Untuk Apa Kita Sekolah?

Hari Rabu 16 Juni lalu saya ada interview. Tapi bukan interview kerjaan. Melainkan interview pendaftaran sekolah si Yoda. Yes, mulai tahun ini si Yoda insyaAllah akan berkenalan dengan institusi pendidikan.

Ada satu pertanyaannya yang menurut saya sangat relevan:

“Apa harapan Bapak/Ibu dengan menyekolahkan Yoda disini?”

Pertanyaan menarik. Ketika semua informasi ada di jejaring cloud computing, apakah sekolah masih penting? Bukannya sekarang sudah jamannya self learning?

Padahal zaman dulu mencari ilmu itu kewajiban yang berat. Imam Bukhari pernah melakukan perjalanan lebih dari 2.500 km hanya untuk mengumpulkan hadist. Pada abad 15, harga buku semahal mobil, dan hanya orang berduit saja yang bisa belajar. Waktu zaman belanda, hanya kaum priyayi saja yang boleh bersekolah.

Sekarang? Saat bingung cara melakukan sesuatu kita tinggal mengetik pertanyaan di Youtube dan ribuan video tutorial siap membantu. Ditambah forum seperti Stack overflow /Discord /Reddit /Quora yang penuh dengan orang pintar dan siap memberikan jawaban.

Apalagi selama pandemi, kita sadar bahwa belajar tak mesti dilakukan secara tatap muka. Karena kita sudah punya jaringan pengetahuan bernama internet. Semua keingintahuan bisa dijawab oleh Mbah Google. 

Jika tujuan sekolah adalah ijazah/sertifikat, apakah di masa depan ijazah masih penting? Ijazah saya sendiri udah lupa ditaruh dimana. Selama beberapa kali pindah kerja di korporasi multinasional, mereka ga pernah menanyakan ijazah saya tuh. 

Kenapa ga homeschooling aja? Panggil guru biar private dan bisa custom sesuai kebutuhan anak. Atau diajarin sendiri sama orang tuanya? Toh buku pendidikan usia dini dan parenting sudah banyak. Teori pedagogi berserakan. Tinggal di praktikkan.

Setelah loading sok mikir, dan mencoba mengingat-ingat petuah-petuah ahli pendidikan mulai Ki Hajar Dewantoro, Paulo Freire, Montessori, sampai Al Ghazali, jawaban saya sederhana:

“Kita ingin Yoda tumbuh jadi seorang pembelajar. Kita ingin Ia belajar, cara belajar”.

Itu rangkuman pengalaman setelah sekolah selama 20 tahun dari TK hingga kuliah. Saya menyimpulkan fungsi utama belajar dalam institusi pendidikan itu terutama: membuat manusia tahu jika Ia tidak tahu. Dan memberi tahu, bagaimana mencari tahu apa yang harus mereka cari tahu.

Kenapa kita diajari baca tulis hitung? Agar kita belajar mengekstraksi pengetahuan yang berserakan dalam bentuk tulisan dan perhitungan. 

Kenapa kita diajari cara berkomunikasi, berorganisasi, dan berinteraksi? Karena kita makhluk sosial. Dan cara terbaik belajar bukan hanya lewat membaca dan browsing video, tapi bersosialisasi dan mengekstraksi pengetahuan / pengalaman orang lain lewat hubungan dengan sesama.

Kenapa kita dipaksa menulis skripsi waktu kuliah? Agar kita memiliki dasar pola pikir pendekatan ilmiah. Kita belajar melihat masalah, mengajukan pertanyaan, melihat penelitian yang sudah dilakukan, mengembangkan dugaan (hipotesa), dan menciptakan serangkaian tindakan untuk membuktikan dugaan tadi.

Belajar cara belajar. Learning on how to learn. Skill yang jika kita kuasai, akan membuka pikiran kita ke dalam keindahan ilmu pengetahuan. Karena itu Josh Kauffman menulis ‘The First 20 Hours’. Panduan praktis terstruktur yang membuatnya bisa belajar accounting, programming, tarian salsa, hingga biola. Pokoknya, semua manusia bisa belajar apa saja asal tahu caranya!

Belajar WHAT to learn akan menghasilkan pelajar.

Belajar HOW to learn akan menghasilkan pembelajar.

Padahal tujuan pendidikan adalah menghasilkan pembelajar, bukan pelajar. 

Pelajar puas dengan jawaban, pembelajar akan terus mengajukan pertanyaan. 

Pelajar mengejar nilai tinggi, pembelajar akan selalu mempraktikkan apa yang mereka ketahui. 

Pelajar tahu jika Ia tahu. Pembelajar tahu jika terkadang Ia tidak tahu jika Ia tidak tahu. 

Karena seperti pesan Om Socrates:

“Satu-satunya kebijakan sejati adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *