Disconnected

Apa jurus rahasia pemikir, penulis, dan pendeta sehingga bisa menghasilkan karya masterpiece dan menemukan kedamaian? 

Ternyata jawabannya sederhana: kurangi distraksi, perbanyak refleksi untuk menciptakan koneksi.

Itu simpulan yang saya baca dari membaca tiga buku bulan lalu: Deep Work dari Carl Newport, Jalan Panjang Untuk Pulang dari Agustinus Wibowo, dan My Life as A Writer dari Haqi Achmad.

Cal Newport menjelaskan pentingnya ‘Deep Work’, usaha berfokus dan berkonsentrasi untuk berpikir guna menghasilkan sesuatu yang ‘dalam’. Sesuatu yang berharga di tengah dangkalnya informasi yang ada disekitar kita.

source: Tokopedia
Cover buku Deep Work

Dan salah satu cara untuk mencapainya adalah menciptakan ‘disconnected’ (ini bahasa saya aja): kondisi dimana kita menolak segala distraksi yang tidak memberikan nilai tambah dalam karya kita.

Saya baru tahu jika Carl Jung (peletak dasar teori psikoanalisa) sampai membangun ‘Bollingen Tower’. Sebuah bangunan bergaya kastil yang terisolir di pinggir danau Zurich, hanya untuk berpikir dan tak membiarkan dirinya diganggu oleh orang lain.

Bollingen Tower. Source: Wikipedia

Adam Grant, (profesor Wharton termuda dan penulis buku best seller seperti Give and Take, Original dll ) punya cara untuk ‘disconnected’. Setiap musim panas Ia akan ‘menghilang’ dan fokus untuk menulis buku. Tanpa jadwal mengajar. Tanpa konsultasi mahasiswa. Tanpa jadwal meeting kampus. Hanya fokus riset dan menulis.

Hal yang sama dilakukan Dewi Lestari. Sebelum menulis novel baru, Dewi Lestari akan memasuki fase ‘bat cave’. Dimana dia akan menyendiri, melakukan riset, dan fokus menulis. 

Fase disconnected saat belajar meditasi juga membantu Agustinus Wibowo untuk menyelamatkan diri dari tekanan stress dan depresi. Selama 10 hari Ia dipaksa meninggalkan dunia luar dan belajar satu hal dasar: memperhatikan nafas. Ia menemukan keramaian hati, justru lewat kesunyian meditasi.

Disconnected memang terdengar paradoks. Apalagi kita hidup di dunia yang sepertinya sepi jika tidak mendapat sinyal wifi.

Tapi konektivitas menciptakan eksternalitas. 

Kita hidup di dunia yang penuh notifikasi. Dan semua menciptakan distraksi. Seolah-olah pikiran kita tak boleh kosong dan harus diisi. 

Akibatnya, pikiran manusia modern menjadi dangkal sekali. Kita jarang melakukan refleksi. Tak pernah memperhatikan keindahan kecil yang terjadi. Pada ujungnya, kita merasa asing dengan diri kita sendiri.

Percobaan

Saya lalu melakukan percobaan: mematikan handphone dan laptop setelah jam 9 malam sampai jam 7 pagi. Tak memikirkan kerjaan. Tak peduli dengan trending topics yang berseliweran. Tak mempedulikan telpon atasan. Benar-benar ‘disconnected-time’. Waktu untuk berpikir tanpa sinyal internet.

Ternyata susah banget! Teman kantor masih mengajak meeting sampai malam. Tangan gatel sekali untuk cek email saat bangun pagi. Notifikasi terus berbunyi minta di sentuh. Situs berita minta dibelai untuk dikunjungi.

Tapi setelah beberapa hari, kehidupan ternyata baik-baik saja saat kita offline. Ternyata benar, kita hanyalah irisan partikel kosmis kehidupan. Tidak terlalu berpengaruh. Pasar saham masih naik turun. Netizen tetap mencari bahan untuk dinyinyirin. Dunia masih tetap saja ramai.

Segi positif disconnected time ini: saya jadi punya waktu untuk berbicara dengan diri sendiri. Dan anehnya, beberapa ide segar bermunculan. Suara hati kecil yang selama ini tertekan informasi eksternal, mulai bersuara. Konsep-konsep yang berserakan, justru menemukan gambaran.

Mungkin karena kita punya waktu untuk berpikir, merefleksi, mencoba menarik koneksi, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar hakiki.

“Apa yang penting dalam hidup? Kenapa manusia begitu merisaukan dunia yang singkat ini? Mengapa kita ada dan akan kemana kita mengembara?”

Dan entah kenapa, dalam perenungan kesendirian ujung-ujungnya kita akan menemukan causa prima yang utama: Tuhan.

Mungkin karena itu ada ungkapan dalam dunia tasawuf: “Barang siapa mengenal dirinya, sungguh Ia telah mengenal Tuhannya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *