Monthly Archives: July 2021

Bagaimana Cara Menjadi Bos yang Baik?

Menjadi bos adalah mimpi kebanyakan orang. Siapa yang ga mau tinggal nyuruh ini-itu terus dapat bayaran lebih tinggi?

Tapi ternyata menjadi bos yang baik itu tidak mudah. Banyak riset menunjukkan jika toxic boss menjadi penyebab turunnya moral dan produktivitas team, tingginya turnover, dan rendahnya motivasi dalam bekerja.

Kim Scott (mantan team leader di Google dan Apple) dalam ‘Radical Candor’ membocorkan cara menjadi bos yang baik dan benar. Ternyata bos bukanlah orang yang paling pintar. Juga bukan yang paling berkuasa. Bos yang baik justru harus bisa menentukan siapa ‘decider’ terbaik dalam sebuah proses pengambilan keputusan. 

Tapi sebelum ngomongin cara, emang tugas bos itu apa sih? Menurut Kim, tugas bos yang baik itu ada 3:

  1. Memberikan panduan kepada anggotanya. Baik dalam aspek profesional maupun personal. 
  2. Membangun team yang efektif. Ini termasuk mendengarkan aspirasi mereka, menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat, dan mengembangkan potensi anggota tim-nya
  3. Mencapai hasil. Memberikan dampak nyata sesuai tujuan organisasi.

Jadi bos bukan hanya tukang suruh yang meminta anak buahnya bekerja keras, tapi tidak menguasai dasar teknis suatu pekerjaan. Juga bukan micromanager yang sibuk mengurusi printilan tugas timnya. 

Ia tahu apa yang harus dilakukan timnya, konsisten memberi masukan dan arahan, menempatkan orang yang tepat, membangun budaya kerja yang sehat, dan bersama-sama mencapai hasil yang bermanfaat.

Nah, bagaimana cara menjadi bos yang baik?

Kuncinya ada di ‘Radical Candor’.  Spirit untuk menggabungkan ‘kepedulian personal’ (care personally’) dan kebiasaan memberikan masukan (‘challenge directly’) secara berimbang.

Maksudnya? Misalnya ada anggota tim kita yang kurang perform. Ada 4 pilihan situasi yang bisa diambil seorang bos.

Pertama, hanya peduli secara pribadi tapi tidak memberikan feedback yang membangun. Ini berarti menggunakan empati dan tidak membuka kenyataan jika pekerjaannya kurang memuaskan. Hubungan personal keduanya mungkin baik-baik saja, tapi performa team akan dikorbankan. Kuadran ini disebut ‘ruinous empathy’.

Kedua, tidak peduli secara pribadi dan tidak memberikan feedback yang berguna. Kuadran terparah dan paling bahaya. Disebut ‘manipulative insincerity’. Pokoknya anggota tim tadi dibiarin aja kerjaannya ga bener, dan ga dikasih tahu harus ngapain.

Ketiga, memberikan feedback yang bermanfaat tapi tidak peduli secara pribadi. Bos tipe ini biasanya sangat frontal, bermulut ‘pedas’, dan tak jarang menimbulkan konflik. Disebut ‘obnoxious aggression’. 

Tentu yang paling ideal: peduli terhadap pribadi tapi juga memberi feedback yang membangun. Ini berarti mendengarkan alasan tidak perform-nya seorang team, dan memberikan solusi untuk kebaikan bersama. Dan solusi ini bisa saja berupa pemecatan. Karena membiarkan orang lain berkinerja buruk tanpa ada peringatan dan usaha perbaikan adalah sebuah tindakan kejahatan. 

Kim memberikan contoh ‘golden standard’ yang ditunjukkan oleh Sheryl Sanberg, kepala div Periklanan Google dan sekarang menjadi COO Facebook:

In four years of working for Sheryl, I can honestly say she never wasted a single moment of my time, and in fact she saved enormous time for everyone who worked for her. She expected us to come to our 1:1s with a list of problems she could help us resolve. 

She’d listen, make sure she understood, and then she was like a sapper, an explosives expert. She defused some political situations that could have blown up in my face and she dispensed with seemingly insurmountable obstacles. 

No unnecessary meetings, no unnecessary analysis. She was never late to a meeting with me, and she wouldn’t tolerate anyone being late to one of her meetings. She’d make us have debates as a team, but just before they started to feel tedious, she’d identify a “decider,” and ask that person to come back to the rest of us with a decision by a particular date. 

She was one of the most persuasive people I’ve ever met, and she taught those of us on her team to be more persuasive as well. When some ridiculous time-wasting mandate would come down from on high at Google, Sheryl would figure out a way to shield us from it. All of that protection gave everyone who worked for her a lot more time to execute. 

And when the results came in, they didn’t escape Sheryl’s sharp analytical mind—we had to learn from what we’d done, whether we succeeded or failed. 

Nah, siap untuk jadi boss, bosque?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa Rahasia Bangsa Jenius?

Bulan Juni saya hanya menyelesaikan 2 buku. Retro flashback ke karya klasik Kang Jalal: islam Aktual, dan yang menarik menurut saya: Geography of Genius dari Eric Weiner.

source: Gramedia

Mungkin teman-teman mengenal Eric Weiner dari ‘Socrates Express’. Dimana Ia membawa kita lewat perjalanan kereta untuk berkenalan dengan filsuf-filsuf dunia.

Geography of Genius ditulis jauh sebelum Socrates Express. Tapi tetap ringan dan sangat enak dibaca. Pertanyaan utamanya sederhana: Apa yang membuat kota / peradaban tertentu bisa menghasilkan orang-orang jenius?

Kita akan dibawa berjalan-jalan ke periode filsuf Athena, dinasti Song Hangzhou, renaissance Florence, lahirnya empirisme di Edinburgh, ledakan sastra Bengali di Kolkata, revolusi musik di Wina, dan terakhir penyebab maraknya startup di Silicon Valley Amerika. 

Karena penulisnya memang melakukan perjalanan ke kota-kota tadi. Kita tidak akan disuguhi kajian literatur yang membosankan. Tapi lebih cerita perjalanan. Ditambah wawancara dengan ahli lokal yang bisa memberikan gambaran berdasarkan kenyataan. (Saat berada di China, Ia bahkan bertanya kepada Jack Ma tentang cerita kesuksesan Tiongkok)

Saya tak mungkin menceritakan semuanya. Silahkan dibaca sendiri. Renyah banget koq.  Tapi in a nutshell, kelahiran orang-orang jenius di waktu-waktu tertentu terkait dengan kondisi 3K dan modal 3T. Apa itu?

3T dan 3K

3K adalah Kekacauan, Keragaman, Kebijaksanaan. Yang didukung oleh 3T: Toleransi, Teknologi, dan Talenta.

Kota-kota jenius di masa lalu mayoritas kota perdagangan. Kita ambil contoh Athena, Hangzhou, Florence, dan Kolkata. Dan ternyata rata-rata sangat semrawut, tidak beraturan, tapi sangat terbuka. Mereka sangat toleran dan menerima perubahan.

Secara teori: semakin kacau suatu masyarakat, semakin beragam pola pikirnya, dan semakin terbuka terhadap ide-ide baru.

Tapi kekacauan tidak cukup. Harus ada dialog antar masyarakat di dalamnya. Athena misalnya. Mereka akan membahas masalah bersama di Agora. Semacam pengadilan warga. Warga Yunani kuno punya istilah khusus bagi warga yang tidak mau memikirkan urusan publik: Idiotes. Hanya orang idiot yang selfish dan memikirkan dirinya sendiri.

Kolkata punya ritual ‘adda’. Sebuah konsep ngobrol ngalor ngidul dimana warganya bisa bicara apa saja. Wina punya ritual cafe. Dimana para pemikir akan bertemu dan berdebat untuk saling bertukar pikiran. Bukan hanya selfie seperti yang kita lakukan saat ini.

Edinburg punya budaya ‘flyting’. Kebiasaan saling bertukar kata-kata kasar kepada teman bicara. Apa mungkin penghinaan terhadap lawan diskusi ternyata bisa menghasilkan filsafat Empirisme dan penemuan brilian dalam bidang kedokteran? Berarti Cebong vs Kampret harus dilestarikan donk?

Jika kita hanya membutuhkan kekacauan, keragaman, dan kebijaksanaan: Apakah Indonesia bisa menghasilkan jenius-jenius baru?

Kurang kacau apa negara kita? Kurang beragam gimana dari sabang sampai merauke. Kebijaksaanan apa lagi yang kita perlukan?

Sayangnya kita masih butuh 3T. Toleransi terhadap perbedaan. Teknologi. Dan Talenta. Saya jadi maklum jika kita kita belum akan menghasilkan ‘generasi jenius’ dalam waktu dekat.

Toleransi kita masih rendah. Perbedaan minor dalam ritual ibadah saja sudah membuat kita saling bermusuhan. Apalagi perbedaan calon Presiden atau Gubernur?

Technology adoption kita juga sama. Punya smartphone canggih, tapi hanya untuk selfie. Punya komputer kelas dewa, tapi hanya untuk gaming. Apakah kita sudah memiliki spirit inovasi untuk belajar memproduksi dan memperbaiki diri? Lha wong masyarakat kita lebih suka jadi konsumen daripada produsen.

Bagaimana dengan Talenta? Memang kita punya bonus demography. Juga kreatif-kreatif koq. Dan banyak yang pinter-pinter. Tapi overall sepertinya masih perlu belajar memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan yang ada. Baru memikirkan ide-ide yang mengguncang dunia.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail