Category Archives: Es Jeruk

Segelas es jeruk adalah Oase di tengah kehidupan yang semakin gersang…

Disconnected

Apa jurus rahasia pemikir, penulis, dan pendeta sehingga bisa menghasilkan karya masterpiece dan menemukan kedamaian? 

Ternyata jawabannya sederhana: kurangi distraksi, perbanyak refleksi untuk menciptakan koneksi.

Itu simpulan yang saya baca dari membaca tiga buku bulan lalu: Deep Work dari Carl Newport, Jalan Panjang Untuk Pulang dari Agustinus Wibowo, dan My Life as A Writer dari Haqi Achmad.

Cal Newport menjelaskan pentingnya ‘Deep Work’, usaha berfokus dan berkonsentrasi untuk berpikir guna menghasilkan sesuatu yang ‘dalam’. Sesuatu yang berharga di tengah dangkalnya informasi yang ada disekitar kita.

source: Tokopedia
Cover buku Deep Work

Dan salah satu cara untuk mencapainya adalah menciptakan ‘disconnected’ (ini bahasa saya aja): kondisi dimana kita menolak segala distraksi yang tidak memberikan nilai tambah dalam karya kita.

Saya baru tahu jika Carl Jung (peletak dasar teori psikoanalisa) sampai membangun ‘Bollingen Tower’. Sebuah bangunan bergaya kastil yang terisolir di pinggir danau Zurich, hanya untuk berpikir dan tak membiarkan dirinya diganggu oleh orang lain.

Bollingen Tower. Source: Wikipedia

Adam Grant, (profesor Wharton termuda dan penulis buku best seller seperti Give and Take, Original dll ) punya cara untuk ‘disconnected’. Setiap musim panas Ia akan ‘menghilang’ dan fokus untuk menulis buku. Tanpa jadwal mengajar. Tanpa konsultasi mahasiswa. Tanpa jadwal meeting kampus. Hanya fokus riset dan menulis.

Hal yang sama dilakukan Dewi Lestari. Sebelum menulis novel baru, Dewi Lestari akan memasuki fase ‘bat cave’. Dimana dia akan menyendiri, melakukan riset, dan fokus menulis. 

Fase disconnected saat belajar meditasi juga membantu Agustinus Wibowo untuk menyelamatkan diri dari tekanan stress dan depresi. Selama 10 hari Ia dipaksa meninggalkan dunia luar dan belajar satu hal dasar: memperhatikan nafas. Ia menemukan keramaian hati, justru lewat kesunyian meditasi.

Disconnected memang terdengar paradoks. Apalagi kita hidup di dunia yang sepertinya sepi jika tidak mendapat sinyal wifi.

Tapi konektivitas menciptakan eksternalitas. 

Kita hidup di dunia yang penuh notifikasi. Dan semua menciptakan distraksi. Seolah-olah pikiran kita tak boleh kosong dan harus diisi. 

Akibatnya, pikiran manusia modern menjadi dangkal sekali. Kita jarang melakukan refleksi. Tak pernah memperhatikan keindahan kecil yang terjadi. Pada ujungnya, kita merasa asing dengan diri kita sendiri.

Percobaan

Saya lalu melakukan percobaan: mematikan handphone dan laptop setelah jam 9 malam sampai jam 7 pagi. Tak memikirkan kerjaan. Tak peduli dengan trending topics yang berseliweran. Tak mempedulikan telpon atasan. Benar-benar ‘disconnected-time’. Waktu untuk berpikir tanpa sinyal internet.

Ternyata susah banget! Teman kantor masih mengajak meeting sampai malam. Tangan gatel sekali untuk cek email saat bangun pagi. Notifikasi terus berbunyi minta di sentuh. Situs berita minta dibelai untuk dikunjungi.

Tapi setelah beberapa hari, kehidupan ternyata baik-baik saja saat kita offline. Ternyata benar, kita hanyalah irisan partikel kosmis kehidupan. Tidak terlalu berpengaruh. Pasar saham masih naik turun. Netizen tetap mencari bahan untuk dinyinyirin. Dunia masih tetap saja ramai.

Segi positif disconnected time ini: saya jadi punya waktu untuk berbicara dengan diri sendiri. Dan anehnya, beberapa ide segar bermunculan. Suara hati kecil yang selama ini tertekan informasi eksternal, mulai bersuara. Konsep-konsep yang berserakan, justru menemukan gambaran.

Mungkin karena kita punya waktu untuk berpikir, merefleksi, mencoba menarik koneksi, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar hakiki.

“Apa yang penting dalam hidup? Kenapa manusia begitu merisaukan dunia yang singkat ini? Mengapa kita ada dan akan kemana kita mengembara?”

Dan entah kenapa, dalam perenungan kesendirian ujung-ujungnya kita akan menemukan causa prima yang utama: Tuhan.

Mungkin karena itu ada ungkapan dalam dunia tasawuf: “Barang siapa mengenal dirinya, sungguh Ia telah mengenal Tuhannya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Neraka Kebahagiaan

Henry Francis Valentine adalah anak badung. Suka memukul anjing di umur 6. Mulai mencuri di umur 7. Menjadi kepala geng di usia 8. Hidupnya dihabiskan dengan berbuat kejahatan. Hasil didikan kerasnya kehidupan.

Tak puas dengan kondisi keuangan yang membuatnya terus hidup dalam kemiskinan, ia bertekad untuk merampok lembaga keuangan.

Malam itu ia berhasil melumpuhkan penjaga. Saat asyik memasukkan barang rampokan, sayangnya polisi segera datang. Terjadi baku tembak. Ia terkena beberapa selongsong peluru. Mati seketika.

Saat ‘terbangun’, sudah ada ‘malaikat’ yang menjemputnya. Diluar dugaan, malaikat itu tidak menyeramkan. Justru terlihat seperti Santa Claus. Bertubuh subur, dengan pakaian serba putih dan pembawaan yang ramah.

“Saya pemandumu, Tuan Valentine’ kata si malaikat disertai senyuman yang menawan.

Henry Valentine bingung. Bukankah Ia menghabiskan hidupnya sebagai orang jahat? Kenapa tak ada siksaan kubur? Continue reading Neraka Kebahagiaan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Every Decision is Correct at the Time

Dalam dokumen engineering bootcamp di kantor saya, ada satu moto / prinsip yang menarik:

Every Decision is Correct at the time they made. Semua keputusan adalah benar, saat dibuat. 

Prinsip ini ditulis agar saat ada software engineer baru masuk dan menemukan ‘loop hole’ atau kerumitan coding dari engineer sebelumnya, tidak ada proses menyalahkan masa lalu.

Tak akan ada yang komentar: “Ini bego banget sih yang bikin flow backend-nya dulu”.

Tak ada blaming. Semua keputusan adalah benar, pada masanya.

Karena pada dasarnya, tak ada keputusan yang benar-benar sempurna. Kita harus membuat keputusan ditengah keterbatasan informasi, waktu yang mepet, dan ketidakmampuan untuk memprediksi masa depan. Intinya, Continue reading Every Decision is Correct at the Time

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Penyesalan Dalam Kehidupan

Untuk Yoda, yang hari ini berkepala tiga. 

Seperti biasa, doa saya sebagai orang tua: Semoga nanti, kamu mati dengan bahagia. 

Untuk apa hidup makmur dan panjang umur, tapi mati dalam keadaan ngawur? Bukankah orang yang khusnul khotimah, hidupnya pasti akan penuh hikmah?

Sebagai hadiah ulang tahunmu, kali ini kita akan membahas penyesalan. Apa itu? Sesal adalah emosi yang berwujud keinginan untuk mengubah tindakan yang sudah kita lakukan. “Andai saja saya melakukan ini itu…”.

Penyesalan adalah respon yang manusiawi. Karena kita tak pernah tahu kepastian masa depan. Dan manusia juga rawan berbuat kesalahan. Maafkan.

Sesal lahir terkait dengan kedaaan yang tidak sesuai harapan. Karena itulah manusia ingin mengulang keputusan yang telah diputuskan, ucapan yang telah diucapkan, rencana yang sudah menjadi aksi nyata.

Akan ada tiga jenis penyesalan yang paling menyesakkan dada. Setidaknya berdasarkan pengalaman saya. Semoga kamu bisa mengambil hikmah darinya. Apa saja? Continue reading Tiga Penyesalan Dalam Kehidupan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Kelemahan Kursus Online

Seorang teman bercerita: setiap malam ga boleh langsung tidur. Alasannya? “Ada kuliah jam 11 malam”. Kuliah ama Genderuwo?

Rupanya dia sedang ikutan short course jarak jauh. Program digital dari salah satu kampus Ivy League di Amerika sono. Wuih keren donk!

Yang bikin saya kagum adalah sumber biayanya. Teman saya rela mengocek kantong pribadi untuk ikutan kursus tadi. Ongkosnya kata dia ga mahal-mahal amat: 50 juta aja. Jauh lebih murah dari executive short course Harvard yang bisa mencapai 52 ribu dollar (700 juta-an). 

Secara logika sederhana, pelatihan online memberikan banyak sekali manfaat. Biayanya jauh lebih murah, simple plus praktis, fleksibel, dan terutama tidak terikat ruang dan waktu. Apalagi ditengah pandemi Covid. Virus yang sudah menyerang 19 juta umat manusia ini memaksa kita menerapkan pembelajaran jarak jauh. 

Sekolah diliburkan, diganti interaksi lewat laptop berbasis daring. Webinar menjamur. Mulai dari yang gratisan sampai yang berbayar. Termasuk berkembangnya kursus online. Pemerintah sendiri lewat program Prakerja (yang kita ga tahu bagiamana nasib kedepannya), memberikan subsidi bagi pencari kerja untuk mengikuti pelatihan online ini.

Sejak WFH sendiri, alhamdulilah saya sudah mengoleksi 10 sertifikat kursus karena kebetulan dikasih full akses di salah satu platform. Saya merasa sangat terbantu. Bayangkan: kita bisa belajar apa saja, kapan saja, dimana saja, dari guru-guru terbaik dunia pula! 

Apakah mungkin di masa depan, institusi pendidikan kita akan full online? Karena pernah merasakan belajar secara tatap muka, saya merasa online learning (terutama Massive Open Online Course) punya beberapa kendala.  Apa saja? Continue reading Tiga Kelemahan Kursus Online

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apakah Anda Ingin Hidup Bahagia?

Namanya Hendhi. Driver Gojek yang saya temui siang tadi. Nama tambahan di kontak handphone saya: Hendhi baik hati. 

Karena Ia memang berhati baik. 

Pada pertengahan Mei lalu, Ia diminta mengantar paket sembako. Penerimanya adalah seorang mahasiswa. 

Paket itu diterima dengan air mata. Karena ternyata Ia sedang kesusahan. Kekurangan bahan makanan. Tertahan Covid-19 yang merepotkan.

Tak tega melihat kondisi mahasiswa itu, Hendhi mengratiskan ongkos kirim. Ditambah beberapa hari kemudian datang lagi untuk membantu. Memberikan uang saku.

Hendhi lalu curhat ke media sosial. Dan menjadi cerita yang viral.

Hari ini saya sedih banget nganter gosend bahan pokok Beras + Nasi + Telur buat mahasiswa.Mereka kehabisan bekal untuk makan dan mereka gak bisa pulang ke kampung. Mulai hari ini saya buka FREE ONGKIR area jogja khusus mengantar bahan pokok untuk yg membutuhkan”

Cuitannya menginspirasi banyak orang. Ada yang tergerak melakukan penggalangan dana, untuk membantu mahasiswa yang kesusahan di luar sana. Ia juga tetap membantu aksi berbagi selama pandemi. Tentu dengan kapasitasnya sebagai driver Gojek: mengikhlaskan ongkos kirim yang ia miliki. 

Tapi yang membuat saya penasaran, apa yang Ia dapatkan dengan melakukan kebaikan? Continue reading Apakah Anda Ingin Hidup Bahagia?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belajar Strategic Goal Setting (3)

“If you want to be happy, set a goal that commands your thoughts, liberates your energy and inspires your hopes.” —Andrew Carnegie

https://www.indoindians.com/

Jika kita sudah membuat strategic alignment, maka kita mulai masuk ke inti dari strategic thinking: membuat strategy beneran hehe.

Saat strategic alignment kita membaca peta untuk mengetahui kondisi kapal dan lautan, maka strategic formulation adalah membuat itinerary (rencana perjalanan) dimasa depan. 

Karena ini mirip dengan rencana perjalanan, maka seperti pepatah: banyak jalan menuju Roma. Tak ada yang benar tak ada yang salah. Semua tergantung SIKONDOM (Situasi, Kondisi, Dominasi nasib).

Dari berbagai model kerangka berpikir dari bermacam buku-buku bisnis diluar sana, klo disarikan sebenarnya ada tiga fase formulasi strategi sederhana:

  1. Strategic goal setup: Kita mau kemana?
  2. Problem-solving-solution hypothesis: Bagaimana cara termudah dan termurah untuk kesana?
  3. Resources and impact matrix: Perbekalan apa saja yang kita butuhkan?

Yuk kita bahas satu persatu dengan sederhana.

Salah Tujuan = Salah Asuhan

Yang pertama tentu menentukan tujuan: Mau dibawa kemana hubungan kita? Lah koq malah nyanyi yang nulis.

Ini fase krusial karena salah menentukan tujuan berarti kesasar. Apakah itu keliru? Ya nggak juga. Colombus awalnya bertujuan ke India, eh malah nemu Amerika. Penemu minuman Coke, John Pemberton, awalnya bereksperimen untuk menemukan obat sakit kepala. Malah nemu cikal bakal Coca Cola.

Kasus diatas adalah serendipity. Kebetulan aja hasilnya bener. Tapi kedua contoh tadi sama-sama punya tujuan awal!. Gak ada ceritanya peneliti tanpa tujuan eksperimen, tau-tau menemukan senyawa atau penemuan baru.

Yang pasti salah itu jika kita tidak menentukan tujuan. Karena itu berarti terombang-ambing tanpa arah dan pegangan yang jelas. Bisa sampai sih. Sampai jumpa lagi hehe.

Bagaimana cara menentukan strategic goal yang baik? Ada banyak teori.

Mulai kudu SMART (Specific, Measurable, Actionable, Realistic, Time based). Ada juga yang bilang jika strategic goal itu harus ‘besar’, ‘panjang’, dan ‘tahan lama’ (bahasa Jim Collins disebut BHAG : Big Hairy Audatious Goal). 

Jangan ngeres dulu. Ini bukan iklan obat kuat. Maksudnya strategic goal kita seharusnya bisa menginspirasi kita dalam mengarungi perjalanan yang panjang. 

Biar kebayang kita balik ke studi kasus jika kita Koki resto hotel yang terdampak Corona.

Kemana Kita?

Misalnya kita sudah melakukan strategic alignment dan tahu jika kondisi kapal kita goyang, dan ada badai karena Covid-19. Peran yang bisa kita lakukan adalah memasak makanan lezat, yang bisa menjadi sumber pemasukan hotel disaat sulit seperti ini.

Strategic objective yang bisa kita tulis adalah:

“Menjadi resto hotel terbaik di Indonesia”.

Kelihatannya keren ya. Resto hotel terbaik.Tapi kebayang ga menjadi resto terbaik itu kaya gimana? Trus apakah sudah kriteria Smart? Gimana klo kita reworks dikit dan jadi:

“Pada Desember 2020 menjadi resto hotel bintang 4 terkemuka yang menjual 1000 porsi makanan per hari”.

Kita menset kriteria terkemuka dengan benchmark goal yang jelas: penjualan 1000 porsi per hari. Sangat sederhana dan jelas. Jika nanti penjualan kita hanya 999, berarti kita belum jadi restoran terkemuka. Sesederhana itu.

Ada tips tambahan yang bisa kita lakukan setelah menulis strategic objective. Kita bisa bertanya lagi:

  1. Apakah tujuan kita sudah ‘benar’?
  2. Adakah alternatif tujuan yang lebih ‘benar’?

Sangat disarankan untuk melontarkan pertanyaan ‘nakal’ dan provokatif:

Apakah tetap menjadi bagian resto hotel sudah benar? Kenapa kita tidak mengusulkan ke manajemen untuk membuat mobile resto chain yang independent? Kenapa kita tidak coba beralih ke industri yang masih related dengan makanan seperti food content media?

Karena salah tujuan = salah asuhan. Terus pertanyakan tujuan strategis Anda. 

Karena tujuan dari hidup, adalah hidup dengan tujuan.

 

____________________________________________

 

 

PS: Bagian selanjutnya adalah bagian tersulit tapi terseru: formulasi solusi strategis! Doakan saya bisa menulisnya dengan cukup jelas dan komprehensif

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belajar Berpikir Strategis

image: https://www.brandingstrategyinsider.com/

Kenapa arsitek dibayar lebih mahal daripada tukang? Padahal tukang bekerja lebih garang.

Kenapa Jendral dianggap lebih tinggi dari infanteri? Padahal jika perang, prajurit Infanteri yang punya risiko mati.

Kenapa direktur gajinya berkali-kali lipat dari staff? Padahal kerjanya hanya memberikan arahan. Nanti Staff-lah yang benar-benar ‘bekerja’ di lapangan.

Bukan karena pesugihan, ketampanan, atau derajat keturunan. 

Arsitek, Jendral, dan Direktur dibayar lebih mahal karena satu skill berpikir yang sayangnya tidak diajarkan di semua sekolah. Skill itu bernama: seni berpikir strategis.

Bersama dengan critical thinking, problem solving, leadership, dan persuasive communication, kemampuan berpikir strategis adalah salah satu kunci survive di abad informasi seperti saat ini.

Nah pertanyaannya: apa itu seni berpikir strategis? Bagaimana cara memperolehnya?

Strategi Harvard

Ada buku menarik dari Harvard Business Review yang berjudul: HBR Guide to Thinking Strategically (2019). Berisi kumpulan artikel tentang cara berpikir strategis. Dari 291 halaman yang saya baca, kalau saya boleh simpulkan, berpikir strategis itu gampangannya gini:

Misalnya kita diminta Emak untuk nguras bak mandi. Ada air ¾ bak yang tersisa. Terserah diapain airnya, yang penting bak dikuras. Di kamar mandi ada gayung. Kira-kira apa yang Anda lakukan?

Orang pekerja keras tapi males mikir: ya udah kita buangin saja airnya pakai gayung. Biar capek yang penting sabar. Orang sabar pantatnya lebar sob!.

Orang males kerja males mikir: Kita cari lubang saluran air dibawah bak. Tinggal buka buat dibuang airnya.

Orang belajar mikir strategis: Hmmm sayang nih airnya klo dibuang. Habis dipakai mandi, kita tampung di ember buat nyirem taneman aja deh. Kita siapin banyak ember buat semua airnya.

Orang strategis utopis: Menghubungi ahli di IPB dan berkolaborasi membuat saluran penyulingan air minum mini berbasis kamar mandi. Agar kedepannya jika Emak meminta nguras bak mandi, airnya bisa disuling dengan metode osmosis disertai 2x penyaringan. Tak lupa mempersiapkan botol daur ulang agar air suling itu bisa dikirim ke Glasgow dan dihidangkan saat KTT perubahan iklim 2021.

Semua Orang Harusnya Bisa Berpikir Strategis

Nangkep gak contoh diatas?

Klo belum nangkep coba lapor polisi deh. Selama bukan politikus teman penguasa, pasti cepet koq ketangkepnya (apalagi cuma youtuber #eaaaaa).

Intinya, kemampuan berpikir strategis itu (menurut saya):

Kemampuan untuk melihat gambaran besar suatu keadaan, dan merumuskan keputusan fundamental yang memiliki manfaat besar di masa depan.

Seperti contoh diatas, orang yang tidak berpikir strategis hanya melihat sebuah permasalahan dalam konteks apa adanya: Emak meminta menguras kamar mandi. Karena harus dikuras dan masih ada airnya, ya tinggal dibuang.

Tapi orang dengan pemikiran strategis mampu melihat gambaran yang lebih besar. Menguras kamar mandi adalah ritual mingguan. Jika tidak di manage dengan baik, akan ada banyak sumber daya (dalam hal ini air dan tenaga) yang terbuang. 

Seorang strategist  memikirkan solusi jangka panjang yang bisa berdampak positif. Bisa berupa penambahan nilai, atau dalam penghematan sumber daya (untuk kasus kamar mandi misalnya: menggunakan ember kecil dalam bak, memasang shower agar tidak perlu dikuras, dll).

Nah, kabar baiknya: semua orang bisa belajar berpikir strategis! Karena ini bukan rocket science yang mengharuskan kita menggondol gelar PhD. Juga bukan ilmu mistis dimana kita harus bertapa atau jadi budak nafsu Nyi Roro Kidul.

Coba bayangkan:

Staff yang berpikir strategis bisa mengusulkan sistem baru untuk meningkatkan produktivitas timnya. Pelayan yang berpikir strategis bisa menciptakan alur pelayanan yang lebih efektif untuk melayani pelanggan. Cleaning servis yang berpikir strategis bisa menciptakan metodologi pembersihan yang lebih sederhana tapi mengena.

Belajar mikir strategis itu gimana sih? 

Kira-kira bagaimana caranya?

InsyaAllah saya ceritakan di tulisan selanjutnya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Saya Memanggil Semua Orang ‘Bos’?

https://images.assetsdelivery.com

“Makasih bos”. 

“SIap bosque”.

“Minta tolong ya bos”.

Saya sering mengucapkan kata ‘bos’ di belakang kalimat. Baik di email, media sosial, atau perbincangan fisik harian. Selalu ada kata ‘bos’ di akhirnya. Sebagai panggilan kehormatan kepada partner percakapan. 

Kenapa sih? Apa alasannya? Apakah saya menderita inferiority complex?

Saya mulai membiasakan panggilan ‘bos-bos’ sekitar beberapa tahun lalu. Tidak ingat kapan tahunnya. Jujur saja, saya melakukannya dengan sengaja. Karena ternyata memanggil bos kepada orang lain itu banyak manfaatnya.

Apa saja? Saya mencatat setidaknya ada tiga berkah memanggil orang lain ‘bos’:

#1 Belajar Membahagiakan Orang Lain

Kata Mbah Dale Carnegie (salah satu penulis buku personal development terlaris), rahasia kebahagiaan sosial manusia ada pada penghormatan. Manusia ingin sekali dianggap ‘penting’ dan ditinggikan kedudukannya. 

Masalahnya, tidak semua orang punya sumber daya untuk meninggikan derajatnya. Apalagi kita hidup di dunia materalistis kapitalis yang menilai derajat seseorang dari jabatan dan jumlah angka di rekening perbankan.

Padahal pada dasarnya hanya Tuhan yang bisa meninggikan atau merendahkan derajat seseorang. Hanya saja, ada segolongan saudara kita yang belum dititipi kekuasaan atau kekayaan itu.

Untuk saudara-saudara kita yang kebetulan berprofesi sebagai ‘orang kecil’, dipanggil dengan sebutan ‘Bos’ adalah sebuah sanjungan yang jarang mereka dapatkan.

Bagaimana dengan pekerja informal? Atau mereka yang setiap hari hanya menjalankan perintah, disuruh-suruh, dimarahi jika kerjanya tidak becus. Mereka juga rindu dan berhak untuk mendapat penghormatan.

Pengalaman saya mengajarkan, saat dipanggil ‘bos’, mereka akan tersenyum. Dada mereka terbuka. Sepertinya dunia terlihat lebih indah dari biasanya. Bahkan ada yang terang-terangan merasa malu: ‘Saya jangan dipanggil bos, situ yang bos’.

Efek jangka pendeknya, mereka akan memberikan support lebih kepada kita. Pelayanan yang lebih ramah. Lebih terbuka dalam berbagi informasi. Dan bersedia membantu jika saya kesulitan.

Tapi tujuan pertama saya sebenarnya sederhana: bagaimana membuat seseorang berbahagia. Karena manusia yang bahagia hidupnya, adalah manusia yang membahagiakan sesamanya.

#2 Belajar Mengurangi Kesombongan

steemitimages.com

Manfaat kedua yang saya rasakan: Insyaa Allah berkurangnya rasa sombong. 

Karena kata “Bos” identik dengan kedudukan superior. Mereka yang memanggil orang lain bos biasanya adalah bawahan. 

Insight saya sederhana. Penyakit manusia modern itu: suka membanding-bandingkan berdasarkan ukuran keduniawian. Ditambah ketidaksadaran dalam menggunakan kata ‘hanya’.

“Oh dia hanya petugas kebersihan”. 

“Siapa sih dia? Hanya anak magang juga”.

“Bisa apa dengan gaji hanya segini?”

Membiasakan memanggil orang lain “bos” adalah sebuah upaya pengingat diri: semua makhluk itu sama mulianya di hadapan Tuhan. Tak usah membanding-bandingkan dan merasa lebih membanggakan. 

Bisa saja orang yang kita anggap bukan siapa-siapa, sebenarnya idola para malaikat penghuni surga. Atau orang yang kita anggap punya derajat hebat, sebenarnya hidup dengan tipu muslihat.

Dengan memanggil bos saya belajar untuk tidak merendahkan ‘orang kecil’. Tapi juga tak perlu memuja ‘orang besar’. Karena ketinggian, kebesaran, kehebatan hanya berhak dimiliki oleh Tuhan.

#3 Belajar Menjadi ‘Pelayan’

Ini tujuan yang menurut saya paling sulit dari memanggil orang lain bos: membuang ego pribadi dan belajar ‘melayani’ orang lain.

giphy.com

Kata ‘bos’ identik dengan atasan/pelanggan. Sedangkan atasan/pelanggan harus dilayani dengan baik. Memanggil orang lain bos secara bawah sadar memaksa saya untuk belajar siap membantu orang lain, tanpa memandang status mereka.

Tuhan sudah menggariskan aturan: Sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi sesama. Manusia yang ringan tangannya, akan ringan beban hidupnya, damai hatinya, dan dimudahkan segala urusannya.

Karena itu dalam teori manajemen ada konsep ‘servant leadership’ yang dimotori oleh Robert K.Greenleaf. Hipotesanya indah sekali: pemimpin yang baik itu pemimpin yang menjadi ‘pelayan’ orang yang dipimpinnya.

Pelayan dalam artian bukan mengerjakan semua pekerjaan, tapi selalu siap membantu dalam kapasitasnya sebagai seorang leader. Dan itu berarti mendengarkan aspirasi, memimpin dengan hati dan empati, memperjuangkan kebutuhan dan perkembangan tim yang diasuhi, memiliki visi, dan berusaha mewariskan ‘legacy’.

Idealnya, hanya Tuhan yang harus kita ‘layani’. Tapi Ia tidak membutuhkan ‘layanan’ kita. Ia akan tetap besar, agung, dan penuh rahmat meski tanpa doa-doa dan ibadah yang kita panjatkan. 

Tuhan ‘ingin’ kita melayani sesama manusia. 

Karena itulah ada ‘perintah’: beri makan fakir miskin, cintai anak yatim, hormati orang tuamu, rangkul saudaramu, bantulah tetanggamu, tersenyumlah kepada orang yang berpapasan denganmu. 

Jadilah rahmat bagi semesta. 

Layani orang-orang ‘kecil’ seperti kamu melayani bos besarmu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Akan Tiba Suatu Masa

Akan tiba suatu masa, saat kita menjadi tua.

Kulit jadi keriput, mata menjadi rabun, postur menjadi bungkuk. Apapun perawatan yang kita lakukan, ternyata tak akan mampu menahan musuh bernama penuaan.

Saat itu terjadi, konon hal-hal yang kita anggap penting saat ini, tidak lagi terlalu berarti.

Cerita tentang kerja, akan berganti menjadi kenangan masa muda. Kebanggaan pencapaian, sepertinya berubah menjadi sebuah kecapaian. Obrolan-obrolan kesuksesan, akan berganti menjadi tips kesehatan.

Katanya akan tiba suatu masa, ketika kita merindukan masa kecil kita sendiri.

Mengingat hangatnya pelukan Ibu, resahnya kita karena amarah Ayah, atau senangnya kita mendapat uang jajan dari Kakek Nenek yang sekarang sudah pergi dan tiada. Apakah benar harta terbesar itu bernama keluarga?

Kita merindukan fase kehidupan saat semuanya hanya tentang permainan. Belum ada tuntutan. Belum ada cicilan dan tagihan. Belum ada perbandingan dengan teman satu angkatan. Semua begitu menyenangkan.

Konon akan tiba suatu masa, saat kita tahu siapa sebenarnya teman-teman dekat kita.

Bukan mereka yang mendadak akrab saat kita hidup dalam kemudahaan. Tapi mereka yang selalu tersenyum dan membuka pintu meski kita sedang dalam kesusahan.

Teman terbaik memiliki kuping sebesar gajah Afrika, tapi anti bocor seperti kondom Amerika. Mereka akan menampung semua rahasia yang kita berikan saat bercerita, dan takkan menggosipkannya di dunia maya.

Pada akhirnya tiba suatu masa, dimana jiwa akan berkenalan dengan cinta.

Meski awalnya cinta bertamu sebagai nafsu. Namun berkat sang waktu, kekaguman berubah menjadi penerimaan. Karena ternyata dia yang awalnya kita anggap begitu sempurna, ternyata menyebalkan dan punya dosa seluas angkasa.

Kita pada saatnya akan mengerti. Bahwa cinta itu tentang belajar mengerti, dan takkan pernah memiliki. Karena seperti dunia ini, tak ada cinta yang akan abadi.

Akan tiba suatu masa, orang yang kamu cintai sedang berulang tahun.

Seperti saat ini, 29 Oktober. Tanggal ulang tahun istri saya sendiri.

Inilah saatnya.

Sekarang waktunya.

Izinkan saya berdoa:

Semoga kami bisa menghabiskan hari tua, pada suatu masa.

happy family
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail