Masalah Dandelion

Seorang petani melihat adanya bunga dandelion di lahan pertaniannya. Ia menganggapnya sebagai hama dan ingin menghilangkan bunga itu. Berbagai cara dicoba. Mulai dari memotong, mencabut akar, sampai menggunakan obat khusus. Tapi tetap saja akan ada dandelion baru yang tumbuh.

Ia lalu berkirim surat ke Dinas Pertanian terkait. Dan menceritakan semua upaya yang telah ia coba. Suratnya diakhiri dengan satu pertanyaan: “Apa yang bisa saya lakukan?”

Diluar dugaan surat balasan datang dan hanya menyebutkan satu paragraf: “Jika semua upaya sudah Anda coba dan masih belum berhasil menyingkirkan dandelion itu, kami sarankan agar Anda belajar mencintainya”.

—-

Terkadang kita terlalu memikirkan solusi sebuah masalah tanpa pernah memperhatikan ‘keindahan’ dari sebuah masalah.

Seperti dandelion, ia mengganggu, tapi sesungguhnya indah dan pasti mengajarkan sesuatu. Kita sering hanya menggerutu, tapi terkadang lupa: ada hikmah di balik itu.

Yang bahaya justru ketika kita ingin lari dari masalah, dan menganggap jika hidup pasti lebih baik jika tanpa masalah. Apa serunya kehidupan tanpa permasalahan yang harus dipecahkan?

Karena itu setiap memiliki masalah, anggap itu sebagai dandelion kiriman Tuhan yang ditanamkan di pekarangan kehidupan kita. Untuk memaksa kita menjadi pribadi yang lebih baik. Lebih kreatif. Lebih tahan banting dan kebal akan cobaan kehidupan.

Tak perlu bingung dan stress saat masalah itu belum terpecahkan. Terus mencoba sambil menikmati keindahan masalah seperti guguran bunga dandelion.

Dan coba ganti doa kita.

Dari sebelumnya:  “Dear God, I have a big problem.”

Menjadi: “Dear problem, I have a big God”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *