itu langsung tersedia di hadapannya. Jika mau, Ia bisa menambah pelayan wanita dengan kecantikan setara bidadari. 

Ia merasa berada di surga. Tapi kenapa Ia bisa dimasukkan ke dalam surga?

Pertanyaan itu terus menghantui. Apalagi setelah beberapa waktu ia menemukan kebosanan. Selalu menang dalam berjudi, mabuk sepanjang hari, dan ditemani wanita yang berganti-ganti ternyata menciptakaan kekosongan hati. 

Untuk apa semua ini? Rutinitas penun kenikmatan yang menghasilkan kebosanan. Hampir depresi setengah mati (padahal Ia sudah mati). Ia merasa gila. Merasa menderita.

Akhirnya Valentine protes kepada malaikat. Merasa sebagai orang jahat dan tak pantas dengan semua kenikmatan yang ia dapat. Valentine ingin dimasukkan ke dalam neraka. 

“Saya tidak pantas menerima semua ini. Saya tak pantas berada di surga. Jika terus berada di sini saya bisa gila! Saya ingin berada di tempat yang lain (neraka)”. Kata Valentine kepada malaikat penjaga.

“Surga? Siapa yang bilang jika Anda berada di surga? Tempat ini adalah tempat yang lain (neraka)!”.

———————-

Cerita diatas adalah sinopsis acara TV jadul ‘The Twilight Zone: A Nice Place to Visit’. Film drama mystery fiction yang diproduksi tahun 1959. Saya merekomendasikan teman-teman untuk menontonnya. Season 1 adalah master piece yang tak lekang waktu (rating 9 dari IMDB dan rotten tomatoes!).

Meskipun cerita fiktif, pesan moralnya tetap mengena: kenikmatan pada dasarnya bisa jadi sebuah kutukan tersembunyi. Hanya saja mata batin kita tak mampu melihatnya.

Manusia hanya bisa melihat dengan kacamata hitam putih. Tanpa mampu melihat gambaran secara utuh dan dalam perspektif jangka panjang.

Kita menganggap memenangkan hadiah uang undian itu baik, menjadi korban PHK itu buruk. Padahal bisa saja uang undian tadi menjadi penyebab terjadinya perampokan. Atau justru akibat terkena PHK, kita bisa menemukan peluang bisnis baru.

Kita menganggap menjadi korban perampokan itu buruk, sukses membuka bisnis baru itu baik. Padahal bisa saja setelah dirampok kita mendapatkan rezeki pengganti yang lebih baik. Atau akibat membuka bisnis baru yang sukses, keluarga kita berantakan karena kita terlalu fokus berbisnis.

Intinya apa yang kelihatannya baik, belum tentu baik. Dan apa yang kelihatannya buruk, belum tentu tidak baik.

Seperti firman Tuhan: 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu..”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *