Category Archives: Uncategorized

Untuk Apa Kita Sekolah?

Hari Rabu 16 Juni lalu saya ada interview. Tapi bukan interview kerjaan. Melainkan interview pendaftaran sekolah si Yoda. Yes, mulai tahun ini si Yoda insyaAllah akan berkenalan dengan institusi pendidikan.

Ada satu pertanyaannya yang menurut saya sangat relevan:

“Apa harapan Bapak/Ibu dengan menyekolahkan Yoda disini?”

Pertanyaan menarik. Ketika semua informasi ada di jejaring cloud computing, apakah sekolah masih penting? Bukannya sekarang sudah jamannya self learning?

Padahal zaman dulu mencari ilmu itu kewajiban yang berat. Imam Bukhari pernah melakukan perjalanan lebih dari 2.500 km hanya untuk mengumpulkan hadist. Pada abad 15, harga buku semahal mobil, dan hanya orang berduit saja yang bisa belajar. Waktu zaman belanda, hanya kaum priyayi saja yang boleh bersekolah.

Sekarang? Saat bingung cara melakukan sesuatu kita tinggal mengetik pertanyaan di Youtube dan ribuan video tutorial siap membantu. Ditambah forum seperti Stack overflow /Discord /Reddit /Quora yang penuh dengan orang pintar dan siap memberikan jawaban.

Apalagi selama pandemi, kita sadar bahwa belajar tak mesti dilakukan secara tatap muka. Karena kita sudah punya jaringan pengetahuan bernama internet. Semua keingintahuan bisa dijawab oleh Mbah Google. 

Jika tujuan sekolah adalah ijazah/sertifikat, apakah di masa depan ijazah masih penting? Ijazah saya sendiri udah lupa ditaruh dimana. Selama beberapa kali pindah kerja di korporasi multinasional, mereka ga pernah menanyakan ijazah saya tuh. 

Kenapa ga homeschooling aja? Panggil guru biar private dan bisa custom sesuai kebutuhan anak. Atau diajarin sendiri sama orang tuanya? Toh buku pendidikan usia dini dan parenting sudah banyak. Teori pedagogi berserakan. Tinggal di praktikkan.

Setelah loading sok mikir, dan mencoba mengingat-ingat petuah-petuah ahli pendidikan mulai Ki Hajar Dewantoro, Paulo Freire, Montessori, sampai Al Ghazali, jawaban saya sederhana:

“Kita ingin Yoda tumbuh jadi seorang pembelajar. Kita ingin Ia belajar, cara belajar”.

Itu rangkuman pengalaman setelah sekolah selama 20 tahun dari TK hingga kuliah. Saya menyimpulkan fungsi utama belajar dalam institusi pendidikan itu terutama: membuat manusia tahu jika Ia tidak tahu. Dan memberi tahu, bagaimana mencari tahu apa yang harus mereka cari tahu.

Kenapa kita diajari baca tulis hitung? Agar kita belajar mengekstraksi pengetahuan yang berserakan dalam bentuk tulisan dan perhitungan. 

Kenapa kita diajari cara berkomunikasi, berorganisasi, dan berinteraksi? Karena kita makhluk sosial. Dan cara terbaik belajar bukan hanya lewat membaca dan browsing video, tapi bersosialisasi dan mengekstraksi pengetahuan / pengalaman orang lain lewat hubungan dengan sesama.

Kenapa kita dipaksa menulis skripsi waktu kuliah? Agar kita memiliki dasar pola pikir pendekatan ilmiah. Kita belajar melihat masalah, mengajukan pertanyaan, melihat penelitian yang sudah dilakukan, mengembangkan dugaan (hipotesa), dan menciptakan serangkaian tindakan untuk membuktikan dugaan tadi.

Belajar cara belajar. Learning on how to learn. Skill yang jika kita kuasai, akan membuka pikiran kita ke dalam keindahan ilmu pengetahuan. Karena itu Josh Kauffman menulis ‘The First 20 Hours’. Panduan praktis terstruktur yang membuatnya bisa belajar accounting, programming, tarian salsa, hingga biola. Pokoknya, semua manusia bisa belajar apa saja asal tahu caranya!

Belajar WHAT to learn akan menghasilkan pelajar.

Belajar HOW to learn akan menghasilkan pembelajar.

Padahal tujuan pendidikan adalah menghasilkan pembelajar, bukan pelajar. 

Pelajar puas dengan jawaban, pembelajar akan terus mengajukan pertanyaan. 

Pelajar mengejar nilai tinggi, pembelajar akan selalu mempraktikkan apa yang mereka ketahui. 

Pelajar tahu jika Ia tahu. Pembelajar tahu jika terkadang Ia tidak tahu jika Ia tidak tahu. 

Karena seperti pesan Om Socrates:

“Satu-satunya kebijakan sejati adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belajar Strategic Alignment

Tulisan ‘Belajar Berpikir Strategis’ sebelumnya sudah membahas What dan Why dari seni berpikir strategis secara umum. Sekarang kita masuk ke fase teknis: How.

Bagaimana memperbaiki kemampuan berpikir strategis kita?

Secara sederhana, proses berpikir strategis kalau saya boleh intisarikan, terdiri dari tiga tahap:

1. Strategic alignment: Menyelaraskan tujuan besar organisasi dengan tim kita

2. Strategic formulation: Membuat strategi tim untuk mencapai tujuan organisasi

3. Strategic execution and evaluation: Mempersiapkan ekskusi dan evaluasi atas strategi yang telah kita bangun

Tak usah bingung dengan istilah-istilah asing diatas. Sengaja saya tulis dalam bahasa Inggris biar saya dianggap orang pinter doank :p. 

Oke biar simple kita pakai contoh saja.

Misalnya kita adalah seorang koki di restoran salah satu hotel berbintang. Sejak negara api berkedok Covid-19 menyerang, tingkat hunian terjun bebas. Kamar-kamar kosong. Kita terancam di PHK. Apa yang bisa kita lakukan?

Jika tidak belajar strategic thinking, kita dipersilahkan berkeluh kesah, pasrah, dan mengutuk keadaan yang ada.

Tapi kan kita lagi belajar berpikir strategis. Sayang donk kalo cuma ngedumel aja. Terus kita kudu piye?

Mengusulkan perubahan business model, ide promosi, dan aksi-aksi konkret lain yang bisa dilakukan memang bagus. Tapi sabar dulu bosku. Sebelum masuk ke rekomendasi aksi, ada baiknya kita mundur kebelakang dan melakukan strategic alignment.

Apa pula strategic alignment itu?

Strategic Alignment = Membaca Peta

Iya bener. Strategic alignment itu seperti Dora yang menyuruh kita membaca peta.

Bayangkan resto hotel tempat bekerja kita adalah kapal. Kita adalah penumpang didalamnya. Nah strategic alignment itu bagaikan membaca peta untuk menjawab beberapa pertanyaan:

– Kemana arah kapal ini? (Apa tujuan organisasi saya?)

– Jika menangkap ikan, jenis ikan apa yang ditangkap? (Siapa customer kita?)

– Apakah kapal ini baik-baik saja atau ada kebocoran? (Bagaimana kondisi organisasi saya?)

– Bagaimana ombak dan angin yang berembus? (Apa trend eksternal yang sedang terjadi?)

– Apakah cuaca cerah? Atau ada badai? (Apa dampak trend ke organisasi saya? Apakah organisasi akan menghadapi masa sulit?)

– Ada berapa banyak kapal lain yang berlayar? Siapa yang terbesar? Bagaimana kondisi mereka? (Analisis kompetisi. Siapa pemain inti. Apa competitor movement yang dilakukan?)

– Apa peran saya dalam kapal ini? (Apa tugas kita dalam membantu tujuan organisasi?)

– Adakah peran lain yang sedang dibutuhkan? (Haruskan saya belajar skill baru dan membantu departemen lain yang kekurangan orang?)

Dan berbagai pertanyaan ‘strategic’ lainnya.

Teman-teman kita yang berprofesi sebagai konsultan punya banyak kerangka berpikir (framework) canggih untuk proses membaca peta ini.

Contohnya: 5C analysis (Customer, Company, Competitor, Country, Change), PESTEL analysis (Political, Economic, Social, Technology, Environment, Law), SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threats), dan banyak tools-tools keren lainnya.

Ga usah bingung dengan model diatas. Konsultan memang dibayar mahal untuk membuat kita terkesima dengan metode-metode canggih yang mereka miliki.

Padahal prinsip intinya harus menjawab: Kita ada dimana? Kita mau kemana? Bagaimana keadaan sekitar kita? (belum ngomongin kita harus ngapain ya)

Nah daripada membahas bacotan saya yang membingungkan, mari kita coba praktik saja.

Tulis Dulu

Kembali ke cerita jika kita koki resto hotel yang terdampak Covid. Kita bisa membuat strategic alignment sederhana dengan modal sebuah kertas dan pensil. Bagi tiga bagian lalu tulis:

  1. Kondisi kapal saya dan kemana arah kapal ini
  2. Kondisi lautan dan kapal kompetitor
  3. Peran saya di kapal saat ini

Untuk mengetahui kondisi kapal kita, bisa mulai bertanya ke teman-teman bagian lain: Kira-kira terjadi penurunan hunian berapa persen? Apa lini bisnis yang masih memberikan pemasukan? Seberapa besar penurunan customer yang dine in? Apakah ada arahan strategy dari manajemen?

Lalu kita cek ombak dan lautan  dengan browsing internet dan bertanya ke hotel-hotel lainnya. Apakah semua resto di hotel mengalami hal yang sama? Untuk resto selain hotel, adakah inovasi yang mereka lakukan? Apa insight dari pelanggan kita? Adakah perubahan prilaku konsumsi?

Terakhir, kita coba pasangkan puzzle tim kita ke dalam peta organisasi dan arah industri. Apakah peran divisi resto masih relevan dimasa depan? Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu tujuan? Tujuannya agar kita mengerti kontribusi konkret yang bisa kita berikan demi kemajuan organisasi.

Karena kasusnya imbas Covid terhadap hotel, mungkin latihan ini agak terasa kurang berguna. Kita tahu Covid adalah force majeur yang menghantam seluruh industri pariwisata.

Tapi sekali lagi ini hanyalah contoh. Tujuan kita menulis strategic alignment adalah agar kita berlatih:

a. Melihat gambaran besar dari situasi yang terjadi

b. Membuat koneksi antara kejadian di luar terhadap organisasi kita

c. Tidak terburu-buru langsung melontarkan solusi yang retjeh dan parsial

Seseorang yang tidak melakukan strategic alignment akan merasa pekerjaan mereka hanyalah rutinitas membosankan tanpa dampak yang lebih besar terhadap organisasi. Mereka cenderung melakukan job desk yang diminta tanpa pernah bertanya apa kontribusi besar yang mereka bangun.

Padahal tak ada pekerjaan kecil yang tak penting. Seperti mesin mobil, baut sekecil apapun yang terlepas, akan menimbulkan kerusakan besar dimasa depan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

“Manfaat” Corona bagi Indonesia

“Saya ini penderita Corona: Cowok Romantis dan Mempesona”

Joke garing diucapkan oleh seorang pejabat salah satu BUMN di Yogyakarta, saat saya meeting tanggal 19 Maret lalu. Inilah hebatnya warga negara +62, wabah penyakit pun bisa dijadikan guyonan. 

Padahal pandemi ini sudah menyerang 336 ribu orang dan menewaskan lebih dari 14 ribu penderitanya. Vaksinnya masih dalam pengembangan. Obatnya juga belum jelas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pecaya jika obatnya mirip obat malaria: Chloroquine dan Hydroxychloroquine. Sedangkan Presiden Jokowi merasa obatnya adalah Avigan, yang diplesetkan jadi Afgan. Indonesia sudah memesan 5 juta butir.

Menurut bocoran Dahlan Iskan, pasien Covid-19 di Jakarta diberi obat:  Oseltamivir 2x 75 mg, tambah vitamin C. Plus Azithromycin 2×500 mg atau Levofloxacin 1×750 mg. Jika berat maka diberi Chloroquine sulphate 2x 500 mg. Saya tak tahu yang mana yang benar. Saya bukan dokter. Meski punya tulisan tangan seperti dokter. 

Yang jelas Covid-19 sudah memporakporandakan perekonomian kita. Banyak proyek tertunda. IHSG terjun bebas. Pemerintah bingung untuk memberi stimulus fiskal. Menurut Asian Development Bank, dampak global akibat virus corona berkisar US$77 miliar hingga US$347 milar. Setara dengan 0,1% hingga 0,4% PDB global.

Kita boleh bersedih dan harus bersabar sambil mengelus dada (asal jangan dada tetangga). Tapi saya melihat, masih ada ‘hikmah’ dari cobaan ini. Saya mencatat setidaknya ada 5 manfaat yang bisa kita syukuri, untuk sementara.

  1. Lebih dekat dengan keluarga

Sejak Presiden Jokowi menghimbau warganya untuk bekerja #dirumahaja, banyak kantor yang memberlakukan Bekerja Dari Rumah (BDR). Dampaknya? Pekerja sekarang jadi lebih dekat dengan keluarganya.

Bagi yang belum tahu, banyak pekerja di Jabodetabek yang harus berangkat sesudah shubuh, dan pulang jam 10 malam (terima kasih traffic Ibukota!). Setiap hari, 5 hari seminggu. Tak heran jika anaknya lebih suka memanggil ‘Om’ dari pada ‘Papa’. Dengan BDR, ada waktu mobilitas yang bisa dihemat, ditambah libur sekolah, kini banyak keluarga yang bisa menghabiskan quality time bersama-sama #dirumahaja.

Tapi perlu dicatat: Ga semua pekerja bisa menikmati ini. Mayoritas yang bisa ya pekerja intelektual anggota kelas menengah dan bekerja di perusahaan besar. Bagi pekerja informal, sektor produksi, atau jenis pekerjaan yang high labor intense, maka konsep BDR hanyalah mimpi. Ga masuk kerja, ya ga makan.

Jadi bersyukurlah teman-teman yang bisa bekerja dimana saja ya!

  1. Orang Indo jadi lebih peduli dengan kesehatan

Sejak kapan orang Indo jadi rajin cuci tangan? Ya sejak wabah Covid melanda. Itu memang cuma pendapat subjektif saya. Tapi sejak Corona, cuci tangan menjadi budaya wajib yang dilakukan semua orang. Bahkan hand sanitizer sekarang begitu mudah ditemukan di kantor/masjid/tempat keramaian.

Padahal budaya cuci tangan yang diperkenalkan oleh dokter Hungaria, Ignaz Semmelweiz sejak 1870. Berangkat dari keprihatinan karena tingginya kematian Ibu ketika melahirkan. Ternyata salah satu penyebabnya, dokter yang menangani para Ibu tadi baru saja menangani pasien lain dan tidak melakukan pembersihan yang cukup. 

Budaya cuci tangan dengan sabun atau cairan antiseptik sendiri mulai diterapkan luas sejak 1980-an dan sejak saya kecil (90an) sudah digalakkan di sekolah-sekolah. Tapi saya belum pernah melihat aplikasi yang begitu masif seperti saat Covid ini. Tentunya kita berharap agar budaya ini tetap dijaga meski suatu saat Corona telah mereda (Aamiin).

  1. Akhirnya Kita Bisa Memanfaatkan Internet Untuk Sesuatu yang Produktif

“Internet cepat buat apa?” Dulu ada menteri yang kutipannya dipotong dan jadi pertanyaan seperti itu.

Ga kebayang kan bisa kuliah online? PNS kerja dirumah? Sidang skripsi lewat video call? Berkat kejadian luar biasa Covid-19 ini, masyarakat dituntut untuk mengadopsi teknologi guna mendukung produktifitas.

Yang semula belum paham cara pakai Zoom, Skype, atau Google Hangout, akhirnya pada coba. Aplikasi belajar online (Ruang *uru, Z*nius, dll) saya yakin mengalami peningkatan traffic. Internet bagi generasi muda +62 hanya identik dengan sosial media, youtube, game online, dan tempat cari video ena-ena, kini kembali kepada ‘khittah’-nya sebagai teknologi untuk berkreasi dan berbagi.

  1. Banyak aksi solidaritas sosial, karena Orang Indonesia itu Peduli dengan Sesama!

Ga semua orang bisa ‘survive’ dengan BDR (ditolong pendapatan gede, tabungan yang cukup, dan bisa remote working), banyak profesi yang terdampak kelangsungan hidupnya. Misalnya mitra ojek online. Mereka tak ada pilihan lain, klo ga narik ya ga makan. Mau BDR juga ga mungkin. 

Untungnya masyarakat masih memiliki empati. Muncul gerakan di twitter untuk berbagi. Membeli Gofood untuk sang driver itu sendiri. Belum lagi penggalangan dana crowd sourcing untuk pembelian alat kesehatan. Semua orang bahu-membahu membantu sesama.

  1. Kita Belajar tentang False Negative

Saya masih ingat saat banyak pejabat yang meng-klaim: “Orang Indonesia kebal Corona”. 

Ga perlu menyebut ‘merk’ pejabatnya. Silahkan Googling sendiri. Yang jelas, pernyataan-pernyataan diatas adalah bukti empiris tentang false negative, istilah dalam dunia medis saat diagnosa menganggap tidak adanya penyakit, padahal sebenarnya ada. Hal ini wajar terjadi karena keterbatasan informasi, dan mindset yang menganggap Covid-19 sama dengan flu biasa yang bisa sembuh dengan mudahnya.

Karena itu juga, jangan merasa yakin dengan jumlah penderita yang tedeteksi. Per 22 Maret, sudah tercatat 514 orang. Pertanyaannya, berapa orang yang sudah di tes? Belum ada mass rapid test yang dilakukan sehingga penderita sebenarnya bisa lebih banyak lagi.  Ancaman false negative masih ada didepan mata.

———————

Lima hal yang saya tulis diatas bukanlah sebuah ‘kegembiraan’ diatas penderitaan. Saya hanya ingin melihat hikmah yang bisa kita ambil, dari kejadian luar biasa ini. Sambil terus berdoa, dan berusaha dengan menjaga kesehatan, agar Virus Covid-19 bisa segera mereda.

Saya teringat cerita yang katanya bersumber dari kitab Kifayatul Awwam. Diceritakan Nabi Musa pernah sakit gigi. Karena belum ada dokter gigi, akhirnya ia berdoa kepada Allah. Allah memberikan resep: ambil rumput untuk diletakkan di gigi yang sakit. Puji Tuhan, sakit itu sembuh.

Di lain hari, sakit giginya kambuh. Karena emang belum ditambal. Nabi Musa berinisiatif menempelkan rumput yang sama ke giginya yang sakit. Lha koq ga ngefek? 

Allah menjawab:

“Wahai Musa, Aku adalah yang menyembuhkan dan Akulah yang mengobati. Akulah yang memberi mudharat dan Akulah yang memberi manfaat.”

Pelajarannya? Kita bukan Nabi Musa yang bisa minta ‘resep’ langsung ke Tuhan. Sebagai manusia biasa, kita wajib berdoa dan berusaha mencari obat kesembuhan, sambil tetap menjaga kesehatan.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Tiket Pesawat Keluar Negeri Lebih Murah?

 

Media diramaikan dengan issue tiket pesawat yang naik gila-gilaan.

Apalagi tahun 2019 apa-apa dikaitkan dengan isu politik. Duit cepek dibuat lodeh. Capek deh.

Pendapat jika tiket ke luar negeri lebih murah daripada rute domestic ada benarnya. Tapi juga ada bias-nya.

Bias karena yang murah biasanya hanya KL/Singapura. Sedangkan yang dibandingkan biasanya rute-rute domestic padat wisatawan seperti Bali, Lombok, atau daerah Indonesia Timur.

Btw, kenapa sih tiket Jakarta – Singapura/KL biasanya lebih murah dibandingkan Jakarta- Bali/Lombok?

Sebenarnya nggak selamanya lebih murah. Kebetulan aja banyak airline yang promo (terutama si Merah).

Tapi setidaknya ada beberapa alasan kenapa rute itu sering banget banting harga.

#1 Harga avtur lebih murah

avtur – sindonews

Ini bocoran waktu saya masih belajar di salah satu airline di Malaysia. Harga avtur lebih murah disana. Karena itulah banyak pesawat yang disetting untuk punya rute gabungan domestic dan internasional.

Ada banyak Istilah. Yang sering dipakai adalah Double U.

Misal ada satu pesawat start Jakarta. Dia akan ke KL dulu. Disana ngisi full tank, lalu balik ke Jakarta. Dari Jakarta baru ambil rute domestic ke Jogja. Dari Jogja diarahin lagi ke KL (ngisi avtur lagi). Balik ke Jogja. Terus malem balik ke Jakarta.

Lebih murahnya di harga berapa? Oh tidak semudah itu Ferguso. Itu rahasia perusahaan hehe.

Kenapa avtur di Indo lebih mahal? Mungkin pejabat-pejabat di Pertamina lebih kompeten untuk menjawab.

#2 Persaingan ketat

Rute-rute ke Singapura dan Kuala Lumpur adalah jalur gemuk dengan banyak pemain. Jarak tempuh ga terlalu jauh, dan juga permintaan tinggi.

Ibarat kolam pancing, isinya Cuma sekelas ikan lele tapi buanyaakkk.

Banyak supply otomatis hukum permintaan berlaku. Daripada terbang dengan pesawat kosong, para airlines sering menjual dengan tiket murah.

Karena airlines bukan angkot yang bisa ngetem nunggu penumpang penuh (ya kali pramugari jadi kernet).

Apalagi low cost carrier mencari pendapatan bukan hanya dari tiket. Masih ada bagasi, makanan, dan berbagai service yang bisa dijual.

Prinsipnya: pesawat kosong nyaring bunyinya. Daripada kosong, yang penting harus ada penumpangnya!

Berapa pun harga tiketnya.

#3 Hub-spoke/Feeder strategy

Banyak airlines yang menempatkan KL/Singapore sebagai hub transit. Tempat berkumpulnya penumpang untuk diangkut ke rute yang lebih jauh. Karena itulah penumpang harus transit di bandara itu.

Dan anehnya, mereka terkadang rela mengorbankan harga rute pendek, untuk membuat orang tertarik terbang ke rute yang lebih jauh.

Misal KLM, full service carrier dari Belanda. Harga Jakarta-KL mereka terkadang mirip-mirip dengan harga promo AirAsia. Mereka rela men-dumping harga CGK-KUL karena pendapatan terbesar didapatkan dari rute KL ke Eropa.

#4 Tarif Batas Bawah

Penyakit utama “mahalnya” tiket domestic kita.

Adanya tarif batas bawah yang membuat airlines tidak boleh memberikan harga promo dibawah harga itu.

Mulai berlaku sekitar tahun 2014. Tujuan utamanya mulia: untuk menciptakan iklim persaingan yang sehat dan tidak ada perang harga antar maskapai.

Tapi kebijakan ini “merugikan konsumen” karena mereka takkan pernah menikmati promo super gila seperti “kursi gratis”.

Logikanya sih, klo keluar negeri aja airlines boleh promo edan-edanan, kenapa rute domestic gak boleh?

#5 Infrastructure yang LCC friendly

Salah satu alasan si Merah bisa merajai penerbangan internasional di ASEAN adalah dukungan infastruktur yang ramah kepada LCC (low cost carrier).

Tarif airport tax KLIA2 misalnya, hanya 35 RM atau 100rb-an. Berbeda dengan Soetta yang ada di angka 230rb.

Kenapa koq lebih murah?

Karena otoritas bandara Malaysia tahu jika LCC ga butuh bandara yang mewah. Yang penting mendukung operasional airlines dan tidak memberatkan wisatawan.

Bandara bagi LCC ga perlu punya lounge dari marmer. Yang penting bisa untuk transit dengan murmer. Murah meriah hehehe.

__________________________________

Begitulah bosku beberapa alasan kenapa penerbangan keluar negeri bisa lebih murah daripada kedalam negeri.

Seperti pepetah: hujan emas di negeri orang, hujan deras di negeri sendiri. Banjir bro. Hehehe.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#6 Insya Allah

Abu Manshur at-Takriri berkata

Abu Juwaliq pergi membeli keledai. Lalu ada orang yang bertanya,  “Mau kemana?”

“Membeli Keledai”, jawab Abu Juwaliq

“Katakan insya Allah”, ingat temannya.

Abu Juwaliq membantah, “Ini bukan waktu yg tepat untuk mengatakan insya Allah. Karena dirham ada di tanganku dan keledai ada di pasar”.

Di perjalanan, dirhamnya dicuri orang. Temannya melihat dalam kondisi sedih dan bertanya,

“Apa yg telah kamu lakukan? Kamu sudah membeli keledai bukan?”

“Dirhamku telah dicuri, insya Allah”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Titanic Syndom. Kenapa hanya Paranoid yang Bertahan

15 April, 106 tahun yang lalu.

Sebuah kapal raksasa berlayar mengarungi lautan Atlantic. Merupakan salah satu kapal terbesar yang pernah dibuat umat manusia di masa itu. Dibangun di Belfast, Irlandia, oleh White Star Line, perusahaan ekspedisi guna menghubungkan Erope ke Amerika.

Dengan panjang 268,8 meter, dan lebar 28,2 meter. Kapal itu memiliki berat 46.000 ton, dan memiliki kecepatan hingga 40 km/jam. Itu berarti rute dari Southampton ke New York bisa ditempuh dalam waktu kurang dari seminggu.

Target pasarnya kelas menengah yang mendambakan kenyamanan dalam perjalanan. Tiket termurah dijual mulai dari 3 pounds, atau setara 298$. Sedangkan first class dibrandrol 870 pounds atau 83.200$. Semewah apa fasilitas yang ditawarkan? Kapal itu Dilengkapi kolam renang, perpustakaan, bar dan restoran kelas atas, lapangan squash, gym, bahkan pemandian ala Turki.

Insinyur perancangnya, Thomas Andrew, harus menciptakan inovasi untuk bisa menciptakan kapal sebesar  dan semewah itu. Lumbungnya memiliki 16 kompartemen kedap air. Kapal ini dirancang untuk mampu mengapung meski 2 kompartemen tengah, atau 4 kompartemen depan kebanjiran air.

Karena itulah White Star Line menjualnya dengan tagline yang fenomenal: “Unsinkable ship”. Kapal yang tak bisa tenggelam. Mungkin karena di design takkan tenggelam, ia hanya memiliki sekoci terbatas.

“Control your Irish passions, Thomas. Your uncle here tells me you proposed 64 lifeboats and he had to pull your arm to get you down to 32. Now, I will remind you just as I reminded him these are my ships. And, according to our contract, I have final say on the design. I’ll not have so many little boats, as you call them, cluttering up my decks and putting fear into my passengers.”

Pesan J. Bruce Ismay, direktur dari White Star Line.

Akhirnya hanya ada 20 sekoci yang disediakan. Seharusnya mampu mengangkut 1.178 orang dari 2.223 total penumpang ketika mengalami kecelakaan saat menabrak gunung es. Pada kenyataannya, hanya 710 orang yang berhasil naik ke sekoci. 1514 nyawa lainnya harus tenggelam ditengah dinginnya lautan es.

Sebelum menghantam gunung es, sebenarnya sudah ada pesan yang dikirimkan dari Mesaba, kapal uap yang sedang berlayar didekatnya. Tapi operator kawat Jack Phillips dan Harold Bride tidak meneruskan pesan itu ke kapten kapal karena sibuk mengirimkan pesan-pesan dari penumpang.

Titanic Syndrom

Saya sengaja mengenang peristiwa karamnya Titanic karena sebuah pemikiran sederhana: Titanic syndrom masih terus ada.

Syndrom ini menyerang dengan tanda-tanda sederhana:

  1. Sangat percaya dengan keadaan status quo yang kita jalani
  2. Mengabaikan sinyal-sinyal perubahan yang merupakan “gunung es tak terlihat”

Coba perhatikan organisasi-organisasi besar yang karam. Mereka sangat percaya dengan adagium “too big too fail”. Terlalu besar untuk gagal. Semua rencana bisnis yang dilakukan bagaikan blue print Titanic: besar, kokoh, tanpa celah, takkan bisa “tenggelam”.

Padahal selalu ada bahaya tak terlihat. Gunung es yang tak terlihat di depan mata. Bisa berbentuk disrupsi industi, perubahan pola konsumsi, atau pergeseran teknologi.

Karena itulah perencanaan terbaik bukanlah strategic planning tanpa celah kegagalan. Tapi adaptive planning yang penuh perubahan, ketidakpastian, dan opsi melakukan “Plan B to Z”.

Meminjam buku klasik karangan CEO Intel Andrew Grove: Only Paranoid Survive. Perusahaan yang mampu bertahan adalah perusahaan yang mampu melihat kehancuran perusahaannya sendiri dan mempersiapkan masa depan.

Sebaik apapun rencana kita diatas kertas, selalu ingatlah tragedi Titanic: Tak ada yang sempurna di dunia, tak ada kapal yang tak bisa tenggelam.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#77 Time-ask effect: Karena waktu lebih berharga daripada uang

Misalnya Anda adalah seorang pengurus sebuah yayasan. Karena biaya operasional yang terus naik, ketua yayasan itu memberikan Anda misi yang cukup sulit: Bagaimana cara meningkatkan sumbangan dari para donatur?

Apakah dengan mengirimkan “surat cinta” kepada donator berisi permohonan donasi? Wendy Liu dan Jennifer Aaker (2007) penasaran dan melakukan penelitian tentang itu. Mereka menciptakan eksperimen pengumpulan donasi dengan dua versi.

Versi pertama, calon donator akan ditanya: Apakah Anda tertarik memberikan sumbangan dana? Berapa yang ingin Anda sumbangkan? Lalu diikuti pertanyaan: Apakah Anda bersedia meluangkan waktu untuk kegiatan yayasan?

Di versi kedua, pertanyaan yang diajukan sama. Bedanya, pertanyaan tentang meluangkan waktu (time-ask) diletakkan sebagai pertanyaan pembuka baru diikuti pertanyaan sumbangan dana (money-ask). Hasilnya sungguh menarik. Versi time-ask menghasilkan sumbangan yang lebih tinggi (rata-rata $36,44) daripada versi money-ask (rata-rata $24,46).

Koq bisa? Penulis jurnal itu menduga saat kita meminta sesuatu yang bersifat materi, otak manusia langsung menghasilkan “monetary valuation” tentang untung rugi melakukan sesuatu. Sedangkan saat “meminta waktu” didepan, pertanyaan itu akan mengaktifkan emotional mindset beyond money yang pada akhirnya berakhir pada kebahagiaan memberi.

Pelajarannya: jangan terlalu transaksional saat meminta bantuan orang lain. Karena manusia pada dasarnya makhluk yang berusaha memaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Bertanya tentang materi didepan hanya mengaktifkan self defence mechanism keuangan kita.

Seperti salah satu cerita humor sufi. Alkisah ada seorang kikir yang terjatuh kedalam lubang. Ia lalu berteriak meminta tolong. Kebetulan ada pemuda yang lewat dan bersedia membantunya. Ia lalu menjulurkan tangan sambil berkata:

“Berikan tanganmu”. Tapi si kikir justru diam saja.

“Ayo berikan tanganmu, biar kutarik keatas”.

Tetap tak ada respon. Akhirnya si pemuda sadar dan mengubah perkataannya.

“Kuberikan tanganku, ambillah”.

Akhirnya si kikir bisa keluar dari lubang.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Test ice cream sandwich

Cuma mau test posting via wordpress android. Oh ya, terima kasih untuk pencopet di stasiun sudirman. Berkat skill profesionalnya, saya jadi ada alesan nyoba android terbaru.

Here we go, the latest model from korean mobile vendor with android ice cream sandwich installed.

Semoga berkah. Semoga berguna bagi kebaikan. Untuk Tuhan dan kemanusiaan 🙂

image

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Teori Jendela Pecah

http://zickart.deviantart.com/art/Broken-Windows-97324469Apa hubungan antara Ahmadiyah dan jendela pecah? Banyak… Sangat banyak…. Bahkan sebuah jendela mampu menjelaskan mengapa Negara ini masih stagnan, mengapa masih banyak konflik kekerasan antar umat beragama, dan mengapa Jakarta masih macet.

Saya ingin Anda membayangkan sebuah rumah dengan jendela yang pecah. Anda sedang melewati rumah itu. Apa yang Anda pikirkan? Mayoritas dari kita berpikir bahwa tuan rumah adalah orang yang acuh tak acuh. Careless. Tak peduli. Kurang mampu.

Bahkan bisa saja Anda berpikir: jangan-jangan rumah itu kosong dan berhantu? Bisa-bisa Anda justru masuk kerumah itu untuk mengambil sesuatu…

Sebuah jendela bisa bercerita tentang semuanya. Jendela bisa menggambarkan pemilik rumah tersebut. Apa selera arsitekturnya: Klasik, mediterania, atau modern minimalis? Bagaimana kebersihannya: apakah banyak debu? Seberapa paranoid orang yang tinggal: Apakah menggunakan teralis berlapis?  Dialiri listrik?

Jendela yang pecah bisa menjelaskan mengapa DPR tetap membolos… Continue reading Teori Jendela Pecah

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tamu yang Aneh

Tadi malam ada tamu yang datang kehatiku. Sambil mengetuk pintu. Dengan pelan. Pintu kubuka, dan kulihat sebuah buku berdebu. Ingin bertemu.

“Wah, Qur’an kecilku… apa kabar???” aku menyambut Al-Qur’an kecil itu.

Kupersilahkan ia masuk. Bingung aku harus menyuruhnya duduk dimana. Sudah sesak dengan gambar porno, tumpukan target dan strategi, buku-buku kiat sukses sambil menjadi kaya, kliping berita pembunuhan, ceceran darah, dan pembalut.
Continue reading Tamu yang Aneh

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail