Monthly Archives: June 2021

Untuk Apa Kita Sekolah?

Hari Rabu 16 Juni lalu saya ada interview. Tapi bukan interview kerjaan. Melainkan interview pendaftaran sekolah si Yoda. Yes, mulai tahun ini si Yoda insyaAllah akan berkenalan dengan institusi pendidikan.

Ada satu pertanyaannya yang menurut saya sangat relevan:

“Apa harapan Bapak/Ibu dengan menyekolahkan Yoda disini?”

Pertanyaan menarik. Ketika semua informasi ada di jejaring cloud computing, apakah sekolah masih penting? Bukannya sekarang sudah jamannya self learning?

Padahal zaman dulu mencari ilmu itu kewajiban yang berat. Imam Bukhari pernah melakukan perjalanan lebih dari 2.500 km hanya untuk mengumpulkan hadist. Pada abad 15, harga buku semahal mobil, dan hanya orang berduit saja yang bisa belajar. Waktu zaman belanda, hanya kaum priyayi saja yang boleh bersekolah.

Sekarang? Saat bingung cara melakukan sesuatu kita tinggal mengetik pertanyaan di Youtube dan ribuan video tutorial siap membantu. Ditambah forum seperti Stack overflow /Discord /Reddit /Quora yang penuh dengan orang pintar dan siap memberikan jawaban.

Apalagi selama pandemi, kita sadar bahwa belajar tak mesti dilakukan secara tatap muka. Karena kita sudah punya jaringan pengetahuan bernama internet. Semua keingintahuan bisa dijawab oleh Mbah Google. 

Jika tujuan sekolah adalah ijazah/sertifikat, apakah di masa depan ijazah masih penting? Ijazah saya sendiri udah lupa ditaruh dimana. Selama beberapa kali pindah kerja di korporasi multinasional, mereka ga pernah menanyakan ijazah saya tuh. 

Kenapa ga homeschooling aja? Panggil guru biar private dan bisa custom sesuai kebutuhan anak. Atau diajarin sendiri sama orang tuanya? Toh buku pendidikan usia dini dan parenting sudah banyak. Teori pedagogi berserakan. Tinggal di praktikkan.

Setelah loading sok mikir, dan mencoba mengingat-ingat petuah-petuah ahli pendidikan mulai Ki Hajar Dewantoro, Paulo Freire, Montessori, sampai Al Ghazali, jawaban saya sederhana:

“Kita ingin Yoda tumbuh jadi seorang pembelajar. Kita ingin Ia belajar, cara belajar”.

Itu rangkuman pengalaman setelah sekolah selama 20 tahun dari TK hingga kuliah. Saya menyimpulkan fungsi utama belajar dalam institusi pendidikan itu terutama: membuat manusia tahu jika Ia tidak tahu. Dan memberi tahu, bagaimana mencari tahu apa yang harus mereka cari tahu.

Kenapa kita diajari baca tulis hitung? Agar kita belajar mengekstraksi pengetahuan yang berserakan dalam bentuk tulisan dan perhitungan. 

Kenapa kita diajari cara berkomunikasi, berorganisasi, dan berinteraksi? Karena kita makhluk sosial. Dan cara terbaik belajar bukan hanya lewat membaca dan browsing video, tapi bersosialisasi dan mengekstraksi pengetahuan / pengalaman orang lain lewat hubungan dengan sesama.

Kenapa kita dipaksa menulis skripsi waktu kuliah? Agar kita memiliki dasar pola pikir pendekatan ilmiah. Kita belajar melihat masalah, mengajukan pertanyaan, melihat penelitian yang sudah dilakukan, mengembangkan dugaan (hipotesa), dan menciptakan serangkaian tindakan untuk membuktikan dugaan tadi.

Belajar cara belajar. Learning on how to learn. Skill yang jika kita kuasai, akan membuka pikiran kita ke dalam keindahan ilmu pengetahuan. Karena itu Josh Kauffman menulis ‘The First 20 Hours’. Panduan praktis terstruktur yang membuatnya bisa belajar accounting, programming, tarian salsa, hingga biola. Pokoknya, semua manusia bisa belajar apa saja asal tahu caranya!

Belajar WHAT to learn akan menghasilkan pelajar.

Belajar HOW to learn akan menghasilkan pembelajar.

Padahal tujuan pendidikan adalah menghasilkan pembelajar, bukan pelajar. 

Pelajar puas dengan jawaban, pembelajar akan terus mengajukan pertanyaan. 

Pelajar mengejar nilai tinggi, pembelajar akan selalu mempraktikkan apa yang mereka ketahui. 

Pelajar tahu jika Ia tahu. Pembelajar tahu jika terkadang Ia tidak tahu jika Ia tidak tahu. 

Karena seperti pesan Om Socrates:

“Satu-satunya kebijakan sejati adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Disconnected

Apa jurus rahasia pemikir, penulis, dan pendeta sehingga bisa menghasilkan karya masterpiece dan menemukan kedamaian? 

Ternyata jawabannya sederhana: kurangi distraksi, perbanyak refleksi untuk menciptakan koneksi.

Itu simpulan yang saya baca dari membaca tiga buku bulan lalu: Deep Work dari Carl Newport, Jalan Panjang Untuk Pulang dari Agustinus Wibowo, dan My Life as A Writer dari Haqi Achmad.

Cal Newport menjelaskan pentingnya ‘Deep Work’, usaha berfokus dan berkonsentrasi untuk berpikir guna menghasilkan sesuatu yang ‘dalam’. Sesuatu yang berharga di tengah dangkalnya informasi yang ada disekitar kita.

source: Tokopedia
Cover buku Deep Work

Dan salah satu cara untuk mencapainya adalah menciptakan ‘disconnected’ (ini bahasa saya aja): kondisi dimana kita menolak segala distraksi yang tidak memberikan nilai tambah dalam karya kita.

Saya baru tahu jika Carl Jung (peletak dasar teori psikoanalisa) sampai membangun ‘Bollingen Tower’. Sebuah bangunan bergaya kastil yang terisolir di pinggir danau Zurich, hanya untuk berpikir dan tak membiarkan dirinya diganggu oleh orang lain.

Bollingen Tower. Source: Wikipedia

Adam Grant, (profesor Wharton termuda dan penulis buku best seller seperti Give and Take, Original dll ) punya cara untuk ‘disconnected’. Setiap musim panas Ia akan ‘menghilang’ dan fokus untuk menulis buku. Tanpa jadwal mengajar. Tanpa konsultasi mahasiswa. Tanpa jadwal meeting kampus. Hanya fokus riset dan menulis.

Hal yang sama dilakukan Dewi Lestari. Sebelum menulis novel baru, Dewi Lestari akan memasuki fase ‘bat cave’. Dimana dia akan menyendiri, melakukan riset, dan fokus menulis. 

Fase disconnected saat belajar meditasi juga membantu Agustinus Wibowo untuk menyelamatkan diri dari tekanan stress dan depresi. Selama 10 hari Ia dipaksa meninggalkan dunia luar dan belajar satu hal dasar: memperhatikan nafas. Ia menemukan keramaian hati, justru lewat kesunyian meditasi.

Disconnected memang terdengar paradoks. Apalagi kita hidup di dunia yang sepertinya sepi jika tidak mendapat sinyal wifi.

Tapi konektivitas menciptakan eksternalitas. 

Kita hidup di dunia yang penuh notifikasi. Dan semua menciptakan distraksi. Seolah-olah pikiran kita tak boleh kosong dan harus diisi. 

Akibatnya, pikiran manusia modern menjadi dangkal sekali. Kita jarang melakukan refleksi. Tak pernah memperhatikan keindahan kecil yang terjadi. Pada ujungnya, kita merasa asing dengan diri kita sendiri.

Percobaan

Saya lalu melakukan percobaan: mematikan handphone dan laptop setelah jam 9 malam sampai jam 7 pagi. Tak memikirkan kerjaan. Tak peduli dengan trending topics yang berseliweran. Tak mempedulikan telpon atasan. Benar-benar ‘disconnected-time’. Waktu untuk berpikir tanpa sinyal internet.

Ternyata susah banget! Teman kantor masih mengajak meeting sampai malam. Tangan gatel sekali untuk cek email saat bangun pagi. Notifikasi terus berbunyi minta di sentuh. Situs berita minta dibelai untuk dikunjungi.

Tapi setelah beberapa hari, kehidupan ternyata baik-baik saja saat kita offline. Ternyata benar, kita hanyalah irisan partikel kosmis kehidupan. Tidak terlalu berpengaruh. Pasar saham masih naik turun. Netizen tetap mencari bahan untuk dinyinyirin. Dunia masih tetap saja ramai.

Segi positif disconnected time ini: saya jadi punya waktu untuk berbicara dengan diri sendiri. Dan anehnya, beberapa ide segar bermunculan. Suara hati kecil yang selama ini tertekan informasi eksternal, mulai bersuara. Konsep-konsep yang berserakan, justru menemukan gambaran.

Mungkin karena kita punya waktu untuk berpikir, merefleksi, mencoba menarik koneksi, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar hakiki.

“Apa yang penting dalam hidup? Kenapa manusia begitu merisaukan dunia yang singkat ini? Mengapa kita ada dan akan kemana kita mengembara?”

Dan entah kenapa, dalam perenungan kesendirian ujung-ujungnya kita akan menemukan causa prima yang utama: Tuhan.

Mungkin karena itu ada ungkapan dalam dunia tasawuf: “Barang siapa mengenal dirinya, sungguh Ia telah mengenal Tuhannya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail