Category Archives: Bookep

All about book, from resume to free book to gift!!!

Bagaimana Cara Menjadi Bos yang Baik?

Menjadi bos adalah mimpi kebanyakan orang. Siapa yang ga mau tinggal nyuruh ini-itu terus dapat bayaran lebih tinggi?

Tapi ternyata menjadi bos yang baik itu tidak mudah. Banyak riset menunjukkan jika toxic boss menjadi penyebab turunnya moral dan produktivitas team, tingginya turnover, dan rendahnya motivasi dalam bekerja.

Kim Scott (mantan team leader di Google dan Apple) dalam ‘Radical Candor’ membocorkan cara menjadi bos yang baik dan benar. Ternyata bos bukanlah orang yang paling pintar. Juga bukan yang paling berkuasa. Bos yang baik justru harus bisa menentukan siapa ‘decider’ terbaik dalam sebuah proses pengambilan keputusan. 

Tapi sebelum ngomongin cara, emang tugas bos itu apa sih? Menurut Kim, tugas bos yang baik itu ada 3:

  1. Memberikan panduan kepada anggotanya. Baik dalam aspek profesional maupun personal. 
  2. Membangun team yang efektif. Ini termasuk mendengarkan aspirasi mereka, menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat, dan mengembangkan potensi anggota tim-nya
  3. Mencapai hasil. Memberikan dampak nyata sesuai tujuan organisasi.

Jadi bos bukan hanya tukang suruh yang meminta anak buahnya bekerja keras, tapi tidak menguasai dasar teknis suatu pekerjaan. Juga bukan micromanager yang sibuk mengurusi printilan tugas timnya. 

Ia tahu apa yang harus dilakukan timnya, konsisten memberi masukan dan arahan, menempatkan orang yang tepat, membangun budaya kerja yang sehat, dan bersama-sama mencapai hasil yang bermanfaat.

Nah, bagaimana cara menjadi bos yang baik?

Kuncinya ada di ‘Radical Candor’.  Spirit untuk menggabungkan ‘kepedulian personal’ (care personally’) dan kebiasaan memberikan masukan (‘challenge directly’) secara berimbang.

Maksudnya? Misalnya ada anggota tim kita yang kurang perform. Ada 4 pilihan situasi yang bisa diambil seorang bos.

Pertama, hanya peduli secara pribadi tapi tidak memberikan feedback yang membangun. Ini berarti menggunakan empati dan tidak membuka kenyataan jika pekerjaannya kurang memuaskan. Hubungan personal keduanya mungkin baik-baik saja, tapi performa team akan dikorbankan. Kuadran ini disebut ‘ruinous empathy’.

Kedua, tidak peduli secara pribadi dan tidak memberikan feedback yang berguna. Kuadran terparah dan paling bahaya. Disebut ‘manipulative insincerity’. Pokoknya anggota tim tadi dibiarin aja kerjaannya ga bener, dan ga dikasih tahu harus ngapain.

Ketiga, memberikan feedback yang bermanfaat tapi tidak peduli secara pribadi. Bos tipe ini biasanya sangat frontal, bermulut ‘pedas’, dan tak jarang menimbulkan konflik. Disebut ‘obnoxious aggression’. 

Tentu yang paling ideal: peduli terhadap pribadi tapi juga memberi feedback yang membangun. Ini berarti mendengarkan alasan tidak perform-nya seorang team, dan memberikan solusi untuk kebaikan bersama. Dan solusi ini bisa saja berupa pemecatan. Karena membiarkan orang lain berkinerja buruk tanpa ada peringatan dan usaha perbaikan adalah sebuah tindakan kejahatan. 

Kim memberikan contoh ‘golden standard’ yang ditunjukkan oleh Sheryl Sanberg, kepala div Periklanan Google dan sekarang menjadi COO Facebook:

In four years of working for Sheryl, I can honestly say she never wasted a single moment of my time, and in fact she saved enormous time for everyone who worked for her. She expected us to come to our 1:1s with a list of problems she could help us resolve. 

She’d listen, make sure she understood, and then she was like a sapper, an explosives expert. She defused some political situations that could have blown up in my face and she dispensed with seemingly insurmountable obstacles. 

No unnecessary meetings, no unnecessary analysis. She was never late to a meeting with me, and she wouldn’t tolerate anyone being late to one of her meetings. She’d make us have debates as a team, but just before they started to feel tedious, she’d identify a “decider,” and ask that person to come back to the rest of us with a decision by a particular date. 

She was one of the most persuasive people I’ve ever met, and she taught those of us on her team to be more persuasive as well. When some ridiculous time-wasting mandate would come down from on high at Google, Sheryl would figure out a way to shield us from it. All of that protection gave everyone who worked for her a lot more time to execute. 

And when the results came in, they didn’t escape Sheryl’s sharp analytical mind—we had to learn from what we’d done, whether we succeeded or failed. 

Nah, siap untuk jadi boss, bosque?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa Rahasia Bangsa Jenius?

Bulan Juni saya hanya menyelesaikan 2 buku. Retro flashback ke karya klasik Kang Jalal: islam Aktual, dan yang menarik menurut saya: Geography of Genius dari Eric Weiner.

source: Gramedia

Mungkin teman-teman mengenal Eric Weiner dari ‘Socrates Express’. Dimana Ia membawa kita lewat perjalanan kereta untuk berkenalan dengan filsuf-filsuf dunia.

Geography of Genius ditulis jauh sebelum Socrates Express. Tapi tetap ringan dan sangat enak dibaca. Pertanyaan utamanya sederhana: Apa yang membuat kota / peradaban tertentu bisa menghasilkan orang-orang jenius?

Kita akan dibawa berjalan-jalan ke periode filsuf Athena, dinasti Song Hangzhou, renaissance Florence, lahirnya empirisme di Edinburgh, ledakan sastra Bengali di Kolkata, revolusi musik di Wina, dan terakhir penyebab maraknya startup di Silicon Valley Amerika. 

Karena penulisnya memang melakukan perjalanan ke kota-kota tadi. Kita tidak akan disuguhi kajian literatur yang membosankan. Tapi lebih cerita perjalanan. Ditambah wawancara dengan ahli lokal yang bisa memberikan gambaran berdasarkan kenyataan. (Saat berada di China, Ia bahkan bertanya kepada Jack Ma tentang cerita kesuksesan Tiongkok)

Saya tak mungkin menceritakan semuanya. Silahkan dibaca sendiri. Renyah banget koq.  Tapi in a nutshell, kelahiran orang-orang jenius di waktu-waktu tertentu terkait dengan kondisi 3K dan modal 3T. Apa itu?

3T dan 3K

3K adalah Kekacauan, Keragaman, Kebijaksanaan. Yang didukung oleh 3T: Toleransi, Teknologi, dan Talenta.

Kota-kota jenius di masa lalu mayoritas kota perdagangan. Kita ambil contoh Athena, Hangzhou, Florence, dan Kolkata. Dan ternyata rata-rata sangat semrawut, tidak beraturan, tapi sangat terbuka. Mereka sangat toleran dan menerima perubahan.

Secara teori: semakin kacau suatu masyarakat, semakin beragam pola pikirnya, dan semakin terbuka terhadap ide-ide baru.

Tapi kekacauan tidak cukup. Harus ada dialog antar masyarakat di dalamnya. Athena misalnya. Mereka akan membahas masalah bersama di Agora. Semacam pengadilan warga. Warga Yunani kuno punya istilah khusus bagi warga yang tidak mau memikirkan urusan publik: Idiotes. Hanya orang idiot yang selfish dan memikirkan dirinya sendiri.

Kolkata punya ritual ‘adda’. Sebuah konsep ngobrol ngalor ngidul dimana warganya bisa bicara apa saja. Wina punya ritual cafe. Dimana para pemikir akan bertemu dan berdebat untuk saling bertukar pikiran. Bukan hanya selfie seperti yang kita lakukan saat ini.

Edinburg punya budaya ‘flyting’. Kebiasaan saling bertukar kata-kata kasar kepada teman bicara. Apa mungkin penghinaan terhadap lawan diskusi ternyata bisa menghasilkan filsafat Empirisme dan penemuan brilian dalam bidang kedokteran? Berarti Cebong vs Kampret harus dilestarikan donk?

Jika kita hanya membutuhkan kekacauan, keragaman, dan kebijaksanaan: Apakah Indonesia bisa menghasilkan jenius-jenius baru?

Kurang kacau apa negara kita? Kurang beragam gimana dari sabang sampai merauke. Kebijaksaanan apa lagi yang kita perlukan?

Sayangnya kita masih butuh 3T. Toleransi terhadap perbedaan. Teknologi. Dan Talenta. Saya jadi maklum jika kita kita belum akan menghasilkan ‘generasi jenius’ dalam waktu dekat.

Toleransi kita masih rendah. Perbedaan minor dalam ritual ibadah saja sudah membuat kita saling bermusuhan. Apalagi perbedaan calon Presiden atau Gubernur?

Technology adoption kita juga sama. Punya smartphone canggih, tapi hanya untuk selfie. Punya komputer kelas dewa, tapi hanya untuk gaming. Apakah kita sudah memiliki spirit inovasi untuk belajar memproduksi dan memperbaiki diri? Lha wong masyarakat kita lebih suka jadi konsumen daripada produsen.

Bagaimana dengan Talenta? Memang kita punya bonus demography. Juga kreatif-kreatif koq. Dan banyak yang pinter-pinter. Tapi overall sepertinya masih perlu belajar memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan yang ada. Baru memikirkan ide-ide yang mengguncang dunia.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prinsip-prinsip Sukses Dalam Hidup [Principle by Ray Dalio]

Ray Dalio adalah founder dari ‘hedge fund’ Bridgewater. Apaan tuh Bridgewater alias jembatan air?

Anggep aja dia dukun yang bisa menggandakan duit investor lewat investasi di pasar keuangan (saham, obligasi, index dll).

Saat udah tua, si Ray Dalio tiba-tiba kepikiran: “Anjir, koq gw bisa tajir melintir ya?”

Setelah dipikir-pikir, ia merasa karena punya kebiasaan membuat ‘principle’ dalam kehidupan dan pekerjaan.
Ray Dalio percaya jika semesta adalah mesin raksasa. Yang perlu kita lakukan biar sukses ya menerapkan sistem dan algoritma yang tepat.

Nah, berhubung udah ga butuh duit, ia lalu membagikan prinsip hidupnya dalam buku ini: Principle.

Males baca atau ga punya bukunya? Bisa temukan slide-booknya disini ya:

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Cara Mengubah Kebiasaan Kita

 

Mengapa 80% orang yang diet gagal hanya dalam waktu seminggu*?

Mengapa saat resolusi tahun baru, hanya 19% orang yang mampu melaksanakannya selama 2 tahun**?

Mengapa kita seringkali tetap melakukan kebiasaan buruk, meski tahu kita seharusnya berhenti?

Kita tahu merokok tidak baik untuk kesehatan. Mengapa kita sulit untuk berhenti?

Kita tahu olahraga itu penting. Mengapa kita sangat malas menggerakkan badan?

Kita tahu membaca itu investasi. Mengapa kita tetap memilih menonton gosip dan sinetron?

Jawaban pertanyaan diatas menurut Charles Duhigg adalah: karena kita tersandera oleh kebiasaan (habit).

Kebiasaanlah yang membuat kita bergerak dan melakukan semua rutinitas tanpa perlu berpikir lagi. Ini yang membuat kita langsung membuka aplikasi sosmed saat membuka laptop padahal ada pekerjaan yang harus kita lakukan. 

Kebiasaan pula yang mengarahkan kita untuk membeli es krim coklat meski baru saja makan nasi padang. Bagi yang terbiasa membikin kopi, maka aktivitas pertama yang dilakukan adalah menyeduh secangkir kopi dipagi hari.

Pertanyaannya: apakah kebiasaan buruk bisa dihilangkan?

Jawaban jujurnya: TIDAK BISA!. Kebiasaan tidak bisa dihilangkan karena manusia adalah makhluk yang hidup berdasarkan kebiasaan.

Kabar baiknya: kebiasaan buruk dapat diganti dengan kebiasaan baik.

Dalam The Power of Habit, Duhigg menjelaskan rahasia-nya secara ilmiah.

3 Langkah

Sebelum mengganti kebiasaan, kita harus tahu dulu struktur sebuah kebiasaan. Menurut pakar, ada tiga komponen terciptanya habit:

#1 Cue (pemicu): pencetus lahirnya kebiasaan

#2 Routine (rutinitas): Aktivitas rutin yang dilakukan

#3 Reward: Imbalan yang kita dapatkan setelah melakukan aktivitas itu

Kita ambil contoh kebiasaan ngemil di kantor. 

Lahirnya kebiasaan ngemil seringkali terjadi bukan karena kita lapar, tapi adanya ‘pemicu’ berupa kue yang disediakan gratis oleh kantor. Rutinitasnya tentu saja mamam kue-nya. Dan kita mendapat reward berupa perut kenyang dan lidah yang dimanjakan. 

Lantas bagaimana mengubahkan?

Langkah pertama adalah: mengidentifikasi rutinitas yang ingin kita ubah. 

Sadar jika harus berubah menjadi krusial karena otak kita harus mengerti jika ‘ada sesuatu yang salah’ dengan aktivitas yang sedang kita lakukan. Kalo ga merasa sadar ya pasti ga berubah karena merasa ‘fine-fine’ aja.

Langkah kedua: lakukan eksperiment dengan reward. 

Tujuannya untuk mengubah ‘rutinitas’ sebelum mendapatkan reward. Jika sebelumnya kita absen dan langsung mengambil kue gratis, mungkin sebaiknya kita hanya makan kue setelah mengerjakan 1-2 laporan. Atau apa yang terjadi jika reward berupa kue diganti dengan buah?

Langkah ketiga: Temukan cue, motivasi sebuah kebiasaan

Kenapa kita melakukan apa yang kita lakukan? 

Kenapa kita makan kue di pagi hari? Apakah karena lapar? Atau suka rasa manisnya? Atau karena bengong dan ga tau harus ngapain?

Jika karena lapar, ya coba sarapan terlebih dahulu. Jika hanya suka manisnya, mungkin mengganti kue dengan jus segar yang lebih sehat. Jika karena bengong, mungkin bisa membalas email terlebih dahulu.

Terakhir: mulai berubah. Ciptakan rencana dan laksanakan rencana itu.

Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubahnya sendiri.

Image result for charles duhigg"

 

*https://www.health.com/nutrition/5-reasons-most-diets-fail-within-7-days

**https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2980864

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Detik yang Menentukan

Jika Anda punya resolusi yang belum dicapai tahun ini, maka santai saja. Anda tidak sendiri.

Tapi kira-kira apa yang membuat orang belum mencapai target mereka? Dugaan saya: banyak dari kita yang belum memulai.

Contohnya jika saya punya mimpi jalan-jalan ke Eropa. Saya sudah menuliskannya ke resolusi. Tapi hanya menulis mimpi “jalan-jalan ke Eropa” punya dua permasalahan fundamental.

Pertama, mimpi itu terlalu abstrak dan tidak jelas. Eropa adalah daratan seluas 10,18 juta kilometer persegi. Saya juga tidak menjelaskan berangkat kapan, sendiri atau ikut grup, dan kapan kembalinya.

Kedua, target itu terlalu ‘besar’ tanpa road map yang jelas. Tak ada strategi dan rencana aksi. Bagaimana bisa pergi ke Eropa jika saya tidak tahu apa yang harus dilakukan?

Tanpa ada road map untuk memulai dari mana, kita hanya berputar-putar dalam wacana pergi ke Eropa tanpa mampu mengubahnya menjadi tindakan yang konkret (ujung-ujungnya cuma ke Gembira Loka).

Untungnya pakar strategi punya solusi. Kita harus menciptakan objective yang jelas, disertai key result yang bisa diukur. Itulah fungsi OKR. Objective and key result.

Setelah itu OKR dituruhkan jadi action plan. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan. Misal tiga langkah awal ‘Liburan ke Eropa’ adalah:

1. Menentukan tujuan negara dan waktu jalan-jalan

  1. Melakukan survey tiket dan perkiraan biaya
  2. Membuka tabungan khusus

Apakah dengan membuat daftar aksi maka mimpi kita akan terjadi? Tidak semudah itu ferguso!

Prefontal cortex otak kita akan melakukan kalkulasi dan sugesti:

“Emang lu mampu? Hidup masih mulung juga. Mending ditabung cuk… “

Apa yang harus kita lakukan saat menghadapi kondisi seperti ini?

5 Detik

Mel Robbins punya jawaban sederhana: gunakan kekuatan meta-kognisi kita. 

Mahluk apa pula itu meta-kognisi? 

Bahasa sederhananya sih insting. Gunakan pikiran kita untuk mengarahkan insting bertindak. 

Gunakan #5SecondRule.

Premisnya sederhana: 

If you have an instinct to act on a goal, you must physically move within 5 seconds or your brain will kill it.

Jika kita ingin melakukan sesuatu dan setelah 5 detik masih kebanyakan mikir, besar kemungkinan tindakan itu ga jadi kita lakukan.

Contohnya waktu mau nanya nomor telpon cewek/cowok cantik di jalan. Kita ingin sekali bertindak tapi pikiran prefontal cortex kita mencegah:

“Nanti klo ga dikasih gimana? Malu ga sih? Emang siapa situ koq sok kenal?”

Kebanyakan mikir malah ga jalan.

Yang perlu kita lakukan sederhana banget. Berhitung 5..4…3…2..1 dan… berhenti mikir! Langsung gerak samperin dia! Pokoknya harus action! Ga usah dipikir konsekuensinya!

Itulah seni #5SecondRule. Seperti launching roket, kita menggunakan 5 detik untuk memusatkan tindakan dan menghiraukan pikiran sadar kita sendiri. Pokoknya pakai insting untuk melakukan sesuatu.

Aturan ini bisa dipakai saat kita takut memulai sesuatu yang baru, atau ragu-ragu dalam bertindak. Termasuk soal pemenuhan resolusi diri sendiri. 

Banyak orang tidak bisa mencapai target yang mereka inginkan karena mereka belum mulai BERGERAK untuk mencapainya.

Padahal kata kuncinya sederhana: Mulai aja dulu. Just do it.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ini Yang Saya Lakukan Untuk Bekerja Hanya 4 Hari Dalam Seminggu

freepik.com

Apa trend kerja yang patut kita coba di 2020?

Flexy hours? Udah basi.

Remote working? Biasa bingits.

Boleh pakai baju bebas termasuk celana pendekan? Itu Inovasi zaman vintage kawanku.

The new trend is: less workdays!

Semoga bos saya tidak membaca artikel ini. Tapi saya harus membuat pengakuan dosa: Saya hanya bekerja 4 hari dalam seminggu!

Tentu ada banyak faktor kenapa bisa kejadian.

Karena kebetulan saya belajar di perusahaan yang mementingkan hasil. Kebetulan budaya kerjanya bebas mau remote working, work from home, atau pakai sendal jepitan ke kantor. Kebetulan saya tidak berada di divisi yang membutuhkan kehadiran fisik sepanjang waktu.

Ritual less workdays ini terinspirasi dari buku jadul (tahun 2007) yang ditulis Tim Ferriss: 4 Hours Workweek.

Doi mengusulkan solusi yang pasti dicintai semua umat manusia:

a. Kerja cuma 4 jam seminggu

b. Nganggur-senganggur-nganggurnya

c. Tetap dapat duit buat keliling dunia

Secara logika sangat bisa dilakukan dengan:

  1. Menciptakan bisnis dengan sistem yang mapan
  2. Pastikan pengeluaran lebih kecil dari pendapatan

Tim menawarkan perspektif yang berbeda tentang kekayaan. Menurut dia, orang kaya itu bukan orang yang punya banyak uang. Orang kaya adalah orang yang memiliki komuditas yang tak mungkin diciptakan oleh manusia: waktu.

Orang kaya adalah orang yang punya waktu untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan.

Bagaimana caranya?

Framework yang Ia tawarkan adalah D-E-A-L.

D untuk Definition. Tentang mengubah mindset bahwa kekayaan itu bukan berbentuk harta. Tapi waktu yang terekam dalam bentuk ‘moment’. Buat apa punya 1 juta dollar di bank tapi ga pernah menikmati 1 juta dollar itu? Percuma punya villa tapi ga pernah tinggal di villa itu.

E untuk Elimination. Pentingnya hidup ‘sewajarnya’. Minimalis. Tapi bukan missqueen. Ini tentang meninggalkan ‘ilusi kebahagiaan’ berupa kepemilikan barang, penguasaan informasi, status, dan persepsi orang lain terhadap kita.

A untuk Automation. Bagaimana membangun sistem bisnis sehingga Anda tak perlu mengurus bisnis itu sendiri, kekuatan outsourcing, dan pelajaran MBA – Management by Absence.

L untuk Liberation. Berisi tips-tips praktis agar bisa ‘menghilang’ dari kantor tanpa diketahui bos, cara mendapatkan asisten virtual, sampai saran psikologis jika kita sudah menjadi manusia nomad yang bingung harus ngapain untuk mengisi waktu sehari-hari. Menjadi pengangguran berduit ternyata berbahaya secara psikologis!

Aplikasi Saya

Karena saya masih belajar ikut perusahaan orang, tentu ga bisa ekstrim kerja hanya 4 jam. Kecuali klo saya kawin ama nenek investornya yah…

Yang bisa saya lakukan: mengurangi hari kerja menjadi 4 hari. Dengan metode sederhana:

Design and delegate. Di awal tahun, membuat strategi dan action plan aktivitas yang akan dilakukan selama 6 bulan kedepan. Propose ke bos. Approve? Lanjut ke fase delegation. Kira-kira siapa vendor yang bisa mengeksekusi project ini. Dalam day to day basis, fungsi kita hanya sebagai kontroller dan evaluator.

Eliminate. Membuang pekerjaan yang gak berdampak. Penyakit orang kantoran: menganggap banyak kerjaan itu baik. Padahal aslinya biar kelihatan kerja doank. Output tidak sama dengan outcome. Cari critical output yang menghasilkan outcome paling besar.

Automate. Untuk reporting saya menggunakan automate queries. Inilah manfaat belajar data science. Sehingga setiap minggu sistem akan mengirimkan market performance secara otomatis untuk dianalisa. Report juga harus dibikin sederhana. Hanya satu halaman. Analisa detail bisa ditaruh dalam appendix.

Learning. Tim saya membuat perjanjian: sisihkan satu hari dalam seminggu untuk meninggalkan pekerjaan dan fokus untuk belajar. Apa saja. Ga harus berhubungan dengan urusan kantor. Kelihatannya tidak produktif. Tapi percayalah, karyawan yang terus belajar akan menghasilkan metode-metode baru yang pada ujungnya meningkatkan produktivitas perusahaan.

Dengan menerapkan 4 hari kerja saya merasa:

  1. Terpacu untuk bekerja lebih efektif dan efisien
  2. Mengurangi beban pikiran dengan tidak memikirkan ‘low impact activities’
  3. Merasa menjadi manusia yang lebih baik dengan terus belajar sepanjang waktu

Gimana. Penasaran mau coba? Inget pesen Oom Tim:

Most things make no difference. Being busy is a form of laziness—lazy thinking and indiscriminate action. Being overwhelmed is often as unproductive as doing nothing, and is far more unpleasant. Being selective—doing less—is the path of the productive. Focus on the important few and ignore the rest.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Membaca Buku 300 Halaman Dalam 2 Jam

Jika ada pilihan: mendapat 5 kg emas atau 5 kg buku rahasia mendapatkan emas. Kira-kira mana yang Anda pilih?

Jika memilih emas, maka saya menduga situ belum jadi orang kaya. (Klo udah kaya ga butuh emas lagi donk haha)

Konon orang yang benar-benar kaya biasanya tahu jika knowledge capital lebih penting dari monetary capital

Warren Buffet menghabiskan 80% waktunya untuk membaca. Qorun berkata jika kekayaannya didapat karena ilmu yang dimilikinya. Sayyidina Ali pernah berpesan: pilihlah ilmu dibanding harta. Karena jika kita memilih harta, kita harus menjaganya. Sedangkan jika kita memilih ilmu, ilmu yang akan menjaga kita.

Tentu yang terbaique adalah mendapatkan keduanya. 

Karena itu bekal yang diberikan Arkad, orang terkaya di Babilonia kepada anaknya, Nomasir. Ia menyuruh anaknya berkelana dan memberinya dua modal: 3 kantong emas dan 5 lempengan tablet berisi kebijaksanaan dalam mencari kekayaan..

Singkat cerita, emasnya habis tidak tersisa. Dan berkat rezeki Tuhan ditambah petunjuk dari tablet (tanah liat, bukan ipad)  itulah sang anak bisa kembali ke ayahnya dan membawa lebih banyak keuntungan. Harus ditambahin cap Tuhannya cuy biar ga dibilang kapir hehe.

Saya ga akan cerita rahasia yang ditulis Arkad. Anda bisa baca sendiri dalam The Richest Man in Babylon karya George Clason.

Saya cuma mau cerita: kita tahu membaca itu penting, tapi bagaimana bisa menyelesaikan buku dalam waktu yang terbatas?

Karena itulah saya iseng-iseng mengikuti training membaca cepat. Katanya sih menjamin buku 300 halaman bisa dituntaskan hanya dengan 2 jam, dengan 100% pemahaman, plus bisa bikin mindmap isi bukunya.

Biaya training full-nya 3 jutaan rupiah. Saya cuma ikut yang setelah hari. Bayar ratusan ribu. Dalam tulisan ini saya akan coba sarikan agar Anda ga perlu bayar sepeser pun. Cukup bayar pake doa hehehe.

Ini dia 3 rahasia membaca 300 halaman dalam waktu 2 jam:

Rahasia 1: Rombak Mindset

Kemalasan orang dalam membaca biasanya terletak pada mindset atau pola pikir. Contohnya:

  1. Membaca itu harus dari awal sampai akhir
  2. Membaca = sekolah
  3. Membaca = belajar

Ini adalah hasil didikan bertahun-tahun dimana kita dibiasakan hanya membaca di sekolah. Buku yang dibaca pun hanya buku pelajaran. Dan dirumah ga ada buku hiburan.

Mindset yang perlu ditanamkan:

  1. Membaca itu memuaskan rasa penasaran
  2. Buku yang dibaca ga harus berat
  3. Kita bebas membaca sesuai dengan gaya kita

Saya pernah menolak calon staff di bidang marketing karena bacaan. Waktu interview saya tanya:

“Buku marketing apa yang terakhir kamu baca?”

Setelah loading 30 detik, dia menjawab “Kotler”. 

Rahasia 2: Jangan Dibaca Semua! Baca yang Penting dengan Cepat!

Ini kunci utamanya. Buku bukan kitab suci. Ia hanya alat untuk menyimpan informasi. Kenapa ga perlu semua? Karena buku setebal 300 halaman biasanya berisi 90rb kata. Jika Anda ingin baca semua, dengan kecepatan kata per menit 200, maka butuh waktu sekitar 8 jam.

Itu full konsentrasi 8 jam. Belum memperhitungkan gangguan, distraksi, atau rasa bosan menghampiri. Ini yang membuat orang malas menuntaskan sebuah buku. Kesannya lama dan berat.

Lha terus piye ngerti isi bukune klo ga perlu dibaca semua? Step by stepnya seperti ini:

  1. Berdoa sebelum membaca. Mintalah kemudahan kepada Tuhan
  2. Pastikan posisi baca ergonomis dan kondisi nyaman +  rileks
  3. Start with Why. Kenapa kita ingin baca sebuah buku
  4. Find What. Baca daftar isi. Cari bagian yang ingin kita ketahui
  5. Pake metode skimming / speed reading / photo reading. Klo saya: Hanya baca paragraph awal/akhir, dan perhatikan ide kunci dari sebuah paragraph..
  6. Tingkatkan Kata per menit (KPM). Semakin tinggi KPM Anda, semakin cepat kelar bacanya. Ini masalah jam terbang. Ga usah dipikir. Semakin sering baca, KPM semakin tinggi.
  7. Membaca untuk mengeksplorasi. Coret-coret bagian yang Anda anggap penting. Tulis ide inti yang ingin disampaikan penulis. Tinggalkan bookmark untuk dibuka lagi. Jika menggunakan kindle, gunakan fungsi highlight/notes sebanyak mungkin.
  8. Ga usah dipaksa. Dibawa enjoy aja. Tapi tetapkan target minimal 1 bab. Kenapa? Agar agar progress. Biasanya ga lama koq. Antara 5-10 menit tergantung RPM dan kecanggihan kita dalam skimming 
  9. Setelah selesai 1 buku biarkan mengendap sehari

Rahasia 3: Membaca Untuk Mencari dan Berbagi

Ilmu terkadang seperti adonan. Ia perlu diendapkan agar masuk ke alam bawah sadar. Setelah diistirahatkan, maka ilmu perlu dikembangkan.

Sehari setelah dibaca cepat, maka kita WAJIB ‘mengikat makna’ (meminjam istilah almarhum Hernowo) isi buku yang kita baca.. Karena percuma juga membaca 1000 halaman tapi ga ngerti apa yang kita baca.

Cara paling mudah. Tulis dalam mindmap. Klo naik level bisa dalam bentuk artikel. Ga perlu berat2. Bisa kaya artikel ga penting seperti yang Anda baca ini. Klo punya banyak waktu, bisa sharing dalam bentuk video.

Percayalah, bagian terpenting dari proses belajar adalah mempraktikkan apa yang kita pelajari. 

Pengetahuan baru menjadi kebijaksanakan setelah dilaksanakan. Dan satu paragraf ilmu yang dipraktikan jauh lebih berharga dari 1.000 halaman buku yang hanya dihafalkan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail