Monthly Archives: November 2021

Kenapa Saya Belum Tertarik Menggunakan Jasa Bank Syariah?

Kebetulan saya sedang mencari tempat penitipan safe deposit box. Buat naruh kertas-kertas aja sih. Karena dirasa jika hanya ditaruh di lemari, risiko tetap tinggi. Kenapa ga ‘disekolahkan’ ke lembaga keuangan? Alhamdulilah belum butuh pinjaman dengan agunan. Hipotesa saya sementara terbukti: hidup bakal damai jika tidak perlu mikir cicilan setiap hari hihihi.

Awalnya saya ingin coba ke salah satu bank syariah terbesar. Yang baru merger itu. Yang jika temen-temen beli sahamnya pada Maret 2020, maka sekarang bisa menghasilkan profit ten bagger kalo kata Peter Lynch. 

Saya coba iseng-iseng tanya via DM twitter. Apakah bank sholeh ini punya jasa safe deposit box? Jawabannya bikin istighfar. 

“…kami informasikan perihal safe deposit box dapat kakak lakukan konfirmasi melalui kantor cabang ******* terdekat ya kak.”.

Lah bijimane, kan situ official socmed bank-nya. Masa saya harus cek fisik juga. Kan udah jaman now.  Padahal saya cuma mau tahu bank ini punya layanan itu nggak? Jika iya, syaratnya apa biayanya berapa? Emang ga ada training product education? 

Ini mirip misalnya saya mau beli chicken nugget, terus tanya ke socmed resto cepat saji yang jual ayam goreng. “Halo… Situ kan jual ayam goreng dada, jualan nugget juga ga?“

“Bisa di cek dengan datang ke resto terdekat ya”.

Oh baique. Mungkin ini teknik NLP terbaru untuk mempercepat closing. Dengan memberikan sugesti bagi calon konsumen melakukan direct action. Dan terbukti saya terdorong untuk datang beneran dong! Hanya untuk mendapatkan product information. 

Sampailah saya di kantor bank itu. Wah koq ada polisi? Eh ternyata sekarang teman-teman security bajunya sama-sama coklat hehe. Semoga pelayanannya sama-sama ramah ya ^_* ting.

“Saya mau buka safe deposit box”.

“Oh baik, silahkan tunggu di ruangan deposit box”. Kata Pak security dengan ramah. Sambil mengantarkan saya ke ruangan pojok di lantai 1.

Wah mantap juga nih servisnya. Orang mau tanya-tanya aja udah disuruh duduk di lounge. Terus ada jus buah kotakan dan minuman. Padahal saya hanya pakai kaos dan celana pendek murahan. Feels like a boss nih.

Saya menunggu sekitar 5 menit. Lalu datang Abang-abang membawa kunci. Membuka pintu kayu, lalu membuka pintu kedua berlapis logam dengan teralis jeruji besi sebagai pengaman.

“Silahkan dibuka safe depositnya Pak’. katanya ramah.

Waduh.

“Lho, saya mau tanya cara buka layanan safe deposit box Mas, bukan buka safe deposit box-nya. Saya belum jadi nasabah”. Jawab saya jujur.

Mas-nya sepertinya agak tengsin. Mungkin ngebatin: ngerepotin 15 menit dari hidup gw aja lu cuk!. Mas-nya dengan sabar lalu menjelaskan jika safe deposit bank sholeh ini hanya terbuka bagi kaum ‘The Have’. Nasabah prioritas. Kaum terpilih dengan nilai saldo mengendap sekian xxx selama setahun. Bukan untuk kaum peasant seperti saya.

Atau pilihan keduanya: mengendapkan dana sekian puluh juta selama setahun dan membeli cicilan emas sekian gram. Total jika saya hitung, butuh biaya 35 juta hanya agar bisa diperbolehkan menyewa safe deposit box dengan biaya 500 ribu.

Tentu saya langsung mengambil jurus pikir-pikir dulu. Tancap gas dan coba membandingkan dengan bank ribawi yang hanya berjarak 1,5 km dari bank sholeh tadi.

Ndilalah di bank ribawi, layanan-nya lebih terjangkau. Hanya 500 ribu / tahun, dengan uang jaminan kunci 750 ribu. Penyewa juga tidak diperlukan menjadi nasabah prioritas. Karena jatuhnya hanya mirip sewa tempat. Tak peduli siapa Anda, selama bisa bayar dan masih ada tempat ya silahkan dipakai.

Untuk bisa masuk ke ruangan penyimpanan di bank ribawi juga lebih ketat. Hanya pemilik rekening atau ahli waris yang ditunjuk yang bisa masuk, meskipun ada orang lain yang mengaku membawa kunci asli. Gak bisa asal nongkrong seperti yang di bank sholeh tadi.

Jadi ketahuan kan kenapa saya terpaksa memilih bank ribawi dibandingkan bank syar’i. Bukan karena layanan bank ribawi lebih terjangkau, lebih ribet protokol masuknya, atau saya sudah punya baju fire resistant yang anti api neraka.

Tapi ya karena duit saya belum banyak banget, mau gimana lagi?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail