Apa Rahasia Bangsa Jenius?

Bulan Juni saya hanya menyelesaikan 2 buku. Retro flashback ke karya klasik Kang Jalal: islam Aktual, dan yang menarik menurut saya: Geography of Genius dari Eric Weiner.

source: Gramedia

Mungkin teman-teman mengenal Eric Weiner dari ‘Socrates Express’. Dimana Ia membawa kita lewat perjalanan kereta untuk berkenalan dengan filsuf-filsuf dunia.

Geography of Genius ditulis jauh sebelum Socrates Express. Tapi tetap ringan dan sangat enak dibaca. Pertanyaan utamanya sederhana: Apa yang membuat kota / peradaban tertentu bisa menghasilkan orang-orang jenius?

Kita akan dibawa berjalan-jalan ke periode filsuf Athena, dinasti Song Hangzhou, renaissance Florence, lahirnya empirisme di Edinburgh, ledakan sastra Bengali di Kolkata, revolusi musik di Wina, dan terakhir penyebab maraknya startup di Silicon Valley Amerika. 

Karena penulisnya memang melakukan perjalanan ke kota-kota tadi. Kita tidak akan disuguhi kajian literatur yang membosankan. Tapi lebih cerita perjalanan. Ditambah wawancara dengan ahli lokal yang bisa memberikan gambaran berdasarkan kenyataan. (Saat berada di China, Ia bahkan bertanya kepada Jack Ma tentang cerita kesuksesan Tiongkok)

Saya tak mungkin menceritakan semuanya. Silahkan dibaca sendiri. Renyah banget koq.  Tapi in a nutshell, kelahiran orang-orang jenius di waktu-waktu tertentu terkait dengan kondisi 3K dan modal 3T. Apa itu?

3T dan 3K

3K adalah Kekacauan, Keragaman, Kebijaksanaan. Yang didukung oleh 3T: Toleransi, Teknologi, dan Talenta.

Kota-kota jenius di masa lalu mayoritas kota perdagangan. Kita ambil contoh Athena, Hangzhou, Florence, dan Kolkata. Dan ternyata rata-rata sangat semrawut, tidak beraturan, tapi sangat terbuka. Mereka sangat toleran dan menerima perubahan.

Secara teori: semakin kacau suatu masyarakat, semakin beragam pola pikirnya, dan semakin terbuka terhadap ide-ide baru.

Tapi kekacauan tidak cukup. Harus ada dialog antar masyarakat di dalamnya. Athena misalnya. Mereka akan membahas masalah bersama di Agora. Semacam pengadilan warga. Warga Yunani kuno punya istilah khusus bagi warga yang tidak mau memikirkan urusan publik: Idiotes. Hanya orang idiot yang selfish dan memikirkan dirinya sendiri.

Kolkata punya ritual ‘adda’. Sebuah konsep ngobrol ngalor ngidul dimana warganya bisa bicara apa saja. Wina punya ritual cafe. Dimana para pemikir akan bertemu dan berdebat untuk saling bertukar pikiran. Bukan hanya selfie seperti yang kita lakukan saat ini.

Edinburg punya budaya ‘flyting’. Kebiasaan saling bertukar kata-kata kasar kepada teman bicara. Apa mungkin penghinaan terhadap lawan diskusi ternyata bisa menghasilkan filsafat Empirisme dan penemuan brilian dalam bidang kedokteran? Berarti Cebong vs Kampret harus dilestarikan donk?

Jika kita hanya membutuhkan kekacauan, keragaman, dan kebijaksanaan: Apakah Indonesia bisa menghasilkan jenius-jenius baru?

Kurang kacau apa negara kita? Kurang beragam gimana dari sabang sampai merauke. Kebijaksaanan apa lagi yang kita perlukan?

Sayangnya kita masih butuh 3T. Toleransi terhadap perbedaan. Teknologi. Dan Talenta. Saya jadi maklum jika kita kita belum akan menghasilkan ‘generasi jenius’ dalam waktu dekat.

Toleransi kita masih rendah. Perbedaan minor dalam ritual ibadah saja sudah membuat kita saling bermusuhan. Apalagi perbedaan calon Presiden atau Gubernur?

Technology adoption kita juga sama. Punya smartphone canggih, tapi hanya untuk selfie. Punya komputer kelas dewa, tapi hanya untuk gaming. Apakah kita sudah memiliki spirit inovasi untuk belajar memproduksi dan memperbaiki diri? Lha wong masyarakat kita lebih suka jadi konsumen daripada produsen.

Bagaimana dengan Talenta? Memang kita punya bonus demography. Juga kreatif-kreatif koq. Dan banyak yang pinter-pinter. Tapi overall sepertinya masih perlu belajar memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan yang ada. Baru memikirkan ide-ide yang mengguncang dunia.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *